Arsip Migo Berita

SELAMAT NATAL HARAM hingga AMERIKA cs UNTUNG..!!! Benarkah Isu "UIGHUR" diciptakan para pendukung ormas Terlarang "HTI" dan Ormas Radikal

Galang Dana Bagi Muslim Uighur, Ratusan Massa Bakal Turun Ke Jalan

SEBAGAI bentuk kepedulian terhadap muslim Uighur yang mengalami penindasan di Cina maka organisasi kemasyarakatan yang ada di Kalsel bersama dengan Aksi Cepat Tanggap (ACT) mengadakan berbagai rangkaian aksi.
HAL ini bertujuan agar masyarakat dunia tak tinggal diam atas nasib muslim Uighur. Adapun aksi yang akan dilaksanakan  yakni penggalangan dana dan orasi kemanusiaan  pada Jumat, (28/12/2018) dengan tajuk “Seruan Aksi Solidaritas Bebaskan Uighur Berislam”.
Senior Marketing ACT Kalsel, Zainal Arifin menyatakan, rencananya aksi ini akan diikuti 500 orang yang terdiri dari KAMMI, IMM, masyarakat umum serta organisasi kemasyarakatan lainnya.
“Kita akan berkumpul di halaman Masjid Raya Sabilal Muhtadin selepas salat Jumat.  Selanjutnya dilanjutkan dengan aksi jalan kaki menuju Perempatan Jalan Lambung Mangkurat dimana massa akan melakukan penggalangan dana,” jelasnya.
Ia menambahkan, aksi tersebut nantinya tak hanya sekedar penggalangan dana.  Sebagian massa juga akan menyambangi DPRD Kalsel untuk melakukan orasi serta menyampaikan pernyataan sikap terkait tragedi muslim Uighur di Cina.
Terkait target dana dari aksi ini, Zainal mengatakan tidak ada target jumlah secara spesifik. Pihaknya hanya berikhtiar secara maksimal dan hasilnya akan dikirimkan kepada muslim Uighur. “Ini adalah langkah awal. Intinya ACT ingin memberikan kontribusi terbaik yang bisa dilakukan,” pungkas Zainal

Muslim Kalsel Protes Perlakuan Pemerintah China Kepada Muslim Uighur

RATUSAN orang dari berbagai organisasi kemasyarakatan long march dari Masjid Sabilal Muhtadin ke gedung DPRD Kalsel guna menyampaikan tuntutan kepada pemerintah Indonesia untuk menghentikan persekusi terhadap muslim Uighur oleh pemerintah China, Jumat (28/12/2018) siang.
AKSI ini diikuti anggota-anggota organisasi massa, seperti IMM, KAMMI, ACT, dan organisasi keislaman lainnya.
Massa mengusung bendera hitam bertuliskan kalimat tauhid dalam bahasa Arab serta poster berisi dukungan kepada kelompok Uighur. Selain itu, gema takbir bersautan dan kecaman kepada komunis China yang telah melakukan tindakan kejahatan kemanusiaan.
Orator massa aksi Alfiansyah menyebut tindakan pemerintah China sudah melakukan pelanggaran HAM berat kepada suku Uighur karena pemerintah China melarang memberi nama bayi dengan nama-nama Islam, dan adanya larangan melakukan ibadah sesuai dengan ajaran Islam.
“Atas nama aliansi umat Islam Kalimantan Selatan, kami menyatakan sikap mengutuk semua tindakan represif kepada suku Uighur, dan menyerukan seluruh elemen masyarakat untuk terlibat membantu memperjuangkan keadilan dan kedamaian bagi muslim Uighur di Provinsi Xianjing China,” tegas Alfi.
Pihaknya meminta pemerintah Indonesia untuk terlibat aktif untuk memberikan perhatian serius bagi masyarakat Muslim Uighur sesuai dengan amanat UUD 1945.
“Pemerintah Indonesia harus membawa kasus Uighur ke mahkamah internasional atas kasus kejahatan kemanusiaan karena telah terpenuhi syarat materil sesuai dengan statuta Roma dalam pasal 7,” tegas Alfi.
Massa aksi mengajak untuk memboikot semua produk asal negeri tirai bambu sebagai bentuk dukungan kemanusiaan.
Koordinator aksi Haris Maulidi Nur mengungkapkan aksi ini dilakukan sebagai bentuk dukungan moral dari umat Islam Kalimantan Selatan kepada muslim Uighur yang ditindas pemerintah China.
“Kalau tidak ada aksi nyata dari pemerintah Indonesia, kami akan melakukan aksi lebih besar pada Jumat berikutnya,” kata Maulidi

Bela Muslim Uighur, Massa Muslim Banua Berorasi Di Tengah Guyuran Hujan

DI BAWAH guyuran hujan dan tak ada satu pun wakil rakyat di DPRD Kalimatnan Selatan yang menemui mereka, namun massa yang tergabung dalam Muslim Banua tetap menggelar aksi unjuk rasa di ruas Jalan Lambung Mangkurat, Banjarmasin, Senin (23/12/2019),
MEREKA menyuarakan aksi Save Uighur yang ditindak pemerintah Tiongkok selama ini. Aksi keprihatinan ini mendapat pengawalan cukup ketat dari aparat kepolisian.
Di bawah panji-panji hitam bertuliskan kalimatan tauhid dan guyuran hujan, massa berbaris rapi di tepi jalan sejak pukul 17.20 Wita. Mereka pun menggelar orasi sembari memekikkan takbir.
Koordinator Aksi Save Uighur,  Mustafa Habibi menyuarakan keprihatinannya atas musibah dan penindasan yang dialami umat muslim di negeri tirai bambu itu. Ia meminta agar semua warga khususnya mendengar suara mereka agar turut peduli dan membantu saudara muslim Uighur yang sedang mengalami penderitaan.
“Mari kita bantu saudara kita umat muslim Uighur agar terbebas dari penderitaan,” teriak Mustafa Habibi.
Dalam aksi yang dikawal ketat aparat kepolisian, massa menyampikan sedikitnya 9 tuntutan agar diperjuangkan para wakil rakyat di DPRD Kalsel untuk disampaikan ke pemerintah pusat.
Di antaranya, tuntutan yang diusung, soal larangan nama Islam untuk bayi yang baru lahir di kalangan muslim Uighur di Republik Rakyat China. Bahkan pemilik nama berbau Arab atau Islam diancam tidak mendapat pekerjaan.
Memprotes penyitaan kitab suci Alquran, sajadah, dan atribut yang menyimbolkan Islam. Kemudian, menutut dicabutnya pelarangan anak-anak mengikuti pelajaran agama Islam dan belajar Quran.
Massa juga mengutarakan adanya tindakan represif dari pemerintah Tiongkok dengan memotong gaun panjang muslimah di tengah jalan, meski sebagian muslimah memakai untuk alasan kenyamanan. Hingga dilarang berkerudung, apalagi mengenakan cadar bagi muslimah Uighur.
Tak cukup hanya itu, Tiongkok juga menikahkan paksa muslimah Uighur dengan lelaki kafir suku Han, dengan dalih asimilasi budaya, untuk menghapuskan ras Uighur di saat para lelakinya dijebloskan ke kamp konsentrasi.
Di akhir tuntutan yang akan diusung, juga dituliskan kalimat: “Wahai penguasa, bilakah datang panggilan hati kalian? Wahai panglima, tidakkah tertanya untuk apa panser dan pesawat tempur di landasannya? Wahai tentara, untuk apa senjata yang kalian panggul.
Sayang, karena aksi mereka terlampau sore, hingga tak satu pun ada anggota dewan yang hadir. Massa pun usai berorasi, langsung membubarkan diri dengan tertib.

DAN NABI PUN MENANGIS

Jakarta - Pada tahun 628M, seorang utusan datang kepada Nabi Muhammad Saw di Najran.
Utusan ini membawa surat minta perlindungan kepada Nabi terhadap gereja mereka, St Catherine Monastery dan semua biarawan didalamnya. Alkisah, gereja itu selalu diganggu oleh mereka yang beragama muslim disana.
Dan dengan tegas, Nabi Muhammad Saw menulis maklumat kepada seluruh masyarakat disana, bahwa umat Kristen yang berada diwilayahnya, mendapat perlindungan khusus dari beliau.
Nabi juga secara khusus menyatakan melindungi kegiatan dan tempat ibadah umat Kristen. Dan menjadi tameng terhadap siapapun yang melakukan perbuatan tidak menyenangkan kepada mereka. Jelas dan tegas, dan tidak ada seorangpun penduduk disana yang berani melawan keputusan Nabi.
Umat Kristen pun melaksanakan semua kegiatan rohani mereka dengan tenang dan terjalin persaudaraan antar agama tanpa paksaan.
Surat perintah Nabi Muhammad Saw itu sekarang ada di Museum Topkapi, Istanbul Turki. Disimpan sebagai sebuah bukti dan seharusnya menjadi hukum yang ditaati pengikutnya.
Tapi pada masa sekarang, khususnya di Indonesia, sebagian umat Muhammad Saw malah sibuk mempersekusi mereka yang berbeda keyakinan. Mirip dengan penduduk Najran yang mengganggu biara St Catherine sebelum ada perintah Nabi.
Bahkan di Dharmasraya Sumbar, dengan alasan sudah ada perjanjian, umat Kristen disana dilarang melakukan perayaan Natal bersama-sama. Dan Menteri Agama, Bupati, bahkan kepolisian mengaminkan perjanjian itu tanpa ada usaha keras supaya umat Kristen disana bisa melakukan perayaan dihari besar mereka.
Seharusnya Menteri Agama, Bupati dan pihak Kepolisian mengikuti apa yang sudah dilakukan Nabi Muhammad Saw. Bahwa semua orang berhak menjalankan ibadahnya tanpa tekanan dan intimidasi, meski itu berbentuk surat perjanjian.
Kalau bukan pemerintah yang melindungi, terus siapa lagi? Disini terlihat lemahnya aparat terhadap situasi yang terjadi. Padahal umat Kristen disana sudah mengirimkan pemberitahuan bahwa mereka terintimidasi meski sudah ada perjanjian.
Saya membayangkan Nabi Muhammad Saw menangis, melihat umatnya yang satu bangga sudah berhasil mengintimidasi umat lain, dan satunya lagi lemah memberi perlindungan pada umat lain.
Padahal kedua-duanya sibuk bicara "sunnah", mengikuti apa yang dikatakan dan dilakukan Nabi. Sunnah mana yang sudah mereka lakukan? Tidak satupun. Mereka hanya mengatasnamakan Nabi, tapi perbuatan mereka menyelisihi.
Mau sembunyi rasanya karena rasa malu. Ternyata konsep "mayoritas" hanya ada di mulut saja, tapi sama sekali tak ada gunanya. Pemerintah dan aparat terlalu memberi angin dan tak berdaya menghadapi kelompok yang merasa benar sendiri.
Kelak umat Kristen yang tertindas akan menghadap Nabi dan mengadukan perlakuan umatnya terhadap mereka.
"Sesungguhnya saya membela mereka karena orang-orang Kristen adalah penduduk saya, dan karena ALLAH ! Jika ada yang mengganggu mereka, maka dia merusak perjanjian Allah dengan tidak menaati RasulNya.." Begitu sebagian isi surat Nabi Muhammad Saw.
Ah, berat rasanya mengaku "muslim" jika harus sesuai dengan definisinya. Karena muslim berarti pasrah kepada Tuhan dengan menaati RasulNya, bukan aksesoris belaka.
Tanyakan pada diri kalian sendiri, benarkah kalian sesungguhnya muslim atau hanya klaim dimulut saja?
Mari merenung sambil seruput kopinya.
Natal
Berita Larangan Natal

Memanggul Salib Minoritas

Jakarta - Sebenarnya tidak ada negara yang bebas dari kelompok intoleran. Dimanapun ada, termasuk di negara yang katanya mbahnya hak asasi manusia. Disana, yang katanya bebas melakukan apa saja, berpendapat apa saja, ternyata juga sama dengan di Indonesia.
Poinnya, dimanapun disebuah wilayah ada kelompok mayoritas, selalu ada kelompok minoritas yang teraniaya. Meskipun tidak banyak, pasti ada kejadian.
Tahun 2013, pada era pemerintahan SBY, situasi intoleransi di Indonesia adalah masa paling mengerikan buat saya. Tahun itu pernah ada kejadian beberapa warga Ahmadiyah dipersekusi sampai mati oleh warga yang mengaku mereka "penghuni surga". Dan polisi diam saja, hanya bisa menonton tanpa sedikitpun mampu mencegah.
Di era Jokowi ini, intoleransi memang masih ada. Tetapi sudah jauh berkurang. Jokowi sudah melakukan banyak hal, termasuk membersihkan kampus-kampus negeri dari kelompok radikal. Meski belum masuk ke kampus swasta.
Penanganan terhadap kelompok radikal juga lebih keras dengan penangkapan para teroris lewat revisi UU anti terorisme yang disahkan tahun 2018. Dengan UU itu Densus 88 bisa bergerak bebas untuk menangkal potensi terorisme.
Tapi apakah mungkin penanganan intoleransi itu berjalan sempurna?
Tentu tidak. Apalagi dengan konsep otonomi daerah di Indonesia, dimana pemimpin daerah menjadi raja di wilayahnya. Bahkan ada indikasi beberapa pemimpin daerah memelihara kelompok radikal untuk menjaga suara mereka.
Jadi saya senyum saja ketika seorang teman yang menasbihkan dirinya dari kelompok minoritas, selalu menyalahkan Jokowi kalau ada masalah intoleransi, meski itu ada di ujung negeri seperti Dharmasraya.
Jokowi harus salah, meski disana ada Bupatinya. Seolah selain jadi Presiden, Jokowi juga harus jadi bupati, jadi polisi, jadi lurah sampe jadi ketua RT.
Mereka berharap ada tindakan keras dari Jokowi untuk menghadapi intoleransi dimana saja. Keras? Contoh saja China. Mereka keras sekali menghadapi etnis Uighur yang radikal di Xinjiang, tapi apa yang di dapat pemerintah? Protes, sampe Amerika campur tangan..
Penanganan intoleransi di Indonesia yang sudah berakar tidak semudah membalikkan serbet diatas meja. Perlu penanganan khusus karena ini berkaitan dengan masalah ideologi dan budaya.
Jokowi tidak selalu benar, dia juga manusia biasa. Tapi selalu menyalahkannya untuk semua kesalahan di negeri ini juga salah.
Intoleransi hanya 1% PRnya diluar korupsi, mafia, kemiskinan, kebodohan dan ekonomi negara. Dalam arti, jadi Presiden itu tidak mudah. Kalau mudah, Prabowo aja pasti bisa.
Adil melihat sesuatu itu penting. Menjelaskan sesuatu itu juga penting, meski selalu dituding selalu membela Jokowi. Padahal saya hanya mencoba memberikan gambaran lebih luas dari masalah yang ada.
Jangan selalu bergantung pada pemerintah, kita juga harus terus berjuang untuk meneriakkan situasi yang ada. Kita tahu masalahnya tidak sederhana, jadi jangan berharap penyelesaian masalahnya juga sederhana.
So, lawan terus intoleransi dengan apa yang kita punya dan kita bisa. Meski suara serak, perlawanan itu membuktikan kita ada.
Selamat menyambut Natal untuk teman-teman Kristen. Memanggul salib itu tidak semudah yang diucapkan, tetapi disanalah nilai sebenarnya, yaitu perjuangan.
Salam dari saya dan teman-teman muslim lainnya yang juga berjuang supaya tidak ada lagi muslim yang bodoh dan radikal.
Entah kapan itu bisa terlaksana, biarlah Tuhan yang menentukan. Urusan kita hanya berusaha. Di kafir-kafirkan oleh mereka adalah resikonya.. Seruput kopinya.
Kebersamaan
Kebersamaan

