Arsip Migo Berita

Siapa Pro Teroris !!! Narasi Dina Sulaeman vs Narasi Artis FAUZI BADILLA cs

Migo Berita - Banjarmasin - Siapa Pro Teroris !!! Narasi Dina Sulaeman vs Narasi Artis FAUZI BADILLA cs (Ustadz Bachtiar Natsir, Anis Baswedan dll). Terlepas apapun Islam yang dipegang mereka (Wahabi, Sunni, Syi'ah, Muhammadiyah, NU, HTI, FPI hingga ACT), maka ada baiknya membaca artikel yang kita kumpulkan dengan kehati-hatian dan hingga tuntas agar tidak gagal paham, temukan berbagai fakta yang menarik, membaca fokus pada Siapa Pro Teroris dengan Narasi yang berbeda-beda. Semoga pembaca tercerahkan, entah apapun nanti kesimpulan Anda.

Polemik Donasi Indonesia, Fauzi Baadilla ke Dina Sulaeman: Secara Tidak Langsung Anda Tuduh Pemerintah Turki Dukung Terorisme

Selasa, 30 Maret 2021 18:26

FAJAR.CO.ID, JAKARTA– Aktor Fauzi Baadilla mengeluarkan statement keras untuk Pakar Geopolitik Timur Tengah, Dina Sulaeman, yang menyebut donasi dari Indonesia untuk membantu korban perang di Suriah dialirkan ke teroris.

Fauzi yang selama ini bergabung ke lembaga kemanusiaan dan bahkan terjun langsung ke Suriah jelas membantah hal tersebut. Lewat video yang diunggahnya di akun Instagram-nya, Selasa (30/3/2021), dia membalas tudingan itu dengan tegas. 

Diapun secara jelas menyebut Dina sebagai tokoh Syiah. Ya, Dina selama ini dicap sebagai penganut Syiah di Indonesia.

Fauzi menyebutkan setiap sumbangan yang salah satunya dijalankan Fauzi dkk sangat diawasi ketat pemerintahan Turki.

“Untuk menanggapi pernyataan tokoh Syiah Dina Sulaeman. Jadi gini, tiap bantuan yang masuk pada korban perang di Suriah itu semua harus melalui birokrasi, screening, dicek, dipantau dikawal sama organisasi kemanusiaan di Tukri juga diawasi ketat oleh pemerintahan Turki,” ujarnya.

Ditegaskannya, statement Dina itu sama saja dengan menyebut pemerintah Turki pro terorisme. 

“Jadi kalau Anda menuduh bahwa (donasi) itu dialirkan kepada pihak teroris, secara tidak langsung Anda menuduh pemerintahan Turki mendukung terorisme, sebelum Anda berbicara mending anda konsultasi dulu sama kedutaan Turki yang di Indonesia. Sebal kan?,” tandasnya.

Fauzi menyebutkan apa yang disampaikannya adalah pendapat pribadi sebagai Duta Kemanusiaan. “Pernyataan pribadi saya dalam kapasitas saya sebagai Duta Kemanusiaan yang pernah membersamai & mengantar bantuan-bantuan dari Masyarakat Indonesia untuk siapapun saudara-sauadra kita baik di dalam maupun di Luar Negeri yang sedang terdampak bencana atas tudingan men support terrorisme,” jelasnya.

Pemutar Video

00:0000:53

Sekadar mengingatkan, kemarin, Senin (29/3/2021), Dina Sulaeman mengutarakan tuduhannya di Podcast Deddy Corbuzier. “Yang mengumpulkan dana terorisnya, yang menggalang dana tentu lembaga donasi ya. Dan mereka tidak mengatakan itu untuk teroris. Tapi rekam jejaknya, foto-foto yang beredar, video yang beredar itu bisa kita deteksi bahwa sumbangan dari kita bangsa Indonesia ini jatuh ke tangan teroris. Ada videonya tersebar,” ungkapnya.

Dia mencontohkan saat 2016 ketika Aleppo, salah satu kota besar di Suriah berhasil diambil alih pemerintah dari tangan teroris. Misalnya Aleppo 2016 itu selama 4 tahun dikuasi oleh teroris, memang bukan ISIS tapi sama saja, jangan bingung soal nama, lihat ada ideologinya sama. Mereka mengakui jihad. Kemudian 2016 berhasil dikuasai pemerintah dibantu Rusia. Kemudian daerah-daerah yang tadinya dikuasi teroris akhirnya bisa didatangi wartawan,” tuturnya.

Salah satu media yang ke sana disebutnya Euro News. Jurnalis itu datang ke salah satu bekas sekolah yang selama ini digunakan teroris sebagai gudang penyimpanan makanan. “Rakyat Aleppo yang kelaparan selama ini kemudian menyerbu gudang makanan itu, antara dus (makanan simpana teroris itu) yang dibawa tertulis Indonesia. Salah diantaranya, dan itu jelas (bacaanya Indonesia),” ungkapnya.

Dina menyebut itu hanya salah satu contoh, ada lagi lanjutnya tim misi medis ke Suriah, yang menyalurkan donasi lalu difoto dan penerima donasinya harus diabadikan dengan memegang bendera atau simbol kelompok teroris.

Apa yang diutarakan Dina sejatinya telah memantik reaksi di kolom YouTube Deddy sejak kemarin. Hingga akhirnya Fauzi benar-benar terusik dan angkat bicara hari ini.

Fauzi sendiri sempat berbagi di akun Instagram-nya beberapa waktu lalu, bahwa sejak dirinya terjun menjadi duta kemanusiaan untuk korban-korban perang di Suriah, ada yang membloknya untuk tidak masuk ke layar kaca lagi. Namun, Fauzi tampak cuek dan tetap berkarya. Salah satunya, dia juga berakting di film tentang anak korban perang Timur Tengah berjudul ‘Hayya’.

Film Hayya sendiri mendapatkan penghargaan ‘Excellence Award dari Sinematek Indonesia. Hal itu juga diunggahn Fauzi di akunnya, hari ini.

“@hayyathemovie2 alhamdulillah, hadza min fadhli rabbi, Film Hayya 1 mendapat penghargaan !! Excellence Award dari Sinematek Indonesia. Film Hayya 2 akan segera release setelah kondisi pulih. Bismillahirrahmanirrahiem. (Film @hayyathemovie2 menceritakan tentang anak korban perang timur Tengah dan berusaha bertahan hidup melewati kondisi2 sulit),” tulisnya pada caption foto dirinya menerima penghargaan tersebut. (pojoksatu/fajar)

Fauzi Baadilla

Sumber Utama : https://fajar.co.id/2021/03/30/polemik-donasi-indonesia-fauzi-baadilla-ke-dina-sulaeman-secara-tidak-langsung-anda-tuduh-pemerintah-turki-dukung-terorisme/?page=all

Fauzi Baadilla Dan ACT Gerah Dengan Analisa Dina Sulaeman. Mereka Pendukung Terorisme???

Gegara Deddy Corbuzier mengundang Dina Sulaeman di postcastnya, kini para kadrun pengumpul donasi kebakaran jenggot. Analisa Dina Sulaeman seperti membuka kedok mereka. Dan rakyat pun tahu siapa pendukung terorisme selama ini yang berlindung atas nama kemananusiaan yang berlabel islam.

Padahal Dina Sulaeman tidak menyebut nama lembaga dan para pendukungnya itu. Sepertinya mereka menyadari bahwa tidak lama lagi mereka akan segera dikuliti. Dan karena itulah segala daya dikerahkan. Termasuk mengerahkan para buzzer peliharaan mereka.

Lihat saja para komentator di lapak-lapak mereka. Bahkan di kolom komentar channel Deddy Corbuzier mereka aktif melakukan kampanye percobaan pembusukan nama Dina Sulaeman. Tapi sayangnya itu tak akan berguna.

Tak cukup mengerahkan seorang youtuber yang selama ini hanya membahas soal jurus-jurus silat si Harry Pras itu, ACT yang kebakaran jenggot ini pun mengerahkan aktor yang bernama Fauzi Baadilla.

Fauzi ini pada waktu kampanye pilpres adalah pendukung Prabowo-Sandi. Dan termasuk yang menggaungkan tagar “2019 Ganti presiden” namun alhamdulillah tidak berhasil. Coba kalau berhasil? Wow, aksi terorisme dan persekusi besar-besaran bisa lebih cepat terjadi kan? Pengajian-pengajian terorisme bisa merebak kemana-mana, dan dampaknya bisa lebih gawat dari Suriah.

Kalau mereka berhasil berkuasa, tidak menutup kemungkinan "dilegalitaskan" ajaran mereka leluasa masuk ke berbagai lembaga dengan dukungan kekuasaan yang diraihnya. Dan itu berarti akan banyak budaya dan praktek-praktek keagamaan yang sudah menjadi tradisi seperti maulid dan sebagainya bisa dihancurkan. Karena kalau sudah dijadikan undang-undang atau aturan, mereka semakin mudah merobohkan itu semua.

Fauzi, jelas saja aktor yang sudah tidak laku lagi. Jarang terdengar gaungnya di publik, apalagi dukungannya pada pilpres kalah total. Meskipun pada akhirnya Prabowo bergabung di kabinet Jokowi. Tetapi bagai Fauzi, tentu saja butuh donasi agar bisa survive.

Tapi entahlah, apakah dirinya yang berada dan mendukung ACT sangat menguntungkan dirinya? Dalam artian, ia didaulat jadi figur di ACT agar donasi banyak masuk sehingga ia pun dapat semacam honor atau royalti gitu?

Jika itu benar, tentu saja jelas alasannya membela ACT dan mau berangkat ke kota Idlib di Suriah untuk membuat semacam testimoni dengan narasi yang lebay agar lebih banyak lagi bantuan yang mengalir masuk ke ACT.

Dari sini sudah bisa ditebak dan cukup beralasan kenapa mereka kebakaran jenggot dengan tayangan postcast Deddy Corbuzier dengan nara sumber Dina Sulaeman? Dan Kenapa Fauzi pun dikerahkan? Tentu saja semua ini agar tak terbongkar apa-apa yang telah dilakukannya.

Reaksi Fauzi Baadilla soal analisa Dina Sulaeman pun dibongkar juga, dan pemirsa bisa ikut menyimak bagaimana mereka dikuliti dengan sangat memalukan. Nah, berikut ada keterangan yang menarik dari Ismail Amin Passanai soal reaksi Fauzi ini. Bisa dilihat langsung di akun facebook Ismail Amin Passanai, seorang pelajar dari luar negeri yang juga mengamati persoalan di Timur Tengah : https://www.facebook.com/ismail.amin.52/posts/10216697440381694

Atau saya copas saja enam point dari tulisan Ismail Amin ini, supaya lebih mudah membacanya langsung disini :

*Mas Fauzi .... belajar geopolitik itu penting... *

Pertama, kapan Idlib dilanda perang? Atau kapan baru diserang oleh tentara nasional Suriah? Ketika Idlib dikuasai pemberontak kan? Yang itu juga pemberontaknya adalah kombatan-kombatan asing yang datang dari luar Suriah... artinya tentara nasional Suriah g ada masalah dengan warga sipil Idlib apalagi kaum perempuan dan anak-anak kecilnya... So, sumber masalahnya ada pada upaya perebutan wilayah dari negara yang berdaulat.. dan menurut anda ketika itu terjadi, apa pemerintah Suriah hanya diam dan membiarkan saja? Dan memang perang akan tragis dengan selalu warga sipil yang menjadi korban.. silakan cek berita, mengapa banyak korban warga sipil yang berjatuhan dari upaya tentara nasional Suriah merebut kembali wilayah-wilayahnya, ya karena kelompok pemberontak menjadikan warga sipil sebagai tameng hidup untuk kepentingan membuat narasi, tentara nasional Suriah membantai warga sipil Suriah... supaya sampai artis seperti anda harus ikut-ikutan menggalang dana buat eksistensi mereka...

Kedua, sebagaimana yang dikatakan bu Dina Sulaeman, foto anda ini sedang berada di Idlib. Idlib adalah di antara kota yang berada dalam kendali teroris dan pemberontak. Anda bisa masuk dengan aman ya karena pemberontak merasa anda bagian dari mereka. Dan menyalurkan bantuan ke warga sipil Idlib yang pro pemberontak. Apa anda tidak mau tahu bagaimana nasib warga sipil asli Idlib yang tidak pro pemberontak? Dibantai mas.

Ketiga, anda bilang bahwa anda masuk ke Idlib melalui Turki dan dikawal pasukan keamanan Turki, sehingga ketika bu Dina mengatakan bahwa donasi buat Suriah tidak jarang malah diperuntukkan buat pemberontak anda bilang berarti Turki yang ngizinin kami masuk Idlib dan mengawasi penyaluran bantuan kami adalah juga pendukung teroris dong??. Nah disini pentingnya anda belajar geopolitik. Turki bukan hanya mendukung pemberontak untuk menjatuhkan Assad, Turki bahkan menginvasi Suriah bagian utara disaat Suriah harus menghadapi masalah internal yang berat... anda jangan polos-polos amat mengagumi Erdogan...

Keempat, untuk wilayah-wilayah yang berhasil direbut kembali pemerintah Suriah, apa ada lagi penggalangan dana buat mereka?. Sebut saja Aleppo. Apa masih ada tagar save Aleppo? Ketika Aleppo dibangun kembali oleh pemerintah Suriah, para pengungsi sudah balik kembali ke kampung halamannya yang dulunya damai, kenapa tidak ada lagi penggalangan dana untuk mereka yang telah hancur rumah dan properti-properti pribadinya? Yang telah hancur rumah sakit, sekolah dan masjid-masjidnya? Dan pertanyaan yang harus dijawab, kok rezim Assad tidak lagi melanjutkan pembantaian di Aleppo?. Jawaban saya, ya karena tidak ada lagi pemberontak yang harus diperangi di Aleppo...!

Kelima, kalau memang bantuan dan aktivitas kemanusiaan anda murni kemanusiaan dan tidak ada motif politik dan tendensi sektarian.. murni untuk membantu anak-anak Suriah korban perang... kenapa anda tidak melakukan aktivitas anda secara legal dan resmi dengan meminta izin dan koordinasi dengan pemerintah Suriah?. KBRI Damaskus tentu akan membantu dan menfasilitasi. Kenapa anda lewat belakang? Kenapa anda tidak memberi penghargaan sedikitpun pada yang punya wilayah dan yang memiliki otoritas di Suriah?

*Keenam, apa warna bendera nasional Suriah mas Fauzi? Jawaban anda akan menunjukkan anda berada di pihak mana.. pemberontak atau Suriah... *

*Ini saja dulu... *

Hormat saya Ismail Amin Pasannai https://www.instagram.com/p/CNE72cpHQmR/

Nah, begitulah pemirsa, kita bisa tahu dengan seksama siapa saja para pendukung terorisme itu. Dan bagaimana ideologi terorisme itu bisa bergerak dengan dukungan dana yang tidak sedikit.

Dan mungkin saja selama ini, anda melihat sebuah spanduk yang gambarnya sangat memiriskan mengundang iba, lalu di bawahnya tertulis "Salurkan infaq terbaik anda" Kemudian anda tergerak menyumbang?

Bisa jadi anda telah menyalurkan dana anda ke kelompok pemberontak di Suriah alias teroris secara tidak langsung melalui lembaga pendukung terorisme, kelompok yang telah mengacaukan negara orang lain yang sudah berdaulat.

Fauzi Baadilla Dan ACT Gerah Dengan Analisa Dina Sulaeman. Mereka Pendukung Terorisme???

Sumber Utama : https://seword.com/politik/fauzi-baadilla-dan-act-gerah-dengan-analisa-dina-T2DKXIq9qw

Ke Perbatasan Suriah, Fauzi Baadilla Disangka Dukung Teroris

Wahyu Nugroho | Sumarni

Suara.com - Aktor peran Fauzi Baadilla geram kepergiannya ke perbatasan Turki - Suriah beberapa waktu lalu mendapat respon miring. Kata Fauzi Baadilla, ada sejumlah warganet yang menuding keberangkatannya ke sana berkaitan dengan terorisme.

"Kadang-kadang suka aneh warganet, komennya suka aneh. Ke Turki, ke Suriah 'Wah mendukung terorisme, mendanai terorisme', itu nggak masuk akal," ujar Fauzi Baadilla ditemui di kawasan Kapten P. Tendean, Mampang Prapatan, Jakarta Selatan, Selasa (29/5/2018).

Padahal, lelaki 38 tahun ini bertandang ke daerah konflik tersebut untuk menjalani misi kemanusiaan. Fauzi Baadilla menyalurkan bantuan bagi para korban di sana melalu Aksi Cepat Tanggap (ACT).

Karena itu, duda Senk Lotta ini pikir-pikir lagi apabila diajak pergi ke perbatasan Turki - Suriah. Ia menegaskan tidak mau berangkat apabila tak berkaitan dengan misi kemanusiaan.

"Ke sana lagi mau tapi untuk kemanusiaan. Ini aja kita melakukan tugas-tugas kemanusiaan tapi dituduhnya yang nggak nggak. Suka bingung gue. Ajaib pola pikirnya warganet," kata Fauzi Baadilla.

"Soalnya mereka (warganet) kayak komentar gini, 'Oh baru balik dari Turki - Suriah ini pendukung teroris' apaan? Kita melakukan misi kemanusiaan kok. Nggak masuk akal aja komentar," sambungnya lagi.

Fauzi Baadila (Sumarni/Suara.com)

Pemain Di Balik 98 ini pun berharap agar kepergiannya ke sana tidak mengundang salahpaham. Ia juga meminta pewarta supaya tidak mengarahkan pemberitaan ke arah negatif.

"Pokoknya kita kan ke sana atas dasar kemanusiaan. Jadi jangan diplesetin," pungkasnya.

Ke Perbatasan Suriah, Fauzi Baadilla Disangka Dukung Teroris
Fauzi Baadila (Sumarni/Suara.com)

Sumber Utama : https://www.suara.com/entertainment/2018/05/30/085918/ke-perbatasan-suriah-fauzi-baadilla-disangka-dukung-teroris


BACHTIAR NASIR & GERAKAN HTI DI INDONESIA


Lega juga mendengar kabar Bachtiar Nasir dijadikan tersangka oleh Polri.

BN ditersangkakan dalam tindak pidana pencucian uang. Uang hasil penggalangan dana aksi 411 dan 212 sebesar 3,18 miliar rupiah, ditampung di Yayasan Keadilan Untuk Semua. Uang hasil donasi mengatas-namakan GNPF MUI ini kemudian dikirimkan ke Turki.

Ada kabar, uang itu dipergunakan untuk mendanai teroris Suriah dalam rangka menjatuhkan Presiden sah, Bashar al Assad. BN memang dicurigai sejak lama terlibat dalam jaringan pemberontakan di Suriah.

Jejak tahun 2013, BN bersama ZR - dua2nya aktivis HTI dan berada di kepengurusan MUI - membawa bendera pemberontak Suriah keliling Indonesia. Mereka juga mengumpulkan dana dengan tema #saveSuriah.

BN bisa dibilang adalah org paling berbahaya di gerakan HTI. Dia cerdas, licin dan jaringannya luas.

BN menguasai jaringan media televisi dan mengangkat banyak idola baru ustad televisi sebagai bagian dr gerakannya. Dia membangun kelompok "ummat" dengan membuat ormas-ormas baru sebagai kantung pencarian dananya. Dan ormas2 itu kemudian disatukannya saat ia menemukan momen penting di Pilgub DKI dgn konsep GNPF MUI.

BN yang terkenal karena pernah mempromosikan "kencing unta" sebagai minuman sehat, bisa dibilang adalah otak dari banyak gerakan berindikasi makar di republik ini. Dia menunggangi Prabowo sebagai Capres, demi membangun tujuannya untuk mendirikan negara khilafah.

Dan dari gerakan2 itu, BN juga mengumpulkan dana yang akhirnya disalurkan ke luar negeri untuk membiayai pemberontakan yang sama.

Semoga Presiden Jokowi bisa lebih tegas menghadang gerakan ini dan tidak sekedar membubarkan saja. Orang-orang ini harus ditangkap karena sudah sangat membahayakan keutuhan bangsa dan negara.

Seruput kopinya..

Sumber Utama : https://m.facebook.com/dennyzsiregar/photos/a.961385537257648/2370848489644672/?type=3&source=57&__tn__=EH-R

Terbongkar, Bendera Pemberontak Suriah Pro Khilafah Di Film 212 : Hayya

HAYYA The Power of Love 2 ‘It's about Love, Life and Humanity’ adalah sequel film 212 sebelumnya. Disutradarai oleh Jastis Arimba, film ini tayang di bioskop sejak kemarin, 19 September 2019.

Film garapan rumah produksi Warna Pictures ini dibintangi oleh aktor Fauzi Badilah yang menjadi pemeran utama alias tokoh Rahmat. Ada pula Adhin Abdul Hakim, Meyda Sefira, Hamas Syahid. Film yang juga diproduseri oleh Oki Setiana Dewi tersebut juga menampilkan Yotuber Ria Ricis yang berperan sebagai gadis Malaysia dengan profesi sebagai babbysitter.

Film ini menceritakan masalah-masalah kemanusiaan yang terjadi di Palestina dan Israel. Menurut penuturan Erick Jusuf, selaku produser eksekutif, konflik yang diangkat dalam film ini adalah tragedi di Palestina dan Israel yang banyak menimbulkan korban jiwa, di mana banyak anak korban perang menjadi yatim piatu dan tinggal di pengungsian.

"Saya berharap semua manusia peduli terhadap manusia lainnya," kata Erick, dikutip dari Kompas.com, Minggu (8/9/2019).

Penulis tak akan membahas resensinya di sini karena mau fokus ke sesuatu yang janggal yang ada di film ini. Perhatikan trailer film ini ternyata di Youtube di trailer film Hayya menit 1:16 ada penampakan bendera yaitu bendera yang mirip bendera Suriah tapi bukan Suriah.

<iframe width="100%" height="415" src="https://www.youtube.com/embed/tkAeHbqVM2o?start=77" frameborder="0" allow="accelerometer; autoplay; encrypted-media; gyroscope; picture-in-picture" allowfullscreen></iframe>

Bendera itu adalah bendera pemberontak Suriah. Bendera pemberontak Suriah itu ada ciri khusus yaitu di tengahnya ada bintnag 3 berwarna merah. Bendera ini sering dipakai dalam demo-demo terutama di Jakarta.

Kocak banget, ini malah kontras alias bertolak belakang dengan narasinya. Mau mengangkat narasi yang mendukung Palestina dan warganya yang selalu diangkat narasinya sebagi korban Zionisme, eh malah terbalik.

Film Hayya justru mendukung kelompok pemberontak yang katanya didukung oleh Zionisme dan Amerika. Kalau begini malah film Hayya itu mendukung Yahudi atau Zionisme dan Mamarika dong. Waduh, ini salah strategi nih.

Israel mengapa terlibat karena adanya proxy conflict dan berdaleh unttuk membela diri. Dalam sebauh laman berbahasa Inggris, penulis menemukan bukti adanya keterlibatan bantuan dari pihak Israel ke FSA yaitu Tentara Pembebasan Suriah (bahasa Arab: الجيش السوري الحر‎, Al-JayÅ¡ Al-Suri Al-Ḥurr, = Free Syrian Army disingkat FSA).

