» » » » » » Ormas Terlarang Hizbut Tahrir Indonesia (HTI) itu apakah "dibela" Ratna Sarumpaet, Neno Warisman hingga Ustadz Abdul Somad

Ormas Terlarang Hizbut Tahrir Indonesia (HTI) itu apakah "dibela" Ratna Sarumpaet, Neno Warisman hingga Ustadz Abdul Somad

Penulis By on Jumat, 05 Oktober 2018 | No comments

Ramai Soal Hoax Ratna Sarumpaet, Ustadz Abdul Somad Beberkan Hukum Operasi Plastik

BANJARMASINPOST.CO.ID - Publik dihebohkan dengan aksi kebohongan atau hoax yang dilakukan Ratna Sarumpaet. Dia sempat dikabarkan dianiaya, namun ternyata menjalani operasi sedot lemak. Sebelumnya, dia dikabarkan jalani opetrasi plastik.
Ratna Sarumpaet akhirnya membeberkan alasan muka lebam yang ramai beredar bukan karena dianiaya tiga pria di Bandung adalah karena operasi sedot lemak yang ada menyebutnya operasi plastik.
Nah, bagaimana hukumnya operasi plastik dalam Islam seperti dilakukan Ratna Sarumpaet. Ustadz Abdul Somad sendiri pernah menerangkan soal Operasi plastik itu.
Kecaman pun datang dari berbagai pihak soal Ratna Sarumpaet. Termasuk kecaman dari Tim Prabowo Subianto-Sandiaga Uno yang mengaku dirugikan dan dibohongi.


Kasus kebohongan Ratna juga diproses polisi.
Terlepas dari proses hukum dan cacian, bagaimana sebenarnya hukum melakukan operasi plastik (Oplas) dalam agama Islam, agama yang dianut Ratna Sarumpaet?
Dalam sebuah ceramah Ustadz Abdul Somad, ustad yang dikenal lucu ini membahas tentang hukum operasi plastik dalam Islam.
Menanggapi soal operasi platik, Ustad Somad mengutip Hadits Riwayat Abdullah Ibnu Mas'ud, Allah melaknat tukang pembuat tato, mencabut mencukur bulu mata, dan merubah ciptaan Allah.
Menurut Ustad Somad, Setan akan membuat orang-orang yang melakukan operasi pelastik terus berangan-angan.
"Orang kecanduan operasi plastik, setan akan membuat dia sampai mati terus berangan-angan, engkau cantik engkau cantik engkau cantik, kau cukur alis, kau tanam itu kau cantik''kata Ustad Somad.
Beliau juga mengingatkan bagi yang telah melakukan nya untuk mencabutnya karena dapat mengakibatkan infeksi dan berakibat kerusakan wajah.
Simak nasihat Ustad Somad dalam video di bawah ini soal operasi plastik.

Oplas Menurut Kajian Nahdlatul Ulama
Operasi plastik merupakan upaya rekonstruksi kulit yang dilakukan karena sebab-sebab tertentu.
Secara lebih khusus dalam dunia medis dikenal istilah face off atau upaya merekontruksi wajah yang rusak karena suatu musibah agar kembali seperti semula.
Face off tersebut merupakan penemuan teknologi kedokteran yang dilakukan dengan sistem bedah dan bila perlu dengan mengganti bagian-bagian wajah yang rusak dengan bagian tubuh lainnya.
Pertanyaannya, bagaimanakah hukum operasi plastik, atau lebih khusus, face off (merekonstruksi wajah) agar kembali seperti semula?
Dalam bahtsul masail Munas Alim Ulama NU di Surabaya, 2006, diputuskan bahwa merekonstruksi wajah agar kembali seperti semula hukumnya adalah boleh, namun dalam batas-batas tertentu.
Praktik face off ini lebih sering dilakukan oleh kaum perempuan. Dalam Fathul Bari Syarah Shahihil Bukhari, karya Ibnu Hajar al-Asqalani disebutkan qoul imam Ath-Thabari bahwa perempuan tidak boleh merubah sesuatu dari bentuk asal yang telah diciptakan Allah SWT, baik menambah atau mengurangi agar kelihatan bagus.
Seperti, seorang perempuan yang alisnya berdempetan, kemudian ia menghilangkan (bulu alis) yang ada di antara keduanya, agar kelihatan cantik atau sebaliknya (kelihatan jelek dengan berdempetannya).
Ilustrasi
Ilustrasi (Shutterstock)
Atau seorang perempuan yang memiliki gigi lebih lalu ia mencabutnya; atau giginya panjang lalu ia memotongnya; atau perembuan itu berjenggot atau berkumis atau berbulu di bawah bibirnya lalu mencabutnya; dan seorang perempuan yang rambutnya pendek atau tipis lalu ia memanjangkannya atau menebalkannya dengan rambut orang lain; Semua itu adalah termasuk perbuatan yang dilarang, karena merubah apa yang telah diciptakan oleh Allah SWT.
Ath-Thabari berpendapat pula, terkecuali jika ada bagian tubuh yang menimbulkan madarat dan rasa sakit.
Seperti, seorang perempuan yang memiliki gigi lebih atau giginya panjang yang mengganggunya ketika makan, atau memiliki jemari lebih yang mengganggunya atau menjadikan sakit maka boleh mencabut atau memotongnya.
Dalam masalah yang terakhir ini, laki-laki sama dengan perempuan.
Bagaimana jika terjadi cacat fisik akibat kecelakaan? Syekh Wabah az-Zuhaili, dalam al-Fiqhul Islami wa Adillatuhu, berpendapat bahwa boleh melakukan pemindahan organ tubuh dari suatu tempat ke tempat lain dalam satu tubuh manusia dengan catatan bahwa manfaat yang diharapkan dari operasi itu lebih kuat ketimbang madarat yang ditimbulkannya.
Pemindahan tersebut disyaratkan untuk menumbuhkan kembali anggota yang hilang, mengembalikan bentuknya, mengembalikan fungsinya semula, memperbaiki aib, dan atau untuk membuang noda, yang semu itu dapat menyebabkan seseorang mengalami tekanan jiwa atau fisik.
Abdul Karim Zaidan, dalam al-Mufashshal fi Ahkamil Mar’ati wal Baitil Muslim membuat ibarat berikut: Kadang-kadang pada wajah perempuan atau anggota tubuh lainnya yang tampak terdapat cacat yang buruk akibat terbakar, luka atau penyakit.
Cacat itu menjadi beban berat karena dapat menyebabkan tekanan batin terhadap perempuan itu. Apakah boleh melakukan operasi untuk menghilangkan cacat tersebut?
Ia menjawab, boleh, meskipun operasi itu mengarah kepada upaya mempercantik diri.
Sebab, tujuan pertamanya adalah menghilangkan cacat yang ada.
Meskipun, dengan melakukan operasi untuk menghilangkan cacat tersebut, perempuan itu bermaksud mempercantik diri. Dengan demikian, operasi seperti ini termasuk pada tataran mubah (boleh), karena keinginan perempuan mempercantik wajahnya adalah jaiz (boleh).
Disarikan dari Ahkamul Fuqoha, kumpulan hasil-hasil bahtsul masail dalam Munas dan Muktamar NU dari tahun 1926-2010.
Ramai Soal Hoax Ratna Sarumpaet, Ustadz Abdul Somad Beberkan Hukum Operasi Plastik
kolase TRIBUNWOW.com
Ustaz Abdul Somad dan Ratna Sarumpaet
Sumber Berita : http://banjarmasin.tribunnews.com/2018/10/05/ramai-soal-hoax-ratna-sarumpaet-ustadz-abdul-somad-beberkan-hukum-operasi-plastik?page=all

