Arsip Migo Berita

MUNARMAN eks Sekretaris Umum Ormas Terlarang FPI "DITANGKAP" DENSUS 88 POLRI


Ngeri! Menag Yaqut Berani Menentang Wapres

 Saya paling suka kepada orang yang benar-benar profesional dalam bekerja. Salah satu contohnya adalah Ahok. Contoh lain yang menurut saya profesional dalam bekerja adalah Menag Yaqut atau yang akrab disapa Gus Yaqut. Saya sangat apresiasif dengan kinerja beliau di Kementerian Agama. Meskipun beliau membawa nama besar NU, beliau tetap mencoba bekerja secara profesional tanpa membawa-bawa bendera NU.

Bukti profesionalitas Gus Yaqut adalah ketika akhirnya menolak permintaan Wapres KH. Ma'ruf Amin agar santri diberi kebebasan untuk mudik. Permintaan Wapres ini memang menjadi polemik. Sebab, banyak yang protes dengan permintaan wapres. Banyak yang menuding pemerintah tidak serius membuat kebijakan larangan mudik.

Sebagaimana yang dilansir oleh suara.com, Menteri Agama RI (Menag RI) Yaqut Cholil Qoumas (Gus Yaqut) akhirnya enegaskan pemerintah tidak memberi dispensasi mudik lebaran bagi santri. Sesuai kebijakan larangan mudik lebaran 2021, tujuannya untuk mencegah penularan Covid-19. 

Gus Yaqut meminta dengan sangat hormat kepada para pengasuh, santri maupun orang tua santri untuk bisa memahami aturan ini demi menjaga keselamatan jiwa dari ancaman paparan virus Covid-19, pada Rabu (28/4/2021).

Menurut Gus Yaqut, di tengah pandemi Covid-19 yang belum sepenuhnya terkendali, menggelar mudik bagi santri tentu tak mudah. Dibutuhkan kontrol ketat dalam pelaksanaannya di lapangan. Sebab, ada jutaan santri di berbagai daerah. Jika dalam waktu hampir bersamaan melakukan mudik, maka sangat rawan memunculkan klaster baru penularan virus. Bahaya lebih besar pun mengancam jika sampai rumah, virus itu turut memapar para anggota keluarganya. Bahaya yang sama juga bakal terjadi pada arus balik, potensi penularan virus pada Kiai dan Ibu Nyai.

Upaya mengontrol santri saat di rumah juga bukan hal yang mudah. Sebab jumlah mereka juga tak sebanding dengan petugas yang ada. Di sisi lain, upaya pemulangan santri ke ponpes usai Lebaran juga memunculkan persoalan yang tak kalah ringan. Santri wajib menjalani pemeriksaan kesehatan, karantina dan sebagainya sebelum benar-benar bersih dari virus. Hal ini tentu membutuhkan banyak hal yang tidak mudah diselesaikan dalam tempo yang mepet.

Jujur saya tak menyangka Gus Yaqut akan bersikap setegas ini. Sikap Gus Yaqut ini bukan berarti tidak menghormati KH. Ma'ruf Amin, tapi bukti bahwa beliau orang yang sangat profesional dalam bekerja.

KH. Ma'ruf Amin adalah atasan Gus Yaqut, baik di NU, maupun di pemerintahan. KH. Ma'ruf Amin sebelumnya menjadi Rois Am PBNU. Rois Am adalah jabatan tertinggi di organisasi NU dan sangat dihormati oleh warga NU. Bisa disebut pantang menolak perintah dan permintaan Rois Am. Saya kaget ketika.Gus Yaqut berani menolak permintaan KH. Ma'ruf Amin untuk memberikan dispensasi kepada santri agar bisa mudik. Sebab, bisa disebut sangat sulit untuk bisa menolak permintaan dan perintah Rois Am PBNU.

Sebagai atasan di pemerintahan, Gus Yaqut paham permintaan Wapres hanya sebatas permintaan pribadi, bukan peraturan yang harus diikuti. Oleh sebab itu, Gus Yaqut harus tetap berpedoman kepada peraturan yang ada. Ketika dalam peraturan tidak ada pemberian dispensasi kepada santri agar bisa mudik, maka Gus Yaqut tetap kekeh untuk tidak memberikan dispensasi kepada santri agar bisa mudik.

Ketegasan Gus Yaqut mungkin mengecewakan Wapres, kyai, santri, warga NU, bahkan mungkin menyakiti hatinya sendiri. Sebab, Gus Yaqut adalah kyai, punya pesantren, punya santri, beliau juga pernah jadi santri, mayoritas warga NU juga santri. Ketegasannya nampak tidak berpihak ke santri.

Tapi begitulah Gus Yaqut. Beliau tipe orang yang teguh pendirian dan sulit digoyahkan. Beliau tipe orang profesional dan amanah dalam bekerja. Tidak membuat kebijakan yang menguntungkan kelompoknya. Gus Yaqut siap jika keputusan ini membuat dirinya dibenci kalangan santri.

Ketegasan Gus Yaqut ini juga bermanfaat dan berhasil membuat wibawa pemerintah di mata masyarakat kembali meningkat. Sebelumnya banyak masyarakat yang mencibir dan mempertanyakan kebijakan larangan mudik. Pemerintah dianggap tidak tegas karena masih ada dispensasi untuk santri. Padahal, soal dispensasi untuk santri itu bukan kebijakan pemerintah, melainkan permintaan pribadi Wapres.

Patut ditunggu gebrakan-gebrakkan yang akan dibuat oleh Gus Yaqut. Semoga bisa menjadi menteri agama yang berkesan dan bisa menorehkan sejarah.

Sumber Utama : https://seword.com/umum/ngeri-menag-yaqut-berani-menentang-wapres-qio7R8ZE1i

Fadli Zon Meradang! Apa Hubungannya dengan Munarman?

Kemaren, buka puasa kita terasa lebih menyegarkan karena dibarengi dengan berita penangkapan munarman. Semua orang bahagia. Senang karena akhirnya aktor di balik penyiraman teh di tvone beberapa tahun lalu itu kini diringkus polisi.

Memang, kasus yang menjeratnya bukan soal penyiraman teh. Karena itu terlalu receh meski sama-sama menyebalkannya. Munarman ditangkap karena diduga terlibat kasus terorisme di Indonesia, terkait dengan beberapa orang yang sudah lebih dulu ditangkap dan baiat teroris di beberapa kota.

Bisa dibilang penangkapan berlangsung bersih. Tanpa lecet. Mungkin itu karena Ramadhan. Polisinya jadi hati-hati takut batal puasa. Tapi di mata publik, itu kurang menyenangkan.Penangkapan teroris oleh Densus 88 mestinya ada sedikit adegan tembak-tembakannya. Atau minimal tendang agar sedikit pincang saat berjalan. Bukan diringkus biasa saja.

Bukankah maling ayam kalau ditangkap polisi biasanya mukanya sudah memar? Masa untuk aktor intelektual, provokator dan sosok di balik aksi-aksi terorisme di Indonesia, ditangkap tanpa lecet suatu apapun? Kan ga seru.

Tapi dari sekian banyak orang yang bersyukur dan bahagia Munarman ditangkap, ada satu orang yang tidak suka dan membela. Yakni Fadli Zon.

Kader Gerindra dan anggota DPR RI ini mengatakan bahwa dirinya tidak percaya Munarman teroris.

“Saya mengenal baik Munarman dan saya tidak percaya dengan tuduhan teroris ini. Sungguh mengada-ngada dan kurang kerjaan,” kata Fadli Zon lewat cuitan di akun media sosial pribadinya.

Jadi mari kita bedah satu persatu.Soal mengenal baik. Bukankah Fadli Zon juga mengenal baik Ratna Sarumpaet? Bahkan menjadi orang pertama yang membela Ratna dari cerita dipukuli sampai bonyok itu? dan sebagian orang beranggapan bahwa dalang dari kisah bonyok itu adalah Fadli Zon sendiri. Tapi ketika tersudut dan cerita tidak bisa berkembang, Fadli malah menjadikan Ratna sebagai kambing hitam dan disalah-salahkan.

Jadi soal kenal baik ini tidak menjamin suatu apapun dari tindakan yang sudah dilakukan Munarman. Kalaupun kenal baik, memangnya kenapa? Toh tetangga Munarman ga ada yang membela seperti Fadli Zon.

Saya malah jadi bertanya-tanya, apakah Munarman ini ada hubungannya dengan Fadli Zon dan Gerindra? Ya kan kenal baik katanya. Apa hubungannya? Kalau sebagai rekan, kerjasama apa yang pernah dilakukan? Nah ini menarik untuk ditanyakan ke Fadli Zon arti kenal baik tersebut. Lalu soal tuduhan teroris. Ini salah pemahaman. Munarman dituduh terlibat dalam menggerakkan atau memprovokasi orang untuk menjadi teroris. Jadi bukan dituduh teroris. Fadli Zon mungkin semalam kekenyangan saat bikin pernyataan jadi matanya kurang fokus.

Dan terakhir soal pernyataan mengada-ngada dan kurang kerjaan.

Sampai di sini saya ga paham siapa yang kurang kerjaan? Polisi memang bekerja untuk menangkap orang-orang yang melakukan tindak kejahatan. Dan itu memang kerjaannya.

Sebaliknya, anggota DPR itu kan tugasnya di Senayan. Dewan perwakilan rakyat. Ini kenapa malah ngurusin provokator FPI? Jadi sebenarnya yang kurang kerjaan ya Fadli Zon. Tapi malah nuduh polisi yang sedang melaksanakan tugas.

Secara politik, pernyataan Fadli Zon ini semakin membuat posisi Gerindra tidak jelas arahnya. Di satu sisi Prabowo ingin tampil keluar dari embel-embel kelompok radikal, tapi Fadli Zon masih terus merawat isu FPI. Mulai dari penembakan laskar dan kini membela Munarman.

Jadi sebenarnya Gerindra itu masih ingin merawat atau merangkul FPI? Atau bagaimana?

Bukankah FPI adalah ormas terlarang? Bukankah Gerindra adalah koalisi pemerintah? Bagaimana bisa partai koalisi malah justru membela anggota ormas terlarang yang selama ini menyerang negara? Ini koalisi macam apa!

Jadi sebaiknya setelah ini Prabowo benar-benar menunjukkan sikap yang jelas sebagai Ketum Gerindra. Kalau yang dilakukan Fadli Zon itu tidak sesuai dengan garis kebijakan partai, maka singkirkanlah manusia satu itu. Karena publik juga sudah jijik melihatnya tampil terus dengan muka bakpaonya.

