Arsip Migo Berita

WADAS.... oh WADAS ....


Migo Berita - Banjarmasin -
WADAS.... oh WADAS .... Seolah negeri Indonesia saat ini "Runtuh" ketika segelintir orang didunia maya membicarakan WADAS dimana Bupatinya dipimpin atau kader Partai Demokrat AHY SBY. Agar tidak gagal paham, baca hingga tuntas berbagai artikel yang telah kita kumpulkan. 

Belagak Nantang Jokowi, Anies Kena Batunya!

Sejak 2 tahun lalu, bahkan mungkin lebih lama ya, sudah beredar beberapa analisa, bahwa tahun 2022 merupakan tahun yang buruk buat Anies. Karena pada tahun ini jabatan Anies sebagai Gubernur DKI Jakarta akan berakhir. Sementara pemilu baru diadakan pada tahun 2024, baik itu Pilkada maupun Pilpres. Disebut bahwa vakumnya Anies selama 2 tahun tanpa jabatan publik, akan berpengaruh buruk terhadap elektabilitasnya sebagai capres 2024.

Saya tidak mau bilang bodoh ya. Kita anggap saja lucu. Lucunya, selama bertahun-tahun analisa itu muncul, Anies tidak juga memperbaiki kinerjanya. Padahal masih cukup waktu buat Anies untuk menangani banjir dengan normalisasi atau naturalisasi, menyediakan rumah buat warga miskin, menyediakan fasilitas MCK yang banyak, memperbaiki jembatan penyeberangan orang (JPO) di luar kawasan Thamrin-Sudirman, dan banyak lagi. Dianya malah berkeras menggelar ajang balap Formula E. Yang kita semua tahu, modalnya mencapai ratusan miliar hingga di atas 1 triliun rupiah. Duit rakyat semua itu, tapi belum terlihat hasilnya hingga sekarang.

Waktu begitu cepat berlalu. Anies banyak membuang waktu dengan proyek kosmetik dan proyek mercusuar. Proyek-proyek untuk menipu mata. Proyek yang mendukung citranya sebagai tokoh yang mau nyapres. Bukan proyek yang bermanfaat buat rakyat banyak. Gembar gembor kinerja Anies pun hanya dapat dipakai untuk pamer stadion Jakarta International Stadium (JIS). Yang sebenarnya dibangun dengan dana pinjaman dari pemerintah pusat, hehehe… Sumber.

Di sisi lain, untuk mengukuhkan posisinya di dunia politik, Anies pun melakukan manuver tajam. Yakni mengambil langkah yang “menantang” atau melawan Presiden Jokowi. Sudah sangat dipahami bahwa secara politis, posisi Presiden Jokowi teramat sangat kuat dalam menentukan siapa pemenang Pilpres 2024. Didukung oleh tingginya tingkat kepercayaan publik terhadap Presiden Jokowi, siapa pun yang di-endorse oleh Presiden Jokowi, bisa dipastikan bakal jadi Presiden RI tahun 2024.

Anies bermaksud memanfaatkan kekuatan politik Presiden Jokowi ini buat mengatrol citra dirinya. Sebagai orang yang berani melawan atau menantang Jokowi. Caranya? Dengan menyindir slogan khas Jokowi, “kerja, kerja, kerja”. Di depan para pendukungnya, Anies belagak memamerkan “hasil kerjanya” selama ini. Seperti JPO yang instagramable dan JIS (lagi). Sebagai penutup, Anies pun menyebut agar jangan kerja, kerja, kerja, tanpa gagasan Sumber. Ini tentu saja disampaikan Anies di Makassar, Sulawesi Selatan. Masak disampaikan di Jakarta? Bisa diketawain warga Jakarta tuh, hehehe…

Anies juga memanfaatkan isu yang sedang hangat saat ini, yakni pemindahan ibu kota negara. Dalam sebuah forum talkshow, Anies menyebutkan bahwa pemindahan ibu kota negara tidak akan menyelesaikan masalah kemacetan di Jakarta Sumber. Seakan masalah di Jakarta hanya kemacetan, heloowwww…. Tapi yang penting bagi Anies secara politis, dia sudah ikut bersuara negatif terhadap mega proyek Presiden Jokowi tersebut. Seakan kinerja Presiden Jokowi nggak ada apa-apanya dibanding Anies? Hehehe…

Ya memang begitu, hanya citra yang bisa dijual oleh Anies. Citra memang gampang dijual. Terutama kepada mereka, para kamvrets, para kadrunista, yang memang sudah punya rasa benci terhadap Presiden Jokowi. Benci tapi ikut menikmati hasil kerja Jokowi, nggak malu ya? Hehehe…

Gampangnya menjual citra, sama gampangnya ketika kenyataan buruk terungkap, sehingga menumbangkan citra yang sedang dijual. Anies disebut pemimpin gagah, santun, seiman, punya banyak penghargaan, bla bla bla… Tapi, gubrakkk! Tak perlu Presiden Jokowi capek-capek membalas sindiran Anies. Cukup apa yang terjadi pada warganya, warga gubernur Anies, yang membalas “bualan” Anies.

Citra Anies yang sedang dipamerkan dan dipromosikan pun jatuh terperosok. Seiring dengan kejadian fatal yang menimpa warga Jakarta di bantaran Kali Ciliwung. Seorang warga Jakarta terperosok ketika memakai toilet dan jatuh ke kali Ciliwung Sumber. Peristiwa menghebohkan ini pun jadi santapan media. Disiarkan beberapa kali di berita televisi. Disertai video yang memperlihatkan buruknya kondisi toilet di dalam rumah warga Jakarta.

Anies pun kena telak. Dari posisi menantang Jokowi, Anies mendadak jeblok ke posisi yang terpojok. Anies lebih memilih membangun stadion JIS dengan uang pinjaman triliunan rupiah. Anies lebih memilih menggelar Formula E dengan biaya ratusan miliar hingga triliunan. Tapi Anies tidak sanggup membangun rumah dan toilet yang aman dan bagus buat warganya sendiri. Makjleb jleb jleb!

Keapesan buat Anies belum berhenti di sana. Sudah jatuh “tertimpa” WC, Anies juga seakan “terpeleset” di Ancol. Di tanah berlumpur yang bakal jadi sirkuit Formula E. Momen itu terasa ketika para pembalap MotoGP mulai berdatangan ke Mandalika. Untuk melakukan tes pramusim MotoGP di Sirkuit Pertamina Mandalika. Nama-nama yang sangat akrab bagi warga masyarakat Indonesia, seperti Marc Marquez dan Quartararo, mendapatkan ucapan selamat datang dari para netizen Sumber. Bahkan Marquez memamerkan foto dirinya di depan bandara dengan latar tulisan Lombok Sumber.

Para netizen menjadikan momen ini sebagai sarana untuk mengolok-olok Anies. Dengan mempertanyakan apakah yang datang itu adalah pembalap buat Formula E? Sumber. Ada pula netizen yang menyebut bahwa Valentino Rossi, pembalap dengan banyak prestasi di MotoGP yang sudah pensiun, sedang mengetes motornya di Ancol. Lokasi sirkuit Formula E yang entah kapan jadinya Sumber. Netizen lain bertanya apakah Marquez datang untuk cek sound di JIS, sambil tertawa hehehe… Sumber.

Berbagai olok-olok yang sulit dipatahkan oleh para pendukung Anies. Anies juga sih. Modal tipis, berani nantangin Presiden Jokowi. Kita bicara kinerja dan prestasi ya. Mau gagasan sebesar apa, tidak akan berguna jika tidak ada bukti nyata. Sudah lah, Pak Anies, jangan mencoba menaikkan citra elektabilitas dengan cara menantang Presiden Jokowi. Itu mustahil bakal berhasil. Yang ada malah tambah apes pes pes… Seakan Anies kena gelindingan ban sepeda motor pembalap MotoGP hehehe… Jadi tertawaan publik lagi. Bahkan tanpa campur tangan langsung Presiden Jokowi. Alam bawah sadar publik sudah otomatis selalu membandingkan dengan hasil nyata kinerja Presiden Jokowi yang luar biasa. Sesuatu yang tidak akan pernah dapat disaingi oleh Anies Baswedan. 

Belagak Nantang Jokowi, Anies Kena Batunya!

Sumber Utama : https://seword.com/politik/belagak-nantang-jokowi-anies-kena-batunya-6oZKyPYVHz

Andai Masalah Wadas Diatasi Tahun Lalu, Ga Akan Serumit Ini

Belakangan ini, banyak orang menyederhanakan insiden di Wadas hanya sebatas penolakan terhadap pembangunan bendungan. Mereka yang mendukung warga Wadas, dianggap tidak pro terhadap pembangunan nasional. Bahkan dicap kadrun.

Saya tidak menyangkal bahwa memang ada kelompok oposan yang memanfaatkan. Partai selain PDIP pasti juga senang dengan kasus ini. Karena bisa menyerang Ganjar dan PDIP sekaligus.

Tapi, di sisi lain, memang ada masalah yang belum selesai.

Mereka yang melakukan perlawanan terhadap aparat itu bukan berarti orang yang tidak setuju dengan pembangunan bendungan Bener. Masalah di Wadas itu cukup kompleks. Tapi kalau mau dikerucutkan, maka masalahnya adalah dua proyek yang berbeda tapi berdekatan lokasinya.

Pertama adalah proyek pembangunan bendungan Bener yang bisa mengairi 15 ribu hektar lahan. Kedua adalah proyek penambangan batu andesit yang rencananya digunakan untuk pembangunan bendungan.

Di masing-masing proyek tersebut, ada masalahnya masing-masing. Di pembangunan bendungan misalnya, warga mengeluh mulai kekurangan air, ada ledakan yang merusak rumah warga, sampai kompensasi yang lambat dibayar tapi lahan sudah digarap.

Di masalah penambangan andesit lain lagi, mayoritas warga menolak karena lahan atau tanah mereka adalah sumber penghidupan. Kalau tanahnya dijual, mereka jadi ga bisa bertani lagi. Sementara kalau untuk membeli tanah lagi, kompensasi yang ditawarkan BPN dianggap tidak sesuai.

Sehingga, dari dua masalah di atas, sejak satu tahun yang lalu, warga sudah bolak balik ke pengadilan. Di tingkat pengadilan Purworejo, putusannya memenangkan warga. Bahwa harga lahan harus dinilai ulang. Sementara BPN tetap menginginkan 50 sampai 60 ribu permeter.

Setelah berkali-kali demo, BPN diminta melakukan diskresi terkait harga lahan. Dan BPN Purworejo pun mengabulkan, dengan berkirim surat ke pusat sesuai dengan permintaan warga.

Tapi ketika proses ini belum selesai, tiba-tiba ada pengukuran lahan.

Kemarahan dan protes warga kepada aparat cukup beragam. Ada yang protes karena pembayarannya lambat, tidak sesuai harga sampai penolakan sepenuhnya terhadap penambangan batu andesit karena di lahan itulah masyarakat menggantungkan hidupnya.

Pengerahan aparat secara besar-besaran ini bukan yang pertama. Tahun lalu juga begitu. Dan kita dibuat heran, kenapa untuk menghadapi warga desa, sampai harus ada pengerahan sebanyak itu? Permintaan maaf Ganjar di media jelas tak bisa diterima oleh warga Wadas. Karena pernyataan soal “jangan takut, ini hanya pengukuran” itu tidak sesuai dengan kondisi di lapangan. Selain itu, SK Gubernur terkait penambangan batu andesit ini memang ditanda tangani oleh Ganjar. SK itulah yang bermasalah karena pengadaan lahan disamakan dengan kategori pengadaan lahan untuk kepentingan umum, bukan pengadaan penambangan.

Penolakan warga ini cukup berimbang. Memang lebih banyak yang setuju, tapi secara presentase hampir 40 persen belum setuju. Karena yang setuju 346 bidang, sedang yang menolak adalah 133 bidang dan 138 bidang belum memutuskan.

Ini jelas angka yang cukup signifikan. Hanya saja, dalam banyak pernyataan atau brifing, yang dianggap menolak hanya 133 bidang. Sisanya yang belum memutuskan tidak disebutkan.

Makanya dengan data ini, jumlah penolakannya cukup banyak. Sampai terjadi insiden dan harus dilakukan pengawalan dalam jumlah besar, hanya untuk melakukan pengukuran.

Pada awalnya, ini hanya soal kompensasi. Permintaan ganti untung yang sesuai kategori lahan penambangan. Tapi sekarang, LBH dan LSM dari Jakarta sudah ikut campur. Politisi juga ikut berkomentar. Sehingga kasusnya sudah tidak sesederhana pada awalnya.

Ganjar pasti menyesal tidak menyelesaikan ini lebih awal. Dan malah membiarkannya berlarut-larut, lalu sekarang menjadi lebih rumit dari pokok permasalahan.

Pada akhirnya, warga kita itu sejatinya lebih jujur dari demonstran. Ketika mereka protes, sampai bawa senjata tajam, mempertaruhkan nyawanya, itu pasti berdasarkan alasan yang sangat kuat; sumber penghidupan.

Jika melihat kejadian ini, sebenarnya mirip dengan apa yang terjadi di Tuban desa Jenu. Banyak yang menolak awalnya. Tapi setelah diberikan penjelasan, terkait pengembangan Pertamina, dan ganti untungnya sampai 2 juta permeter, warga mulai melunak. Ditambah lagi dengan pohon yang ada di lahan petani juga dihitung proyeksi panen. Misal ada pohon mangga yang masih kecil, Pertamina akan hitung hasil panen tahunannya dan dikalikan 5 atau 10 tahun. jumlah itulah yang kemudian dibayarkan pada petani, sekaligus harga lahan yang permeternya ada yang mencapai 2 juta permeter.

Tapi di Wadas, pengerahan aparat malah didahulukan. Patokan harga tanah pun dinilai tidak sesuai dengan peruntukan. Dan karena lambat penanganan, minim dialog, maka insiden seperti kemarin jadi tak terhindarkan. 

Andai Masalah Wadas Diatasi Tahun Lalu, Ga Akan Serumit Ini

Sumber Utama : https://seword.com/politik/andai-masalah-wadas-diatasi-tahun-lalu-ga-akan-gQBIlO52ml

DSP Mandalika, Polesan Eksotisme Alam Berpadu Sportainment Siap Sambut Wisatawan Dunia

Diresmikan Jumat (12/11/2021) dengan nama Pertamina Mandalika International Street Circuit, Presiden Jokowi langsung menjajal sirkuit pake cara unik nan elegan. Beliau orang pertama ‘menikmati’ mulusnya aspal Mandalika yang katanya menggunakan teknologi pengaspalan paling modern bernama Stone Mastic Asphalt (SMA), memiliki daya penetrasi tinggi sehingga pembalap tidak mudah jatuh saat terjadi wet race atau jalan licin akibat hujan, dan digadang-gadang jauh lebih baik dari sirkuit kepunyaan Malaysia, Sepang.

Ya, sebagai warga negara Indonesia pastinya banggalah punya sirkuit kelas dunia seperti Mandalika dengan panjang 4,3 kilometer, lebar 15 meter, total 17 tikungan, kapasitas penonton 150.000 sampai 200.000, tapi karena masih pandemi, panitia hanya menyediakan 75.000 kursi di grandstand dan 138.000 area berdiri, dibangun diatas lahan hampir 100 hektar, serta memiliki speed trap atau daya dorong pemicu pembalap memaksimalkan kecepatan saat berlaga, plus kelengkapan lainnya membuat sirkuit berkelas internasional yang terletak di Kawasan Ekonomi Khusus (KEK), Kabupaten Lombok Tengah, Nusa Tenggara Barat telah selesai bersolek diri menyambut pagelaran-pagelaran kelas dunia, seperti MotoGP yang akan diselenggarakan Maret 2022 nanti.

Tak hanya MotoGP, The Mandalika juga akan terbuka dengan keindahan dan polesan wajahnya usai ditetapkan menjadi salah satu dari lima Destinasi Pariwisata Super Prioritas, bagian dari Wonderful Indonesia yang dikembangkan Pemerintah lewat Kemenparekraf, bersinergi dengan Kementerian-PUPR dan Pertamina untuk mendukung pemulihan pariwisata demi meningkatkan kesejahteraan rakyat di Provinsi Nusa Tenggar Barat dan melambungkan nama Indonesia di kancah dunia internasional.

Ya, kedepannya dengan konsep Sport Tourism, PT Pengembangan Pariwisata Indonesia (Persero)/Indonesia Tourism Development Corporation (ITDC) bersama dengan Mandalika Grand Prix Association (MGPA) telah meluncurkan dua logo bermakna tersendiri.

Logo Mandalika GP Series akan menjadi identitas resmi untuk semua event berkaitan dengan racing di Sirkuit Mandalika, seperti Idemitsu Asia Talent Cup (IATC), FIM MOTUL World Superbike (WSBK), serta FIM MotoGP World Championship (MotoGP) Seri Indonesia.

Sementara, logo Mandalika Xperiences akan digunakan untuk event-event lainnya, seperti konser musik, kegiatan seni budaya, dan acara olahraga lainnya, semisal balap sepeda, balap mobil, lari, triathlon, pendakian gunung, trekking, motocross, dan juga olahraga air seperti selancar dan paralayang.

Keunikan DSP Mandalika

Tak dapat dipungkiri, Indonesia dengan kekayaan dan keindahan alamnya merupakan ‘surga’ bagi turis, baik lokal maupun mancanegara.

Melihat potensi pariwisata kita, pemerintah lewat Kemenparekraf tetapkan lima Destinasi Super Prioritas (DSP) untuk dikembangkan dan dijadikan fokus yang makin promosikan wonderful Indonesia di kancah dunia internasional dan diharapkan usai pagebluk Covid-19 memberikan output dan outcome bagi kesejahteraan masyarakat lokal.

Jika Candi Borobudur diakselerasi dengan kekuatan storynomics tourism, dimana pendekatan pariwisata mengedepankan narasi, konten kreatif, living culture, dan menggunakan kekuatan budaya sebagai DNA destinasi, artinya Candi Borobudur sebelum pandemi mencatat 4,39 juta pengunjung di tahun 2019 dikemas keindahan pesonanya dalam sebuah cerita menarik sebagai warisan dunia yang akan tak terlupakan oleh wisatawan asing maupun lokal.

Maka, DSP Mandalika dikemas sedemikian rupa agar keindahan dan keunikan alamnya dapat disatukan dengan konsep ‘sportainment’ seperti saya sebutkan diatas.