Rebels from Quneitra and western Daraa, as well as media activists in those regions with ties to the rebels, told me that Israel began providing more military support to a greater number of rebel groups affiliated with the Free Syrian Army. (https://warontherocks.com/2018/02/israels-deepening-involvement-syrias-rebels/)

Nah, kok malah HAYYA ini mendukung pemberontak yang disuport Israel. Ada-ada saja. Ini namanya haram dong tapi kenapa terlanjur dimasukan dalam adegan film itu? Ini bakal heboh lagi dan jadi sorotan di media.

Tapi sebenarnya di kubu FSA ada sempalan yang radikal dan pro khilafah. Kelompok ini didukung oleh para pengusung dan pengibar bendera FSA di Indonesia. Jadi kelompok itu adalah jihadis yang terusir dari Suriah dan melawan rezim yang sah.

Makanya tak heran di internet beredar jihadis memegang bendera ISIS bersanding dengan bendera FSA. Wah, berarti ada grup jihadis radikal yang memakai bendera FSA itu sebagai bendera perjuangannya. Mau tahu siapa pendukungnya di Indonesia?

Tuh, Yayasan Bantuan Kemanusiaan Indonesia (Indonesian Humanitarian Relief Foundation) yang diketuai Koordinator Gerakan Nasional Pengawal Fatwa MUI (GNPF-MUI) Bachtiar Nasir. BN dalam foto terang-terangan memegang bendera pemberontak Suriah yaitu FSA.

Bantuan yang dikirimkan IHR ke Aleppo, Suriah ternyata tersimpan di gudang milik kelompok milisi sipil anti-Assad yaitu Jaysul Islam di Suriah. Itu terungkap oleh media Prancis, Euronews dan beredar di Youtube dan menjadi viral di media sosial. BN dan kelompoknya tentu membantah hal ini.

Kelompok Jaysul Islam ini adalah kelompok yang tadinya tergabung dalam FSA tapi akhirnya memisahkan diri dan dekat dengan sebuah grup garis keras bernama Ahrar ash-Sham yang menerapkan hukum Syariah dan didukung oleh Arab Saudi. Silakan lihat : https://en.wikipedia.org/wiki/Jaysh_al-Islam

Kalau melihat gerakan Bachtiar Nasir maka dia mendukung grup Jaysul Islam yang radikal. Berkedok dengan memakai bendera FSA tapi dalamnya radikal. Ini bahaya karena justru malah masuk dan terang-terangan jadi propaganda khilafah di film.

Nah, pertanyaannya apakah film ini memiliki pesan terselubung untuk menarik simpati publik untuk terus menggalang dukungan seperti yang dilakukan Bachtiar Nasir?
Penulis film ini adalah Asma Nadia, membuat cuitan yang membantah adanya bendera dalam adegan di filmnya. Dia mengatakan bahwa :

“Twit ini fitnah. Ini foto direkayasa sebab di film sang tokoh awalnya memegang hp yang berisi gambar hayya. BUKAN BENDERA. Tidak Ada gambar bendera apapiun di adegan ini.@asmanadia.

Cuitannya sudah dihapus.

Asma Nadia lupa kalau dalam trailernya terpampang jelas bendera kecil yang ada di depan pemainnya. Apa panik karena sudah terekspos? Mau dihapus atau ditarik tapi tidak mungkin karena sudah muncul di publik. Jadi propaganda khilafah sudah masuk film gaes dan itu ada di film 212: Hayya.

Hadeh!

Terbongkar, Bendera Pemberontak Suriah Pro Khilafah Di Film 212 : Hayya

Sumber Utama : https://seword.com/media/terbongkar-bendera-pemberontak-suriah-pro-khilafah-di-film-212-hayya-fgKfQY236y

Ini screenshot IG story seorang artis (Fauzi Baadila) yang marah ke saya gara-gara pernyataan saya di podcast master Deddy. Dia marah karena merasa mengantarkan langsung bantuan yang digalang dari rakyat Indonesia ke rakyat Suriah.

Saya sementara ini cuma mau bilang: kalau mau jadi relawan kemanusiaan tuh musti belajar geopolitik ya, biar paham siapa dan mengapa-nya. Jadi niat baik kita ga malah menambah bahan bakar konflik di negeri orang.

Lihat beliau ini (pernah) berada di Idlib. Yang paham konflik Suriah, pasti tahu bahwa Idlib adalah daerah yang diduduki milisi-milisi takfiri (maaf ini masih diperhalus, tepatnya sih teroris).

Kalau lo “kafir” dan bukan “temen”, lo bisa dipenggal men. Nama-nama milisi yang mengontrol Idlib, antara lain: -Hayat Tahrir al-Sham -National Liberation Front -Hurras al-Din -Turkistan Islamic Party (ini sebagian besarnya orang China- Uighur)

Turki juga mengirim ribuan tentaranya untuk menduduki Idlib. Jadi, Turki bekerja sama dengan milisi teroris ini, sama-sama menguasai Idlib.

Nah, kalau ada pihak yang bebas masuk ke Idlib… artinya apa? Silakan berpikir.

Baca buku saya Prahara Suriah dan Salju di Aleppo, bila mau belajar

Akhirnya..bikin podcast juga. Sebenarnya niatnya sudah lama, tapi tertunda. Kebetulan karena banyak yang protes atas pernyataan saya di Podcast Deddy Corbuzier, saya mulai sajalah bikin podcast. Antara lain isinya menjawab protes “mereka”. Tapi, tentu saja tujuan besarnya adalah menjelaskan Timur Tengah dengan panduan/basis keilmuan Hubungan Internasional, bukan didasari afiliasi ini-itu. https://www.youtube.com/watch?v=do9tqGjFgZ8

Sumber Utama : https://dinasulaeman.wordpress.com/

Kantor Syam Organizer Digeledah Densus

 

Menurut berita CNN Indonesia tadi pagi (5/4),Tim Detasemen Khusus (Densus) 88 Antiteror Mabes Polri menggeledah kantor Syam Organizer yang berlokasi di RT 30 RW 08, Kumendaman, Mantrijeron, Kota Yogyakarta, DIY, Minggu (4/4).

Di berita tersebut tidak disebutkan alasan penggeledahan, jadi saya pun tidak tahu.

Yang saya tahu pasti, Syam Organizer ini sejak dulu memang mengepul donasi untuk Suriah dengan narasi: “pembantaian brutal yang dilakukan Rezim Nushairiyah Bashar Assad pada kalangan rakyatnya yang mayoritas Sunni.”

Saya tadi kepoin IG-nya, masih ada jejak digital pernah mengirim bantuan ke Ghouta timur. Padahal wilayah itu dulu dikuasai oleh Jabhah Fateh Al Syam (afiliasi Al Qaida).

Indopress.id pernah melakukan jurnalisme investigasi, jalur apa yang dipakai para pengepul donasi ini kok bisa masuk Ghouta, sebuah kawasan dekat Damaskus. Baca di sini [1], ini satu-satunya wartawan/web yang pernah membuat reportase sekritis ini, sementara media-media nasional malah sibuk memberitakan hal-hal negatif soal Assad (yang dampaknya, semakin memberikan bahan bakar kepada radikalis).

Pada kemana wartawan senior di Indonesia ya? Apa pada ga bisa mikir kritis gitu, mereka?

Nah di foto ini, skrinsyut IG Syam Organizer, menggalang dana untuk bikin sumur di kamp Atmeh (Idlib). Sedikit googling, ketemu deh, ini kamp dikontrol olehh Free Syrian Army. [2] Jadi sebenarnya sangat mungkin ini kamp yang dihuni anak-istri FSA juga. Syam Organizer juga bikin pabrik roti di Idlib.

LOGIKANYA; kalau kalian bikin sumur di kamp Atmeh dan bikin pabrik roti, masa para terorisnya ga dikasih air dan roti juga?

ARTINYA: kalian menambah bahan bakar konflik di negeri orang, memberikan suplai logistik ke para teroris (meski kalian menyebut mereka “mujahidin”).

Jadi akar pro-kontra soal donasi ini sebenarnya adalah: FSA, HTS, TIP, dan ratusan milisi bersenjata lain yang menguasai Idlib itu teroris atau mujahidin?

Nah para pengepul donasi pro-“mujahidin,” ga perlulah kalian muter-muter bikin video panjang lebar, mengata-ngatai Syiah, bahkan mendoakan saya cepat mati segala.

Intinya: kalian menganggap mereka itu “mujahidin” dan kalian mendukung berbagai pembantaian yang mereka lakukan atas dasar agama, terhadap pihak lawan yang kalian sebut “kafir.”

Sesimpel itu, mau kalian tutupi fakta ini dengan narasi apapun, malah jadi blunder di atas blunder.

[1]https://www.indopress.id/…/kabut-bantuan-selamatkan-ghouta

[2]https://www.aa.com.tr/…/syrian-refugees-at…/0/20140

Sumber Utama : https://dinasulaeman.wordpress.com/2021/04/06/kantor-syam-organizer-digeledah-densus/#more-7161

Bongkar Fakta #1

Simak IG live dengan mahasiswa Indonesia di Suriah.Logika aja ya, yang kuliah di Suriah selama ini tuh mayoritasnya Ahlussunnah, mereka belajar dengan dosen-dosen/ulama cendekiawan yang Ahlussunnah.

Artinya, kalau ada yang bilang bahwa “orang Sunni di Suriah dibantai oleh rezim Syiah”, kemungkinannya dua: sengaja bohong (demi mengepul donasi, misalnya) atau salah info (dengar kata orang, diterima begitu saja).

Yuk kita simak apa kesaksian Lion Fikyanto (mahasiswa Ahlussunnah) yang saat ini sedang kuliah di Suriah.

Sumber Utama : https://dinasulaeman.wordpress.com/2021/03/31/bongkar-fakta-1/

Antara Aleppo dan Idlib

Kejadian di Aleppo dulu, sebenarnya mirip dengan kondisi Idlib sekarang. Dulu, Aleppo timur dikuasai teroris selama 4 tahun. Desember 2016, tentara Suriah, dibantu pasukan sukarelawan (rakyat sipil yang angkat senjata demi membela tanah air), dibantu oleh Rusia dan Iran, memulai operasi untuk mengambil alih kembali Aleppo.

Media mainstream + media radikal + pengepul donasi serempak menggemakan “Save Aleppo.” Padahal, kenyataannya rakyat Aleppo justru bahagia karena lepas dari teroris.

Teroris dari Aleppo (dan dari wilayah-wilayah lain, seperti Ghouta.. ingat ada “Save Ghouta” juga) yang menyerah, dikirim ke Idlib. Bayangkan, ga dipenjara lho, tapi dilepas/dianterin ke Idlib dengan bus-bus berwarna hijau. Kenapa? Karena kalau terus diperangi, pemerintah Suriah nanti dituduh melakukan “kejahatan kemanusiaan” dan bisa-bisa NATO dikirim untuk menyerbu. Wis, ngalah dulu sementara.

Kini semua faksi teroris itu berkumpul di Idlib (sebuah provinsi wilayah Suriah, yang berbatasan dengan Turki). Ketika pemerintah Suriah sudah mulai ada kekuatan (wilayah lain sudah berhasil diambil alih), pemerintah ingin mengambil alih Idlib, basis terakhir para teroris. Tapi 5000 tentara Turki masuk dan bercokol di Idlib, berperang melawan tentara Suriah. Mengapa mereka bisa bertahan? Antara lain karena suplai logistik yang terus mengalir.

Kelak, ketika Idlib sudah bebas, kemungkinan akan ada video seperti di Aleppo ini, ketika rakyat bersorak sorai karena bebas dari cengkeraman teroris. Semoga mereka yang kirim logistik ke Idlib bisa segera sadar, jangan mengirim “bahan bakar” yang memperpanjang konflik di negari orang.

https://web.facebook.com/DinaY.Sulaeman/videos/747522969288083

Sumber Utama : https://dinasulaeman.wordpress.com/2021/04/01/antara-aleppo-dan-idlib/

Lanjutan Tanggapan untuk Pengepul Donasi Suriah

Kemarin saya menjawab omongannya Fauzi Baadilla dan “emak histeris” ya. Sekarang saya jawab omongannya Misi Medis Suriah (MMS) dan Ihsanul Faruqi yang bekerja di Golden Future Foundation (GF).

MMS mengatakan, “kami tidak mendukung teroris, karena yang disebut teroris itu ISIS dan Al Qaeda.”

Sayangnya, jejak digital membuktikan hal sebaliknya. Salah satu jejak digital aktivis MMS (dan orang GF) itu ada di berita CNN yang saya screen shot ini.

Poin-poinnya:-Relawan MMS, Fathi Nasrullah Attamimi, sempat terkepung ISIS saat hendak menyalurkan bantuan berupa tujuh buah mobil ambulans yang dibeli dari NGO Inggris di Turki.

-Baku tembak terjadi antara ISIS dengan para “kelompok pejuang” [perhatikan CNN menggunakan istilah “pejuang”]

-Rombongan MMS dikawal oleh Ahrur Syam [tepatnya: Ahrar al-Sham]

-Fathi mengaku kehilangan sekitar 30-an sahabatnya di Suriah. Salah satunya seorang pejuang yang diberinya kenang-kenangan jam G-Shock. “Saya kasih seorang mujahidin jam G-Shock kesayangan. Seminggu kemudian beliau syahid. Saya dikirimi foto jenazahnya tepat ketika tertembak, sedang tersenyum dan memakai jam saya itu,” ujar Fathi.

[Catet: Fathi menyebut para “mujahidin” sebagai sahabat.]

ARTINYA: MMS MENGAKUI BEKERJA SAMA DENGAN AHRAR AL-SHAM dan bahkan menyebut mereka MUJAHIDIN.

Di berita CNN ini ada Ihsanul Faruqi, tapi saat itu dia anggota MMS. Sekarang Ihsan bekerja di GF (artinya, ini satu jaringan).

Poin penting cerita Ihsan:-Saat itu di beberapa daerah mulai ada bentrok (antara ISIS dan kelompok “jihad” lain), namun, “Di tempat kita belum begitu nampak. Tapi ketika sedang duduk-duduk, anggota ISIS mengokang AK-nya…”

-Ihsan cerita tentang kematian sahabatnya, Muhammad. “Terngiang jelas perkataannya kepada saya, ‘Aba zubair, semoga Allah mengumpulkan kita di Surga, menganugerahkan kita kesyahidan di jalan Allah,” kata Ihsan.

[Catet: jelas sekali Ihsan punya ideologi yang sama dengan “mujahidin” ini. Ihsan juga mengkonfirmasi bahwa para “mujahidin” pernah duduk-duduk bareng ISIS. Artinya: IDEOLOGI mereka sama saja.]

COBA PIKIRKAN: kalau MMS mengantar bantuan ke suatu wilayah, di sana ada “mujahidin” (bahkan mereka dikawal “mujahidin”), masa semua makanan donasi yang dibawa khusus untuk rakyat/pengungsi aja?

TERAKHIR: mengapa ISIS, Jabhah Al Nusra (Al Qaida) masuk list teroris, sedang Ahrar al-Sham (yang mengawal MMS) tidak?

Karena, AS punya kepentingan sendiri dalam hal ini. Bisa baca di sini [1] bagaimana perdebatan di antara negara-negara besar untuk memutuskan Ahrar al-Sham ini teroris atau bukan. AS berkeras menolak, karena ada deal dengan Saudi dan Qatar (donatur milisi teror tsb).

Padahal, keanggotaan Ahrar al-Sham dan kelompok teror lain di Suriah itu sangat “cair”, para milisi teror biasa masuk ke satu kelompok, lalu keluar dan gabung dengan yang lain, Anggota Ahrar al-Sham ada yang mantan ISIS atau Jabhah Nusrah. Juga, biasa terjadi kerja sama di antara kelompok-kelompok itu, hal ini juga didokumentasikan oleh PBB. [1]

Ini pun terkonfirmasi dari cerita Ihsan: pernah duduk-duduk bareng para milisi bersenjata, termasuk ISIS.

ARTINYA: ideologi mereka semua tuh sama, tapi beda nama dan beda kepentingan (beda bohir juga).

Jabhah Nusrah pun sudah ganti nama jadi Hayat Tahrir al-Sham (HTS sekarang mendominasi Idlib, yang pernah dikunjungi Fauzi Baadilla, bawa donasi).

JN masuk list teroris oleh AS, tapi HTS tidak. Padahal itu-itu juga. Aneh ga?

Analoginya: HTI dibubarkan pemerintah, lalu mereka bikin lagi organisasi yang persis sama, misalnya HTN (Hizbut Tahrir Nusantara). Apa Anda mau bilang HTI berbeda dengaan HTN hanya karena beda nama, padahal ideologi sama, orangnya juga sama?

Silahkan dipikirkan sendiri.

[1] https://www.al-monitor.com/…/jordan-syria-is-france…Sumber screenshot: https://www.cnnindonesia.com/…/kisah-relawan-indonesia… (disebut juga: 2013-2015 jumlah donasi yang disalurkan MMS adalah US$1,6 juta/ lebih dari Rp22,7 M)

Sumber Utama : https://dinasulaeman.wordpress.com/2021/04/06/lanjutan-tanggapan-untuk-pengepul-donasi-suriah/#more-7145

Master Deddy dan Histeria Para Pengepul

Master Deddy Corbuzier itu orang sangat cerdas dan berkarakter kuat, makanya bisa sampai di posisinya hari ini. Beliau sama sekali bukan youtuber alay. Bintang tamu yang beliau pilih pastilah sudah diteliti dulu rekam jejaknya.

Jadi lucu banget kalau para pengepul dan fansnya histeris banget di kolom komen, menyebut “salah undang narsum”. Bahkan sekarang video diskusi saya dan Master Deddy di IG sudah dihapus (oleh pihak IG, tentu karena banyak yang report). Gaes, kalian itu benar-benar meremehkan profesionalitas Master Deddy dan timnya.

Bahkan ada emak-emak histeris yang menulis surat untuk Master Deddy, membantah saya dengan cara sangat rendah dan murahan. Sama sekali tidak ada argumen intelektual. Dan saat dicek rekam jejak emak-emak histeris ini, ternyata dia punya lembaga pengepul donasi. Oalaa.. pantesan histeris.

Lihat screen shot iklan lembaga donasi si emak ini di komen dan mari kita analisis dengan cara intelek. Bukan dengan cara histeris dan main fitnah.

Disebutkan di iklan donasi itu: “ada 10 sekolah yang ditarget (dibom/diserang) oleh rezim Bashar Assad setiap hari.”

Saya kasih tahu ya, di PBB itu ada skema “humanitarian intervention.” Kalau ada bukti otentik terbukti kejahatan kemanusiaan di Suriah, Dewan Keamanan PBB bisa memberi mandat kepada NATO untuk menyerbu.

Mungkin ada yang bilang: ya kan PBB juga tebang pilih? Nah, yang ngerti geopol, pasti ngerti kalau sejak puluhan tahun yll, AS sudah gemes banget ingin menggulingkan Assad. Dulu, AS membacking pemberontakan Ikhwanul Muslimin di era Hafez Assad. Sekarang, di era Bashar Assad, AS juga mendukung operasi penggulingan rezim yang dilakukan “pemberontak moderat” (ini istilah yang dipakai media Barat untuk FSA, Jaish Al Islam, HTS, dll itu). Para pengepul menyebut mereka “mujahidin”.

Jadi, kalau benar ada bukti valid, AS akan terdepan menggalang Sidang DK, memaksakan agar ada humanitarian intervention. Tapi selama ini ga bisa, bukti yang disodorkan selalu saja ketahuan “bermasalah”, dengan gampang diveto oleh China dan Rusia.

Kalau bukti sudah sangat otentik, China dan Rusia juga ga mau mengorbankan national interest mereka. [kalimat ini berbasis teori, tidak asal ditulis; sepertinya sulit dipahami oleh mereka yang cuma bisa histeris “syiah-syiah”].

Satelit AS itu bisa memantau semua pergerakan di Suriah. Kalau benar Assad tiap hari membombardir 10 sekolah, AS akan terdepan mengabarkan pada dunia. Rusia juga punya satelit semacam itu. Makanya, setelah Rusia setuju membantu Suriah pada 2015, dengan segera Rusia bisa mengeluarkan foto satelit, merekam pergerakan truk-truk minyak yang dicolong ISIS, masuk ke Turki.

(Pertanyaannya: AS pasti juga punya foto satelit yang sama, mengapa tidak dirilis? Bukankah AS mengaku datang ke Suriah melawan ISIS? Mereka yang paham geopol Timteng pasti sudah tahu jawabannya apa.)

Selama ini, saking sulitnya mendapatkan bukti “kejahatan” pemerintah Suriah, yang bisa jadi syarat untuk keluarnya mandat PBB ke NATO, Barat pun membikin-bikin bukti.

Misalnya, lewat Amnesty Internasional. Sejak awal konflik, yaitu sejak awal munculnya demo-demo massa di Daraa, AI dengan cepat merilis laporan berjudul “Deadly detention: Deaths in custody amid popular protest in Syria”.

Laporan itu dirilis Agustus 2011, padahal demo pertama di Daraa terjadi Maret 2011. Artinya dalam waktu 5 bulan, AI sudah membuat laporan dengan kesimpulan: pemerintah Suriah melakukan kejahatan kemanusiaan (crimes against humanity) dan menyerukan dunia internasional mengambil tindakan menghukum pemerintah Suriah.

Namun pertanyaannya, bagaimana mungkin hanya dalam lima bulan, AI bisa membuat laporan itu? Bila pemerintah Suriah dituduh melakukan ‘serangan secara luas dan sistematis’, artinya, kawasan yang harus diteliti juga sangat luas dan menggunakan metode penelitian yang benar, antara lain melewati prosedur desain penelitian, persiapan, pelaksanaan penelitian, pengolahan data, interpretasi data, penulisan, dan pengecekan keakuratan penulisan.

Kenyataannya, sebagaimana dicantumkan dalam “aksi cepat lapor” itu, peneliti AI melakukan wawancara kepada orang-orang Suriah yang sudah mengungsi ke Lebanon dan Turki, dan berkomunikasi dengan email dan telepon dengan warga di Suriah, yang disebut sebagai “keluarga korban, aktivis HAM, dokter, dan tahanan yang baru dibebaskan”. Narasumber lainnya adalah aktivis HAM yang tinggal di luar Suriah.

Lebih parah lagi, di halaman 5, AI mengaku sendiri kok, “Amnesty International has not been able to conduct first-hand research on the ground in Syria during 2011” [AI tidak bisa melakukan penelitian langsung lapangan di Suriah selama 2011]. Artinya: TIDAK ADA SUMBER PRIMER.

Orang yang paham penelitian, pasti paham apa maksud tidak ada sumber primer, tidak ada corroboration, dan tidak ada cross-checking. Untungnya di PBB banyak orang pintar, jadi mereka punya kapabilitas untuk meneliti sebuah laporan.

Ok segini dulu. Saya cuma mau kasih lihat, gini lho cara intelek membantah orang.