Tapi kalau Gerindra masih ingin terus merawat FPI, ya sebaiknya Prabowo segera mengundurkan diri. Ga baik jadi munafik dan bertahan di kabinet hanya demi mengumpulkan logistik jelang pemilu 2024. Karena percuma punya logistik dan akhirnya pasti kalah juga.

Sumber Utama : https://seword.com/politik/fadli-zon-meradang-apa-hubungannya-dengan-QOTnU6mEwd

Refly Harun Tak Percaya Munarman Teroris, Sori Ya, Gak Ada Yang Nyuruh Lu Percaya

Penangkapan Munarman mengundang sejumlah reaksi baik yang pro maupun yang kontra. Di grup WA, banyak kadrun-kadrun yang mulai kepanasan mirip cacing yang ditaburi garam dan micin. Ada juga Fadli Zon yang menyebut penangkapan ini mengada-ada.

Refly Harun juga ikut mengomentari penangkapan Munarman. Dia mengaku tidak percaya jika Munarman adalah seorang teroris apabila kata tersebut didefinisikan dengan makna sebenarnya yakni orang yang melakukan teror.

"Terus terang, saya dari hati kecil tidak percaya juga kalau Munarman adalah seorang teroris kalau kita definisikan teroris pada definisi sesungguhnya, melakukan tindakan teror untuk menakut-nakuti masyarakat, pemerintah, dan lain sebagainya," kata Refly Harun."Tapi kalau kritis terhadap pemerintahan iya. Karena itu dia bergabung dengan FPI dan berani berkata keras, karena dia berlatar belakang hukum. Pernah jadi ketua YLBHI yang memang kelompok kritis pemerintah, dia gabung dengan FPI pun kritis. Hanya bedanya satu aktivis di spektrum agak kiri, ketika di FPI kanan," katanya.

Refly Harun berharap agar penegak hukum bisa membedakan antara seseorang yang kritis dengan orang yang melakukan tindak pidana. Dia mengaku semakin khawatir dengan perkembangan demokrasi di Indonesia.

"Saya terus terang makin khawatir dengan perkembangan demokrasi negeri ini, apalagi Indek Demokrasi Indonesia tidak baik. Itu memberikan pelajaran agar betul-betul mengisi, mempertahankan demokrasi dan tidak diisi dengan lelucon hukum seperti misal masalah Jumhur Hidayat, Syahganda Nainggolan, Habib Rizieq, sekarang Munarman," tambahnya.

Munarman memang secara frontal tidak melakukan tindakan teror. Tapi polisi tidak mungkin sembarangan menangkap orang. Pasti sudah ada bukti kuat dan tak terbantahkan sehingga Munarman layak ditangkap. Belum ada kejelasan, tapi secara ringkas kemungkinan Munarman bekerja di balik layar. Jaringan teroris bukan hanya bagian lapangan doang, kan?Dan buat Refly Harun, Anda mau percaya atau tidak percaya, kita masa bodo lah. Tidak mau percaya yang urusan situ. Memangnya kalau Anda tidak percaya, lantas pemerintah harus dengerin perkataan Anda? Lagian tidak ada yang minta komentar Anda soal ini. Situ aja yang numpang cari sensasi lewat video Youtube. Kalau tidak percaya, silakan buktikan kepada kita semua. Anda berani ngomong begitu pasti ada alasannya. Silakan buktikan kepada kita. Polisi pasti sudah punya bukti makanya menangkap Munarman. Bukti langsung terlihat, yaitu pembersih WC, hehehe.

Refly Harun bicara hanya pakai perasaan dan emosi. Hanya melihat rekam jelas dan masa lalunya doang, seolah dia itu orangtua Munarman yang tahu luar dalamnya Munarman. Sedangkan bukti-bukti sebelumnya saja sudah jelas. Foto acara baiat tahun 2015 di Makassar.

Gak ada yang menyuruh dia percaya, karena ini masalah hukum yang harus pakai prosedur dan logika, bukan masalah percaya gak percaya (memangnya ini kayak percaya babi ngepet itu ada atau gak?)

Refly Harun mau percaya atau tidak juga tidak ada efeknya. Cuma reaksi seragam dari kelompok sebelah yang kerjanya hanya nyinyir dan tidak senang kepada pemerintah. Polri bekerja berdasarkan bukti, bukan berdasarkan apa yang Refly percayai atau tidak. Komentar Refly tidak lebih hanya untuk konten Youtube doang, tidak berbobot dan tidak akan menyurutkan langkah Polri. Dan rakyat yang cinta NKRI pasti mendukung langkah Polri dalam memberantas radikalisme.

Sama seperti Fadli Zon yang kurang setuju dengan penangkapan Munarman, harusnya Refly Harun berbuat sesuatu ketimbang hanya cuap-cuap di depan kamera. Aparat tidak perlu pendapat Refly untuk menentukan apakah seseorang harus ditangkap atau tidak.

Kalau mau buktikan kualitasnya, sebaiknya Refly bela langsung di pengadilan. Di situ bakal ada adu debat yang lebih jelas, disertai bukti dan argumentasi. Publik akan menilai apakah Refly ini benar-benar hebat sehebat omongannya di Youtube atau cuma beropini murahan demi menaikkan popularitas. Kalau hanya berani cuap-cuap di Youtube, bikin malu aja sih. Katanya ahli hukum tata negara dan ada gelar doktor, tapi semenjak banting setir, kualitas narasinya makin lama makin tidak berkualitas.

Intinya kalau masih juga tidak percaya, mungkin ada baiknya kolaborasi dengan Fadli Zon dan dirikan organisasi khusus untuk yang protes Munarman ditangkap.

Bagaimana menurut Anda?

https://www.suara.com/news/2021/04/28/091023/refly-harun-terang-terang-saya-tidak-percaya-kalau-munarman-itu-teroris?page=all

Sumber Utama : https://seword.com/politik/refly-harun-tak-percaya-munarman-teroris-sori-ya-UN6oGpMQ4b

Setelah Rizieq dan Munarman Ditangkap, Lalu Apa?

Bagaimanapun kita wajib merasa lega dan optimis dengan berbagai tindakan tegas pemerintah lewat aparat hukumnya selama beberapa waktu terakhir ini. Yang terbaru adalah ditangkapnya Munarman, pentolan eks FPI yang kini dinyatakan sebagai ormas terlarang di negeri ini.

Sebagaimana kita tahu dan saksikan bersama lewat video di medsos, pengacara yang menjadi radikal ini dijemput Detasemen Khusus (Densus) 88 Antiteror Polri dari kediamannya, Selasa, 27 April 2021, sore hari. Penangkapan ini disebut terkait kegiatan baiat terhadap sejumlah anggota ISIS yang dilakukan di Jakarta, Makassar, dan Medan, beberapa waktu lalu. Dalam acara baiat organsi teror itu, Munarman memang tampak hadir.

Beberapa bulan sebelum Munarman ditangkap, tepatnya Desember 2020 lalu, kepolisian juga sudah meringkus Rizieq Shihab atas berbagai kasus pelanggaran aturan dan peraturan di masa pandemi. Kini yang bersangkutan sudah menjalani berbagai sidang atas pelanggaranya tersebut.

Kita tunggu saja keputusan pengadilan nanti yang kita harapkan akan lebih mengedepankan masa depan NKRI yang gilang-gemilang, ketimbang kepentingan orang per orang atau kelompok -- yang notabene tujuannya hanya ingin mengacau negeri ini.

Rizieq dan Munarman adalah sosok sentral di balik FPI, ormas berembel-embel "pembela agama" yang sudah dilarang oleh pemerintah. Rizieq dikenal sebagai pimpinan utama, atau katakanlah penasihat spiritual bahkan diberi gelar sebagai imam besar di lingkungkan ormas ini. Meski kini bukan lagi sebagai ketua umum, namun diyakini dialah yang sebenarnya menjadi otak dan motor penggerak ormas ini.

Adapun Munarman dikenal sebagai jubir dan sekretaris umum ormas terlarang tersebut. Bahkan ketika ormas ini sedang jaya-jayanya, dia konon menyandang jabatan sebagai panglima(?) Ormas kok punya panglima segala, memangnya mau perang? Perang dengan siapa?

Tapi memang sepertinya keberadaan panglima di FPI bukan sekadar gagah-gagahan. Sebab entah sudah beberapa kali terlontar seruan perang dari pentolan ormas ini. Seperti ketika terjadi aksi pembakaran terhadap poster Rizieq Shihab di depan gerbang utama Gedung MPR/DPR oleh sekelompok orang, Sobri Lubis, selaku ketua umum, menyerukan perang.

“Kita siap perang, perang dimulai,” kata Sobri Lubis, Senin (28/7/2020), merespons aksi pembakaran atas poster junjungannya yang kala itu masih mendekam di Arab Saudi. Adapun para pembakar yang jumlahnya cuma puluhan orang itu aman-aman saja, dalam arti tidak dihajar dan diuber oleh laskar FPI yang jumlahnya bisa memenuhi Lapangan Monas tersebut.

Yang menarik justru seruan perang dari Sobri Lubis, yang untung saja tidak direspons oleh para laskar dan simpatisan. Selanjutnya yang menggema adalah narasi bernada marah: "satu poster kau bakar, ribuan atau jutaan yang berdiri". Yang dimaksud di sini adalah poster Rizieq Shihab yang dicoba dibakar massa yang menamakan diri "tolak khilafah" tersebut.

Dan sejak itulah, poster dan baliho Rizieq Shihab bertebaran di mana-mana. Papan-papang reklame yang lagi nganggur banyak yang dimanfaatkan untuk memajang poster berukuran raksasa ini. Konon, aksi ini kebanyakan main serobot saja, tanpa ijin dari pemilik dan tidak bayar pajak. Tapi siapa peduli? Atau siapa berani mengusik ormas tersebut pada saat itu?

Syukurlah titik balik yang baik itu akhirnya datang juga, ketika pemerintah lewat aparatnya menurunkan semua poster "imam besar" itu hingga tiada sisa sebiji pun. Selanjutnya ormas itu dilarang untuk selamanya. Pentolannya ditangkap, dan kini menjalani sidang atas kasus pelanggaran protokol pencegahan wabah covid-19.

Diamankannya kedua sosok penting yang diduga berada di balik aksi-aksi intoleransi dan berbagai kekerasan ini disambut gembira dan penuh syukur oleh masyarakat RI. Masuk akal, selama ini masyarakat mendambakan ketenangan menjalani kehidupan di bangsa yang majemuk ini. Tapi gerombolan yang berlagak membela agama mengacau dengan cara menghasut untuk membenci orang lain yang berbeda.