Sambil Menahan Tangis, Hanum Rais Sebut Ratna Sarumpaet Cut Nyak Dien Masa Kini

TRIBUN-VIDEO.COM - Putri Amien Rais, Hanum Rais menangis ketika menuntun Ratna Sarumpaet menuju ke dalam mobil. Saat itu, aktivis Ratna Sarumpaet baru saja selesai menghadiri pertemuan dengan Calon Presiden 2019 sekaligus Ketua Umum Partai Gerindra Prabowo Subianto, Ketua Dewam Kehormatan Partai Amanat Nasional (PAN) Amien Rais, dan Wakil Ketua Umum Gerindra Fadli Zon. Ratna Sarumpaet selain aktivis juga merupakan salah seorang juru kampanye nasional di Badan Pemenangan Nasional pasangan Prabowo Subianto-Sandiaga Uno. Pertemuan ini membahas mengenai kabar dugaan Ratna Sarumpaet dipukuli oleh orang tak dikenal hingga menyebabkan wajahnya bonyok lebam. Ketika berjalan keluar, Hanum Rais terlihat merangkul pundak Ratna Sarumpaet. Penulis novel 'Iam Sahraza' ini kemudian berhenti sejenak sebelum masuk mobil bersama Ratna Sarumpaet. "Saat ini saya sedang berada dengan bunda Ratna Sarumpaet. Saya bisa merasakan (penderitaan beliau)," tutur Hanum Rais sambil menahan tangis dalam video yang diunggah di Twitter pada Selasa (2/10/2018). Getaran suara Hanum Rais pun sudah seperti hendak menangis. "Beliau adalah Cut Nyak Dien masa kini. Kartini masa kini adalah bunda Ratna Sarumpaet dan bunda Neno Warisman. Mudah-mudahan mengilhami ribuan Neno Warisman dan Ratna Sarumpaet di Indonesia, slah satunya mudah-mudahan saya yang bisa menjadi bagian dari perjuangan ini," tutur Hanum Rais lagi. Selagi berbicara seperti itu, tangan kiri Hanum Rais merangkul pundak Ratna Sarumpaet. Sedangkan tangan kanannya digunakan penulis novel '99 Cahaya di Langit Eropa' ini untuk terus menerus mengucek mata yang sudah berair namun tak mengizinkan air mata itu tumpah. Selain video, Hanum Rais juga menyertakan tulisan mengenai kebanggaannya pada sosok Ratna Sarumpaet. Pada cuitan pertama, Hanum Rais menuliskan bahwa Ratna Sarumpaet dan Neno Warisman adalah dua pendekar wanita yang keberaniannya di atas rata-rata. Ketika mendengar Ratna Sarumpaet dianiaya, dipukuli oleh orang tidak dikenal Hanum Rais pun menyatakan kegeramannya. Menurutnya, justru jika ada yang melakukan hal kasar pada dua orang pendekarnya itu, justru akan menumbuhkan ribuan Neno Warisman dan Ratna Sarumpaet lainnya. "Dua pendekar wanita Indonesia yang keberaniannya sungguh diatas rata-rata. Bu Neno Warisman dan Ibu Ratna Sarumpaet. Penganiayaan terhadapnya, penyiksaan, justru akan menumbuhkan ribuan Neno dan Ratna," tulis Hanum Rais, Selasa (2/10/2018). Selain itu, putri Amien Rais yang juga seorang dokter gigi ini pun semakin geram ketika ada sebagian masyarakat yang masih meragukan kabar penganiayaan yang menimpa Ratna Sarumpaet. Menurutnya, Ratna Sarumpaet ini mendapat ancaman anak dan cucunya akan dihabisi jika ia mlaporkan pada polisi. Lantas, ia pun bertanya mengenai keadilan hukum di Indonesia, apakah masih ada? "Jika saya jadi beliau, mana berani melapor pada berwajib jika diancam diintimidasi anak dan cucunya akan dihabisi? Perempuan, 70 tahun, mgkn jika dia yang binasa tak masalah, tapi bagaimana jika generasinya? Wahai negara, masih adakah keadilan hukum di negeri ini?," tulis Hanum Rais di kaun Twitter pribadinya @hanumrais.(*) Artikel ini telah tayang di tribunnewsbogor.com dengan judul Sambil Berlinang Air Mata Putri Amien Rais Sebut Ratna Sarumpaet Kartini Masa Kini, http://bogor.tribunnews.com/2018/10/0.... Penulis: Uyun Editor: Soewidia Henaldi
Sumber Video dan Berita : https://www.youtube.com/watch?v=Z_FCsnABs7o

Ketum GP Ansor: Ustadz Abdul Somad Terkait HTI

GP Ansor mempunyai bukti keterkaitan Ustadz Abdul Somad (UAS) dengan Hizbut Tahrir Indonesia (HTI). “Sudah sejak 2013 kami temukan ada keterkaitan UAS dengan HTI,” kata Ketua Umum GP Ansor Yaqut Cholil Qaumas (Gus Yaqut), Selasa (4/9) dikutip dari CNN Indonesia. Kata Gus Yaqut, Ansor menemukan keterkaitan itu melalui isi ceramah yang disampaikan oleh UAS.
Berdasarkan penelusurannya, beberapa ceramah UAS berisi ajakan jemaah berbaiat kepada khilafah. Bahkan menuding Nabi Muhammad SAW tak mampu menciptakan suasana yang rahmatan lil alamin. Menurut Gus Yaqut, hal tersebut bahkan bisa ditemukan melalui jejak digital yang ditinggalkan oleh UAS di akun media sosial pribadinya.
Dia pernah ajak berbaiat kepada khilafah, melakukan fitnah di media sosial, menyebut kalau Nabi Muhammad tidak mampu wujudkan Islam yang rahmatan lil alamin,” kata dia. “Cari saja ceramahnya di Youtube, ceramah dia banyak yang isinya begitu,” lanjutnya. Selain itu, ia mengatakan pihaknya menemukan banyak bendera serta simbol-simbol HTI di Jepara. “Tak pernah melarang, silakan kalau mau ceramah. Kami hanya minta polisi tinjau ulang isi ceramahnya karena saat dia mau ceramah, kok banyak muncul simbol-simbol HTI,” kata dia.