Hati-hati, Hoax Uighur di Indonesia

Jakarta - Seperti yang sudah-sudah model menggunakan isu agama, masih menjadi tren global.
Sesudah perang Suriah, Amerika masih merasa butuh narasi agama sebagai bagian dari perangnya. Terutama sekarang menghadapi musuh besarnya China, saingan ekonominya dalam perang dagang.
Isu penindasan etnis Uighur dipropagandakan Amerika ke seluruh dunia. Media-media besar mereka menggunakan kata "muslim" untuk etnis Uighur supaya tekanan terhadap narasi agama semakin kuat. Persis seperti "muslim" Cechnya waktu Amerika ingin menekan Rusia.
Gambar hoax bertebaran dimana-mana, persis seperti di Suriah. Kelompok radikal garis keras yang di Indonesia populer dengan julukan "kadal gurun", memang mangsa utama gambar hoax. Mereka kaum sumbu pendek yang mudah dibakar demi kepentingan.
Indonesia sebentar lagi bisa mengalami situasi yang sama..
Sekarang ini, Indonesia sedang menghadapi "perang" dengan Uni Eropa. Sebelumnya, Uni Eropa sudah melarang ekspor biofuel dari Indonesia dan Malaysia dengan alasan lingkungan hidup.
Indonesia berang. Negeri ini pengekspor minyak sawit terbesar di dunia. Dan larangan dari Uni Eropa itu mempengaruhi ekonomi Indonesia.
Jokowi sendiri langsung membalas dengan melarang ekspor biji nikel ke Eropa. Perintah Jokowi ini membuat Uni Eropa panik. Pabrik-pabrik baja mereka yang butuh biji nikel sebagai bahan dasar, bisa bangkrut dan ekonomi mereka runtuh.
Amerika dan Uni Eropa mempunyai persekutuan bersama dalam menghadapi ancaman global. Persekutuan yang sangat jelas, terlihat saat mereka bersama-sama mengorganisasi kelompok teror bernama ISIS di Suriah.
Tujuannya adalah merebut jalur pipa minyak dan gas yang sudah dikerjasamakan antara Suriah dan Rusia. Mereka memakai isu agama dengan menciptakan ISIS sebagai boneka. Dari perang Suriah, Amerika juga mendapat keuntungan dari penjualan senjata kepada kelompok teroris.
Dan isu agama ini masih efektif untuk dipakai di Indonesia. Disini banyak kelompok radikal berbaju agama yang bisa di remote dari jauh.
Uni Eropa bisa berbuat hal yang sama dengan bantuan Amerika untuk menguasai Indonesia. Apa yang mereka lakukan terhadap China dengan isu Uyghur bisa dijadikan sebuah contoh, jika mereka ingin melakukan hal yang sama.
Caranya ??
Buat isu yang berkaitan dengan agama. Kemudian bangun demo besar-besaran. Lalu muncul korban jiwa. Dan kemudian propagandakan ke seluruh dunia, bahwa rejim Indonesia menindas "muslim" di Indonesia.
Pola yang sama waktu Pilgub 2017 dan pasca Pilpres 2019. Masih efektif, karena kelompok garis keras itu masih ada yang memelihara.
Karena itu, lawan hoax isu Uighur. Jangan biarkan berkembang disini seolah-olah itu kebenaran. Karena jika kita diam saja, satu waktu, isu itu akan dipakai di Indonesia.. Seruput kopinya.
#Uyghur
Demo Bela Uighur


Tujuh Sikap Muhammadiyah atas Persoalan Uyghur

islamindonesia.id – Tujuh Sikap Muhammadiyah atas Persoalan Uyghur
Mencermati permasalahan hak asasi manusia (HAM) di Xinjiang dan pemberitaan media massa asing, nasional, dan media sosial Pimpinan Pusat Muhammadiyah menyampaikan pandangan dan sikap.
Pernyataan tersebut tertuang dalam Pernyataan Pers Pimpinan Pusat Muhammadiyah Nomor: 507/PER/I.0/I/2019 tentang Permasalahan di Xinjiang. Berikut tujuh poin pernyataan PP Muhammadiyah yang diunggah di laman muhammadiyah.or.id, Senin (16/12):
1. Menyesalkan pemberitaan Wallstreet Journal yang menyebutkan adanya fasilitas dan lobi-lobi Pemerintah Tiongkok terhadap PP. Muhammadiyah, Pengurus Besar Nahdlatul Ulama, dan Majelis Ulama Indonesia  sebagai upaya mempengaruhi sikap politik Muhammadiyah, NU, dan MUI atas permasalahan HAM di Xinjiang. Pemberitaan tersebut sangat tidak berdasar dan fitnah yang merusak nama baik Muhammadiyah, NU, dan MUI. Pimpinan Pusat Muhammadiyah mendesak agar Wallstreet Journal meralat berita tersebut dan meminta maaf kepada warga Muhammadiyah. Apabila hal tersebut tidak dipenuhi, Muhammadiyah akan mengambil langkah hukum sebagaimana mestinya.
2. Mendesak kepada Pemerintah Tiongkok untuk lebih terbuka dalam memberikan informasi dan akses masyarakat internasional mengenai kebijakan di Xinjiang dan Masyakarat Uyghur. Pemerintah Tiongkok agar menghentikan segala bentuk pelanggaran HAM, khususnya kepada masyarakat Uyghur atas dalih apapun.  Pemerintah Tiongkok hendaknya menyelesaikan masalah Uyghur dengan damai melalui dialog dengan tokoh-tokoh Uyghur dan memberikan kebebasan kepada Muslim untuk melaksanakan ibadah dan memelihara identitas.
3. Mendesak kepada Perserikatan Bangsa-bangsa untuk mengeluarkan resolusi terkait pelanggaran HAM atas Masyarakat Uyghur, Rohingnya, Palestina, Suriah, Yaman, India, dan sebagainya.
4. Mendesak Organisasi Kerjasama Islam (OKI) untuk mengadakan Sidang khusus dan mengambil langkah-langkah konkrit untuk menghentikan segala bentuk pelanggaran HAM yang dialami umat Islam, khususnya di Xinjiang.
5. Mendesak Pemerintah Indonesia agar menindaklanjuti arus aspirasi umat Islam dan bersikap lebih tegas untuk menghentikan segala bentuk pelanggaran HAM di Xinjiang sesuai dengan amanat UUD 1945 dan politik luar negeri yang bebas aktif. Pemerintah Indonesia hendaknya lebih aktif menggunakan peran sebagai anggota OKI dan anggota tidak tetap Dewan Keamanan PBB untuk menggalang diplomasi bagi dihentikannya pelanggaran HAM di Xinjiang dan  beberapa negara lainnya.
6. Menghimbau umat Islam agar menyikapi masalah pelanggaran HAM di Xinjiang dengan penuh kearifan, rasional, damai, dan tetap memelihara ukhuwah islamiyah dan persatuan bangsa. Hendaknya tidak ada pihak-pihak yang sengaja menjadikan masalah Uyghur sebagai komoditas politik kelompok dan partai tertentu serta mengadu domba masyarakat dengan menyebarkan berita yang menyesatkan dan memecah belah umat dan bangsa melalui media sosial, media massa, dan berbagai bentuk provokasi lainnya.
7. Menghimbau kepada warga Persyarikatan Muhammadiyah untuk konsisten menyikapi persoalan dengan cerdas, berpegang teguh pada khittah dan kepribadian Muhammadiyah, tidak terpengaruh berita media sosial yang menghasut dan tidak dapat dipertanggungjawabkan.
Pernyataan Sikap dan pandangan  Muhammadiyah disampaikan dengan penuh tanggung jawab dan semangat dakwah amar makruf nahi munkar untuk perdamaian dunia, perlindungan atas kemanusiaan, dan keselamatan semesta.
Rekomendasi Persoalan Uyghur
Peneliti senior LIPI, Ahmad Najib Burhani, juga memuat sebuah pernyataan senada dengan PP Muhammadiyah sebagai sebuah rekomendasi tentang persoalan uyghur.
Najib Burhani secara pribadi mengunggah pernyataan yang dia beri judul “Rekomendasi Persoalan Uyghur” dalam akun twitternya, Senin (16/12).
Berikut isi pernyataannya:
1. Pemerintah Tiongkok harus terbuka terkait kasus ini & membolehkan wartawan serta peneliti asing untuk mengakses dan meneliti persoalan uyghur.
2. Memperkenankan aktivis HAM untuk datang ke “camp-camp” itu dan melakukan penelitian secara bebas.
3. Kepada beberapa pihak yang melakukan politisasi terhadap isu ini agar segera berhenti.
4. Kepada mereka yang menggunakan isu uyghur untuk menyulut kebencian kepada etnis Tionghoa di Indonesia, itu adalah tindakan jahat dan memecah belah kesatuan bangsa.
5. Solidaritas kepada mereka yang tertindas semestinya tidak memandang agama atau  atau golongan, serta mereka yang mengangkat isu ini perlu juga menunjukkan kepedulian terhadap mereka yang tertindas di tanah air.
6. Kepada pemerintah Indonesia agar menunjukkan solidaritas kepada kelompok Uyghur namun pada saat bersamaan mewaspadai kelompok yang menjual segala isu ketertindasan umat untuk memupuk kebencian.
Malik/IslamIndonesia/Foto Utama: Screen Shot KJ Vid on YouTube

Menengok Kamp Pelatihan Muslim Uighur di Xinjiang, Kesaksian Delegasi Muhammadiyah

islamindonesia.id – Menengok Kamp Pelatihan Muslim Uighur di Xinjiang, Kesaksian Delegasi Muhammadiyah
Jauh hari sebelum isu tentang Muslim Uighur di Xinjiang kembali mencuat di tanah air, Muhammadiyah melalui delegasinya ternyata pernah mengunjungi kamp pelatihan Muslim Uighur di Urumqi, Ibu Kota Provinsi Xinjiang, Tiongkok, pada Februari lalu.
Selain Pimpinan Pusat (PP) Muhammadiyah, Majelis Ulama Indonesia (MUI) dan Nahdlatul Ulama (NU) juga merupakan organisasi dari Indonesia yang diundang langsung oleh pemerintah China untuk melihat langsung kondisi Muslim Uighur di sana.
Sekretaris PP Muhammadiyah, Agung Danarto, mengungkapkan bahwa PP Muhammadiyah memang mengusulkan ke pemerintah China untuk membuka akses untuk melihat orang-orang Uighur.
“Di samping ini kan juga usulan PP Muhammadiyah, jadi setelah kunjungan ke Tiongkok kemudian mereka datang ke kantor PP Muhammadiyah, untuk membuka akses, dan kita diundang untuk datang ke sana dan menyaksikan langsung,” kata Agung di Graha Suara Muhammadiyah, Senin (4/3), sebagaimana dilansir dari Suara Muhammadiyah.
Selain Agung, Delegasi Muhammadiyah lainnya yang berangkat yaitu Ketua Majelis Hukum dan HAM PP Muhammadiyah Trisno Raharjo, Lembaga Hubungan Luar Negeri Sudibyo Markus, dan Ketua Lembaga Dakwah Khusus PP Muhammadiyah M Ziyad.
Selain mereka, turut berangkat juga Syafiq A Mughni, Utusan Khusus Presiden untuk Dialog dan Kerjasama Antaragama dan Peradaban (UKP-DKAAP).
Delegasi Muhammadiyah di Kamp pelatihan Uighhur, Xinjiang, China. Foto: Suara Muhammadiyah
Menurut Agung, Uighur merupakan etnis di Provinsi Xinjiang yang memang penduduknya mayoritas Muslim, dengan total penduduknya sekitar 16 juta jiwa. Namun tidak semua Uighur adalah Muslim, misalnya di kota Hotan yang penduduknya 2 juta orang, etnis Uighurnya mencapai 98% populasi, sementara itu Muslimnya hanya 72 %.
Dan di kota Kashgar, penduduknya 4,5 juta orang, etnis Uighurnya ada 97%, sementara Muslimnya hanya sekitar 52 %.
Agung menyampaikan, kunjungan pada pertengahan Februari tersebut berlangsung selama sepekan. Xinjiang Terletak di ujung barat Tiongkok, sekitar 3.308 km dari Ibu Kota Beijing. Berbatasan dengan Mongolia, Rusia, Tajikistan, Afghanistan, Pakistan, dan India. Para delegasi dipersilahkan mengunjungi kamp yang oleh pemerintah China disebut sekolah vokasi pembinaan untuk deradikalisasi.
“Kalo di kampnya bagus, di kampnya itu pertama mereka diberi keterampilan life skill, macam-macam di situ, ada perternakan, ada pertanian, ada perhotelan, ada restoran, ada masak–memasak, ada otomotif. Ada macam-macam, dilatih seperti itu. Bahkan musik, nyanyi dan lain sebagainya diajarkan di situ,” ungkap Agung.
Xinjiang, lanjutnya, kebetulan merupakan provinsi paling miskin di Tiongkok. Maka dengan adanya kamp tersebut, selain sebagai tempat untuk deradikalisasi, juga sebagai upaya untuk menaikkan kualitas SDM dan daya saingnya.
Para delegasi mengunjugi dua kamp dari tujuh kamp yang ada. “Kira-kira ada 3 ribu orang setiap kamp,” imbuhnya.
Menurutnya, dari segi tempat, kamp, asrama, dan ruang kelasnya, nyaman dan sangat layak sekali, tidak seperti penjara. Para peserta sekolah vokasi tinggal di kamp dari Senin sampai Jumat, dan pada Sabtu dan Minggu mereka boleh pulang. Lamanya mengikuti sekolah vokasi ada yang enam bulan, satu tahun, dan ada yang sampai 1,5 tahun.
Agung mengatakan, dalam konstitusi China warga negara diberi kebebasan untuk beragama atau tidak beragama. “Mau beragama apa saja boleh, mau tidak beragama juga gak apa-apa, tapi fasilitas milik negara tidak boleh digunakan untuk kegiatan keagamaan termasuk beribadah,” kata Agung.
Sementara itu, katanya, di Xinjiang konon terdapat 23.000 masjid. Delegasi sempat melaksanakan salat Jumat di Hotan, di sebuah masjid yang kira-kira jamaahnya ada 500 orang.
Delegasi juga bertemu dengan Asosiasi Muslim Tiongkok, baik ketika di Beijing, Urumqi, Hotan dan Kashgar. Mereka menyampaikan, di Xinjiang ada 27.000 imam yang digaji negara dan bersertifikasi.
“Sebenarnya perhatian pemerintah itu sebenarnya ada, dan kalau kita lihat sikap terhadap Muslim Uighur ini berbeda dengan Tiongkok Timur seperti Guangzhou, Shenzhen, dan lainnya. Kelihatannya Tiongkok di bagian timur situ tidak ada masalah, mahasiswa-mahasiswa kita yang di sana mengatakan ‘kita salat di kampus, kita salat Ashar di kampus tidak ada masalah,’,” urai dosen UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta tersebut.
Selain itu, delegasi diajak ke museum deradikalisme yang menampilkan foto-foto peristiwa terorisme, radikalisme serta artefak-artefak seperti granat, senapan, termasuk tabung gas yang diledakkan untuk teror.
“Jadi sejak tahun 2000 sampai 2015 itu puluhan kali terjadi terorisme, entah itu meledakkan bom di bis, di pasar, di jalan, dan lain sebagainya,” kata Agung, “sehingga tampaknya Tiongkok itu memiliki trauma tersendiri terhadap terorisme dan separatis itu.”
Agung mengungkapkan radikalisme dan terorisme merugikan dakwah Islam secara keseluruhan, tak terkecuali di beberapa tempat yang Muslimnya minoritas, yang mana membuat mereka menjadi berat dan susah.
Sehingga pendekatan yang dilakukan pemerintah Tiongkok merupakan pendekatan keamanan. “Tiongkok ini kan ada dua daerah otonom yang bermasalah, Xinjiang dan Tibet,” pungkasnya.
PH/IslamIndonesia/Foto utama: Antara/M. Irfan Ilmie