Pesan saya: monggo kalian menggalang donasi, tapi JANGAN BOHONG demi mengumbar kemarahan publik (supaya mau merogoh kocek). Karena, dampaknya ngefek banget, banyak orang yang jadi teradikalisasi karena info bohong, lalu lama-lama sangat mungkin jadi teroris. Kalau kalian benar cinta kemanusiaan, carilah donasi dengan cara manusiawi juga.

——–

Note: Master Deddy TIDAK berkomentar apapun ke saya soal surat si emak ini. Jadi yang saya tulis ini murni pendapat pribadi, tidak ada koordinasi dengan Master Deddy.

Yuk ikuti ajakan Master Deddy di podcast terbarunya, agar kita semua berani bicara melawan orang-orang yang menyebar kebencian, yang suka mengkafir-kafirkan, demi menjaga keutuhan bangsa ini.

https://www.youtube.com/watch?v=E4KmQWUoTvs&t=44s

Sumber Utama : https://dinasulaeman.wordpress.com/2021/04/01/master-deddy-dan-histeria-para-pengepul/

Tips Mendeteksi Argumen yang Lemah/Bohong

Orang ini niatnya mau menjawab kritikan terhadap para pengepul donasi yang “masuk Suriah secara ilegal”. Karena, kan dipertanyakan, kok ga kerja sama dengan KBRI Damaskus, kok ga kerja sama dengan PPI (Perhimpunan Pelajar Indonesia) Suriah? KBRI dan PPI siap kok membantu.

Pertanyaan ini pernah ditanyakan oleh seorang wartawan. Jawabannya “Gimana mau minta izin ke pemerintah Suriah, kan mereka yang membantai rakyatnya sendiri”? [1]

Nah kan, ketahuan ya, mereka berpihak ke mana, dan menyebarkan narasi apa.

Kembali ke foto ini.Si orang yang upload foto ini berniat pamer: “Kami ini masuk secara legal ke Suriah, ini buktinya kami sudah izin Turki.”

Masuk ke Suriah, izinnya ke Turki?Kok bisa terjadi? Saya yakin, follower di FP ini sudah paham, tulalitnya dimana.

Anyway, ini bisa jadi tips juga nih:kalau mau mendeteksi, apakah seseorang argumennya lemah atau sedang mempertahankan kebohongan: perhatikan, dia pakai kata “syiah” (menyerang/mencaci orang lain yang berbeda pendapat dengannya sebagai “syiah”) atau tidak?

😃

–[1] https://www.indopress.id/…/kabut-bantuan-selamatkan-ghouta

Menolak Lupa Soal ISIS

(1) Lagi rame kasus anggota ISIS ditangkapin ya? Tentu kita berterima kasih kepada Densus yang menjaga NKRI dengan bertindak tegas pada anggota kelompok teroris.

Namun, kita perlu ingat: sekarang adalah tahun 2021. Padahal, ISIS terang-terangan mendeklarasikan diri pada 16 Maret 2014 di BUNDARAN HI! Bundaran HI itu berada di Jakarta ya, IBU KOTA NEGARA! Kemana publik, media, MUI, pemerintah waktu itu?

Saya copas bagian awal liputan mengenai acara deklarasi tsb.

***

Pagi itu (16 Maret 2014), Bundaran HI tampak tampak ramai oleh warga Jakarta yang berolah raga. Seperti biasa, di hari Ahad, jalan Sudirman sampai HI memang steril kendaraan terkecuali hanya Busway Trans Jakarta, sehingga masyarakat lebih nyaman berolahraga.

Namun kenyamanan pagi itu juga ‘diramaikan’ oleh acara bertajuk “Tabligh Akbar:Menyongsong Kehadiran Khilafah ‘Ala Minhajin Nubuwwah; Support & Solidarity for ISIS.” Sekedar informasi, ISIS (Islamic State of Iraq and Syria) adalah salah satu dari sekian banyak kelompok militan yang menyerbu dan mengobrak-abrik Suriah dengan alasan jihad. ISIS ingin menggulingkan rezim Assad karena ingin mendirikan khilafah di Suriah dan Irak.

Beberapa laki-laki bercelana cingkrang, berjenggot, dan berpakaian serba hitam terlihat berkumpul di dekat bundaran, membentangkan bendera-bendera al-Qaeda dan berbagai macam atribut dan spanduk dukungan kepada ISIS. Sempat terjadi adu mulut antara mereka dengan seorang polisi yang bertugas menjaga kelancaran lalu lintas, sebab keberadaan pasukan berbaju hitam itu sempat memacetkan jalur Busway dan menyedot perhatian warga yang sedang berolah raga.

Tepat 09.30 WIB, orasi pun dimulai. Teriakan takbir bergema bersama kepalan-kepalan tangan yang diacungkan ke udara mengiringi orasi.

Orasi dipimpin oleh Koordinator Gerakan Khilafah Wilayah Jakarta. Orator pertama adalah Ustad Fachri dari Pamulang yang mengajak semua ikhwan untuk merapatkan barisan dalam rangka menyambut berdirinya Khilafah di Bumi Syam (Suriah) dan Irak, dan sebentar lagi akan memasuki Lebanon dan menyeberang ke Asia Tenggara. Ustad Fachri juga menyeru bangsa Indonesia agar kembali pada Hukum Allah. Ustad Fachri juga secara tegas menyampaikan rencana untuk menegakkan Daulah Islamiyah di bumi Indonesia dengan berbagai cara.

[lanjutannya baca saja di websitenya langsung]

**

Yang bikin ngeri adalah baris akhir dari liputan ini. “Siang semakin menjelang. Acara pun usai. Seorang warga yang sedang bersepeda di bundaran HI mengacungkan jempolnya ke bawah, ke arah kerumunan pro-ISIS itu. Seseorang dari mereka membalas, “Mati, lu!” Itulah ideologi mereka: bila kita tidak sepakat dengan mereka, kita layak mati. Ideologi takfirisme, yang menyusup ke dalam berbagai nama, berbagai merk. *** Kini di tahun 2021, kesadaran publik soal bahaya ISIS semakin meluas. Pemerintah juga semakin berani untuk tegas. PR besar kita semua adalah melawannya di tataran ideologi dan narasi. Organisasi dibubarkan, anggota ditangkap, tidak membuat ideologi mati. Karena ideologinya tidak diidentifikasi dengan jelas, banyak yang tidak paham/sadar bahwa mereka sedang dicekoki oleh ideologi yang sama (tapi berbeda merk). Apalagi para ustad-nya sangat lihai bermain narasi dan dengan dukungan dana besar, mampu mengisi ruang-ruang publik dengan ceramah-ceramah yang seolah baik.

[bersambung]

Liputan Deklarasi ISIS di Bundaran HI 16 Maret 2014 https://liputanislam.com/liputan/deklarasi-baiat-organisasi-teroris-transnasional/

Sumber Utama : https://dinasulaeman.wordpress.com/2021/02/08/menolak-lupa-soal-isis/#more-7016

Menolak Lupa Soal ISIS (2)

Tahun 2014, Mosul, sebuah kota terbesar kedua di Irak, jatuh ke tangan ISIS. Kejatuhan Baghdad (ibu kota Irak) sudah di depan mata. Tentara Irak tidak sanggup menghadapinya sendirian. Tentara AS bercokol di Irak, tapi tidak banyak membantu. Ulama Irak, Ayatullah Sistani, mengeluarkan fatwa jihad melawan ISIS. Warga Irak, dari berbagai agama, bangkit, bergabung dengan pasukan relawan, melawan ISIS. Tahun 2017, Mosul kembali direbut,

Dalam video ini bisa dicatat dua poin penting:

(1) Warga Mosul (etnis Arab) adalah masyarakat yang plural, Muslim, Kristen, dan Yazidi hidup berdampingan damai. ISIS datang memorakporandakan kota mereka. Kini setelah ISIS berhasil diusir, mereka bergandengan tangan untuk membangun kembali kota. Dengan dikoordinasi oleh UNESCO, warga Muslim membantu pembangunan kembali gereja dan warga Kristen membantu membangun kembali masjid.

Jadi, ISIS tidak sama dengan ideologi Arab, sehingga salah kaprah bila ada netizen Indonesia menghina-hina etnis Arab di Indonesia saat bicara soal ISIS. Ideologi ISIS adalah ideologi takfirisme. Mereka menafsirkan ajaran Islam dengan salah kaprah. Melawannya harus dengan kontranarasi yang benar; bukan dengan menghina-hina salah satu etnis atau agama di negeri ini.

(2) Jangan menunggu kota-kota Indonesia sehancur Mosul (atau kota-kota lain di Irak dan Suriah yang dihancurkan ISIS). Ideologi takfirisme yang membuat manusia bisa sedemikian keji dan bergabung dengan ISIS harus dilawan dalam sebuah program yang integratif, tidak setengah-setengah.

Seperti apa program yang integratif itu?

Begini, ada yang komen “ISIS buatan AS”. Memang banyak indikasi dan bukti mengenai dukungan AS pada ISIS. Data menunjukkan adanya aliran senjata dari AS ke ISIS, meski AS ngeles, “kami maunya ngirim ke ‘pemberontak moderat’, tapi entah mengapa jatuh ke tangan ISIS.”

Di medan tempur, saat pasukan Suriah hampir menang lawan ISIS, jet-jet tempur AS membombardir mereka, alsan AS: “salah tembak”. Lalu, yang paling keji, pada 3 Januari 2020, AS membunuh Jenderal Qassem Soleimani yang memimpin pasukan relawan Irak dalam membebaskan kota Mosul (dan kota-kota lain) dari cengkeraman ISIS.

Kasus lain, sampai sekarang, Facebook selalu memblokir postingan tentang Jend QS (saya juga kena, beberapa hr yll). AS dan Facebook yang “Barat” itu kok ambigu, di satu sisi sok-sok antiteroris, di saat yang sama malah membunuh (memblokir) pihak-pihak yang melawan radikalisme/terorisme.

Tapi, apakah ISIS buatan AS? Menurut saya: yang dilakukan AS adalah MEMANFAATKAN elemen-elemen lokal yang memang berpotensi untuk dimainkan. Kalau di Timteng, ada kelompok-kelompok garis keras (berideologi takfiri) yang bisa dimanfaatkan AS untuk menggulingkan rezim yang “mbalelo”. Di negara-negara lain, misalnya di Eropa Timur atau Asia Tenggara (termasuk Indonesia), AS membiayai LSM-LSM yang selalu bikin gaduh dengan alasan “demokrasi”.

Jadi, ada dua elemen yang terlibat dalam kasus terorisme global:

(1) negara adidaya (Amerika dkk, termasuk jejaring media global yang sering menyebarkan disinformasi soal Suriah sehingga memprovokasi orang-orang yang sudah teradikalisasi untuk gabung dengan ISIS), dan

(2) para anggota ISIS dan kelompok serupa dalam berbagai merk (orang lokal, Muslim).

Oleh karena itu perlawanan perlu dilakukan terhadap kedua elemen ini. Dalam upaya deradikalisasi, penting untuk memasukkan kajian geopolitik global, bukan hanya fokus di pemahaman relijius yang salah kaprah.

Media-media mainstream Indonesia yang selama Perang Suriah juga menyebarkan misinformasi, juga pihak yang sangat bertanggung jawab atas semakin meningkatkan radikalisme/terorisme. Saya himbau para wartawan, belajarlah geopolitik dengan baik, jangan asal copas terjemah berita dari jejaring media AS/Inggris. Baca ISIS hari ini adalah bagian dari dosa Anda juga karena menyampaikan disinformasi soal Suriah.

Ini yang saya maksud program deradikalisasi yang integratif: menyentuh akar masalah, global maupun lokal, serta dilakukan di berbagai lini, mulai dari pelajaran sekolah (dan lembaga pendidikan lain), ceramah, dan acara-acara tivi, serta materi pemberitaan, dll.

***

Problem di Indonesia memang bukan cuma radikalisme. Tapi, pembangunan dan perbaikan di bidang-bidang lain, akan sia-sia saja jika pada akhirnya kota-kota dihacurkan seperti di video ini. Pemerintah kita menghadapi sedemikian banyak persoalan, ekonomi, kesehatan, terorisme, dan digempur “kaum serigala” yang maunya cuma main proyek. Sangat patut kita syukuri, pemerintah kita tetap mampu berdiri tegak menghadapi semua kesulitan ini. Di luar sana, ada pemerintahan-pemerintahan yang dikudeta; atau gagal, tidak mampu berbuat apa-apa lagi.

Mari jaga bersama NKRI

https://web.facebook.com/DinaY.Sulaeman/videos/255705485937070

.—

Sumber Utama : https://dinasulaeman.wordpress.com/2021/02/08/menolak-lupa-soal-isis-2/#more-7023


Fatwa Teror dan Dosa Hoax Ustadz Bachtiar Nasir
DutaIslam.Com
- Ustadz Bachtiar Nasir (UBN), gembong pimpinan GNPF (bukan MUI), adalah sosok yang dianggap muslimin sebelah sebagai pemersatu umat Islam Indonesia setelah berhasil mengumpulkan jutaan manusia, mendukung tersangka kasus penistaan Al-Qur'an, Ahok, di Jakarta, dengan aksinya yang terkenal sebagai aksi 411 lanjut aksi 212. (Baca: Apakah Bashar Assad Betul Syiah, Bacalah!)

Namun, dibalik keberhasilan itu, ternyata banyak yang menyebut kalau UBN adalah jaringan radikal Islam Indonesia yang bersinambung lebay dengan Ahrar Syam dan Jaisy Al Fateh di Suriah. Meskipun kedua jaringan itu anti ISIS, mereka adalah pemberontak kepada pemerintahan sah pimpinan presiden bermadzhab sunni, Bashar Al-Assad. (Baca: Jurus Mabuk Media Barat Mempengaruhi Masyarakat)

Jika bendera resmi Suriah menggunakan bintang berwarna hijau, UBN, dalam foto yang dikirimkan kepada Dutaislam.com, ia justru mengibarkan bendera Suriah yang biasa digunakan para pemberontak, yang bintangnya berwarna merah. Ini fotonya:

Bendera Suriah pemberontah ISIS
Penelusuran Dutaislam.com mendapatkan keterangan kalau bendera Suriah dengan triwarna horizontal (hijau, putih dan hitam) dengan tiga bintang merah, digunakan oleh pemberontak yang menginginkan Bashar Assad digulingkan. Mereka adalah Majelis Kebangsaan Suriah, Tentara Pembebasan Suriah dan Ikhwan Muslimin Suriah.

Sementara, bendera Suriah yang berbintang hijau dua dengan triwarna merah-putih-hitam, digunakan oleh pendukung pembebasan Suriah (Aleppo bagian sah wilayah Suriah) dari penjajahan pemberontak. Bendera inilah yang dijadikan simbol kemenangan rakyat Suriah ketika Alleppo berhasil diambil alih tentara Suriah. Menurut keterangan Wikipedia, bendera ini sah digunakan sejak tahun 1980 hingga sekarang.

Sayangnya eh sayangnya, bukan bendera ini yang dipilih UBN untuk mendukung rakyat Suriah sana. Ia memilih bendera Suriah berbintang merah tiga. Jelas kan, UBN memihak ke siapa? Sebelah menyebut bendera di bawah ini sebagai rakyat yang pro Assad Syiah. Hahaha. Koplak. (Baca: Siapa Bahsar Assad Sesungguhny?)

Bendera Suriah yang resmi.

Tangan yang digunakan UBN untuk berjejaring dengan pemberontak di Suriah adalah IHR (Indonesian Humanitarian Relief). Lembaga inilah yang digunakan UBN untuk mengirim logistik ke Suriah, yang pada beberapa waktu lalu terungkap ada yang teronggok di gudang logistik. Konon tidak diberikan kepada korban konflik, tapi pihak lawan (pemberontak). Ini bukti UBN adalah bagian dari IHR. Kaosnya keren. Selfie dulu yah biar terkenal.


Bachtiar Nasir Selfie pakai kaos IHR

 Menurut sumber terpercaya Dutaislam.com, UBN pernah mengamini fatwa Yusuf Qardlawi (YQ) yang menghalalkan darah Gaddafi di awal konflik Libya, dimana YQ dan jaringannya juga pernah mempropagandakan Khilafah di Libya saat Gaddafi diserang Al-Qaida melalui bantuan serangan udara NATO.

Menurut sumber, pada November 2012, ketika Suriah memanas, YQ juga pernah membuat fatwa halal darah pemerintah Suriah. Pasca Gaddafi tumbang, fatwa (mengerikan berbau amis) teror tersebut pernah diviralkan jaringan UBN dan media Islam radikal hingga sampai ke Indonesia. Untuk fatwa yang satu ini, kayaknya tidak ada pengawalan ketat seperti fatwa MUI kemarin. Hehe.

Walaupun antara FSA (Front Syirian Army, tentara pembelot TN Suriah) dan Al-Qaida beda madzhab hingga pernah saling mutilasi kepada pada tahun 2014, namun thariqoh mereka sama, yakni thariqah qital baina biladil muslimin (pemuja perang di negara-negara muslim). UBN, dekat dengan keduanya. Hebat kan jaringan beliau ini? Jozz lah pokoknya.

Wajar jika ceramah dan tweetnya kadang ngawur. Dipenuhi hasudan dan kebencian mendalam kepada sudara muslim yang ia sendiri tidak tahu persis peta politiknya di negara mereka. Pada Desember 2014, saking membabi buta mengajak perang, dalam tweetnya, UBN membuat status yang terbukti hoax. Foto perang di Iraq tahun 2003 dibuat keterangan bodong sebagai kekejaman perang rezim Asad di Suriah. Naudzubillah, ustaaaadz. Ini kicauan hoax UBN.

  Caption atau status UBN di atas sangat mudah dilacak Dutaislam.com. Hanya dengan metode sederhana, langsung ketemu foto aslinya. Ternyata foto tersebut diambil oleh pemain hoax dari situs http://montanari.blogautore.repubblica.it/, klik saja, nanti akan ketemu. Yang panting Anda paham bahasanya. Kalau tidak paham, Anda akan tetap menuduh Dutaislam.com penyebar info yak nah. Hahaha. Klik, kepala dingin, biar tidak stroke yah. [dutaislam.com/ wanras]

Tweet Hoax Bachtiar Nasir
Sumber: https://mobile.twitter.com/bachtiarnasir/status/545727599545044993

 Sumber Utama : https://www.dutaislam.com/2017/01/fatwa-teror-dan-dosa-hoax-ustadz-bachtiar-nasir.html

Bachtiar Nasir dan Peggy Melati Sukma Bawa Bendera Teroris Suriah

Bachtiar Nasir dan Peggy Melati Sukma Bawa Bendera Teroris Suriah

Bachtiar Nasir dan Peggy Melati Sukma Bawa Bendera Teroris Suriah

 Sumber Utama : https://arrahmahnews.com/2018/08/05/beredar-foto-bendera-teroris-suriah-berkibar-di-pejaten/38471808_2027256260647560_5389792538930446336_n/

Jawaban Telak Dina Sulaeman kepada Bachtiar Nasir, Siapa Sih yang Anti-Demokrasi?

Jakarta, ARRAHMAHNEWS.COM – Jawaban telak Dina Sulaeman kepada Bachtiar Nasir yang sebut kaum anti-Demokrasi tidak menginginkan Habib Rizieq di Indonesia, seperti dimuat olehi media Jpnn.com pada tanggal 23 Augustus 2020. Kita semua sudah tahu rekam jejak hitam Bachtiar Nasir mantan Ketua Gerakan Nasional Pengawal Fatwa (GNPF).

Dina, baru kemarin saya nulis soal “Apakah kekuatan demokrasi boleh melawan kekuatan anti-Demokrasi?” eeeh..pagi ini baca berita yang judulnya mengutip Ustad Bachtiar Nasir (UBN), yang mengata-ngatai “orang yang tidak menghendaki Habib Rizieq Shihab (HRS) pulang” sebagai “kaum anti-Demokrasi”.

BACA JUGA:

Pertama, untuk para komentator, plis ya, saya tidak mau thread ini jadi ajang caci-maki personal ke UBN dan HRS. Kita komen santuy aja, bedakan diri dengan kelompok yang selama ini sudah sangat mahir mengata-ngatai “kafir, sesat, penggal, bunuh” itu. OK?.

Jawaban Telak Dina Sulaeman kepada Bachtiar Nasir, Siapa Sih yang Anti-Demokrasi?
Bachtiar Nasir Kibarkan Bendera Pemberontak Suriah

Kedua, sangat menggelikan UBN bicara soal demokrasi. Bukankah beliau selama Perang Suriah mendukung FSA? (Bukti: ada jejak digital foto UBN+bendera FSA; lalu, ada bantuan dari lembaga UBN yang “nyasar” ke gudang makanan Jaish Al Islam di Aleppo).

Buat yang belum tahu, FSA ini sama saja dengan kelompok-kelompok teror lain di Suriah (ISIS, Al Nusra, Jaish al Islam dll.. mereka ada ratusan dengan nama yang beda-beda,kadang berantem rebutan pampasan perang, kadang berkoalisi dalam menyerang warga sipil Suriah dan pemerintah Suriah). Mengapa disebut teroris? Karena aksinya penuh teror (melempar bom ke tengah keramaian warga, pemenggalan kepala orang-orang “kafir”, dll).

Jadi, lucu kan, kok ujug-ujug UBN bawa-bawa demokrasi. Dalam demokrasi, kalau mau menumbangkan sebuah rezim, ya lakukan langkah demokratis (antara lain, pemilu), bukan teror. Menyusul aksi-aksi demo di Suriah tahun 2011-2012, sudah dilakukan berbagai langkah demokratis untuk memperbaiki sistem negara, tapi para pengusung khilafah memang tak mau demokrasi, makanya angkat senjata (baca selengkapnya di buku saya Prahara Suriah -ini ada ebook gratisnya- atau Salju di Aleppo).

BACA JUGA:

Ketiga, soal HRS. Di berita itu, UBN menyebut HRS sebagai sosok yang sangat demokratis, sehingga “yang anti pemulangan HRS adalah kaum yang antidemokrasi”.

Saya tidak tahu bagaimana mengukur kedemokratisan HRS. Yang jelas, HRS pernah melempar ide soal “NKRI Bersyariah”. Nah di alam demokrasi, idealnya kan gini: ide harus dilawan dengan ide, ya kan?.

Saya sudah mengkritisi ide “NKRI Bersyariah” dari HRS dalam sebuah buku (isinya kumpulan tulisan beberapa orang). Intinya, saya tulis: ada 3 masalah besar dari ide HRS dan para pengusungnya, yaitu, mereka itu berpaham takfirisme, ekstremisme, dan tidak mampu berpikir metodologis. Penjelasan detilnya, silakan baca tulisan saya itu.

BACA JUGA:

Nah, karena 3 masalah itu pula, mereka suka memaksakan ide. Kalau kita bantah, kita dianggap anti Islam. Contohnya, kata komentator di status saya kemarin, “Kamu ini Muslim, tapi kok antikhilafah?”

Nah sekarang rupanya ada “gaya baru”: kalau kita tidak setuju dengan para penolak demokrasi, kita akan disebut “kaum antidemokrasi”. Wes.. angel.. angel… (ARN)

Sumber Utama : https://arrahmahnews.com/2020/08/25/jawaban-telak-dina-sulaeman-kepada-bachtiar-nasir-siapa-sih-yang-anti-demokrasi/

Apakah Umat Islam Masih Percaya Dengan Bachtiar Nasir Setelah Mengetahui “Kedoknya”?