Pertanyaannya, apakah ajaran-ajaran yang menghasut dan memecah-belah sesama anak bangsa ini akan berakhir seiring dengan diikatnya kedua oknum tersebut di atas? Tentu tidak. Sebab virus yang meracuni bangsa yang dianugerahi keberagaman atau kebhinnekaan ini sudah dibiarkan merajalela sejak beberapa dekade silam.

Maka kecil kemungkinan jika negeri kita kembali ke suasana seperti beberapa dekade silam, yang oleh bangsa lain diakui sebagai "masyarakat yang ramah tamah dan hidup bergotong-royong". Sifat yang luhur ini sudah terkikis oleh hasutan dan ajaran atas nama agama oleh oknum-oknum yang justru membuat masyarakat kita menjadi mudah beringas. Bayangkan, hanya karena kaum wanita tidak menutupi rambutnya, banyak oknum yang merasa seperti kebakaran rumah.

Atau ke mana bangsa ini akan dibawa jika bertepuk tangan saja disebut haram oleh si Abdullah Hehamahua, karena menurutnya itu budaya Yahudi? Menjadi sangat bodoh, jika ternyata oknum yang baru saja mengibaratkan dirinya sebagai Nabi Musa ini justru menggunakan perangkat-perangkat komunikasi canggih semacam smartphone yang adalah karya bangsa Yahudi dan kafir.

Jadi ketika pun Rizieq dan Munarman ditangkap, tetapi kalau oknum-oknum penceramah intoleran dan suara kebencian atas kelompok lain itu tetap dibiarkan, kondisi bangsa dan negara ini hanya akan jalan di tempat. Bahkan terus menuju ke jurang kejatuhannya sekalipun mungkin hanya sedikit melambat.

Sebab jangan lupa, oknum dan kelompok intoleran itu akan terus giat selama diberikan angin atau panggung. Sementara pihak atau kelompok pengusung dan pembela semangat kebangsaan dan toleransi itu, umumnya slow dan santai, sebagaimana lazimnya orang pecinta kedamaian dan ketenangan.

Maka kepada pemerintah dan aparat, janganlah menyapu lantai dengan sapu yang kotor. Kotoran besar mungkin tersingkir, namun di lantai tetap bertebaran debu yang bisa menimbulkan penyakit.

Maka dari itu, kepalang basah, ya mandi sekali. Tertibkan pula semua oknum penceramah yang koar-koar menghasut rakyat dan menjelekkan pemerintah. Jangan silau ketika mereka mengaku cinta Pancasila dan NKRI. Itu hanya kedok. Sampai kapan pun angan-angan mereka tentang khilafah tidak hilang.

Sumber Utama : https://seword.com/umum/setelah-rizieq-dan-munarman-ditangkap-lalu-apa-MnJx5yqfRY

Mungkin Maksudnya Gak Dikasih Bawa Sandal Langgar HAM

Ada satu hal yang menarik dari penangkapan Munarman. Salah satunya adalah dirinya yang teriak diambilkan sandal. Sampai-sampai ada foto editan di mana Munarman disumpal mulutnya pakai sandal.

Yang satu lagi adalah, teriakan bahwa penangkapan Munarman melanggar HAM karena matanya ditutup saat ditangkap.

Pengacara Munarman menyebut tindakan polisi melanggar HAM karena Munarman ditangkap dengan mata ditutup dan tangan diborgol.

Sementara itu, Komnas HAM juga menyebut tindakan polisi saat menangkap Rizieq berlebihan. "Saya kira itu berlebihan dan tidak perlu dilakukan," kata Komisioner Komnas HAM Choirul Anam.

Menurut Choirul, tindakan hukum harus sesuai prosedur dan tidak boleh berlebihan. Menutup mata termasuk kategori berlebihan.

Kalau pengacaranya yang ngomong begitu, saya maklumi aja karena pengacaranya ini rada-rada ngawur dan kayak tidak berpendidikan. Dia ini yang dengan entengnya bilang bahan peledak itu adalah pembersih WC. Jadi orang ini tidak usah terlalu dipedulikan. Orang ini sudah tidak ada lagi urat malu.

Tapi kalau Komnas HAM? Ini benar-benar berat sebelah dan konyol.

Orang awam pun tahu apa tujuan Munarman ditangkap dengan mata tertutup. Tujuannya supaya dia tidak kenali anggota polisi yang menangkapnya. Kelompok seperti ini berbahaya, bisa dendam tujuh turunan dan tujuh tanjakan. Tentu saja kalau wajah terekspos, yang menangkap ini bisa dalam bahaya. Mungkin mereka tidak, tapi keluarganya yang rentan. Paham gak? Lucu aja Komnas HAM tak paham logika simpel ini, atau jangan-jangan mau ikut memperkeruh situasi?

Polri sudah menjelaskan semuanya. Penangkapan Munarman sudah sesuai SOP termasuk wajah Munarman yang ditutup.

“Ada dua hal yang perlu saya jelasin. Pertama, Munarman waktu ditangkap statusnya sebagai tersangka. Kedua, matanya ditutup, itu standar penangkapan terhadap tersangka teroris yang ditangkap,” kata Kabag Penum Divisi Humas Polri Kombes Ahmad Ramadhan.

“Dengan pertimbangan kejahatan teror adalah kejahatan terorganisir yang jaringannya luas. Penangkapan satu jaringan akan membuka jaringan-jaringan yang lainnya,” katanya.

“Pertimbangan kedua, sifat bahaya dari kelompok teror yang bisa berujung pada ancaman jiwa petugas lapangan. Maka, untuk mengamankan jiwa petugas lapangan, standarnya, baik yang ditangkap maupun yang menangkap ditutup wajahnya. Supaya tersangka tidak bisa mengenali wajah petugas, sehingga identitas petugas terlindungi. Ini perlindungan terhadap petugas yang menangani kasus terorisme,” katanya lagi.

Jadi sudah clear, kalau penutupan mata terhadap tersangka teroris sudah menjadi standar penanganan internasional. Di negara mana pun, tersangka teroris pasti diperlakukan seperti itu.

Kalau mau saya tambahkan lelucon, sebenarnya ada alasan lain kenapa mata Munarman ditutup. Ini untuk pencegahan agar matanya tidak sigap mencari cangkir berisi air teh. Bahaya lho, kalau sampai yang menangkapnya disiram air teh.

Bagi yang masih teriak-teriak HAM, coba lihat lagi para teroris yang telah membunuh manusia yang tidak bersalah. Apakah mereka pakai HAM? Dan yang teriak HAM, apakah mereka pernah protes soal HAM? Hanya gara-gara wajah ditutupi aja langsung mencak-mencak teriak HAM. Sedangkan tindakan teror yang jauh lebih mengerikan tidak dianggap?

Seharusnya, kalau seseorang sudah jadi tersangka atau terdakwa, maka hak asasi akan dibatasi oleh negara, ada hak dan kewajiban yang harus dipenuhi. Kalau dikit-dikit teriak HAM, kenapa tidak sekalian aja bilang penanahan semua napi di penjara juga melanggar HAM karena mereka tidak dapat ke mana-mana dengan bebas? Atau gak bilang pelanggaran HAM terjadi karena Munarman tidak diizinkan membawa sandalnya saat digiring, karena mengotori telapak kakinya yang mulus semulus sutra?

Jangan dikit-dikit teriak HAM padahal kelompok yang ditangkap jauh lebih sering melanggar HAM demi kepentingan pribadinya.

Kalau memang tidak merasa bersalah dan dizalimi, silakan ajukan praperadilan. Tapi kita yakin, kalau pun nanti praperadilan ditolak, mereka tetap akan teriak dizalimi. Bagi mereka, kebebasan adalah tuntutan mutlak meski terbukti salah sekalipun.

Jadi bagi yang membela kelompok seperti Rizieq dan Munarman ini, patut dipertanyakan motifnya. Apakah hanya sekadar menumpang isu biar terkenal atau ada udang di balik batu. Ada beberapa orang yang sepertinya sangat tersinggung soal ini. Jadi curiga.

Sumber Utama : https://seword.com/politik/mata-munarman-ditutup-langgar-ham-mungkin-BiuDNaQbdX

Gerindra Dan Demokrat Bakal Terseret Penangkapan Munarman?

Penangkapan Munarman seakan jadi “vonis mati” buat FPI dan Rizieq. Karena selama ini Munarman punya peran besar di ormas terlarang itu, maupun dalam persidangan Rizieq. Lalu apakah ini akan menyeret pihak lain di dunia politik?

Hubungan antara Gerindra dan FPI/Rizieq Shihab memang dipastikan dekat. Ketika aksi berjilid-jilid sedang ngetrend, Gerindra turut menikmati hasilnya. Yakni kemenangan di Pilkada DKI Jakarta. Ketika Rizieq kabur ke Arab Saudi, politikus Gerindra silih berganti menemui Rizieq. FPI pun terlibat dalam ijtima ulama berjilid-jilid yang menjelang Pilpres 2019 mengusung Prabowo sebagai capres. Hanya karena Gerindra kemudian bergabung ke dalam pemerintahan Presiden Jokowi, hubungan itu jadi tidak se-intens dulu. Tapi masih berhubungan dong. Fadli Zon masih vokal membela Rizieq, dari ketika masih di Arab Saudi hingga akhirnya pulang ke Indonesia. Bahkan Fadli Zon termasuk dalam para politisi yang antri menemui Rizieq di Petamburan pasca kepulangannya.

Fadli Zon juga turun langsung ke RS Polri Kramat Jati ketika ada serah terima jenazah 6 laskar FPI yang terlibat dalam penembakan aparat di Cikampek. Selain Fadli Zon, hadir pula Romo Muhammad Syafi’I, politisi Gerindra lainnya Sumber.

Politisi Gerindra lainnya, Habiburokhman pada bulan Desember lalu, membela Munarman. Sebelumnya, Munarman menyatakan kalau laskar FPI tidak membawa senjata api, terkait insiden tewasnya 6 laskar FPI di Cikampek. Pernyataan ini bertolak belakang dengan bukti yang diperoleh pihak kepolisian. Kemudian Munarman dipolisikan dengan dugaan penghasutan. "Bang Munarman di pihak almarhum laskar yang tertembak karena beliau adalah sekjen dan sekaligus tim hukum FPI. Pernyataan beliau adalah bagian dari pembelaan diri yang merupakan hak seorang advokat. Tidak tepat kalau beliau dilaporkan pidana," kata Habiburokhman Sumber. Kata-katanya sungguh sopan dan hangat seperti seorang “kawan baik” ya.