Ya, KEK Mandalika terletak di bagian Selatan Pulau Lombok dengan luas area 1.035,67 Ha dan menghadap Samudera Hindia, memiliki potensi wisata yang menawarkan wisata bahari dengan pesona pantai dan bawah laut yang memukau, sehingga konsep pengembangan pariwisatanya berwawasan lingkungan dengan membangun obyek-obyek dan daya tarik wisata yang selalu berorientasi pada kelestarian dan kualitas lingkungan hidup yang ada di tengah masyarakat sekitar.

Selain sirkuit yang dibangun di sebuah pulau yang dikelilingi lautan, keunikan Mandalika-Lombok lainnya sebagai wonderful Indonesia, tentunya beberapa pantai terbaik dengan keindahan memanjakan mata dan membuat jiwa kita tenang, seperti Pantai Kuta Mandalika, dengan ciri khas lautan biru, juga perbukitan hijau plus hamparan pasir putih nan lembut membuat saya penasaran untuk berlibur kesana tentunya.

Belum lagi gugusan terumbu karang dengan hempasan ombak laut yang besar, plus dikelilingi pohon rindang dan beberapa gazebo yang dapat dimanfaatkan para pengunjung untuk beristirahat atau berteduh dari paparan sinar matahari yang terik di siang hari, begitu juga dengan pantai-pantai lainnya seperti Tanjung Bango, Selong Belanak, Kepulauan Gili, dan banyak lagi yang membuat saya selalu berpikir wisata di Indonesia Aja.

Juga tersedia wisata alam yang tak kalah menarik untuk dikunjungi di DSP Mandalika, seperti Gunung Rinjani. Ya, gunung berapi kedua tertinggi di Indonesia ini merupakan destinasi wajib yang harus didaki, jika Anda seorang pendaki gunung. Belum lengkap rasanya gelar ‘pendaki gunung’ apabila belum mendaki gunung dengan ketinggian 3.726 mdpl dan terletak di Utara Pulau Lombok ini.

Berkat Pengorbanan Puteri Mandalika

Selain Gunung Rinjani dengan luas 76.000 hektar, juga masih banyak obyek wisata alam seperti Bukit Merese, Tetebatu, Air Terjun Sendang Gile, Desa Bilok Petung, Hutan Monyet Pusuk, dan masih banyak lagi yang tentunya bikin kita penasaran.

Apalagi konon katanya, masyarakat lokal di Mandalika sangatlah ramah, sangat menghargai pendatang dan tidak mau mengecewakan mereka.

Itu terbukti dari cerita rakyat yang sangat melegenda dan menggambarkan budaya dan kearifan lokal terbangun dengan baik sejak dahulu kala.

Ya, cerita Putri Mandalika terlahir berparas cantik dan memiliki kepribadian baik, sopan, bahasanya lembut dan ramah kepada semua orang. Karena paras cantiknya membuat para pangeran dari berbagai kerajaan, juga para pemuda yang melihat kecantikannya pasti terpikat dan berniat mempersunting Putri Mandalika.

Saking banyaknya yang melamar sang puteri, membuat Raja Tonjeng Beru pusing dan menyerahkan keputusan kepada Putri Mandalika itu sendiri.

Sang putri meminta waktu untuk bersemedi dan hasilnya? Putri Mandalika mengundang semua pangeran dan pemuda yang melamarnya untuk berkumpul di tanggal ke 20 bulan ke 10 pada penanggalan sasak di Pantai Seger atau dikenal Pantai Kuta Lombok pada waktu pagi buta sebelum adzan subuh berkumandang.

Tapi yang tidak diduga-duga dilakukan Putri Mandalika. Dia naik ke atas bukit Seger dan mengucapkan janjinya bahwa dia hanya ingin melihat kedamaian dan ketentraman di Pulau Lombok tanpa adanya perpecahan apalagi peperangan akibat dia menerima satu lamaran.

Akhirnya demi kedamaian yang dia maksud, maka Putri Mandalika menceburkan dirinya ke laut dan seketika hanyut ditelan ombak besar. Walau seketika banyak rakyat loncat menyelamatkan nyawa putri, namun putri hilang tanpa bekas dan dari dalam laut muncul cacing panjang yang diberi nama nyale dan dipercaya adalah jelmaan Putri Mandalika.

Hingga sekarang ada tradisi upacara adat Nyale di Lombok dan diselenggarakan sekali setahun pada akhir bulan Februari – Maret. Tempat wisata yang tak kalah menarik untuk dikunjungi tentunya Desa Sade, ya desa di daerah Rembitan, Kecamatan Puju, Lombok Tengah ini masih memegang tradisi leluhur tanpa terkontaminasi dengan modernisasi.

Tempat tinggal Suku Sasak ini masih hidup dengan tradisi turun-temurun, diantaranya membangun rumah tahan gempa, berdinding anyaman bambu, beratap alang-alang kering, dan lantainya dibuat dari campuran tanah liat dengan sekam padi, terbukti tahan gempa yang membuat wisatawan penasaran bukan?

Belum lagi hasil tenunan para penenun Desa Sade yang kualitas dan namanya sudah mendunia dengan nama Tenun Sasak, dipajang di sepanjang jalan dan tentunya belum sah rasanya jikalau belum membeli produk-produk asli dari tangan-tangan kreatif penduduk Suku Sasak ini.

Tips Berdayakan Masyarakat Lokal Sukseskan DSP Mandalika

“Kami memperkuat identitas resmi komunikasi dengan serangkaian warna-warna yang segar. Logo Mandalika GP Series menggunakan warna tropis yang menunjukkan kegembiraan baru dari olahraga balap melalui warna yang mewakili daya pikat yang hidup di wilayah Indonesia.

Sementara Logo Mandalika Experiences menggunakan warna segar guna memperkuat image Mandalika Experiences sebagai sumber hiburan," terang Direktur Utama MGPA Ricky F.

Baheramsjah menjelaskan bagaimana DSP Mandalika akan menjadi Wonderful Indonesia bagi dunia internasional yang siap untuk dikunjungi.

Ya, selain kesiapan infrastruktur dan eksotisme alam yang siap untuk dikunjungi, tentunya faktor utama yang membuat wisatawan asing maupun lokal betah di Mandalika-Lombok tentunya keterbukaan masyarakat lokal untuk menerima mereka dengan senyuman sumringah, keramah-tamahan mereka dan juga tentunya pelayanan dan sarana yang dapat membuat pengunjung nyaman dan aman bukan?

Tipsnya tentunya edukasi, dimana masyarakat sekitar diberikan pendidikan dan pelatihan bagaimana menjamu para wisatawan dengan baik dan ramah.

Pelatihan Hospitality, bahkan pelatihan bagaimana menghadapi tamu-tamu asing yang akan menonton MotoGP maupun acara-acara besar olahraga lainnya harus diterapkan sehingga masyarakat mampu memikat hati wisatawan dan bisa berkomunikasi dengan baik.

Pelatihan Bahasa Inggris sebagai bahasa Internasional juga perlu dibekali sehingga masyarakat sekitar Mandalika mampu menjual jasa maupun produk UMKM mereka kepada wisatawan asing, plus bisa menjadi guide mereka ketika jalan-jalan disekitar DSP Mandalika-Lombok, sehingga slogan berwisata di Indonesia Aja benar-benar terwujud.

Agar tidak terulang lagi kejadian pembukaan kargo motor milik Ducati Ilegal di Mandalika, maka pihak penyelenggara perlu bekerjasama dengan TNI dan Polri untuk siaga 24 jam dan juga menyiapkan command center sebagai pusat pengendalian keamanan saat event akan berlangsung di DSP Mandalika.

Yang paling penting tentunya pemberdayaan masyarakat untuk sama-sama membenahi kebersihan, keamanan, higienitas, dan kelestarian lingkungan di sekitar lokasi desa wisata.

Sebab, pemerintah telah bekerja keras untuk mendukung DSP Mandalika sebagai Wonderful Indonesia dengan membangun 915 unit rumah melalui Program Sarana Hunian Pariwisata (Sarhunta) senilai Rp 62,22 miliar menjadi lebih layak huni dan sehat sekaligus mendukung pemulihan pariwisata sehingga dampaknya juga bisa meningkatkan kesejahteraan masyarakat.

Program yang dilaksanakan sejak tahun lalu ini telah membangun sebanyak 817 unit di Kabupaten Lombok Tengah, di sepanjang koridor masuk kawasan Mandalika sebanyak 517 unit, dan 300 unit rumah singgah atau homestay serta bangunan untuk usaha lain guna mendukung pariwisata. Sisa 98 unit dibangun di Lombok Utara. Tak lupa agar dibangun fasilitas ATM terdekat, toilet yang bersih dan layak untuk wisatawan, dan tentunya Pos Kesehatan Desa sebagai fasilitas kesehatan.

Akhirnya, semoga segala event yang akan dilaksanakan di DSP Mandalika berlangsung dengan baik sehingga wisatawan betah di Indonesia Aja...

DSP Mandalika, Polesan Eksotisme Alam Berpadu Sportainment Siap Sambut Wisatawan Dunia

Sumber Utama : https://seword.com/umum/dsp-mandalika-polesan-eksotisme-alam-berpadu-YHDQNVmHmt

Wah, Ganjar Pranowo Salah, Tidak Sambut Puan Maharani

Kasihan sekali Gubernur Jawa Tengah Ganjar Pranowo yang semakin mendekati tahun politik, kok seperti mengalami banyak benturan. Minggu (6/2/2022) pagi, beliau mengalami kecelakaan ringan saat melakukan aktivitas rutin mengunjungi warga sambil naik sepeda,

Kecelakaan terjadi saat Ganjar meninjau lokasi bekas kebakaran relokasi Pasar Johar Semarang. Sepedanya bersenggolan dengan sepeda temannya mengakibatkan Ganjar terjatuh. Kader PDIP itu mengalami cedera di bagian tangan kanan dan harus dioperasi.

Maka saat ini Ganjar tampil ke publik dengan tangan kanan ditopang kain pembungkus. Kondisi seperti itu tidak menghalanginya mendatangi Desa Wadas Purworejo yang baru saja bergolak soal recana pembebasan lahan untuk dijadikan bendungan.

Diberitakan bahwa Selasa (8/2/2022), ratusan aparat dengan senjata lengkap mendatangi Desa Wadas. Tujuan mereka untuk mengawal pihak BPN yang hedak melakukan pengukuran lahan warga yang sudah setuju melepaskan haknya demi dibangunnya bendungan.

Konflik terjadi karena belum semua warga setuju melepas lahannya. Maka diduga warga yang tidak setuju ini memprovokasi sehingga terjadi bentrokan. Patut diduga ada banyak juga oknum atau pihak yang sedang memancing di air keruh sehingga insiden ini terjadi. Di video tampak terjadi konsentrasi massa, dan sejumlah warga ditangkap aparat.

Dalam situasi yang masih memanas, dan lengan kanan masih berbalut kain penopang, Ganjar selaku pimpinan daerah datang ke lokasi. Bahkan katanya dia sampai meminta maaf terhadap masyarakat setempat atas terjadinya peristiwa tersebut.

Malangnya Ganjar, banyak pihak yang terkesan hendak memojokkan dirinya dalam tragedi itu. Bisa dimengerti, ini tahun politik. Dan Ganjar menurut survei, memiliki elektabilitas yang tinggi sebagai calon presiden. Dia hanya terpaut jarak yang tipis dari Prabowo Subianto di peringkat atas.

Maka wajar jika ada banyak pihak yang memiliki "kepentingan" dengan masalah-masalah yang membelit Ganjar. Tegasnya, banyak pihak yang ingin Ganjar tersandung kasus-kasus serius sehingga membuat nama dan elektabilitasnya jatuh.

Tapi yang juga tidak dapat diabaikan adalah jika kasus-kasus yang sedang berkaitan dengan Ganjar ini dicoba giring oleh pihak-pihak tertentu untuk mendiskreditkan pemerintah Jokowi, yang merupakan sesama kader PDIP dengan Ganjar.

Insiden ini semestinya tidak terjadi, sebab menyangkut rencana pembangungan bendungan, supaya masyarakat petani bisa panen minimal tiga kali dalam setahun. Proyek semacam ini untuk kepentingan semua warga, bermanfaat dalam waktu yang sangat panjang, dari generasi ke generasi.

Lahan yang dibebaskan bukan untuk bikin mal atau pusat bisnis yang biasanya cuma menguntungkan pemilik modal.

Jadi semoga semua warga yang masih kontra bisa berpikir jernih, jauh ke depan. Jangan sampai terhasut oleh oknum-oknum yang memang ingin terjadi kekacauan dan keonaran di negeri ini.

Ketika sosok dan nama Ganjar ramai disebut-sebut dalam peristiwa yang sudah mulai kondusif ini, mencuat pula berita tentang dirinya yang tidak hadir pada acara Puan Maharani. Ketua DPR RI ini datang di Klaten, Jawa Tengah, untuk meresmikan Jembatan Gantung Girpasang di Kelurahan Tegalmulyo, Kabupaten Klaten, Kamis, 20 Januari 2022 lalu.

Dalam acara peresmian jembatan sepanjang 120 meter dengan lebar 1,8 meter itu, putri Megawati Soekarnoputri itu didampingi Bupati Klaten Sri Mulyani dan Direktur Pembangunan Jembatan Kementerian PUPR Yudha Handita.

Sayangnya, Ganjar Pranowo selaku gubernur Jawa Tengah tidak tampak saat acara peresmian jembatan gantung itu. Fungsi jembatan itu memang vital, sebab menghubungkan dua dusun yang dulu terisolir, sulit diakses.

Dan menurut penulis, ketidakhadiran Ganjar Pranowo di acara itu sebuah kesalahan. Apalagi katanya, Ganjar mendapatkan undangan untuk menghadiri acara tersebut.

Ganjar tidak hadir karena sudah berada di Jakarta untuk menghadiri undangan Sekretariat Presiden untuk acara koordinasi penanganan COVID-19 di Istana Negara bersama Presiden Joko Widodo.

Ganjar Pranowo juga tidak hadir saat Puan Maharani meresmikan bangunan baru Pasar Legi Solo, Kamis, 20 Januari 2022.

Ketidakhadiran Ganjar di acara Puan ini menjadi perbincangan justru karena Puan Maharani sendiri melontarkan kekesalannya saat rapat koordinasi tiga pilar PDIP di Manado, Sulawesi Utara, Rabu, 9 Februari 2022.

Puan merasa kesal "karena ada gubernur yang tak mau menyambut dirinya saat kunjungan kerja ke daerahnya si gubernur". Lanjut Puan, gubernur tersebut tidak bangga terhadapnya yang merupakan Ketua DPR. Dugaan pun langsung mengarah ke Ganjar Pranowo sebagai gubernur yang dimaksudkan.

Antara Ganjar dengan Puan memang sedang terjadi semacam "konflik". Hal itu ditengarai menyangkut persaingan politik untuk 2024. Ganjar selaku kader PDIP memiliki tingkat elektabiltas yang menjamin bahwa partainya bisa kembali menempatkan kadernya di Istana.

Tapi jalan tidak mulus bagi Ganjar, sebab sampai kini partainya tidak memperlihatkan isyarat untuk mencalonkan dirinya. Sebaliknya justru Puan yang seperti hendak diusung, entah sebagai cawapres untuk Prabowo, atau apalah. Yang pasti Ganjar tidak disebut-sebut.

Maka ada kesan bahwa antara Puan dan Ganjar sedang terjadi perang dingin. Hal ini mulai terendus ketika tahun lalu Ganjar selaku gubernur dan sesama kader partai tidak diundang saat PDIP mengadakan acara di Semarang yang diikuti Puan Maharani. Terdengar pula sindiran tentang gubernur yang hanya giat di medsos, bukan ke lapangan, dsb.

Wajar saja apabila misalnya Ganjar merasa tersinggung dan kesal terhadap Puan, hingga tidak datang memenuhi undangan saat berada di Klaten dan Solo. Padahal sebenarnya undangan menghadari acara Puan ini sebuah isyarat yang baik untuk Ganjar.

Benar bahwa Puan diisukan sedang dipersiapkan untuk 2024. Indikasinya balihonya bertebaran di mana-mana. Tapi adalah fakta penting bahwa partai belum menyatakan secara resmi siapa yang akan diusung. Sebab keputusan mutlak ada pada ketua umum yang adalah ibunda Puan Maharani.

Elektablitas Ganjar yang cenderung meroket, dan posisi Puan yang tidak beranjak, pasti tidak akan diabaikan oleh partai. Jika Ganjar masih ingin mendapatkan "perhatian", dia harus berbaikan dengan Puan yang tidak sekadar "saingan". Puan itu bisa menentukan nasib Ganjar dalam konteks 2024 ini, sebab dia putri ketua umum.

Maka ketika Ganjar tidak memenuhi undangan Puan, yang menurut hemat penulis sebuah isyarat bagus, itu suatu kesalahan.

Wah, Ganjar Pranowo Salah, Tidak Sambut Puan Maharani

Sumber Utama :  https://seword.com/politik/wah-ganjar-pranowo-salah-tidak-sambut-puan-x8j0lVVcQe

Siap-siap Formule E! Gabener Bakal Akan Divonis! Tancappp! Tenggelamkan Pemboros Anggaran

Tidak kebayang pusingnya jika saja Sandiaga Uno masih menjabat sebagai wakil gubernur DKI saat ini. Dan tentu saja banyak rugi yang didapatkannya, namanya pun akan semakin bobrok berada di samping Anies. Itulah kenapa dulu pernah saya menulis tentang keputusan Sandiaga Uno pindah mendampingi Prabowo meskipun diduga saat itu harus mengeluarkan kocek yang sangat fantastis banyaknya.

Analisa yang saya utarakan beberapa tahun lalu itu karena Sandiaga tahu betul siapa Anies, tahu betul Anies hanya bisa ngomong dan tidak bisa kerja, maka dengan adanya ajang pilpres dan kesempatan maju mendampingi Prabowo, maka itu adalah bagian dari prosesnya membuang sial, sebab bersama Anies, hanya akan mengalami sial dan ruginya banyak, mungkin Sandiaga sadar bahwa kemenangan yang diraihnya waktu pilkada DKI 2017 adalah kemenangan paling sadis dan biadab, sebab ayat dan mayat menjadi bahan jualannya, maka dikhawatirkan akan terjadi kutukan yang sangat lama, bahkan bisa sampai tujuh turunan atau lebih malah, bisa jadi kan?

