Dalam
demokrasi, perbedaan menjadi suatu hal yang wajar. Kritik dan saran
adalah suatu kontrol sekaligus suatu cara untuk bisa bersama-sama
membangun sistem peradaban.
Kritik
sangatlah berbeda dengan fitnah apalagi ujaran kebencian. Kritik harus
mempunyai landasan rasionalitas yang mampu dicerna akal sehat. Mungkin
tak mengapa, jika kritik masih minim solusi yang ditawarkan, tetapi
kritik yang mengedepankan irasionalitas dengan menebarkan kebencian
terhap perbedaan itulah yang harus dibuang jauh-jauh.
Tak
akan pernah mudah menerima perbedaan dengan tulus. Itu butuh proses
panjang.Sepanjang usia kita, karena perasaan sebagai orang yang paling
benar dan keinginan eksis selalu menyerang jiwa dan pikiran sepanjang
kita hidup di dunia.
Meskipun
begitu, tak elok bagi kita menyalahkan orang yang membanggakan
keyakinan agama, suku hingga partainya. Sama halnya dengan menganggap
diri sebagai kelompok yang super benar pun tidak boleh.
Salah
satu pintu kehancuran dalam demokrasi, bahkan peradaban manusia yang
ditakdirkan majemuk sejak dulu kala adalah menganggap kelompoknya yang
paling berhak atas klaim kebenaran dan eksistensi. Kita bisa
membayangkan jika semuanya berfikir atau bertindak seperti itu? Bisa
hancur tatanan kehidupan dengan ribut tak berkesudahan.
Ada
ungkapan bahwa segala sesuatu itu ada kekuarangan dan kelebihannya.
Termasuk juga manusia. Membuang kekurangan dan mengumpulkan kebaikan
dalam kemajemukan, tentu saja menjadi berkah. Tetapi jika semua saling
merasa benar demi sebuah eksistensi, maka kemajukan akan menjadi
musibah. Perang atau saling menyakiti berkepanjangan sudah cukup terjadi
dari waktu ke waktu peradaban manusia lama. Manusia modern harus bisa
mempelajari sejarah untuk memperbaiki peradaban manusia.
Salah satu contoh kasus yang rame terkait ujaran kebencian yang
bersembunyi dibalik kritik serta demokrasi adalah kasus Edy Mulyadi,
mantan caleg gagal dari PKS.
Kritiknya
cenderung ngawur dan menuju pada merendahkan sesama anak bangsa. Yaitu
terkait Ibu Kota Negara baru yang sudah ditetapkan melalui undang-undang
dan disepakati dengan nama Nusantara.
Tidak
setuju dengan pindahnya IKN di pulau Kalimantan tidaklah masalah.
Tetapi, tidak perlu merendahkan tempat dengan menyebutnya tempat jin
membuang anak, genderuwo hingga monyet.
Saya
sendiri, sangat setuju dengan IKN. Bukan karena saya sebagai pendukung
Jokowi. Tetapi, meskipun Presidennya bukan Jokowi, siapapun yang
memindahkan ibu kota dari Jakarta ke provinsi lain saya akan setuju.
Alasannya
hampir sesederhana pembangunan konektivitas dan infrastruktur demi
keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia. Kekuatan Indonesia akan
merata.
Pusat
negara akan membawa magnet ekonomi di sekitarnya. Jabodetabek itu
tingkat perekonomiannya tinggi, akibat dari Ibu Kota negara ada di
Jakarta. Jangankan ibu kota Jakarta, ibu kota provinsi aja akan menjadi
pusat ekonomi di sekitarnya.
Membangun
di Jakarta sudah tidak relevan lagi. Semua sudah serba ada di sana.
Ditambah dengan kemacetan dan banjir yang dianggap gak ada pada zaman
Anies.
Memindahkan
ibu kota di tengah-tengah kepulauan Nusantara, juga menjadi cara
seluruh rakyat tidak terlalu jauh menggapai ibu kota yang menjadi pusat
pemerintahan negara.
Dampaknya
tidak akan terasa dalam waktu dekat oleh kita. Tetapi anak cucu kita
akan merasakannya. Pemerataan yang membawa kualitas sumber daya manusia
serta demokrasi yang juga merata. Kemerataan akan menjadikan Indonesia
kuat.
Saya
curiga orang-orang seperti Edy ini akan kesulitan mencari sesuap nasi
kalau ibu kota pindah. Sebab, situasi di Jakarta dan Kalimantan tentu
sangat jauh berbeda. Dari pilkadanya saja kita sudah bisa menilai.