Serupa dengan kata-kata Fadli Zon membela Munarman pasca ditangkap oleh Densus 88 kemarin Selasa (27/4). “Sy mengenal baik Munarman dan sy tdk percaya dg tuduhan teroris ini. Sungguh mengada2 n kurang kerjaan,” cuit Fadli Zon di Twitter link twitter.

Sama manisnya dengan kata-kata Andi Arief, politisi Demokrat, yang juga membela Munarman, menyusul penangkapannya. “Aparat harus adil dan memiliki bukti kuat untuk menteroriskan Munarman. Jika tidak terbukti, harus dilepas. Munarman kawan baik saya, saya tidak yakin dia terlibat terorisme. Dia pasti kuat mengahadapi persoalan ini. Tugas kita mengawal ini agar ada keadilan,” cuit Andi Arief link twitter.

Andi Arief bukan orang sembarangan di Partai Demokrat. Dia punya jabatan dalam kepengurusan partai Demokrat 2020-2025 di bawah AHY sebagai Ketum. Yakni sebagai Ketua Badan Pemenangan Pemilu (Bappilu) Parta Demokrat Sumber. Walaupun pernah tersandung kasus narkoba. Tetap saja Andi Arief diberi jabatan oleh AHY. Berarti Andi Arief bukan ecek-ecek dong. Bisa disebut mewakili Demokrat.

Apakah ada hubungan antara Demokrat dan Munarman? Ketika panas-panasnya kisruh partai Demokrat antara kubu AHY dan kubu Moeldoko, pada bulan Maret lalu, Munarman sempat menyatakan siap membantu kubu AHY. Nggak ada angin nggak ada hujan, tiba-tiba saja Munarman memberikan pernyataan, “Kalau pihak AHY minta, saya siap membantu”. Dengan alasan Munarman membela pihak yang terzalimi Sumber. Sementara ketika marak aksi berjilid-jilid dari gerombolan 212 dulu, pernah berhembus kabar bahwa ada SBY di balik aksi 411 waktu itu. Yang kemudian disebut fitnah oleh pihak SBY Sumber. Betul atau fitnah? Wallahualam. Toh SBY tidak pernah mempolisikan orang yang mengusung dugaan tersebut, ya kan?

Kalau sekarang Andi Arief menyebut Munarman sebagai kawan baik, saya kira Partai Demokrat harus siap dengan konsekuensinya. Jangan baper lagi ketika muncul lagi dugaan keterkaitan Demokrat dengan gerombolan Munarman CS. Sedangkan penangkapan Munarman ini kan dikaitkan dengan tindak pidana terorisme. Penggeledahan markas FPI di Petamburan menghasilkan banyak barang bukti bahan pembuat bom Sumber. Lalu ada pula bukti video yang sudah lama beredar, soal kehadiran Munarman dalam acara baiat ISIS di Makassar pada tahun 2015. Ini didukung oleh pengakuan Ahmad Aulia, terduga teroris yang ditangkap pada Januari lalu Sumber Sumber. Bagaimana nanti jika semua hal yang disangkakan ke Munarman terbukti di pengadilan? Ya jangan heran kalau Demokrat ikut terseret. Petingginya saja berkawan baik kan? Kecuali nanti pakai strategi buang badan ya.

Bagaimana dengan Gerindra? Fadli Zon tidak bisa jadi wakil rakyat tanpa Gerindra. Itu sudah pasti. Begitu pula para politisi Gerindra yang sudah akrab dengan FPI, Rizieq maupun Munarman. Tidak akan disebut sebagai politisi, tanpa adanya Gerindra. Kalau Gerindra betul-betul konsekuen dengan komitmennya bergabung dengan pemerintahan Presiden Jokowi, harusnya tidak akan ada pembelaan dari politisinya terhadap Munarman dan gerombolannya. Oleh sebab itu, seperti di tulisan sebelumnya, saya ingin tahu, apakah Fadli Zon yang jelas-jelas membela HTI, FPI, dan Munarman bisa juga ditangkap, ketika semua kesalahan yang disangkakan ke mereka bisa dibuktikan oleh pengadilan? Dan juga tentunya, ada imbas buat Gerindra. Atau akan dibiarkan saja, sambil dilihat bagaimana efeknya terhadap elektabilitas Gerindra? Ya, kadang politik ini bikin sulit kita mencapai keadilan yang sempurna. Yang nanyain PKS, PKS lagi sibuk belajar mengurus negara dari PDIP ketika Munarman ditangkap Sumber. Udah jangan diganggu!

Sumber Utama : https://seword.com/politik/gerindra-dan-demokrat-bakal-terseret-penangkapan-9rlRCECOEa

Bela Munarman, Fadli Zon Dan Andi Arief Habis “Dihajar” Netizen!

Akhirnya Munarman ditangkap aparat. Seperti menunggu jerawat pecah. Karena memang sudah sekian lama publik mengetahui adanya video baiat ISIS di Makassar yang dihadiri oleh Munarman. Kabarnya video itu sudah sejak 2015. Bahkan pada bulan Februari lalu, seorang terduga teroris yang juga anggota FPI mengakui kehadiran Munarman dalam acara baiat tersebut. Lalu kenapa kok Munarman bagaikan kebal hukum, tidak juga ditangkap. Itu yang mengotori benak saya, sampai terpikir bahwa mungkin saja Munarman ini semacam agen rahasia yang ditanam di FPI, sehingga dia memang kebal hukum hehehe… Itu hanya khayalan saya sih. Tentunya kita semua mengapresiasi pihak Densus 88 yang telah menangkap Munarman dengan tegas, sampai sandalnya pun ketinggalan. Mantap dahh!

Pasca penangkapan Munarman, muncul di permukaan 2 tokoh publik yang membela Munarman. Yakni Fadli Zon dan Andi Arief. Keduanya mencuitkan pembelaannya di Twitter. Yang tentu saja mengundang serbuan para netizen. Dan kalau sudah diserbu, ya siap-siap saja “dihajar” para netizen. Karena memang gampang sekali membalikkan apa yang dicuitkan oleh Fadli Zon dan Andi Arief.

Cuitannya pun senada. ”Sy mengenal baik Munarman dan sy tdk percaya dg tuduhan teroris ini. Sungguh mengada2 n kurang kerjaan,” tulis Fadli Zon link twitter. Sekitar 2 jam kemudian disusul oleh Andi Arief. “Aparat harus adil dan memiliki bukti kuat untuk menteroriskan Munarman. Jika tidak terbukti, harus dilepas. Munarman kawan baik saya, saya tidak yakin dia terlibat terorisme. Dia pasti kuat mengahadapi persoalan ini. Tugas kita mengawal ini agar ada keadilan,” tulis Andi Arief link twitter. Sama-sama mengaku sebagai kawan baik Munarman, dan sama-sama menyatakan ketidakpercayaan bahwa Munarman terlibat terorisme.

Seorang pengacara yang juga politisi PSI, Muannas Alaidid, dengan telak dan tepat menunjukkan bahwa Fadli Zon ini sudah tidak pantas disebut sebagai anggota DPR RI yang mewakili rakyat. ”Soal hukum jangan tanya @fadlizon sbg anggota dewan mestinya anda hormati proses hukum yg sdg berjalan, apalagi ini menyangkut kejahatan luar biasa (extra ordinary) berkaitan dg Teror Bom Katedral & Teror Mabes Polri, bkn hny nyawa pertaruhannya tapi keberagaman kt sbg bangsa,” tulis Muannas link twitter. Setuju! Harusnya ikuti saja dulu proses hukumnya, pantau saja. Dengan mengatakan bahwa Fadli Zon tidak percaya terhadap tuduhan yang disangkakan pada Munarman terkait terorisme, berarti belum apa-apa Fadli Zon sudah membela teroris. Dulu membela HTI juga kan? Juga membela Ratna Sarumpaet yang mengaku dianiaya kan? Pantaskah Fadli Zon disebut sebagai wakil rakyat? Menurut saya sih sudah tidak pantas lagi.

Sontak saja, para netizen pun “menggeruduk” cuitan Fadli Zon. Banyak yang mengingatkan Fadli Zon pada rekam jejaknya membela Ratna Sarumpaet. “Yakin gak ngawur lagi?? Atau akan terulang kebodohan yg sama??,” tulis akun @aikel112629. “Anda juga kenal baik sm @RatnaSpaet (Ratna Sarumpaet) juga kan?,” tulis akun @joko_maryadi. “Sama halnya sampean pun mengenal bahkan sampai menjenguk seorang ratna sarumpaet, jd ya gak heranlah dg sgala cuitanmu,” tulis akun @nyonkwongbumen. Semuanya sambil mengunggah cuitan lama Fadli Zon soal Ratna Sarumpaet yang sudah dihapus.

Article

Kemudian ada pula netizen yang mengunggah jejak digital dari berita media, ketika Fadli Zon membela Ratna Sarumpaet. Seperti 2 akun di bawah ini :

Article

Article

Betul sekali, hanya orang goblok yang percaya sama Fadli Zon. Yang ngakunya sebagai jubir rakyat, tapi nyatanya adalah jubir para penjahat, seperti Ratna Sarumpaet dan Munarman. Bukannya mengedukasi rakyat agar mempercayakan pada proses hukum yang berlaku sesuai undang undang, malah memprovokasi agar tidak percaya dengan pihak kepolisian. Dasar bacot!

Kalau Andi Arief? Tentu saja para netizen mengingatkan Andi Arief soal kasus narkoba yang pernah menimpanya. “Ente pikir ini apa, sabu? Bukaaan!,” tulis akun @Pencerah_ sambil mengunggah foto-foto temuan Densus 88 di rumah Munarman maupun di Markas FPI Petamburan, yakni buku-buku jihad dan bahan-bahan pembuat bom. “Dan saya yakin Anggota Densus 88 gk dlm kondisi SAKAU. Pastinya dgn bukti2 yg kuat dan akurat. Bukan kuat anti bocor dan bergerigi,” tulis akun @RamaneShesa. “Sesama teroris itu memang berkawan baik,” tulis akun @Syarman59. Cukup 3 contoh ini saja sudah bisa mematahkan kredibilitas cuitan Andi Arief. Bukannya mengundang dukungan, malah mengundang tamparan buat diri sendiri.