Sandiaga pun tahu betul bahwa gerombolan yang bergabung menggulingkan Ahok adalah gerombolan yang akan mendapatkan sial, karena memang orang-orang yang jualan agama demi mendapatkan kekuasaan pada dasarnya akan rugi, adapun kemenangan yang didapatkannya hanya bersifat sementara. Coba perhatikan saja dalam sepanjang sejarah orang-orang yang jualan agama, adakah mereka abadi keberuntungannya? Justru jualan agama itu efeknya adalah kegaduhan dan perpecahan, jadi wajar saja kalau para kadrun itu terus mendapatkan perlawanan karena mereka-lah yang memulai kegaduhan itu, makanya para kadrun akan sial terus hidupnya.

Jadi ketika Sandiaga diajak oleh Jokowi masuk ke dalam kabinetnya, itu adalah keberuntungan dan sekaligus tantangan untuk berprestasi, meskipun saat ini mungkin belum terlihat sepak terjang Sandiaga selama menjabat menteri, setidaknya dia telah happy dan menikmati jabatan menteri ini, tidak banyak hal yang membuatnya ruwet meskipun memang banyak hal yang bisa dikreatifkan.

Sandiaga sudah memamerkan Mandalika, balapan motor paling bergengsi di dunia dan ada di Indonesia, dan beberapa pembalap pun sudah datang menikmati alam Indonesia, terlihat beberapa pembalap memamerkan foto-fotonya dengan sangat antusias dengan latar pemandangan yang sangat indah, promosi gratis tempat wisata Indonesia menggelegar di seluruh dunia, jika covid sudah tidak ada lagi atau sudah dicabut semua aturannya, Indonesia bakal paling ramai dan dikunjungi banyak turis dari luar negeri, yakin deh. Jadi semoga Pak Luhur bisa memahami ini ya.

Bahkan Sandiaga sudah pamer dirinya sedang di atas motor Ducati Desmosedici GP21, wow sesuatu banget kan? Ngak mungkin ia mau pamer formule-E yang saat ini memang lagi error di Ancol, iya kan? Atau bahkan ada yang bilang FormuleEudannn...

Ahh...Sandiaga memang beruntung. Coba kalau masih jadi wakil Gubernur mendampingi Anies, bakal bingung juga mau jawab apa soal Formule-E ini, dan tidak mungkin Sandiaga akan mengeluarkan duitnya untuk proyek yang tidak jelas untuknya kan? Malahan kalau misalnya Sandiaga masih jadi wakil dan ia mengeluarkan dana untuk memastikan Formule-E terwujud, malah akan diklaim sebagai kinerja Anies, dan yang dapat nama cuma Anies kan? Artinya, Sandiaga tahu bahwa Anies ini licik, jadi itulah kenapa ia cepat-cepat memilih angkat kaki dari kursi wakil Gubernur.

Anies terlalu berambisi ingin melampui prestasi Jokowi. Padahal kalau dari awal Anies membuat gebrakan atau tidak hanya mengandalkan kata-kata saja, atau meneruskan saja semua program Ahok, maka bisa jadi formule-E itu terwujud, tapi karena kata-kata Anies hanyalah kata-kata, maka karena itulah kena juga batunya, Formule-E yang diandalkan akhirnya hanya jadi kata-kata belaka saja.

Waktu yang sudah mepet tidak mungkin akan bisa terwujud pembangunan sirkuit itu, karena bagaimana pun bagusnya kata-kata yang Anies rangkai, sirkuit itu tak bisa terwujud dalam waktu dekat. Proyek pembuatan sirkuit itu ada prosesnya, tidak semulus kata-kata yang keluar dari mulut yang muncrat-muncrat.

Ketika Jakpro mengumumkan PT Jaya Kontruksi Manggala Pratama sebagai perusahaan yang mengerjakan sirkuit formule-E ini, ternyata disinyalir ada yang aneh, atau ada yang kurang pas. Dan sebagaimana yang disampaikan oleh Gilbert Simanjuntak, anggota DPRD DKI Jakarta Fraksi PDIP bahwa “Ini pemenangnya agak membingungkan juga, karena saham DKI juga ada di sana Pembangunan Jaya, dan lokasi atau venue di Ancol yang punya DKI, dan Jakpro sudah keluar Rp 70 miliar, APBD sudah keluar lebih dari Rp 560 miliar,”

“Sebenarnya yang biayai Formula E ini rakyat DKI. Panitia pelaksana tidak terlihat mengeluarkan biaya apa, tapi kalau bicara terlalu sesumbar, dari Jaya Konstruksi sebagai pemenang tender juga aneh, mereka biayai sendiri atau pemprov lewat csr atau gabungan keuntungan BUMD diam-diam dialokasikan ke Formula E? Banyak sekali pertanyaan karena ini jelas tidak rasionil kalau kesannya JaKon seakan sinterklas,”

"Kualitas trek juga jadi pertanyaan. Ini sangat memalukan sikap Gubernur. Sewaktu launching di Monas, senyum terlalu sumringah, juga saat menaiki mobil. Setelah itu sekalipun tidak mau menjelaskan ke publik, tidak bertanggungjawab,” Jadi Anies disebut memalukan. Memang sangat memalukan. Bergaya mau buat event besar tapi cuma congornya saja yang besar, makanya sulit terwujud.

Peradilan siap memproses kasus ini, banyak kejanggalan pada proyek bau kentut ini. Dan proyek ini adalah proyek yang ambisius namun melupakan program utama yang seharusnya didahulukan. Maka karena itulah Anies memang Gabener, dari awal saat hendak merebut kursi Gubernur dari tangan Ahok, itu sudah Gabener, karena itulah sekarang semuanya jadi Gabener. Gubernurnya jadi Gabener, program janji-janjinya saat kampanye juga Gabener, karya-karyanya juga Gabener, sumur resapan Gabener, parkir air Gabener, kelebihan bayar juga Gabener, dan soal anggaran sudah pasti Gabener, jangan-jangan wajahnya juga sudah Gabener? Waduh.

Nah, pada tanggal 8 Februari lalu, Ketua DPRD DKI Jakarta Prasetio Edi Marsudi datang ke KPK untuk masalah Formula E ini. Kata Prasetio “Pagi ini saya datang ke Gedung Merah Putih, Kuningan, Jakarta Selatan untuk memberikan keterangan kepada Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) terkait kasus penyelenggaraan Formula E,” Prasetio membawa sejumlah dokumen anggaran Formula E ke KPK, baik yang tercantum dalam KUA-PPAS, RAPBD sampai APBD 2019. Nantinya, seluruh dokumen diserahkan ke KPK, sehingga dengan dokumen itu bisa membantu KPK selama proses penyelidikan. Mmmhhh.... semoga tuntas ya? Atau sudah ada berita terbaru bahwa sudah si Gabener sudah masuk ruang sidang? Kabarin ya kalau sudah berjalan.

Sepandai-pandainya tupai meloncat akhirnya jatuh juga, selicik-liciknya Gabener lobi-lobi dan bermain kata-kata akhirnya divonis juga, semoga ya.
Siap-siap Formule E! Gabener Bakal Akan Divonis! Tancappp! Tenggelamkan Pemboros Anggaran

86 % Puas sebagai Gubernur, Kenapa Hanya 34,8 % yang Pilih Anies Jadi Presiden?

Menyisakan kurang-lebih 14 persen saja warga DKI yang tidak puas dengan kinerjanya, jelas itu 'sesuatu banget' bagi sang Gubernur DKI Jakarta, Anies Baswedan. Asli. Dasarnya adalah hasil survei Populi Center yang menunjukkan bahwa sebanyak 86 persen responden puas dengan kepemimpinan mantan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan itu.

Ah, Bang Anies… Seng ngada lawan…..

Namun dari lembaga survei yang sama menyajikan hasil lain yang terasa cukup aneh. Populi Center menemukan bahwa dalam simulasi 10 tokoh calon presiden, Anies hanya memiliki elektabilitas sebesar 34,8 persen, walaupun berada di urutan paling atas. Urutan kedua adalah Gubernur Jawa Tengah, Ganjar Pranowo, dengan elektabilitas sebesar 18,2 persen. Sementara menjadi yang terendah adalah Ketua DPR RI, Puan Maharani, dengan elektabilitas 0,5 persen saja.

Ketika kemudian disimulasikan dalam dua nama saja, Anies tetap mampu unggul dari lawannya, Ganjar. Elektabilitas Anies mencapai 59,8 persen, sementara Ganjar hanya 33,3 persen.

Hmmm…, seperti disinggung di atas, bahwa hasil elektabilitas Anies sebagai capres yang dipilih oleh warganya sendiri saat ini memang cukup terasa aneh. Betul, dengan tingkat kepuasan yang setinggi 86 persen, masa iya hanya punya elektabilitas 34,8 persen saja? Bahkan maksimalnya hanya 59,8 persen saja?

59,8 persen jelas bukan angka yang kecil. Tapi coba ingat pada Pilgub 2017 lalu, yang mana saat itu pasangan Anies-Sandi menang dengan persentase 57,96 persen suara. Itu artinya, secara sederhana dalam waktu empat tahun, ternyata Anies gagal menggaet pemilih baru. Peningkatan yang hanya berkisar 2 persen tentu tidak bisa dikatakan sebagai sebuah keberhasilan bagi seorang gubernur ibukota, yang dengan fasilitas dan kesempatan yang begitu besar, dan dengan sorotan nasional yang selalu tertuju padanya.

Bisa diartikan juga bahwa yang pilih Anies saat ini adalah mayoritas pemilih Anies dulu, dan jangan-jangan dengan alasan ewuh-pakewuh saja. Sudah jelas sebagai warga Jakarta pasti ya pilih Anies. Masa iya malah pilih Irwandi Yusuf atau Lukas Enembe???... Eh maaf, keduanya sudah lebih dulu dicokok KPK ya?... Sekali lagi, maaf…….

Sementara angka yang 34,8 persen tadi, semakin menunjukkan bahwa Anies bukanlah nama yang mendominasi. Terlalu kecil ketika warganya sendiri, yang tingkat kepuasannya 86 persen, hanya sepertiga lebih sedikit yang percaya bahwa dia bisa menjadi presiden nantinya.

Dari Populi Center sendiri, dapat diketahui kira-kira kenapa Anies hanya mendapat angka elektabilitas sebesar itu? Kenapa terkesan bahwa mereka tidak terlalu yakin kepada Anies?

Ternyata mayoritas warga Jakarta tidak mengetahui prestasi Anies. Sebanyak 33,5 persen responden mengaku tidak mengetahui apa saja prestasi Anies.

Hal tersebut tentu sangat mengecewakan bagi Anies dan pendukungnya. Itu jelas. Sebab melihat bagaimana mereka memberi sebutan untuk Anies seperti "gubernur rasa presiden" atau "gubernur Indonesia", ketika ternyata kemampuannya tidak diyakini dan prestasinya tidak diketahui, jelas menjadi sebuah tamparan bolak-balik yang sangat keras dan begitu menyakitkan.

Bukannya apa, setelah begitu rajinnya foto-foto, yutub-an, pamer penghargaan, dan dengan berita-berita yang terus-menerus menyorotnya, ternyata seperti tidak memberi dampak yang signifikan. Tidak banyak sentimen positif yang didapatnya.

Nah…

Seharusnya tidak perlu heran dengan pencapaian elektabilitas Anies yang seperti itu. Tidak perlu bertanya-tanya kenapa nasib Anies ternyata sebegitunya. Kenyataan ini sedikit memberikan kejelasan

Sejauh ini partai politik sebagai yang paling berhak mencalonkan presiden dan wakil presiden, belum ada yang serius dengan Anies. Memang ada PPP, PAN, PKS, dan Nasdem, tapi tampaknya mereka hanya emosional saja. Belum berdasarkan pada pertimbangan yang realistis.

Justru yang realistis adalah apa yang dilakukan oleh partai-partai besar semacam Gerindra, Golkar, atau PDIP. Begini, kalau memang Anies itu meyakinkan, tentu dengan segera partai-partai besar itu akan segera tebar pesona ke Anies. Tentu partai-partai besar tersebut akan dengan segera berusaha menggaet Anies secepat mungkin, kalau memang Anies sedemikian meyakinkannya.

Tapi lihatlah, yang mendekat ke Anies hanya partai kecil dan medioker yang pada sejarahnya hanya ngikut-ngikut saja karena tidak punya posisi tawar yang kuat. Bahkan sepertinya mereka melakukan hal tersebut demi tujuan menyelamatkan dirinya sendiri, berharap dapat efek suara dari para pendukung Anies.

Parah...

86 % Puas sebagai Gubernur, Kenapa Hanya 34,8 % yang Pilih Anies Jadi Presiden?

Sumber Utama : https://seword.com/politik/86-puas-sebagai-gubernur-kenapa-hanya-348-P9eCPjEsbC

Pak Ganjar, Hati-Hati dengan Kasus Wadas dan Ngambeknya Nyonya Besar PDI Perjuangan

Ganjar Pranowo sedang diuji bagaimana merespons beberapa peristiwa yang terjadi secara beruntun dan berpotensi mempengaruhi citra dan elektabilitasnya sebagai sosok yang dekat dengan rakyat dan calon potensial pada Pilpres 2024 nanti.

Peristiwa di Wadas yang menuai banyak kritikan karena diyakini ada pengerahan aparat hingga penangkapan warga setempat, tidak bisa selesai hanya dengan sekali kunjungan ke daerah yang masuk wilayah administratif Purworejo, Jawa Tengah itu. Nama Ganjar tak hanya tercoreng, tapi para lawan politiknya tentu bersorak dengan tersandungnya Gubernur Jawa Tengah itu dengan kasus di Wadas.

Masalah lain yang tak kalah peliknya adalah sindiran Puan Maharani, sang Nyonya Besar PDI Perjuangan sekaligus Ketua DPR RI (sudah pada tahu tanpa harus melihat baliho Kepak Sayap Kebhinnekaan, bukan) yang belum lama ini tersinggung karena ada kepala daerah yang tidak menyambut kedatangan di Dapil yang memenangkan Puan pada Pileg 2019 lalu.

Meski Puan tidak menyebut nama daerah dan sosok Gubernur yang dianggap nyuekin dirinya, FX Rudy selaku Ketua DPC PDI Perjuangan memberi klarifikasi dengan meyakini bahwa sosok yang dimaksud adalah Ganjar Pranowo, yang berada di Jakarta saat Mbak Puan berada di kawasan Pasar Legi, Solo.

Eks Wali Kota Surakarta itu menjelaskan bahwa Ganjar tidak dihubungi oleh pihak Mbak Puan, atau terkesan agak mepet waktunya. Apalagi waktu bersamaan Ganjar harus mengikuti acara di Jakarta sehingga tidak bisa hadir mendampingi atau menyambut Mbak Puan di Solo.

Dua masalah tadi tentu membuat Pak Ganjar kudu berhati-hati karena penjelasan saja tanpa disertai permintaan maaf dan kesungguhan dalam menuntaskan masalah di Wadas, tidak hanya dapat meruntuhkan kepercayaan warga sekitar tetapi dapat berimbas pada naiknya apatisme dan ketidaksukaan kepada Ganjar. Belum lagi kasus Wadas ini, juga beberapa kasus lain di Jawa Tengah, yang pastinya akan disimpan baik-baik oleh lawan politiknya ... yang nantinya akan dikeluarkan pada waktu yang tepat.

Ah, Pak Ganjar ... terjal sekali lintasan politik Anda hari-hari ini, sehingga memikirkan dan merasakan sakit pada tangan yang baru saja dioperasi pun rasanya tak sempat lagi. You must do something, tapi tetap kudu berhati-hati dan pakai hikmat!


Menarik sekali menantikan reaksi Ganjar Pranowo selama satu minggu ke depan, apakah dua masalah tadi akan menjadi batu sandungan yang membuat Ganjar Pranowo terjatuh tanpa bisa berdiri dan berlari kencang menatap 2024 lagi, atau sebaliknya menjadi batu loncatan yang dapat menjadi momentum untuk melompat lebih tinggi di kancah perpolitikan nasional.

Prediksi saya, lawan politik masih akan menggoreng berita Wadas dan ngambeknya Mbak Puan ini untuk menyerang Ganjar Pranowo dari berbagai sisi. Pihak internal PDI Perjuangan juga akan bergolak karena kalau benar yang dimaksud Mbak Puan adalah Jateng-1 maka citra Ganjar akan turun di kalangan internal partai berlambang banteng moncong putih itu.

Kelompok pendukung di barisan Bambang Pacul juga rasanya akan mengambil manfaat dari kasus Wadas dan ngambeknya Mbak Puan untuk memperkuat posisi tawar jika nantinya PDI Perjuangan harus memilih satu saja di antara Ganjar atau Puan untuk diusung saat Pilpres 2024 nanti.


Pak Ganjar ... hati-hati ya, Pak. Saya masih berharap ada penyelesaian yang bagus, terutama dari kasus Wadas itu. Salah bereaksi akan semakin ambyar citra Pak Ganjar, tak hanya di kawasan Jawa Tengah. Sementara, khusus ngambeknya Mbak Puan sih, mungkin dengan berjalannya waktu akan mereda sendiri kalau Mbak Puan dibaik-baikin, tanpa harus diketahui oleh media atau publik.

Kalau kepepet, kan masih bisa minta tolong Emaknya Mbak Puan buat mendamaikan hubungan mereka, karena bagaimanapun tidak akan bagus efeknya kalau Mbak Puan dan Pak Ganjar berseteru meski secara eksplisit tidak diakui begitu. Curhatnya Mbak Puan saja sudah bisa dianggap sebagai bukti bahwa hubungan mereka tidak sedang baik-baik saja. Ini di luar konteks Mbak Puan yang terkesan baperan lho ya!

Jadi ... ya kita tunggu saja kelanjutan drama ini, baik kasus Wadas maupun ngambeknya Mbak Puan ... atau mungkin ke depan akan ada kasus lain yang lebih heboh, kita belum tahu!

Pak Ganjar, Hati-Hati dengan Kasus Wadas dan Ngambeknya Nyonya Besar PDI Perjuangan

Sumber Utama : https://seword.com/politik/pak-ganjar-hati-hati-dengan-kasus-wadas-dan-2qKeQypCVu

Benny Harman Komentari Polemik Desa Wadas, Disikat Habis Oleh Netizen

Sampai hari ini saya masih belum menulis soal insiden yang terjadi di Desa Wadas, Kabupaten Purworejo. Alasannya, terlalu banyak informasi simpang siur. Jadi saya rada malas menulis soal ini. Ada yang mengipasi dan memprovokasi. Jadi tanpa menambah keruh situasi, saya tak menulis soal ini.