Tetapi
harus kita maklumi. Oposisi memang cenderung menjual propaganda yang
berbau sentimen seperti itu. Saat ini jarang saya temui yang benar-benar
mengkritik dan bisa diterima akal sehat. Padahal kalau kritik mereka
masuk akal, saya pun akan ikut mengkritik pemerintahan bersama mereka.
Saya
berharap, ke depannya demokrasi di negara kita itu cenderung dengan
kegiatan diskusi atau debat dua arah dan saling memberi waktu untuk
mencari pembuktiannya, baik argumen pendukung maupun penyangkalannya.
Apalagi zaman sekarang sudah canggih. Histori dan data bisa disimpan
serta dicari dengan begitu cepat. Dengan begitu, monolog tidak beredar
tanpa bantahan meskipun itu salah dan menyesatkan.
Jadi
jika ada yang menebar narasi atau monolog, langsung disediakan meja
bersama untuk membuktikan narasinya. Udah ah, itu aja..Cak Anton.
Gak Ada Akhlak! Trio Kadrun Ini Malah Jadikan Istri Sebagai Jaminan Penangguhan Penahanan
Sepertinya
Kadrunista lagi mengalami krisis pria sejati. Pasalnya ketika mereka
bermasalah selalu saja menampilkan sikap pengecut.
Contohnya
Rizieq yang didaulat sebagai Imam besar oleh kelompok mereka. Bahkan
dikatakan oleh Novel Bamukmin posisinya tertinggi di dunia. Lebih tinggi
dari presiden negara manapun. Termasuk Presiden Jokowi.
Dan jangan salah-salah, si Rizieq ini juga menjadi panutan pasukan Kadrun dalam bertutur, bersikap, berperilaku serta bertindak.
Eh sudah dapat label tinggi-tinggi (Big Imam), gak tahunya ketika tersandung kasus chat asusila malah kabur ke Arab Saudi.
Hebatnya
lagi, kaburnya itu gak pakek sebentar. 3,5 tahun ferguso. Sampai-sampai
masa berlaku visanya habis segala dan ia kena denda overstay hingga ratusan juta rupiah.
Penulis
yakin banget, Firza kecewa berat dengan pentolan FPI itu. Karena kalau
melihat dia ceramah sudah kayak laki paling macho sedunia saja. Hujat
sana hujat sini. Termasuk menghujat presiden.
Ketika tersandung kasus, seperti tanpa bersalah, KABUR.......
Kalau
diperhatikan, lebih terhormat Bang Toyib daripada si Rizieq ini. Bang
Toyib pergi tidak pulang-pulang karena cari duit untuk menghidupi
keluarga. Sementara dia, lari dari masalah.
-o0o-
Tidak
hanya itu saja kelakuan gak ada akhlak Kadrunista. Terhitung sedikitnya
ada 3 di antara mereka yang berusaha menjaminkan istrinya untuk
mendapatkan penangguhan penahanan.
Pertanyaannya, siapa sajakah itu?
1. Mustofa Nahrawardaya
Sama
seperti Denny Siregar dan Eko Kuntadhi, si Mustofa ini aktif banget di
Medsos. Cuma bedanya ia kontra terhadap Jokowi, sedangkan kedua orang
itu Jokower banget. Dan Denny serta Eko aktif di YouTube. Sementara Tofa
aktif di Partai Ummat.
Di
samping itu, Denny dan Eko bukan kader partai, Tofa malah politikus
banget. Terhitung sudah 3 partai yang pernah dimasukinya yakni PKS, PAN
dan Partai Ummat.
Ia juga pernah 2 kali Nyaleg. Meskipun itu gagal semua.
Pada
2019 lalu, Mustofa ini secara terang-terangan memojokkan polisi dengan
memfitnah aparat keamanan itu. Ia mengatakan, ada seorang remaja bernama
Harun Rasyid tewas dikeroyok polisi di Masjid Al Huda, Kampung Bali,
Tanah Abang, Jakarta Pusat.
Tidak
pelak, karena pernyataannya tersebut meresahkan masyarakat serta
dianggap melanggar UU ITE, Tofa pun dicyduk oleh Direktorat Tindak
Pidana Siber Bareskrim Polri.
Hingga drama muncul kala itu. Istrinya Cathy Ahadianti mengemis agar Mustofa tidak ditahan lantaran asam uratnya sedang kambuh.