Entah sampai kapan mereka ini bisa mencuit seenak udelnya dan dibiarkan saja. Jelas-jelas membela teroris. Menjual narasi bahwa penangkapan itu hanyalah sebuah bentuk penindasan rezim. Menutupi akibat buruk aksi terorisme. Membawa opini dan mengarahkan opini yang tidak benar. Yang akan dipakai oleh para kadrun sebagai alasan kuat, merasa ada tokoh penting yang membela mereka. Kan ngawur! Saya menunggu ditangkapnya juga Fadli Zon dan Andi Arief! 




Sumber Utama : https://seword.com/politik/bela-munarman-fadli-zon-dan-andi-arief-habis-suSgiXhcdU

Mengecoh Fadli Zon dan Andi Arief : Munarman Itu Ibarat Nissa Sabyan

Baru kemaren saya berusaha untuk memahami mengapa Netizen +62 masih sangat marah pada Nissa Sabyan, sampai-sampai apapun yang Nissa Sabyan, semuanya tidak luput dari kritikan. Kalau kritikan sih mending, tapi ini hujatan, ejekan, hinaan dan sejenisnya. Maksudnya, setiap Nissa Sabyan muncul di Media Sosial, semua postingannya selalu dihujani makian, hinaan dan lain-lain.

Dan analisa saya terhadap nasib Nissa Sabyan seperti itu sekarang adalah karena Netizen +62 merasa terkecoh, atau tepatnya dikecoh oleh kondisi Nissa Sabyan yang dianggap begitu unyu-unyu, muda, berpenampilan sangat religius, bertutur kata halus, sopan dan santun, datang dari keluarga baik-baik yang juga sangat religius. Bahkan, saya menambahkan bahwa Netizen +62 terkesan dengan kedewasaan Nissa Sabyan yang mampu memperlihatkan kenetralannya saat dia diundang Presiden Jokowi untuk bernyanyi di Istana, tak kala Nissa Sabyan mendukung Prabowo. Nissa Sabyan memperlihatkan keprofesionalannya saat itu.

Karena dua hal tersebut di ataslah, makanya ketika ketahuan Nissa Sabyan yang unyu-unyu dan religius itu ternyata seorang yang berotak jorok, karena menggoda seorang Married Man, bahkan bersikap congkak atas perbuatannya, dengan berdiam tak berkomentar, seakan-akan Nissa meneriakan, "Gue emang pelakor, terus elu-elu pade mau apa???", seluruh Netizen+62 mengalami goncangan batin yang dahsyat. Shock! Kaget! Tak percaya.

Dan hari ini, pasca penangkapan Munarman kemaren oleh Densus 88, Fadli Zon dan Andi Arief menuliskan status di akun media sosialnya bahwa mereka tidak percaya kalau Munarman itu seorang yang terlibat aksi teroris.

Fadli Zon menulis : "Saya mengenal baik Munarman dan saya tidak percaya dengan tuduhan teroris ini. Sungguh mengada-ada dan kurang kerjaan"

Andi Airef menulis : "Aparat harus adil dan memiliki bukti kuat untuk menteroriskan Munarman. Jika tidak terbukti, harus dilepas. Munarman kawan baik saya, saya tidak yakin dia terlibat terorisme, dia pasti kuat menghadapi persoalan ini. Tugas kita mengawal ini agar ada keadilan"

See? Guncangan batin yang sedang dirasakan oleh Fadli Zon dan Andi Arief, sama persis seperti yang dirasakan oleh Netizen +62 terhadap Nissa Sabyan.

Terhadap teman-temannya, Munarman tentu saja, dan bisa dipastikan, menampilkan penampilan yang sangat baik, religius, santun, bahkan kesan jujur lebih ditonjolkan ketibang kesan-kesan lain. Fadli Zon dan Andi Arief sama seperti Netizen +62 yang pada akhirnya terjebak dalam sikap yang naif dan stereotype kind of person, yang men-judge "pasti orang baik" pada setiap orang, yang hidupnya lekat dengan agama Islam, berpenampilan islami, berkata tak jauh dari hadist dan ayat Al Quran, berkata-kata sopan dan santun, baik, ramah, dan selalu siap sedia kalau dipanggil dan lain-lain.

Padahal, bagi Munarman, Fadli Zon, Andi Arief dan siapapun orang yang berseberangan dengan pemerintahan Jokowi, semuanya adalah segmen pasar, orang atau pihak yang sangat potensial untuk menjadi pelanggan, klien, pembeli, dari jasa yang dijual Munarman. Apa jasa yang dijual itu? Ya apalagi kalau bukan "Jasa Unjuk Rasa Ummat Islam". Motto Jualan jasa Munarman adalah "Unjuk Rasa Bela Agama", "Unjuk Rasa Bela Ulama", atau "Unjuk Rasa Bela Negara" dan lain sebagainya.

Kalau seorang penjual jasa unjuk rasa massa, tidak menampilkan penampilan seperti Nissa Sabyan, bagaimana FPI bisa menjadi sangat besar dan penting di atas panggung perpolitikan Indonesia. Nissa Sabyan pun sama. Kalau dia tidak menampilkan diri sebagai seorang unyu-unyu, sopan, chick, dengan semua balutan atribut keagamaan, sebagus apapun lagu yang dibawakan, lagu "Deen Assalam" atau lagu "Ya Maulana" tidak akan seviral sekarang.

Jadi, kembali lagi dengan postingan Fadli Zon dan Andi Arief, kalau polanya sudah seperti yang saya terangkan di atas, ya reaksi mereka jadinya wajar saja. Fadli zon dan Andi Arief sedang mengalami mental breakdown karena tak sanggup menerima kenyataan bahwa orang yang mereka pikir seorang yang baik, religius, dan jujur, ternyata seorang teroris.

Bedanya, kalau Netizen +62 bersikap menghujat, memaki dan menghina Nissa Sabyan pasca terbongkarnya perselingkuhan dia dan suami orang. Sementara Fadli Zon dan Andi Arief, karena dalam kondisi mental breakdown, bersikap membela Munarman dan mengancam aparat pasca terbongkarnya Munarman yang seorang teroris. Kalau Munarman bukan seorang teroris, terus ngapain dia punya bahan-bahan yang sama yang dibutuhkan untuk membuat alat ledak atau bom?

Sumber Utama : https://seword.com/umum/megecoh-fadli-zon-dan-andi-arief-munarman-itu-gA6iH56SaE

Menakar Kecerdasan Seorang Munarman

Sepandai-pandainya tupai melompat, pasti akan jatuh juga ke tanah. Mungkin peribahasa ini yang paling cocok kita gunakan untuk peristiwa penangkapan Munarman, tokoh sentral kelompok FPI terlarang.

Banyak orang menduga bahwa di balik kemegahan nama Habib Rizieq Shihab, Sang Imam Besar, sebenarnya Munarman lah yang bertindak sebagai dalang. Nama Munarman juga, yang sering terdengar jika FPI mengadakan pertemuan dengan sejumlah orang. Gambar Munarman yang sedang membagikan uang pada kejadian unjuk rasa akbar 212, menampik klaim FPI, kalau demontrasi besar 212 adalah kehendak pribadi masing-masing orang, atau dengan kata lain, "ummat" yang datang membanjiri Jakarta, bukanlah massa bayaran. Beberapa kejadian aksi teror di Indonesia yang dilakukan oleh kelompok berbasis agama, ramai dikait-kaitkan dengan keterlibatan Munarman. Namun, sejauh itu, Munarman, yang berlatar belakang seorang Pengacara, dengan kelicinannya, mampu menepis semua tuduhan.

Pun dengan peran Rizieq Shihab di panggung perpolitikan. Perubahan ideologi FPI dari yang awalnya hanya sebuah ormas yang bertujuan menghapuskan kemaksiatan di bumi Indonesia, dengan cara-cara jalanan, seperti swiping dan intimidasi kafe-kafe dan rumah makan, berubah menjadi sebuah ormas yang memiliki peran lebih penting dari sebuah partai politik. Banyak orang menduga bahwa perubahan FPI pada perkembangannya, juga tak luput dari peran dan pemikiran Munarman. Dengan posisi sebagai Sekertaris Umum, juga sebagai Pengacara dan Penasehat Hukum dari Kelompok FPI, Munarman memiliki peran ganda. Itu sebabnya nama Munarman tidak bisa disepelekan, tidak bisa dipandang tidak lebih besar dari mana Habib Rizieq Shihab.

Satu bukti bahwa peran dan kekuatan Munarman bagi FPI ternyata jauh lebih besar dari seorang Rizieq Shihab adalah saat Rizieq Shihab kabur ke Arab Saudia dan absen dai Indonesia selama 3.5 tahun. FPI fine-fine saja, hanya sedikit kalem dan tak banyak ulah. Tapi tetap hidup dan terus beraktifitas. Rizieq Shihab yang berada di Saudi Arabia, diatur sedemikian rupa supaya suara dia tetap terdengar di Indonesia, dan Munarman meng-echo-kannya. Bayangkan jika yang kabur atau absen dari Indonesia adalah Munarman. Mungkinkah para bohir mau mengongkosi biaya hidup Munarman sebanyak mereka mengongkosi Habib Rizieq Shihab? Belum tentu. Kecuali Munarman bisik-bisik pada Rizieq Shihab, suara Munarman tak mungkin di-echo-kan oleh sang Imam Besar. Sementara Rizieq Shibab akan kebingungan, karena biasanya sang dalang selalu berdiri di samping atau di belakang dia. FPI akan terseok-seok, karena Munarman lah, tokoh utama yang membesarkan nama dan peran Rizieq Shihab di blantika perpolitikan Indonesia.

Peran Munarman yang lebih besar dari Habib Rizieq Shihab juga dibuktikan dengan keberanian dan kebebasan Munarman untuk menghadiri acara pembaiatan terhadap ISIS di 3 kota berbeda, Makasar (2014), Jakarta (2018), dan Medan (2019). Disinilah bodohnya Munarman. Bukan bodoh... tapi takabur. Jika saja Munarman "terlihat" menghadiri pebaiatan hanya di satu tempat saja, maka tuduhan apapun yang dilemparkan padanya, bisa dengan mudah untuk dia sangkal. Munarman bisa mendalihkan kalau dia hanya tamu atau bahkan mendalihkan "cuma lewat" saja. Munarman mungkin merasa kalau rentang waktu antara pembaiatan pertama dan kedua cukup lumayan lama. Pembaiatan ISIS di Makasar terjadi pada tahun 2014, lalu pembaiatan ISIS di UIN Jakarta terjadi pada tahun 2018. Empat tahun rentang waktu!! Dan setelah pembaiatan ISIS tahun 2018, Munarman merasa aman. Ketakaburan dirinya yang kemudian dia terlihat lagi, di pembaiatan ISIS di Medan pada tahun 2019.