Acara Bedah Buku Haidar Bagir di Surakarta Didemo Ormas Intoleran

islamindonesia.id – Acara Bedah Buku Haidar Bagir di Surakarta Didemo Ormas Intoleran
Acara bedah buku karya Haidar Bagir yang berjudul Memulihkan Sekolah Memulihkan Manusia yang berlangsung pada hari ini di Surakarta harus dihentikan lebih awal karena kehadiran pendemo yang mengatasnamakan sebagai organisasi Aliansi Nasional Anti Syiah (ANNAS).
Informasi ini sebelumnya didapat dari akun Twitter Abdillah Toha, seorang pemerhati sosial, politik, dan keagamaan, yang mengatakan, “Acara bedah buku ‘Memulihkan Sekolah Memulihkan Manusia’ pagi tadi dengan pembicara Haidar Bagir dan pejabat Diknas dikacau oleh gerombolan wahabi ANNAS sehingga harus dihentikan sebelum tuntas. Polisi yang seringkali tidak tegas membuat para pengacau merasa menang.”
Menanggapi cuitan Abdillah Toha, Haidar Bagir menjawab, “Setuju, polisi tidak tegas. Tapi Alhamdulillah sesi saya selesai tuntas sampai tanya jawab selesai. Mereka juga tak sampai masuk ruangan. Hadirin pun sama sekali tak terpengaruh. Alhamdulillah. Hanya saja acara memang berlangsung lebih cepat dan waktu untuk pembicara (dari) Diknas jadi lebih terbatas.”
Haidar Bagir juga sebelumnya menyatakan, “Acara diskusi buku saya, ‘Memulihkan Sekolah, Memulihkan Manusia’ di Solo. Alhamdulillah berjalan lancar dan tuntas meski ada segelintir pendemo, yang datang setelah itu, memeriahkan suasana.”
Suasana di dalam gedung ketika acara bedah buku berlansung. Foto: Haidar Bagir/Twitter
Acara bedah buku tersebut dijadwalkan berlangsung dari pukul 08.00-12.00 WIB di Graha Solo Raya, Surakarta dengan pembicaranya adalah Haidar Bagir dan Hasto Daryanto, Kepala Pusat Pelayanan Disabilitas dan Pendidikan Inklusif, Disdik Solo. Penyelenggaranya adalah Penerbit Noura dan Lazuardi Kamila.
Tidak dijelaskan seberapa banyak pendemo yang hadir, namun sehari sebelumnya (20/12), ANNAS Jateng memang mengirimkan surat untuk Kapolsek Pasar Kliwon, Surakarta, yang menyatakan penolakan terhadap acara bedah buku tersebut.
Berikut ini beberapa kutipan dari surat tersebut: “…. atas nama umat Islam Ahlus Sunah Wal Jamaah, kami ANNAS Jateng menyatakan Penolakan terhadap terselenggaranya acara tersebut…. ANNAS menolak karena menurut kami acara tersebut bagian dari penyebaran paham Syiah….”
Berdasarkan website ANNAS, organisasi ini didirikan di Bandung pada tahun 2012 dan salah satu misinya adalah: “Meningkatkan kewaspadaan dan antisipasi terhadap berbagai pola gerakan penyesatan Syiah di Indonesia, serta menyadarkan ummat Islam yang telah terpengaruh oleh ajaran sesat Syiah agar kembali ke ajaran Islam yang benar sesuai Al Qur’an dan As Sunah.”
Beberapa netizen mengomentari cuitan dari Abdillah Toha, misalnya akun Marlinajar mengatakan, “Hayo pak Polisi lebih tegas terhadap gerombolan pengacau itu, rakyat pembela NKRI dan Pancasila mendukungmu.”
Netizen lainnya, akun HaidarYahya3 mengatakan, “Sudah rahasia umum, Polri ‘takut’ kelompok intoleran. Bagaimana bisa tegas tegakkan hukum, kalau penegak hukumnya tidak tegak. Mendesak jadi perhatian Kapolri Baru. Agar peristiwa serupa tidak menjadi budaya buruk dari bangsa Indonesia yang beradab.”
Pada kesempatan lain, dalam sebuah sesi wawancara bersama Ismail Fahmi, terkait dengan tuduhan Syiah, Haidar pernah mengatakan, “Kalau saya mau gampang, saya bilang saja, ‘Saya itu Suni, Syiah itu sesat,’ hidup saya enak…. Tapi hidup ini kan bukan begitu, kalau ada sesuatu yang disesatkan dan saya tahu bahwa itu tidak betul, kewajiban saya membela….
“Saya ini lahir sebagai Suni, dididik oleh ayah saya sebagai Suni…. Di rumah saya salat dan melakukan segala sesuatu dengan cara Suni…. Tapi kalau saya ditanya, ‘Anda Syiah apa Suni?’ Engga, la Sunah wa la Syiah (bukan Suni bukan pula Syiah-red), Muslim Insya Allah.”
PH/IslamIndonesia

Sikap NU dan Muhammadiyah soal Pengusiran Haddad Alwi

islamindonesia.id – Sikap NU dan Muhammadiyah soal Pengusiran Haddad Alwi
Video viral pengusiran terhadap penyanyi religi, Haddad Alwi menuai sorotan dari berbagai kalangan. Dua Ormas Islam terbesar di Indonesia yakni NU dan Muhammadiyah turut bersikap atas insiden itu.
Sekjen PBNU Helmy Faishal Zaini mengutuk keras para pelaku. Tidak berhenti di situ, pihaknya juga akan memberikan pembelaan advokasi kepada Haddad Alwi serta melaporkan kejadian ini ke polisi.
“Kita (akan) melaporkan ke polisi. Tentunya bisa melalui Polres Sukabumi. (Pelaporan) sedang diurus, saya sudah komunikasi dengan Haddad Alwi,” kata Helmy, seperi dilansir Detik, Jum’at (20/12).
Di sisi lain, Sekretaris Umum PP Muhammadiyah Abdul Mu’ti mempertanyakan keberadaan aparat keamanan saat peristiwa terjadi. Dia menyebut aparat keamanan seharusnya turun tangan ketika massa memaksa Haddad Alwi turun panggung. “Praktik-praktik main hakim sendiri seharusnya dihentikan oleh aparatur keamanan.” Tutur Abdul Mu’ti, Sabtu (21/12).
Insiden pengusiran bermula saat Haddad Alwi menghadiri undangan untuk mengisi acara haul ke-8 Habib Abdullah bin Zein Alatas di Sukabumi, Jawa Barat, Senin malam, (16/12). Tiba-tiba sekelompok massa memaksa Haddad Alwi turun panggung dan tidak mengizinkannya melanjutkan selawatan bersama warga Sukabumi. Kejadian itu sempat terekam dan videonya viral di media sosial.
Sementara itu, pengacara Haddad Alwi, Muannas Alaidid menyebut, sekelompok massa mengusir Haddad Alwi setelah menudingnya sebagai Syiah. Muannas juga menjelaskan saat itu kliennya diundang untuk membacakan shalawat. “Tiba-tiba diturunkan paksa dalam acara itu,” kata Muannas.
Ketua Umum Cyber Indonesia ini pun meminta polisi turun tangan. “Kalau persekusi ini berlanjut bisa mengancam kerukunan umat beragama dan memecah belah kesatuan dan persatuan. Bayangkan saja, ini satu agama, apalagi mereka yang beda agama,” tuturnya.
Malik/IslamIndonesia.id /Foto Utama: FB Haddad Alwi 

Klarifikasi Haidar Bagir Terkait Insiden di Surakarta

islamindonesia.id – Klarifikasi Haidar Bagir Terkait Insiden di Surakarta
Menyambung pemberitaan kemarin (21/12) Acara Bedah Buku Haidar Bagir di Surakarta Didemo Ormas Intoleran, redaksi menghimpun kembali beberapa pernyataan Haidar Bagir terkait insiden tersebut.
Dikutip dari akun Twitter Haidar Bagir, beliau menyatakan, “Menurut saya, ketaktegasan polisi dalam menangani ulah kelompok intoleran justru memberikan kontribusi terhadap makin berani dan maraknya aksi-aksi intoleran belakangan ini. Menerapkan pendekatan pemeliharaan harmoni sosial dalam semua situasi konflik adalah kesalahan. Perlu evaluasi serius.”
Dalam pernyataan tersebut, Haidar juga me-mention akun DivHumas_Polri, akun resmi Divisi Humas Polri. Sampai berita ini diturunkan, tidak ada respon dari akun resmi tersebut.
Dalam cuitan lainnya, Haidar menyatakan, “Beragama kok marah-marah. Marah-marah kok beragama? Bukannya agama ajarkan kesabaran dan kelembutan. Bukannya, saat Nabi ditanya apa itu agama, beliau SAW bilang ‘Agama itu tidak marah.’ Lha kok malah ada yang merasa membela agama dengan marah-marah? Parahnya, bahkan marahnya kepada apa, pun mereka tak paham.”
Meskipun Haidar tidak menyatakan secara langsung bahwa cuitan tersebut berkaitan dengan insiden yang menimpanya, namun kemungkinan besar pernyataannya ini masih terkait.
Sebab dalam cuitan selanjutnya, ketika Prof. Iwan Pranoto, Guru Besar ITB dan pengamat pendidikan, menyatakan simpatinya terhadap Haidar, berkata, “Turut sedih Pak Haidar Bagir,” Haidar menjawabnya.
Berikut ini jawaban Haidar, “Terima kasih, Pak. Alhamdulillah, saya baik-baik saja. Tadi saya konfrontir mereka langsung. Mereka kebingungan waktu saya persoalkan apa yang mereka protes. Bahkan isi buku yang didiskusikan saja mereka tak tahu. Ya, gitulah, lama-lama saya kasihan sama mereka.”
Dan memang, buku karya Haidar Bagir Memulihkan Sekolah Memulihkan Manusia isinya secara umum membicarakan tentang dunia pendidikan, bukan tentang agama seperti yang dituduhkan oleh Ormas Aliansi Nasional Anti Syiah (ANNAS). Bagi Anda yang tertarik, ulasan menarik tentang buku tersebut dapat disimak di dalam link ini.
Surat dari Ormas ANNAS untuk Kapolsek Pasar Kliwon, Surakarta.
Dalam cuitan lainnya, sebelumnya Haidar juga sempat berkata, “Dulu Khawarij memberontak terhadap pemerintahan yang sah dan membunuhi ribuan Muslim. Mereka lebih keras kepada sesama Muslim yang tak sepaham ketimbang kepada yang lain.
“Sekarang ada gejala kemunculan neo-Khawarij. Kalau tak tegas terhadap mereka, jangan sampai menyesal jika jatuh korban besar akibat ulah mereka,” kata Haidar.
Salah satu peserta yang hadir dalam acara bedah buku tersebut, memberikan testimoninya, “Meski tadi sempet sedih, sebab ada perusuh. Tapi Alhamdulillah sesi beliau, full. Perusuh masuk saat narasumber kedua (Hasto Daryanto, Kepala Pusat Pelayanan Disabilitas dan Pendidikan Inklusif, Disdik Solo-red). Baru naik, dipaksa usai, akhirnya narasumber kedua hanya sampai prakata,” ujar akun Kamadahayu.
Beberapa netizen juga turut memberikan komentar, akun dhenandar0770 misalnya berkata, “Ini yang secara pribadi yang membuat saya ikut ‘bereaksi’. Saya pikir diam itu emas, tapi cara mereka terus-terusan seperti itu justru merusak Islam itu sendiri. Saya nilai menunjukkan sikap tegas jauh lebih baik. Kita tak harus beringas seperti mereka. Maaf Bib (panggilan singkat untuk Habib-red) ini pandangan saya. Semoga sehat selalu.”
Akun lainnya, memberikan dukungan simpatik untuk Haidar, DanielPrasetyo berkata, “Semoga Anda diberikan perlindungan dan berkat berlimpah oleh Allah SWT ya Bib, jangan mundur sedikit pun dalam menyebarkan kebajikan. Saya penikmat karya-karya Anda, hanya dapat mendoakan dari jauh.”
Catatan Redaksi: Berhubung sumber utama berita ini berasal dari linimasa Twitter yang penuh dengan singkatan dan typo, demi kepentingan penyajian, redaksi mengedit beberapa kata di dalamnya tanpa mengubah sedikitpun maknanya.
PH/IslamIndonesia/Foto Utama: Kamadahayu/Twitter

Buya Syafii: Ucapan Selamat Natal dan Tahun Baru Tidak Merusak Akidah

islamindonesia.id – Buya Syafii: Ucapan Selamat Natal dan Tahun Baru Tidak Merusak Akidah
Mantan Ketua Umum Pengurus Pusat Muhammadiyah Syafii Maarif alias Buya Syafii mengatakan bahwa orang yang melarang mengucapkan selamat Natal dan Tahun Baru Masehi adalah orang yang berpandangan sempit.
Menurut Syafii, ucapan itu sah-sah saja dilihat dari sisi agama. Sebab tak akan merusak akidah seorang Muslim yang telah benar-benar memahami ajaran agama Islam.
“Itu (larangan ucapan Natal) pandangan sempit, kalau istilah medsos itu kelompok sumbu pendek. Apa keberatannya mengucapkannya? Selamat Natal, Idul Fitri, apa keberatannya? Di sisi apa? Tidak akan salah itu,” kata Syafii usai jumpa pers Maarif Award 2020 di Kantor Maarif Institute, Jakarta, Rabu (18/12), sebagaimana dilansir dari CNN.
Bagi Buya, mengucapkan selamat Natal dan Tahun Baru kepada pemeluk agama lain merupakan bagian dari sikap menghormati dalam pergaulan antar umat beragama. Ucapan Selamat Natal dan Tahun Baru, kembali ditegaskan Buya, tidak merusak akidah.
Dia mengakui ada sebagian kelompok pemeluk agama Islam yang keras melarang. Syafii menilai orang-orang itu kurang mendalami Islam sehingga menghakimi suatu hal dengan pikiran negatif.
Anggota Dewan Pengarah Badan Pembinaan Ideologi Pancasila (BPIP) itu berkata telah menghubungi tokoh-tokoh agama untuk menjaga hubungan jelang Natal. Dia juga berpesan agar masyarakat menjaga persaudaraan antar umat beragama.
“Saya sering katakan, berbeda dalam persaudaraan, bersaudara dalam perbedaan sangat mungkin dan itu harus. Dunia yang akan datang tergantung mau tidak pegang prinsip itu. Kalau tidak, kan perang melulu,” tuturnya.
Terkait isu pelarangan Natal di dua daerah Sumatera Barat, Syafii berusaha berpikir positif. Dia juga mengapresiasi pemda yang bersangkutan telah mengklarifikasi kabar tersebut.
Dia mendukung pemerintah turun tangan mencegah kabar-kabar intoleransi seperti itu. Jika ada oknum pemerintah yang melakukan larangan terhadap agama apapun, dia minta aparat penegak hukum turun tangan.
“Tidak boleh dibiarkan, panggil orang itu. Kalau perlu proses secara hukum,” tegasnya.
PH/IslamIndonesia/Sumber: CNN/Foto Utama: ICMI

Disebut Syiah, Begini Tanggapan Haddad Alwi

islamindonesia.id – Disebut Syiah, Begini Tanggapan Haddad Alwi
Menyambung pemberitaan kemarin (21/12) Sikap NU dan Muhammadiyah Soal Pengusiran Haddad Alwidua ormas Islam terbesar di Indonesia itu secara tegas telah menyatakan sikapnya.
Sebagaimana pada pemberitaan itu, dijelaskan bahwa persekusi terhadap Haddad Alwi bermula saat dirinya dituding sebagai Syiah. Tudingan tersebut nampaknya membuat orang bertanya-tanya, benarkah Haddad Alwi bermazhab Syiah? Lantas bagaimana tanggapan Haddad Alwi sendiri?
Percakapan berawal dari pertanyaan netizen di instagram luzamzu21, “Maaf sebelumnya, bang @abihaddadalwi (Haddad Alwi) ini Syiah bukan toh?”
Sumber: Instagram Story Haddad Alwi
Haddad Alwi enggan mengaitkan dirinya dengan aliran atau mazhab tertentu, entah itu AhluSunah, Syiah, atau mazhab lainnya. Pelantun shalawat ini lebih memilih menempatkan Islam di atas mazhab-mazhab yang ada. Baginya yang penting adalah Islam dan menjalankan ajaran Islam dengan sebaik-baiknya, dan dia tidak keberatan dibilang beraliran apapun.
Berikut pernyataan Haddad Alwi di Instagram Story miliknya:
Memang beberapa waktu belakangan ini ada banyak tuduhan dan fitnahan yang terus diulang-ulang tentang abi….
Abi tidak keberatan dibilang beraliran apa pun. Karena bagi Abi mazhab Ahlus Sunah, mazhab Ahlul Bayt (Syiah), Wahhabi, maupun NU dan Muhammadiyah adalah sesama Muslim. Betapapun memiliki perbedaan-perbedaan pandangan dalam furu’ (cabang) satu sama lain.
Bagi Abi, yang terpenting adalah Abi Muslim yang berusaha menjalankan ajaran Islam dengan sebaik-baiknya, dan insyaAllah Abi akan mempertanggungjawabkan apa yang Abi lakukan dalam hidup ini di hadapan Allah Swt.
Namun Abi sedih ketika Abi dituduh membenci istri-istri Nabi juga para sahabat Nabi…. Demi Allah Abi mengutuk siapapun yang melaknat atau bahkan mengatakan bahwa para sahabat Nabi dan istri Nabi, adalah kafir.
Boleh saja jika ada orang menuduh Abi sedang bertaqiyah (berpura-pura). Tapi Allah lebih tahu tentang apa yang ada di dalam hati Abi. Dan Abi berdoa agar Allah memaafkan orang-orang yang berprasangka buruk kepada Abi.
Dan demi Allah, bagi Abi, Antum semua adalah saudara-saudara Abi. Dan hanya keridhaan serta pertolongan Allah Swt saja yang kita harapkan.
Sumber: Instagram Story Haddad Alwi
Malik/IslamIndonesia/Foto Utama: Haddad Alwi/Instagram


Dutaislam.com - Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) ikut berkomentar terkait insiden pengusiran Haddad Alwi saat mengisi acara haul ke-8 Habib Abdullah bin Zein Alatas di Sukabumi, Jawa Barat.