Di sisi lain ada yang menyebut Ganjar dianggap harus bertanggung jawab karena pembangunan bendungan Bener adalah proyek strategis nasional yang harus dikawal betul pelaksanaannya. Sementara itu Wadas adalah wilayah yang strategis karena bahan tambang yang digunakan untuk pembangunan bendungan ada di sana.

Dengan terjadinya keributan yang heboh ini, pembangunan bendungan makin sulit. Jika tidak diselesaikan secepatnya, bisa jadi waktu penyelesaian bakal molor. Bahkan mungkin bisa terjadi pembengkakan biaya pembangunan karena bahan untuk pembangunan bendungan harus dipasok di luar Desa Wadas. Jokowi tentu saja akan kecewa karena ini termasuk bendungan raksasa yang sangat penting. Ganjar dianggap tidak mampu mengantisipasi masalah yang mungkin timbul. Dan dari sekian banyak bendungan yang telah dan sedang dibangun, baru kali ini terjadi konflik yang luar biasa.

Ada yang bilang warga awalnya setuju, tapi kemudian diprovokasi hingga jadi melawan dan terjadi pengerahan aparat dalam jumlah banyak.

Ada yang bilang aparat represif tapi sejurus kemudian muncul video mereka yang ditangkap malah main biliar dan santai-santai.

Kalau disebut ada yang mengompori, saya setuju. Sudah bukan rahasia umum, tiap kali ada tindakan melibatkan warga, sering kali ada penyusupan dari pihak luar untuk berbuat gaduh, entah itu relokasi, penggusuran, ganti untung, atau konflik lainnya.

Ini berawal dari BPN yang meminta polisi untuk mengawal mereka dalam proses pengukuran lahan warga yang telah setuju dilepas. Pengerahan polisi ini dikarenakan BPN mendapat intimidasi dan ancaman-ancaman lainnya.

Saat dilakukan pengukuran, terjadilah keributan dan jadi bahan pemberitaan skala nasional. Muncul sekelompok orang yang mengaku warga desa setempat yang menghalangi, bahkan melempar batu ke arah polisi dan memprovokasi warga. Bahkan ada yang kedapatan membawa senjata tajam. Akhirnya mereka diamankan. Tapi narasi yang berkembang, sangatlah liar dan menjadi terlalu panas.

Saya hanya berharap segera dicari jalan keluarnya. Provokatornya, kalau memang ada, segera dikandangkan saja. Biadab sekali kalau ada otak di balik ini semua. Padahal bendungan ini sangat penting dan bisa memberikan manfaat bagi banyak orang.

Siapa provokatornya? Kurang lebih mereka yang terusik atau tak dapat jatah, atau yang biasa muncul untuk bikin ribut dengan memanfaatkan warga.

Baiklah, saya takkan bahas lagi lebih jauh lagi karena sudah banyak yang memberikan spekulasi dan analisis.

Ini yang mau saya bahas.

Sebelumnya Wakil Ketua Umum DPP Demokrat Benny Kabur Harman mengomentari soal ini. Politikus asal NTT itu dalam cuitan di Twitter menyampaikan bahwa puluhan juta dari pelosok nusantara melihat insiden pengepungan aparat polisi di Wadas, pada Selasa, 8 Februari 2022.

"Puluhan juta mata dari pelosok Nusantara menyaksikan apa yang sedang terjadi dengan penduduk Desa Wadas, Jawa Tengah. Semoga ada jalan dan ada kedamaian di sana.#RakyatMonitor," kata Benny.

Lucunya, cuitan ini malah jadi bumerang senjata makan tuan.

Salah satu netizen mempertanyakan Bupati Purworejo Agus Bastian yang merupakan kader Demokrat ke mana dalam persoalan ini. "Bupati nya kemana ya...? Katanya kader Demokrat ya...?" tulis akun tersebut.

Akun lain meminta Benny agar sebelum mem-framing sesuatu sebaiknya cek validitas video tersebut. Dia menyindir video yang diunggah Benny adalah peristiwa lama. Dia juga menyindir sebaiknya Benny meminta info langsung kepada Bupati yang membawahi Desa Wadas.

"Bupatinya khan kader sama partainya dgn kau juga, kawan di DPR periode kemarin," tulis akun tersebut.

"Itu kan video lama pak. Dan saat ini bupatinya kader Demokrat, coba cek lagi pak," kata netizen lainnya.

Apakah Bupati juga harus ikut tanggung jawab atau tidak, silakan nilai sendiri. Tapi karena Demokrat seakan mau mempermalukan diri sendiri, ya sudah kita lanjutkan saja.

Makanya sebelum membuat cuitan atau komentar, pikirkan dulu baik-baik karena sekali ucapan keluar, tak bisa ditarik lagi. Kalau blunder bisa malu-maluin.

Bagaimana menurut Anda?

Benny Harman Komentari Polemik Desa Wadas, Disikat Habis Oleh Netizen

Sumber Utama : https://seword.com/politik/benny-harman-komentari-polemik-desa-wadas-disikat-B27ritrUxL

Bisa cek juga di TWITTER

Telak Banget, Mayoritas Warga DKI Tak Tahu Prestasi Anies

Anies Baswedan sudah hampir 5 tahun menjabat sebagai Gubernur DKI Jakarta. Bulan Oktober nanti, dia akan turun dari jabatannya karena akan diganti pejabat gubernur yang ditunjuk pemerintah. Anies minimal harus tunggu hingga 2024 kalau masih mau nyagub atau mungkin langsung lompat nyapres.

Dengan masa jabatan yang bakal segera berakhir, tentu saja yang kita tanya-tanya adalah, apa saja yang telah dikerjakan Anies selama ini.

Lembaga survei Populi Center membuat jajak pendapat soal prestasi yang paling berkesan dari beberapa program yang dijalankan Anies.

Hasilnya bikin malu, pasalnya mayoritas responden ternyata tidak tahu prestasi dari Anies selama memimpin Jakarta.

"Pada pertanyaan terbuka, apa prestasi paling berkesan dari Gubernur DKI Jakarta Anies Baswedan dan Wakil Gubernur DKI Jakarta Ahmad Riza Patria, sebesar 33,5 persen masuk kategori tidak tahu/tidak jawab," kata peneliti Populi Center Rafif Pamenang Imawan.

Sementara itu, 8 persen responden menilai Anies belum memiliki prestasi selama beberapa tahun terakhir ini menjabat sebagai Gubernur.

Dari sekian banyak program yang dijalankan Anies, program pengendalian banjir jadi prestasi yang paling banyak dipilih responden, yaitu sebesar 9 persen. KJP Plus 8,8 persen, dan perbaikan trotoar 8 persen. Stadion JIS yang merupakan salah satu kebanggaan Anies hanya dipilih oleh 5,5 persen responden.

Selain itu, Populi Center juga mengadakan jajak pendapat soal Formula E yang banyak polemik. Hasilnya, sebanyak 32 persen responden percaya ada praktik korupsi dalam kasus Formula E. Sedangkan yang menilai tidak ada unsur kasus korupsi dalam Formula E sebesar 22,5 persen.

Tapi ternyata ada 39,7 responden yang tidak tahu soal isu korupsi dalam Formula E. 5,8 persen responden menolak menjawab. 9,5 persen responden meyakini Anies terlibat dugaan korupsi Formula E. Mayoritas warga Jakarta yaitu sebesar 59,8 persen responden percaya orang nomor satu di DKI itu tidak terlibat. Yang sangat tidak percaya ada 5 persen.

Wah, ini sih namanya warga tidak sayang pada gubernurnya. Tak kenal maka tak sayang, tak sayang maka tak mau tahu, tak mau tahu maka tak tahu apa yang dikerjakan Anies selama ini.

Masa sih mereka tidak tahu sumur resapan yang fenomenal yang bikin rusak jalan? Apakah mereka tidak tahu kalau di era Anies pernah dibikin seni bambu yang keren, berbagai macam tugu dll? Masa sih mereka tidak tahu bagaimana Anies dengan cepat menyulap Kali Item yang bau dengan kain waring?

Ini sih hanya perkara kurangnya sosialisasi atas apa yang sudah dikerjakan Anies. Dan juga tidak ada yang dikerjakannya, makanya tidak ada yang bisa disosialisasikan.

Apa yang dikhawatirkan dari seorang pemimpin yang kurang mampu bekerja, ternyata lumayan terbukti. Kalau mau jujur, yang proyek besar hanyalah JIS dan Formula E. Tapi itu semua tidak menyentuh kesejahteraan warga. Hanya buat gagah-gagahan saja. Apalagi Formula E yang banyak masalah.

Kalau saya jadi salah satu responden pun bingung mau jawab apa terkait prestasi Anies. Mau bilang jago ngeles, rasanya kurang sopan. Habisnya mau gimana lagi, memang tidak ada hasil yang signifikan.

Proyek banjir pun banyak yang tak jelas. Sumur resapan bikin malu aja. Naturalisasi sungai tak ada yang tahu nasibnya. Proyek rumah terjangkau juga gagal. Rakyat kecil seolah hanya jadi alat untuk jualan janji manis. Yang berhasil dikerjakan adalah hal yang kebanyakan receh, sehingga warga tidak banyak yang tahu.

Lihat lagi jajak pendapat di atas. Program pengendali banjir, yang diketahui cuma 9 persen saja. Artinya, Anies ngapain aja selama ini hingga banyak warga yang tak tahu apa prestasinya selama hampir 5 tahun belakangan?

Oh iya juga sih. Selama ini, kan, Anies lebih sering menjual kata dan gagasan. Sibuk menjual wacana dan janji yang spektakuler tapi tindakannya tidak sebesar itu. 5 tahun tapi terkesan sia-sia padahal kalau di tangan yang tepat, Jakarta bisa berubah lebih banyak dan cepat, minimal 3 kali lipat dari yang dicapai Anies.

Bagaimana menurut Anda?

Telak Banget, Mayoritas Warga DKI Tak Tahu Prestasi Anies

Sumber Utama : https://seword.com/politik/malu-mayoritas-warga-dki-tak-tahu-prestasi-anies-xVCGUyLX4c

Saat Ridwan Kamil Terheran-Heran dengan Biaya Istana yang IKN Telan 2 T, Kumaha Damang?

Siapa yang tak tahu nama Ridwan Kamil? Gubernur Jawa Barat yang diusung partai Nasdem ini dikenal dengan latar belakang dirinya sebagai arsitek. Lulusan ITB dan kampus luar negeri ini memang kerap berbaur dengan warga lewat media sosialnya. Ridwan Kamil sukses menyabet kursi gubernur lantaran dianggap bisa memperbaiki kota Bandung. Namun, sayangnya popularitas dirinya justru menurun drastis saat jadi kepala daerah. Jauh ketimbang Anies yang notabene asal-asalan dan malah terkesan merusak Jakarta.

Mungkin ini sebabnya Ridwan Kamil kerap bersebarangan dengan pemerintah pusat. Dirinya ingin ikutan populer seperti halnya Anies. Bisa juga karena bosan melihat Ganjar yang selalu sendiko dawuh, tapi elektabilitasnya selalu melejit. Ridwan Kamil akhirnya memutar otak bagaimana mencari panggung mantan pendukung Prabowo dengan cara kontra pemerintah. Di masa dulu, Ridwan Kamil dan Khofifah termasuk gubernur yang menolak RUU Omnibus Law. Ridwan juga terlihat berkawan akrab dengan pentolan ormas ekstrimis, meskipun tak sefrontal Anies.

Kini dirinya lagi-lagi ingin merebut panggung media dengan mengomentari pembangunan istana yang katanya tak masuk akal lantaran menelan biaya 2 T. Padahal dirinya merupakan jebolan arsitek yang harusnya lebih paham soal desain dan biaya pembangunan. Seperti diketahui, sebelumnya I Nyoman Nuarta menyebut hitung-hitungan kasar pembangunan kawasan istana membutuhkan Rp 2 triliun.

Namun, ia menegaskan jumlah pengeluaran yang pasti baru akan diketahui setelah dilakukan Detail Engineering Design (DED) oleh pemenang tender pembangunan IKN. Perkiraan kebutuhan biaya hingga mencapai Rp 2 triliun ini menurut Nyoman karena menggunakan perhitungan biaya untuk membangun hotel bintang lima dengan luasan tertentu.

Kawasan Istana Negara akan berdiri di atas lahan seluas 55 hektar. Padahal semula hanya disediakan lahan seluas 32 hektar. Nantinya, kompleks Istana Negara akan berisi beberapa bangunan seperti kantor presiden, Istana Negara, lapangan upacara, pavilion untuk presiden, gedung wisma negara dan gedung pendukung utilititas.

Sebagai informasi rumah hunian di bukit golf Jakarta ada yang mencapai 1.2 triliun. Beberapa rumah artis dan politisi juga bernilai ratusan mantan presiden, SBY menelan biaya 300 milyar. Rumah Sandiaga Uno, Setnov dan Ardhi Bakrie juga menelan biaya ratusan milyar. Di luar negeri, hunian Justin Bieber menelan biaya setengah triliun. Jadi memang wajar kalau istana negara yang notabene berfungsi sebagai kantor presiden juga menelan biaya lebih mahal.

Melansir dari situs setneg, ada penjelasan detail mengenai kegunaan istana negara.

Disitu disebutkan jika Istana Negara juga berfungsi sebagai pusat kegiatan pemerintahan negara, istana menjadi tempat penyelenggaraan acara-acara yang bersifat kenegaraan, seperti pelantikan pejabat-pejabat tinggi negara, pembukaan musyawarah dan rapat kerja nasional, pembukaan kongres bersifat nasional dan internasional, dan tempat jamuan kenegaraan. Istana ini fungsinya lebih difokuskan kepada kegiatan resmi kepresidenan, yaitu sebagai kantor Presiden Republik Indonesia.

Namun, jika peringatan hari besar kemerdekaan 17 Agustus, Istana Negara ini juga dipakai untuk acara jamuan makan Presiden dan para veteran. Demikian juga jika datang tamu negara, Istana Negara dipakai untuk acara resmi jamuan makan malam kenegaraan, juga untuk tempat acara malam kesenian dengan menampilkan pertunjukan kesenian tradisional Indonesia, dari berbagai daerah, dengan berbagai tema, dekorasi, interior yang bervariasi pula.

Mengaca dari negara tetangga kita, Malaysia, istana negara kuala lumpur justru menelan biaya lebih mahal yakni 2.74 triliun. Mungkin di negara-negara maju biaya yang dipakai bisa jauh lebih besar hingga ratusan triliun. Tentunya ini sejalan jika mengacu dengan fungsi dan kegunaan istana negara itu sendiri. Dengan segala fungsi dan kegunaannya, wajar jika biaya istana negara menelan biaya mahal.

Bisa dibayangkan jika ada kunjungan pimpinan negara lain dan diliput media, tapi bangunannya layaknya rumah Ridwan Kamil, yang ada Indonesia jadi bulan-bulanan seluruh dunia. Mungkin Ridwan Kamil tak pernah melihat kemegahan istana di negara lain. Mungkin juga dirinya sakit hati lantaran tak dilibatkan sebagai arsitektur merangkap gubernur. Kemungkinan terakhir, Ridwan Kamil hanya mencari panggung agar namanya terus berkibar meski harus menuai kontroversi.

Akhirnya kembali lagi pada masyarakat apakah mau termakan opini sesat para politisi demi syahwat pribadi mereka atau percaya pada pemerintah yang terbukti sukses membangun Indonesia. Ridwan Kamil kini telah membuktikan dirinya tak jauh beda dengan kelasnya Musni Umar, si rektor dengan otak kongslet dan kerjaannya hanya menyemburkan kebencian di sosial media. Bagi pendukung Jokowi, tak usah ragu memblacklist manusia semacam Ridwan Kamil yang kini ikut-ikutan jadi kadrun.

Saat Ridwan Kamil Terheran-Heran dengan Biaya Istana yang IKN Telan 2 T, Kumaha Damang?

Sumber Utama : https://seword.com/politik/saat-ridwan-kamil-terheran-heran-dengan-biaya-UMvxLJbvIN

LBP Bertelepon, Kadrun Perlihatkan Mental Kacung

Kadrun selalu punya mainan untuk dicoba goreng menyudutkan pemerintah. Tak melulu kebijakan Presiden Jokowi yang mereka katakan sebagai salah, perilaku orang-orang dekat Jokowi pun mereka cermati. Sambil berharap ada yang dapat dianggap fatal untuk kemudian diolah. Tujuannya apa lagi kalau bukan untuk menjatuhkan pemerintah?

Tapi seperti itulah kadrun yang sejak dulu memang mengincar kekuasaan dengan memanfaatkan agama. Memanfaatkan keluguan dan kepolosan masyarakat yang langsung tertunduk seperti berpasrah diri jika sudah disiram pakai ayat agama. Padahal agama itu untuk kebaikan dan perdamaian, bukan untuk memprovokasi atau mencela supaya terjadi chaos.

Belum lama ini dalam acara kunjungan ke Sumatera Utara, Jokowi seperti biasa didamping oleh LBP yang oleh banyak orang disebut sebagai menteri segala urusan. Lha, kalau Kepala Negara percaya dengan kemampuan seseorang memangnya kenapa? Jika misalnya si Anies Baswedan yang diberi kepercayaan, apa mampu? Dalam setiap acara kunjungan kerja ke daerah, LBP memang selalu tampak dekat dengan Jokowi.

Dalam acara di Sumatera Utara itu, Jokowi tampak sedang berpidato. LBP yang berdiri di belakang Jokowi seperti berbicara menggunakan HP. Foto ini pun tersebar di medsos dan viral. Sebagaimana diperkirakan, foto itu pun menjadi bahan empuk untuk dikomentari dengan cara yang tidak elok.

Komentar-komentar netizen yang nadanya memojokkan dan mengolok-olok pun memenuhi kolom-kolom interaktif. Misalnya ada yang mengecam bahwa LBP tidak punya sopan santun, adab dan etika, kok berani berbicara ketika presiden sedang berpidato.

Tidak sedikit pula yang mengolok-olok bahwa itu menjadi bukti tentang siapa sebenarnya yang berkuasa di negeri ini. Komentar-komentar dari netizen yang kebanyakan bernada kebencian itu mencoba menggiring opini publik untuk semakin membenci LBP, dan mengecilkan Jokowi.

Tapi tentu saja semua komentar dan nyinyiran itu tidak berdasar sama sekali, sebab tujuan kadrun hanya satu: memanfaatkan momen semacam itu untuk menggoreng lagi, mencoba memprovokasi masyarakat agar menilai pemerintah ini dari sisi pandang yang negatif. Dan itulah kadrun, yang mengaku beragama, tetapi perilaku komunis.