Ustadz Abdul Somad dan Yaqut Cholil Qaumas (IST)
Sumber Berita : https://suaranasional.com/2018/09/05/ketum-gp-ansor-ustadz-abdul-somad-terkait-hti/

Video Bukti Ustadz Abdul Somad Pendukung Hizbut Tahrir Indonesia (HTI)


Cara Memberantas Ideologi Radikal Menurut Direktur Deradikalisasi BNPT

Cara Memberantas Ideologi Radikal Menurut Direktur Deradikalisasi BNPT

ISLAMNUSANTARA.COM, Jakarta – Direktur Deradikalisasi Badan Nasional Penanggulangan Terorisme, Irfan Idris menjelaskan bahwa radikalisme selain gerakan juga merupakan ideologi. Ideologi ini tidak bisa dihancurkan. Bahkan bisa berkembang pesat jika berusaha dicabut. Jika radikalisme adalah sebuah pohon, yang perlu dilakukan adalah memperbanyak pohon-pohon lain yang dapat menangkal pohon dengan akar radikal tersebut.
Hal itu disampaikan Irfan dalam kegiatan Focus Group Discussion (FGD) Pembinaan Paham Keagamaan dan Penanganan Konflik, Selasa (12/12) yang digelar Bimas Islam Kementerian Agama RI di Jakarta.
Menurut Irfan, justru upaya mencabut dan menghancurkan pohon tersebut hanya akan menumbuhkan radikalisme baru, bahkan jumlahnya bisa lebih besar. Ia menawarkan apa yang disebutnya narasi alternatif.
“Narasi alternatif ini membiarkan pohon tersebut dengan menanami dan memperkuat pohon-pohon lain dengan narasi-narasi cinta kebangsaan, Islam ramah, kebersamaan, kebinekaan, toleransi, saling menghormati. Lama-lama, pohon dengan akar radikal tersebut akan mati sendiri,” urai doktor lulusan UIN Syarif Hidayatullah Jakarta ini.
Irfan tidak memungkiri, upaya-upaya menghilangkan ideologi radikal itulah yang selama ini dilakukan sejumlah kalangan tanpa memahami dampak yang terjadi jika langkah yang ditempuh tidak bersifat persuasif.
Narasi-narasi untuk meng-counter paham radikal bisa melalui dakwah secara luas, baik terjun ke lapangan mupun di media sosial.
“Kita juga harus terus memperkuat narasi Pancasila, Bhinneka Tunggal Ika, cinta NKRI, dan meneguhkan UUD 1945 atau disingkat PBNU yang ditabur ke dalam pohon-pohon di sekitar pohon dengan akar radikal,” tukasnya.  (ISNU)
Sumber: Harakatuna / http://www.islamnusantara.com/cara-memberantas-ideologi-radikal-menurut-direktur-deradikalisasi-bnpt/

Buya Syafii Komentari Kebodohan Trump Soal Yerusalem

Buya Syafii Komentari Kebodohan Trump Soal Yerusalem

ISLAMNUSANTARA.COM, Sleman – Buya Syafii Ma’arif turut mengomentari keputusan kontroversial Presiden AS Donald Trump mengakui Yerusalem sebagai ibu kota Israel. Ia menilai, Donald Trump tidak berbeda jauh dengan sosok kontroversial lain yaitu Pemimpin Korea Utara, Kim Jong Un.
“Trump ini bukan orang beres ini, bukan orang normal, beda sedikit dengan Kim Jong-un,” kata Syafii yang ditemui di sela-sela seminar Refleksi Kepahlawanan Prof Lafran Pane di Universitas Negeri Yogyakarta (UNY), Rabu (13/12).
Ia mengaku gagal memahami ada negara sebesar AS, menyebut dirinya sebagai benteng dari demokrasi, tapi menghasilkan orang seperti Donald Trump. Menurut Syafii, tidak ada yang menyangka demokrasi sehebat itu bisa melahirkan orang tidak beradab seperti Trump.
Syafii menilai, sikap menentang keinginan Donald Trump itu bukan hanya persoalan umat Islam, melainkan dunia. Ia melihat, negara-negara Eropa sudah cukup bagus bersikap, dan tinggal ditunggu konsistensinya. “Biar jadi pukulan bagi Trump,” ujar Syafii.
Syafii tidak pula merasa ada yang bisa dilakukan Organisasi Kerjasama Islam (OKI), yang dianggapnya sudah lama lumpuh. Ia merasa, tindakan yang bisa diambil OKI kemungkinan hanya sekadarnya saja seperti kecaman-kecaman.
Ia memperkirakan, sekalipun OKI berjanji mengeluarkan satu deklarasi, tidak akan ada yang berpengaruh atas kondisi yang ada. Syafii mengingatkan, Resolusi PBB saja sampai hari ini tidak dipedulian AS maupun Israel.
“OKI sudah lama lumpuh, sekadarnya saja itu paling koar-koar, sudah mulai ragu kita, jangan deklarasi, Resolusi PBB saja tidak pernah didengar,” kata Syafii.
Untuk langkah yang bisa dilakukan Indonesia, ia merasa apa yang dilakukan Presiden Joko Widodo sudah cukup tepat. Tapi, Syafii merasa tidak banyak yang bisa dilakukan mengingat Indonesia bukan bagian dari Dewan Keamanan PBB., muncul pribadi-pribadi Muslim yang berpengetahuan tinggi dengan akhlak dan moral yang baik. (ISNU)
Sumber: Republika / http://www.islamnusantara.com/buya-syafii-komentari-kebodohan-trump-soal-yerusalem/

 
Video Bukti Ustadz Abdul Somad Pendukung Hizbut Tahrir Indonesia (HTI)
Siap Perangi Radikalisme di Dunia Maya, 2000 Santri Ikuti Pelatihan Media Digital

Siap Perangi Radikalisme di Dunia Maya, 2000 Santri Ikuti Pelatihan Media Digital

ISLAMNUSANTARA.COM, Cirebon – Tidak kurang dari 2.000 santri di Cirebon, Jawa Barat mengikuti pelatihan media digital yang digelar oleh Kementerian Komunikasi dan Informatika. Dengan pelatihan tersebut, santri diharapkan bisa memanfaatkan media digital dengan positif dan sehat. “Dakwah bisa saja melalui media digital. Santri harus berperan untuk bisa menyampaikan dakwah yang damai dan sejuk di dunia maya,” kata Staf Ahli Menteri Bidang Komunikasi Gun Gun Siswadi di Cirebon, Rabu (13/12).
Menurutnya banyak berita bohong yang berseliweran di dunia maya dan bisa menimbulkan perpecahan serta ekses negatif di masyarakat.  Selain itu sejumlah konten yang mengajarkan pemahaman radikal, dinilai sudah sangat membahayakan.
Untuk ikut memerangi hal tersebut, Kominfo menggelar kegiatan Festival Literasi Digital Pesantren di Pondok Buntet Pesantren, Rabu, 13 Desember 2017. “Sekitar dua ribu santri yang hadir, mereka dilatih untuk memanfaatkan media digital dengan positif dan sehat,” tuturnya.
Gun gun mengatakan, sejak 2008, terdapat 144 orang yang telah diproses hukum karena melanggar Undang-Undang Informasi dan Transaksi Elektronik (ITE), terutama perihal berita palsu dan ujaran kebencian di media sosial.
Hingga 2016, Kementerian Komunikasi dan Informatika telah memblokir sekitar 773.000 situs internet yang didominasi konten pornografi.”Sehingga untuk menangkal hal ini, perlu juga keterlibatan para santri,” katanya.
Dalam festival literasi digital tersebut, para santri diajarkan untuk bisa membuat vlog, meme, live streaming dan sejumlah konten positif lainnya yang bisa dipublikasikan di dunia maya.  Ada lima kelas yang dibuka dan dimanfaatkan oleh para santri untuk menimba ilmu tentang literasi digital. (ISNU)
Sumber: Republika / http://www.islamnusantara.com/siap-perangi-radikalisme-di-dunia-maya-2000-santri-ikuti-pelatihan-media-digital/