Penulis sudah beberapa kali menulis tentang sosok Bachtiar Nasir ini dalam beberapa tulisan. Penulis perlu membahas lagi tentang sosok ini sehingga umat Islam dan rakyat Indonesia tidak akan mudah “dibodohi” oleh para politikus busuk yang ngaku-ngaku Ulama, Ustad atau apalah namanya.

Bachtiar Nasir ini adalah mantan Ketua GNPF MUI yang sekarang berubah lagi menjadi GNPF Ulama yang katanya untuk membela Ulama dan agama, tapi itu katanya karena faktanya tidak jelas apa manfaat GNPF Ulama saat ini…

Apa sih manfaat GNPF Ulama terhadap umat Islam saat ini?

Apa sih manfaat mereka bagi rakyat Indonesia saat ini?

Kumpulin orang untuk demo dengan angka ‘togel’ yang dibuat-buat seperti kemauan mereka?

Mereka juga baru terbentuk kemarin sore, jadi sangat jauh beda dengan ormas Islam terbesar di Indonesia seperti NU dan Muhammadiyah yang sudah ada sebelum Indonesia merdeka dan sudah banyak memberikan manfaat kepada umat Islam dan rakyat Indonesia melalui bangunan yang mereka dirikan seperti sekolah, mesjid, tempat kesehatan, panti suhan dan lain sebagainya.

Mereka yang terbentuk kemarin sore tapi sudah merasa berkuasa di Indonesia, seolah merekalah yang paling berhak menentukan nasib seseorang dan bila ada yang melawan mereka maka akan langsung dicap sebagai anti Islam?

Merea sebenarnya hanya kumpulan orang yang “memanfaatkan” Islam demi kepentingan politik prbadi dan kelompok mereka sendiri!

Sekarang Bachtiar Nasir ini bukan lagi sebagai Ketua GNPF Ulama tetapi dia sudah menjadi salah satu anggota dewan Pembina GNPF Ulama sedangkan KetuaDewan Pembina GNPF Ulama tetap yaitu Rizieq Syihab. Jadi sebenarnya, GNPF Ulama ini adalah “jelmaan” lain dari FPI karena orang tertingginya tetap Rizieq Syihab.

Penulis jadi ingat saat Bachtiar Nasir mengemukakan dukungan terbuka kepada Prabowo-Sandiaga Uno dengan mengatakan bahwa tuduhan pro khilafah adalah tolol seperti yang dimuat dalam situs https://news.detik.com/berita/d-4493279/dukung-prabowo-bachtiar-nasir-sebut-isu-pro-khilafah-tuduhan-tolol

Lalu dibalas oleh tim Jokowi-KH. Ma’ruf Amin bahwa yang tolo sebenarnya adalah yang omong seerti yang dilansir dalam situs https://www.tagar.id/bachtiar-nasir-tuduhan-khilafah-sangat-tolol-tkn-yang-tolol-yang-bicara

Bachtiar Nasir boleh saja ngeles bahwa dia bukan pendukung (pro) khilafah, boleh saja dia mengatakan bahwa pro khilafah adalah tuduhan tolol, tetapi faktanya membuktikan sebaliknya bahwa benar jika Bachtiar Nasir ini merupakan salah satu pendukung khilafah seperti yang terlihat dalam video berikut ini:

<iframe width="100%" height="315" src="https://www.youtube.com/embed/68xswYaJsfo" frameborder="0" allow="accelerometer; autoplay; encrypted-media; gyroscope; picture-in-picture" allowfullscreen></iframe>

Jadi apa yang dikatakan oleh tim TKN Jokowi-KH. Ma’ruf Amin bahwa yang tolol adalah yang bisa terbukti benar!

Bukan hanya pro khilafah, Bachtiar Nasir ini juga pernah “memprovokasi” umat Islam untuk melakukan revolusi di Indonesia seperti yang terlihat dalam video berikut ini:

<iframe width="100%" height="315" src="https://www.youtube.com/embed/UVCqrnxwJ38" frameborder="0" allow="accelerometer; autoplay; encrypted-media; gyroscope; picture-in-picture" allowfullscreen></iframe>

Aneh tapi nyata, teriak tolol karena dianggap pro khilafah padahal memang pendukung khilafah tapi masih ngeles juga. Dan orang seperti ini begitu mudahnya memprovokasi umat Islam dan rakyat Indonesia untuk melakukan revolusi di Indonesia!

Revolusi untuk melawan siapa? Melawan pemerintahan yang sah di bawah kepemimpinan Presiden Jokowi yang dipilih oleh mayoritas rakyat Indonesia sejak tahun 2014 silam?

Bukankah provkasi melawan pemerintah yang sah itu adalah salah satu bentuk pemberontakan?

Lalu “provokator” ini ngaku-ngaku Ustadz? Ulama?

Sssttt, ini video Bachtiar Nasir “bangga” minum kencing onta saat berada di Arab sana...

<iframe width="100%" height="315" src="https://www.youtube.com/embed/bg7p7Zjtr2g" frameborder="0" allow="accelerometer; autoplay; encrypted-media; gyroscope; picture-in-picture" allowfullscreen></iframe>

Penulis juga masih ingat jika Bachtiar Nasir ini pernah ketahuan memegang bendera pemberontak Suriah yang dibuat dan dibiayai oleh Amerika, Zionis dan sekutunya untuk menggulingkan pemerintah Surah yang sah di bawah kepemimpinan Presiden Bashar Al Assad!

Article

Article

Article

Jangan ngeles jika Bachtiar Nasr tdak tahu membedakan mana bendera resmi Suriah dan mana benderapemberontak Suriah karena itu sama saja memperlihatkan “kebodohannya”.

Jika ada yang ngeles bahwa tidak mungkin pemberontak Suriah dibuat dan dibiayai oleh Amerika, Zionis dan sekutunya, silahkan saja lihat bendera pemberontak Suriah berkibar bersama bendera Amerika dan Zionis berikut ini:

Article

Article

Article

Article

Penulis juga pernah membahas apa dan siapa sebenarnya di belakang pemberontak Suriah dalam tulisan https://seword.com/politik/fix-simpatisan-pemberontak-suriah-mendukung-prabowosandiaga-uno-NzjYYr4op

Dan yang terbaru, dia adalah salah satu juru kampanye nasional pasangan Prabowo-Sandiaga Uno dalam Pilpres 2019.

Jadi, sudah kelihatan siapa pendukung dan timses Prabowo yang ngaku-ngaku Ulama yang katanya untuk membela Ulama dan agama.Ternyata mereka hanya kumpulan orang pendukung/timses Prabowo-Sandiaga Uno dalam Pilpres 2019 tahun ini.

Pertanyaannya...

Setelah mengetahui bahwa Bachtiar Nasir ini adalah jurkam nasional pasangan Prabowo-Sandiaga Uno yang merupakan pendukung khilafah dan sebagai “provokator” yang memprovokasi umat Islam dan rakyat Indonesia untuk melakukan revolusi di Indonesia...

Masihkah umat Islam da rakyat Indonesia percaya jika Bachtiar Nasir seorang Ustadz atau Ulama?

Atau dia hanya seorang pendukung Prabowo “berkedok” Ustadz atau Ulama?

Silahkan umat Islam dan rakyat Indonesia berpikir jernih...

Sumber Utama : https://seword.com/politik/apakah-umat-islam-masih-percaya-dengan-bachtiar-nasir-setelah-mengetahui-kedoknya-kwmxQb3Ap

Anies Baswedan Menonton Hayya: Teringat Penderitaan Palestina

Anies Baswedan Menonton Hayya: Teringat Penderitaan Palestina


TEMPO.CO, Jakarta - Gubernur DKI Jakarta Anies Baswedan menonton film Hayya, The Power of Love 2 di Studio XXI Pondok Indah Mall, Jakarta, pada Kamis, 19 September 2019. Ia menonton film bersama istrinya, Fery Farhati dan ibundanya, Aliyah Rasyid Baswedan.

“Film ini mengingatkan kita atas penderitaan anak-anak Palestina dan kepedulian bangsa Indonesia pada Palestina,” katanya untuk memberikan keterangan pada lima foto yang diunggah di akun Instagramnya .

Menurut Anies, cinta adalah kata kerja dan semua hal sebenarnya bisa dikerjakan sebagai ungkapan cinta. “Apalagi untuk anak yatim piatu dari tanah pendudukan yang penuh desingan peluru,” ucapnya.

Ia menjelaskan, setelah melihat film ini, ia merasa Hayya padat akan pesan, berhasil mengalirkan nuansa haru, takjub, dan menggugah simpati.

Unggahan Anies ini mendapatkan komentar dari hampir 2.000an netizen. “Mantap Pak, semoga film Hayya menembus sejuta penonton,” kata Wahyu Putra.

Akun resmi film tersebut, @hayyathemovie kemudian menangkap layar unggahan Anies ini dijadikan unggahan mereka pada Jumat, 20 September 2019. “Oh iya, kemarin kita kedatangan tamu besar di PIM XXI, yakni pak gubernur #@aniesbaswedan dan beliau kebetulan juga suka dengan filmnya.”

Film yang dibintangi oleh Fauzi Baadila itu mencatat ada 93.276 penonton di hari pertama. “Penonton hari pertama kemarin luar biasa. Jauh melebihi apa yang kita harapkan,” tulis mereka.

https://seleb.tempo.co/read/1250216/...taan-palestina

Image

Sumber Utama : https://m.kaskus.co.id/thread/5d86fff52f568d4cf66317c0/anies-baswedan-menonton-hayya-teringat-penderitaan-palestina/1/?order=desc

Adakah Hubungan Intim ‘Antara Bukalapak dengan ACT, HTI, Suriah dan Bachtiar Nasir’?

Arrahmahnews.com, Jakarta – Akun Facebook Dahono Prasetyo membongkar apakah benar ada hubungan intim “Antara Bukalapak dengan ACT, HTI, Suriah dan Bachtiar Nasir“, seperti kita ketahui bersama bahwa ACT ini adalah salah satu organisasi kemanusiaan yang saat ini masih misterius donasinya disalurkan kemana saja.

Menurut Dahono, bagi penggila belanja online, nama Bukalapak sebagai icon marketplace lokal sedikit banyak menyimpan beberapa “fenomena politik”. Bagaimana sebuah situs online beromset trilyunan rupiah menjadi salah satu sisi gelap konspirasi ideologi di Indonesia.

Baca: Lembaga Dokter Swedia Diancam Pasca Ungkap Kebusukan White Helmets

Kronologisnya barangkali bisa disimak: Silahkan buka situs bukalapak, kemudian “pura-pura” lakukan pembelian maka munculah format pembayaran yang harus dilakukan. Pada salah satu pilihan tertera “Donasi Rp 500 melalui Lembaga ACT“. Jika kita menyetujui, maka total angka yang harus dibayarkan bertambah Rp 500.

pakah ACT itu? ACT (Aksi Cepat Tanggap) adalah sebuah lembaga pengumpul Donasi kemanusiaan. Untuk lebih jauh menelusuri ACT Silahkan Googling dengan kata kunci: “ACT dan ISIS” maka akan muncul beberapa link berita yang mengupas keterkaitan lembaga donasi itu dengan ISIS dan Suriah.

Di salah satu portal berita: Melacak Aliran Dana untuk Suriah dari 10 Lembaga Amal Indonesia Meskipun bukan portal berita mainstream, tetapi liputanislamcom cukup akurat memberitakan tentang dana sumbangan kemanusiaan. Salah satu fakta menunjukkan ada foto sumbangan dari Indonesia berlabel IHR (Indonesia Humanitarian Relief) berada di kota Allepo ditengah markas pemberontak ISIS. IHR adalah proyek kemanusiaan yang menjadi sayap kanan dari ACT.

Baca: Kerjasama IHR dengan IHH Pemasok Senjata Teroris di Suriah Berkedok Misi Kemanusiaan

Berlanjut menelisik browsing dengan kata kunci IHR, maka kita akan menemukan beberapa berita keterkaitan IHR, ACT dan Bachtiar Nasir. Sosok yang satu itu pernah menjadi tersangka penyalahgunaan penyaluran dana kemanusiaan. Beliau salah satu aktivis HTI yang paling aktif menggalang sekaligus menyalurkan dukungan. Bagi yang masih meragukan silahkan Googling dengan keyword “Bachtiar Nasir dan HTI”.

Baca: IHH Lembaga Pendukung Teroris Berkedok Kemanusiaan dari Turki

Singkat kata, adakah “hubungan intim” antara Bukalapak dengan ACT, HTI, Suriah dan Bachtiar Nasir, silahkan menganalisa sendiri. Yang bisa digaris bawahi adalah bukan tentang 500 perak sumbangan donasi tanpa paksaan itu, atau Bukalapak yang sudah meminta maaf pada Pakdhe gegara postingan “nyinyir” berujung uninstalbukalapak.

Baca: Netizen: ACT dan Dompet Dhuafa Bela Perusuh?

Tetapi siapa berafiliasi dengan siapa patut menjadi pertimbangan saat kita belanja di Bukalapak, ada sepeser uang kita yang mengalir tanpa sadar mendukung perjuangan “pemberontakan” atas nama kemanusiaan.

Satu catatan penting mengapa HTI dan Khilafahnya tak kunjung redup meski pemerintah sudah membubarkannya. Bukalapak, Bukalah Topengmu. (ARN)

Bukalapak Donasi ACT

Sumber Utama :  https://arrahmahnews.com/2019/07/23/adakah-hubungan-intim-antara-bukalapak-dengan-act-hti-suriah-dan-bachtiar-nasir/

Kupas Tuntas Hubungan Teroris dengan IHH dan IHR Milik Bachtiar Nasir

IHH-IHR dan Teroris
Perang Suriah

Kupas Tuntas Hubungan Teroris dengan IHH dan IHR Milik Bachtiar Nasir

Arrahmahnews.com, Jakarta – Alhamdulillah! Sekecil apapun keburukan yang dibungkus dan dihiasi dengan berbagai ‘kebaikan’ pasti akan tercium juga bau busuk darinya, karena dengan begitu Allah akan membuka pintu petunjuk kepada orang-orang yang tertipu dan termakan propaganda mereka. Kita akan kupas tuntas hubungan antara IHH dengan teroris serta bantuan IHR milik Bachtiar Nasir.

Demikian juga dengan petunjuk yang satu ini. Untuk pertama kalinya NGO-NGO yang berkedok menggalang dana untuk membantu rakyat Aleppo, terbongkar lewat sebuah video yang memperlihatkan dengan jelas bahwa bantuan yang disalurkan lewat IHR berada di gudang-gudang teroris di Aleppo. Semoga ini menjadi preseden baik bahwa masyarakat muslim Indonesia yang selama ini dibodohi dengan berbagai kepalsuan, sadar bahwa sumbangan-sumbangan yang selama ini mereka salurkan digunakan untuk mendukung terorisme di Suriah, dan tidak lagi menyalurkan bantuan kemanusiaan kepada mereka yang punya hubungan erat dengan teroris di Suriah.

aleppo-ihr2

Sebagian orang mungkin masih meragukan video tersebut, dan bisa saja menganggapnya bahwa bantuan yang disalurkan oleh IHR dirampas teroris bukan sengaja disalurkan. Dengan demikian, maka butuh investigasi mendalam untuk membuktikan bahwa batuan itu benar-benar diberikan dengan sengaja kepada kelompok-kelompok teroris di Suriah.

Sekarang, kami mencoba membuktikan bahwa bantuan yang dikumpulkan dari sumbangan muslim Indonesia, yang disalurkan melalui İnsan Hak ve Hürriyetleri İnsani Yardım Vakfı atau dikenal dengan nama IHH, sebenarnya tidak pernah sampai ke tangan rakyat Suriah. Artinya IHH bisa menjadi kunci untuk menelusuri arus bantuan tersebut, dengan menelanjangi orang-orang yang berkerja di IHH, apakah memiliki hubungan dengan kelompok-kelompok teroris atau tidak?

Baca juga: IHR Salurkan Bantuan Muslim Indonesia ke Teroris Suriah : Video

Kembali, pada 26 Desember, IHR dalam press releasenya mengeluarkan pernyataan sikap dan menegaskan bahwa bantuan kemanusiaan kepada masyarakat Suriah kami lakukan dengan bekerjasama dengan lembaga kemanusiaan yang sangat kredibel di Turki, yakni İnsan Hak ve Hürriyetleri İnsani Yardım Vakfı atau dikenal dengan nama IHH.

Benar IHH memiliki kiprah yang pernah mengguncang dunia, saat menjadi inisiator konvoi kemanusiaan Freedom Flotilla menuju Gaza, Palestina, yang diikuti lembaga dan aktivis kemanusiaan dunia. Namun, apakah prestasi ini akan menjadikannya lembaga kemanusiaan yang kredibel sepanjang masa? Tentu tidak, karena setiap perbuatan baik belum tentu memiliki tujuan yang baik dan setiap kebaikan tidak mematenkan pelakunya baik sepanjang masa.

Baca juga: Polisi Akan Selidiki Dugaan Bantuan Dana Ketua GNPF MUI ke Suriah

Menelanjangi IHH

Mari kita mulai dari Mavi Marmara. Mavi Marmara adalah armada kemanusiaan untuk memberi bantuan pada penduduk Gaza, Palestina. Kapal ini diisi oleh berbagai aktivis kemanusiaan dari berbagai negara. Namun, iring-iringan yang terdiri dari enam kapal ini diserbu pasukan komando Israel sebelum sampai di Gaza, pada 31 Mei 2010.

Pada, 3 Februari 2012, Situs Empirestrikesblack mengeluarkan laporan bahwa serangan pasukan Israel ke konvoi kemanusiaan Freedom Flotilla adalah operasi lama yang telah direncanakan dan dilakukan dengan kerjasama penuh pemerintah Turki. Tujuan dari operasi palsu itu adalah bagian dari perang yang sedang berlangsung di Suriah.

abdelhakim-belhadj
Abdelhakim Belhaj aset berharga NATO dan jagal dari Tripoli

Masih dalam laporan Empirestrikesblack, pada 17 Desember 2011, seorang jurnalis Spanyol Daniel Iriarte mengungkapkan sejumlah fakta kunci.

Pertama, tiga orang otak konvoi kemanusiaan Freedom Flotilla asal Libya terhubung dengan Abdelhakim Belhaj (aset berharga NATO dan jagal dari Tripoli). Belhaj pernah dikaitkan dengan serangan bendera palsu di Madrid pada 11 Maret 2004, untuk menjatuhkan mantan Perdana Menteri Spanyol Jose Maria Aznar, yang kemudian menyingkirkan Aznar dari tampuk kekuasaan.

Mahdi Harati

Kedua, hubungan Belhaj dengan NATO tidak bisa diabaikan. Ia telah menjadi footssoldier NATO, yang menghubungkan Barat dengan negara-negara Teluk Persia GCC dan Israel, untuk menjalankan misi di Libya dan Suriah. Saat bertemu dengan Iriarte di Libya, Belhaj bersama Mahdi al-Harati (komandan brigade Tripoli memainkan peran kunci dalam mengkudeta Gaddafi) yang ditugaskan untuk memimpin Dewan Militer Tripoli, nampaknya tidak menyembunyikan identitas mereka dengan mengungkapkan bahwa Dewan Militer Tripoli adalah kekuatan proxy NATO, yang bertugas mempersatukan tentara bayaran yang berperang bersama NATO di Libya, yang pada dasarnya melakukan pekerjaan kotor “penjajah”.

Dalam pengakuannya al-Harati mengatakan kepada Iriarte bahwa ia “terluka saat serangan di Mavi Marmara, dan menghabiskan sembilan hari di penjara Tel Aviv”. Sementara, Christof Lehmann editor NSNBC mengungkapkan kepada penulis bahwa sumber Palestina yang terhubung dengannya memberitahukan bahwa selain al-Harati, aset berharga NATO Abdelhakim Belhaj sendiri juga berada di kapal Mavi Marmara pada malam naas itu.

Pembaca seharusnya tidak terkejut dengan Mahdi al-Harati, yang telah bebas perawatan dan tinggal dengan paspor Irlandia dan ratusan ribu pound dari kas CIA. Setelah semua itu, al-Harati yang melayani agenda Barat-Israel, kembali ke Libya dari Irlandia pada awal kontrarevolusi pada bulan Februari, untuk memimpin pasukan pemberontak blok NATO. Lalu apa yang dilakukan dua aset intelijen Barat, Mahdi al-Harati dan Belhaj di kapal Mavi Marmara? Sebuah kapal yang berlayar ke Gaza, yang ingin menembus blokade Israel sebagai aksi solidaritas kemanusiaan dari seluruh dunia.

Jejak Mahdi Al-Harati

Pembantaian Mavi Marmara adalah penipuan besar yang diatur oleh Turki dan Israel dalam rangka memfasilitasi penghapusan tokoh tertentu di Turki, yang gencar menentang perang Erdogan di Suriah. Kehadiran aset NATO, Belhaj dan al-Harati di kapal Mavi Marmara dimaksudkan untuk memfasilitasi pembunuhan terhadap tokoh tersebut.

Laporan dari misi pencari fakta dari Kantor Komisi Tinggi PBB untuk Hak Asasi Manusia (OHCHR) atas serangan Israel pada konvoi kemanusiaan Freedom Flotilla, pada September 2010, menemukan fakta-fakta bahwa enam korban yang tewas dalam serangan itu, dibunuh dengan  ‘gaya eksekusi’ oleh pasukan Israel. Laporan itu menyebutkan bahwa tidak hanya Furkan Dogan yang dieksekusi, tapi lima korban lainnya juga dilumpuhkan dalam ‘beberapa waktu’, sebelum akhirnya ditembak di kepala dari jarak dekat.

Metode eksekusi ini digunakan oleh koperasi Israel yang menunjukkan bahwa mereka berada di bawah perintah untuk membunuh penumpang tertentu di kapal tersebut. Ide ini sangat dikuatkan oleh laporan bahwa tentara IDF membawa daftar yang dilengkapi dengan foto sasaran pembunuhan ketika mereka naik ke atas kapal.

Tujuan strategis kunci lain dari operasi ini adalah untuk menggalang dukungan masyarakat Turki kepada Erdogan, yang segera mengambil sikap agresif terhadap Israel. Dukungan publik ini, dimaksudkan untuk disalurkan ke kampanye Turki terhadap Suriah.

Christof Lehmann menggambarkan pembantaian aktivis kemanusiaan di Mavi Marmara, sebagai “bendera palsu yang paling menipu dalam sejarah kontemporer”. Pada saat Hamas – faksi utama perlawanan Palestina mulai menyesuaikan diri dengan Qatar dan Arab Saudi (yang terbukti menjadi arsitek perang di Libya & Suriah), ini tampaknya menarik, dan layak dipertimbangkan. Setahun setelah pembantaian armada Mavi Marmara, hubungan ekonomi dan militer antara Turki dan entitas Zionis dibayarkan dengan mitos bahwa kedua negara telah memutuskan hubungan mereka.