Belakangan,pihak Kemenkomarves mengakui bahwa Menkomarves saat itu memang sedang menerima telepon dari Menteri Kesehatan yang melaporkan soal melonjaknya kasus covid-19.

Sampai di sini menjadi jelas betapa sebenarnya tidak ada yang salah dengan peristiwa itu. Yang salah adalah jika yang bersangkutan tampak tertawa-tawa sambil bertelepon, Sementara ketika itu dia sedang membicarakan sesuatu yang sangat urgen dan perlu sesegera mungkin dilaporkan kepada Presiden.

Kadrun yang mencoba menggoreng masalah seperti ini memang sering tidak tahu di mana mereka berpijak, atau di alam mana mereka sedang hidup. Ini era teknologi informasi, era komunikasi tanpa batas. Yang penting kan kita tahu batas-batasnya.

Menggunakan HP ketika pimpinan sedang berbicara tentu saja tidak salah jika situasi dan kondisi memaksa. Apalagi dalam konteks ini, LBP sedang menerima laporan yang sangat penting, yang bila tidak direspons pada saat itu juga bisa berakibat fatal.

Soal telepon ini memang menjadi menarik jika dibandingkan dengan masa lalu, tepatnya tahun 80-an. Ketika internet belum ada, handphone pun belum pernah terlintas dalam benak orang. Alat komunikasi jarak jauh yang paling canggih ketika itu hanyalah telepon atau sering disebut "pesawat telepon".

Pada tahun 80-an itu, penggunaan telepon (pesawat telepon) masih terbatas hanya pada kantor-kantor, dan rumah-rumah orang kaya, atau kalangan menengah atas. Memang ketika itu sudah mulai marak telepon umum, yang dapat digunakan dengan memasukkan koin ke dalam box-nya.

Tetapi sekalipun demikian pada masa itu masih ada anggapan bahwa seseorang yang status sosialnya rendah, dipandang tidak layak menelepon seseorang yang status sosialnya dianggap lebih tinggi. Misalnya, seorang mahasiswa dianggap lancang jika menelepon dosen.

Dan hal konyol semacam ini pernah dialami penulis. Ketika punya masalah serius dengan sebuah mata kuliah. Sebab hasil dari mata kuliah itu akan menentukan nasib perkuliahan: lanjut terus atau drop out. Penulis pun nekat menelepon dosen itu dari telepon umum pinggir jalan. Beliau itu sudah senior sebagai dosen.

Dan esok harinya, ketika masalah ini penulis sampaikan ke ketua jurusan, beliau -- seorang ibu -- dia malah mengomel-ngomel sedikit marah. Menurut beliau, penulis telah berlaku lancang menelepon dosen senior itu. "Kamu telah menghina beliau..." demikian kata-kata ketua jurusan tu dengan mimik wajah seperti menahan rasa khawatir.

Lucu sekali memang jika ingat lagi peristiwa itu.

Ada lagi pengalaman dari rekan mahasiswa lain. Katanya, dalam kondisi hujan lebat dia naik angkutan umum ke rumah seorang dosen untuk menyerahkan karya tulis yang ditugaskan. Karena waktu deadline memang hari itu.

Melihat kondisi mahasiswa yang agak basah, meski pakai payung, sang dosen yang tampak prihatin dan kasihan justru menyesalkan si mahasiswa bertindak seperti itu. "Mengapa tidak menelepon dulu? Kan bisa saya jadwalkan datang ke kampus..." kata si dosen.

Serba salah memang. Menelepon dosen dianggap lancang dan menghina. Datang sendiri pun salah.

Anggapan semacam inilah yang agaknya masih terus bercokol di memori bangsa kita, bahkan ketika alat komunikasi sudah sedemikian canggih. Seorang menteri berbicara pakai handphone ketika presiden berpidato pun dianggap tidak senonoh. Padahal bukan pembicaraan main-main, tetapi menyangkut bangsa dan negara.

Tetapi kadrun mana peduli?

LBP Bertelepon, Kadrun Perlihatkan Mental Kacung

Sumber Utama : https://seword.com/politik/lbp-bertelepon-kadrun-perlihatkan-mental-kacung-qmX8aP6t2L

Heboh Kasus Wadas, Denny Siregar Sindir Bupati Purworejo, Ternyata dari Demokrat dan Puji Ganjar Pranowo

LIPUTANBEKASI.COM - Kasus pengukuran lahan tambang yang terletak di Desa Wadas, Kecamatan Bener, Kab. Purworejo, Jawa Tengah masih terus bergulir.

Aksi pengepungan pihak kepolisian dan penangkapan terhadap sejumlah warga Wadas menjadi ramai diperbincangkan.

Menyikapi kerusuhan yang terjadi di Desa Wadas pada 8-9 Februari itu, Gubernur Jawa Tengah, Ganjar Pranowo langsung mengambil sikap dengan meminta maaf dan bertanggung jawab atas kejadian tersebut.

Hal ini kemudian menjadi perhatian dan pertanyaan dari pemerhati media sosial, Denny Siregar. Denny Siregar dalam beberapa potongan video unggahan akun TikTok @andriansupriono2 mempertanyakan keberadaan sosok Bupati Purworejo, Agus Bastian, SE, M.M. yang tidak tampil menyikapi kasus Wadas tersebut.

"Sebenarnya sih saya sedang menunggu gerakan Bupati Purworejo karena kasus ini berada di daerahnya," ungkap Deni dalam video tersebut.

Denny Siregar menganggap Bupati Purworejo memang diam dan tidak berbuat apa-apa karena berasal dari Partai Demokrat.

"Tapi, pas Saya telusuri kalau bupatinya ternyata dari Partai Demokrat, yah, Saya harus maklum kalau dia tidak berbuat apa-apa. Kalau Demokrat berbuat apa-apa, barulah Saya kaget," sambungnya.

Bahkan menurut Denny Siregar, kasus kisruh di Wadas merupakan senjata yang ingin digunakan lawan politik Ganjar Pranowo dengan mencari-cari kesalahannya.

Karena menurutnya, Ganjar Pranowo merupakan salah satu calon presiden terkuat yang akan bertarung pada 2024. Denny Siregar juga memuji sikap yang diambil Gubernur Jawa Tengah, Ganjar Pranowo yang langsung mengambil alih dengan bertanggung jawab serta meminta maaf.

"Tapi, ternyata Ganjar Pranowo cukup lihai, dia bukannya sibuk main Twitter atau malah menyalahkan situasi tanpa berbuat apa-apa, yang dia lakukan pertama adalah minta maaf," lanjutnya lagi.

Selain itu, Denny Siregar juga memuji sikap Ganjar Pranowo yang langsung datang ke lokasi dan menemui warga Wadas. Sehingga menurutnya situasi menjadi lebih tenang dan terkendali.***

Denny Siregar menyindir Bupati Purworejo yang merupakan kader dari Partai Demokrat (Tangkapan layar video TikTok/@andriansupriono2)
Denny Siregar menyindir Bupati Purworejo yang merupakan kader dari Partai Demokrat (Tangkapan layar video TikTok/@andriansupriono2)

Sumber Utama : https://www.liputanbekasi.com/nasional/pr-1262651232/heboh-kasus-wadas-denny-siregar-sindir-bupati-purworejo-ternyata-dari-demokrat-dan-puji-ganjar-pranowo?page=2

Ini Profil Proyek Bendungan Bener yang Picu Bentrokan di Desa Wadas

Jakarta - Insiden bentrokan antara polisi dan TNI dengan masyarakat Desa Wadas, Kecamatan, Bener, Kabupaten Purworejo, Jawa Tengah tengah menjadi perbincangan. Asal muasal sebab konflik itu terjadi lantaran rencana pembangunan proyek Bendungan Bener.

Proyek Bendungan Bener merupakan proyek yang dipegang oleh Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (PUPR) pimpinan Menteri PUPR Basuki Hadimuljono. Rencana konstruksi proyek bendungan telah dimulai sejak 2018 dan direncanakan selesai pada 2023 mendatang.

Melansir laman Komite Percepatan Penyediaan Infrastruktur Prioritas (KPPIP), Rabu (9/2), Bendungan Bener atau Waduk Bener adalah waduk yang berada di Kabupaten Purworejo, Jawa Tengah. Bendungan ini direncanakan akan mengairi lahan sawah seluas 15.069 hektare. Hal ini sesuai dengan program pemerintah untuk memperbanyak waduk guna mendukung proyek ketahanan pangan.

Keberadaan Waduk Bener diharapkan dapat mengurangi debit banjir sebesar 210 meter kubik per detik, menyediakan pasokan air baku sebesar 1,60 meter kubik per detik, dan menghasilkan listrik sebesar 6 MW. Sumber air Waduk Bener berasal dari Sungai Bogowonto, salah satu sungai besar di Jawa Tengah.
Nama Waduk Bener diambil dari lokasinya yang berada di Kecamatan Bener, Purworejo. Proyek ini berada sejauh sekitar 8,5 kilometer dari pusat kota Purworejo. Bendungan Bener merupakan proyek yang didanai langsung APBN lewat Kementerian PUPR.
Pemilik proyek Waduk Bener ini adalah Balai Besar Wilayah Sungai Serayu Opak yang berada di bawah Ditjen Sumber Daya Air PUPR. Proyek Waduk Bener digarap oleh tiga BUMN karya yakni PT Brantas Abipraya (Persero), PT Pembangunan Perumahan (Persero) Tbk, dan PT Waskita Karya (Persero) Tbk.

Total investasi Waduk Bener mencapai Rp 2,06 triliun dan dengan kucuran dana dari APBN-APBD.

Pembangunan bendungan ini memerlukan tambang batuan andesit di Desa Wadas. Karena itulah lahan Desa Wadas diperlukan.

Mengutip laman Balai Besar Wilayah Sungai Serayu Opak, Kepala Balai Besar Wilayah Sungai (BBWS) Serayu Opak Dwi Purwantoro mengklaim Pembangunan Bendungan Bener akan memberikan berbagai manfaat bagi masyarakat dan tidak sangat berpihak pada kepentingan masyarakat setempat.

"Wadas akan digali material batunya untuk pembangunan Bendungan Bener dengan melalui proses pengadaan tanah terlebih dahulu. Kemudian, masyarakat mendapat uang ganti kerugian dengan nilai yang melebihi harga pasaran. Kegiatan ini juga mendatangkan lapangan pencaharian baru pada saat pelaksanaan pengambilan material quarry," katanya (27/4).

Berdasarkan info, lahan tambang andesit yang akan dikeruk di desa Wadas mencapai 114 hektar.
Sumber Utama : https://finance.detik.com/infrastruktur/d-5935013/ini-profil-proyek-bendungan-bener-yang-picu-bentrokan-di-desa-wadas/2

Re-post by MigoBerita / Sabtu/12022022/11.29Wita/Bjm

Masih "Pantaskah" Jokowi jadi Calon Presiden !!!???

Jokowi menilai wacana amandemen UUD 1945 melebar ke mana-mana. 

Migo Berita - Banjarmasin - Masih "Pantaskah" Jokowi jadi Calon Presiden !!!??? Pertanyaan ini mungkin Ada yang SETUJU dan ada yang TIDAK SETUJU dikemukakan, namun terlepas SUKA atau TIDAK SUKA dari pernyataan Pak Presiden Jokowi JELAS beliau sesuai konstitusi tidak ingin dan tidak akan mungkin menjadi Presiden untuk ketiga kalinya. KECUALI...... iya Kecuali seluruh masyarakat Indonesia MENDESAK dan menghendakinya dengan cara konstitusi lewat perwakilan rakyat di DPR (Dewan Perwakilan Rakyat) mengamandemen atau merubah aturan Undang-Undang, misalkan dengan mengizinkan khusus periode tahun 2024, maka Pak Jokowi bisa menjadi Calon Presiden Indonesia kembali. MELIHAT dari keterwakilan anggota DPR yang sekarang mayoritas adalah pendukung pemerintah, seharusnya ini bisa dilakukan, kalau memang MANFAAT yang diberikan oleh pak Jokowi bagi warga INDONESIA hingga bangsa NKRI ini lebih banyak ketimbang MUDHORAT nya. NAMUN, apakah ini bisa terwujud, sepertinya hanya TUHAN YME yang utama dan menyusul partisipasi warga Netizen +62 yang bisa mengabulkannya. Pemikiran ini hanya dapat hinggap dihati dan otak orang yang bersih, kalau memang calon kandidat penerus Pak Jokowi masih belum ada yang siap. Kita lihat saja nanti tahun 2024, serta bagaimana DPR(D) berkehendak !!!

Jokowi menilai wacana amandemen UUD 1945 melebar ke mana-mana.

Kubu Oposisi Apa Ga Ada Yang Pinter?

Terus terang saya sering senyum sendiri kalau mendengar pernyataan para oposan. Karena kompak, seragam dan sama saja. Dari yang pernah jadi menteri, sampai yang ga pernah jadi santri tapi jadi ustad, bahasanya tuh mirip banget.

Mereka kerap bertanya “uang dari mana?” Atas semua kebijakan pemerintah.

Misal nih, pemerintah mau bangun jalan tol, bendungan, bandara, sampai yang terbaru ibu kota negara di Kalimantan.

Setelah pertanyaan uang dari mana, mereka berasumsi sendiri, oh dari hutang, cina dan seterusnya. Coba deh perhatiin, semuanya serupa.

Saya kadang mikir apakah mereka ini janjian atau ada grup WA untuk sama-sama bahas suatu isu dari sudut yang sudah ditentukan? Atau kah memang ini alamiah saja karena mereka yang jadi oposan otomatis setara, kalau ga mau disebut auto bego.

Karena begini, pertanyaan uang dari mana itu sejatinya ga relevan. Karena kita sudah punya menteri keuangan.

Selain itu, anggaran pemerintah setiap tahunnya mencapai ribuan triliun. Selama berpuluh tahun, selalu ada dan selalu habis terserap.

Jadi kalau menterinya ada, uangnya juga ada, kenapa masih kerap ditanya, uang dari mana?

Itu kan sama seperti seorang anak yang mau bayar iuran kuliah, lalu minta ke orang tuanya. Dan bukannya yakin dengan jawaban orang tua serta berterima kasih, malah nanya uang dari mana?

Yang lebih menyedihkan lagi adalah, mereka yang bertanya itu sebenarnya juga ga punya uang.

Mereka yang teriak protes kalau gedung di Jakarta nanti dibeli swasta, juga adalah orang yang tak paham cara uang bekerja. Makanya mereka berpikir prosesnya ribet karena harus beli, bayar dulu, baru bangun di Kalimantan.

Tapi ya itulah imajinasi orang yang emang ga bakat kaya. Memandang sesuatu dari sudut yang terlalu sederhana.

Padahal membangun ibu kota itu tak serumit yang dibayangkan, jika yang dipermasalahkan adalah uang.

Karena di Indonesia ini ada banyak orang kaya raya. Yang benar-benar kaya dan bukan hanya dapat label crazy saja.

Kalau mereka ditawari gedung kementerian di Jakarta, pasti ada yang bersedia. Misal di A mau beli, maka dia harus bangun kementerian yang sama di Kalimantan dengan spek yang sudah ditentukan oleh pemerintah.

Dengan metode seperti itu, praktis pemerintah jadi tak perlu keluar uang sama sekali. Malah pasti akan banyak kelebihan bayar karena biaya pembangunan dan selisih harga antara Kalimantan dan Jakarta masih cukup jauh.

Kalaupun nanti diprotes dan minta agar tidak dijual pun, tidak masalah. Karena angaran ibu kota negara ini juga sudah disiapkan oleh Sri Mulyani.

Saya juga heran kenapa ada yang mempertanyakan apakah ibu kota baru ini penting dan harus segera dikerjakan? Apakah pemerintah siap? Dan sebagainya. Itu kan pertanyaan mirip teman-teman kita yang heran kenapa kita bangun rumah? Hahah

Ibu kota itu ibarat rumah. Kebutuhan utama suatu negara. Jadi kalau ada yang menganggap ini belum terlalu penting dan mendesak, nampaknya mereka ga paham bagaimana kondisi Jakarta dan Indonesia.

Karena pada akhirnya ibu kota memang harus dipindah. Siapapun Presiden selanjutnya. Untuk keseimbangan ekonomi dan memecah konsentrasi. Agar urusan negara dan kota bisnis tidak dalam satu tempat.

Jadi kalau ada mantan Menteri yang bilang akan batalkan pembangunan ibu kota kalau dirinya jadi Presiden, itu seperti melawan kebutuhan negara. Meski di sisi lain saya jadi kepikiran, kenapa orang semacam itu bisa jadi menteri.

Tapi ya setidaknya kita jadi tahu bahwa untuk 2024 nanti, ternyata sudah ada orang yang berencana untuk membatalkan ibu kota baru. Sehingga kepada orang-orang ini, kita perlu tolak untuk segala posisi.

Kabar baiknya, nama yang saya maksud itu mustahil jadi Presiden. Bahkan mustahil bisa dicalonkan. Jadi kita tak perlu khawatir dengan ancaman-ancaman itu.

Selain itu, alasan pembatalan yang coba disampaikan ke masyarakat juga tidak logis. Alasannya karena ingin memberi subsidi. Padahal anggaran subsidi sudah ada dan sudah dilakukan. Mau ditambah berapapun mestinya tak akan sebanyak biaya pembangunan ibu kota.

Kubu Oposisi Apa Ga Ada Yang Pinter?

Sumber Utama : https://seword.com/politik/kubu-oposisi-apa-ga-ada-yang-pinter-5xkIUQuwUI

Terima Kasih Presiden, Vaksin Booster Gratis Bagi Seluruh Rakyat Indonesia, Masihkah Tak Mau?

Miris rasanya ketika beberapa hari ini masih bersewileran di media sosial kita video-video provokasi dan intimidasi dari pihak-pihak tak bertanggungjawab yang secara masif menyebarkan hoaks atau opini-opini yang menghasut rakyat agar tidak mau divaksinasi atau menerima vaksin, sebagai salah satu syarat penanggulangan pandemi Covid-19.

Video-video bernada hasutan dan ajakan agar tidak mau menerima vaksin menyebar dengan luas, disertai dengan kata-kata yang memang membuat kuping kita panas dan bagi masyarakat yang memang gampang menerima hasutan tanpa menggunakan akal dan budi yang sehat untuk memilahnya, bakal tak mau divaksinasi.

Padahal, demi kelancaran penanganan pandemi Covid-19 di tanah air, mau divaksin adalah syarat mutlak, namun bagi kelompok masyarakat tertentu yang sakit hati alias tidak suka dengan pemerintahan sekarang? Pastinya akan ‘ngotot’ nga bakalan mau disuntik vaksin, plus warga yang memang terlanjur ‘kadrun’ pasti juga tidak bakal mau divaksin walaupun itu katanya gratis..tis..tisss...