Mengembangkan Pendidikan Islam yang Rahmatan Lil Alamin

Mengembangkan Pendidikan Islam yang Rahmatan Lil Alamin

ISLAMNUSANTARA.COM, Jakarta – Perkembangan ilmu pengetahuan dan peradaban Islam tumbuh pesat sejak 13 abad silam tepatnya pada 750-1258 Masehi (tahun 133-656 H). Madrasah nizhamiyah, lembaga pendidikan Islam yang didirikan Dinasti Abbasiyah di masa Kekhalifahan Harun al-Rasyid kemudian diteruskan oleh putranya, Khalifah al-Ma’mun, Kota Baghdad (Irak) menjadi pusat peradaban ilmu pengetahuan dan peradaban Islam. Ketika itulah masa kejayaan Islam (The Golden Ages of Islam) dalam bidang pendidikan.
Ketika itu, madrasah nizhamiyah sudah menerapkan sistem pembelajaran secara sistematis sehingga memudahkan para penuntut ilmu dalam menerima pelajaran yang diberikan. Pada masa ini pula, lembaga perpustakaan (Baitul Hikmah) didirikan. Termasuk pusat penelitian (laboratorium).  Karena itu, madrasah nizhamiyah menjadi cikal bakal berdirinya lembaga pendidikan Islam modern seperti saat ini.
Tak heran bila lembaga pendidikan ini kemudian diminati dan dikagumi banyak penuntut ilmu dari berbagai negara. Bila sebelumnya, ilmu pengetahuan berkembang di Persia, Yunani, dan India, secara perlahan berpindah ke Kota Baghdad. Yunani yang terkenal dengan filsafatnya dan banyak melahirkan filsuf terkenal, seperti Aristoteles, Plato, dan Socrates, kemudian Persia dengan arsitektur dan sastranya serta India dengan ilmu berhitung dan astronomi (perbintangan), akhirnya memilih Baghdad sebagai tempat menuntut ilmu.
Hal ini disebabkan oleh Khalifah Harun al-Rasyid yang memerintahkan untuk dilakukan penerjemahan karya-karya ilmuwan terkenal itu ke dalam bahasa Arab dan memberikan komentar (penjelasan) atas karya-karya tersebut dengan khazanah Islam.
Tak hanya di Baghdad, kota-kota lainnya di sekitar Irak juga berkembang menjadi pusat peradaban Islam dan ilmu pengetahuan. Di antaranya, Samarra, Mosul, Kufah, dan Basrah. Di beberapa kota ini juga didirikan madrasah nizhamiyah yang menjadi cabang dari madrasah yang ada di Baghdad.
Tak heran, bila kemajuan peradaban dan ilmu pengetahuan Islam yang berkembang di Baghdad ini melahirkan ilmuwan-ilmuwan Islam terkenal, seperti Ibnu Sina dan al-Razi (kedokteran), al-Fazari dan al-Fargani (astronomi), Abu Ali al-Haitami (optik), Jabir Ibn Hayyan (kimia), al-Farabi dan Ibnu Rusyd dalam bidang filsafat. Pemikiran para ilmuwan Islam ini banyak mempengaruhi perkembangan ilmu pengetahuan di negara-negara Barat.
La Strange dalam bukunya Baghdad During the Abbasid Calipate, menyebutkan, madrasah nizhamiyah yang didirikan oleh Dinasti Abbasiyah itu merupakan lembaga pendidikan yang sangat istimewa.
Bagaimana dengan pendidikan Islam masa kini, termasuk di Indonesia? Banyak hal yang harus selalu dikembangkan. Pada abad ke-13 hingga 19 Masehi, lembaga pendidikan Islam seperti pesantren mampu melahirkan para ulama dan tokoh Muslim yang mampu mewarnai sejarah perjalanan bangsa ini.
Sebut saja, Syekh Nawawi al-Bantani, KH Hasyim Asy’ari, KH Ahmad Dahlan, KH Wahab Hasbullah, Syekh Muhammad Arsyad al-Banjari, Syekh Yasin Padang, Ahmad Khatib Sambas, Syekh Mahfudz at-Tirmasi, dan Syekh Abdusshomad Palembang. Mereka adalah ulama dan tokoh-tokoh Islam yang cukup dikenal di berbagai negara di Timur Tengah dan Asia Tenggara. Karya-karya mereka, antara lain, Safinatun Naja, Nur al-Zhalam, dan Sabilal Muhtadin banyak dipelajari para penuntut ilmu di berbagai negara hingga sekarang ini.
Kini, pemerintah melalui Departemen Agama terus berupaya mengembangkan pendidikan Islam ini. Berbagai cara dilakukan. Mulai dari mengirimkan para pelajar untuk menuntut ilmu di luar negeri, hingga membangun sistem pendidikan Islam yang lebih modern dengan mengembangkan jaringan informasi dan teknologi. Upaya ini diharapkan mampu menjadikan lembaga pendidikan Islam sebagai pendidikan modern yang tidak hanya mengajarkan tentang ilmu pengetahuan dan teknologi (iptek), tetapi juga dilandasi dengan semangat iman dan takwa (imtak). Sehingga, muncul pribadi-pribadi Muslim yang berpengetahuan tinggi dengan akhlak dan moral yang baik. (ISNU)
Sumber: Republika.co.id / http://www.islamnusantara.com/mengembangkan-pendidikan-islam-yang-rahmatan-lil-alamin/


Foto: www.monash.edu

Gus Nadir Bolehkan Ucapan Selamat Natal, Beri Kado, dan Jaga Gereja

DutaIslam.Com - Dosen senior Fakultas Hukum Monash University Prof. Nadirsyah Hosen atau yang akrab dipanggil Gus Nadir melalui akun twitternya @na_dirs menyatakan bahwa mengucapkan selamat natal, mendatangi tetangga dan memberi kado natal, serta menjaga Gereja di malam Natal hukumnya adalah boleh.
Menghadiri perayaan natal bersama di luar gereja, menurut Gus Nadir juga boleh. Adapun yang tidak boleh menurutnya adalah "ikut ritual natal di dalam gereja".
"Bolehkah mengucapkan selamat natal? Boleh! Bolehkah menghadiri perayaan natal bersama di luar gereja? Boleh! Bolehkah mendatangi tetangga dan memberi kado utk acara natalan? Boleh! Bolehkah jaga gereja di malam natal? Boleh! Yg gak boleh itu ikut ritual natal di dlm gereja," tulis Gus Nadir yang kini menjabat Rais Syuriyah PCI NU Australia-New Zealand itu, Selasa (12/12/2017).


Menanggapi status Gus Nadir tersebut @amir_tornado mengatakan, "andai saya orang dekat Presiden, tentu saya akan gigih mengusulkan agar sosok seperti pak @na_dirs ini jadi menteri beliau...Menteri Agama atau Menteri Pendidikan".
Namun dengan rendah hati Gus Nadir membalasnya bahwa Mentri Agama saat ini yaitu Lukman Hakim Saifuddin menurutnya sudah pas dan cocok.
"Mas menteri @lukmansaifuddin itu keceehh dan kereennn. Sdh pas dan cocok. Lanjutkan," balas Gus Nadir. [dutaislam.com/gg] / http://www.dutaislam.com/2017/12/gus-nadir-bolehkan-ucapan-selamat-natal-beri-kado-dan-jaga-gereja.html


Ustadz Ini Beri Fatwa Sesat Kalau Ikut NU Suruh ke Luthfi Bashori, Idrus Ramli dan Buya Yahya