"(NU) memberikan pembelaan advokasi kepada Haddad Alwi. Kami mengutuk keras (tindakan pengusiran Haddad Alwi)," kata Sekjen PBNU Helmy Faishal Zaini ketika dihubungi detikcom, Jumat (20/12/2019) malam, dikutip dari Detikcom.

Pengacara Haddad Alwi, Muannas Aidid mengatakan insiden itu terjadi karena sejumlah pihak menunduh kliennya sebagai Syiah seperti diungkapkan oleh Selamet Ma'arif, Pengurus DPP Forum Pembela Islam (FPI).
"Ini yang saya sampaikan masyarakat di sana mayoritas berkeyakinan Sunni, ustaz Haddad Alwi memperlihatkan simbol Syiah dalam selawatnya dengan mengangkat satu tangan. Oleh masyarakat dianggap mengajak untuk mengikuti Syiah," kata Slamet Ma'arif, Sabtu (21/12/2019), seperti dilansir dari Detikcom.

Menurut Helmy, tuduhan itu tidak dapat dibenarkan dan telah masuk ke ranah hukum. Helmy menegaskan pihaknya akan melaporkan kejadian ini ke polisi.

"Kita (akan) melaporkan kepada polisi. Tentunya bisa melalui Polres Sukabumi. (Pelaporan) sedang diurus saya sudah komunikasi dengan Haddad Alwi barusan," tutur Helmy.

Selain tuduhan Syiah, terdapat versi lain soal penyebab pengusiran Haddad Alwi. Penyanyi religi itu diduga membela ulama NU, KH Ahmad Muwafiq atau Gus Muwafiq yang dinilai telah melecehkan agama.

"Itu belum, belum (ceramah membela Gus Muwafiq). Baru sampaikan 1 selawat langsung disuruh turun. Kita mengutuk keras tindakan seperti itu. Menurut saya ini sudah masuk ke dalam ranah hukum dan polisi harus mengusut ini," ucap Helmy. [dutaislam.com/ab]
pbnu bela haddad alwi setelah dipersekusi
Haddad Alwi Dituduh Syiah oleh FPI.

Isu Genosida Muslim Uyghur adalah Hoax :Video

Isu Genosida Muslim Uyghur adalah Hoax :Video Muslim Uyghur
Jakarta – Inilah kamp yang katanya berisi “genosida” dan “penganiayaan” terhadap Muslim Uyghur, yang sangat kejam dan mengerika
“Wartawan Turki akhirnya berhasil memperlihatkan rekaman” kamp konsentrasi “#Uyghur yang besar dimana puluhan ribu warga Uyghur katanya disiksa di Xinjiang, Cina”.

Begitu berada di dalam “kamp penyiksaan”, mereka terlihat shalat lima kali sehari! Bahkan sepatu mereka diletakkan secara rapi diluar!.
Ada sekitar 39.000 orang di  pusat deradikalisasi di seluruh China. Isu Genosida Muslim Uyghur adalah hoax, Muslim hidup damai disana, tidak ada penindasan, penyiksaan dan pembantaian. China memerangi separatis Uyghur yang memberontak melawan pemerintah, dan melakukan terorisme.
Lebih dari 15.000 Muslim Uyghur bergabung dengan kelompok-kelompok teroris di Suriah. Kelompok-kelompok yang mengangkat isu Uyghur di Indonesia, juga pendukung teroris di Suriah. (ARN)

Dina Sulaeman: Kupas Tuntas Propaganda Berita Miring Uighur

Jakarta – Pengamat Timur Tengah dan Radikalisme, Dina Sulaeman di akun facebooknya membuat sebuah tulisan menarik bagaimana berita miring tentang Uighur, propaganda warga Muslim terdholimi oleh pemerintah China adalah sebuah siasat membahayakan bagi negeri ini yang disuarakan oleh kelompok-kelompok pembenci pemerintah RI, inilah cara mereka mencari simpati masyarakat dengan menampilkan info-info sesat tentang Uighur, bahkan tagar #WeStandWithUyghur menjadi trending topik di twitter.
Menurut Pengamat, diantara sedemikian derasnya informasi soal Uighur, memang bagi sebagian orang sulit untuk percaya pada informasi bantahan “kaum Muslim di Uighur baik-baik saja”. Informasi yang tersebar terlihat sangat meyakinkan. Saya tidak punya info apapun yang bisa membantah berbagai foto dan video yang tersebar, karena saya tidak melakukan riset soal ini.
Kondisinya berbeda dengan kasus Suriah, dimana hoax sangat mudah terbongkar: tidak ada satupun foto berdarah-darah yang diklaim sebagai “korban pembantaian Assad” terbukti benar. Hanya dengan cara mudah: masukkan foto itu ke google image, akan segera ditemukan bahwa foto itu adalah korban kejahatan Israel di Gaza, korban kejahatan tentara AS di Irak, korban tabrakan di Turki, korban gempa bumi di Azerbaijan, atau foto kursi kuno di museum [diklaim sebagai kursi listrik dimana orang Sunni dibunuh Assad], dll.
Kondisinya beda dengan kasus Suriah, dulu itu para netizen anti-perang dari berbagai negara gotong-royong memverifikasi foto dan video tersebut. Apa saja hoax yang disebar White Helmets, segera muncul tanggapannya disertai bukti/argumen tak terbantahkan untuk menunjukkan bahwa itu foto/video hoax. Tapi yang sudah banyak dibongkar pun, sebagian orang tetap saja tak mau terima.
Entah mengapa kini para netizen pro China tak banyak bersuara. Minimalnya, kalau betul ini hoax, kalian seharusnya menerjemahkan video-video yang memberi klarifikasi. Ini sama seperti dulu, awalnya, mahasiswa-mahasiswa Indonesia (padahal Aswaja) di Suriah juga cenderung diam. Awalnya, kami para netizen antiperang yang babak belur jadi ‘minoritas’ melawan suara mainstream dan biasanya sering diserang dengan ejekan: emang kalian pernah ke Suriah??
Sekarang, kemana mahasiswa-mahasiswa Muslim Indonesia di China? Suara kalian tentu lebih kuat memberikan testimoni seperti apa kondisi disana. Toh situasi di Indonesia sudah berubah dibanding sebelumnya. Jadi, speak up lah, ga usah takut dibully.
Bagaimana dengan saya? Yang jelas, saya tidak bisa memastikan: apakah kamp konsentrasi dimana 1 juta Muslim direpresi itu benar adanya atau tidak. Tapi, saya cenderung skeptis, karena semua media yang agresif menyuarakan soal Uighur adalah media yang sama, yang selama 8 tahun perang Suriah berbohong, berbohong, dan berbohong.
Media yang sama yang dulu juga berbohong soal “senjata kimia di Irak” yang menjadi alasan untuk invasi militer AS ke Irak tahun 2003 dan memorakporandakan negeri itu, sampai hari ini.
Lembaga-lembaga pro HAM yang melaporkan soal kamp itu (HRW, Amnesty Intl) adalah lembaga yang membuat berbagai laporan dengan data yang tidak terverifikasi, menuduh Assad membantai rakyatnya sendiri (Baca buku Salju di Aleppo).
Jadi, mengapa saya harus langsung percaya pada semua media dan lembaga HAM yang terbukti bertahun-tahun berbohong itu? Sekarang media AS (WSJ) dengan liciknya menyeret NU dan Muhammadiyah ke dalam konflik ini; mereka tuduh NU dan Muhammadiyah menerima dana dari China sehingga diam soal Uighur.
Saya pernah menulis 2 tulisan soal Uighur, di situ saya memberikan “petunjuk metodologis” bagaimana cara menganalisis dan mengkritisi kasus ini, termasuk mengkritisi sumber berita, yang ternyata terkait dengan NED (ingat cerita saya soal NED?). (Tentang China dan Uyghur (12))
Saran saya, sebaiknya kita tetap mendengar dari kedua pihak. Kesalahan publik pada masa perang Suriah adalah menolak mendengar bantahan dari pihak pemerintah Suriah. Narasi yang tersebarluas hanya dari 1 pihak (pro oposisi/pemberontak). Baru beberapa tahun terakhir ini saja pada melek dan mendukung tagar #JanganSuriahkanIndonesia.
Untuk Uighur, Anda semua pasti sudah kenyang membaca dan menonton berbagai video soal “kejahatan” China. Beberapa hari yll, media China merilis film dokumenter untuk membantah narasi itu. Silahkan tonton, Anda akan mendapatkan perspektif yang berbeda.

Simak juga tulisan seorang mantan pejabat KBRI yang pernah berkunjung ke keluarga Uighur di Xinjiang. (ARN)
Dina Sulaeman: Kupas Tuntas Propaganda Berita Miring Uighur Muslim Uighur

Yusuf Muhammad: Waspada! Kelompok Khilafah Tunggangi Isu Uighur

Surabaya – Pegiat medsos Yusuf Muhammad menjelaskan dalam akun fanpage facebooknya bagaimana kelompok Khilafah dan Kadrun Indonesia memanfaatkan Isu Uyghur untuk mencari simpati umat muslim Indonesia, Yusuf mewanti-wanti rakyat untuk tak tertipu seruan mereka.
Gerombolan “kadrun” mulai memprovokasi umat muslim di Indonesia terkait Uighur. Mereka memaksa umat muslim di Indonesia agar mau bela muslim Uighur untuk kepentingan mereka. Padahal, ketika penduduk muslim Yaman dihujani bom dan digempur oleh pasukan koalisi Saudi hingga ribuan yang meninggal, mereka bungkam tak peduli.
Jika benar mereka menyuarakan soal pembelaan terhadap sesama muslim, maka pertanyaannya:
Apakah penduduk Yaman yang dibunuh itu bukan muslim? kenapa mereka tak pernah bersuara keras soal penindasan Saudi dan koalisinya terhadap penduduk Yaman?
Jawabannya cukup simpel. Semua itu karena tak ada value dan keuntungan bagi kelompok mereka. Jadi, kalau di Indonesia ada gerakan save Palestine, Save Rohingya, save Suriah dan save Uighur, semua itu dilakukan karena ada kepentingan, bukan murni bela islam.
Jadi, meskipun ada sesama muslim yang jadi korban, seperti di Yaman, tapi jika tak ada value atau keuntungan bagi kelompok mereka ya cuek aja. Siapa lu!
Kelompok mereka ini memang spesialis penunggang gelap.
Mereka melakukan propaganda dan menunggangi kasus etnis Uighur yang kemudian dikaitkan dengan sentimen agama. Hal ini membuat kita semakin mudah untuk menerka ke mana afiliasi mereka.
Dan jawabannya tentu khilafah solusinya.
Jadi, saya ingin sampaikan maaf, ya. Propaganda mereka yang dibantu pihak asing itu tidak akan mempan pengaruhi nalar kami yang masih waras!
Buat netizen yang masih awam soal Uighur, waspada jangan terpengaruh gombalan mereka. Jangan mau diprovokasi oleh mereka karena adanya sentimen agama. Ingat, saudara sebangsa kita masih banyak yang harus dipedulikan. Bahkan saudara seiman kita juga masih banyak yang harus kita bantu di negeri ini.
Coba cek akun-akun yang mengglorifikasi soal Uighur ini. Mereka rata-rata adalah kelompok intoleran, tapi suka menuntut keadilan dan anti terhadap pemerintah. Mereka memprovokasi mengajak umat muslim di sini untuk melihat masalah di China, tapi soal intoleransi di negeri sendiri mereka tak pernah peduli.
Jadi, mari bijak dalam berfikir dan bersikap. Jangan nyandak yang jauh di luar sana yang mungkin kita sendiri belum jelas dan paham duduk perkaranya. Mending kita urus yang di sekitar kita saja.
Kalau peduli dengan muslim uighur, mending langsung berangkat ke China saja, kan Dubes China sudah mengajak rakyat Indonesia untuk melihat langsung kondisi muslim Uighur di sana.
Jadi, jangan cuma bisa memprovokasi umat muslim di Indonesia, tapi giliran diajak ke China menolak dengan berbagai alasan. Ayo, drun. Saatnya buktikan! Minggat sana ke China. Jangan balik lagi ke Indonesia. (ARN)
Yusuf Muhammad: Waspada! Kelompok Khilafah Tunggangi Isu Uighur Waspada Propaganda Khilafah