Jadi teringat dengan kejadian tahun lalu ketika pemerintah gencar-gencarnya melakukan vaksinasi massal untuk vaksin pertama dan kedua, namun banyak ditolak oleh rekan-rekan Guru. Kala itu ketika petugas dari puskesmas datang untuk melakukan vaksinasi di sekolah, tapi banyak guru yang tidak mau vaksin dengan alasan yang berbeda-beda.

Dan hingga mau akhir tahun, sekitaran Oktober sampai datang surat dari Inspektorat menanyakan siapa-siapa guru yang belum divaksin, dan akhirnya mereka mau divaksinasi, sebagai syarat terlaksananya Pembelajaran Tatap Muka di sekolah tersebut.

Vaksin bagaikan dilema memang dan itu dengan baik dimanfaatkan oleh kaum-kaum kadrun tak bertanggungjawab yang menyebarkan hoaks dan mengajak agar masyarakat tidak mau vaksin dengan narasi yang menakut-nakuti sehingga harapan agar semua mau divaksin dan kehidupan normal kembali jadi terhambat.

Pun dengan program Vaksin Booster penangkal Covid-19 yang digaung-gaungkan akan dimulai dari awal tahun ini. Pasti nanti banyak yang tidak akan mau divaksin, karena rakyat masih banyak yang percaya begitu saja dan dibodoh-bodohi oleh isu hoaks yang disebarkan oleh pihak tak bertanggungjawab.

Padahal, vaksin booster ini telah resmi digratiskan oleh Presiden Jokowi. Ya, Presiden Jokowi memastikan vaksinasi booster atau dosis ketiga untuk masyarakat Indonesia diberikan gratis alias tanpa pungutan biaya. Presiden Jokowi memastikan vaksinasi booster akan dimulai besok, Rabu, 12 Januari 2021 dan gratis bagi seluruh elemen masyarakat di tanah air.

"Saya telah memutuskan pemberian vaksin ketiga gratis bagi seluruh masyarakat Indonesia. karena sekali lagi keselamatan rakyat yang utama," ujar Presiden Jokowi dalam konferensi pers di Istana Negara seperti dikutip dari akun Youtube Setkab, Selasa, 11 Januari 2021.

Lansia dan Kelompok Rentan, Prioritas Utama

Tentunya kabar ini sangat menjadi kabar gembira bagi kita semua bukan? Ketika akan diberikan berbayar, maka masyarakat banyak yang enggan dengan dalih ada biayanya, sementara ketika gratis, apakah masih ada yang tidak mau divaksin?

Sementara pelaksanaan vaksin ketiga ini sangat urgen dan sifatnya keharusan karena ini adalah pelengkap dari vaksin pertama dan kedua agar tubuh semakin kebal dengan virus Covid-19 ini.

Dan ketika mendapatkan kabar gembira akan digratiskannya pemberian vaksin ketiga ini, di beberapa grup Whatsapp saya banyak diskusi yang tersebar hangat membicarakan gimana mendapatkan vaksin booster ini. Teman langsung banyak yang share tata cara cek e-tiket vaksin booster Covid-19.

  1. Log in ke dalam aplikasi pedulilindungi.

  2. Klik gambar orang di bagian kiri atas dan akan muncul identitas nama dan no handphone beserta berbagai pilihan.

  3. Pilih dan klik "riwayat vaksinasi dan tiket".

  4. Pilih nama orang yang akan dicek tiket vaksinnya. Klik nama orang tersebut.

  5. Akan muncul tiket vaksinasi mulai dari tiket vaksinasi pertama sampai dengan ketiga jika sudah terbit tiket vaksinnya.

  6. Untuk mengecek apakah tiket vaksin tersebut sudah selesai digunakan atau belum, maka kembali ke halaman depan.

  7. Klik fitur gambar sertifikat vaksin dan akan keluar seluruh sertifikat vaksin sesuai dengan tiket vaksin yang sudah digunakan.

Dan ternyata, vaksinasi ini yang jadi prioritas pertama dan utama adalah kelompok lansia dan rentan dengan penyakit tertentu. Tujuannya utamanya tentunya untuk meningkatkan kekebalan tubuh masyarakat, mengingat virus covid yang terus bermutasi.

Menurut Presiden Jokowi, sudah ada 21 juta sasaran di bulan Januari ini yang masuk kategori Lansia dan Kelompok Rentan untuk menerima vaksin booster. Terkait jenis vaksin yang digunakan untuk booster, Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) telah menerbitkan izin penggunaan darurat atau emergency use (EUA) untuk 5 jenis vaksin. Kelima vaksin itu adalah vaksin Coronavac PT Bio Farma, Pfizer, AstraZeneca, Moderna, Zifivax.

Sementara syarat pertama untuk mendapatkan vaksin booster ini tentunya sudah mendapatkan suntikan vaksin dosis kedua lebih dari 6 bulan sebelumnya. Kepala BPOM Penny K Lukito menyebut titer antibodi yang didapatkan warga pasca vaksinasi Covid-19 terpantau mengalami penurunan, sehingga dibutuhkan suntikan antigen baru melalui vaksinasi booster untuk memberikan perlindungan tambahan bagi tubuh agar benar-benar kebal terhadap Covid-19 yang terus bermutasi.

“Data imunogenisitas dari pengamatan hasil uji klinik dari semua vaksin Covid-19 menunjukkan adanya penurunan kadar antibodi yang significantly menurun sampai di bawah 30 persen, terjadi setelah 6 bulan pemberian vaksin primer yang lengkap," kata Penny K Lukito dalam konferensi pers, Senin, 10 Januari 2021.

Harapan saya, semoga mama cepat sembuh agar bisa mendapatkan suntikan vaksin booster, itulah prioritas saya ketika ditanya siapakah orang prioritas di rumahmu yang didaftarkan terlebih dahulu mendapatkan vaksin booster? Ya Mama saya...

Dan tentunya saya dan isteri prioritas kedua agar tidak terkena pandemi yang virusnya selalu bermutasi hingga menjadi Omicron seperti sekarang yang menyebar luas.

Terima kasih Presiden Jokowi, Vaksin Booster akhirnya digratiskan...semoga rakyatmu sehat-sehat..pun Bapak sehat selalu...

Terima Kasih Presiden, Vaksin Booster Gratis Bagi Seluruh Rakyat Indonesia, Masihkah Tak M

Sumber Utama : https://seword.com/motivasi/terima-kasih-presiden-vaksin-booster-gratis-bagi-mesSHkVzNS

Waduh! Pembalap MotoGP Terancam Tidak Balapan di Mandalika?

Waduh, saya jadi khawatir ini, jangan sampai gara-gara Joko Widodo, pembalap Moto GP internasional tidak mau balapan di Mandalika. Kita tahu padahal sirkuit Mandalika ini adalah satu-satunya sirkuit bertaraf internasional yang dibangun di Indonesia oleh Presiden Joko Widodo dan rekan-rekan.

Padahal tiket sudah habis dan ludes dibeli oleh para penonton dengan harga yang mahal, sebelum sirkuit itu dilintasi para pembalap MotoGP. Nggak kayak Anies Baswedan Formula E belum jadi, anggaran sudah ludes. Si bodoh itu. Tapi kenapa pembalap tidak mau balapan di Mandalika?

Coba lihat saja NTB, Nusa Tenggara Barat dengan segala keindahannya, bikin mager. Gile. Satu pembalap sudah mulai posting di Twitter bahwa begitu nyamannya dia di Mandalika. Dengan Vitamin Sea dan juga Vitamin D yang datang dari angin laut dan juga matahari tropis.

Begitu indah dan begitu menyenangkan mereka bisa berjemur di sana, yang lebih bagus dari NTB tidak banyak. Dan itu pun ada di Indonesia. Semua bisa menikmati dan dilayani dengan profesional. Pelayanan kepada para pembalap juga sangat baik dan mereka bisa begitu nyaman.

Ada pembalap bahkan yang kelepek-kelepek posting di Instagram, Twitter dan lain-lain, menyatakan keindahan Indonesia. Semangat mouth to mouth dari para pembalap ini tentu sangat memberikan influence kepada rekan-rekan sejawatnya di dunia internasional.

Pengakuan internasional ini menghancurkan kesombongan dan kebodohan dari Anies Baswedan dan juga orang-orang Gerindra soal hal Mandalika yang dianggap nggak bagus. Orang-orang pendukung Anies ini tahunya kebencian dan kebencian saja. Mereka nggak bisa leyeh-leyeh sedikit.

Kita melihat bagaimana Joko Widodo memastikan jajaran kementerian dan para bawahannya unutk bekerja dengan serius memberikan dampak positif bagi dunia, melalui Indonesia. Indonesia diurus oleh pemimpin yang benar, bukan pemimpin yang hanya jago bikin Hambalang.

Dibandingkan dengan pemimpin sebelumnya, Joko Widodo benar-benar mengedepankan ke-Indonesiaan Indonesia. Nggak kayak Soeharto yang mengeruk Indonesia dan sangat Jawa-Sentris. Joko Widodo adalah seorang penyihir yang benar-benar memikirkan kemajuan satu Indonesia.

Keseluruhan Indonesia dipikirkan. Salah satunya adalah Sirkuit Internasional di Mandalika, Nusa Tenggara Barat. Sirkuit MotoGP dibangun dengan anggaran yang hemat, namun tidak main-main kualitasnya. Sekarang Mandalika menjadi objek dunia.

Mandalika menjadi satu lagi tambahan saksi bisu soal kemajuan Indonesia di mata internasional. Beberapa torehan Indonesia di dunia Internasional sebelum-sebelumnya juga sudah ada banyak. Jokowi jadi pemimpin G20, membuat pasar global kejang-kejang dengan larangan ekspor bahan baku.

Joko Widodo juga jadi pemimpin yang bisa membangun citra Asia di Asian Games, kemudian lanjut lagi di Mandalika. Sangat jarang seorang pemimpin di dua periode bisa membuat Indonesia bisa berkali-kali mengagetkan dunia ini. Semoga saja negara ini semakin baik dengan Joko Widodo.

Kembali lagi ke Mandalika, saya jadi takut nih, para pembalap malah lupa untuk balapan, karena tersihir dengan keindahan alam dan nyamannya servis di NTB. Jangan bilang nanti mereka nggak mau balapan, karena tersihir juga dengan Vitamin Sea dan Vitamin D.

Mereka akan dihipnotis dengan keindahan alam di Indonesia yang dikemas dengan begitu baik oleh pelaksananya. Mereka akan melihat bagaimana buih-buih ombak berdebur-debur di pinggir pantai, sampai lupa waktu. Mereka ada di surga dunia bernama NTB.

Namun saya sih nggak harap mereka lupa sama tugas utamanya ya, yakni melakukan balapan. Jangan sampai karena mulusnya jalanan di Mandalika International Circuit, mereka malah ketiduran, Hahaha. Apakah saya terlalu mendeifikasikan pekerjaan Presiden Jokowi? Ya bisa dikatakan begitu.

Karena saya baru sadar selama kepemimpinan dari Suharto sampai sekarang, Joko Widodo terlalu baik untuk kita. Bahkan rakyat Indonesia nggak sadar, bahwa Jokowi ini pemimpin revolusioner. Too good to be true. Tapi benar-benar too good to be true. Fakta kok.

Semoga saja negara ini semakin maju di mata internasional. Biarkan anjing-anjing kurap menggonggong dan kadal-kadal gurun mendesis karena kepanasan melihat silaunya Indonesia yang melampaui Palestina, Yaman dan berbagai negara yang hancur karena isu agama. Selamat Pak Jokowi.

Semoga balapan lancar, pembalap nyaman dan negara ini bahagia.

Waduh! Pembalap MotoGP Terancam Tidak Balapan di Mandalika?

Sumber Utama : https://seword.com/umum/waduh-pembalap-motogp-terancam-tidak-balapan-di-jtyuYzYdtZ

Dulu Kawan Sekarang Nyerang Prabowo

Pemilihan Presiden makin dekat tinggal 2 tahunan lagi. Tanggal 14 Februari 2024 masyarakat Indonesia akan berbondong-bondong ke Tempat Pemungutan Suara (TPS), untuk menyalurkan aspirasinya. Hari itu masyarakat Indonesia akan memilih wakilnya di legislatif dan memilih tokoh untuk menduduki Capres dan Cawapres. Pada tahun 2024 nanti Insya Allah masyarakat Indonesia akan memiliki Presiden dan Wakil Presiden baru.

Figur sebagai kandidat kuat Capres telah bermunculan, berurutan dari yang terkuat yaitu Prabowo Subianto, Ganjar Pranowo, Anies Baswedan dan Ridwan Kamil. Mereka merupakan langganan top survey dari berbagai lembaga survey.

Prabowo 3 kali ikut Pilpres. Satu kali maju sebagai Cawapres mendampingi Megawati, 2 kali sebagai Capres melawan Jokowi. Tapi sayang ketiganya tidak berhasil alias gagal. Pilpres 2019 lalu merupakan kontestasi paling seru dan ketat bagi Prabowo dan pasangannya Sandiaga Uno.

Prabowo telah melakukan segala upaya agar 2019 menjadi tahun emas bagi dirinya. Potensi dukungan dimanfaatkan oleh Prabowo agar dirinya mendapat suara sebanyak-banyaknya. Kondisi FPI dan Habib Riziq waktu itu dimanfaatkan betul oleh Prabowo untuk dijadikan dukungan kuat bagi dirinya.

Persaudaraan Alumni (PA) 212, Front Pembela Islam (FPI) yang sekarang sudah dibubarkan, dan Gerakan Nasional Pengawal Fatwa (GNPF) Ulama mendukung sepenuh dan habis-habisan pada Prabowo waktu itu.

Tapi benar bahwa politik itu tidak ada yang abadi. Mirip lagu ya. Tahun 2019 kawan sekarang jadi musuh. Itu kira-kira yang terjadi. Karena pilihan politik setelah Pilpres 2019, Prabowo kini ditinggalkan oleh pendukung utamanya.

Sebagaimana diketahui Prabowo melakukan manuver di luar dugaan dan menggerkan masyarakat Indonesia serta perpolitikan tanah air. Dimulai dengan pertemuan penuh senyum di MRT Jakarta, Prabowo memutuskan bergabung dengan Kabinet Indonesia Maju (KIM) Presiden Jokowi.

Pilihan politik Prabowo berakibat parah bagi para pendukungnya. PA 212, FPI, GNPF Ulama sangat kecewa. Walaupun bibir mereka bersilat lidah, berdiplomasi mengaku tidak kecewa, tapi tetap kekecewaan terlihat jelas dari raut wajah dan getaran suaranya.

Hasil berbagai lembaga survey, Prabowo sangat sering menjadi kandidat paling kuat jadi Capres. Partai Gerindra pun sudah menyatakan akan kembali mengajukan Prabowo Jadi Capres. Walaupun sampai saat ini Prabowo tidak pernah mengutarakan niatnya jadi Capres. Prabowo malah terus menunjukan kesetiannya terhadap Presiden Jokowi.

Niat Partai Gerindra untuk mendorong kembali Prabowo Subianti jadi Capres mendapat respon dari para pendukung utamanya di tahun 2019. Ketua Persaudaraan Alumni (PA) 212 Slamet Maarif tanggapi rencana pencalonan Ketua Umum Partai Gerindra, Prabowo Subianto sebagai capres pada Pilpres 2024 mendatang.

Slamet Maarif mengatakan, Prabowo Subianto sebaiknya tak lagi mencalonkan diri sebagai capres pada Pilpres 2024. Slamet Maarif menyarankan agar Prabowo Subianto menjadi negarawan.

Rupanya rasa kesal dan amarah masih awet tersimpan di hati Maarif. Bahkan menurut Slamet Maarif, tidak dicalonkannya lagi Prabowo Subianto pada Pilpres 2024 membuktikan bahwa Partai Gerindra memiliki kaderisasi dan regenerasi yang bagus.

Dengan kata lain jika Prabowo dicalonkan kembali jadi Calon Presiden hal itu mengindikasikan bahwa Partai Gerindra kaderisasi dan regenerasinya buruk. Karenanya, ia menuturkan bahwa Indonesia membutuhkan pemimpin yang energik dan muda. Maarif menganggap 2024 saatnya yang muda yang memimpin.

Dengan kata lain, Maarif menyatakan bahwa Prabowo tidak pantas lagi nyalon jadi Capres karena sudah terlalu tua. Permasalahkan bangsa ini super banyak dan rumit, sehingga karena sudah dua Prabowo dikhawatirkan tidak akan sanggup menanganinya. Begitu kira-kira.

Mantan pendukung Prabowo lainnya, Ketua Gerakan Nasional Mengawal Fatwa (GNPF) Ulama Yusuf Martak mengaku, pihaknya tidak pernah mendukung Prabowo Subianto pada Pilpres 2019.

Tidak pernah katanya. Terus yang kemarin apa tuh?

Menurut Yusuf Martak, dukungan tersebut dilakukan semata-mata karena pihaknya ingin adanya pergantian kepemimpinan. Pasalnya, pihaknya merasakan banyak kekurangan di pemerintahan Presiden Joko Widodo (Jokowi) yang tidak ada perubahannya.

Jadi kemarin itu mendukung apa tidak nih Pak Martak? Jadi bingung ane bacanya. Wkwkwk.

Meski begitu, Yusuf Martak mengaku GNPF Ulama belum menentukan arah dukungannya pada Pilpres 2024 mendatang. Ia mengatakan, pihaknya akan melihat kualitas dan komitmen kandidat terlebih dahulu.

Dengan kata lain, lihat-lihat dulu calonnya, takutnya ketipu lagi nih. Wkwkwk.

Begitulah politik. Dulu mendukung dan memuja bagaikan malaikat, sekarang menyerang, meledek bagaikan tak pernah kenal. Namanya juga politik.

Nyeruput air putih dulu. He..he…

Dulu Kawan Sekarang Nyerang Prabowo

Sumber Utama : https://seword.com/politik/dulu-kawan-sekarang-nyerang-prabowo-jtx1r0DdiR

Lupakan Formula E, Ayo Ramai-Ramai Berinvestasi di IKN Nusantara

Dimulainya pembangunan di Ibu Kota Negara (IKN) Nusantara mulai menarik perhatian para investor dan pelaku usaha bidang konstruksi dan bangunan. Salah satunya PT Waskita Beton Precast Tbk (WSBP), yang dikabarkan akan segera terjun ke proyek bangunan, khususnya sektor pendidikan dan hunian.