Lalu mengapa Murnarman tak langsung ditangkap setelah dia menghadiri pembaiatan di Medan tahun 2019? Karena pada saat itu tak ada orang yang membuat pernyataan atas kesaksian dirinya yang melihat Munarman menghadiri semua pembaiatan. Densus 88 baru bisa melakukan tindakan penangkapan Munarman setelah seorang terduga teroris yang ditangkap beberapa waktu lalu di Makassar, bernama Ahmad Aulia (30), mengaku sebagai anggota Front Pembela Islam (FPI), dan mengaku dibaiat di hadapan Sekretaris Umum FPI Munarman untuk menjadi simpatisan ISIS. Seperti ada rasa bangga pernyataan Ahmad Aulia ini, kalau sebagai anggota FPI dibaiat di depan Petinggi FPI.

Apakah kemudian Ahmad Aulia ini seorang bodoh atau bagi FPI dia seorang pengkhianat? Tentu saja tidak. Kebanyak anggota FPI itu kan punya sifat dan karakter yang unyu-unyu, polos, lugu dan naif. Celakanya, di bawah Munarman, tak ada lagi tokoh lain yang bisa diandalkan untuk tampil melakukan pers konferensi dan memberikan penyangkalan. Siapa? Novel Bamukmin? Novel Bamukmin itu, kalau di dunia keartisan, sama seperti Vicky Prasetyo saat bicara bahasa inggris.

Benar kata Jemima, Munarman tertangkap, FPI tamat. Karena sebenarnya FPI adalah Munaman. Habib Rizieq Shihab hanya sosok yang memainkan peran sebagai Imam Besar. Hhmm... Munarman ternyata tak cerdas-cerdas amat....

Sumber Utama : https://seword.com/umum/menakar-kecerdasan-seorang-munarman-pVPbx6QDcE

Re-post by MigoBerita / Kamis/29042021/15.02Wita/Bjm

SIAPA MENANG : Paman Birin VS Deny Indrayana + Bambang Wijayanto


Begini Masa Lalu Kelam Tim Hukum Prabowo Sandi di MK!

Jika ada jargon “Orang baik bersama orang baik” di kubu 01 alias Jokowi Amin, demikian sebaliknya di kubu 02, “Orang bermasalah bersama orang bermasalah”. Tim hukum Prabowo Sandi yang menggugat di MK, adalah orang yang pernah dijerat hukum. Benar-benar varokah sekali. Yuk kita korek masa lalu yang masih bernanah itu.

Nama-namanya adalah Bambang Widjojanto, Denny Indrayana, Teuku Nasrullah, Luthfi Yazid, Iwan Satriawan, Iskandar Sonhadji, Dorel Almir, dan Zulfadli. Tapi tidak perlu semuanya saya korek. Terlalu banyak. Ada beberapa nama panas yang akan kita lihat masa lalunya. Ini bukan hoax. Tim hukum yang masa lalunya bermasalah dengan hukum.

Article Bambang Widjojanto 

Article 

Bambang Widjojanto, ditangkap ketika dia menjadi wakil ketua KPK, perihal rekayasa keterangan palsu saat menjadi pengacara dalam pemilukada tahun 2010. Manusia ini memalsukan keterangan saat dirinya menjadi pengacara. Orang hukum, memalsukan keterangan saksi?

Waduh. Apa jaminannya nanti gugatannya berdasarkan keterangan asli? Coba hakim MK bisa mencatat ini. Jangan-jangan Bambang Widjojanto menggunakan keterangan dari saksi-saksi palsu?

Rekam jejaknya sudah tidak bisa dipercaya lagi. BW, sebutannya, menjadi orang yang pernah bermasalah dengan hal ini. Masih mau percaya dengan orang ini? Manusia berjenggot tebal ini, nyaris masuk penjara 7 tahun.

https://www.bbc.com/indonesia/berita_indonesia/2015/01/150123_bambang_widjojanto

Begini Masa Lalu Kelam Tim Hukum Prabowo Sandi di MK!

Denny Indrayana Article 

Mantan wakil menteri hukum dan HAM di era SBY, Denny Indrayana ternyata pernah menjadi tersangka kasus korupsi.

Orang ini diperiksa terkait dugaan korupsi Payment Gateway terkait pembayaran paspor elektronik. Pembuatan paspor memang menjadi tugas pokok dari kementerian hukum dan HAM. Orang ini diduga menyalahgunakan wewenangnya dalam program sistem pembayaran paspor elektronik.

Dia dijerat dengan Pasal 2 ayat 2, Pasal 3 dan Pasal 23 UU No 31 tahun 1999 tentang Tindak Pidana Korupsi jo Pasal 421 KUHP jo Pasal 55 ayat 1 ke 1 KUHP tentang penyalahgunaan wewenang secara bersama-sama.

Orang ini bermasalah dengan korupsi. Apa jaminannya orang ini tidak mengkorupsi hasil pemilu? Rekam jejaknya berbahaya. Harusnya hakim MK tahu bahwa orang ini tidak bisa dipercaya, karena pernah jadi tersangka.

http://makassar.tribunnews.com/2019/05/24/7-fakta-denny-indrayan-tim-hukum-prabowo-pernah-jadi-tersangka-hingga-bikin-heboh-di-australia?page=all

Teuku Nasrullah

  Article 

Orang ini adalah mantan dosen Universitas Indonesia. Dia di tahun 2009 pernah dilaporkan oleh mahasiswinya, atas dugaan perbuatan cabul yang dilakukan pada akhir tahun 2000 dan 2001.

"Nasrullah melakukan perbuatan cabul sebanyak dua kali," kata kuasa hukum korban, Shanti Dewi, pada wartawan, Senin (20/4), di kantornya di Jalan Wolter Monginsidi, Kebayoran Baru, Jakarta Selatan.

Perbuatan pertama, lanjut Shanti, terjadi di kantor hukum Nasrullah di lantai 15 Gedung Arthaloka, Jalan Jenderal Sudirman Kavling 2, pada akhir Desember 2000 sekitar pukul 16.30 WIB.

Sedangkan perbuatan kedua dilakukan Nasrullah di Kampus Fakultas Hukum Universitas Indonesia, Depok, pada Desember 2001, sekitar pukul 13.00 WIB.

https://metro.tempo.co/read/171373/mantan-dosen-universitas-indonesia-kembali-dilaporkan-mahasiswinya/full&view=ok Luthfi Yazid

Ah ini pengacara dalam kasus First Travel, yang membela jemaah yang dirugikan oleh para pencuri uang jemaah yang ingin pergi untuk melakukan umrah. Itu loh. Andhika Surachman, Anniesa Hasibuan dan Kiki Hasibuan.

Dia menuding negara merampas hak jemaah. Apa-apaan. Kok tidak nyambung? Bagaimana sih ini?

Yakin kalau nanti orang ini bisa memenangkan Prabowo?

http://aceh.tribunnews.com/2019/02/12/kasus-first-travel-luthfi-yazid-aset-ft-adalah-uang-jemaah-kok-dirampas-negara-itu-menzalimi

Sementara ini, sudah ada 4 nama yang tidak jelas posisi hukumnya. Dari 8, sudah 4 yang terbaca. Sisanya, silakan para pembaca beritahu saya. Saya sudah malas dan lelah googling. Tapi ada satu nama lagi, yang kemarin datang ke MK.

Namanya adalah “Kokoh” Hashim Djojohadikusumo. Dia adalah “didi”alias adik lelaki dari Prabowo. Matanya agak sipit. Saya tidak main SARA ya. Tapi ya sipit. Fakta kok.

Hashim Djojohadikusumo 

 Article 

Anak tuhan bernama Hashim Djojohadikusumo, adalah mantan tersangka kasus BLBI senilai 1,53T. T itu Triliun ya, bukan ton. Kalau Ton itu berat. Biar Dilan saja. Tapi dia menjadi tersangka kasus BLBI 1,53 Triliun.

Selain itu, dia juga pada tahu 2002, menjadi tersangka kasus pelanggaran batas minimum pemberian kredit (BMPK) Bank Industri. Orang ini pernah mengendap di Rutan Salemba. Dia pernah ditahan di Blok A kamar nomor 1 yang berukuran 2,5 x 1,5. Dia ditahan karena melanggar batas minimum itu.

Jadi MK harus memahami, bahwa setengah lebih tim Prabowo ini, pernah bermasalah dengan hukum. Mereka bukan sedang ingin menggugat secara serius.

Jangan-jangan, mereka ke MK itu adalah langkah depresi mereka, karena kedok kerusuhan 21 dan 22 Mei itu sudah mulai terbongkar dan menyasar ke mereka-mereka juga. Jadi bagaimana? Polisi jangan gentar. Terus selidiki keterlibatan mereka.

Apalagi ada mobil Ambulans Gerindra, yang dimiliki oleh perusahaan keluarga Hashim Djojohadikusumo.

https://www.liputan6.com/news/read/30678/hashim-djojohadikusumo-masuk-rutan-salemba

Kesimpulan… Orang jahat bersama orang jahat.

Begitulah jahat-jahat.

Sumber Utama : https://seword.com/politik/begini-masa-lalu-kelam-tim-hukum-prabowo-sandi-di-mk-BjHXUwSaD

Gagal Move On dari Pilkada Kalsel, Ini Kerugian Besar yang Dialami oleh Denny Indrayana

Awalnya, penulis pikir aura Pilkada 2020 telah selesai. Dan sekarang tinggal fokus ke 2024 lagi.

Hanya beberapa orang atau pihak saja yang masih berharap Pilkada 2022 digelar. Seperti Partai Demokrat, PKS, Anies Baswedan dan Jusuf Kalla. Sisanya, pengen segala sesuatu itu dijalankan sesuai peraturan.

Kalau memang kesepakatannya Pilkada serentak digelar pada 2024, ngapain juga maksakan 2022?

Ternyata, sungguh di luar dugaan. Atmosfer Pilkada 2020 tersebut masih terasa hingga kini.

Salah satu penyebabnya adalah calon gubernur Kalsel, Denny Indrayana hingga kini belum juga berhasil move on dari kekalahan di Pilgub Kalsel 2020 itu.

Ia terus mempermasalahkan kesalahan yang ada menurut versinya.

Lantas, siapakah si Denny Indrayana ini?

Kenapa dia begitu ngotot ingin menang Pilkada padahal kalah?

Dan apa pula kerugian yang dia alami dengan kengototannya itu?

Pembaca Seword tentu sudah sangat akrab dengan mukanya. Apalagi bagi pendukung Prabowo di Pilpres 2019 lalu.