Rekam Jejak Jaringan Teroris Uyghur di Indonesia

Jakarta – Inilah rekam jejak suku Uyghur China dalam jaringan teroris di Indonesia yang dikumpukan dari beberapa media:
Pertama, Bersama Teroris Santoso di Poso
Berdasarkan catatan teroris tanah air, yang dimuat di Tribunnews.com mendapati jejak keterlibatan suku Uyghur dari Provinsi Xinjiang, Tiongkok ke Poso untuk bergabung dengan kelompok teroris Santoso. Saat itu, Kapolda Sulawesi Tengah Inspektur Jenderal Rudi Sufhariadi mengatakan pada kelompok teroris pimpinan Santoso terdapat warga negara asing dari etnis Uyghur.
Suku bangsa yang mayoritas berada di Provinsi Xinjiang, Tiongkok, bahkan memiliki peran khusus pada kelompok Mujahidin Indonesia Timur dalam gerilya di pegunungan kawasan Poso, Sulawesi Tengah.
“Karena kemampuan fisiknya lebih tangguh, mereka (Uyghur) diberi tugas membawa logistik,” kata Rudi dalam konferensi pers di Mabes Polri, Jakarta, Rabu (25/5/2016).
Rudi menyebut tugas dari etnis Uyghur pada kelompok Santoso diketahui dari empat yang sudah ditangkap dari sejumlah daftar pencarian orang operasi Tinombala. Kekuatan fisik etnis Uyghur pada kelompok Santoso, diibaratkan Rudi pada kekuatan mereka mengangkat karung beras bekal makanan.
“Kalau orang kita angkat satu karung berdua, mereka (Uyghur) angkat satu karung beras sendiri,” kata Rudi.
Dalam bergerilya menghindari kejaran aparat gabungan operasi Tinombala, WNA itu lebih lincah dalam pergerakannya. Dari pengakuan anak buah Santoso yang tertangkap, tutur Rudi, ada enam orang Uyghur pada kelompok MIT. Namun, lima di antaranya sudah tewas selama rangkaian operasi perburuan Santoso berlangsung dan satu tertangkap.
“Sekarang masih sisa satu,” katanya.
Meski ada yang tertangkap, Rudi mengakui pihaknya sulit memeriksanya, perbedaan bahasa menjadi sebab. “Masih terkendala di bahasa, dia tidak bisa berbahasa Inggris. Kami belum tahu, pura-pura tidak bisa atau memang tidak bisa,” kata Rudi.
Kini Kapolri Jenderal Tito Karnavian pastikan jejak suku Uyghur di Poso sudah habis. Hal itu ketika ‎Polisi berhasil menembak mati satu orang suku Uyghur di Poso yang diduga kuat jaringan Santoso. Satu orang suku Uyghur yang tertembak tersebut diklaim polisi merupakan orang terakhir yang berada di Indonesia.
“Itu (orang Uyghur yang tertembak) yang terakhir. Itu yang terakhir,” kata Kapolri Jenderal Tito Karnavian di Kompleks Istana Kepresidenan, Jakarta, Kamis (18/8/2016).
Tito menjamin bahwa sudah tidak ada lagi suku Uyghur yang berideologi garis keras di Indonesia. Menurutnya, polisi sudah melakukan penyisiran terhadap kelompok Uyghur garis keras di Indonesia. “Kita deteksi sudah tidak ada lagi orang Uyghur. Kalau ada (lagi) kita tangkap,” tegasnya.‎
Kedua, Di Luar Jaringan Teroris Poso
Selain bergabung dengan jaringan Santoso di Poso, jaringan teroris dari bangsa Uyghur juga bergerilya bersama jaringan teroris lainnya di luar Poso.
Saat menjabat Kepadla BNPT Tito Karnavian pernah menjelaskan bahwa setelah bergabung dengan jaringan teroris di tanah air, jaringan Uyghur memanfaatkan jaringan-jaringan yang ada di Indonesia untuk bersembunyi, berlatih, maupun berjihad.
“Sehingga tak heran tokoh-tokoh ISIS di Suriah baik dari Indonesia maupun dari Uyghur dapat gabung di sana,” tutur Kepala BNPT, Irjen Pol Tito Karnavian, Senin (21/3/2016).
Jaringan Uyghur mengambil keuntungan dari perubahan situasi global dari kelompok-kelompok jaringan ISIS. Kelompok Uyghur memanfaatkan itu secara separatisme, kemerdekaan, atau ekonomi dengan membentuk khalifah lokal.
“Mereka berkomunikasi dan berinteraksi membentuk jaringan global. Mereka bisa menggerakan jaringan di negara masing-masing untuk berkoneksi,” kata dia.
Dia menambahkan, enam orang diduga dari Uyghur telah diketahui keberadaan.
Empat orang tertangkap dan sudah divonis pada 2015, satu orang tertangkap di Bekasi, dan dua tertembak di Bekasi. Namun bukan berarti keberadaan dan sepak terjang jaringan internasional teroris dari Uyghur belum tutup buku di tanah air. Paling tidak menyergapan empat teroris di Tangsel menjadi buktinya. Juga sebelumnya kejadian seorang terduga teroris dari suku Uyghur, Tiongkok diperiksa Densus 88 Mabes Polri.
Pemeriksaan ini buntut dari salah mendaratnya pesawat Lion Air yang harusnya di penerbangan luar negeri namun di domestik. Hingga akhirnya terduga teroris itu lolos dari pemeriksaan imigrasi di Bandara Soekarno-Hatta, Cengkareng, Minggu (10/5/2016) lalu.
Kapolri Jenderal Badrodin Haiti membenarkan informasi tersebut. Diutarakan Badrodin, pihak Imigrasi lah yang memberikan informasi pada polisi adanya suku Uyghur yang lolos dalam insiden itu.
“Dua hari yang lalu tertangkap Imigrasi, lalu Imigrasi meneruskan ke kami. Dia sudah menggunakan identitas Indonesia”, tegas Badrodin, Senin (16/5/2016) di Mabes Polri.
Begitu juga Menko Polhukam Wiranto mengungkapkan hasil pertemuannya dengan Duta Besar Republik Rakyat Tiongkok, Xie Feng yaitu kesepakatan bersama untuk menahan etnis Uyghur yang tergabung dalam kelompok ISIS masuk ke dalam wilayah kedua negara maupun Malaysia.
“Kami sepakat untuk tidak memberi ruang untuk mereka beraktivitas baik di Indonesia, Malaysia maupun di Tiongkok,” ujar Wiranto di Kemenko Polhukam, Jakarta, Kamis (15/12/2016).
Diketahui, Malaysia menjadi pintu masuk warga dari etnis Uyghur yang berafiliasi dengan kelompok ISIS ke Poso, Sulawesi Tengah.
Dari hasil pertemuannya dengan Dubes Xie Feng, Wiranto mengungkapkan, etnis Uyghur kini banyak yang berangkat ke Suriah untuk bergabung dan berlatih dengan kelompok ISIS dan dikhawatirkan akan kembali ke Tiongkok atau ke Indonesia.
“Masalah Uyghur itu sudah sedemikian cepatnya berkembang sehingga banyak masyarakat Uyghur yang kemudian dilatih di ISIS ya di Suriah disana dan sangat, boleh jadi kemudian tatkala mereka kembali akan lewat Malaysia atau Indonesia kembali ke daerah mereka dan ini kita sepakat untuk tidak memberi ruang untuk mereka,” ucap Wiranto.
“Kami berpendapat kalau terorisme itu tidak kita beri ruang dan koridor untuk aktivitas bahkan kita langsung memotong jalur-jalur distrik mereka maka mereka tidak akan hidup, kita sepakat untuk memperdalam masalah itu,” kata Wiranto. (ARN)
Rekam Jejak Jaringan Teroris Uyghur di Indonesia Tiga teroris Uighur, Ahmet Mahmud, Altinci Bayyram, dan Abdul Basit Tuzer, di Pengadilan Negeri Jakarta Utara, 13 Juli 2015 @Tribun

Dina Sulaeman: Kenapa Pemerintah RI Tak Dukung Uighur Tapi Dukung Rohingya-Palestina?

Jakarta – Pengamat Timur Tengah dan yang intens mengamatai masalah radikalisme dan terorisme Dina Sulaeman dalam akun fanpage facebooknya mengungkap sebuah fakta yang cukup mengejutkan tentang kenapa pemerintah Indonesia tidak mendukung Uighur tapi intens mendukung Rohingya dan Palestina, ini penjelasannya:
Sebuah “iklan” berbayar (sponsored) lembaga pengepul donasi untuk Uighur melintas di beranda. Berbeda dari sebelumnya, kini lembaga itu menyebutkan dengan jelas, bahwa bantuan selimut dan pangan akan diberikan kepada pengungsi Uighur di Kayseri, Turki.
Nah, gitu dong, terus-terang saja, bahwa bantuan itu akan diantar ke Turki. Saya baru dengar nama Kayseri, dan dengan sedikit google ketemulah foto ini.
Apartemen Warga Uighur di Turki
Apartemen Warga Uighur di Turki
Foto ini adalah kompleks apartemen yang disediakan pemerintah Turki untuk menampung para pengungsi Uighur, lokasinya di Kayseri, sekitar 11 jam naik bis dari Istanbul.
Dari foto ini ada beberapa hal yang bisa kita cermati:
  1. Judul: “Anggota minoritas Muslim terbesar di Cina membuat rumah baru di Turki”. Faktanya, ada 10 etnis di China yang beragama Islam, saya urutkan dari yang populasinya paling banyak: suku Hui, Uighur, Kazakh, Dongxiang, Kyrgyz, Salar, Tajik, Uzbek, Bonan dan Tatar. Jumlah total mereka 22 juta orang, atau sekitar 1,6% dari total populasi China.
  2. Ini adalah foto tahun 2015, saat ISIS masih “jaya”. ISIS membutuhkan pasukan dan ‘warga negara’ lebih banyak di “Islamic State”-nya. Di saat yang sama, Erdogan sangat ingin Assad terguling. Saat itu, kebijakan Turki adalah membuka pintu untuk kaum Uighur. Itulah sebabnya, mereka dengan mudah dapat visa dan secara legal masuk Turki, diberi tempat tinggal pula.
  3. Menurut reportase AP tahun 2017 (tapi menceritakan kejadian tahun 2015), begitu orang-orang Uighur itu sampai bandara Istanbul, sudah ada aktivis Uighur menanti dengan 3 bis kosong, untuk membawa mereka ke Kayseri. Namun di saat yang sama, juga ada 20 Uighur perekrut ISIS yang menunggu, mereka menjanjikan uang, pekerjaan, dan tempat tinggal, di Suriah. Sebagian besar mau menerima bujukan perekrut ISIS itu. Sumber: (Eksklusif AP: Uighur Tiongkok bekerja untuk menangkis jihad)
Saya menduga, derasnya arus Uighur keluar dari Xinjiang pada masa itu ada kaitannya dengan rekrutmen milisi ini. Tahun-tahun tersebut, propaganda ISIS sangat luar biasa: menjanjikan “negeri Islami” yang sangat nyaman buat kaum Muslim. Di laporan lain diceritakan bahwa orang-orang Uighur itu membayar mahal makelar yang berjanji akan membawa mereka ke Turki. Ada makelar yang benar-benar mengantar mereka ke Turki, ada yang nyasar dulu ke berbagai negara, termasuk tewas di perjalanan.
Ada sebuah keluarga (terdiri 20 orang) Indonesia yang juga termakan propaganda jenis ini. Mereka hidup nyaman di Indonesia, tapi kemudian menjual segala harta bendanya untuk bisa berangkat ke kekhalifahan ISIS di Raqqa Suriah. Ujungnya, menyesal, dan minta bantuan pemerintah untuk pulang. (17 Pengikut ISIS asal Indonesia Dipulangkan dari Suriah)
  1. Tahun 2019, sudah mulai ada upaya deportasi pengungsi Uighur dari Turki. (Pengungsi Uighur di Turki khawatir mereka akan dikirim kembali ke Cina) Mengapa? Kemungkinan besar, karena Turki lebih mementingkan hubungan ekonominya dengan China. Selain itu, perang Suriah sudah hampir usai. Yang tersisa adalah masalah besar: ada 18.000 milisi “jihad” asal Uighur tertahan di Idlib. Mereka tidak mau pulang ke China. (18.000 al-Qaeda Uighur di Suriah)
“Pulang” ke Turki? Erdogan tidak cukup gila untuk mau menampung 18.000 eks Al Qaida/ISIS. Siapa yang mau kasih makan dan pekerjaan untuk mereka di Turki? Jelas ini adalah efek perang yang tidak diduga oleh Erdogan. Dia dulu mengira, Assad akan terguling dengan cepat, sehingga sebanyak apapun Al Qaida/ISIS yang ia bantu rekrut dan ia biarkan lalu-lalang di perbatasan Turki-Suriah, mereka akan tetap di Suriah, tidak akan muncul masalah “pulangnya kemana?”
  1. Bagaimana kondisi para pengungsi Uighur di Turki? Seperti dilaporkan AP [2], meskipun Turki menerima pengungsi Uighur dan memberi tempat tinggal, mereka tetap kesulitan bekerja atau sekolah. Jika paspor China mereka habis, otomatis mereka tidak punya kewarganegaraan (stateless) dan Turki juga tidak mau kasih kewarganegaraan.
Jadi, ya, dari sisi ini memang mereka menderita, di TURKI. Yang jelas, status resmi mereka adalah warga China dan sebenarnya China mau menerima mereka kembali asal masuk ke kamp deradikalisasi dulu (sebagaimana eks-ISIS yang pulang ke Indonesia pun menjalani program deradikalisasi).
  1. Apakah pemerintah Indonesia bisa membantu mereka? Di foto terlihat 2 bendera. Yang merah adalah bendera Turki. Yang biru adalah bendera East Turkestan. Artinya, ini adalah sebuah gerakan separatisme (pemisahan diri dari sebuah negara berdaulat). Pemerintah Indonesia jelas tidak bisa ikut campur membantu sebuah gerakan separatis. Analoginya, seperti gerakan Papua Merdeka, Indonesia juga melawan (secara diplomatik) saat ada negara-negara lain membiayai dan mendukung gerakan separatisme tersebut.
Kasus ini berbeda dari Rohingya. Justru orang Rohingya ingin diakui sebagai warga Myanmar (dan mendapatkan hak-hak sebagai warga negara), tapi pemerintah Myanmar menolak. Jadi Rohingya bukan gerakan separatis dan Indonesia berperan sangat aktif membantu penyelesaian kasus ini. Juga berbeda dengan kasus Palestina, yang jelas dijajah oleh Israel. (ARN)
Dina Sulaeman: Kenapa Pemerintah RI Tak Dukung Uighur Tapi Dukung Rohingya-Palestina? Apartemen Warga Uighur di Turki

Mahasiswi Indonesia di China Ungkap Fakta Sebenarnya Soai Uighur

Jakarta – Sebuah kesaksian dari mahasiswi Indonesia yang berada di China. Melihat situasi yang terjadi di Indonesia berkaitan dengan isu Muslim Uighur, Laila Fakhriyatus Zakiyah, juga turut memberika komentar tentang apa yang sebenarnya yang terjadi disana.
Sosok mahasiswi kedokteran di Hubei Polytechnic University China asal Kecamatan Randuagung Lumajang ini juga turut prihatin dengan isu Uighur di Indonesia.
Berikut, Komentar Laila yang ditulis dari Asrama tempat tinggalnya di Kota Wuhan Provinsi Hubei China seperti dilansir NU.Lumajang.co.id:
Banyak media lokal Indonesia yang memakan mentah-mentah berita tentang Muslim Uighur yang disebarkan oleh media-media barat yang lalu menimbulkan banyak kisruh, protes dan demo oleh masyarakat di beberapa titik wilayah Indonesia.
Padahal andaikan mereka benar-benar tahu kondisi muslim Uighur sendiri di Cina, akankah mereka menertawakan aksi tidak berasaskan fakta di lapangan yang mereka elu-elukan sebagai patriotisme HAM tersebut?
Mari simak lebih lanjut bukti-bukti di lapangan..
Pusat re-edukasi yang diberitakan dengan incommunicado detention (penahanan tanpa akses dunia luar) dan komunikasi dengan keluarga terputus jelas hanya “Perception without stimulus” atau dalam bahasa psikologi berarti halusinasi.
Mengapa? Karena sudah jelas pengimplementasian salah satu peraturan kamp tersebut di lapangan yang merujuk pada asasnya mereka diperbolehkan untuk melakukan komunikasi melalui telpon atau video call satu kali dalam seminggu melakukan setiap bulannya. Mereka bahkan boleh dijenguk, melakukan pertemuan dan makan bersama keluarga.
Bagaimana bisa di Xinjiang, tempat muslim Uighur tinggal terdapat sebanyak lebih dari 20.000 masjid, 29.000 fakultas islam dan 103 asosiasi islam jika Islam benar-benar di bombardir keberadaanya?
Bahkan kepergiaan haji dan asuransinya pun dijamin dengan sangat baik oleh pemerintah Cina. Ini semua menandakan bahwa kebebasan beragama benar-benar terimplementasi dengan sempurna.
Lalu siapa yang di hukum? Mereka yang dihukum adalah mereka yang memiliki pemikiran radikal, yang memberontak dan yang berasakan terorisme.
Bisakah anda fikirkan, bagaimana bisa orang luar yang bahkan tidak pernah menginjakkan kakinya di Urumqi membuat informasi layaknya mereka sudah melakukan penelitian dan kajian lapangan berkali-kali?
Apakah anda yakin bahwa keyakinan anda bukan hasil dari pemikiran yang tidak kritis tanpa menelaah informasi berdasarkan fakta?
Sebagai Penutup tulisan saya, tiba-tiba saya teringat ucapan mas menteri Nadiem Makariem dalam salah satu pidatonya “Kita perlu critical thinking agar anak-anak kita mampu melihat dari dua sudut pandang masalah, bukan hanya menelannya mentah-mentah”. (ARN)
Mahasiswi Indonesia di China Ungkap Fakta Sebenarnya Soai Uighur Fakta Uighur
Jakarta – Menteri Dalam Negeri (Mendagri) sekaligus Pembina Dharma Wanita Persatuan Tito Karnavian menolak jika perayaan Hari Ibu setiap tanggal 22 Desember dicap sebagai budaya kafir dan haram dilakukan. Pernyataan Tito merespons sebuah ceramah yang viral di media sosial.