Hurriyet Daily News dan New York Times -melukiskan gambaran yang menarik mengenai hubungan militer dan ekonomi kedua negara yang sebenarnya tetap berlanjut, meskipun dipermukaan seakan-akan terlihat putus hubungan bilateral dengan pengusiran Dubes Tel Aviv untuk Ankara. Menashe Carmon, seorang pengusaha Israel yang dibesarkan di Istanbul mengatakan kepada New York Times “Tidak ada perusahaan Israel yang meninggalkan Turki,” dan “Ini adalah bisnis seperti biasa, investasi pertumbuhan tetap berlanjut.”

Laporan NYT juga mengklaim bahwa, menurut para pejabat Turki, kerjasama yang erat antara militer Israel dan Turki masih terus di belakang layar setelah pertumpahan darah armada Mavi Marmara. Beberapa minggu setelah serangan armada, delegasi militer Turki tiba di Israel untuk mempelajari cara mengoperasikan pesawat tanpa awak yang sering digunakan oleh Israel untuk memburu militan Palestina di Jalur Gaza.

Setidaknya, kesepakatan untuk drone senilai $ 190.000.000 tidak dibatalkan, bahkan sebagian instruktur Israel berada di Turki setelah serangan itu.Doron Abrahami, staf Konsulat Israel di Istanbul mengungkapkan bahwa penelitian dan pengembangan kolaborasi antara Israel dan Turki sedang ditugaskan hanya beberapa minggu setelah serangan terhadap Mavi Marmara.

Mahdi Al-Harati dan Pemberontak Suriah

Mahdi al Harati dengan bantuan Bernard Henri Levy berhasil menggulingkan Kaddhafi. Orang ini adalah pembunuh bayaran dan sekarang terlibat dalam pertempuran sengit di Suriah, yang tergabung dengan Free Syirian Army (FSA). Orang ini disewa oleh CIA, ia berada di Freedom Flotilla sebagai aktivis perdamaian. Anda berbicara tentang perdamaian! Orang ini adalah agen CIA berpakaian Aktivis Perdamaian. Ini adalah penipuan dan manipulasi yang diprogram dan dilatih untuk menghancurkan negara-negara Timur Tengah yang menentang Zionis Israel.

mahdi_harati_bersama_belhaj_dan_poul_conroy
Al-Harati (tengah); Paul Conroy, diduga dari MI6, (kiri); Belhaj, terkait dengan al-Qaeda, (kanan).

Mahdi Al-Harati yang didukung NATO di Libya, kemudian ke Suriah bergabung dengan kelompok bersenjata yang memberontak melawan pemerintah.

Mahdi Harati bersama brigade teroris di Suriah
Mahdi Harati bersama brigade teroris di Suriah
Mahdi Harati

Mahdi Al-Harati, sekarang menjadi Direktur İnsan Hak ve Hürriyetleri İnsani Yardım Vakfı atau dikenal dengan nama IHH. IHH adalah LSM terbesar di Turki. IHH juga mengelola puluhan kamp pengungsi Suriah lengkap dengan shelternya, selain membangun perkampungan yatim terbesar di dunia dengan fasilitas lengkap seperti rumah, sekolah, fasilitas olahraga, juga taman rekreasi. IHH, wajah ideal lembaga kemanusiaan kelas dunia dengan kemampuan menggerakkan filantropi multisegmen, menyasar seluruh stakeholders dunia. Namun berbagai laporan menunjukkan bahwa IHH memiliki “kerja sampingan”, yaitu menyuplai senjata kepada “mujahidin”.

Insani Yardim Vakfi

Pada tanggal 3 Januari 2014, harian Turki Hurriyet melaporkan bahwa polisi Turki memergoki truk-truk bantuan atas nama IHH ternyata juga berisi amunisi dan senjata yang akan dikirim kepada pasukan-pasukan “jihad” Suriah. Truk itu bahkan didampingi oleh pejabat dari Organisasi Intelijen Nasional (MIT) Turki.

Beberapa hari sebelumnya, pemerintah Suriah secara resmi mengirim surat protes kepada PBB atas tindakan Turki yang secara sistematis menyuplai senjata kepada para militan yang ingin menggulingkan pemerintah Suriah. Menurut Dubes Suriah untuk PBB, “Mereka (para teroris) dilatih di perbatasan Turki-Suriah, dan setelah itu otoritas Turki membantu mereka untuk masuk ke wilayah Suriah.”Anehnya, Erdogan langsung menghalang-halangi media massa mengekspos masalah ini.

Pada tanggal 26 November 2014, dua wartawan dipenjara karena menulis mengenai kasus ini, yaitu Pemred Cumhuriyet Can Dündar dan pimpinan biro harian Ankara, Erdem Gül. Bahkan Erdogan langsung yang membuat tuntutan atas kedua jurnalis itu, dengan alasan, “Kisah [yang ditulis] memuat beberapa rekaman dan informasi yang tidak faktual.” Erdogan juga mengatakan, “Orang yang menulis tentang hal ini akan membayar ‘harga’ yang mahal.”

Baca juga: Erdogan Mengancam Wartawan Penyebar Video Truk Pembawa Amunisi ke Suriah

Twitter dan Facebook segera diblokir setelah merebaknya kasus ini. Dewan Tinggi Radio dan Televisi pun menyampaikan surat perintah dari pengadilan kepada semua media massa cetak, online, dan televisi yang berisi larangan memberitakan kasus ini. Website Hurriyet yang melaporkan proses pengadilan atas kasus ini juga disuruh menghapus semua kontennya.

Menurut  Ahmet Sait Yayla, mantan pejabat polisi Turki yang terlibat langsung dalam penyelidikan kasus ini, “Pemimpin IHH saaat itu ditangkap sebagai hasil dari investigasi ini pada saat itu, karena bukti yang kami peroleh menunjukkan bahwa kelompok ini banyak memberikan dukungan untuk ISIS. IHH telah menyediakan senjata dan amunisi untuk banyak kelompok jihad di Suriah, bukan hanya ISIS.”

Aljazeera melaporkan, polisi anti-teror Turki menggerebek beberapa kantor IHH di perbatasan Turki-Suriah dan menangkap beberapa orang dengan tuduhan terkait dengan Al Qaida. Tentu saja, IHH menolak lembaganya dikaitkan dengan penyelundupan senjata itu. Sekjen IHH Yasar Kutluay menyatakan, “Ini adalah kampanye kotor yang didukung oleh orang di dalam dan di luar Turki… Orang-orang ingin mencitrakan Turki sebagai pendukung terorisme.”

Pengiriman senjata untuk kelompok teroris di Suriah itu menurut laporan YournewsWire pada 22 Februari 2016 berlangsung dengan memanfaatkan fasilitas dari yayasan-yayasan kemanusiaan yang berbasis di Turki, Insan Hak ve Hürriyetleri ve İnsani Yardım Vakfı (IHH atau Yayasan Hak Asasi Manusia dan Kebebasan serta Bantuan Kemanusiaan), İmkander dan Öncü Nesil Insani Yardim Derneği.

Pasokan senjata yang dikirim melalui fasilitas yayasan-yayasan kemanusian termasuk IHH itu masih menurut laporan YourNewsWire terdiri dari berbagai bentuk senjata, peralatan militer dan amunisi serta bahan makanan dan obat-obatan yang datang dari luar negeri melalui pelabuhan Turki İskenderun. Peralatan dan perlengkapan militer serta bantuan lainnya, diangkut dari sana melalui Provinsi Hatay (Öncüpinar perbatasan) ke Aleppo dan Idlib di Suriah menggunakan kendaraan milik IHH, İmkander dan Öncü Nesil dengan pendaftaran Turki berikut: 33 SU 317, 06 DY 7807, 33 SU 540, 33 SU 960, 42 GL 074 dan 31 R 5487. Sampai di Suriah, senjata dan amunisi, serta bahan makanan itu didistribusikan ke kelompok pemberontak dan unit Jabhat al-Nusra.

Menurut The Times, seorang komandan Tentara Bebas Suriah mengatakan bahwa perahu yang membawa senjata ke Suriah pada September 2012, adalah “NGO IHH, yang memiliki hubungan dengan Ikhwanul Muslimin”. Samar Srewel, seorang aktivis FSA yang telah membantu untuk mengatur kiriman, mengatakan kepada The Times: “bahwa kedua belah pihak, IHH dan ikhwanul Muslimin di Turki, bekerja sama dalam pengiriman kargo senjata. Ini adalah apa yang mereka lakukan. Mereka membeli pengaruh dengan uang dan senjata mereka.”

Pada tanggal 18 Maret 2016, Rusia Duta Besar PBB Vitaly Churkin mengirim surat kepada Dewan Keamanan PBB mengatakan bahwa tiga organisasi kemanusiaan Turki (LSM) mengirim senjata dan perlengkapan untuk ekstremis di Suriah atas nama badan intelijen MIT Turki, selama Perang Saudara Suriah. Ketiga LSM itu dalah Besar Foundation, the Iyilikder Foundation and the Foundation for Human Rights and Freedoms (IHH).

Turkish gendarmeri serta analis Turki telah berulang kali menekankan bahwa markas IHH disusupi dan didanai oleh MIT dinas intelijen Turki. Turki secara resmi mengakui dukungannya pada “pemberontak oposisi” di Suriah, di antaranya brigade Takfiri Jabhat Al-Nusra, dan intelijen MIT memainkan peran sentral.

Truk milik IHH telah berulang kali terlibat dalam mengangkut senjata dari Turki ke tentara bayaran yang didukung Turki, termasuk Jabhat al-nusrah di Suriah, di bawah “bendera kemanusiaan”. Mengangkut senjata dengan kendaraan bantuan kemanusiaan adalah kejahatan perang serius dan melanggar Konvensi Jenewa.

Sementara IHH dan MIT terlibat dalam penyelundupan senjata ke tentara bayaran di Suriah, yang merupakan kejahatan perang.

Kesimpulannya, Yayasan Hak Asasi Manusia, Kebebasan dan Bantuan Kemanusiaan, IHH, secara aktif terlibat dalam brigade tentara bayaran di Suriah yang bekerja sama dengan MIT Turki. (ARN)


(1) ‘Islamistas Libios se desplazan a Siria para ayudar a la revolucion’ – ABC.es
(2) ‘Free Syrian Army commanded by Military Governor of Tripoli’ by Thierry Meyssan
(3) ‘GLADIO, Bin Laden to Erdogan, Belhadj and Hamas: Mossad´s and NATO´s Dirty Underwear 2012’ by Christof Lehmann
(4) ‘A CIA commander for the Libyan rebels’ by Patrick Martin
(5) ‘UN Fact-Finding Mission Says Israelis “Executed” US Citizen Furkan Dogan’ by Gareth Porter
(6) ‘Turkish Sources – Israeli Advance Target Assassination List Found on Flotilla’ – Redacted News
(7) ‘Hamas and al-Jamaa al-Islamiya: The New MB Look’ – Al-Akhbar English
(8) ‘Did Israel try to assassinate Sheikh Raed Salah on Mavi Marmara but kill a Turkish engineer instead?’ by Ali Abunimah
(9) ‘Turkey and Israel Do a Brisk Business’ by Dan Bilefsky
(10) ‘Business as usual between Turkey, Israel’ – Hürriyet Daily News, 30 May, 2011

Sumber Utama : https://arrahmahnews.com/2019/05/07/kupas-tuntas-hubungan-teroris-dengan-ihh-dan-ihr-milik-bachtiar-nasir-2/

Reuters: Agenda Terselubung Bachtiar Nasir Sikat Etnis Cina

 

Sabtu, 13 Mei 2017,

ARRAHMAHNEWS.COM, JAKARTA – Salah satu pimpinan sebuah Ormas Indonesia, yang menyebabkan gubernur Kristen Jakarta masuk penjara, telah menyusun rencana untuk kampanye baru bermotif rasial yang menargetkan ketidaksetaraan ekonomi dan investasi asing.

Dalam sebuah interview, Bachtiar Nasir mengatakan bahwa kekayaan minoritas etnis Tionghoa di Indonesia adalah sebuah masalah. Nasir meminta sebuah program tindakan afirmatif untuk penduduk asli Indonesia.

Tentu saja komentar ini dapat memicu ketegangan yang sudah tinggi di negara berpenduduk muslim terbesar di dunia tersebut. (Baca juga: IHR Salurkan Bantuan Muslim Indonesia ke Teroris Suriah : Video)

“Sepertinya mereka tidak menjadi lebih murah hati, lebih adil,” kata Nasir, merujuk pada orang-orang keturunan China, dalam wawancara di sebuah pusat Islam di Jakarta selatan. “Itu masalah terbesar,” tambahnya sebagaimana dikutip Reuters, Jum’at (12/05).

Etnis Tionghoa tidak sampai 5 persen dari seluruh penduduk Indonesia, namun mereka mengendalikan banyak konglomerat besar dan sebagian besar kekayaan Indonesia. Nasir juga mengatakan bahwa investasi asing, terutama investasi dari China, belum membantu masyarakat Indonesia pada umumnya.

Indonesia, memiliki ekonomi terbesar di Asia Tenggara, dan menjadi tujuan utama investasi asing di sektor pertambangan dan ritel. Jakarta juga berusaha memikat investor untuk penghematan infrastruktur senilai 450 miliar dolar untuk menghidupkan kembali pertumbuhan ekonominya.

“Pekerjaan kita selanjutnya adalah kedaulatan ekonomi, ketidaksetaraan ekonomi,” kata Nasir, seorang tokoh berpengaruh yang memimpin Gerakan Nasional Pengawal Fatwa Majlis Ulama Indonesia (GNPF-MUI). “Negara harus memastikan bahwa pihaknya tidak menjual Indonesia ke orang asing, terutama China”. (Baca juga: Kupas Tuntas Hubungan Teroris dengan IHH dan IHR Milik Bachtiar Nasir)

Kelompok Nasir sebelum ini mengorganisir demonstrasi ratusan ribu umat Islam di Jakarta akhir tahun lalu atas sebuah komentar tentang al-Quran yang dibuat oleh mantan gubernur Jakarta, Basuki Tjahaja Purnama alias Ahok, seorang Kristen etnis Tionghoa.

Basuki dinyatakan bersalah dalam pengadilan minggu ini dan dijatuhi hukuman dua tahun penjara, menimbulkan kekhawatiran bahwa kelompok Islam garis keras menjadi ancaman bagi kerukunan rasial dan religius di negara demokrasi ini.

Bachtiar Nasir, 49 tahun, dulunya memiliki acara keagamaan di salah satu jaringan TV terbesar di Indonesia. Kontraknya berakhir di bawah tekanan pemerintah setelah perannya dalam demonstrasi anti-Ahok pertama terungkap.

BERMAIN DENGAN API

Mantan Presiden Soeharto melarang orang-orang keturunan China untuk memiliki posisi sebagai pejabat publik, menolak ekspresi budaya mereka, memaksa mereka untuk menanggalkan nama China mereka,  dan membatasi mereka secara politik dan sosial, sehingga banyak dari mereka yang beralih ke bisnis dan menjadi kaya raya.

Kesenjangan kekayaan etnis China ini dijadikan alat propaganda kebencian di kalangan orang pribumi yang miskin, yang sebagian besar penduduk asli Melayu-Indonesia. Selama kerusuhan yang menyebabkan jatuhnya Suharto pada tahun 1998, bisnis etnis-Tionghoa menjadi sasaran, dan sekitar 1.000 orang terbunuh dalam kekerasan tersebut. (Baca juga: Polisi Akan Selidiki Dugaan Bantuan Dana Ketua GNPF MUI ke Suriah)

Tidak ada pertumpahan darah pada skala tersebut sejak saat itu, namun ketegangan tetap ada. Presiden Joko Widodo menjadi subyek kampanye kotor pada tahun 2014 dengan fitnah yang mengklaim bahwa dia adalah keturunan Tionghoa dan seorang Kristen.

Bonnie Triyana, sejarawan yang telah mencatat sejarah Indonesia-Tionghoa, mengatakan bahwa Nasir “mengkambinghitamkan” orang-orang Tionghoa.

“Ini sangat berbahaya bagi bangsa kita, ini sama saja bermain dengan api,” kata Triyana, seorang pribumi Indonesia. “Mereka (Bachtiar Nasir dan kelompoknya) menyebarkan informasi buruk untuk meyakinkan orang bahwa peran mereka adalah menyelamatkan bangsa.”

Dalam wawancara tersebut, Nasir mengatakan “sentimen etnik tidak dapat dipungkiri” ketika menyangkut ketidaksetaraan, dan kekuatan ekonomi orang-orang  Tionghoa Indonesia perlu diatasi.

“Kuncinya adalah keadilan, dan keberpihakan”, katanya. “Keadilan dapat diterapkan jika ada pilihan istimewa bagi masyarakat asli Indonesia dari aspek peraturan dan dalam hal akses ibu kota.”

Tetangga Indonesia, Malaysia, yang juga merupakan negara berpenduduk mayoritas Muslim dengan minoritas China yang kaya raya, telah lama mengikuti kebijakan tindakan afirmatif yang memberikan hak istimewa kepada orang asli Melayu, termasuk penugasan pekerjaan di dinas sipil dan diskon properti.

Johan Budi, juru bicara Presiden Indonesia Jokowi -menanggapi komentar Bachtiar- mengatakan dalam sebuah pernyataan kepada Reuters bahwa ketidaksetaraan pendapatan menjadi perhatian dalam agenda pemerintah,  dan keturunan China tidak mendapat perlakuan khusus.

“Tidak benar dugaan bahwa Presiden Jokowi memberi ruang lebih luas kepada etnis China di Indonesia,” kata Budi, mengacu pada nama Jokowi. Dia mengatakan bahwa fokus Jokowi adalah pada orang miskin, termasuk “orang-orang pribumi”.

Menurut Laporan penelitian Credit Suisse institute 2016 mengenai Kekayaan Global, 1 persen orang terkaya di Indonesia memiliki 49,3 persen kekayaan nasional, membuat Indonesia termasuk di antara negara-negara yang paling tidak setara di dunia.

KAITAN KE POLITIK?

Bachtiar Nasir, seorang ulama didikan Saudi, membentuk GNPF-MUI tahun lalu untuk menargetkan Ahok, gubernur Jakarta yang sekarang dihukum.

Meski Nasir tidak terlihat seperti ulama garis keras seperti Habib Rizieq yang memimpin demonstrasi tahun lalu, kelompoknya membawa pengaruh yang signifikan karena membawa satu organisasi Islam yang memiliki jangkauan nasional dan hubungan yang kuat dengan masjid dan sekolah agama.

GNPF-MUI mencakup tokoh Wahabi seperti Nasir, Front Pembela Islam yang dipimpin habib Rizieq dan pengikutnya, bersama dengan kelompok-kelompok Islam kelas menengah yang terhubung secara politik.

Nasir mengatakan bahwa GNPF-MUI adalah “gerakan agama”, bukan politik. Namun, BN sendiri secara luas dipandang bersekutu dengan pemimpin oposisi Prabowo Subianto, yang kalah dari Jokowi pada Pemilu 2014 dan mungkin menjadi kandidat presiden pada 2019.

Greg Fealy, pakar kelompok Islam Indonesia dari Universitas Nasional Australia, mengatakan bahwa GNPF-MUI sedang mengembangkan sebuah agenda nasional menindak lanjuti keyakinan beragama Gubernur DKI Jakarta.

“Mereka mencoba memanfaatkan gerakan tersebut untuk menghubungkan agenda Islam dengan ketidaksetaraan. Hal ini, pada dasarnya, menargetkan orang-orang China non-Muslim,” katanya. “Ini adalah bagian dari pertempuran berencana menjelang 2019”. (ARN)

Sumber Utama : https://arrahmahnews.com/2017/05/13/reuters-agenda-terselubung-bachtiar-nasir-sikat-etnis-cina/

Dahono Prasetyo: WASPADA! Lembaga Donasi Jadi Mesin ATM Kegiatan dan Gerakan Terorisme?

Gerakan teroris di Dunia Maya
Gerakan teroris di Dunia Maya

Arrahmahnews.com, Jakarta – Setelah bikin geger membuka kedok hubungan intim Bukalapak dan ACT yang diduga bantu dana untuk teroris di Suriah.

Dahono Prasetyo menulis sebuah opini yang cukup mengagetkan, dia menjelaskan bagaimana lembaga donasi kemanusiaan disinyalir dijadikan mesin ATM untuk kegiatan dan gerakan terorisme.

Menurut Dahono, pemerintah dalam hal ini PPATK jauh hari sudah mengendus gelagat tersebut. Kita hanya butuh bersikap kritis pada aksi pengumpulan dana masyarakat berkedok kemanusiaan. Transaksi online yang makin marak menguras daya beli kita, menjadi lahan basah bagi mereka. Yang pasti mereka kini tidak perlu repot dari pintu ke pintu, naik turun bis demi menarik sumbangan kemanusiaan. Cukup kerjasama bagi hasil dengan berbagai E-commerce, maka urusan dana mengalir tinggal duduk manis cek saldo 1 jam sekali.

Di Eropa sendiri permasalahan lembaga donasi yang diwaspadai menjadi mesin ATM gerakan teroris, sudah menjadi bahan diskusi panjang para pakar. Bahkan seorang Peneliti di Bocconi university & PhD candidate  di Universitàs Genova dengan topik disertasi terorisme, pernah membawakan presentasi berjudul “Removing Terrorist Content Online: Public-Private Cooperation and the Challenges of Technology”.

Baca: Dahono Prasetyo Tuntut Transparasi Lembaga Donasi

Secara garis besar menggambarkan betapa sulitnya membuktikan aliran dana sumbangan kepada teroris yang berasal dari masyarakat. Inilah yang sedang terjadi di Indonesia.

Aksi teroris tidak melulu dengan cara angkat senjata. Upaya yang berkaitan dengan ideologi punya jangkauan masa depan yang tidak bisa dilihat sebatas perang atau aksi bom bunuh diri. Demo bersambung, forum Ijtima’, hingga radikalisasi di kampus juga menjadi upaya masif proses cita-cita mereka.

Aparat hukum dan otak terorisme sedang beradu cepat bergerak. Aparat yang tak henti mengendus dan mereka yang mencari celah di kecanggihan teknologi online. Membayangkan mereka sedang berupaya mengumpulkan dana besar untuk “membeli” oknum-oknum pejabat, petinggi BUMN, ormas, partai dan suatu saat membeli negara beserta Pancasilanya. Jika itu benar terjadi, berarti negara kalah. Dan kita tinggal puing-puing reruntuhan Bhinneka Tunggal Ika.

Baca: PPATK: Pola Baru, Teroris Dapat Dana dari Bisnis Legal dan Donasi

Seperti yang telah diduga, menjelang Hari Raya Idul Qurban, bagi pelanggan Telkomsel sebagian besar (mungkin seluruhnya) menerima SMS blasting. Sebuah pesan dari sebuah lembaga donasi tanpa kita pinta, berisi link donasi ibadah qurban.

Tidak ada yang aneh dalam dunia bisnis, SMS blasting menjadi sarana efektif memperkenalkan sebuah program. Meluaskan jangkauan massa sekaligus melayani secara online. Jika dikaitkan dengan ibadah qurban, artinya aktivitas itu sudah berada di wilayah “bisnis”. Itu yang pertama.