DutaIslam.Com - Seorang penceramah dari Riau, yang konon dikagumi karena ilmu haditsnya, yakni Ustadz Abdul Somad Lc, MA membuat fatwa menyesatkan tentang siapa saja yang ia anggap layak diikuti fatwanya. Ada ribuan tokoh dan ulama NU, namun dia hanya menyebut "yang secara sah" diikuti hanya tiga.
Ironisnya, tiga nama yang dia sebut justru sering mengutuk NU, tidak aktif di struktural NU tapi menjadi benalu untuk jamiyah NU. Mereka adalah KH Luthfi Bashori, KH Idrus Ramli dan Buya Yahya. Itu dikatakan oleh Abdul Somad saat mengisi acara Tabligh Akbar bertema "Pemuda Akhir Zaman" di Gedung Drs. Sutan Balia Universitas Riau, (Jumat, 14 April 2017).
"Dalam ritual mengikuti madzhab Syafi'i, dalam fiqih masih tetap Syafi'i, dalam akidah Asy'ari, dan dalam tasawwuf Junaid Al-Baghdadi dan tidak kena virus sekuler dan liberal," katanya. Dia kemudian berdalil, "khudz ma shofa da' ma kadar, ambil yang jernih, tinggalkan yang keruh," imbuhnya.
Dia memberi fatwa sesat karena ketiga nama di atas saling bersekutu menyerang tokoh-tokoh NU melalui barisan sakit hati bernama NU Garis Lurus. Padahal, situs yang dianggap paling lurus itu adalah bikinan pemuda Persatuan Islam (Persis) yang berhasil membujuk alumni-alumni pondok pesantren, untuk kemudian menyerang NU bersama-sama. (Baca: Persekutuan Idrus Ramli dan NU Gila)
Kita masih ingat ketika Idrus Ramli melalui koleganya berinisial KN memulai isu tuduhan Kiai Said Aqil Siraj sebagai pengikut Syiah saat Muktamar 2015. Bahkan Idrus juga berkali-kali kena semprot kalangan nahdliyyin karena kesombongannya. Satu waktu, dia menyebut KH Hasyim Muzadi sebagai tidak mengerti agama, tidak bisa baca kitab. (Baca: Astaghfirullah, Idrus Ramli Sebut KH Hasyim Muzadi Tidak Paham Agama).
Idrus juga tidak pernah bergeming ketika dia melontarkan isu ada mursyid (tahriqah) yang dia sebut mufsid (perusak). Banyak orang menyebut, yang dimaksud Idrus adalah Habib Luthfi bin Yahya. Namanya juga menuduh, tentu dia membantah. Hanya melontar kontroversi, lalu pergi. Khas wahabi. Idrus, sebagaimana kalangan NU muda menyebutnya, adalah aswaja rasa wahabi (asrabi). Baca: Asrabi (Aswaja Rasa Wahabi), Ini Dia Cirinya
Sejalan dengan Idrus, Luthfi Bashori juga sering buat fatwa menyesatkan yang tidak menumbuhkan cinta warga nahdliyyin kepada NU, malah menggembosi, lalu berdalih dia mengkritik. Dia adalah pendiri situs aswajagarislurus.com, embrio nugarislurus.com, yang hampir tidak pernah berbaik sangka kepada kiai-kiai NU. Luthfi termasuk gus yang mbalelo. Oleh pegiat NU, dia masuk Daftar Tokoh Pemecah Belah NU.
Bagaimana dengan Buya Yahya. Ya sama saja. Di Cirebon, pemilik nama asli Yahya Zainal Ma'arif itu disebut-sebut sebagai perusak tradisi masyarakat Cirebon. Terlalu sombong, dia dulu (sebelum kecekaaan), sering mengutuk Kiai Said berkali-kali (silakan cari-cari di Dutaislam.com). Bahkan, dia dianggap memilik banyak dosa kepada para ulama Cirebon karena lakunya yang buruk. Baca: Dosa-Dosa Buya Yahya.
Dia bukan pengurus NU. Apalagi tokoh NU. Pasnya, Yahya adalah tokoh pemecah belah NU, yang syirik kepada para kiai NU. Utamanya di Cirebon. Baca: Alasan-Alasan Warga Cirebon Menolak Buya Yahya dari NUGL.
Baik Lutthdi Bashori, Idrus Ramli maupun Yahya, mereka semua ada di barisan yang selalu mengganggu mahabbah para warga NU untuk mengikuti kiai-kiainya. Jaringan mereka ya di NU Garis Lurus, sebagaimana disebutkan Ustadz Abdul Somad di atas. Menurut KH Hasyim Muzadi, NU GL Itu Gampang Mengkafirkan Orang. Ini yang bicara almarhum Kiai Hasyim. 

Ada banyak kiai dan ulama di NU, tapi Abdul Somad hanya milih tiga nama. Dia tidak merekomendasikan KH Maimoen Zubair, Habib Luthfi bin Yahya, KH Musthofa Bisri, KH Ma'ruf Amin, KH Said Aqil Siraj, KH Marzuki Mustamar, Tuan Guru Turmudzi, dan lainnya hanya karena, kata Somad, mereka tidak dibenci kafir.
Abdul Somad pun akhirnya memberi pengertian bahwa ulama adalah yang dibenci kafir dan munafiq, "ikutilah ulama, yang dibenci kafir, yang dibenci munafiq. Hari ini yang paling dibenci kafir dan munafiq adalah Habib Rizieq," terangnya dalam video yang juga diunggah oleh Luthfi Bashori di akun Facebooknya (Senin, 05/06/2017).
Abdul Somad berlagak menjadi Tuhan dengan simpulan kacaunya bahwa yang membenci Habib Rizieq adalah munafiq. Padalah, Nabi saja merahasiakan 40 nama orang munafiq, Abdul Somad lagaknya melebihi sikap NabiNaudzubillah.

Apakah ulama syarat ulama itu harus dibenci kafirin dan munafiqin? Siapakah munafiqin itu? Siapa kafirin yang dia maksud? Apakah yang disebut munafiq itu pendukung Ahok? Hingga akhirnya menerbitkan perlu aturan melarang shalat jenazahnya? (Baca: Innalillah, Inilah Keputusan Dewan Dakwah Soal Shalat Jenazah Munafiq "Pendukung Ahok").
Abdul Somad sepertinya sedang mencari panggung, tapi dia salah jalan jika harus berhadapan dengan Cyber Netizen NU seperti Dutaislam.com. Dia masuk dalam radar, selain ustadz berinisial KN, sekutu Idrus Ramli. [dutaislam.com/ab] / http://www.dutaislam.com/2017/06/ustad-ini-beri-fatwa-sesat-kalau-ikut-nu-suruh-ke-luthfi-bashori-idrus-ramli-dan-buya-yahya.html


[Terbongkar] Inilah Pemimpin Tertinggi HTI yang Sejak Dulu "Mastur"

DutaIslam.Com - Hizbut Tahrir (HT) partai politik Islam internasional bercita-cita mendirikan khilafah. HT telah memiliki wilayah dakwah di lebih dari 40 negara. Di setiap wilayah, Amir Hizbut Tahrir menunjuk seorang anggota yang layak menjadi pemimpin tertinggi yang disebut Mas'ul 'Aam (penanggung jawab umum). Biasanya disingkat MA. Istilah lain yang digunakan selain MA, antara lain adalah Mu'tamad.
MA/Mu'tamad pemilik otoritas tertinggi di wilayah dakwah HT. Dialah wakil Amir HT di wilayah tersebut. Karena itu, jalur informasi dari dan kepada Amir HT hanya melalui dia. Dia bisa dan boleh berkomunikasi langsung dengan Amir HT.