Peringati Hari Ibu Kafir, Mendagri “Semprot” UAS

 Ucapkan Selamat Hari Ibu
Jakarta – Menteri Dalam Negeri (Mendagri) sekaligus Pembina Dharma Wanita Persatuan Tito Karnavian menolak jika perayaan Hari Ibu setiap tanggal 22 Desember dicap sebagai budaya kafir dan haram dilakukan. Pernyataan Tito merespons sebuah ceramah yang viral di media sosial.
“Saya lihat ada viral di media sosial yang mengatakan peringatan hari ibu, mother’s day, itu berdosa untuk diperingati karena itu dibuat oleh orang kafir maka harus bertaubat. Betul enggak? Ada yang nonton?” Tito dalam Peringatan HUT Dharma Wanita Persatuan di Kantor Kemendagri, Jakarta, Senin (23/12).
Tito mengatakan perlu memahami sejarah sebelum menyebut bahwa Hari Ibu merupakan budaya kafir.
“Saya sampaikan kita harus berpikir, memahami sejarah, saya khawatir yang menyampaikan itu enggak memahami sejarah”, kata ucapnya.
Tito menerangkan perayaan Hari Ibu di Indonesia berbeda dengan di negara lain. Di dunia internasional, perayaan Hari Ibu di inspirasi oleh kisah Anna Jarvis yang hendak mengenang ibu kandungnya, Anna Reeves Jarvis.
Anna hendak mengenang jasa ibunya yang menjadi aktivis perawat para tentara dari dua kubu pada perang saudara AS. Perayaan Hari Ibu internasional dilakukan di pertengahan tahun, tergantung negara penyelenggara.
Sementara, kata Tito, perayaan Hari Ibu di Indonesia terinspirasi oleh Kongres Perempuan pertama yang digelar pada 22-25 Desember 1928. Kemudian setelah kemerdekaan, Presiden Sukarno menetapkan tanggal 22 Desember sebagai Hari Ibu.
“Faktor kita adalah lebih banyak faktor historis mengenang itu dalam rangka memperkuat spirit peran wanita, baik dalam rumah tangga maupun bangsa dan negara. Kita sekarang lihat hasilnya gemanya luar biasa, Indonesia salah satu negara yang menurut saya peran wanita cukup dominan, meski masih perlu ditingkatkan,” tuturnya.
Saat mencoba mengecek video viral yang disampaikan Tito, video itu merupakan potongan ceramah Ustaz Abdul Somad (UAS). Video itu telah diunggah di media sosial Youtube sejak tahun 2017.

Setiap menjelang perayaan Hari Ibu tanggal 22 Desember, video itu dibagikan ulang dan kembali memicu perdebatan. Dalam video itu, UAS menjawab pertanyaan salah seorang jemaat tentang hukum merayakan Hari Ibu. Ia pun menegaskan perayaan hari itu berhukum haram dan yang merayakannya adalah kafir.
“Bagaimana hukum merayakannya? Orang yang ikut merayakan Hari Ibu, man tasyabbaha bi qaumin, siapa yang ikut tradisi orang kafir, maka kafirlah dia,” kata UAS dalam video tersebut.
Menurutnya, cara memuliakan ibu bukan dengan merayakan Hari Ibu lalu mengacuhkannya pada hari lainnya. Dia menyebut memuliakan ibu harus dilakukan setiap hari. (ARN/CnnIndonesia)

Ekslusif: Uyghur ‘Senjata’ AS Hancurkan China

Washington – Uighur dan Proyek Jahat Barat. Dalam beberapa bulan terakhir, media Barat dan Pemerintahan Washington telah mulai mengumbar tuduhan dan kecaman mengenai dugaan kamp-kamp konsentrasi massa di barat laut China, Xinjiang, tempat yang dihuni oleh satu juta etnis Uyghur dikumpulkan dan di re-edukasi. Beberapa hal tentang dakwaan-dakwaan tersebut yang harus dicatat adalah, bahwa hampir semua tuduhan itu berasal dari media Barat atau LSM “demokrasi”  seperti Human Rights Watch yang rekam jejak mereka dalam menyampaikan laporan masih perlu dipertanyakan.

Sejak 2013 tentara Uyghur telah bergabung bersama teroris al-Qaeda di Suriah dan kembali ke Xinjiang China dimana mereka kemudian melakukan berbagai aksi teroris. Ini adalah ujung dari proyek jahat yang terkait dengan NATO, yaitu untuk menanam benih teror dan kerusuhan di China. Xinjiang adalah pasak dari Inisiatif Belt Road China, persimpangan jalur pipa minyak dan gas strategis dari Kazakhstan, Rusia dan target utama intrik CIA sejak beberapa dekade

Pada bulan Agustus Reuters menerbitkan sebuah artikel di bawah tajuk utama, “PBB mengatakan jika mereka memiliki laporan yang kredibel bahwa China menahan jutaan warga Uighur di kamp-kamp rahasia”. Namun setelah dilihat, ternyata artikel itu tidak mengungkap pernyataan kebijakan resmi PBB, melainkan kutipan dari seorang anggota Amerika dari sebuah komite independen yang tidak berbicara atas nama PBB. Seorang anggota yang tidak pernah punya pengalaman ke China.
Sumber klaim itu sendiri ternyata adalah sebuah LSM penasehat independen PBB yang disebut Komite Penghapusan Diskriminasi Rasial. Satu-satunya orang yang membuat dakwaan itu, anggota komite dari AS, Gay McDougall, menyatakan bahwa ia “sangat prihatin” tentang “laporan yang kredibel” itu, tanpa bisa mengutip sumber langsung untuk tuduhan dramatis ini.
Reuters dalam artikel itu berusaha menguatkan klaimnya dengan mengutip LSM yang berbasis di Washington DC, Pembela Hak Asasi Manusia (HAM) Tiongkok (CHRD).
Namun, dalam sebuah penyelidikan yang sangat baik, para peneliti di Proyek Grayzone menemukan bahwa CHRD ternyata telah mendapat kucuran dana ratusan ribu dolar dari beberapa pemerintahan yang tidak disebutkan namanya. LSM pemerintah AS yang terkenal buruk, National Endowment for Democracy, adalah termasuk dalam daftar tersangka utamanya. Terlebih, CHRD adalah bagian dari Human Rights Watch yang mendapat dana juga dari yayasan Soros.
“Masalah Uyghur”
Keadaan sebenarnya dari urusan di Provinsi Xinjiang China mengenai Uyghur tidak mungkin untuk diverifikasi secara independen, apakah ada kamp semacam itu dan jika demikian siapa yang ada disana dan dalam kondisi apa.
Apa yang diketahui, bagaimanapun, adalah fakta bahwa badan intelijen NATO, termasuk Turki dan AS, bersama dengan Arab Saudi, telah terlibat dalam merekrut dan mengerahkan ribuan Muslim Uyghur China untuk bergabung dengan Al-Qaeda dan kelompok teror lain di Suriah dalam beberapa tahun terakhir. Sisi persamaan ini membutuhkan perhatian yang lebih dekat, sisi yang dihilangkan oleh Reuters atau Duta Besar PBB Haley.
Menurut media Suriah yang dikutip di Voltaire.net, saat ini diperkirakan ada 18.000 etnis Uyghur di Suriah yang terkonsentrasi paling banyak di sebuah desa di perbatasan Turki dan Suriah.
Sejak 2013 tentara Uyghur telah bergabung bersama teroris al-Qaeda di Suriah dan kembali ke Xinjiang China dimana mereka kemudian melakukan berbagai aksi teroris. Ini adalah ujung dari proyek jahat yang terkait dengan NATO, yaitu untuk menanam benih teror dan kerusuhan di China. Xinjiang adalah pasak dari Inisiatif Belt Road China, persimpangan jalur pipa minyak dan gas strategis dari Kazakhstan, Rusia dan target utama intrik CIA sejak beberapa dekade.
Sejak setidaknya 2011 pada awal perang NATO melawan Suriah Bashar Assad, Turki telah memainkan peran penting dalam memfasilitasi aliran orang-orang Uyghur China untuk menjadi Jihadis di Suriah. Bagaimanapun juga, tampaknya ribuan orang-orang Uyghur ini masih bersembunyi di Suriah, sebagian besar di sekitar Idlib, pos terdepan teroris anti-rezim yang tersisa.
Washington dan ETIM
Dalam sebuah analisis yang sangat baik tentang sejarah teror Uyghur China, Steven Sahiounie, seorang jurnalis Suriah di 21st Century Wire, mencatat bahwa organisasi kunci di balik radikalisasi pemuda Uyghur Tiongkok adalah Gerakan Islam Turkestan Timur (ETIM) dan front politiknya, Partai Islam Turkestan (TIP), yang juga dikenal sebagai “Katibat Turkistani”.
Sahiounie mengutip pidato Erdogan di Istanbul pada tahun 1995 yang waktu itu masih menjabat sebagai Walikota, yang menyatakan, “Turkestan Timur bukan hanya rumah orang-orang Turki tetapi juga tempat lahir orang Turki.” Sejarah, peradaban, dan budaya Turki … ” dan Turkistan Timur itu adalah Xinjiang.
ETIM hari ini dipimpin oleh Anwar Yusuf Turani, yang menyatakan dirinya adalah Perdana Menteri dari sebuah pemerintahan di pengasingan yang terutama berbasis di Washington DC. ETIM memindahkan basis di Washington pada waktu yang sama saat Departemen Luar Negeri AS memasukkannya ke dalam daftar organisasi teroris, cukup aneh.
Menurut sebuah laporan di majalah investigasi Turki, Turk Pulse, “kegiatan organisasi Turani di pengasingan didasarkan pada laporan berjudul ‘The Xinjiang Project’. Itu ditulis oleh mantan perwira senior CIA Graham E. Fuller pada 1998 untuk Rand Corporation dan direvisi pada tahun 2003 dengan judul ‘The Xinjiang Problem”.
Saya (penulis) telah banyak menulis dalam buku saya, The Lost Hegemon, tentang karier senior CIA, Graham Fuller itu. Mantan kepala stasiun CIA Istanbul, Fuller adalah salah satu arsitek dari urusan kontra-Iran Reagan-Bush, dan senior CIA pertama yang menjadi induk semang Gülen dan memfasilitasi pengasingan Gülen di AS.
Dia juga dengan pengakuannya sendiri, berada di Istanbul saat peristiwa kudeta 2016 yang gagal. Pada tahun 1999 selama akhir era Yelstin Rusia, Fuller menyatakan, “Kebijakan memandu evolusi Islam dan membantu mereka melawan musuh kita bekerja sangat baik di Afghanistan melawan Rusia. Doktrin yang sama masih dapat digunakan untuk mengacaukan sisa-sisa kekuatan Rusia, dan terutama untuk melawan pengaruh China di Asia Tengah.”
Inilah tujuan mengapa AS memfasilitasi ETIM. Seperti kebanyakan kelompok Jihadis lainnya, ETIM Turani mendapatkan pendanaan sebagai kelompok Jihadis (Wahabi) paling radikal dari Arab Saudi.
Pada akhir 1990-an, Hasan Mahsum, yang juga dikenal sebagai Abu-Muhammad al-Turkestani, pendiri Gerakan Islam Turkestan Timur, memindahkan markas ETIM ke Kabul, berlindung di bawah Afghanistan yang dikuasai Taliban.
Di Afghanistan, para pemimpin ETIM bertemu dengan Osama bin Laden dan para pemimpin lain dari Al-Qaeda yang dilatih CIA yaitu Taliban dan Gerakan Islam Uzbekistan, untuk mengoordinasikan aksi-aksi di seluruh Asia Tengah. Ketika militer Pakistan membunuh al-Turkestani pada tahun 2003, Turani menjadi kepala ETIM, dan membawa roadshownya ke Washington.
Dalam penelitiannya sendiri tentang Xinjiang, Graham E. Fuller mencatat bahwa kelompok-kelompok Arab Saudi telah menyebarluaskan doktrin ekstremis Wahabi dan mungkin senjata kecil melalui simpatisan di Xinjiang, dan bahwa Muslim muda Turki telah direkrut untuk belajar di madrasah-madrasah (Wahabi) di Pakistan, Afghanistan, dan Arab Saudi. Ia menambahkan bahwa Uyghur dari Xinjiang juga berperang bersama Al-Qaeda dibawah Osama bin Laden di Afghanistan pada 1980-an.
Fuller mencatat, “Uyghur memang berhubungan dengan kelompok-kelompok Muslim di luar Xinjiang, beberapa dari mereka telah deradikalisasi ke dalam politik jihad yang lebih luas dalam proses tersebut, beberapa sebelumnya terlibat dalam pelatihan gerilya atau teroris di Afghanistan, dan beberapa berhubungan dengan mujahidin Muslim internasional yang berjuang untuk tujuan “kemerdekaan” Muslim di seluruh dunia”.
Dokumen kebijakan Strategi Pertahanan Nasional Pentagon Januari 2018 secara eksplisit menyebut bahwa China bersama dengan Rusia adalah “ancaman” strategis utama bagi kelanjutan supremasi AS.
Disebutkan, “Persaingan strategis antar negara, bukan terorisme, sekarang menjadi perhatian utama dalam keamanan nasional AS.” Secara eksplisit, dan ini baru, Pentagon tidak mengutip hal ini sebgai ancaman militer tetapi ancaman ekonomi.
Disebutkan dalam dokumen itu “Tiongkok dan Rusia sekarang merusak tatanan internasional dari dalam sistem dengan mengeksploitasi keuntungan,  sementara secara bersamaan meremehkan prinsip-prinsip dan ‘aturan jalannya’ “.
Perang dagang yang semakin meningkat melawan China, ancaman sanksi atas tuduhan kamp-kamp penahanan Uyghur di Xinjiang, ancaman sanksi jika China membeli peralatan pertahanan Rusia, semua ditujukan untuk mengganggu satu-satunya ancaman yang muncul terhadap tatanan global Washington, yang tidak didasarkan pada kebebasan atau keadilan tetapi lebih pada ketakutan dan tirani.
Bagaimana otoritas China berusaha menangani serangan penuh ini, adalah masalah lain. Namun konteks peristiwa di Xinjiang perlu diperjelas. Barat dan terutama Washington terlibat dalam perang luar biasa skala penuh melawan stabilitas China. (ARN)

Penulis: William Engdahl adalah seorang dosen dan konsultan risiko strategis, ia memegang gelar dalam bidang politik dari Princeton University dan merupakan penulis terlaris di bidang minyak dan geopolitik, dan menulis untuk majalah online “New Eastern Outlook”. Artikel ini awalnya diterbitkan di WilliamEngdahl.co
Ekslusif: Uyghur 'Senjata' AS Hancurkan China Tentara Uyghur
Re-post by MigoBerita / Selasa/24122019/18.13Wita/Bjm

Bela Muslim Uighur China atau Berpikir sejenak siapa yang dibela ?!? Gimana NU, Muhammadiyah hingga FPI..!!

PERANG TERBESAR BANSER NU

Jakarta - “Kapan perangnya, Gus? Cape latihan terus, gatal tangan.." Begitu guyonan seorang kader Banser waktu saya sedang bertamu ke markas mereka. Gus Yaqut Ketum Ansor menanggapi dengan guyonan juga, "Entar kalo perang beneran, kamu lari paling kencang..
Dan kami pun ketawa keras diiringi dentingan gelas kopi dan kepulan asap didalam ruangan. Ngobrol dengan teman2 Ansor dan Banser NU itu selalu nyaman, penuh guyonan.
Pertanyaan "kapan perang.." meski itu dibawakan dengan nada guyonan, sesungguhnya punya makna yang dalam. Yang dimaksud "perang" itu adalah kegemasan kader Banser terhadap kelompok kadal gurun seperti di FPI yang jumlahnya kecil tapi mulutnya besar.
Sudah sejak lama mereka petantang petenteng di depan anggota Banser NU. Gayanya sok jagoan.
Yang pernah kita lihat, ketika mereka dengan pongahnya bawa bendera hitam ketika Banser punya acara di Garut tahun lalu. Untung kader Banser tidak terprovokasi, cuma membakar bendera mereka saja.
Yang saya khawatir, gesekan-gesekan seperti ini terjadi ditataran bawah. Situasi pada waktu itu seperti ilalang kering yang mudah dibakar.
Elit Banser NU sendiri mengatakan, yang sulit bukan menghantam kelompok kadrun yang jumlahnya kecil tapi mulutnya besar itu.
Tetapi menjaga supaya anggota mereka yang jumlahnya jutaan tidak mudah emosi dan memukul kadrun berjenggot lembar lima itu. Karena sekali ada anggota Banser yang kena hantam, Banser dari seluruh daerah bisa datang dan pada saat itu situasi jelas tidak terkontrol.
 