Balasannya, Mustofa jadikan perempuan yang pernah dinikahinya tersebut sebagai penjamin penangguhan penahanan atas dirinya.
Gak ada akhlak banget nih orang.
Kalau seandainya penulis jadi bapaknya Cathy, sudah lama tak suruh ceraikan Tofa.
Masa istri dijadikan seperti BPKB motor?
2. Bahar bin Smith
Si pirang ini dikenal sebagai penceramah agama. Ia juga disebut pendiri salah satu pesantren. Tapi kelakuannya nauzubillahiminzalik. Lebih sadis dari preman desa.
Kalau preman desa, kelakuannya paling mencuri ayam tetangga. Lha yang ini berkali-kali bikin masalah.
Mulai
dari melakukan penyerangan terhadap Jemaat Ahmadiyah, menuding tanpa
bukti PDIP sarang PKI, mengatakan Presiden Jokowi banci, menganiaya dua
anak di bawah umur, menginjak kepala sopir taksi online, melanggar PSBB,
hingga menyebarkan hoax.
Karena ulahnya itu juga, Bahar berkali-kali masuk penjara.
Dan sekarang pun masih mendekam di balik jeruji besi.
Tapi bukan Bahar namanya kalau gak pengecut.
Ceramahnya
boleh saja kasar, menghujat dan mengumpat. Ujung-ujungnya istrinya juga
yang dijadikan jaminan buat dapat penangguhan penahanan.
Hingga tagar #IstrikuBukanBPKB sempat viral kala itu.
"Gadaikan istri. Katanya singa, ehhh nggak taunya cuma curut," ujar salah seorang netizen yang juga membubuhkan tagar itu di postingannya.
Memang
betul, orang yang banyak cakap serta doyan merendahkan pihak lain,
itulah yang sebenarnya pengecut. Karena pria sejati tidak akan pernah
mau mengorbankan istrinya akibat dari kesalahan sendiri.
'Situ yang berbuat, situ yang bertanggung jawab'. Begitu kura-kura kata para macho man.
Ternyata nyalinya gak segondrong rambutnya. Hehehe
3. Edy Mulyadi
Teka-teki kasus penghinaan terhadap Kalimantan yang menyeret nama mantan Caleg PKS, Edy Mulyadi akhirnya menemukan titik terang.
Ia
yang awalnya mangkir dari panggilan polisi itu, sekarang sudah menjadi
penghuni baru Rutan Bareskrim Polri dengan menyandang status sebagai
tersangka ujaran kebencian.
Sekjen
GNPF Ulama ini mulai terlihat pengecut ketika dia berusaha berlindung
di balik UU Pers dengan mau mengadu ke Dewan Pers segala. Padahal
pernyataannya soal 'jin buang anak' tersebut sama sekali bukan merupakan
produk jurnalistik tapi murni ujaran kebencian.
Lagian
juga, wartawan sejati itu tidak akan pernah menghujat pihak lain
ferguso. Karena mereka terikat oleh kode etik. Yang dilakukannya justru
menyajikan data-data dan fakta, beserta berita yang diproduksi
bermanfaat bagi orang lain.
Yang ini malah menyampaikan statemen yang bikin marah banyak orang. Dan tanpa didukung oleh data pula.
Pucak kepengecutannya, Edy mau menjadikan istrinya sebagai jaminan untuk dapat penangguhan penahanan.
Istri itu tambatan hati belahan jiwa Drun. Bukan sertifikat vaksin.
Sumber Utama : https://seword.com/umum/gak-ada-akhlak-trio-kadrun-ini-malah-jadikan-4E5ak1VFfH
Anies Harus Memanggil Orang Ini Agar Formule-E Yang Mepet Itu Cepat Kelar Dan Terwujud!
Formule-E
memang formula yang sejak awal rumusan dan niatnya sudah error. Ambisi
Anies yang ingin mendapatkan nama dan mencoba melambung nama Jokowi,
ternyata semuanya akan amblas.
Jelas
beda antara Jokowi dan Anies. Anies hanya jago tata kata, sedangkan
Jokowi memang diam-diam bekerja, berbicara seperlunya dan sederhana
menyampaikan kata-kata sehingga mudah dipahami. Bahkan Jokowi tak perlu
baca buku-buku yang tebal-tebal dan rumit-rumit seperti Anies, cukup
baca komik tapi sarat makna untuk bisa diaplikasikan dalam kehidupan
nyata.