Yang kedua, jika kita buka link donasi tsel.me/ACTpromo maka akan bertemu tampilan semacam formulir untuk masuk ke tata cara berkurban secara online. Sekali lagi secara online. Dalam fitur tersebut ada jenis qurban yang di dalamnya terdapat beberapa pilihan hewan dan lokasi pengirimannya. Inilah bagian yang menarik untuk dikupas.

Baca: Sekjen Alsyami Komentari Perselingkuhan ‘Bukalapak dan ACT’ Soal Donasi Suriah

Di bagian ini ada yang lumayan “menggelitik” saat membaca pilihan:

QURBAN KAMBING SURIAH/GAZA (seharga Rp 4.750.000)

QURBAN SAPI SURIAH/GAZA (seharga Rp 33.250.000)

QURBAN UNTA (seharga Rp 27.500.000)

Ke tiga pilihan berkurban ala ACT alangkah “mulianya”. Bagaimana tidak, saat daging kambing dan sapi qurban di era milenia bisa jalan jalan hingga ke negara yang sedang berkonflik. Lupakan masalah si daging akan naik pesawat kelas bisnis atau ekonomi, abaikan juga kapan diserahkan dan siapa penerimanya. Yang penting niat mulia berkurban sudah ditangani lembaga kuratornya. Pilihan cara pembayarannya lengkap secara online, bahkan cenderung meniadakan pembayaran secara tunai. Calon pembeli bahkan bisa mendapatkan cashback jika paham lika liku transaksi secara virtual.

Baca: Dina Sulaeman: Tentang Bukalapak dan ACT ‘Pro Pemberontak Suriah’

Namun menjadi “kurang mulia” saat kambing dan sapi yang akan di ekspor seharga itu seukuran apa (sebagai pembeli setidaknya punya hak menyentuh barang yang dibelinya). Benarkah tersalur kepada yang berhak? Dijamin tidak salah alamat kepada pihak “penjahat kemanusiaan” (jika enggan disebut teroris) di Suriah dan Gaza. Yang lebih penting lagi pertanyaannya, benarkah uang yang kita kirim untuk membeli hewan qurban hanya bermodal kepercayaan dan nama besar sebuah lembaga kemanusiaan. Untuk pilihan qurban hewan unta, ya sudahlah. Itu lebih ribet mencari logikanya saat kita di sini dan unta di padang pasir bertemu di lembaga donasi. Masih mendingan bertemu unta di kandang kebun binatang.

Kadang kita lupa, urusan bisnis tidak pernah mengenal kawan sejati. Yang ada hanya kepentingan sejati (jangan lupa, kasus bisnis Dimas Kanjeng dengan penggandaan uangnya hanya bermodal kepercayaan tingkat dewa). Yang ingin disampaikan disampaikan disini adalah, sudah sebegitu sibukkah orang muslim. Hingga urusan ibadah mesti difasilitasi secara online? Bukan bermaksud menuduh lembaga donasi berbohong, tapi mbok ya jangan gitu gitu amat memutar balikkan logika kita. Makanya ACT (Ayo Cepat Terangkanlah). (ARN)

Sumber Utama : https://arrahmahnews.com/2019/08/08/dahono-prasetyo-waspada-lembaga-donasi-jadi-mesin-atm-kegiatan-dan-gerakan-terorisme/

Re-post by MigoBerita / Sabtu/12062021/12.26Wita/Bjm

Benarkah?!!? Radio Republik Indonesia (RRI) jadi "Corong" HTI,FPI hingga PKS

 

Migo Berita - Banjarmasin - Benarkah?!!? Radio Republik Indonesia (RRI) jadi "Corong" ormas terlarang HTI (Hizbut Tahrir Indonesia),FPI (Front Pembela Islam) hingga PKS (Partai Keadilan Sejahtera). Agar tidak gagal paham segera baca hingga tuntas berbagai artikel yang kita kumpulkan. (Foto cuma ilustrasi courtesy Google Image)

Lakukan Pelanggaran Berat, Dewas Berhentikan Dirut RRI M Rohanudin

SuaraKarya.id - JAKARTA: Dengan adanya sejumlah pelanggaran berat yang dilakukan oleh Direktur Utama (Dirut) Lembaga Penyiaran Publik Radio Republik Indonesia (LPP RRI) M Rohanudin, Dewan Pengawas (Dewas) LPP RRI akhirnya mengeluarkan Surat Pemberitahuan Rencana Pemberhentian (SPRP) terhadap M Rohanudin, pada 23 April 2021.

Dengan SPRP tersebut, Dirut LPP RRI M. Rohanudin diminta mengundurkan diri dari jabatan Direktur Utama LPP RRI Periode 2016-2021. Penegasan itu disampaikan anggota Dewas LPP RRI Hasto Kuncoro di Jakarta, Sabtu (8/5/21).

"Secara bulat, kami Dewas RRI mengeluarkan SPRP kepada Dirut RRI, M. Rohanudin," ujar Hasto.

Surat pemberhentian dari Dewan Pengawas tersebut, menurut Hasto, berawal dari berbagai teguran yang tidak diindahkan Rohanudin.

Diantaranya persoalan mis management dan ketidakmampuan Rohanudin memberikan keteladanan dalam berbagai hal sebagai pemimpin di RRI.

"Seperti diketahui, Dirut Rohanudin mendapat teguran keras oleh Dewas atas tindakan penyalahgunaan wewenang, nepotisme dan diskriminasi terhadap karyawan LPP RRI, yang menyebabkan pengabaian kewajiban menjalankan LPP RRI sesuai prinsip good public governance," kata Hasto.

Selanjutnya Hasto menjelaskan, bagi Dewas, Dirut Rohanudin juga telah abai terhadap pengawasan atas pemberitaan LPP RRI yang dinilai tidak sesuai dengan amanah Tri Prasetya RRI dan prinsip-prinsip pemberitaan Lembaga Penyiaran Publik.

"Saudara Rohanudin tidak melakukan pengawasan melekat terhadap berita-berita di RRI. Banyak berita yang melanggar prinsip, kaidah dan etika jurnalistik bermunculan di RRI. Tidak ada kontrol sama sekali. Ini tanggung jawab Dirut. Kategorinya sudah kesalahan fatal," ucap Hasto lagi.

Misalnya, ada berita di RRI yang berjudul "Amien Rais Lapor Jokowi, Laskar FPI Dibunuh" pada Selasa, 9 Maret 2021 pukul 13.00 Wib.

Judul berita tersebut dinilai sudah bernada vonis bahwa laskar FPI telah sengaja dibunuh. Padahal saat berita itu diturunkan belum ada proses hukum yang mengikat. Ini cukup mengejutkan mengingat RRI dibiayai dari APBN tapi memuat berita yang tendensius.

"Terkait pemberitaan itu, dalam waktu dekat Dewas akan rapat untuk menjadikan berita tersebut sebagai salah satu pelanggaran yang juga dianggap fatal," tutur Hasto. ***

08 Mei 2021 14:00 WIB
Penulis : Yon Parjiyono

Editor : Markon Piliang

Lakukan Pelanggaran Berat, Dewas Berhentikan Dirut RRI M Rohanudin  
Dewan Pengawas (Dewas) LPP RRI Hasto Kuncoro

Sumber Utama : https://www.suarakarya.id/detail/132596/Lakukan-Pelanggaran-Berat-Dewas-Berhentikan-Dirut-RRI-M-Rohanudin

Temuan Sapta Pratala Mengejutkan, PSI Desak DPR Copot Dirut RRI

jpnn.com, JAKARTA - Partai Solidaritas Indonesia (PSI) meminta Komisi 1 DPR memecat Direktur Utama (Dirut) Lembaga Penyiaran Publik Radio Republik Indonesia (LPP RRI) M Rohanudin. Ini terkait temuan riset bahwa Rohanudin telah membelokkan RRI dari lembaga penyiaran publik menjadi corong PKS dan pembela FPI. "Kebijakan pemberitaan di RRI tersebut bertolak belakang dengan posisi ideal RRI sebagai lembaga pemberitaan yang netral dan bertentangan dengan upaya melawan intoleransi. Alih-alih membantu pemerintah, Rohanudin membawa RRI sebagai pembela kaum intoleran,” kata Wakil Sekjen DPP PSI Satia Chandra Wiguna, dalam keterangan tertulis, Rabu (13/5).
Riset pengamat media penyiaran publik, Sapta Pratala, menemukan rri.co.id memberi porsi pemberitaan sangat besar untuk Fraksi PKS di DPR dibanding fraksi-fraksi lain. Selain itu, menurut riset Sapta yang dilansir akhir pekan lalu, setelah pembubaran FPI 30 Desember 2020, RRI melansir sejumlah berita yang berisi berbagai komentar dari masyarakat atas pembubaran FPI. Namun, portal berita rri.co.id lebih banyak memberitakan komentar yang anti-pembubaran.
“Pihak DPR harus menindaklanjuti temuan riset tersebut dengan memberhentikan Rohanudin. Tidak seharusnya lembaga penyiaran publik dikelola mereka yang partisan. Dana APBN terpakai seharusnya digunakan untuk menyajikan informasi yang sehat dan berimbang,” lanjut Chandra. Jika RRI adalah milik Rohanudin, pungkas Chandra, berbeda masalah. Ia boleh menggunakannya untuk kepentingan politik sendiri. (dil/jpnn)

Hasil Kajian Tunjukkan RRI Corong HTI dan PKS

Indah Pratiwi - 15/05/2021 11:05 

Direktur Utama (Dirut) Lembaga Penyiaran Publik Radio Republik Indonesia (LPP RRI) M. Rohanudin kembali menjadi sorotan. Kali ini, Rohanudin dianggap telah membelokkan RRI dari lembaga penyiaran publik yang netral menjadi corong salah satu partai politik dan pembela Ormas yang telah dilarang pemerintah.

Demikian disampaikan Pengamat Media Penyiaran Publik Sapta Pratala berdasarkan hasil kajian dan media monitoring terhadap pemberitaan RRI.

“Hal itu bisa ditunjukan dengan jumlah berita yang dilansir rri.co.id yang sangat tidak berimbang, di mana Fraksi PKS mendapat porsi pemberitaan sangat besar dibanding fraksi-fraksi lainnya,” jelas Sapta melalui siaran tertulis, di Jakarta, Minggu (9/5/21).

Selain itu, menurut Sapta, setelah pembubaran FPI tanggal 30 Desember 2020, RRI melansir sejumlah berita yang berisi berbagai komentar dari masyarakat atas pembubaran FPI. Di luar RRI, media lain juga melakukan hal yang sama.

“Bedanya, portal berita rri.co.id yang 100% dibiayai APBN justru lebih banyak memberitakan komentar yang anti pembubaran alias menentang pemerintah. Sedangkan media swasta yang tidak dibiayai APBN memberitakan komentar dukungan kepada pembubaran FPI,” ungkap Sapta.

Kebijakan Pemberitaan di RRI tersebut, Sapta menilai, bertentangan dengan upaya pemerintah dalam memberantas kaum intoleran di lembaga publik. “Alih-alih membantu pemerintah, RRI malah menunjukkan sebagai pembela kaum intoleran,” tegas Sapta.

Terpisah, menanggapi hasil kajian dan media monitoring tersebut, Ketua Dewas RRI Mistam menyatakan akan mendalami hasil temuan tersebut sehingga dalam waktu dekat bisa diambil keputusan terbaik. “Tugas utama RRI mengawal Tri Prasetya dan prinsip-prinsip lembaga penyiaran publik yang netral dan independen,” ujar Mistam.

Di mana salah satu poinnya, lanjut Mistam, RRI harus berdiri di atas segala aliran dan keyakinan partai atau golongan dengan mengutamakan persatuan bangsa dan keselamatan negara, serta berpegang pada jiwa Proklamasi 17 Agustus 1945.

“Untuk itu, produk siaran RRI tidak boleh bias. Harus mengawal institusi dan konstitusi sehingga tugasnya mengajak masyarakat untuk tetap memegang teguh Empat Konsensus Nasional, yakni Pancasila, UUD 1945, Bhinneka Tunggal Ika dan NKRI bisa terwujud,” tegas Mistam.

Karena bagaimanapun, menurut Mistam, RRI kepanjangan tangan Presiden sebagai Kepala Negara dan Kepala Pemerintahan.

“RRI adalah Public Service Media oleh karenanya berperan sebagai Public State Relations. RRI tidak boleh mengibarkan selain bendera Merah Putih. Maka, semua organisasi yang dilarang pemerintah, RRI harus ikut mengawal pelarangan itu dan mendudukkan pada porsi yang sebenarnya. Siapapun yang melakukan pembiasan di RRI merupakan bentuk pelanggaran dan harus bertanggung jawab,” pungkas Mistam.

Hingga berita ini diberitakan belum ada tanggapan dari M. Rohanudi terkait tudingan tersebut.

Sumber : hnwi.or.id / Oleh : Rizaldhani

Sumber Utama : https://mv.beritacenter.com/news-287532-hasil-kajian-tunjukkan-rri-corong-hti-dan-pks.html

RRI Jadi Corong PKS dan Pembela FPI? Pengamat pun Buka Suara 
14 Mei 2021 21:20

"Aspirasinya bisa saja bernada memuji, mengeritik, atau netral. RRI yang dibiayai APBN haruslah mengakomodirnya," tegasnya. Dia menyimpulkan, RRI tidak boleh seperti di zaman Orba yang jelas-jelas menjadi corong pemerintah. Isi pemberitaannya hanya yang positif untuk memuji pemerintah.
"Paradigma itu tentu sudah tidak sesuai di era reformasi. Di era ini, media publik seperti RRI, tidak diharamkan menyampaikan pemberitaan yang bernada kritik," jelasnya. Hal ini yang harusnya disadari pengelola RRI, pengambil kebijakan, dan pengamat. "Hal seperti itu umum dilakukan media publik di berbagai negara. BBC di Inggris, VOA di Amerika, dan ABC di Australia, merupakan media publik yang kerap mengkritik pemerintahnya," tutur Jamiluddin.
Biarkan RRI menjadi media publik yang sesungguhnya. Hanya dengan begitu RRI dapat menjelma menjadi media yang netral dan independen untuk melayani semua elemen masyarakat Indonesia. Sebelumnya, pengamat media penyiaran publik, Sapta Pratala merilis survei yang mengungkap porsi pemberitaan yang besar diberikan rri.co.id terhadap fraksi PKS di DPR dibandingkan yang lain.
Dalam riset itu juga ditemukan bahwa RRI mempublikasi pemberitaan mengenai komentar masyarakat atas dibubarkannya FPI. Namun berita-berita itu dinilai tidak berimbang, sebab lebih banyak komentar dari masyarakat yang menolak dibubarkannya ormas pimpinan Rizieq Shihab itu.(*)

Hasil Kajian Pengamat Media Sapta Pratala : RRI Diduga Corong PKS dan FPI

Jakarta, NAWACITAPOST Kemerdekaan Republik Indonesia tersebar sampai ke luar negeri, peran Radio Republik  Indonesia (RRI). Lalu tahun 1965, PKI melakukan  penyebaran informasi melalui RRI, tapi tak berlangsung lama hanya sampai satu hari, kemudian direbut kembali oleh  TNI AD.  Maklum RRI digunakan karena pendengarnya bisa sampai pelosok, dusun, bahkan kaki gunung di Indonesia.
PILPRES 2004 dan 2009, RRI dijabat orang PKS hingga sekarang ini. Menkominfo-nya kala itu jatah dari PKS,  era Presiden SBY, telah menancapkan kekuasaannya di bidang informasi dan teknologi, seperti RRI, dan menyebarkan paham berhaluan non Pancasila sudah digulirkan dengan masif dan terukur sejak 17 tahun lalu.

Ternyata di era Jokowi, sisa-sisa pengaruh PKS masih ada. Berdasarkan hasil kajian  Pengamat Media Penyiaran Publik Sapta Pratala yang dirilis Minggu (9/5/2021) ditemukan sejumlah bukti yang tidak bisa terbantahkan. Bahwa Direktur Utama (Dirut) Penyiaraan Publik RRI, M Rohanudin telah membelokan RRI dari lembaga penyiaran publik yang netral menjadi corong PKS dan pembela ormas yang dibubarkan (FPI) oleh pemerintahan Jokowi.

Pemberitaan PKS begitu dominan dan besar persentasenya dibanding dengan partai lainnya, serta berita pembubaran FPI. Portal berita RRI yang 100 persen dibiayai APBN, lebih condong pada anti pembubaran.  Sedangkan media swasta yang tidak dibiayai APBN memberitakan komentar dukungan kepada pembubaran FPI,  tegas Sapta.

Tepatnya Dirut RRI M Rohanudi sengaja membela kaum intoleren dan PKS. Padahal tugas utama RRI,selain netral dan independen,  mengajak masyarakat untuk tetap memegang teguh Empat Konsensus Nasional, yakni Pancasila, UUD 1945, Bhinneka Tunggal Ika dan NKRI bisa terwujud.

Pokoknya yang dilarang pemerintah, RRI harus mengawal kebijakan pelarangan Pemerintah tersebut, dengan  kata lain  tidak boleh mengibarkan bendera lain selain bendera Merah – Putih.

Lebih tepatnya, HTI, FPI sudah dibubarkan, untuk RRI yang disingkirkan dan dicopot adalah Dirut RRI yang  pro intoleren dan bisa menjadi radikalisme.

Sumber Utama : https://nawacitapost.com/nasional/2021/05/13/hasil-kajian-pengamat-media-sapta-pratala-rri-diduga-corong-pks-dan-fpi1/

RRI Dinilai jadi Corong PKS dan FPI, Pakar: RRI Tidak Boleh Sebatas Corong Pemerintah

JAKARTA - Pakar Komunikasi dari Universitas Esa Unggul, Jamiluddin Ritonga menyatakan, presepsi bahwa RRI adalah corong Partai PKS dan Ormas FPI merupakan cara berpikir yang bias dan meyesatkan.

Menurut Jamil, RRI sebagai media yang dibiayai oleh APBN memang tetap perlu untuk mengkritisi pemerintah, terrmasuk jika corong kritik itu adalah PKS dan FPI. RRI juga harus menjadi penyampai aspirasi rakyat termasuk yang bernada kritik.

"RRI tidak boleh seperti di zaman Orba, yang jelas-jelas menjadi corong pemerintah. Isi pemberitaannya hanya yang positif untuk memuji pemerintah," kata Jamil tertulis kepada GoNEWS.co, Sabtu (15/5/2021).

Jika kesimpulan bahwa RRI adalah corong PKS dan FPI hanya berdasar pada kuantitas pemberitaan yang banyak, maka sepatutnya dimengerti bahwa dalam memproduksi berita media juga menimbang minat pembaca.

"Frekuensi berita PKS dan FPI yang tinggi, bisa saja karena pada periode tersebut banyak peristiwa dari PKS dan FPI yang memiliki nilai berita tinggi. Karena itu, wajar saja kalau RRI banyak menyiarkan PKS dan FPI," kata Jamil.

Sebelumnya, Jamil mencatat bahwa RRI dinilai menjadi corong PKS dan FPI. Penilaian itu konon didasarkan pada hasil kajian dan media monitoring terhadap pemberitaan RRI.

Disebutkan, RRI lebih banyak memuat berita terkait PKS daripada fraksi lainnya. RRI juga banyak menyiarkan berita yang berisi berbagai komentar dari masyarakat atas pembubaran FPI.***

Sumber Utama : https://www.goriau.com/berita/baca/rri-dinilai-jadi-corong-pks-dan-fpi-pakar-rri-tidak-boleh-sebatas-corong-pemerintah.html

Waspada! RRI Dukung Teroris FPI Sumbang ISIS Lewat ACT

MUDANEWS Dipublikasikan 11.38, 12/05 • MUDANEWS.COM - Portal Berita Indonesia Terkini Hari Ini

MUDANEWS.COM - Waspada! Warganet membongar PT PAL yang disusupi Kuntjoro Pinardi PKS. Kini kekadalgurunan Mohammad Rohanudin Dirut RRI pun dibongkar. Seperti Kominfo, RRI dikuasai oleh PKS dan kaum radikal. RRI menjadi alat propaganda, alat proxy untuk membela kepentingan pentolan PKS Jazuli Juweni. RRI juga mendukung teroris FPI.

RRI menyumbang untuk dana teroris ISIS di Suriah lewat ACT sebesar US25.000. Kegilaan pengkhianatan terhadap NKRI. Jelas ACT menjadi penyalur dana teroris ke Suriah kok disumbang. Ini kelakuan Mohammad Rohanudin.

RRI jadi corong radikalisme yang membahayakan negara. Yakni, RRI membela organisasi teroris FPI, HTI, FPI. Tak tanggung-tanggung justru Dirut RRI yang jadi biang kerok pengkhianat dalam tubuh RRI.

Fakta Dirut RRI sebagai kadal gurun dan mendukung teroris RRI membela tewasnya 6 teroris FPI di KM 50. RRI memblow-up kunjungan Amien Rais. RRI.co.id menyebut: Amien Rais Lapor Jokowi, Laskar FPI Dibunuh.

Judul berita RRI itu jelas menuduh adanya perbuatan melawan hukum. Bahwa 6 teroris mengalami pembunuhan yang bukan unlawful killings. RRI membuat framing opini tewasnya 6 teroris FPI sebagai pembunuhan yang melanggar HAM. Padahal aparat membunuh 6 teroris karena terancam, pembelaan diri sebagai petugas Negara.

Saya punya data. Tentang kegilaan terstruktur Mohammad Rohanudin. Ada 10 media memberitakan soal tewasnya 6 begundal teroris FPI. Namun hanya RRI yang menyebut dalam lead berita: yang menggunakan kata dibunuh. Framing yang memojokkan aparat kepolisian.

Pembubaran FPI pun dilawan oleh Mohammad Rohanudin dengan mengaitkan soal Demokrasi. RRI membuat judul mencolok: Pelarangan FPI Diklaim Tak Ciderai Demokrasi. Bagi pemerhati media dan media sosial, jelas sekali RRI menggiring opini.

RRI menyatakan, bahwa pelarangan FPI diklaim, diklaim oleh siapa kalau bukan pemerintah. Artinya, RRI menyatakan pelarangan organisasi teroris FPI menciderai demokrasi. Edan bener Mohammad Rohanudin.

RRI yang disusupi PKS dan kadrun seperti Mohammad Rohanudin tidak rela organisasi teroris FPI dibubarkan. RRI menulis: FPI Dibubarkan, Pemprov DKI Cuci Tangan. Orang waras akan sangat paham maksud RRI.

RRI hendak menyatakan bahwa FPI berperan menaikkan Anies ke DKI-1, jadi gubernur. RRI menginginkan Anies Baswedan sebagai kaki tangan organisasi teroris FPI untuk membela FPI. RRI mendesak Anies untuk balas jasa buat FPI.

Bukan hanya terhadap Anies. Kepada Prabowo pun RRI membuat berita aneh. RRI mengelompokkan Rizaa Patria, Anies Baswedan, Prabowo sebagai stake holders teroris FPI. Harus balas jasa pada teroris FPI.