Siapa sajakah anggota HTI yang pernah menjabat sebagai MA/Mu'tamad?

1. Ustadz Ahmad Saefullah alias Abu Fuad. Dia jadi MA/Mu'tamad di masa Orde Baru tahun 1980-an sampai akhir 1990-an. Dia mentor generasi pertama HT di Indonesia pasca Syaikh Abdurrahman Al-Baghdadi keluar dari HT. Sehari-hari Beliau mengelola Penerbitan buku Pustaka Thariqul Izzah di Bogor.
2. Ust. Muhammad Al-Khaththath. Dia menggantikan posisi Ust Abu Fuad di awal tahun 2000 sampai pertengahan tahun 2004. Pada tahun 2008 Ust Khaththath keluar dari HTI dan aktif di Forum Umat Islam (FUI).
Dari 2004-2008 Ust Khaththath jadi penanggung jawab lajnah fa'aliyah yang menangani tokoh tokoh nasional. Setelah dia keluar HTI 2008, lajnah fa'aliyah dipegang Ustadz Rahmat Kurnia dengan tambahan wewenang boleh berkomunikasi langsung dengan Amir HT.
Pada tahun 2010, lajnah thalabun nushrah yang mau menjalin hubungan gelap dengan militer dibentuk. Penanggung jawab lajnah thalabun nushrah juga bisa berkomunikasi langsung dengan Amir HT. Pada tahun itu itu dibentuk juga perwakilan media resmi HT internasional di Indonesia yang dipegang Ust. Tun Kelana Jaya. Dia anggota senior generasi awal HTI yang hidden.
3. Jabatan Ust. Khaththath digantikan oleh Ust Moch. Maghfur Wachid alias Hafidz Abdurrahman. Beliau cukup lama menjadi MA/Mu'tamad dari 2004-2010. Sekarang Beliau sibuk mengurusi Ma'hadnya yang berpusat di Bogor. Ma'had Syaraful Haramain yang Beliau sendiri sebagai Mudirnya.
4. Ust M. Rahmat Kurnia (dosen IPB) sempat jadi MA/Mu'tamad sementara pada tahun 2008 ketika Ust Hafidz Abdurrahman menunaikan ibadah haji.
5. 2010-2012 Ust Rohmat S Labib ditunjuk Amir HT menjadi MA/Mu'tamad.
Setelah tahun 2011, sumber Dutaislam.com sudah keluar dari HTI. Jadi tidak mengetahui siapa yang jadi MA/Mu'tamad HT di Indonesia sampai sekarang ini. [dutaislam.com/ab] / http://www.dutaislam.com/2017/12/terbongkar-inilah-pemimpin-tertinggi-hti-yang-sejak-dulu-mastur.html


Nasib Eks HT Indonesia Termasuk Mujur Dibanding HT di Negara Lain, Mengapa?

Foto: IstimewaOleh Ayik Heriansyah
DutaIslam.Com - Fenomena HT di seluruh dunia sama. Kesamaannya yang menunjukkan bahwa HT seluruh dunia satu tubuh, satu struktur, satu pemikiran, satu perasaan dan satu Amir. Semangat korsa HT merupakan cerminan doktrin organisasi mereka yang berbunyi, kullun fikriyun syu'riyun (semua satu pemikiran dan perasaan). Hal ini dipengaruhi oleh persepsi mereka tentang kesatuan khilafah yang secara ideal merupakan transformasi dari HT.
Apa yang dialami HTI (pembubaran) sudah lebih dulu dialami oleh senior-senior mereka di Arab, Maghribi, Asia Tengah, Asia Selatan dan Eropa. Tinggal HT Malaysia yang belum dibubarkan.
Jika dibandingkan senior-senior mereka, nasib HTI jauh lebih baik. Setelah dibubarkan mereka tetap bisa beraktivitas secara normal minus menggunakan nama HTI dan seruan Khilafah di ruang publik. Bandingkan dengan senior mereka di berbagai negeri Islam, setelah dinyatakan ilegal, praktis tidak bisa berdakwah karena harus sembunyi dari kejaran polisi. Yang tertangkap diseret ke pengadilan lalu divonis makar, selanjutnya mendekam di penjara. Ada pula yang dieksekusi mati.
Menyadari dirinya berbahaya bagi negara dan merasa kurang percaya diri akan mendapat perlindungan umat karena kurang yakin dengan kekuatan dalil dan hujjah tentang Khilafah Tahririyah yang mereka usung, HT merancang sistem organisasinya sistem sel bertingkat dengan wewenang komando di tangan satu orang pada tiap jenjangnya. Jalur komando dan informasi satu pintu secara vertikal mirip pada institusi militer dan intelijen.
Sistem organisasi yang tertutup dan terbatas itu dibuat dalam rangka mengamankan keselamatan pengurus dan anggota HT dari penyusupan dan penangkapan. Keamanan dan keselamatan pengurus, yang utama.
Pada prinsipnya HTI menyembunyikan struktur organisasi, pengurus dan anggotanya. Bagi mereka lebih baik masyarakat tidak tahu siapa saja pengurus dan anggota HTI. Diusahakan sedikit mungkin pengurus dan anggota yang muncul ke publik.
Untuk membentengi hal tersebut HTI di sisi lain mempublis seluas-luasnya orang luar mereka yang jadi figur publik dan simpatik. Tanpa menperhatikan aspek keamanan dan keselamatan figur publik itu, mereka terus membangun opini seolah-olah figur publik tersebut anggota HTI, padahal bukan.
HTI mendapat keuntungan politik yaitu perjuangan HTI mendapat legitimasi publik yang jadi karpet merah bagi pengurus dan anggota HTI melakukan penetrasi lebih dalam ke masyarakat (dukhul mujtama'). Andaikata terjadi resistensi, HTI tetap aman dan selamat karena dipagari oleh figur publik tersebut.
Di sini HTI tidak fair. Bisa dikatakan licik. Mereka memanfaatkan orang luar HTI yang pro untuk membentengi diri dari orang luar yang kontra mereka. Figur publik tersebut tidak merasa ada yang salah karena dirinya bukan HTI seperti persepsi masyarakat yang kontra HTI. Singkat kata, akibat opini yang dibangun HTI yang mengidentikkan figur publik dengan HTI terjadi benturan sesama orang luar HTI. HTI sendiri tetap aman dan siap melaksanakan agenda dakwah mereka yang lain. Ini yang menimpa UBN dan UAS.
Pada level wacana khilafah, HTI juga menggunakan pola yang sama yaitu membangun opini umat sehingga timbul persepsi bahwa para ulama di dalam kitab-kitab turats sepakat akan wajibnya khilafah.
Sebenarnya asatidz HTI tahu bahwa maksud khilafah/imamah yang ada di kitab turats bukan khilafah yang HTI maksud dan perjuangkan. Asatidz HTI sengaja menonjolkan kata khilafah/imamah dari kitab turats untuk dikontraskan dengan NKRI.
HTI hendak membentur khilafah dalam kitab turats dengan NKRI untuk mendelegitimasi dan mendekonstruksi makna NKRI. Diharapkan dari benturan wacana ini ada ruang bagi konsep kenegaraan selain NKRI yakni khilafah.
Untuk proses benturan pemikiran khilafah vs NKRI, HTI sengaja mengundang ulama orang luar HTI tapi simpatisan yang paham kitab turats sebagai pembicara. Selain jadi tameng, ulama yang diundang HTI tersebut tanpa disadari sesuai arahan HTI melakukan dekonstruksi atas makna NKRI. Otomatis membuka ruang wacana bagi HTI untuk memasukkan ide khilafahnya. Terjadi benturan antara orang luar HTI yang paham khilafah / imamah menurut kitab turats dengan orang luar HTI yang yakin NKRI ini sudah sesuai syariah.
Saat yang sama, HTI menyembunyikan khilafah versi mereka yang berdasarkan metode ijtihad Syaikh Taqiyuddin an-Nabhani. HTI juga menyembunyikan ambisi politik mereka menjadikan Amir Hizbut Tahrir sebagai khalifah plus pemberlakuan konstitusi susunan Amir mereka. HTI juga menyembunyikan upaya mereka menjalin hubungan gelap dengan militer untuk menegakkan khilafah dengan cara kudeta.
Kasus ketidakjujuran HTI dalam berwacana terjadi di acara Shilah Ukhuwah Islamiyah di Mojokerto dan Depok beberapa hari yang lalu. Mereka menggunakan nama Forum Ahlu Sunnah wal Jama'ah sebagai penyelenggara, mempertegas ketidakjujuran mereka. Dengan nama itu mereka hendak mengelabui jama'ah NU. Sayangnya nahdhiyyin sekarang sudah tahu apa, siapa dan bagaimana HTI. [dutaislam.com/pin] / http://www.dutaislam.com/2017/12/nasib-eks-ht-indonesia-masih-mujur-dibanding-di-negara-lain-mengapa.html
 