Mana
bisa formula-E terwujud di bawah pemerintahan Anies, sedangkan
janji-janji kampanyenya saja tidak ada yang terwujud, semuanya tidak ada
yang becus. Anies hanya ingin menikmati hasil kerja pemerintahan
sebelumnya, lalu mengklaim bahwa itu hasil kerjanya. Jika hal kecil
saja tidak bisa ia penuhi, maka bagaimana dengan hal besar?
Jokowi
sebelum ke DKI, beliau sudah terbiasa blusukan dan membenahi apa yang
perlu dibenahi di Solo, hingga akhirnya beliau merebut hati rakyat Solo,
maka wajar kalau pada periode kedua Jokowi di Solo itu, memperoleh
suara yang sangat fantastis.
Sedangkan Anies?
Sejarah
Anies masuk dalam dunia politik memang sudah terlihat kelicikannya,
sejak di Universitas Paramadina saja, ia begitu licik hingga menduduki
kursi Rektor menyingkirkan Yudi Latief, apalagi saat merebut kursi
Gubernur DKI dari tangan Ahok, jelas sekali bagaimana brutal dan
sadisnya memainkan ayat dan mayat demi kekuasaan kursi Gubernur.
Alhasil, kekuasaan yang didapatkan dari cara licik, maka hasilnya pun
tidak akan terasa bagi warga.
Tidak
ada satu pun program kampanye Anies yang terwujud lalu benar-benar
dirasakan manfaatnya oleh warga. Bukannya warga jadi bahagia, justru
semakin susah. Banjir pun jadi langganan kembali, padahal di era Ahok,
banjir sudah mulai surut karena ditangani dengan cermat. Apalagi macet,
tidak mungkin Anies bisa mengatasinya, Anies hanya menyusun kata-kata
saja untuk menutupi kekurangannya itu.
Jadi
semua kebobrokan Anies ini harus selalu diulang-ulang agar warga atau
rakyat Indonesia tidak lupa, sehingga kelak rakyat tidak salah pilih.
Formule-E
dalam waktu dekat ini sulit sekali terwujud. Ini bukan program kampanye
Anies, tapi sebuah upaya untuk menghabiskan anggaran dan menguntungkan
segelintir orang. Tapi ternyata, semua rencananya itu seperti ambyar dan
amblas. Anies dalam posisi saat ini sebenarnya tak peduli lagi apakah
Formule-E jadi dilaksanakan atau tidak, tapi Anies sedang berusaha
menyusun kata-kata untuk mengelak, menyusun siasat bagaimana bisa lolos
dari jeratan kasus Formule-E.
Segala
cara pasti sudah ditempuh Anies dan koleganya, termasuk bagaimana ia
mengajak makam malam beberapa orang DPR demi tidak diusutnya kasus ini.
Anies ingin lolos dari proyek yang ambisius ini. Anies tak peduli sudah
berapa banyak kerugiaan yang telah diterima bangsa ini karena ulahnya
yang tidak bisa kerja tapi hanya ingin berkuasa semata.
Maka
karena itulah, kekuasaan yang sedang diburu Anies amat sangat
berbahaya, bisa jadi Anies ini adalah utusan dari orang luar atau orang
yang dimanfaatkan oleh negara lain, sehingga ketika Anies bisa berkuasa
dengan luas di negeri ini, atau misalnya berhasil menjadi presiden,
maka bisa lebih fatal dari orde baru, semua perjanjian yang akan
merugikan bangsa ini akan ditandatanganinya. Dan, negara ini akan
mengalami kerusakan lebih parah, cepat atau lambat, negara ini hanya
jadi sapi perahan saja. Amat sangat berbahaya.
Kasus
Formule-E yang tidak becus ini harus selalu diusut. Karena hal ini
sudah merusak citra Indonesia yang sudah dirawat pemerintahan Jokowi,
ehh ada Anies yang sok istimewa mau adain Formule-E, tau-taunya hanya
bikin malu! Indonesia akan dicap negara yang tidak komitmen dengan
perjanjian kerjasama olahraga balap ini.
Saking
kencangnya olahraga ini, mungkin maksud Anies, ingin lebih kencang
menghabiskan anggaran juga. Jika sumur resapan kurang kencang, mungkin
dengan Formule-E ini, anggaran bisa cepat amblas. Biarkan komitmen fee
melayang begitu saja, biarkan anggarannya tidak terpakai karena waktunya
mepet, sehingga panggil jin saja untuk menyedot anggaran itu. Dasar
memang Gabener! Alias Gotbener! Perusak Jakarta dan merusak negara!