RRI.co.id pun melansir judul: Berbeda dengan Pembubaran FPI, Prabowo Bersuara Drone China. Artinya, RRI meminta Prabowo ingat jasa FPI, agar dia membela FPI. RRI tidak suka Prabowo mengomentari drone China di Selayar, dengan cara membandingkan dua isu yang bahkan tidak relevan.

Dukungan Mohammad Rohanudin terhadap teroris FPI juga muncul ketika RRI mementahkan pernyataan Ferdinand Hutahahean yang menentang pernyataan Mardani Ali Sera PKS.

Juga pernyataan Gerindra lewat Waketum Rahayu Saraswati tentang pembubaran FPI dimentahkan oleh RRI. Dengan cara culas taktis RRI mengutip omongan sengkleh Fadli Zon. RRI menulis: Ramai-ramai warganet pun turut mengomentari Partai Gerindra yang dianggap akhirnya berpihak juga kepada pemerintah.

RRI hendak menyatakan: ini lho Gerindra pun mendukung pembubaran FPI. Harusnya Gerindra menentang pemerintah, membela organisasai teroris FPI. Itu framing RRI kepada masyarakat. Provokasi Mohammad Rohanudin memang cerdas dan terencana.

Mohammad Rohanudin, lewat RRI memraktikkan ilmu komunikasi tingkat tinggi. Namun perbuatannya, juga wartawan RRI, mendukung teroris FPI jelas berkhianat terhadap Tri Prasetya RRI. Berkhianat terhadap Pancasila dan NKRI.

RRI menjadi corong PKS, jelas melanggar Undang-undang Pers, UU Penyiaran, PP Penyiaran Publik, dan PP Lembaga Penyiaran Publik RRI. Karena wartawan RRI mencampuradukkan opini dan fakta.

Direktur LPP RRI Mohammad Rohanuddin jelas membawa agenda PKS. Sebagai corong PKS, memberitakan tentang PKS sebanyak 67 kali. Partai lain tak lebih dari setengahnya. Golkar diberitakan RRI 26. NasDem 17. Gerindra dan PDIP hanya 38 kali. Partai-partai lain nol. Tidak dilirik oleh RRI.

Isi berita tentang PDIP sepanjang Januari 2021 tone-nya negatif semua. Harun Masiku. Korupsi Bansos. Penolakan vaksin oleh Rika Ciptaning. Sedang 7 berita untuk Gerindra tak lain RRI ikut ke Papua untuk meliput Yan P Mandenas, 19-25 Februari 2021.

Mohammad Rohanuddin juga membuat agenda setting menggunakan RRI. Orang PKS Jazuli Juwaini dijadikan tokoh. Jazuli paling sering diberitakan (11 kali) melebihi tokoh beneran seperti Ibu Megawati (5), Bamsoet (5), Mbak Puan (4) lainnya tidak dianggap oleh Direktur RRI.

Munculnya perilaku Taliban dan dalam tubuh RRI menghancurkan etika penyiaran. Sebagai Lembaga Penyiaran Publik, RRI memiliki Tri Prasetya. Salah satunya: netralitas dalam pemberitaan. Itu dilanggar oleh kadal gurun bernama Mohammad Rohanudin.

Dari gambaran itu, terbukti ideologi radikal Wahabi, Ikhwanul Muslimin, teroris FPI, HTI, PKS merasuki para wartawan RRI. Muncul agenda setting dengan pelintiran berita menentang Negara, NKRI, Pancasila. Juga adu domba. Dirut RRI Mohammad Rohanudin berperan besar menjerumuskan RRI yang membahayakan Negara. Tak layak dia menjadi anggota Dewan Pengawas RRI. #saveRRI

Penulis: Ninoy Karundeng

Waspada! RRI Dukung Teroris FPI Sumbang ISIS Lewat ACT

Sumber Utama : https://today.line.me/id/v2/article/EKBmxQ

Dituduh Corong FPI, Dirut RRI Viral di Medsos
Anu
Rabu, 19 Mei 2021 - 16:37 WIB

Maraknya pemberitaan tentang sepak terjang Direktur Utama Lembaga Penyiaran Publik Radio Republik Indonesia (Dirut LPP RRI) M. Rohanudin menjadi perbincangan hangat di tengah masyarakat. Bahkan, telah menjadi viral di dunia maya, media sosial dan online.

Dalam sejumlah pemberitaan, Dirut RRI M. Rohanudin dituding telah membelokkan tujuan utama RRI untuk tidak menjadi partisan dan berdiri di atas semua golongan. Hal itu merujuk hasil penelitian serta media monitoring ditemukan RRI diduga telah menjadi corong kepentingan salah satu partai politik dan membela Ormas yang telah dilarang pemerintah.
Sayangnya, saat dikonfirmasi terkait maraknya berita yang menuding RRI telah keluar dari khitahnya tersebut, Dirut RRI M. Rohanudin enggan berkomentar. Saat dimintai keterangannya, dengan pendek Rohanudin menjawab, "Saya sedang sibuk." Sehingga, tidak ada kelanjutan wawancara. Ini menunjukkan Rohanudin bergeming.

Menanggapi hal itu, anggota Dewan Pengawas (Dewas) LPP RRI Freddy Ndolu menyatakan semestinya Dirut RRI M. Rohanudin memberikan klarifikasi atas maraknya pemberitaan yang cenderung telah menjadi viral tersebut. Karena menyangkut lembaga RRI yang dipimpinnya.

"Mungkin RRI sudah merasa benar memuat berita seperti itu. Tapi kan ternyata ada temuan sejumlah persoalan terkait pemberitaan di RRI tentang bantuan ke ACT, dan berita-berita FPI. Seharusnya, Pak Rohan (Dirut RRI) memberikan jawaban, sanggahan atau klarifikasinya atas itu," ujar Freddy.

Tapi yang perlu digarisbawahi, Freddy menegaskan, kalau memang temuan itu benar dan sudah melalui uji materi dari pihak independen, maka bisa diambil keputusan tegas dari Dewas RRI. Saat ini, Dewas sedang meminta klarifikasi kepada Dirut dan jajaran direksi.

"Kalau ternyata temuan itu benar dan terbukti, berarti telah terjadi pelanggaran berat dan sudah mengkhianati Tri Prasetya RRI. Maka, mulai dari Dirut, Direksi sampai kepala stasiun dan kepala pemberitaan harus bertanggung jawab," papar Freddy.

Meskipun, menurut Freddy, saat ini sudah masuk injuri time. Karena dalam minggu ini akan sudah ada Dewas yang baru. Dan bisa saja terjadi, DPR memilih M. Rohanudin (Dirut RRI) sebagai Dewas.

"Tapi, Dewas periode ini, memberhentikannya sebagai Dirut RRI. Dan kalau sampai Pak Rohan terpilih sebagai Dewas, publik pasti akan marah," pungkas Freddy.

PSI Desak DPR Copot Dirut RRI

Sebelumnya, Partai Solidaritas Indonesia (PSI) meminta Komisi 1 DPR memecat Direktur Utama (Dirut) Lembaga Penyiaran Publik Radio Republik Indonesia (LPP RRI) M Rohanudin. Ini terkait temuan riset bahwa Rohanudin telah membelokkan RRI dari lembaga penyiaran publik menjadi corong PKS dan pembela FPI.

"Kebijakan pemberitaan di RRI tersebut bertolak belakang dengan posisi ideal RRI sebagai lembaga pemberitaan yang netral dan bertentangan dengan upaya melawan intoleransi. Alih-alih membantu pemerintah, Rohanudin membawa RRI sebagai pembela kaum intoleran,” kata Wakil Sekjen DPP PSI Satia Chandra Wiguna, dalam keterangan tertulis, Rabu (13/5).

Riset pengamat media penyiaran publik, Sapta Pratala, menemukan rri.co.id memberi porsi pemberitaan sangat besar untuk Fraksi PKS di DPR dibanding fraksi-fraksi lain.

Selain itu, menurut riset Sapta yang dilansir akhir pekan lalu, setelah pembubaran FPI 30 Desember 2020, RRI melansir sejumlah berita yang berisi berbagai komentar dari masyarakat atas pembubaran FPI. Namun, portal berita rri.co.id lebih banyak memberitakan komentar yang anti-pembubaran.

“Pihak DPR harus menindaklanjuti temuan riset tersebut dengan memberhentikan Rohanudin. Tidak seharusnya lembaga penyiaran publik dikelola mereka yang partisan. Dana APBN terpakai seharusnya digunakan untuk menyajikan informasi yang sehat dan berimbang,” lanjut Chandra.

Jika RRI adalah milik Rohanudin, pungkas Chandra, berbeda masalah. Ia boleh menggunakannya untuk kepentingan politik sendiri.
#Rohanudin   #RRI

Sumber Utama : https://harianterbit.com/read/133109/Dituduh-Corong-FPI-Dirut-RRI-Viral-di-Medsos

Re-post by MigoBerita / Kamis/10062021/10.59Wita/Bjm

JANGAN Anggap Remeh COVID 19, setelah Kudus,Madura sekarang Bandung !!!

 

Migo Berita - Banjarmasin - JANGAN Anggap Remeh COVID 19, setelah Kudus,Madura sekarang Bandung !!! Kita tahu bersama , Prabowo selalu Menang telak ketika PILPRES berlangsung di pulau Madura, baik ditahun 2014 hingga tahun 2019 dan Jokowi selalu kalah disana. Namun jangan abai dengan himbauan bahkan peringatan pemerintah yang sekarang di nahkodai Pak Jokowi - Ma'ruf Amin. Jangan hanya karena, kebencian atau "Tidak Terima" atas kekalahan secara nasional, lalu mengabaikan protokoler kesehatan. Semoga setelah berada di zona Merah kembali pulau Madura dan kota-kota lainnya yang juga berlabel Merah berada di jalur Hijau.  Amin ya rabbal 'allamin.

Setelah Kudus, Sekarang Madura, Yang Panik Orang di Luar Keduanya

Ketika banyak berita soal Kudus krisis copit, zona merah dan sebagainya, saya jadi teringat dengan beberapa orang teman di sana. Saya lihat-lihat sosial medianya, nampaknya dia hidup biasa saja. Normal. Tak ada ketakutan sama sekali, bahkan tidak membahas video-video Kudus yang sedang viral-viralnya.

Justru yang ketakutan dan panik adalah orang-orang di luar Kudus. Umumnya orang-orang yang tinggal di perkotaan. Komentar mereka seperti sudah lebih paham Kudus dari orang Kudus itu sendiri.

Kebetulan saya beberapa kali lewat Kudus dan bisa melihat bahwa daerah ini relatif sama dengan daerah lainnya. Ga ada prokes-prokesan. Jadi kalau di media dan sosmed rame soal isu Kudus krisis copit, bisa dipastikan itu hanya ada di media. Di lapangan bagaimana? Ya biasa saja.

Saya sudah tanya beberapa orang soal ini. Intinya, pasar tetap ramai, toko-toko tetap buka. Orang-orang tetap berkerumun dan makan di warung. Yang petani ya berangkat bertani setiap hari. Kehidupan normal seperti biasa.

Memang ada pemeriksaan masker dan jam malam di Kota. Dan masyarakat yang punya urusan jalan ke kota, jadi beli masker lagi. Karena hitungannya jelas, lebih murah masker dibanding bayar denda.

Setelah saya perhatikan, rupanya Kudus ini punya cerita menarik. Salah satu faktor dan alasan kenapa jadi sampai viral isu Kudus darurat copit.

Jadi, Bupati Kudus yang baru menang Pilkada tahun lalu itu ditangkap karena kasus korupsi. Sehingga wakilnya terpaksa menggantikan dan jadi Plt Bupati. Dan dua minggu lalu, sang wakil akhirnya resmi dilantik jadi Bupati.

Setelah itu sang Bupati jadi sangat sering konpres. Tiap hari konpres masalah copit ini, karena Kudus memang lagi viral-viralnya.

Si Bupati ini sebenarnya dulu adalah kader PDIP. Lalu karena banyak kasus, dia pindah partai ke PKB. Konon dia juga punya hutang ke perusahaan bus, yang sampai sekarang masih belum lunas dan masih ditagih-tagih terus. Hehehe

Dari si bupati baru dilantik dua minggu lalu ini lah muncul banyak kebijakan dan keputusan soal copit. Sehingga hasilnya ada penjemputan pasien, lockdown dan seterusnya. Entah apa tujuan bupati baru itu. Apakah untuk mengalihkan isu dari tagihan hutang yang ga beres-beres. Atau mengalihkan isu dari kasus korupsi yang menjerat temannya. Karena kalau Bupatinya korupsi, masa iya wakilnya ngga tau?

Namun pada intinya, kehidupan di Kudus tetap berjalan normal seperti biasa. Rakyat taat kalau ada razia saja. Selebihnya ya hidup biasa saja.

Awalnya, saya pikir setelah Kudus, maka target propaganda media adalah Kediri. Karena masih bersinggungan. Menyerang daerah industri rokok yang terkenal ada pengusaha besarnya. Ya kita tahulah, kalau daerah ini ditetapkan darurat copit dan lockdown misalkan, pasti pengusaha rokok akan berupaya menempuh jalur-jalur tertentu agar pabrik mereka bisa tetap produktif.

Namun rupanya yang diserang duluan justru Madura. Daerah yang selama ini hidup tanpa prokes, sedang diframing seolah sudah kritis dan darurat copit. Sehingga ini akan membuat orang kota jadi ketakutan lagi. Mereka akan berkesimpulan bahwa copit ini menyerang siapa saja, dan bagi daerah yang tidak taat prokes maka akan terjadi lonjakan kasus. Mungkin begitu kesimpulan orang-orang kota.

Sebagai orang Madura, saya hanya kasihan dengan saudara-saudara saya yang mau melintasi Suramadu. Dibuat macet dan susah sebegitu panjangnya untuk hal-hal yang sebenarnya ga perlu dilakukan.

Tapi ya gimana, namanya juga rakyat kecil. Kalau bisa patuh ya kita patuh saja dulu. Karena pemeriksaannya di Surabaya. Bukan tanah kelahiran. Andai pemeriksaannya di Madura, mungkin akan lain cerita.

Hanya saja, penting untuk saya ingatkan bahwa kesabaran orang itu ada batasnya. Jangan sampai kondisi ekonomi yang sudah cukup berat, masih diberatkan dengan aturan-aturan di lapangan yang sebenarnya ga perlu.

Mungkin hari ini orang bisa sabar. Besok atau lusa? Belum tentu. Kalau tidak percaya, coba saja dibuat penyekatan permanen selama sebulan, pasti ada gesekan. Pasti.

Jadi buat orang-orang di luar Kudus dan Madura, yang ketakutan, silahkan nikmati ketakutan kalian. Tapi kalau mau melihat kenyataan dan ga takut lagi, mari datang ke tempat kami. Biar kalian tahu bedanya dunia nyata dan media seperti apa. 

Setelah Kudus, Sekarang Madura, Yang Panik Orang di Luar Keduanya

Sumber Utama : https://seword.com/umum/setelah-kudus-sekarang-madura-yang-panik-orang-eCqVeMFRkR

Peningkatan Kasus Covid19 : Setelah Kudus, Lalu Bangkalan, Hari Ini Bandung!

Tahu kah kalian, apa itu yang disebut "Tanggungjwab moral"? Pernahkah kalian bertanya apakah tanggungjawab moral ini sudah tertanam di dalam diri kalian dan menjadi bagian dari sifat atau karakter pribadi? Dengan bahasa sederhana, saya menterjemahkan "tanggungjawab moral" ini sebagai bentuk tanggungjawab kita terhadap sesuatu atau seseorang, pada posisi dimana kita sendiri tidak melakukan kesalahan.

Sering kita mendengar kalimat "Berani berbuat berani bertanggungjawab". Kalimat ini lahir karena banyak orang yang membuat kesalahan tapi kabur, atau melempar tanggungjawab atas kesalahan yang dia perbuat pada orang lain. Orang yang tak memiliki rasa tanggungjawab, disebut pengecut. Orang yang memiliki rasa tanggungjawab, disebut "A Gentleman". Sementera untuk orang yang TIDAK memiliki RASA tanggungjawab moral, disebut egois, dan yang memiliki rasa tanggungjawab moral, disebut murah hati.

Contoh kasus nyata. Satu hari saya kesasar di pedesaan karena GPS mulai ngaco menunjukkan jalan. Dengan kecepatan mobil di bawah 20 km/jam, mobil saya melaju pelan. Pada saat saya akan melintasi rumah besar dimana saya lihat ada sekitar 5 anak kecil bermain, saya melihat seorang anak laki-laki berhari kencang ke arah jalan, dimana mobil saya melintas. Secara logika, anak itu harusnya berhenti, karena posisi mobil saya sudah di depan matanya, atau dalam posisi sejajar. Tapi si anak tak menghentikan larinya, hingga dengan keras, dia membentur badan samping kiri mobil dan langsung jatuh. Saya langsung mengerem. Karena benturannya sangat keras, saya langsung khawatir, anak yang usianya baru 7 tahun ini meninggal. Melihat si anak menangis, saya lega karena artinya si anak hanya cedera. Saya turun, dan yang pertama saya cari adalah keluarganya. Sepasang tua, berlari sambil berteriak, "Kami kakek dan neneknya!". Setelah saya periksa di anak, saya tahu dia mengalami patah tulang kaki. Tanpa banyak kata, saya minta mereka untuk naik mobil, sambil berkata, "Kita langsung ke rumah sakit saja!"

Long story short, si anak harus dioperasi. Saya langsung mengurus pembayaran jaminan operasi, booking kamar dan lain-lain. Si kakek dan nenek, saya minta untuk duduk menunggu. Setelah semuanya beres, barulah saya jelaskan semuanya pada kakek dan nenek. Setelah si kakek dan si nenek bersama cucunya, barulah saya menelpon kantor polisi untuk berkonsultasi, apakah secara hukum saya bersalah? Dan polisi menjelaskan bahwa saya tidak bersalah. Namun, polisi bertanya, "Mengapa ibu membawa si anak ke rumah sakit? Ibu kan tidak bersalah!". Saya jawab, "Saya orang dewasa dan dia seorang anak, saya menolong si anak karena tanggungjawab moral saja". Dan biaya tak terduga sebesar 11 juta pun harus saya keluarkan.

Lalu apa hubungannya cerita ini dengan judul di atas? Begini yah...

Meningkatnya kembali kasus covid19 pasca lebaran di beberapa daerah, karena pada umumnya para covidiot itu tidak memiliki rasa tanggungjawab moral. Peraturan yang ditetapkan pemerintah bahwa setiap traveler harus melakukan tes rapid dan lain-lain atau memiliki SIKM, mereka anggap sebagai sebuah pemberat di tengah pandemi yang sudah berat. Para covidiot ini tak pernah berpikir bahwa peraturan SIKM ini tak hanya untuk menjamin kondisi kesehatan dirinya, tetapi juga untuk menjamin keamanan kesehatan orang lain, selama mereka melakukan perjalanan.

Pilihannya mudah saja, jika ingin melakukan perjalanan, taati peraturan, jika tak mau mentaati peraturan, jangan melakukan perjalanan. Dengan 1001 alasan, para covidiot ini berkata-kata mencari pembenaran atas kengeyelan mereka. Dan alasan yang paling standar adalah mereka menyalahkan pemerintah atau aparat yang katanya tidak 24 jam melakukan pengawasan. Atau alasan standar lain, mereka akan bilang, "Ga mati sama covid, rakyat bisa mati karena ga bisa cari makan". Padahal, bagi seorang yang memiliki tanggungjawab moral, mereka tetap bisa mencari makan sekaligus mentaati peraturan. Tidak akan muncul atau lahir istilah "Covidiot" jika mereka tidak bersikap idiot dalam menyikapi pandemi covid.

Benar kata pepatah : orang yang bersekolah tinggi tidak menjamin dirinya berpendidikan. Manusia Indonesia yang mengalami krisis covidiot ini, tidak melulu datang dari kalangan yang kurang makan bangku sekolahan. Sosok tokoh nasional saja, yang karena kepentingan pribadinya, banyak yang berubah menjadi covidiot.

Perlahan dalam ketidak pastian, pertama Pemerintah Daerah Kudus, disusul Pemerintah Daerah Bangkalan, menyatakan daerah mereka dalam kondisi peningkatan kasus covid-19 secara signifikan. Hari ini Pemerintah Kota Bandung, menyatakan hal yang sama. Kasus penularan Covid-19 di Kota Bandung, cenderung meningkat dengan penambahan lebih dari 100 kasus infeksi virus corona per hari sejak Jumat (4/6). Kasus aktif mencakup penderita infeksi virus SARS CoV-2 yang menjalani perawatan dan karantina mandiri. Peningkatan kasus penularan Covid-19 menyebabkan tingkat keterpakaian ruang isolasi di rumah sakit meningkat menjadi 79,9 persen. Wakil Wali Kota Bandung, Yana Mulyana, menekankan pentingnya pembatasan mobilitas warga pada masa libur panjang guna menekan risiko penularan Covid-19.

Lonjakan kasus Covid-19 di Kota Bandung yang terus terjadi, sudah membuat Wakil Wali Kota Bandung Yana Mulyana mengkhawatirkan kasus virus corona bisa tidak terkendali. Kota Bandung dikhawatirkan kolaps gara-gara pandemi ini. Kepala Dinas Kesehatan (Dinkes) Kota Bandung, dr Ahyani Raksanegara menjelaskan, bahwa maksud dari situasi kolaps tersebut, adalah ketidakmampuan fasilitas kesehatan untuk dapat memberikan layanan kepada masyarakat secara maksimal, akibat beban pertumbuhan kasus yang terus bertambah.

Dokter Ahyani Raksanegara menuturkan, upaya mencegah terjadinya penyebaran Covid-19 di masyarakat pun telah dilakukan selama ini melalui benteng pertahanan secara berlapis. Di mana pada lapis pertama adalah kepatuhan dan kedisiplinan setiap individu terhadap protokol kesehatan, kemudian lapis kedua adalah dilakukannya testing, penelusuran kontak erat atau tracing, dan tindak lanjut perawatan pada pasien Covid-19 atau Treatment, dengan memisahkan pasien melalui isolasi atau karantina mandiri, serta lapis berikutnya adalah pelaksanaan vaksinasi covid-19. Namun, seiring dengan terus meningkatnya lonjakan kasus positif Covid-19 di masyarakat, bahkan hingga menembus lapisan pertahanan terbawah, maka pelayanan kesehatanlah harus harus menahan laju dari penyebaran kasus Covid-19 tersebut.

Ya memang harus diakui bahwa KETAATAN dan TANGGUNGJAWAB MORAL sekarang ini sudah menjadi suatu KEMEWAHAN. Sesuatu yang memiliki nilai harga yang sangat mahal, yang tak bisa dibeli dengan uang oleh setiap orang. Orang yang taat dan memiliki rasa tanggungjawab moral yang baik, di Indonesia itu sudah menjadi mahluk langka. Ketiadaan dua sifat ini pada manusia Indonesia, mengakibatkan kengeyelan menjadi bagian dari budaya bangsa. "Kalau ngga ngeyel brarti bukan orang Indonesia".