Karena "Njelehi", Mahfud MD Putuskan Berhenti Debat Soal Khilafah di Twitter

DutaIslam.Com - Statement Mahfud MD, membuat para pendukung khilafah "ngeyel" tak karuan di media sosial khususnya twitter. Mahfud MD pun mendapat bantahan tak jelas di akunnya @mohmahfudmd. Selain karena bantahan mereka tak jelas dan muter-muter, atas saran beberapa tokoh, dirinya memutuskan untuk berhenti melayani debat.
Dirinya mengaku selama debat di twitter tidak ada yang bisa menjawab dalil naqly tentang sistem khilafah yang diajukannya, sehingga justru memperkuat argument yang diyakininya.
"Mulai Senin ini, atas saran beberapa tokoh, saya tutup debat tentang Khilafah di Twitter karen tak satu pun yang bisa menjawab dalil naqly tetang sistem khilafah. Semua justeru semakin memperkuat dalil yang saya pakai bahwa sistem baku itu tdk ada dalil naqly-nya," tulis Mahfud MD, Senin (11/12/2017).
Meski begitu ia masih siap berdebat dengan pendukung khilafah jika berada di forum-forum terbuka yang lebih terhormat. "Bukan forum ecek-ecek, secara terhormat dengan siapapun. Saya juga akan tulis di media massa tentang jawaban-jawaban konyol dari mereka yang bilang bahwa sistem khilafah itu ada dalil naqlynya," lanjutnya.
Setidaknya ada tiga tesis utama yang menjadi argumentnya tentang khilafah. "Tesis utama saya adalah: 1) “Tidak ada sistem baku tentang khilafah di dalam Qur’an dan Sunnah” ; 2)- Teori dan praktik sistem khilafah itu semua ganya produk ijtihad”.; 3)- Kalau ijtihad produknya boleh berbeda-beda," jelas mantan ketua MK ini.
Dengan argument ini, Menurutnya belum ada yang bisa membantah. " Blm ada yang bisa bantah ini. Semua berputar-putar seperti gasing. Njelehi..," lanjut Mahfud MD.
Keputusan Mahfud ini mendapat respon positif dari akun @caktaqim. Dirinya mengaku bangga mempunyai tokoh NU seperti Mahfud MD. "Pak mahfud saya bangga #NU punya tokoh seperti Bapak. Hati-hati pak jangan terprovokasi," kata @caktaqim.
Namun dengan rendah hati, Mahfud MD menjawab bahwa dirinya bukan tokoh NU, melainkan warga NU biasa. Menurut Mahfud MD, tokoh-tokoh NU jauh lebih hebat.
"Siap, Cak. Terimakasih. Saya bukan tokoh NU, saya hanya warga NU biasa saja. Kalau tokoh NU jauh lebih hebat daripada saya. Saya tahu itu karena saya warga NU," jawabnya. [dutaislam.com/gg] / http://www.dutaislam.com/2017/12/karena-njelehi-mahfud-md-putuskan-berhenti-debat-soal-khilafah-di-twitter.html

 

Felix Nyinyir Lagi, Jawaban Netizen Makjleb Bikin Bungkam

DutaIslam.Com – Ngustad Felix Siaw nyinyir lagi soal peristiwa ustad Shomad yang sempat di tolak untuk berceramah di Bali, Jumat (08/12/2017). Melalui akun Twitternya Felix Siauw dia ngomel-ngomel dengan narasi yang memang biasa digunakan.
”Atas nama NKRI dan Pancasila, mengusir ulama, menjatuhkan martabatnya, menuduh dan memfitnah. Mau sampai kapan narasi ini diteruskan?” tulis Felix, Jumat (08/12/2017) sekitar pukul 14.52.
Cuitan Felix ini sontak mendapat banyak respon dari netizen. Hingga Sabtu (09/12/2017) pukul 21.00 cuitan Feliz sudah diretweet sebanyak 3,947 kali dengan 6,207 like.

Akun @jonathan_erwan berkomentar mestinya Felix berkaca dan melihat diri sendiri. “Ciiieee.. Ga punya kaca lix?” tulisnya.

Paling menohok komentar akun bernama Narkosun. Dengan sigap Narkosun membalik perkataan Felix yang sok itu.
Sumber Video : https://youtu.be/mPtnWW7Im6o

”Atas nama HTI dan khilafah, menyerang pemerintah, membentuk opini publik yang buruk kepada aparat negara, menuduh Pancasila Toghut dan demokrasi haram. Mau sampai kapan narasi ini diteruskan,” tulis Narkosun, makjleb.
Jika demikian, kira-kira apa Jawaban Felix? [dutaislam.com/pin] / http://www.dutaislam.com/2017/12/felix-nyinyir-lagi-jawaban-netizen-makjleb-bikin-bungkam.html