Anies
ini bukan tipe pekerja, tapi tipe pembicara, yang memang cocoknya jadi
dosen di kelas saja, mengajar, memotivasi, meskipun hanya teori belaka.
Yahh...seperti misalnya si Mario Teguh, yang pandai dengan
kata-katanya, banyak bertebaran kata-kata motivasinya, bahkan
kelas-kelas motivasinya begitu mahal dan banyak dihadiri oleh
orang-orang kaya, padahal sebenarnya semua orang punya motivasi dalam
dirinya yaitu akal sehat.
Namun
pada akhirnya, Mario Teguh hanya berhenti pada kata-kata saja, kasus
dan masalahnya sendiri tidak bisa diselesaikannya, hanya mengandalkan
egonya, dan kini Mario Teguh sudah tidak laku lagi, dilupakan begitu
saja.
Nah,
tidak jauh beda dengan Anies Baswedan ini. Anies mengandalkan kata-kata
saja. Menjadi Gubernur DKI modalnya adalah kata-kata saja, mulai dari
kata “Sunnatullah” hingga kata-kata “Parkir air” dan “Naturalisasi “
serta “kelebihan bayar.” Semua kata-kata itu benar-benar kata-kata yang
dibuat untuk ngeles, hanya saja, untuk formule-E ini, Anies terus
berkutak dengan kata-kata, kata-kata apa yang akan dirancangnya untuk
bisa ngeles nanti? Kita tunggu. Apakah KPK berhasil dipengaruhinya?
Jagonya
Anies membuat kata-kata sebagaimana Mario Teguh, tapi pada tataran
aplikasinya, sungguh jauh dari kenyataan. Jika Mario Teguh berbicara
tentang cinta dan kasih sayang, ternyata pada anaknya sendiri dilupakan
tentang kasih sayang itu.
Lalu
Anies, yang katanya akan membuat warga bahagia dan maju kotanya,
ternyata tidak terwujud, karena memang kata-kata tidak bisa mewujudkan
kenyataan itu kalau tidak direalisasikan atau dikerjakan. Makanya Jokowi
pernah menekankan slogan “Kerja Kerja dan Kerja” Ini sebenarnya ingin
memperjelas bahwa ahli tata kata seperti Anies itu akan pincang maknanya
kalau tidak dilaksanakan atau komitmen dengan kata-katanya. Percuma
teori tanpa praktek. Begitu kira-kira.
Jadi
jangan harap Formule-E itu sukses, kecuali sukses ngeles dan cari-cari
alasan. Jangankan Formule-E, program kampanye saja tidak ada yang
terwujud, apalagi perhelatan besar dan bergengsi seperti Formule-E ini,
padahal dananya sudah tersedia kan? Bahkan bisa disubtitusi dari
uang-uang yang berkategori kelebihan bayar kan?
Namun
hanya ada satu cara agar formule-E bisa terwujud meskipun sudah mepet
waktunya, bahkan kalau misalnya sisa sehari saja, yaitu Anies harus
memanggil Bandung Bondowoso agar bisa membangun sirkuti Formule-E hanya
semalam saja, sebagaimana Bandung Bondowoso telah membangun seribu candi
hanya sehari saja untuk Roro Jongrang. Tapi sayangnya, ini cuma cerita,
tapi begitulah kata-kata, hanya cerita tapi sulit terwujud sebagaimana
Anies yang hanya berjanji yang katanya akan memajukan Jakarta dan
membahagiakan warganya, ternyata hanya slogan yang bau kentut saja.
Sumber Utama : https://seword.com/politik/anies-harus-memanggil-orang-ini-agar-formule-e-TOCPtX7BIX
Kadrun Itu Pada Dasarnya Pengecut! Istrinya Pun Dijadikan Jaminan Agar Tidak Ditahan!
Beda
banget dengan Ahok yang waktu itu masih beristrikan Veronika, Ahok tidak
bawa-bawa istrinya ketika didesak menjadi penista agama. Semua orang
yang berakal sehat tahu betul bahwa video Ahok di kepulauan seribu itu
penuh dengan intrik, sudah jelas videonya dipotong dan dicocoklogi
sebagai penista agama.