Menurut lansiran laman Antara, rencana dari anak perusahaan PT Waskita Karya tersebut kabarnya sejalan dengan pengembangan produk prefabricated building yang dilakukan perusahaan itu, seperti diakui oleh Dirut WsBP Poerbayu Ratsunu berikut ini:

"Saat ini, kami sedang membidik proyek bangunan seperti bangunan di sektor pendidikan dan bangunan hunian baru di IKN Nusantara."

Rencana WSBP ini saya yakin akan diikuti dengan geliat para investor dan pelaku usaha lain untuk segera berbondong-bondong menyerbu IKN Nusantara, setidaknya dalam waktu lima tahun ke depan karena melihat potensi besar dari proyek strategis nasional yang diputuskan dengan sangat berani oleh Presiden Joko Widodo itu.

Ini belum termasuk mereka yang berada di sekitar kawasan IKN, mulai dari Balikpapan, Samarinda, hingga Penajam Paser Utara, bahkan sangat mungkin dampaknya bisa sampai Kutai Kartanegara dan seluruh daerah di Pulau Kalimantan akan terasa sejak sekarang.

Seorang relasi yang sudah beberapa tahun bekerja sebagai General Manager (GM) di hotel bintang 4 di Balikpapan, yang belum lama ini berkesempatan menengok lokasi Titik Nol IKN bahkan sudah memantapkan hati untuk tetap stay di sana (semula ada rencana kembali ke Jawa untuk memimpin hotel baru yang masih satu grup), tentu alasannya karena ada banyak hal menjanjikan akan tersaji begitu IKN terbentuk dan siap untuk dipakai sesuai rencana awal sebagai pusat pemerintahan.

Para kadruners dan kaum oposisi silakan saja kalau mau terua beropini dan menentang kebijakan bagus ini, tapi yang jelas semua rencana terkait IKN sudah disepakati pemerintah dan DPR, sudah ada aturan resminya menurut undang-undang dan tak semudah itu membatalkannya, Ferguso!

Pilih IKN atau Formula E?

Pertanyaan ini mendadak muncul saat hampir bersamaan membaca progress rencana pemindahan IKN dari Jakarta dan proyek ambisius bernama Formula E, yang kita tahu bersama pemenang tendernya baru saja diumumkan oleh PT Jakpro, yang masih bagian dari pemerintah daerah provinsi DKI Jakarta.

Para investor yang kabarnya dahulu disebut akan mengantre, sampai hari ini masih belum menampakkan batang hidungnya, mungkin karena tidak berminat jika melihat potensi masalah yang bisa saja mereka hadapi kalau sampai nekat mengambil proyek ini lewat tender kemarin.

Saya kalau punya usaha jasa konstruksi pun akan berpikir seribu kali untuk ikutan berebut tender pembangunan sirkuit Formula E. Apalagi dalam waktu bersamaan ada proyek IKN Nusantara yang jauh lebih potensial dan praktis juga lebih aman.

Ibarat kata, sambil merem pun saya akan pilih IKN Nusantara, sambil berpikir dan mencari tahu segala macam potensinya agar bisa membidik ke arah yang tepat di kawasan IKN Nusantara. Apalagi sekarang euforia masyarakat sedang terbangun, bahkan akan semakin kuat menuju 2024, dimana ditargetkan Presiden 2024 dan sedikitnya 20 persen ASN akan bertugas di IKN Nusantara.

Kalau ada peluang dan kondisi memungkinkan, saya pun siap memboyong keluarga untuk berkarya dan berpindah ke sana. Minat yang jauh lebih kuat daripada sekiranya ditawari pindah untuk bekerja di Jakarta, khususnya sejak 2017 yang mengawali black list saya terhadap DKI Jakarta, minimal sampai Oktober 2022 nanti.


Membandingkan potensi investasi di proyek Formula E dengan IKN Nusantara, rasanya hanya orang yang nekat dan mungkin terlalu lugu, naif, dan agak kurang sehat kondisinya yang tetap mau berinvestasi ke pembangunan sirkuit Formula E, lha wong elit PT Jakpro saja sudah beberapa kali ada yang mengundurkan diri kok.

Kalau Formula E benar-benar berpotensi bagus, juga menguntungkan dan tidak menakutkan (karena ada potensi kasus hukum kalau sampai Formula E gagal digelar), kenapa mereka harus mundur, seperti kawanan semut yang menjauhi gula? Pasti karena mereka sudah mencium ada ketidakberesan di sana, bukan?

Lupakan Formula E, Ayo Ramai-Ramai Berinvestasi di IKN Nusantara

Sumber Utama : https://seword.com/politik/lupakan-formula-e-ayo-ramai-ramai-berinvestasi-di-7YDcUL7X0s

Prabowo Nyapres Lagi! Tidak Perlu Khawatir karena Belum Tentu Menang, Berikut Alasannya

Ketua umum Partai Gerindra, Prabowo digadang-gadang bakal maju lagi di Pilpres 2024 mendatang.

Seperti yang dikatakan oleh Sekjen Partai Gerindra, Ahmad Muzani, Kader Gerindra hanya akan mendukung Prabowo sebagai Capres 2024. Tidak ada nama lain.

Termasuk Sandiaga Uno yang banyak didukung oleh Forum Ijtima Ulama, dengan tegas Muzani mengatakan tidak akan direkomendasikan oleh Gerindra.

Artinya apa? Kalau Menteri Pariwisata itu serius mau Nyapres, mau tidak mau harus dia pindah partai.

Bisa ke PKS, PAN atau partai lain.

Sementara, Gerindra Jatim juga sudah menyampaikan komitmennya untuk bisa memenangkan Prabowo pada Pilpres 2024 mendatang.

"Antusiasme untuk membawa panji-panji Partai Gerindra penting, lebih penting lagi fokus kita untuk mengantarkan Bapak Prabowo Subianto (menjadi presiden). Itu yang terpenting," ujar Ketua DPD Partai Gerindra Jawa Timur, Anwar Sadad dengan nada penuh semangat.

Pada intinya semua kader Gerindra ingin Prabowo jadi presiden. Karena dengan begitu, akan banyak kemudahan-kemudahan yang didapatkan oleh Partai Gerindra. termasuk mendapat jatah menteri yang lebih banyak dari sekarang.

Hanya Sandiaga Uno doang kader Gerindra yang tidak ingin Prabowo jadi presiden. Karena dia juga ingin jabatan itu.

-o0o-

Dan Om Prab mau bertarung lagi di Pilpres ini sebenarnya tidak perlu dikhawatirkan. Serta kader Gerindra beserta pendukungnya juga tidak usah jumawa.

Karena kenapa?

Belum tentu menang juga.

Berikut penulis coba sampaikan beberapa alasan kenapa Prabowo belum tentu menang jika ikut berlaga di Pilpres 2024 mendatang. Meskipun lawan terkuatnya Jokowi sudah tidak ikut kontestasi lagi?

1. Orang sudah bosan melihat muka-nya

"Dia lagi, dia lagi". Demikian yang ada di benak netizen pasca tahu Prabowo akan Nyapres lagi.

Sebagaimana kita ketahui bahwa selama 3 kali Pilpres, Ketua umum Partai Gerindra itu tidak pernah sekalipun absen ikut kontestasi memperebutkan kursi RI-1 dan RI-2 tersebut.

Di Pilpres 2009, Prabowo jadi Cawapres. Berpasangan dengan Megawati. Kalah

Di Pilpres 2014, Prabowo jadi Capres. Berpasangan dengan Hatta Rajasa. Kalah

Di Pilpres 2019, Prabowo jadi Capres. Berpasangan dengan Sandiaga Uno. Kalah juga

Ikut Pilpres terus tapi kalah melulu. Hehehe

Pertanyaannya, apa gak bosan lihat mantan suami Titiek Soeharto itu Nyapres?

Gantian doang. Kasih kesempatan sama yang lain.

Dan kalau orang sudah bosan melihat mukanya, tentu sudah bisa dipastikan tidak akan memilih bos Fadli Zon itu.

2. Terlanjur dicap merangkul kelompok intoleran tapi dibenci Kadrun

Sebagaimana kita ketahui bahwa dua kali Pilpres, 2014 dan 2019 Prabowo selalu merangkul FPI.

Yang kita tahu sendiri bahwa FPI ini merupakan Ormas intoleran yang suka main hakim sendiri. Serta doyan melakukan tindak kekerasan terhadap kelompok-kelompok yang tidak disukainya.

Seperti warga Ahmadiyah pernah menjadi korban kekerasan Laskar FPI.

Begitupun dengan kelompok Aliansi Kebangsaan untuk Kebebasan Beragama dan Berkeyakinan (AKBB) pernah menjadi korban penyerangan pengikut Rizieq itu. Padahal sebagian besar pesertanya adalah ibu-ibu dan anak-anak.

Dan bisa dibilang masyarakat sudah trauma dengan kelakuan FPI ini. Kalau bisa, jangan nian mereka sampai berkuasa .

Sehingga, ketika mereka coba bercokol pada Prabowo, orang pun otomatis enggan memilih mantan menantu Soeharto itu menjadi presiden.

Karena kalau Prabowo jadi presiden, sudah bisa dipastikan FPI akan semakin leluasa melakukan aksi bejatnya, main hakim sendiri tersebut.

Namun di sisi lain, sekarang pasukan Kadrun juga benci kepada Prabowo. Yang disebabkan oleh Om Prab mau menjadi menteri Jokowi.

Bahkan, Ketua PA 212 Slamet Maarif pernah mengatakan pendiri Gerindra itu sudah selesai.

Sekarang dukungan, eks FPI, PA 212, GNPF Ulama, dan eks HTI mengarah ke Anies Baswedan untuk Pilpres 2024 mendatang.

Jadi, bisa dibilang Pilpres 2024 merupakan Pilpres apesnya Prabowo. Karena ia ditinggalkan oleh dua kelompok sekaligus.

3. Partai lain kapok mendukungnya

Dua kali mengusung Prabowo, dua kali tidak pernah dapat kursi menteri. Demikian yang dialami oleh PKS.

Padahal tidak gampang lho menjadi Timses itu. Banyak banget pengorbanannya. Mulai dari tenaga, waktu dan pikiran.

Penulis yakin ukhti dan akhwat PKS mengkampanyekan Prabowo pada Pilpres 2014 dan 2019 silam tidak digaji. Karena tujuan mereka lebih besar dari itu yakni dapat jatah kursi menteri.

Tapi seperti kata pepatah, 'maksud hati memeluk gunung apa daya tangan tak sampai'.

Prabowo gagal terpilih jadi presiden, PKS pun gagal pula dapat kursi menteri. Meski harapannya besar banget. Hehehe

Pertanyaannya, apakah PKS masih mau mengusung dia lagi?

Tentu tidak.

Anies kansnya jauh lebih besar diusung oleh partai dakwah itu dibandingkan ketua umum partai Gerindra tersebut.


Demikian beberapa alasan kenapa Prabowo belum tentu menang meskipun lawannya bukan Jokowi.

Dan kalau dia nyalon lagi kemudian kalah, mudah-mudahan bisa bersikap lebih dewasa.

Karena malu dong sama Firza. Uda tua tapi masih main presiden-presidenan.

Prabowo Nyapres Lagi! Tidak Perlu Khawatir karena Belum Tentu Menang, Berikut Alasannya

Sumber Utama : https://seword.com/politik/prabowo-nyapres-lagi-tidak-perlu-khawatir-karena-sEkZtzMpiQ

Memangnya Dikasih Apa Sih Sampai Mau Jagain Baliho Rizieq?

Saya sempat mau bahas ini, tapi akhirnya kelupaan dan baru teringat sekarang. Tapi tidak apa-apa, baru lewat seminggu beritanya, dan belum basi untuk dibahas sekarang.

Ini terkait dengan Baliho Rizieq. Awal tahun 2021 dulu, baliho Rizieq diturunkan karena tidak berizin dan tersebar di mana-mana. Baliho dipasang untuk menyambut dan meluaskan euforia kepulangan Rizieq ke Indonesia setelah sekian lama luntang lantung di Arab Saudi tak berani pulang karena tersangkut banyak kasus.

Saat diturunkan balihonya, pendukung Rizieq marah. Hal paling lucu yang pernah kita saksikan adalah adanya momen sebagian orang seolah menyembah baliho. Benar-benar kacau banget. Baliho dipuja dan disembah? Really? Tapi ternyata memang ada orang aneh seperti itu. Tidak lama ini, ada juga video orang yang cium kaki Bahar. Parah memang.

Nah, baru-baru ini, ternyata aksi memuliakan baliho juga terjadi.

Sebuah video menayangkan sekelompok massa tengah membawa dan menjaga baliho bergambar Rizieq. Massa juga diketahui sambil mengayunkan sebuah celurit. Baliho tersebut dipasang di suatu jalan dengan latar belakang pematang sawah yang cukup luas.

Baliho Rizieq tersebut bertuliskan kalimat 'usut tuntas tragedi KM 50', di mana 6 pengawal dari Laskar FPI yang saat itu sedang melakukan pengamanan pada Rizieq, tewas.

Saya sungguh tak habis pikir, kok ada ya orang-orang model begini. Memasang baliho masih wajar lah. Tapi kalau sampai menjaga baliho, ini namanya aneh dan memprihatinkan. Apakah mereka semua sudah berstatus sultan sehingga tak perlu bekerja lagi, dan saking tak tahu harus melakukan apa, makanya mereka jaga baliho untuk membuang waktu?

Mending waktu luang dipakai untuk kerja atau cari uang ketimbang melakukan hal konyol begini. Inilah yang dimaksud dengan kelompok yang mau-mau saja jadi orang yang mudah dipengaruhi. Makanya Rizieq bisa bertahan sampai sekarang berkat mereka yang terlalu konyol.

Dapat apa sih mereka dengan menjaga baliho? Saya rasa tidak dapat apa-apa. Palingan cuma menarik perhatian dan dapat ucapan terima kasih saja.

Mereka bersusah payah jaga baliho, berpanas-panasan di bawah terik matahari, buang waktu untuk hal tak berguna, sedangkan Rizieq enak-enakan, hidup nyaman, dan mungkin lebih santai di penjara ketimbang pendukungnya. Apakah pendukungnya sadar selama ini cuma jadi pion? Dan kalau kena masalah, hampir dipastikan Rizieq tidak akan bantu terlalu banyak. Biasanya malah dilepehin dan disuruh berjuang sendiri.

Kalau saya disuruh jaga baliho, saya lebih baik tidur di rumah. Tak dapat apa-apa hanya sekadar heboh saja. Bagus di rumah nonton film atau main game. Kecuali dibayar mahal, masih bisa dipertimbangkan. Mungkinkah disuruh jaga baliho karena dibilang bakal masuk surga? Waduh, kalau beneran begini, tak ada obat lagi deh untuk menyadarkan mereka. Hari gini masih percaya dengan narasi surga yang dilontarkan Rizieq?

Mereka inilah tipikal orang-orang yang lebih mementingkan hal tak penting. Kalau mereka punya waktu menjaga baliho, bisa disebut kalau mereka ini tak ada kerjaan, kan? Apakah tak ada niat atau berusaha cari kegiatan yang bermanfaat?

Nanti kalau susah, ujung-ujungnya salahkan pemerintah yang tak mampu sediakan lapangan kerja. Pemerintah mengundang asing untuk investasi, mereka biasanya teriak pemerintah antek asing dan aseng. Kalaupun ada peluang, lebih sering disia-siakan. Mereka lebih suka bicara soal surga dan tiap hari di pikirannya selalu ada bayangan tentang junjungannya.

Entah apa yang membuat mereka sampai tidak logis seperti ini. Saya sempat melihat meme yang lucu tapi menohok di media sosial. Meme tentang penceramah agama yang menjual narasi tidak apa-apa miskin tapi masuk surga, tapi usai ceramah, penceramah agama ini pulang naik mobil mewah. Menohok dan harusnya bisa menyadarkan orang-orang seperti ini.

Kalau mereka mikir dikit aja, harusnya bisa sadar dan segera lari jauh-jauh. Rizieq mau beri mereka hidup yang layak dari pekerjaan jaga baliho? Rizieq bisa janjikan surga? Rizieq bisa membantu mereka saat dalam kesulitan? Kalau tidak, ngapain ikuti kata-kata dia, betul?

Kalau ngelesnya soal surga, ya sudahlah. Tak ada obat lagi.

Bagaimana menurut Anda?

Memangnya Dikasih Apa Sih Sampai Mau Jagain Baliho Rizieq?

Sumber Utama : https://seword.com/politik/memangnya-dikasih-apa-sih-sampai-mau-jagain-baliho-3mJYkkNshC

Alamak! Menyerang Prabowo? Yusuf Martak Curhat Atas Kegagalannya Jualan Agama?

Lucu! Seandainya Prabowo-Sandiaga menang pada pilpres 2019, Yusuf Martak tidak akan mengatakan bahwa dirinya tidak akan pernah mendukung Prabowo-Sandiaga. Lagi-lagi, Yusuf Martak ini hanya mengandalkan agama sebagai jualan politiknya, ada banyak kepentingan Martak agar bisnisnya aman. Namun sayangnya, di tangan pemerintahan Jokowi, Martak seperti tak berkutik.

Pasca pilpres 2019 Prabowo pun mau bergabung pada pemerintahan Jokowi, termasuk juga Sandiaga, tentu saja ini membuat sakit hati para pendukungnya, termasuk Yusuf Martak. Martak dan sekutunya tidak akan pernah mau move-on, dan lagi-lagi agama menjadi jualannya, karena itulah ia tetap di GNPF atau gerakan yang tidak ada manfaatnya, dan isinya bukanlah para ulama yang mumpuni, hanya orang-orang yang memakai tampilan agama untuk berburu kekuasaan.

Penyesalan itu selalu datang belakangan, kalau di awal namanya pendaftaran. Martak mengatakan bahwa dirinya atau pihaknya tidak pernah mendukung Prabowo Subianto pada pilpres 2019, hal itu dikatakannya di channelnya Refli yang juga termasuk dalam barisan orkes sakit hati.

Martak dan gerombolannya tidak akan pernah memperjuangkan umat, justru dengan menjadikan agama sebagai alat berpolitik, masih banyak umat yang masih saja goblok, mau-maunya digiring-giring, bahkan efeknya muncul aliran penyembah baliho. Padahal agama itu harusnya mencerahkan, membawa pemeluknya pada kehidupan yang berlogika sehat, bukan menyembah berhala baliho.