Ia merupakan salah satu pengacara pasangan Prabowo-Sandi yang mengajukan gugatan hasil Pilpres 2019 lalu ke MK. Bersama Bambang Widjojanto, Teuku Nasrullah, dll.

Sebelumnya, si Denny ini juga menduduki jabatan publik sebagai WamenkumHAM di era SBY dan pernah juga jadi Stafsus SBY.

Sehingga, tidak berlebihan kalau ia disebut orangnya SBY.

Dan wajar kalau Partai Demokrat mendukungnya di Pilkada Kalsel 2020 lalu itu. Bersama Partai Gerindra tentunya.

Ngotot tidak mau kalah sebenarnya bukan hanya dia seorang yang melakukan. Sebelumnya, tentu kita masih ingat bagaimana Prabowo yang waktu itu mengklaim kemenangan 54 persen berdasarkan penghitungan sendiri.

Jadi, si Denny ini tidak mau menerima kekalahan tidak menutup kemungkinan karena mencontoh mantan kleinnya yang juga Ketua Umum Partai Gerindra tersebut.

Sebagaimana disebutkan dalam teori psikologi bahwa pertemanan itu sangat mempengaruhi perilaku.

Sama seperti Prabowo, Denny pun mengajukan gugatan ke MK.

Ia juga menuding lawannya, yang juga petahana Sahbirin Noor melakukan kecurangan secara tersktruktur, sistematis dan masif. Hahaha

Gugatan si Denny ini saat ini sedang berproses di MK.

Tapi lucunya, ia tidak hanya mengkritik KPU, melainkan juga menuding pengangkatan Roy Rizali sebagai Plh gubernur Kalsel tidak memenuhi syarat.

Nembak ke mana-mana.

Seharusnya fokus saja sama materi gugatan. Biar gak terlalu liar gitu. Karena Kalsel siapapun Plh-nya gak akan ngaruh terhadap hasil gugatan. Yang paling berpengaruh itu adalah pembuktian di MK, kuat apa gak.

Karena tim kuasa hukum KPU Kalsel Ali Nurdin juga mengatakan, gugatan yang diajukan oleh kubu Denny tersebut tidak jelas.

Pertama, tim kuasa hukumnya tidak memuat bukti tudingan kesalahan penghitungan yang dilakukan oleh KPU. Padahal dalam Peraturan MK No. 6 tahun 2020 disebutkan bahwa bukti dalam permohonan gugatan wajib dicantumkan.

Sehingga, bisa dibilang permohonan gugatan itu tidak sesuai dengan peraturan yang berlaku.

Termasuk juga petitum dalam gugatan, tidak dibuat secara spesifik.

Sehingga, menimbulkan ketidakjelasan alias ngambang gitu.

Artinya apa? Materi gugatan yang diajukan oleh kuasa hukum Denny tersebut bisa dibilang lemah. Potensinya untuk ditolak oleh hakim MK sangatlah besar.

Lantas, apa saja kerugian yang dialami oleh Denny yang tidak mau mengakui kekalahan itu?

Cukup banyak.

Pertama, tentu materi.

Sudah jelas, pengacaranya butuh makan. Begitupun dengan anggota keluarganya. Sehingga tidak bisa cuma dibayar dengan ucapan terima kasih doang.

Bukankah logika tanpa logistik itu anarkis?

Kedua, tenaga dan pikiran.

Jika Denny ini masih bekerja sebagai dosen, tentu dia tidak akan bisa fokus dengan pekerjaannya tersebut. Karena ia harus memikirkan bagaimana caranya gugatan yang diajukan bisa menang.

Termasuk juga ia harus bolak-balik dari Jogja, Jakarta ke Kalsel dalam rangka menyiapkan serta mendiskusikan materi gugatan.

Dan itu tidak gampang. Butuh tenaga yang ekstra.

Apalagi sekarang di tengah pandemi Covid-19. Tambah sulit-lah untuk melakukan perjalalanan.

Harus ada surat keterangan bebas Covid-lah, pakek masker, cuci tangan, jaga jarak, dll.

Ketiga, waktu.

Ini yang sebenarnya paling mahal. Karena waktu itu tidak akan bisa terulang kembali dan tidak bisa dibeli dengan apapun.

Keempat, reputasi.

Denny akan dicap sebagai orang yang tidak gentle.

Karena pria sejati itu sejatinya mau menerima kekalahan dan melakukan introspeksi diri.

Coba kalau dia mau menerima kekalahan dari dulu. Namanya tetap harum. Waktu, duit dan tenaganya tidak terbuang sia-sia.

Dan tentunya, peluangnya untuk bertarung lagi serta menang di Pilkada Kalsel 2024 mendatang semakin terbuka lebar.

Karena, kalau hari ini kalah, besok belum tentu. Dan kalau reputasi sudah rusak, sulit untuk diperbaiki.

Gagal Move On dari Pilkada Kalsel, Ini  Kerugian Besar yang Dialami oleh Denny Indrayana

Sumber Utama : https://seword.com/umum/gagal-move-on-dari-pilkada-kalsel-ini-kerugian-OHCteIKjoH

Liciknya Denny Indrayana! Dia yang Mau Jadi Pejabat, tapi Gugat ke MK Pake Duit Masyarakat

Tentu kita masih ingat, siapa saja yang jadi kuasa hukum Prabowo-Sandi di Pilpres 2019 lalu. Yang menggugat hasil Pilpres ke Mahkama Konstitusi (MK). Yang kita tahu sendiri hasilnya bagaimana. Gugatan itu minim bukti, sehingga ditolak oleh hakim konstitusi.

Sedikitnya, ada 8 pengacara kala itu yang disiapkan oleh Timses Prabowo-Sandi untuk menghadapi KPU dan untuk memenangkan sengketa Pilpres tersebut. Mereka adalah Bambang Widjojanto, Denny Indrayana, Zulfadli, Dorel Almir, Iskandar Sonhadji, Iwan Satriawan, Lutfhi Yazid dan Teuku Nasrullah.

Nah, dari sekian banyak nama tersebut, setidaknya ada satu yang mengikuti jejak Prabowo, yakni ambil bagian bertarung di Pemilu.

Pertanyaannya, siapakah advokat Kampret yang mengikuti jejak Ketua Umum Partai Gerindra itu?

Siapa lagi kalau bukan mantan stafsus SBY, Denny Indrayana.

Pada Pilkada serentak 2020 lalu, ia maju sebagai calob gubernur Kalimantan Selatan.

Untuk melengkapi perjuangannya itu, Denny menggandeng mantan wakil bupati Tanah Bambu yang juga Ketua Dewan Adat Dayak Kalsel, Difriadi Darjat.

-o0o-

Namun apesnya, lawan yang dihadapi oleh Denny ini bukanlah orang sembarangan. Dia adalah Sahbirin Noor yang berpasangan dengan Muhidin. Yang kita tahu sendiri bahwa si Sahbirin ini adalah petahana.

Pasangan rival Denny tersebut juga diusung oleh koalisi Parpol gemuk. Sedikitnya ada 9 partai yang memberikan dukungan kepada Sahbirin-Muhidin, yakni Golkar, PAN, PDIP, PKB, PKS, NasDem, PSI, PKPI, dan Perindo.

Sedangkan Haji Denny hanya diusung oleh 5 Parpol saja. Itu pun hanya ada 3 Parpol yang memenuhi syarat parlementary treshold, yakni Gerindra, Partai Demokrat, dan PPP. Sedangkan dua partai lainnya, Partai Berkarya dan Hanura, hanya ada namanya saja. Tapi tidak ada satu pun kadernya yang berkantor di kompleks parlemen atau gedung DPR.

Dan Denny juga tidak punya rekam jejak yang membanggakan di Kalsel.

Karena selama ini ia banyak bekerja di daerah lain. Seperti menjadi dosen UGM di Yogyakarta, menjadi kuasa hukum pelaksana proyek Meikarta di Jakarta, menjadi Stafsus SBY di Jakarta, serta menjadi Wakil Menteri Hukum dan HAM juga di Jakarta.

Jadi, prestasi atau karya Denny di Kalsel bisa dibilang tidak ada sama sekali. Dan bisa dibilang juga, ia kembali ke daerah kelahirannya tersebut hanya untuk mendapatkan kekuasaan saja, yakni menjadi gubernur. Selebihnya tidak ada.

Kalau bukan karena Pilkada serentak 2020 ini, mungkin ia tidak akan rutin mengunjungi daerah yang beribukota Banjarmasin tersebut.

Belum lagi ia juga punya rekam jejak yang buruk terkait kasus korupsi.

Si Denny ini awalnya adalah seorang aktivis anti korupsi yang idealis. Sudah seperti SJW gitu. Eh pada 2015 lalu, ia malah ditetapkan sebagai tersangka dugaan korupsi payment gateway di KemenkumHAM oleh Polri.

Melihat dari latar belakangnya ini saja, tidak meyakinkan kalau dia akan menang di Pilkada Kalsel 2020 tersebut.

Terbukti, pasangan Sahbirin-Muhidin yang memperoleh suara sebanyak 50,24 persen. Sedangkan Denny hanya memperoleh 49,76 persen suara.

Memang sih selisihnya tidak banyak, yakni hanya 0,48 persen saja. Tapi UU Pemilu tidak mengatur bahwa calon kepala daerah yang kalah tipis yang menang. Tetap saja si Denny yang kalah, meskipun beda suara yang didapatkannya tidak sampai 1 persen.

Mengikuti jejak Prabowo, Capres yang didukungnya pada Pilpres 2019 lalu, Denny pun juga tidak mau menerima kekalahan. Ia menuding proses Pilkada Kalsel penuh dengan kecurangan dan pelanggaran. Sehingga menurutnya, tahapan Pilkada Kalsel belum selesai, yakni masih ada 1 tahap lagi, menggugat hasil Pemilu di MK.

Tidak tanggung-tanggung, Denny menggandeng mantan Wakil Ketua KPK, Bambang Widjojanto sebagai pengacaranya dalam melakukan proses gugatan di MK itu.

Orang yang pernah gagal memenangkan gugatan sengketa Pemilu kok malah diajak lagi?

Gak kapok apa, kalah lagi?

-o0o-

Jadi, melihat apa yang dilakukan oleh Denny ini, terlihat jelas kalau dia itu ngotot pengen jadi pejabat. Terbukti, dengan ia yang sudah kalah tapi tidak mau menerima kekalahan tersebut.

Hanya saja, ada yang lucu. Dia yang ingin jadi gubernur, tapi duit masyarakat yang dikorbankan.