Tapi
semua ada hikmahnya, terlihat jelas siapa saja pada akhirnya sebagai
bajingan dan penjual agama dalam kasus Ahok itu. Semua orang-orang yang
akal sehatnya tergerus oleh nafsu kekuasaan berkumpul menyerang Ahok,
jemaah yang manuk-manuk dengan ustadnya pun hanya jadi seperti “kawanan
makhluk yang akal sehatnya di bawa ke jurang kebodohan”
Kini,
satu per satu orang-orang yang turut andil dalam gerakan intoleransi
menyerang Ahok dan pemerintahan, mengalami hal-hal yang tidak
menyenangkan, Edy Mulyadi hanya salah satu orang yang mengalami hal yang
sangat tidak menyenangkan saat ini. Edy harus merasakan bagaimana
rasanya didesak dan didemo sama seperti Ahok dulu dipaksa dan didemo
besar-besaran.
Ahok
datang sendiri ke kantor polisi, minta maaf dengan jelas dan tegas,
lalu menjalani proses pengadilan, dan menghabiskan waktu vonisnya di
penjara. Namun setelah itu keluar dengan kebanggaan, sebab Ahok bukanlah
napi mantan koruptor, maka karena itulah ia pun dipercaya menjabat
sebagai komisaris Pertamina, jabatan yang sangat istimewa, hanya saja di
Pertamina tampaknya masih ada sisa-sisa pengaruh mafia sehingga Ahok
pun harus berhati-hati. Ahok bicara sedikit dan test the water, ehh
tiba-tiba ada yang ngamuk. Tahu sendirilah siapa-siapa itu mereka.
Dan
kasus yang menimpa si Edy Mulyadi ini juga penuh desakan, tapi bedanya,
Edy memang lantang menyuarkan penghinaan dengan sombongnya, sehingga
jelas banget penghinaan itu. Beda dengan Ahok, videonya dipotong, lalu
disebarin dan diberi narasi sebagai penistaan agama. Sungguh dholim atau
zolim kelompok ini.
Dari
kejadian itu pada saat Ahok di demo, betapa mencengangkan bahwa ternyata
selama ini HTI dan sekutunya seperti PKS telah berhasil menjejali
pikiran para jemaah dengan ideologi intoleransi, agama yang mereka anut
bukannya sebagai pencerahan, namun digunakan untuk menekan orang-orang
yang berbeda dengan mereka. Dan hal itu tidak bisa hilang begitu saja,
sisa-sisanya sampai sekarang masih sangat erat. Ideologi HTI yang subur
itu masih menjejali orang-orang yang mengaku ustad lalu menyerang
pemerintah, seperti contohnya orang-orang yang mengaku sebagai kumpulan
ulama dari Sumbar yang masih menggelorakan jualan khilafah dan menyerang
pembahasan pemindahan Ibu Kota Nusantara. Dasar koplak!
Dalam
orasinya itu, gerombolan yang mengaku ulama dan aktivis itu, mengatakan
bahwa pemindahan Ibu Kota adalah zolim, lalu mengajak pada naungan
Khilafah, kempret bener. Ini sudah dari dulu menjadi jargon para kadrun,
justru dengan cara berpikirnya itulah yang membuat negara ini makin
mundur ngak maju-maju, ribut soal agama melulu, ribut soal kasus-kasus
Intoleransi.
Para
kadrun itu berpikiran sempit bahwa dengan jargon khilafah saja semuanya
beres, padahal di beberapa negara, Hizbut Tahrir ini sudah dicap
sebagai kelompok teroris yang sangat berbahaya bagi negara, dan karena
itulah Jokowi pun tegas membubarkan HTI, namun sayangnya, karena di
zaman SBY mereka ini terus menebarkan virus khilafahnya, maka tidak
mudah menggerusnya begitu saja. Sungguh prihatin! Tuhan tidak suka!
Tentu saya bisa jelaskan tapi tak perlu!
Para
pengusung jargon khilafah inilah yang justru berbuat zolim, pasalnya
mereka bawa-bawa agama tetapi menghambat kemajuan negara. Mereka para
kadrun ini jualan agama demi syahwatnya, itulah kezoliman yang paling
sangat berbahaya dan menjijikkan. Dengan jualan agama, mereka setiap
saat selalu membuat kegaduhan, membuat keributan, merasa dirinyalah yang
berhak menjaga agama dan perintah-perintah Tuhan, padahal perintah
Tuhan itu, ya berbuat baik tanpa membeda-bedakan agama dan sukunya,
tetapi berdasarkan kemanusiaan, karena sama-sama manusia.
“Dia
yang saudaramu bukan dalam iman adalah saudaramu dalam kemanusiaan”
Inilah konsep beragama yang pas dan sesuai manusia, bukan sesuai kadrun
dan para vampir dan pengasong khilafah.