Menurut Martak, bahwa ia mendukung Prabowo kesannya terpaksa saja, karena ia dan gerombolannya termasuk PKS ingin Jokowi lengser, karena Jokowi dianggap banyak kekurangan dan tidak ada perubahan. Padahal, tidak ada jaminan juga kalau seandainya Prabowo menang, apakah Indonesia mengalami kemajuan yang pesat, jangan-jangan justru malah banyak kongkalikong yang terjadi, termasuk dirinya akan menikmati kemenangan ini.

Maka pantaslah Martak berkata demikian karena dirinya sudah banyak melakukan upaya tapi juga tidak berhasil. Dan ini pasti kecewa berat. Dan Martak beserta gerombolannya tidak akan pernah berhenti untuk mendapatkan tujuannya, yaitu kasus lapindo aman dan dilupakan, iya kan?

Martak ini terus menutup mata dan hatinya atas kinerja Jokowi yang terus saja membangun. Tapi begitulah, barisan sakit hati ini tidak akan pernah senang dengan prestasi orang yang dibencinya.

GNPF yang dimotori oleh Yusuf Martak ini sebenarnya sudah keok, tidak lagi bisa diandalkan, para bohir pun mulai berpikir keras, apakah gerombolan ini masih tetap digunakan atau tidak lagi? Pasalnya semua peta politik yang mereka rintis tampaknya sudah rusak, ambyar. Rakyat Indonesia mayoritas kesal dengan para kelompok penjual agama ini. Para penjual agama ini akan terus mendapatkan perlawanan dari rakyat yang masih waras.

Ketika ditanya tentang arah dukungannya pada pilpres 2024, Martak belum mengambil sikap, sudah pasti ini terkait dari para bohir. Semua disetir bohir, kumpulan yang mengatasnamakan agama atau ulama bukanlah para ulama yang berkaliber atau ulama yang sejati, tapi mendadak ngulama, menjual ayat dan mayat demi mendapatkan fasilitas dan deal-deal politik kekuasaan.

Kita sebagai rakyat yang waras, yang sudah muak dengan jualan agama, tidak bisa tinggal diam, begitu mereka masih jualan agama, kita wajib bersuara. Mereka ini bukan malaikat, bukan nabi, bukan ulama yang punya otoritas, mereka cuma para gerombolan yang memakai tampilan agama, memakai kopiah, sorban dan sejenisnya agar tampak garang, agar tampak dibilang seorang pejuang murni demi negara dan agama. Tapi, semuanya adalah omong kosong, nyata-nyata mereka ini bukan ulama, bukan utusan Tuhan, bukan orang yang punya otoritas mengatur rakyat atau umat Indonesia.

Kini, Rizieq bahkan Bahar yang digadang-gadang bisa menjadi tenaga penggerak umat, tak berkutik lagi. Martak dan koleganya bingung, sosok siapa yang akan menggantikan Rizieq dan Bahar? Memang selayaknya, para gerombolan orang yang haus kekuasaan ini jangan pernah lagi diberi tempat di negeri ini. Kasihan umat yang tiba-tiba diprovokasi dan menjadi brutal, namun setelah itu, umat tidak mendapatkan apa-apa lagi. Umat merasa berjuang, tapi pret dah, cuma jadi kadrun yang goblok, tidak merasa sedang dimanfaatkan atau dijual oleh para penjual agama semacam Martak ini dan koleganya.

Dari serangkaian pengamatan atas fenomena penggunaan agama untuk meraih kekuasaan, disinyalir atau diduga bahwa JK, Ma’ruf Amin, dan SBY, atau pun Riza Chalid, punya peranan yang besar, sehingga itulah kenapa banyak umat yang masih saja nyaman dengan berideologi kadrun. Tentu saja jika ada kalimat seperti itu, mungkin hanya para ahli intelejen yang bisa memetakan atau menjelaskan ini, tapi tidak semudah itu kan?

Terlepas benar atau tidaknya peran mereka, lagi-lagi semuanya harus kembali pada perjuangan kaum waras. Para kaum waras terus berusaha memahamkan, mencerahkan, tapi tidak terjebak dengan permainan licik mereka. Semua berangkat dari hati yang bersih bahwa negara harus bebas dari para gerombolan penjual agama itu.

Ketika Martak mengatakan bahwa PA 212 tidak dibayar dan tidak dikontrak waktu mendukung Prabowo Subianto, ini sulit dipercaya, orang yang menjual agama bagaimana bisa dipercaya, umat saja dibuat kocar-kacir dan menjadi dungu, maka ketika berkata bahwa tidak dibayar, itu hanya sebuah kentut.

Orang waras tidak akan pernah percaya apa yang disampaikan Martak. Yang jelas, saat ini dia kecewa karena tidak mendapatkan lahan-lahan kue kekuasaan, makanya menjadi sakit hati dan mengeluarkan unek-uneknya di channelnya Refli Harun. Duh kasihan juga para gelandangan politik.

Politik itu memang dinamis, tapi kebanyakan diwarnai dengan kemunafikan. Menggunakan agama untuk memburu kekuasaan, itu adalah bagian kemunafikan beragama. Jualan ayat dan mayat begitu sadis yang pernah terjadi di arena pilkada DKI 2017 tak akan pernah dilupakan warga, lihatlah, warga dapat apa? Setiap hujan dan terjadi banjir, warga menderita, semua program Anies tidak ada yang terwujud, kentut semua.

Sungguh sangat berbahayanya jualan agama demi kekuasaan, semua bidang bisa dirusak.

Kata si Martak, Prabowo dapat uang sekarungan hasil dari sumbangan umat, kasihan benar umat itu kalau itu benar, jangankan uang dalam karungan, celengan mesjid, dan bahkan mesjid bisa menjadi alat politik, maka karena itulah kenapa JK tidak setuju kalau mesjid wajib dipantau dari gerakan radikalisme yang berbahaya itu. Mmhhh....JK JK....

Apapun yang disampaikan si Martak, tidak bisa dipercaya, mungkin saja ia justru yang mendapatkan banyak uang karungan dari gerakannya jualan agama? Iya kan? Intinya, Martak ini kecewa, dan akan benar-benar bangkrut, ia akan sepi job, ia akan dibuang oleh para Bohir, karena para Bohir ini mencari cara lain untuk meraih kekuasaan.
Alamak! Menyerang Prabowo? Yusuf Martak Curhat Atas Kegagalannya Jualan Agama?

Sumber Utama : https://seword.com/politik/alamak-menyerang-prabowo-yusuf-martak-curhat-xga0AZJwaI

Pemindahan IKN Menurut Sudut Pandang Kandidat Capres

Presiden Jokowi dikenal gila kerja. Sejak masih menjadi pengusaha meubel, walikota Solo dan Gubernur DKI Jakarta. Jokowi bekerja siang malam demi tercapainya apa yang telah menjadi program dirinya.

Delapan tahun sudah Jokowi menjadi Presiden Republik Indonesia. Dua tahun lagi, Jokowi akan lengser sesuai konstitusi. Sempat beredar wacana Jokowi 3 periode, tapi Jokowi sendiri tegas menolaknya.

Jokowi memang istimewa. Ketika tokoh lain bersusah payang jadi Presiden, eh diminta menjadi Presiden 3 periode Jokowi malah menolak. Banyak masyarakat merasa puas dengan kinerja Presiden Jokowi. Hal ini terlihat dari hasil survey yang menyatakan tingkat kepuasan masyarakat terhadap kerja Jokowi mencapai 71%.

Padahal Jokowi sudah tidak berkepentingan untuk Pilpres 2024 mendatang. Kerjanya mau bagus, biasanya bahkan jelek sekalipun dirinya tidak dapat mencalonkan lagi jadi Capres. Tapi Jokowi ingin mewariskan sesuatu yang bermanfaat bagi masyarakat sebanyak-banyaknya.

Mulai dari pembangunan jalan tol yang masif dan merata, bandara, bendungan, dan lain sebagainya. Bahkan setelah hanya wacana puluhan tahun di era Jokowi mampu dieksekusi. Pemindahan Ibu Kota Negara (IKN) menjelang akhir tahun jabatan Jokowi mulai dikerjakan.

Rencana pemerintah apapun termasuk pemindahan Ibu Kota Negara (IKN) seperti biasa ada saja yang menolak. Uniknya yang menolak ya orangnya itu-itu saja. Padahal menurut beberapa survey, isu pemindahan Ibu Kota Negara (IKN) ternyata disetujui peserta survey.

Saya pernah mengikuti survey pendapat tentang pemindahan Ibu Kota Negara (IKN). Ketika saya mengikuti alias belum ditutup ternyata orang yang setuju mencapai 94%. Wow banget. Sisanya tidak setuju, ragu-ragu dan masa bodoh.

Rencana pemindahan ibu kota negara (IKN) dari Jakarta ke Kalimantan Timur ikut menjadi perhatian sejumlah tokoh yang ramai ramai dibicarakan akan bersaing mengincar RI 1 pada Pemilu 2024. Mulai dari Prabowo Subianto, Ganjar Pranowo, Anies Baswedan , dan Ridwan Kamil, memberikan pandangan terhadap rencana yang sudah ada sejak era Presiden Soekarno itu.

Pemindahan ibu kota negara baru yang diberi nama Nusantara ini, resmi dimulai sejak UU IKN disahkan di DPR pada Januari lalu. Pembangunan fisik Ibu Kota Negara di Kaltim akan dimulai pada pertengahan tahun 2022. Mampukah kurun waktu 2 tahun pembangunan fisik IKN bisa terwujud? Karena Presiden Joko Widodo (Jokowi) merencanakan upacara HUT RI di tahun 2024 akan dilakukan di lokasi ibu kota negara baru.

Ketua Umum Partai Gerindra Prabowo Subianto yang kini menjabat sebagai Menhan menjadi kandidat capres terkuat di berbagai survei diikuti Gubernur Jawa Tengah. Partai Gerindra pun bertekad mengawal ketua umumnya kembali di Pilpres.

Meski begitu, Prabowo belum mau banyak bicara. Ia justru terus menunjukkan komitmennya sebagai anak buah Presiden Joko Widodo (Jokowi) yang setia, meski dalam 2 pilpres sebelumnya merupakan saingan yang kuat.

Indikasinya adalah dengan mendukung rencana pemindahan ibu kota negara baru, yang menjadi rencana besar Jokowi. Jauh-jauh hari, Prabowo telah menyampaikan komitmennya untuk IKN Nusantara.

Prabowo Subianto mengatakan, pemerintah harus punya keberanian untuk memindahkan ibu kota negara. Sebab, pusat pemerintahan dan pusat ekonomi mesti dipisahkan. Hal ini disampaikan Prabowo saat mendampingi Presiden Joko Widodo meninjau sodetan akses jalan menuju ibu kota negara (IKN) di Kalimantan Timur, Selasa (24/8/2021).

Kemudian Ganjar Pranowo. Dalam sejumlah survei, elektabilitas Ganjar Pranowo terus memepet Prabowo Subianto. Gubernur Jawa Tengah itu pun ramai disebut-sebut akan menjadi pengganti Jokowi dari PDIP pada Pilpres 2024. Walaupun PDIP sendiri sampai saat ini terkesan cuek dengan potensi Ganjar Pranowo.

Terlepas dari itu, Ganjar Pranowo tetap menunjukkan kesetiannya kepada Presiden Jokowi. Dalam setiap kunjungan Jokowi ke Jateng, Ganjar selalu tampak menemani. Komitmen yang sama disampaikan Ganjar terhadap rencana pemindahan ibu kota negara. Ia pun mendukung rencana Presiden Jokowi yang akan menjadikan IKN Nusatara menjadi kawasan hijau, ramah lingkungan dan tidak ada industri klaster.

Kandidat Capres ketiga adalah Gubernur DKI Jakarta. Anies Baswedan berada di posisi ketiga dalam survei-survei elektabilitas capres. Gubernur DKI Jakarta tersebut, banyak mendapat dukungan dari tokoh-tokoh yang tidak berpihak kepada Jokowi.

Mengenai rencana pemindahan ibu kota dari Jakarta ke Kaltim, Anies tidak terkesan memberikan dukungan. Dalam pernyataan terbarunya, Anies Baswedan memberikan kritik terkait rencana pemindahan ibu kota negara. Ia menilai pemindahan IKN ke Kaltim tidak akan menyelesaikan masalah kemacetan di Jakarta.

Setuju dan tidak setiap orang mempunyai pendapat masing-masing. Yang terpenting tidak sampai membuat keributan yang hanya membuang-buang energi saja.

Pemindahan IKN merupakan niat baik dari seorang Jokowi yang berusaha mewujudkan cita-cita atau keinginan para pemimpin sebelumnya. Hanya saja Jokowi yang berani mewujudkannya.

Pemindahan IKN Menurut Sudut Pandang Kandidat Capres

Sumber Utama : https://seword.com/politik/pemindahan-ikn-menurut-sudut-pandang-kandidat-0UuWqaI0F6

Alasan Eks Waketum Gerindra Usulkan Jabatan Presiden 3 Periode
JAKARTA -
Mantan Wakil Ketua Umum Partai Gerindra Arief Poyuono mengusulkan Amendemen UUD 1945 untuk mengubah masa jabatan presiden menjadi tiga periode. Dalam keterangan tertulisnya yang diterima SINDOnews hari ini, Arief Poyuono pun menjelaskan mengapa dirinya mengusulkan hal tersebut. "Bisa El Clasico SBY VS Jokowi di Pilpres 2024 kalau jabatan Presiden boleh tiga periode. Seru, seru, seru nih," kata Arief Poyuono, Sabtu (13/3/2021). Menurut Arief, masa jabatan presiden yang hanya boleh dua kali periode perlu ditinjau kembali karena dianggap tidak memenuhi unsur kebutuhan bagi negara ini. Tujuannya, kata dia, agar pemerintahan atau eksekutif bisa lebih efektif dalam menjalankan janji-janji kampanyenya saat Pilpres. 

"Karena itu amandemen UUD 1945 khususnya Pasal 7 yang menyebut jika presiden dan Wapres menjabat lima tahun dan bisa dipilih kembali pada periode selanjutnya perlu dilakukan kembali," ungkapnya. Dia berpendapat, amandemen itu membuka pintu bagi Presiden Jokowi dan Presiden RI Keenam Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) untuk kembali maju di Pilpres 2024. "Kan aneh juga masa jabatan presiden hanya boleh 2 periode jika terpilih dan bisa mencalonkan lagi. Sedangkan masa jabatan seorang anggota legislatif kok tidak ada batasannya," kata Arief. Dia pun mempertanyakan apa dasar memutuskan masa jabatan seorang presiden hanya dua periode. Kemudian, kata dia, masa jabatan presiden dua periode itu meniru negara mana. "Kalau mencontoh Amerika Serikat ya enggak bener dong, karena kan di Amerika Serikat hanya ada dua partai politik dalam setiap Pemilu," katanya. Sedangkan di Indonesia, kata Arief, jumlah partai politik sekitar puluhan. Akhirnya, lanjut dia, setiap presiden terpilih di Indonesia tidak pernah diusung oleh partai yang memiliki mayoritas kursi di parlemen. "Akhir yang ada setiap presiden yang terpilih tidak pernah langsung bisa kerja di tahun pertama dan kedua dimana masih harus bongkar pasang kabinetnya akibat pemilihan menterinya didasarkan pada dagang sapi," ujarnya. Apalagi, sambung dia, iklim stabilitas internal Parpol di Indonesia bisa dikatakan tidak stabil. "Ada yang tahu-tahu KLB, lalu ganti ketua umum dan pengurus kemudian mengganti kader partainya yang duduk di kabinet, karena kadernya itu bukan faksi dari ketua umum atau pengurus yang terpilih," pungkasnya.

Alasan Eks Waketum Gerindra Usulkan Jabatan Presiden 3 Periode 

Mantan Wakil Ketua Umum Partai Gerindra Arief Poyuono mengusulkan, agar Amendemen UUD 1945 untuk mengubah masa jabatan presiden menjadi tiga periode.

Sumber Utama : https://nasional.sindonews.com/read/363884/12/alasan-eks-waketum-gerindra-usulkan-jabatan-presiden-3-periode-1615694597

Jokowi Sebut Pers Punya Tugas Besar Sukseskan Agenda Penting Negara

Kendari, Beritasatu.com – Presiden Joko Widodo (Jokowi) menyebutkan pers Indonesia mempunyai tugas besar untuk menyukseskan agenda penting negara, salah satunya adalah Konferensi Tingkat Tinggi (KTT) G-20 di tahun ini. Indonesia telah menjadi Presidensi G-20.

“Tahun 2022, saat mata dunia tertuju pada Indonesia, pers punya tugas besar untuk menyukseskan agenda-agenda penting tersebut,” kata Jokowi saat memberikan sambutan dalam acara puncak Hari Pers Nasional (HPN) 2022 yang digelar di Masjid Apung, Kendari, Sulawesi Tenggara, Rabu (9/2/2022). Jokowi menghadiri acara tersebut secara virtual dari Istana Kepresidenan Bogor, Jawa Barat.

Jokowi mengungkapkan, komitmen untuk transisi energi dan transformasi digital ini akan diangkat dalam Presidensi Indonesia di G-20 di Tahun 2022 ini. Indonesia akan menjadi tuan rumah berbagai acara berskala internasional.

“Ini sebuah kehormatan dan kepercayaan yang sangat berharga dan kesempatan yang sangat baik untuk menunjukkan kemajuan-kemajuan kita yang telah kita capai, sekaligus meningkatkan kontribusi pada upaya pemulihan ekonomi global,” ujar Jokowi.

Karena itu, Jokowi mendorong pers Indonesia agar dapat memanfaatkan sebaik-baiknya kesempatan berharga yang Indonesia miliki dengan mengabarkan kabar baik dan kabar kebaikan.

“Menunjukkan ketangguhan dan kekuatan kita, kekompakan, persatuan, gotong royong dan solidaritas yang menjadi modal penting kita dalam menghadapi pandemi,” terang Jokowi.

Pemerintah menyadari, lanjut Jokowi, bahwa kerja besar transformasi bangsa ini masih banyak kekurangan dan keterbatasan. Karena itu pemerintah selalu terbuka menerima masukan masukan dari insan pers agar langkah-langkah besar ini betul-betul bisa tereksekusi dan dijalankan di lapangan sehingga membawa perubahan dan memberikan kontribusi besar bagi kemajuan Indonesia.

Sumber Utama : https://www.beritasatu.com/nasional/889015/jokowi-sebut-pers-punya-tugas-besar-sukseskan-agenda-penting-negara

Re-post by MigoBerita/ Rabu 09022022/14.07Wita/Bjm