Denny tanpa malu-malu menggalang dana Rp 5.000 per orang untuk membiayai gugatannya, sengketa hasil Pilkada di MK itu.

Untuk mengaburkan tujuan sebenarnya, yakni tidak mau keluar duit banyak, ia pun beralasan minta sumbangan goceng ke masyarakat itu merupakan bagian dari pendidikan politik.

Pendidikan politik dari Hongkong? Hehehe

Kalau mau memberikan pendidikan politik kepada masyarakat, terima saja hasil rekapitulasi dari KPU dengan lapang dada dan mengakui kekalahan. Selesai urusan.

Bukan malah minta sumbangan ke masyarakat yang belum tentu mereka orang berpunya.

Ini ketahuan banget kalau do’i itu sebenarnya pengen menduduki kursi Kalsel-1, tapi enggan keluar modal banyak. Sehingga coba memanfaatkan kedermawanan masyarakat.

Dasar keong racun!

Liciknya Denny Indrayana! Dia yang Mau Jadi Pejabat, tapi Gugat ke MK Pake Duit Masyarakat

Sumber Utama : https://seword.com/politik/liciknya-denny-indrayana-dia-yang-mau-jadi-yKusPpq8O9

Partai Golkar Kalsel Pertanyakan Kedatangan Elite Jakarta Menjelang PSU

Wartaniaga.com, Banjarmasin- Partai Golkar Kalsel siap menghadang Denny Indrayana dan para elite Jakarta yang sudah berdatangan ke Kalsel menjelang pelaksanaan Pemungutan SuaraUlang (PSU) untuk mengeroyok Paman Birin. Seluruh masyarakat Kalsel harus merapatkan barisan, jangan sampai Kalsel yang selama ini kondusif diobok-obok elite Jakarta.

“Kedatangan orang-orang pusat ke Kalsel harus menjadi perhatian seluruh masyarakat. Apakah mereka bakal megobok-obok dan menghabisi wilayah Kalsel sehingga harus datang beramai-ramai ke sini mendukung Denny?” tanya Puar Junaidi, Koordinator Bidang Pemenangan DPD Partai Golkar Kalsel, di Banjarmasin, Rabu (14/4).

Menurut Puar, kedatangan para elite Jakarta ke Kalsel menjelang PSU pada 9 Juni wajar membuat masyarakat Kalsel curiga.
“Ada apa di Kalsel ini sehingga elite-elite nasional itu koq ikut mengobok-obok Kalimantan Selatan?” tanyanya.

Dikatakannya, menjelang PSU seolah Kalsel menjadi sesuatu yang luar biasa. “Ada apa di Kalsel ini sehingga elite-elite nasional itu ikut mengobok-obok Kalimantan Selatan?” tanyanya.

Puar pun menyentil instruksi Demokrat Pusat ke Demokrat Kalimantan Tengah untuk ikut bermain politik di Kalsel jelang PSU.

“Ya saya kira tidak etis saja instruksi yang dikeluarkan DPP mereka agar membantu di wilayah Kalsel. Jangan lupa kita punya UU Otonomi Daerah, bahwa daerah diberi kewenangan untuk mengatur daerah sendiri. Koq ini tiba-tiba orang luar ingin mengobok-obok daerah orang lain, kan sudah bertentangan dengan marwah UU Otonomi Daerah? Dan elite partai di Jakarta seharusnya memahami hal itu,” tegasnya.
Puar pun mempertanyakan motivasi para elite Jakarta yang ngotot untuk memenangkan Denny Indrayana di Kalsel.


Sumber Utama : https://wartaniaga.com/2021/04/partai-golkar-kalsel-pertanyakan-kedatangan-elite-jakarta-menjelang-psu/

“Apakah mereka terganggu karena tahun lalu Paman Birin tidak memperpanjang sekitar 600 izin pertambangan? Apakah mereka turun karena izin-izin tersebut dipangkas? Ini juga harus ada penjelasan untuk mengklarifikasi agar masyarakat jelas tentang kedatangan mereka ke Kalsel,” katanya sembari menyebut kepemimpinan Paman Birin justru konsen menegakkan pertambangan di Kalsel, termasuk berikhtiar keras memberantas illegal logging.

Menurut Puar, masyarakat Kalsel harus waspada, jangan sampai terulang begitu banyak izin-izin pertambangan yang justru merusak alam Kalsel. ”Kita justru harus bersyukur karena Paman punya perhatian yang begitu besar dan punya komitmen menegakkan aturan pertambangan,” tambahnya.

Puar juga meminta masyarakat mencermati Denny Indrayana yang terus berkoar menuding Paman Birin telah melakukan kecurangan dan politik uang melalui medsos, tapi tak pernah melapor ke Bawaslu Kalsel atau bahkan Bawaslu RI.

“Denny justru menggunakan cara-cara elite Jakarta yang merusak tatanan akhlak, adat dan dan budaya masyarakat Banua. Denny punya kecurigaan-kecurigaan yang cukup tinggi terhadap pemerintahan Kalsel. Ini kemungkinan dilatarbelakangi status Denny sendiri sebagai tersangka, sehingga perilaku yang ada pada dirinya juga berimbas curiga kepada orang lain,” papar Puar.

Menurutnya, Denny ingin mengatakan kepada masyarakat Kalsel bahwa dirinya bersih dan mau membersihkan wilayah Kalsel, tapi sebenarnya justru tidak sesuai dengan sikap dan perilakunya. “Denny sedang memainkan strategi politik konflik dan kami masyarakat Kalsel tidak bodoh,” tegasnya.
Golkar dan Rakyat Banua Tak Gentar.

Sementara itu, Supian HK, Ketua Bappilu DPD Partai Golkar Kalsel, menyatakan Partai Golkar Kalsel siap menghadang berbagai manuver politik yang dilakukan para elite Jakarta yang mendukung Denny menyerang Paman Birin.

Sumber Utama : https://wartaniaga.com/2021/04/partai-golkar-kalsel-pertanyakan-kedatangan-elite-jakarta-menjelang-psu/2/

“Kalau mereka datang berempat akan kami datangkan 4 ribu. Mereka datang 10 akan kami datangkan 10 ribu,” tegas Supian.
Supian mengaku ikut merasakan bagaimana kondisi Banua menjelang PSU menjadi berbeda.

“Saya melihat situasi dan kondisi di lapangan saat ini, sangat terasa aroma politik tak santun dan tak sopan. Apalagi tampak jelas elite-elite dari Jakarta bersama-sama mengeroyok incumbent. Saya sebagai Ketua Bappilu Golkar Kalsel tidak akan tinggal diam. Bagaimana pun saya akan berkorban untuk melawan elite Jakarta termasuk Denny,” tegas Supian saat ditemui di DPRD Kalsel, Rabu (14/4/2021).

Supian bahkan menyebut bahwa Golkar Kalsel tak gentar dengan manuver politik para elite Jakarta di Banua. “Para elite itu kan tidak punya hak suara. Mereka hanya datang, kemudian mengintervensi. Padahal masyarakat Banua belum tentu setuju dengan isu yang mereka bawa,” paparnya.

Menurut Supian, Denny dan pare elite Jakarta itu sebenanrya sejak awal galau karena mereka hanya berkekuatan tiga partai, yakni Gerindra, Demokrat dan PPP. Sementara Paman Birin yang merakyat didukung Sembilan parpol, yakni Golkar, PAN, PDIP, PKB, Nasdem, PKS, PKPI, PSI dan Perindo.

“Denny dan elite Jakarta itu sejak awal sudah galau. Maka saat PSU, mereka melempar isu-isu atau hoax seperti cerita soal lobang tambang. Lha sementara pendukung Denny juga penambang? Kemudian saat Denny menjabat Wamenkumham di pemerintahan SBY, Denny bahkan tersandung kasus korupsi juga, di mana sampai hari ini statusnya masih tersangka dan masih belum jelas apakah sudah dihentikan atau SP3? Ini masyarakat harus tahu,” paparnya

Sumber Utama : https://wartaniaga.com/2021/04/partai-golkar-kalsel-pertanyakan-kedatangan-elite-jakarta-menjelang-psu/3/ 

Kedatangan para elite Jakarta oleh Supian justru diibaratkan sebagai virus yang masuk ke tubuh Kalsel, yang justru bakal meningkatkan kekebalan atau imunitas masyarakat Kalsel.

“Justru kedatangan para elite Jakarta itu membuat semua parpol pendukung Paman makin semangat. Kami semua merasa tertantang dan bersama-sama rakyat Kalsel akan bahu membahu melawan mereka. Jika sebelumnya kami hanya menang 8 ribu suara, maka lewat PSU kemenangan akan kami pertebal menjadi 30 ribu,” tegasnya.

Supian yang juga Ketua DPRD Kalsel berharap masyarakat Kalsel tetap tenang serta menahan diri dari provokasi, demi menjaga Banua tetap kondusif seperti selama ini.

Kejadian ribut di teras masjid Nurul Iman Pemurus Baru Banjarmasin Selatan, antara Tim Hukum Denny dengan warga saat Denny melakukan Subuh Keliling tak perlu terulang.

“Masyarakat tidak perlu resah menyikapi statement-statement yang dilontarkan Denny. Kejadian ribut di teras masjid juga jangan sampai terulang. Masyarakat jangan terprovokasi oleh manuver politik berkedok kegiatan agama,” katanya.

Pada akhirnya, Supian mengingatkan Denny Indrayana dan para elite Jakarta bahwa Banua terkenal memiliki banyak ulama dan merupakan daerah agamis.

“Maka janganlah berpolitik tidak sopan. Berpolitiklah dengan politik santun karena sebenarnya para elite justru harus menjadi tauladan bagi masyarakat,” pungkasnya.
Seperti diberitakan berbagai media, elite Jakarta yang terjun ke Kalsel membantu Denny berkampanye terselubung untuk menarik simpati masyarakat adalah Febri Diansyah, juru bicara KPK teman Denny sesama mantan aktivis UGM yang menggelar diskusi tentang politik uang di Cangkir Coffe, Pamurus Luar, Minggu (11/4/2021).

Kemudian Ahmad Muzani, Sekjen DPP Partai Gerindra yang berziarah politis bersama Denny Indrayana ke makam Syekh Muhammad Arsyad Al Banjari atau Datu Kalampayan, di Kecamatan Astambul, Kabupaten Banjar, Kamis (1/4/2021).

Juga Ketua Umum Partai Demokrat Agus Harimurti Yudhoyono (AHY) yang menginstruksikan elite Demokrat Kalteng masuk ke Kalsel untuk ikut bergerilya politik menaklukkan Paman Birin.

(Rilis)