Tapi
kalau mereka para kadrun itu memang Iblis, yah berarti kita memang harus
memeranginya, yang waras harus melawan narasi dari para Iblis yang
berjualan agama itu, para pengikut Dajjal sesungguhnya, yang merusak
negara meskipun mengatakan sedang mengadakan perbaikan dengan jargon
khilafahnya.
Edy
Mulyadi memang terkenal, tapi terkenalnya sungguh membuatnya akan
menderita. Baru saja mau ditahan, ehh... istrinya dijadikan jaminan, ini
berarti si Edy Mulyadi ini tidak tahan dengan penderitaan, si Edy
maunya melontarkan kata-kata arogan tapi tidak mau bertanggungjawab,
maunya ia saja yang merasa paling benar sedangkan yang ia soraki adalah
posisi salah. Inilah model kelompok yang mengaku oposisi tapi
kualitasnya jeblok, pantas saja mereka lebih tepat dinamakan kadrun
ngenes, bukan oposisi.
Menjadikan
istri sebagai jaminan adalah perbuatan yang tidak satria, tidak jantan,
sama halnya dengan si Bahar Smith, yang juga ingin menjadikan istrinya
sebagai jaminan. Semua itu adalah perbuatan para pengecut. Saat mereka
mendemo Ahok, oohh...congornya muncrat kagak karuan, serasa paling
jagoan dan paling menguasai negeri ini, semuanya ingin ditundukkan,
mereka ingin menguasai semua rakyat Indonesia dengan mulutnya yang
sangat biadab itu.
Tapi
kini, baru saja mau ditahan, mereka sudah membayangkan pedihnya
penderitaan, banyak alasan yang mereka terus lakukan, intinya, mereka
mau terlepas dari segala jeratan hukum, sedangkan orang lain yang
menjadi lawan politiknya atau yang tidak disukainya, ingin mereka
jebloskan ke penjara. Laknat emang ya!
Cukuplah Ahok menjadi contoh dan martir atas kelakuan bejat mereka. Masyarakat yang sudah waras akan terus melakukan perlawanan.
Menuju
negara maju memang butuh kerja keras dan cerdas. Segala hal yang
menganggu atau menghambat kemajuan negara ini memang harus dilenyapkan.
Jadi semua kadrun yang tidak mau menyadari kesalahannya, yahhh bikin
jera saja, kalau tidak jera juga, yahh... ayo gebuk ramai-ramai dengan
narasi yang membuat mereka tersandung hingga akhirnya keok. Biarlah
semua tokoh Kadrun di dalam penjara saja, hitung-hitung mereka dikasi
makan gratis kan? Daripada kerja ngak halal dengan menebar kebencian,
mending makan gratis saja di dalam hotel prodeo itu.
Sumber Utama : https://seword.com/politik/kadrun-itu-pada-dasarnya-pengecut-istrinya-pun-H4wVMx5YUT
Re-post by MigoBerita / Rabu/02022022/12.34Wita/Bjm
Berita terbaru hari ini / berita terkini
:
nasehat untuk Edy Mulyadi "JIN BUANG ANAK" & "B4JINGAN" dari Pemuda NTT
https://youtube.com/watch?v=xjebI9UOA...
peringatan k3ras untuk Rocky Gerung dari Pemuda NTT yang tak berpendidikan
https://youtube.com/watch?v=N1SsiFvzn...
meskipun kulit gelap, NTT dan Papua sudah terang karena Presiden Jokowi
https://youtube.com/watch?v=5n09BqBqz...
peringatan k3ras untuk Demokrat dan Benny Harman dari Warga NTT
https://youtube.com/watch?v=KawqCdXI8...
gara² Presiden Jokowi Timor Leste jadi begini, bahagianya Warga Timor Leste bertemu Jokowi
https://youtube.com/watch?v=4O5bA8Xp2...
Waketum Demokrat sindir Presiden Jokowi beri janji palsu, Pemuda NTT semprot Benny K Harman
https://youtube.com/watch?v=lxSnMXHzw...
Bahar Smith hina Presiden Jokowi, warga NTT dan NTB buka suara - ini tanggapan Presiden Jokowi
https://youtube.com/watch?v=-1x1EVcfQ...
Presiden Jokowi robohkan 3 gedung di NTT, kini berubah jadi 3 kota kecil
https://youtube.com/watch?v=EWAUp1-fd...
gara² Presiden Jokowi Labuan Bajo jadi begini, apa kabar para Mantan
https://youtube.com/watch?v=6S15XZBA1...