Kemaren Kudus.... lalu Bangkalan.... hari ini Bandung.... Besok daerah mana lagi? Bagaimana dengan lusa? Lalu minggu depan? Mirisnya, bagi para covidiot ini, semakin banyak kota atau daerah mengalami lonjakan kasus covid19, semakin mereka merancu kemana-mana, menyalahkan ini menyalahkan itu, hanya untuk mencari pembenaran atas keegoisan pemikiran mereka.

Catatan Penulis : Oh btw, beberapa pembaca berkomentar menyangkutkan tulisan saya dengan pandangan Mas Jendral Seword atas isu pandemi covid. Saya perlu menggaris bawahi bahwa ranah perang saya dan Mas Jendral Seword berbeda dalam wadah yang sama, yaitu Seword. Dan khusus tentang pandemi covid, kita berdua sudah sepakat untuk tidak sepakat tanpa mencampur adukkan masalah kerjaan dengan masalah pribadi. Jadi, sepanas, sekeras dan selebar apapun perbedaan pandangan kita atas isu yang sama, tetap kita berdua bersikap profesional. Keputusan Mas Jendral untuk memiliki pandangan terhadap pandemi covid seperti yang beliau miliki sekarang, itu sepenuhnya keputusan prerogatif Mas Jendral Seword yang saya hargai dan hormati, sebagaimana beliau menghargai dan menghormati pandangan dan pendapat saya atas isu yang sama.

Peningkatan Kasus Covid19 : Setelah Kudus, Lalu Bangkalan, Hari Ini Bandung!

Sumber Utama : https://seword.com/umum/peningkatan-kasus-covid19-setelah-kudus-lalu-PqTUbi6TWG

Kalau Bisa Razia Copit di Suramadu Dibuat Permanen Sampai Kiamat

Sejak tahun lalu, semua kabupaten di Madura sudah pernah status zona merah. Semua. Rumah sakit gantian lockdown karena alasan reaktif atau kematian. Denda razia masker bisa sampai 250 ribu perorang.

Tapi ya tetep aja masyarakat hidup normal. Pake masker hanya kalo razia. Dan karena polisinya ga bisa razia sepanjang tahun, jadinya ya program wajib masker itu hanya berlaku beberapa hari saja selama ada razia.

Kalaupun rumah sakit lockdown, masyarakat tetap hidup biasa saja. Toh kalau mau jujur, rumah sakit bagi orang Madura adalah pengobatan alternatif. Pengobatan utamanya selalu jamu, pijat atau spiritual dan dukun. Orang ke rumah sakit biasanya karena kecelakaan, melahirkan atau orang yang kurang referensi jamu dan spritiual.

Kalaupun ada rumah sakit mau tutup selamanya pun, mungkin juga masyarakat tak terlalu peduli. Paling yang kasihan ya dokter dan perawatnya, sudah cape-cape kuliah malah ga bisa kerja.

Mudik kemaren sudah ribuan orang dites, tapi semua dinyatakan negatif. Sampe Gubernur bilang orang Madura sakti. Hehe ya ngga sih, saya yakin ada yang reaktif tapi kami ini orang Madura menjunjung tinggi sila ke 4

“Kerakyatan yang dipimpin oleh hikmat kebijaksanaan dalam permusyawaratan perwakilan.”

Fakta di lapangan sebenarnya relatif ga ada penyekatan. Memang sempat ada antrian memanjang. Sempat ada pemeriksaan. Tapi itu sebentar saja. Setelahnya ga ada lagi.

Lalu sekarang muncul berita satu rumah sakit minta lockdown karena penuh katanya. Padahal cerita rumah sakit penuh itu udah sejak jaman Soeharto. Karena RS nya emang terbatas. Tiap pergantian musim pasti penuh. Tiap habis lebaran pasti penuh. Dari dulu udah begitu.

Tapi ya maklum saja, begitulah rumah sakit di era copit. Dikit-dikit minta lockdown. Bahkan kalo ada kucing mati pun mungkin mereka akan minta lokdon.

Kalau soal dokter meninggal, dari jaman Soeharto juga ada dokter meninggal. Ya gimana, dokter kan manusia. Bisa punya penyakit juga. Silahkan tanya semua dokter atau perawat, ada ngga yang bersih dan ga punya penyakit sama sekali?

Tapi sekarang semua dijadikan alasan copit. Dijadikan alasan minta lokdon.

Lalu saya baca berita Suramadu dirazia massal. Semua yang lewat dites. Dan hasilnya banyak yang positif, tidak 0 kasus lagi.

Kalau ditanya ke saya, kenapa bisa ada yang positif? Karena itu mendadak dan kami belum siap ‘strategi.’ Juga karena lebaran sudah selesai dan logistik habis dibagi-bagikan buat keluarga di Madura.

Sebenarnya ya cuma itu masalahnya. Kalau besok misal ada pemeriksaan lagi, pasti angkanya lebih kecil dari itu atau bahkan nol lagi. Kenapa? Karena kami sudah belajar dan kalau ada keperluan ke Surabaya pasti sudah menyiapkan strategi.

Bagi saya, berita-berita itu memang sangat fantastis. Sebagian orang berpikir bahwa Madura yang tidak mau diatur kini sedang kena dampaknya. Mereka bahagia sekali seolah ini adalah awal keruntuhan Madura. Mungkin akan ada juga yang melihat kami jadi layak dikasihani.

Tapi percayalah, itu semua hanya cerita di media. Di kenyataan, kami akan tetap hidup normal seperti biasa. Kalau kalian ga percaya, mari datang ke Madura, biar saya temani jalan-jalan.

Orang Madura bukan ga mau diatur. Bukan ga takut mati. Juga tidak seperti yang kalian pikirkan selama ini dengan segala persepsi negatifnya. Dan pada akhirnya kami ga peduli juga dengan komentar kalian. Karena bagi kami, kalianlah yang layak dikasihani. Setahun lebih hidup dengan ketakutan dan protokol yang menyusahkan. Ini sudah setahun lebih kita hidup dengan normal, dan kalian nampaknya masih enggan belajar pada kami.

Mungkin karena kami dianggap bodoh, dan kalian lebih percaya pada peneliti dan orang-orang dengan sederet gelar akademis di belakangnya.

Di Madura ga ada ketakutan PCR copit ya karena kami jujur pada diri sendiri. Jujur pada orang lain. Dan kejujuran ini tidak bisa dinego atau dikompromi dengan apapun. Setahun lebih kami hidup normal. Ga mempan ditekan dengan zona merah atau zona orange. Jadi kalau sekarang mau ditakuti dengan isu varian afrika dan sebagainya, itu juga akan percuma saja.

Mungkin kami bukan orang yang pandai membaca berita di media. Bukan pula orang yang punya banyak waktu menonton televisi dengan segala beritanya. Tapi kami adalah orang yang pandai membaca situasi dan kenyataan. Sehingga propaganda media dengan segala klaimnya itu ga akan pernah mempan atau mempengaruhi kehidupan masyarakat Madura.

Kalau Bisa Razia Copit di Suramadu Dibuat Permanen Sampai Kiamat

Sumber Utama : https://seword.com/umum/kalau-bisa-razia-copit-di-suramadu-dibuat-permanen-dw8n4EHxMX

Kayaknya Ada Upaya Provokasi Melalui Disinformasi Soal Polemik Pembatalan Haji

Semoga saya salah. Tapi saya melihat ini ada upaya sistematis untuk memicu kericuhan dan keributan. Polanya selalu mirip.

Pemerintah membatalkan keberangkatan jemaah haji tahun ini. Bukan kemauan pemerintah, tapi karena masih belum ada kejelasan pasti dari pihak Arab Saudi. Arab Saudi hingga saat ini belum mengundang pemerintah Indonesia untuk membahas dan menandatangani nota kesepahaman tentang persiapan penyelenggaraan ibadah haji tahun 2021. Selain itu, ada alasan lain yaitu kesehatan dan keselamatan jemaah haji akibat pandemi Covid-19.

Tapi belakangan muncul banyak disinformasi entah itu sengaja atau tidak, hoax bertebaran, hasutan dan narasi provokatif mulai marak bermunculan. Polanya berujung pada satu pihak yaitu pemerintah.

Silakan Googling berita atau cobalah gentayangan di media sosial. Menag dan pemerintah jadi kambing hitam. Pemerintah dianggap tidak becus dan tidak mampu melobi pemerintah Arab Saudi. Menag disebut tidak berfaedah. Bahkan yang paling mengerikan dan berpotensi terjadi masalah besar adalah isu dana haji ditilep sehingga pemerintah tidak mampu memberangkatkan jemaah haji. Narasi yang diembuskan adalah, kemana dana haji?

Saya tak perlu sebut nama. Ada satu pengamat, sudah terkenal, mulut sampahnya sudah terkenal karena terlalu benci kepada pemerintah. Dia menggiring opini dengan kecurigaan masyarakat soal dana haji yang sudah terpakai untuk membiayai kebutuhan negara. Memakai nama rakyat untuk membuat narasi provokatif.

Ada juga mantan menteri yang memelintir informasi dan menyalahkan pemerintah dengan menyebut negara tetangga dapat tambahan kuota haji.

Saya tak begitu jelas siapa yang pertama kali mengembuskan isu Indonesia tak dapat kuota haji. Tapi yang saya tahu, ada seorang anggota dewan yang mengatakan ini, lalu kemudian dibantah keras oleh Dubes Arab Saudi lewat surat protes yang kemudian anggota dewan ini klarifikasi.

Intinya informasi mulai simpang siur, baik karena ketidakjelasan atau pun dikompori oleh kelompok-kelompok yang selama ini tak senang dengan pemerintah. Kelompok ini ya orangnya itu-itu juga. Coba lihat narasi busuk yang beredar, siapa yang ngomong? Orangnya itu-itu juga, yang hatinya busuk dan mulutnya sampah.

Tujuannya apa? Iseng? Tak mungkin. Mereka tak mungkin setolol itu untuk habiskan waktu berbuat iseng. Ada semacam niat untuk membuat provokasi agar terjadi keributan dan isu besar. Kuncinya, adalah agama. Ini sentimen berbau agama, kan? Sentimen agama gampang menyulut emosi masyarakat di negara ini. Agama masih jadi komoditas politik yang ampuh hingga saat ini. Mudah dipakai untuk mempengaruhi emosi sebagian orang untuk menyalakan api masalah ke skala yang lebih besar.

Indonesia tak berangkatkan jemaah haji, padahal Malaysia dapat kuota. Dana haji mulai diragukan dan dipertanyakan. Bahkan sampai yang terkonyol sekali pun, misalnya karena Rizieq dizalimi sehingga pemerintah Arab Saudi marah dan tidak mau memberi kuota haji untuk Indonesia tahun ini. Banyak lagi isu liar yang bermunculan dalam waktu bersamaan. Apakah ini hanya kebetulan atau memang dirancang?

Dan kali ini, saya akui, pemerintah seolah tidak belajar dari pengalaman masa lalu. Munculnya sebuah isu, dikembangbiakkan, diprovokasi kelompok sakit hati, lalu jadi polemik dan masyarakat jadi bimbang, sebagian jadi percaya. Banyak isu yang terjadi, tapi pemerintah seolah tidak berbuat sesuatu untuk mencegah hal ini terjadi ke depannya. Ibarat, hobi kecolongan dan doyan pusing kepala untuk counter sana sini informasi sesat yang bermunculan.

Biang keroknya ada di orang-orang yang selama ini selalu mengompori isu dengan narasi-narasi licik dan berbahaya. Orangnya itu-itu saja. Mereka hanya mendaur ulang isu dengan pola yang sama.

Harusnya mereka ditindak tegas. Atas nama demokrasi, mereka menjalankan taktik licik memecah belah dan membuat pernyataan meresahkan. Lebih liciknya lagi, mereka pura-pura bertanya, pura-pura tak tahu, sok lugu dengan tujuan memancing opini liar masyarakat menjadi.

Saya beritahu cara mudah memancing dan menggiring spekulasi dan opini masyarakat. Misalnya saya ingin memfitnah seseorang tanpa perlu memfitnah langsung, tapi melalui kesimpulan yang dibuat orang lain. Misalnya saya bilang ke orang-orang, "Bener gak ya, kabarnya si A selingkuh? Bener gak kabarnya dia sering pulang larut malam?"

Dari situ orang jadi penasaran, dan informasi bisa simpang siur. Ada saja hal yang mengarah ke sana. Pada akhirnya ada saja yang percaya. Itulah yang dipakai kelompok pengacau sakit hati untuk mengompori sebuah isu.

Bagaimana menurut Anda?

Kayaknya Ada Upaya Provokasi Melalui Disinformasi Soal Polemik Pembatalan Haji

Sumber Utama : https://seword.com/politik/kayaknya-ada-upaya-provokasi-melalui-disinformasi-W62sGGv7pI

Koplak! Muslim Arbi Usulkan Jokowi Minta Bantuan Rizieq Supaya Indonesia Dapat Kuota Haji

Membaca berita di media memang seperti makan permen Nano Nano. Rame rasanya.

Ada berita yang serius.

Kemudian ada juga berita yang bikin prihatin, seperti soal kemiskinan, dll.

Termasuk juga ada berita yang lucu sampai bikin ngakak guling-guling.

Diantara berita yang lucu tersebut adalah datang dari seorang pengamat. Entah pengamat apa. Bernama Muslim Arbi.

Tanpa tedeng aling-aling ia menyarankan agar Presiden Jokowi minta bantuan mantan pelaku chat seks, Rizieq Shihab supaya Indonesia dapat kuota haji 2021 ini.

"Harusnya Presiden Jokowi meminta bantuan HRS untuk melobi Saudi agar haji Indonesia bisa berangkat," ujar Muslim Arbi seperti tanpa bersalah.

Oleh sebab itu menurutnya, Jokowi sebaiknya segera menemui Rizieq yang saat ini lagi mendekam di penjara dalam rangka untuk membahas strategi agar calon jemaah haji Indonesia bisa berangkat ke Arab Saudi sana.

Bak orang yang paling paham soal Rizieq, Muslim mengatakan bahwa Rizieq itu punya kedekatan khusus dengan Kerajaan Arab Saudi. Lantaran dulu dia pernah ngampus di sana.

Nah, teman-teman semasa kuliah Rizieq itu sekarang sebagiannya telah menjadi pejabat. Koneksinya ke pejabat setempat inilah yang diyakini oleh Muslim Arbi bisa membuat Rizieq menjadi pahlawan bagi calon jemaah haji Indonesia.

Makleb! Ini pengamat pasti bukan pengamat biasa, tapi pengamat luar biasa (ngawurnya). Hehehe

Emang Rizieq itu siapa ferguso?

Cuma pelaku chat seks doang yang gak bertanggung jawab. Kabur ke Arab Saudi meninggalkan teman seperjuangannya Firza Husein sendirian.

Lagian pula emang selama ini dia diistimewakan di Arab Saudi sana?

Kan tidak sama sekali.

Rizieq tetap sama seperti warga asing lainnya yang berkunjung ke negara itu.

Kadrun saja yang ngomongnya gede. Bilang Rizieq hidup nyaman di sana-lah. Tidak perlu memikirkan mengenai izin tinggal karena sudah mendapatkan visa unlimited dari otoritas Kerajaan Arab Saudi.

Di samping itu, dikatakan disediakan jet pribadi khusus buat Rizieq. Sehingga ia bebas mau pergi kemanapun dan kapanpun.

Rizieq juga disebut bebas mau nginap di hotel atau apartemen mana saja di Arab Saudi sana secara cuma-cuma alias gratis.

Tapi fakta yang terjadi justru sebaliknya. Jebolan alumni Monaslimin 212 itu nyaris masuk penjara kala itu. Lantaran di tembok belakang kos-kosannya terdapat bendera hitam yang identik dengan kelompok teroris ISIS.

Bersyukur dia masih bebas.

Dan masih ada satu kasus lagi yang membuatnya nyaris tidak bisa pulang ke tanah air. Rizieq kena denda overtay dari Kerajaan Arab Saudi ± mencapai angka ½ miliar rupiah.

Untung ada Chaplin yang membantunya sehingga dia bisa pulang ke tanah air.

Fakta lain menunjukkan kepulangan Rizieq ke Indonesia tersebut bukan dengan cara yang terpuji. Tapi dia bisa kembali ke tanah air karena dideportasi alias di usir oleh otoritas Kerajaan Arab Saudi.

Jadi apa yang bisa diharapkan dari mantan Bang Toyib ini?

Yang ada justru Presiden Jokowi yang disambut baik oleh raja Arab Saudi, Raja Salman ketika dia berkunjung ke negara tersebut. Kala itu (2019) Jokowi diundang secara khusus oleh Raja Salman untuk makan siang bersama.

Tidak hanya itu saja, orang nomor satu di Indonesia tersebut juga diberi kesempatan untuk ziarah ke makam Nabi Muhammad SAW bersama anggota keluarganya. Sehingga Ibu Iriana disebut-sebut sebagai perempuan pertama yang memasuki makam Nabi Muhammad SAW.

Lalu, kalau Raja Salman dan putra mahkota Mohammad bin Salman lebih respek kepada Presiden Jokowi, ngapain juga harus minta tolong sama Rizieq?

Penulis yakin banget kalau Raja Salman itu gak kenal sama sekali yang namanya Rizieq. Karena ia hanya popular di kalangan Kadrun saja.

Lagian pula, ngurus dirinya sendiri saja Rizieq gak mampu kok. Terbukti masuk penjara berkali-kali. Lalu bagaimana mau ngurus jemaah haji Indonesia?

Mending tuh pengamat saranin saja Habib Rizieq Shihab (HRS) untuk bisa mengendalikan hawa nafsunya supaya gak melakukan chat seks lagi dan lebih bertanggung jawab terhadap kaum hawa.

Karena kalau perempuan sudah disakiti, sulit baginya untuk memaafkan.

Koplak! Muslim Arbi Usulkan Jokowi Minta Bantuan Rizieq Supaya Indonesia Dapat Kuota Haji

Sumber Utama : https://seword.com/umum/koplak-muslim-arbi-usulkan-jokowi-minta-bantuan-W8a7VT5LXo

Lima Hal yang Kudu Diklarifikasi Haikal Hassan Soal Cuitan Pergi Haji

Haikal Hassan kembali menjadi pemberitaan terkait cuitan yang diunggahnya terkait ibadah haji, yang sampai hari ini kuota belum dibuka oleh pemerintah Arab Saudi, termasuk untuk Indonesia.

Cuitan yang kabarnya sudah dihapus tersebut, menurut lansiran laman Tribunnews.com, masih beredar luas karena tangkapan layarnya sempat dilakukan (untuk menjadi bukti agar Haikal tidak bisa mengelak), sehingga publik masih dapat menilai sendiri kira-kira maksud Haikal Hassan seperti apa terkait cuitannya itu.

Berikut isi cuitannya:

"Baru pertama kali terjadi sejak ada NKRI dimana warganya tidak bisa pergi Haji. Apakah karena faktor terlalu dekat ke RRC? Apakah karena kezaliman thd HRS?"

Masih ada lagi lanjutannya ...

Apakah karena dana haji dipaksa dipakai? Apakah murni alasan kesehatan? Apakah menunggu pengadilan akhirat saja?

Setelah postingan itu ramai, Haikal lantas bermaksud memberi klarifikasi yang menurut saya bernada ngeles dengan isi cuitan begini di akun Twitter-nya: (5/6/2021)

"Oohh maaf, jadi begini?... Saudi BELUM memutuskaaaann."


Menengok lagi materi cuitan Haikal Hassan yang pertama, setidaknya ada lima poin yang kudu diklarifikasi oleh yang bersangkutan, meski cuitannya sudah dihapus dari Twitter, yakni:

(1) Apakah HH punya data soal "larangan ibadah haji" sejak NKRI berdiri, sehingga yakin berkata bahwa ini yang pertama kalinya?

Lagipula, kalau memang benar ini yang pertama, Haikal mau apa? Wong otoritas pelaksanaan ibadah haji ada di tangan Arab Saudi kok, sebagai tuan rumahnya. Sejatinya, apa pun alasan Arab Saudi, bahkan jika tak ada kondisi pandemi sekalipun, tetap menjadi hak negara di kawasan Timur Tengah itu.

(2) Karena terlalu dekat dengan RRC? Poin ini bisa jadi masalah karena sudab ada unsur tudingan ke negara lain. Terlebih kalau sudah sebut RRC, yang kerap menjadi semacam pemantik karena stigma China yang sudah kadung melekat dalam sejarah masa lalu di negeri ini, terutama sejarah yang kelam terkait isu rasial. Mau provokasi nih ceritanya? (3) Tudingan dzalim terhadap HRS. Oalah ... nama itu lagi yang disebut! Padahal nih ya, HRS sedang menenangkan hati dan pikiran di balik jeruji besi, sambil menanti vonis akhir alias putusa hakim terkait kasus hukum yang membelitnya. Adakah bukti bahwa persoalan haji berkorelasi dengan kasus hukum HRS?

(4) Apakah dana haji dipaksa dipakai? Ada unsur fitnah di sini, tepatnya soal tudingan dana haji dipakai, lalu ada otoritas tertentu yang melakukan pemaksaan. Sekali lagi, adakah buktinya selain byacotan Haikal di Twitter yang lantas dihapusnya itu?

(5) Murni alasan kesehatan? Mbok ys dipakai nalar dan logikanya. Kondisi pandemi global begini, mana berani Arab Saudi bertaruh dengan keselamatan jiwa para peserta ibadah haji? Memang selain alasan kesehatan, faktor apa lagi yang bisa dipakai Ara Saudi buat menutup penyelenggaraan ibadah haji sampai saat ini?

Daan ... terakhir soal pengadilan akhirat, ini yang susah untuk dijawab. Mungkin Haikal bisa tanya Arie Untung, yang rasanya punya kenalan atau akses dengan sekuriti akhirat.

Coba ditanya apakah kira-kira pintu surga masih ditutup buat Indonesia, seperti unggahan AK beberapa waktu lalu? Coba ditanya juga kapan jadwal pengadilan akhiratnya, trus dipastikan apakah pemimpin Arab Saudi ada di sana untuk diadili, atau mungkin ada wakil dari Indonesia?


Kal ... Kal ... cuitanmu itu tampaknya kok ada bau-bau upaya provokasi ummat ya, biar mereka ngamuk atau paling tidak ikut menuduh pemerintahan Jokowi menjadi biang kerok soal pergi haji kali ini ya?

Meski lantas ada permintaan maaf darimu, lewat cuitan susulan yang terkesan ente kurang baca dan kurablng wawasan ... jangan harap ada yang percaya begitu saja.

Semoga cuitanmu yang itu menjadi pelajaran berharga ya, terutama kalau beneran ada yang melaporka ke polisi, lalu diikuti dengan proses hukum yang ada di negeri ini.

Bagaimana menurut Anda dengan cuitan Haikal Hassan tadi? Masih terbilang wajar atau sudah kelewatan, bahkan terbilang ada maksud terselubung buat memprovokasi ummat di negeri ini?

Lima Hal yang Kudu Diklarifikasi Haikal Hassan Soal Cuitan Pergi Haji

Sumber Utama : https://seword.com/politik/lima-hal-yang-kudu-diklarifikasi-haikal-hassan-83nl0L4HSb

Re-post by MigoBerita / Senin/07062021/11.24Wita/Bjm