Ingat peristiwa tahun 1965, ketika PKI terus menerus memprovokasi kalangan NU bahkan sampai membunuh kyai-kyai mereka? Marahnya NU ketika itu mengerikan.
Dan jelas NU menjaga supaya peristiwa kelam itu tidak terjadi lagi. Karena itulah kontrol emosi yang kuat harus mereka punya. Mereka baru bergerak, kalau kyai-kyai mereka sudah merestui. Ada sistem tongkat komando di organisasi mereka.
Bagi Banser NU, menjaga keutuhan NKRI sekarang ini jauh lebih besar dari sekedar rasa emosi. Mereka sadar, sedikit saja terpancing, maka Indonesia bisa terbakar.
Itulah kenapa ketika seorang anggota Banser dikatai, "kafir, anjing, monyet.." mereka terlihat mengontrol emosi. Bukannya takut, tapi menjaga supaya apinya tidak membesar. Mereka sudah didoktrin untuk tunggu perintah ulama mereka, dan tidak boleh main tangan sendiri.
Saya harus angkat kopi untuk teman-teman saya di Banser dan Ansor. Sejak lama saya berteman dengan mereka ketika sama-sama menggebuk HTI. Saya diudara, mereka dilapangan. Dan tidak pernah ada rasa jumawa didada mereka, meski jumlah mereka sangat besar.
Saya jadi teringat perkataan Imam Ali, bahwa "kesabaran seseorang teruji ketika ia dalam keadaan marah.."
Dan teman-teman di Banser NU telah menunjukkan pada kita, bahwa kekuatan terbesar bukan saat pada kita lemah, tetapi menahan tangan untuk tidak memukul disaat berkuasa..
Dan itulah perang terbesar mereka..
Salute..

Banser Anggota Banser Dihina



Sumber Opini : https://www.dennysiregar.id/2019/12/perang-terbesar-banser-nu.html

NEGERI PARA KADRUN

Jakarta - Ternyata saya senang sekali dengan sejarah.. Saya belajar agama dengan membaca sejarah. Belajar kehidupan dengan mengetahui sejarah. Belajar apapun selalu ada nilai sejarah.
Terus, kenapa dulu saya benci sekali pelajaran sejarah di SD, SMP sampe SMA??
Karena saya dipaksa menghapal. Saya harus hapal tanggal lahir seorang pahlawan yang saya juga gak kenal dia siapa. Kenal aja ngga, apalagi tanggal lahirnya. Belum tanggal kapan beliau perang ma Belanda sampe tanggal gugurnya.
Otak dijejali dengan angka, tanggal-tanggal gak berguna. Sampai nilai dari sejarahnya itu sendiri hilang gak berbekas.
Padahal seandainya si guru pandai bercerita, tentu sejarah itu akan membekas. Dan kita belajar dari sejarah supaya kehidupan lebih baik kedepannya. Sejarah itu punya nilai pelajaran yang tinggi, mulai dari kehormatan, komitmen sampai kelicikan, kekuasaan dan ketamakan ada disana.
Tapi bagi guru dulu, yang penting adalah "Tanggal berapa Wiro Sableng bertemu Sito Gendeng??" Who cares!!
Entah gurunya yang malas sehingga dia sendiri tidak paham nilai sejarah, atau memang kurikulumnya begitu? Semua harus ada angka, karena angka penting untuk penilaian.
Saya selalu iri dengan anak-anak di negara maju, yang kalau diwawancarai stasiun televisi mereka bisa lancar bercerita bahkan kadang bahasanya seperti orang dewasa.
Coba anak kita diwawancarai, pasti gagap, bingung, takut dan malu-malu. Jangankan bercerita, tampil aja mikir-mikir dulu. Kecuali anaknya artis yang suka pamer rumah sama saldo ATM di Bank. Sejak kecil memang sudah dijual ortunya untuk penghasilan, dipaksa untuk tampil di depan.
Dan ketika Nadiem Makarim, Menteri Pendidikan sekaligus bos perusahaan besar GoJek, bilang bahwa "Maaf, dunia tidak perlu anak-anak yang pandai menghafal.." langsung pada kebakaran jenggot. Saya setuju sekali.
Sampai sekarang saya tidak ingat kapan tanggal Indonesia perang dengan Singapura, tapi saya paham ceritanya, tentang 2 orang marinir yang gugur bernama Usma dan Harun di Singapura.
Konsep pendidikan kita harus benar-benar diubah. Kalau tidak, kita punya banyak penghafal tapi gak kepake di dunia kerja. Kalaupun kerja, cuman jadi robot di perusahaan besar saja.
Saya sendiri sudah lama paham, kenapa banyak orang Islam belajar agama jadi KADRUN? Karena mereka dipaksa belajar dengan menghafal ayat-ayat saja. Dan kalau hafal, dapat penghargaan sampe gratis masuk sekolah.
Tanyakan pada mereka makna dan konteks ayat-ayat itu, pasti bengong. Soalnya di otak mereka cuma hafalan surat sekian ayat sekian. Itulah kenapa masih banyak orang yang sibuk belajar memanah dan berkuda karena sunnah katanya, tanpa memahami bahwa perintah itu ada di jaman apa dan kenapa.
Jangan sampe nanti anak saya kelak ditanya gurunya, "Jokowi lahir tanggal berapa??" sampe tidak pernah mampu bercerita gambaran besar visinya untuk Indonesia.
So, Nadiem Makarim.. Tolong ubah konsep-konsep jadul itu, dan tawarkan konsep generasi digital yang out of the box. Karena tidak akan pernah ada perubahan, kalau kita selalu pakai cara yang sama.. Seruput kopinya.
Nadiem Makarim Nadiem Makarim

Uighur China, Propaganda Amerika & 

Kadrun Indonesia

Jakarta - Jadi begini... Dari semua penjelasan tentang etnis militan Uighur di China, saya suka penjelasan dari Novi Basuki yang sedang studi doktoral di Universitas Sun Yat Sen, China. Ia juga alumnus pondok pesantren Nurul Jadid, Probolinggo.
Tulisan dia dimuat di media online Kumparan tahun 2018, mengupas dengan jelas apa yang sedang terjadi di China. Benarkah pemerintah China melakukan intimidasi terhadap muslim disana? Benarkah pemerintah China membuat kamp untuk menyiksa muslim Uighur?
Etnis Uighur awalnya beragama Budha. Sesudah invasi pada abad ke 10 Masehi oleh kerajaan berbasis Islam di Xinjian Selatan, pelan-pelan terjadi konversi agama disana, meski masih ada juga etnis Uighur yang beragama Budha.
Nah, sebagian etnis Uighur yang beragama muslim ini, sejak lama ingin memisahkan diri dari China. Mereka adalah kaum separatis, yang semakin lama semakin radikal dan militan.
Pemerintah China sendiri, sesuai konstitusi, membebaskan warganya mau beragama apapun. Yang dilarang adalah mensweeping pemeluk agama lain, mengkafirkan, membenturkan negara dengan agama sampai merusak ketertiban sosial.
Kalau sudah begini, pemerintah China akan bersikap keras. Kerasnya pemerintah China terhadap kelompok separatis, yang kemudian membawa nama agama inilah yang sering dipropagandakan bahwa China kejam terhadap muslim disana.
Padahal ada 30 juta orang muslim disana. Mereka bebas beribadah, bahkan ada 35 ribu masjid dibangun diseluruh China. Masjid terbesar malah ada di Xinjian, tempat etnis muslim Uighur. Namanya masjid Id Kah.
Nah, suku Uighur beda. Mereka mirip kadrun disini. Keras kepala, gampang diprovokasi, bodoh dan cenderung barbar. Banyak dari mereka yang menjadi pelaku bom bunuh diri. Bahkan sebagian diantara mereka sempat bergabung dengan teroris ISIS di Indonesia, pimpinan Santoso, di Poso.
Mereka melakukan jihad (shengzan) untuk orang yang mereka anggap kafir (yijiaoutu). Siapa yang mereka anggap kafir ? Bukan saja agama lain, tapi juga muslim yang membela pemerintahan China.
Singkatnya, etnis muslim Uighur ini adalah kelompok separatis, yang bercampur dengan radikalisme agama. Begitulah, sodara-sodara..
Nah supaya mereka tidak makin radikal, pemerintah China membuat konsep deradikalisasi, dengan program reedukasi dan vokasi.
Program ini kemudian dipropagandakan oleh kelompok HAM dan media Amerika dengan nama "Kamp Konsentrasi".
Propaganda kekerasan China terhadap etnis muslim Uighur ini, sampe ke Indonesia. Dan kadrun-kadrun seperti ketemu oksigen ketika mendengar berita ini, berteriak-teriak kesetanan supaya pemerintah Indonesia bertindak keras terhadap China.
Lucu juga si kadrun. Mereka teriak anti Amerika, tapi percaya propaganda dari Amerika. Mungkin kebanyakan minum kencing onta, jadi otaknya split..
China sendiri sampe mengundang ormas Islam terbesar dari Indonesia, seperti Muhammadiyah dan NU datang melihat program deradikalisasi mereka.
Undangan pemerintah China ini kemudian diplintir oleh Amerika lewat koran besar mereka, Wall Street Journal, bahwa NU dan Muhammadiyah dibayar oleh China supaya diam masalah Uighur. Tentu saja NU dan Muhammadiyah membantah, wong mereka ke China karena ingin tabayyun..
Kenapa penting bagi Amerika melakukan propaganda bahwa China menyiksa muslim disana ? Ini ada hubungannya dengan perang dagang kedua negara. Amerika sedang membangun sentimen anti China, dan dianggapnya propaganda membawa agama akan berhasil menekan China.
Jadi, jangan termakan oleh propaganda Amerika seperti yang mereka lakukan di Libya, Iran, Irak, Suriah, Yaman dan banyak negara Timteng lainnya. Urusan Amerika apalagi kalau bukan konflik yang diharapkan akan menjadi ajang penjualan senjata mereka, ditukar dengan hasil SDA disebuah negara.
Kecuali kadrun.
Mereka selalu sibuk dengan konsep anti-antian tanpa tahu masalah sebenarnya. Anti China, anti Amerika, anti maksiat, anti kebhinnekaan.
"Kalau Anies Baswedan memberikan penghargaan kepada diskotek Colloseum, apakah mereka akan anti juga ?'
Oh, tidak.. Itu diskotek bersyariah, halal thoyyiban. Karena didalam diskotek hanya menjual air zamzam, juga wanita dan lelaki joget terpisah..
Mau seruput kok ada tokeknya.
Uighur Muslim Uighur China

Begini Cara Memecat Anies!

Kalau ada kepala daerah yang akhirnya diberhentikan karena melakukan tindakan pidana korupsi, ini sudah biasa ya. Maksudnya sudah beberapa kali terjadi, dan yang dilakukan memang tindakan yang melanggar hukum, hingga wajar kalau diberhentikan. Misalnya Zumi Zola, mantan gubernur Jambi. Namun, dalam sejarah Indonesia, hanya ada satu gubernur yang bakal mencetak sejarah baru dalam urusan pecat-pecatan. Mohon koreksi jika saya salah ya, para pembaca. Ini sepanjang pengetahuan saya, sepanjang sejarah Indonesia nih, tidak pernah ada gubernur yang diberhentikan karena kinerjanya dinilai buruk. Artinya, jika sekarang banyak usulan terhadap pemecatan maupun disuruh mundur, terhadap Gubernur Anies, maka warga DKI Jakarta musti bangga dong. Pertama lho dalam sejarah. Apalagi kalau sampai kejadian, beuhhh… Anies akan mencetak sejarah!
Sebenarnya sudah sejak tahun lalu ada wacana dari DPRD DKI Jakarta untuk menjalankan hak interpelasi. Waktu itu pasca 100 hari kepemimpinan Anies – Sandiaga. Yang punya wacana waktu itu adalah Fraksi PDIP. Sedangkan yang disasar untuk diinterpelasi adalah berbagai kebijakan Pemprov DKI Jakarta di bawah Anies yang dinilai makin berantakan. Mulai dari kebijakan membuka pagar pembatas rumput di kawasan Monumen Nasional (Monas) yang menyebabkan rumput tersebut mati terinjak-injak para pengunjung, hingga pemberian izin Pedagang Kaki Lima (PKL) membuka lapak di jalanan kawasan Tanah Abang yang menyebabkan wilayah tersebut jadi semrawut. Anies - Sandi juga dinilai tidak menepati janjinya untuk menyelenggarakan pemerintahan daerah yang transparan. Hal tersebut terlihat dalam perekrutan personel Tim Gubernur Untuk Percepatan Pembangunan (TGUPP) yang jumlahnya sangat banyak dan fungsinya berpotensi akan tumpang tindih dengan fungsi Satuan Kerja Perangkat Daerah (SKPD).
Namun, wacana tinggal wacana. Interpelasi itu tidak kunjung dilakukan. Banyak kemungkinan alasannya saya kira. Mungkin karena baru 100 hari jadi masih “dimaafkan”? Atau mungkin ada alasan politis? Mungkin ada lobi-lobi? Entahlah. Banyak pihak saya kira yang kecewa dengan tidak jadinya interpelasi terhadap Anies – Sandiaga waktu itu.
Kita juga masih ingat dengan adanya petisi online pencopotan Anies. Petisi ini sudah dimulai sejak sekitar setahun lalu. Hingga kini sudah ditandatangani oleh 176 ribu netizen. Namun, model petisi online ini kurang efektif dalam menghadapi rezim Anies dan antek-anteknya. Betul? Kita apresiasi si pembuat petisi maupun yang tanda tangan, tapi 176 ribu itu nampaknya belum cukup kuat untuk melengserkan Anies. Petisinya bisa dilihat di sini.
Kemudian beberapa hari lalu, pasca kisruh penghargaan buat diskotik Colosseum, para netizen +62 pun sukses menaikkan tagar #KartuMerahUntuk4nies. Para pembaca bisa melihat perkembangan dan isi tagar tersebut di link berikut :
https://twitter.com/search?q=%23KartuMerahUntuk4nies&src=trend_click
Tagar ya tetap lah jadi tagar jika tidak diikuti dengan prosedur sesuai aturan perundang-undangan yang berlaku. Jadi siapa sih yang bisa memecat Anies? Ada 2 pihak, yang saling bertautan. Tentu secara logis, para wakil rakyat di DPRD punya suara untuk mencopot gubernur yang tidak becus kerjanya. Ini dimungkinkan dengan adanya Peraturan Pemerintah (PP) Nomor 12 tahun 2018. Di mana di dalamnya ada pasal yang memberikan kewenangan pada DPRD untuk memberhentikan kepala daerah. Pasal 23, bagian (e) menyebut kewenangan DPRD untuk “mengusulkan pengangkatan dan pemberhentian gubernur dan wakil gubernur kepada Presiden melalui Menteri…”. Sedangkan di Pasal 25 ayat (1) disebutkan mekanismenya, “Pimpinan DPRD provinsi menyampaikan usulan pengesahan pengangkatan dan pemberhentian Gubernur dan Wakil Gubernur kepada Presiden melalui Menteri”. Sumber
Nah, di lain pihak, ada Presiden RI. Bukan gubernur rasa presiden ya, tapi Presiden Jokowi yang telah dipilih mayoritas rakyat untuk memimpin negara ini. Pertanyaannya, apakah Presiden Jokowi tergantung pada usulan dari DPRD jika hendak mencopot seorang gubernur? Tentu tidak! Hehehe… Ketentuan yang bisa dipakai oleh Presiden Jokowi untuk memecat gubernur, dengan ataupun tanpa rekomendasi DPRD, itu ada di dalam Undang Undang (UU) Nomor 23 Tahun 2014 tentang Pemerintahan Daerah, yang disahkan pada tanggal 30 September 2014.
UU Nomor 23 Tahun 2014 merupakan revisi dari UU nomor 32 Tahun 2004. UU ini merupakan jawaban atas keluhan yang pernah disampaikan oleh Presiden SBY waktu itu. Tentang tidak adanya wewenang presiden menindak kepala daerah yang tidak bisa kerja. "Kami sering mendengar di media massa, sejumlah kepala daerah memiliki kinerja yang buruk, memiliki disiplin, dan perilaku tidak baik. Nah, belum ada aturan yang tegas dan jelas untuk mengatasi permasalahan itu," ujar SBY. "Akan tetapi, jika ada yang berkinerja buruk, kewenangan presiden tidak ada. Saya bisa memberhentikan gubernur, walikota, jika ditetapkan sebagai terdakwa, lalu diberhentikan, tetapi apa harus menunggu (gubernur atau wali kota) menjadi terdakwa kalau saya harus memberhentikannya? Padahal kinerjanya buruk, pembangunan tidak ada," ucap SBY Sumber.
Nah, di dalam UU Nomor 23 Tahun 2014, sudah disediakan mekanismenya. Dari teguran tertulis hingga pemecatan, dimulai dari Pasal 78 dengan sub-judul “Pemberhentian Kepala Daerah dan Wakil Kepala Daerah”. Di dalamnya dipaparkan alasan pemberhentian Kepala Daerah, misalnya tidak melaksanakan kewajibannya sebagaimana dipaparkan di pasal sebelumnya (Pasal 67).
Article
Atau apabila melanggar larangan bagi kepala daerah dan wakil kepala daerah seperti yang dipaparkan di pasal sebelumnya (Pasal 76).
Article Article
Berikut ini bunyi pasal 78 tentang alasan pemberhentian secara lengkap :
Article
Dalam pasal selanjutnya, Pasal 79 diatur bahwa pemberhentian kepala daerah ini diumumkan oleh Pimpinan DPRD dan diusulkan oleh Pimpinan DPRD kepada Presiden melalui Menteri untuk gubernur. Ayat (2) mengatur, jika pimpinan DPRD tidak mengusulkan pemberhentian kepala daerah, maka Presiden memberhentikan gubernur atas usul Menteri. Sedangkan di dalam Pasal 80 diberikan jangka waktu proses pemeriksaan dan pengambilan keputusan atas usulan pemberhentian kepala daerah oleh DPRD, yang dilakukan oleh pihak Mahkamah Agung (MA). Jika pihak MA sudah memutuskan bahwa terjadi pelanggaran dengan hukuman pemberhentian, maka DPRD punya kewajiban untuk menyampaikan usul pemberhentian gubernur kepada Presiden dalam waktu 14 hari. Lebih dari itu, Presiden sudah bisa memecat gubernur, karena juga sudah ada keputusan MA yang mendasarinya. Versi lengkap UU tentang Pemda ini bisa dilihat di sini.
Bagaimana para pembaca? Rasanya kita tidak perlu jadi ahli hukum untuk memahami isi pasal-pasal di atas, karena sudah sangat jelas paparannya. Presiden SBY yang mengeluhkan dan memberikan sarananya. Tinggal apakah cara ini akan dipakai oleh DPRD DKI Jakarta ketika sudah banyak sekali keluhan dari warga DKI? Apa mesti Presiden Jokowi yang mengambil alih dan memecat Anies untuk kedua kalinya? Demikian kura-kura… (Sekian)