Gaji Guru 250rb "pesan terbuka untuk Pejabat, Aktivis HAM, & Mahasiswa dari Pemuda NTT"
https://youtube.com/watch?v=JIoKmPalE...
gara² Presiden Jokowi gedung sekolah di NTT jadi begini, Rakyat NTT tidak makan infastruktur
https://youtube.com/watch?v=-0d_HReEb...
peringatan k3ras untuk Natalius Pigai dari Ras Melanesia "NTT, Maluku, Papua"
https://youtube.com/watch?v=nb4mvLQ4r...
gara² Presiden Jokowi jalan di NTT jadi begini, jangan ngaku sopir kalau belum coba arena di NTT
https://youtube.com/watch?v=5hYAQJ_qW...
orang Jawa kaget bensin di NTT 200rb/3ltr, jawaban warga NTT bikin geleng kepala
https://youtube.com/watch?v=023ONRPIT...
pengakuan Rakyat Papua tak ingin pisah dariNKRI karena Jokowi, orang Jawa senang Jokowi peduli Papua
https://youtube.com/watch?v=1R1xmV31b...
minta Polisi p3njarakan Presiden Jokowi, Rakyat Papua & NTT skakMat Rizal Ramli
https://youtube.com/watch?v=VZNTUzqlU...
surat terbuka untuk kaum pembenci Presiden Jokowi "dari Tanah Toraja - Indonesia Timur"
https://youtube.com/watch?v=OLbLAguwE...
Gubernur NTT minta Jokowi arahkan Rakyat NTT di2024, ini tanggapan Presiden Jokowi..sinyal 3 Periode
https://youtube.com/watch?v=raMA8OzJr...
kadrun teriak "2021 Harus Ganti Presid3n" Papua, NTT, dan NTB buka suara
https://youtube.com/watch?v=lf_u-uBmG...
saking cintanya Rakyat NTT pada Presiden Jokowi, begitu juga sebaliknya saking cintanya Presiden Jokowi pada Rakyat NTT
#PresidenJokowi
#MahfudMD
#Mahasiswa
#Nusantara
#BEM_SI
#ShiwaGoChannel
#PemudaNTT
#StandUpComedy
#AbdurArsyad
#KPK
#Gibran
#Kaesang
#IbuKotaNegara
#WargaNTT
#KondisiJalanNTT
#RakyatNTT
#YosepNaesoi
#GubernurNTT
#WagubNTT
#RakyatPapua
#RakyatMaluku
#RakyatSulawesi
#RakyatNTT
#RakyatNTB
#RakyatManado
#RakyatToraja
#ShiwaGoChannel
#PresidenJokowi
#RakyatNTT
#WagubNTT
#ShiwaGoChannel
#JosefNaiSoi
#PohonAsamJokowi
#PatungJokowi
#KampungJokowi
#BukitJokowi
#WisataNTT
#WargaNTT
#LabuanBajo
#BandaraKomodo
#BandaraPantar
#Belu_NTT
#Kupang_NTT
#Alor_NTT
#ManggaraiBarat
#Sikka_NTT
#Sumba_NTT
#Adonara_NTT
#BendunganRatiklot
#BendunganNapunGete
#BendunganRaknamo
#BendunganTemef
#MulutSeribu
#RoteNdao_NTT
#ShiwaGoChannel
#PresidenJokowi
#RakyatPapua
#RakyatMaluku
#ShiwaGoChannel
#RakyatNTT
#RakyatNTB
#RakyatSulawesi
#SBY
#Megawati
#WargaPapuaBarat
#WargaNTT
#NusaTenggaraTimur
#NusaTenggaraBarat
#WargaAmbon
#WargaMakasar
#WargaToraja
#WargaManado
#WargaKendari
#JembatanMerahPutih
#JembatanYoutefa
#TransPapua
#JembatanTelukKendari
#BandaraToraja
#PLBN_Merauke
#PLBN_Wini
#PLBN_Motamasin
#PLBN_Motaain
#Kefamenanu_TTU
#Atambua_Belu
#Malaka
#LabuanBajo
#HotelInayaBay
#Foodestate_SumbaTengah
#IndonesiaTimur
#Lagu_Lagu
#LaguIndonesiaTimur
#LaguSedih
#ShiwaGoChannel
#Mural
#Mural_PresidenJokowi
#Kritikan
#HinaPresidenJokowi