Re-post by MigoBerita /Sabtu/21122019/17.54Wita/Bjm










#PrestasiTanpaKorupsi 9 Desember Selamat Ultah Mas..eh.. Hari Anti Korupsi sedunia

Viral Video Erick Thohir Jadi Tukang Bakso, Nadiem Makarim & Wishnutama Berseragam SMA, Lalu Jokowi?
BANJARMASINPOST.CO.ID - Viral video Erick Thohir jadi tukang bakso, Nadiem Makarim dan Wishnutama pakai seragam SMA. Sedang Presiden Jokowi lakukan ini.
Ya, dalam rangka menyemarakkan Hari Antikorupsi Sedunia, beberapa menteri yang tergabung dalam Kabinet Indonesia Maju sepert Erick Thohir, Nadiem Makarim dan Wishnutama menyelenggarakan sebuah pentas drama.
Pada drama tersebut yang jadi video viral itu, tampil Menteri BUMN Erick Thohir yang memainkan peran sebagai penjual bakso. Sedangkan Wishnutama dan Nadiem Makarim jadi siswa SMA.
Dikutip TribunWow.com dari video unggahan kanal Youtube Sekretariat Presiden, Senin (9/12/2019), pada saat berakting sebagai tukang bakso, Erick Thohir sempat menyindir kasus penyelundupan yang baru-baru ini sedang hangat diperbincangkan.

Meski tak secara jelas, Erick Thohir tampak memberikan sindiran pada mantan Direktur Utama (Dirut) Garuda Indonesia Ari Askhara.
Diketahui, Ari Askhara disebut jadi dalang penyelundupan motor Harley Davidson dan sepeda Brompton yang dibawa melalui pesawat baru milik Garuda Indonesia.
Sindiran Erick Thohir disampaikan saat ia menceramahi komedian Bedu Tohar yang berperan sebagai anak SMA.
"Jangan mentang-mentang anak bos, malah manfaatin fasilitas," ucap Erick Thohir yang tampak menggunakan kaos oblong berwarna hitam, topi berwarna coklat, lengkap dengan handuk berwarna putih melingkari lehernya.
Erick Thohir kemudian berpesan kepada Bedu sembari menyelipkan pesan sindiran.
"Entar kalau lu udah gede jadi Dirut malah nitip barang-barang lu," kata Erick Thohir.
Ledekan Erick Thohir lantas mengundang tawa dari Bedu, Wishnutama dan penonton pentas tersebut.
Dikutip dari cuitan akun twitter resmi Presiden RI Joko Widodo (Jokowi), @jokowi, Senin (9/12/2019), acara tersebut diadakan di SMKN 57 Jakarta.
Pentas tersebut memberi pesan kepada masyarakat bahwa perilaku korupsi, sekecil apa pun, tidak diperbolehkan.
Selain Erick Thohir, tampil juga Menteri Pendidikan dan Kebudayaan (Mendikbud) Nadiem Makarim dan juga Menteri Pariwisata dan Ekonomi Kreatif (Menparekraf) Wishnutama.
Nadiem Makarim dan Wishnutama berperan sebagai siswa SMA kelas X dan XII.
Bedu tidak sendirian, ada komedian Sogi Indra Dhuaja yang turut meramaikan pentas tersebut.
Video dapat dilihat di awal


Pesan Jokowi di Pentas Drama SMKN 57 Jakarta
Dikutip dari laman setkab.go.id, Senin (9/12/2019), Jokowi yang turut hadir dalam acara pementasan tersebut menyampaikan beberapa pesan terkait korupsi.
"Pesan penting yang bisa ditangkap dari pentas tersebut adalah yang namanya korupsi itu tidak boleh. Sekecil apapun itu tetap korupsi. Tidak gede, tidak kecil, tidak boleh! Yang kedua yang namanya KKN; korupsi, kolusi, nepotisme tidak boleh," ujar Jokowi.
Menurutnya, korupsi dapat merusak tatanan kehidupan masyarakat dan juga bangsa.
“Anak-anak harus tahu mengenai ini. Karena korupsilah yang banyak menghancurkan kehidupan kita, kehidupan negara kita, kehidupan rakyat kita,” ujar Presiden Jokowi.
Tidak melulu soal korupsi uang, presiden mengingatkan korupsi juga dapat dilakukan dari hal yang kecil.
“Karena dari situlah bibit-bibit korupsi itu muncul, dimulai dari yang kecil-kecil. Kalau enggak diperhatikan nanti akan membesar, membesar, membesar dan menjadi betul-betul sebuah korupsi besar betul,” tutur Presiden Jokowi.
Jokowi kemudian menyampaikan untuk membiasakan berpikir dan bersikap kritis terhadap lingkungan.
"Kita harus membiasakan sejak kecil untuk berpikir dan bersikap kritis kalau ada hal-hal yang memang tidak baik. Bicaralah itu tidak baik, ini tidak baik. Terhadap teman-teman kita, diingatkan, diberitahu," papar Jokowi.
Ia juga meminta para orangtua untuk turut andil dalam menyebarkan nilai antikorupsi pada anak-anak mereka.
“Saya kira Bapak-Ibu juga sama, harus memberitahukan hal-hal seperti itu kepada anak-anak kita,” kata Kepala Negara.
Hal lain yang disampaikan Jokowi adalah soal kedisiplinan.
Jokowi menilai sejumlah sikap seperti disiplin, tepat waktu, percaya diri, optimis, berpikir produktif, dan juga berpikir kolaboratif itu penting.
“Karena itu menjadi kunci sukses bagi kita dalam kehidupan ke depan,” ucapnya.
Presiden Jokowi menegaskan, pembiasaan-pembiasan yang berkaitan dengan nilai-nilai integritas, yang berkaitan dengan nilai-nilai kejujuran sejak dini harus dimulai dan nanti akan menjadi sebuah budaya, baik budaya kerja, budaya kita dalam kehidupan sehari-hari.
Acara tersebut juga dihadiri pejabat lain seperti Menteri hukum dan HAM Yasona Laoly dan Gubernur DKI Jakarta Anies Baswedan.
(TribunWow.com/Anung Malik/Fransisca Mawaski)
Viral Video Erick Thohir Jadi Tukang Bakso, Nadiem Makarim & Wishnutama Berseragam SMA, Lalu Jokowi?
YouTube Sekretariat Presiden
Komedian Bedu (kiri), Menteri BUMN Erick Thohir (tengah), Menteri Pariwisata dan Ekonomi Kreatif Wishnutama (kanan)
Sumber Berita : https://banjarmasin.tribunnews.com/2019/12/10/viral-video-erick-thohir-jadi-tukang-bakso-nadiem-makarim-wishnutama-berseragam-sma-lalu-jokowi?page=all

Peringatan Hari Antikorupsi Sedunia 2019

Presiden Ingin Kesadaran Antikorupsi Ditumbuhkan di Sekolah


Presiden Joko Widodo menginginkan agar kesadaran perilaku antikorupsi ditumbuhkan sejak dini bagi generasi muda Indonesia. Menurutnya, menanamkan kesadaran antikorupsi tersebut penting sehingga harus dilakukan secara besar-besaran.
Demikian disampaikan Presiden kepada awak media usai menyaksikan pagelaran drama bertema antikorupsi di SMKN 57 Jakarta, Senin, 9 Desember 2019. Acara ini diselenggarakan oleh Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan dalam rangka memperingati Hari Antikorupsi Sedunia 2019.
“Kenapa di sekolah? Kita tahu, saya kira Pak Mendikbud memiliki 300 ribuan sekolah, ada siswanya 50 juta pelajar. Inilah yang harus menjadi target, karena apapun, demografi kita ke depan, anak-anak inilah yang akan mengisi negara ini di titik-titik jabatan apapun,” kata Presiden.
Oleh sebab itu, Kepala Negara mengingatkan agar kesadaran mengenai antikorupsi harus diberikan sejak dini kepada seluruh anak Indonesia. Dengan demikian diharapkan semuanya sadar bahwa perilaku korupsi itu tidak benar.
“Korupsi itu tidak boleh dilakukan oleh siapa pun. Jadi penekanan itu yang ingin kita berikan,” imbuhnya.
Selain bisa menjangkau sekitar 50 juta pelajar, kata Presiden, penanaman kesadaran antikorupsi di sekolah juga bisa menyasar para guru yang berjumlah sekitar 3,5 juta di seluruh Indonesia.
“Sekolah tadi masih plus guru, 50 juta siswa plus 3,5 juta guru,” lanjutnya.
Seperti diketahui, pada hari ini Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) juga mengadakan peringatan Hari Antikorupsi Sedunia. Untuk itu, Presiden pun berbagi tugas dengan Wakil Presiden Ma’ruf Amin yang menghadiri peringatan tersebut.
“Setiap tahun saya hadir. Hanya ini kan Pak Ma’ruf belum pernah ke sana, ya bagi-bagi lah. Masa setiap tahun saya terus? Ini Pak Ma’ruf belum pernah ke sana, silakan Pak Ma’ruf. Saya di tempat lain,” ungkapnya.
(BPMI Setpres)
Presiden Ingin Kesadaran Antikorupsi Ditumbuhkan di SekolahPresiden Joko Widodo saat memberikan keterangan pers kepada awak media di SMKN 57 Jakarta, Senin, 9 Desember 2019. Foto: BPMI Setpres/Muchlis Jr.
Sumber Berita : https://setpres.setneg.go.id/siaran-pers/presiden-ingin-kesadaran-antikorupsi-ditumbuhkan-di-sekolah/

Presiden Jokowi: Korupsi Itu Tidak Boleh, Sekecil Apa Pun Presiden Joko Widodo menegaskan bahwa perilaku korupsi, sekecil apa pun bentuknya, tidak diperbolehkan. Hal tersebut disampaikan Presiden dalam sambutannya saat menyaksikan drama bertema antikorupsi di SMKN 57 Jakarta, Senin, 9 Desember 2019. "Tadi anak-anak menangkap semuanya ya, pesan yang disampaikan oleh beliau-beliau tadi, ya? Bahwa yang namanya korupsi itu tidak boleh, sekecil apa pun, itu tetap korupsi, tidak gede, tidak kecil, tidak boleh!" kata Presiden di hadapan para siswa SMK. Tidak hanya korupsi, kolusi dan nepotisme juga merupakan perbuatan yang dilarang. Presiden mencontohkan, anak yang masuk diterima di perguruan tinggi karena menggunakan posisi ayahnya sebagai pejabat, tanpa menggunakan aturan yang seharusnya. "Mau masuk ke perguruan tinggi, mentang-mentang bapaknya pejabat, enggak pake aturan main langsung diterima, itu juga tidak boleh. Kembali lagi, yang namanya KKN (korupsi, kolusi, nepotisme) tidak boleh," ujarnya. "Anak-anak sejak dini harus tahu mengenai ini, karena korupsilah yang banyak menghancurkan kehidupan kita, kehidupan negara kita, kehidupan rakyat kita," imbuhnya. Sebelumnya, Presiden menyaksikan drama bertajuk #PrestasiTanpaKorupsi. Drama tersebut diperankan oleh tiga menteri, yaitu Menteri BUMN Erick Thohir, Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Nadiem Makarim, dan Menteri Pariwisata dan Ekonomi Kreatif Wishnutama Kusubandio. Selain itu tampil juga seniman Bedu dan Sogi. Dalam drama tersebut diceritakan siswa yang hendak menggunakan uang pentas seni (pensi) untuk kepentingan pribadinya, yaitu membeli bakso. Bedu yang menampilkan peran tersebut kemudian mendapat nasihat dari Erick Thohir yang berperan sebagai penjual bakso di sekolah tersebut. "Jadi contoh yang bisa kita ambil dari drama tadi adalah ya satu, kita tidak boleh mengambil sesuatu yang bukan hak kita, benar? Tadi kan uang kas yang akan dipakai untuk Pensi (pentas seni), dipakai beli bakso, enggak boleh. Sekecil apa pun tidak boleh karena itu uang bersama dari anak-anak yang sudah dikumpulkan secara gotong royong, hati-hati hal-hal seperti itu. Korupsi itu dimulai dari hal-hal yang kecil seperti ini," jelas Presiden. Dari drama tersebut, kata Kepala Negara, bisa diambil pelajaran bahwa korupsi itu tidak hanya korupsi uang, tetapi juga korupsi waktu. Dalam drama ditampilkan seorang siswa mengajak siswa lainnya untuk tidak mengikuti pelajaran. Menurut Presiden, itulah bibit-bibit perilaku korupsi yang jika dibiarkan akan membesar. "Memang korupsi itu dimulai dari hal-hal yang kecil-kecil. Kalau yang kecil-kecil ini tidak diperhatikan, larinya nanti ke yang besar. Korupsi waktu pun tidak boleh. Tadi yang ada mau masuk kelasnya mundur-mundur tadi, enggak boleh," ungkapnya. Oleh sebab itu, Presiden berpesan kepada semua pihak untuk membiasakan berpikir dan bersifat kritis sejak kecil. Presiden juga mengajak semua pihak untuk membiasakan hidup disiplin, tepat waktu, percaya diri, optimistis, berpikir produktif, dan kolaboratif. Karena menurutnya, sikap-sikap tersebut yang akan menjadi kunci sukses dalam kehidupan ke depan. "Sekali lagi, pembiasaan-pembiasaan yang berkaitan dengan nilai-nilai integritas, yang berkaitan dengan nilai-nilai kejujuran, sejak dini harus kita mulai dan nanti akan menjadi sebuah budaya, baik budaya kerja, budaya kita dalam kehidupan sehari-hari kita," tandasnya. Turut hadir dalam acara tersebut, yaitu Menteri BUMN Erick Thohir, Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Nadiem Makarim, Menteri Pariwisata dan Ekonomi Kreatif Wishnutama Kusubandio, dan Gubernur DKI Jakarta Anies Baswedan. Jakarta, 9 Desember 2019 Biro Pers, Media, dan Informasi Sekretariat Presiden Website: https://setpres.setneg.go.id YouTube: Sekretariat Presiden
Sumber Youtube : https://www.youtube.com/watch?v=GsaSOrP0leo

Re-post by MigoBerita /Selasa/10122019/14.32Wita/Bjm