Orang Ini Pede Tantang Debat Mahfud MD Soal Khilafah

DutaIslam.Com - Pernyataan Mahfud MD beberapa waktu lalu di ILC yang mengatakan tidak ada di dalam sumber primer Islam ajaran khilafah sebagai sistem, agaknya membuat para penggila khilafah kepanasan dan berkeinginan mendebatnya.
Adalah Irkham Fahmi al-Anjantani dengan pedenya menantang debat Mahfud MD, dan menilai Mahfud MD gagal paham soal khilafah.
Hal ini diposting akun facebook Indonesia Milik Allah dalam statusnya dengan mengatakan ini adalah tantangan terbuka untuk Mahfud MD dari Fahmi al-Anjantani, ustadz asal Cirebon.
"Beranikah Prof. Mahfud MD menerimanya???" tulis akun facebook Indonesia Milik Allah (10/12/2017).
Akun tersebut juga menyertakan tulisan Fahmi al-Anjantani yang berjudul "Mahfud MD Gagal Paham Khilafah". Selain itu, video yang berisi wawancara terhadap Fahmi al-Anjantani juga disertakan.
Dalam video tersebut, ketika Fahmi ditanya kabar debat dengan Mahfud MD kapan tidaklanjutnya, dirinya mengaku selalu siap. Cuma menurutnya, dia dengan Mahfud MD belum sama satu frekuensi.
"Maksudnya satu frekuensi?" tanya pewawancara di video itu.
Dikatakannya, dirinya percaya dengan Al-Qur'an, Hadist, Ijma' dan Qiyas. Sedangkan Mahfud MD dinilainya hanya Al-Qur'an dan Hadist.
"Saya percaya dengan Al-Qur'an, Hadis, Ijma' sahabat, dan Qiyas, sementara Pak Mahfud MD Qur'an-Hadist, Qur'an-Hadis saja," tuduh Fahmi.
"Statemen terakhir itu kan beliau mengatakan khilafah itu produk ijtihad?," pewawancara kembali bertanya.
Menanggapi pertanyaan itu, Fahmi malah menanyakan itu ijtihadnya siapa? Menurutnya, khilafah itu ijtihadnya ulama. Dia kemudian membandingkan dengan demokrasi, yang disebutnya sebagai ijtihad orang kafir.
Simak videonya:
https://youtu.be/QlyrbpIDHXg
"Demokrasi ijtihadnya siapa? Ijtihadnya orang-orang sekuler, orang-orang kafir.. jadi kita pilih ijtihadnya siapa? Ijtihadnya ulama apa ijtihad orang kafir?" jelas Fahmi.
Selain itu, dirinya juga menyebutkan sistem baku khilafah sebagai jawaban pernyataan Mahfud MD, hingga terakhir dikatannya bahwa Mahfud MD masih gagal paham tentang khilafah. Sebenarnya siapa sih yang gagal paham? [dutaislam.com/gg] / http://www.dutaislam.com/2017/12/orang-ini-pede-tantang-debat-mahfud-md-soal-khilafah.html


Mahfud MD Tertawakan Uraian Dangkal DPP HTI Soal Sistem Baku Khilafah

DutaIslam.Com – Kampanye penegakan khilafah yang diklaim sebagai kewajiban oleh Felix Siauw dan kroco-kroconya di HTI membuat Prof Dr Mahfud MD ikut geram. Melalui akun Twitternya setelah diskusi ILC, Selasa (06/12/2017) lalu Mahfud MD menantang debat soal khilafah.
Mahfud MD berjanji, ia akan ikut mendukung dan memperjuangkan khilafah jika memang ada hukum baku dari Al Qur’an dan Hadis.
Cuitan Mahfud MD tersebut medanpat tanggapan dari banyak pihak. Salah satunya dari KH Shiddiq Al-Jawi, salah satu Ketua Dewan Pengurus Pusat (DPP) Hizbut Tahrir Indonesia (dulu, karena HTI sekarang sudah bubar). Tulisan itu berjudul “Cacat Epistemologis dalam Istilah “sistem baku khilafah” Prof. Mahfud MD”. Tulisan itu dimuat situs pembelaislam.com dengan judul "Uraian Menohok Ust. Sidiq Al Jawi Tanggapi Sistem Baku Khilafah Prof. Mahfud MD".
 

Sayangnya, tulisan panjang berjumlah 24 pragraf itu dinilai Mahfud tak menjawab persoalan atau inti tantangan  Mahfud MD. Menurut Mahfud MD, tulisan Shiddiq Al-Jawi justeru membelok bahkan separuhnya mendukung pendapatnya. 
Mahfud MD sendiri mengaku karena ada yang menanggapi Sayangnya, setelah dibaca tidak sesuai harapan. Mahfud menilai tulisan tersebut tidak menjawab pokok persoalan.
”Siang tadi saya dapat banyak pesan bahwa ada tulisan bagus dari K Shiddiq tentang khilafah yang katanya mematahkan pendapat saya. Saya senang, mau jadi pengikutnya memperjuangkan khilafah asal bisa menjawab soal itu. Tapi setelah baca itu dangkal dan berbelok. Isinya malah membenarkan pendapat saya,” tulis Mahfud di akun Twitternya.

”Itu sudah saya jawab melalui banyak grup WA. Tulisan K. Shiddiq itu dangkal. Separoh pertama justeru menbenarkan saya tentagg tiadanya sistem tapi separuh berikutnya dia keluar jauh dari konteks. Coba buka jawaban lengkap saya di Grup WA Mubarok Center. Gitu saja kok seperti iya’ iyao. Hahaha” katanya Mahfud MD tertawa.
 
Mahfud MD menantang siapa saja yang mampu menunjukkan sistem pemerintahan khilafah ada di dalam Alquran dan hadis. Dia mengatakan, perubahan sistem pemerintahan yang ada di Indonesia tidak bisa dilakukan secara radikal.
"Saya nantang siapa saja, di mana saja, di dalam forum yang terbuka. Yang bisa menunjukkan kepada saya, tentang adanya kholifah atau khilafah tentang adanya khilafah sebagai sistem pemerintahan, ya di dalam Alquran dan hadis. Saya katakan kalau khilafah banyak, tapi bukan dari Alquran dan alhadis. Itu adalah ciptaan para ulama berdasar kebutuhan, waktu, dan tempat masing-masing," kata dikutib dari detik.com.
Karena tak ada yang bisa menjawab Mahfud MD gagal donk ikut memeprjuangkan khilafah? Yes! [dutaislam.com/pin] / http://www.dutaislam.com/2017/12/mahfud-md-tertawakan-uraian-dangkal-dpp-hti-soal-sistem-baku-khilafah.html

Gugatan Ditolak di MK, HTI Hajar Negara Lewat Media Online

SALAFYNEWS.COM, JAKARTA – Keputusan pemerintah untuk membubarkan ormas yang serukan membuat negara khilafah, Hizbut Tahrir Indonesia (HTI) ternyata tidak menggoyahkan langkah-langkah pengurus dan simpatisannya untuk terus mengkampanyekan paham transnasional mereka yang sangat bertentangan dengan Pancasila.
Setelah langkah hukum HTI ditolak Mahkamah Konstitusi terkait judicial review Peraturan Pemerintah Pengganti Undang-undang (Perppu) Nomor 2 Tahun 2017 tentang Organisasi Masyarakat. Selain HTI ada ternyata ada tujuh gugatan lainnya yang ditolak Mahkamah Konstitusi seperti gugatan dari Persis.
Salah satu langkah HTI untuk mensosialisasikan paham mereka dengan mendirikan portal baru seperti news.kaffah net. Setelah portal hizbut-tahrir or id tidak dapat diaktifkan kembali. Beberapa artikel di dalam kaffah dotnet bersifat agitatif dan berpotensi memperkeruh kondisi sosial di Indonesia. Inilah salah satu bentuk pembangkangan HTI kepada Negara, dan sangat berbahaya sekali nantinya.
Dalam kolom disklaimer mereka juga mengajak para kontributor untuk menyumbangkan artikel namun tentunya yang dimuat tentu yang sesuai dengan visi dan misi mereka menegakkan paham khilafah yang hingga saat ini tidak mendapat tempat di satu negara muslim mana pun di dunia ini.
Untuk itu masyarakat luas yang dapat mengakses portal tersebut hendaknya lebih berhati-hati pada modus pengenalan, penyebaran hingga pembai’atan (indoktrinasi ide-ide dan pemikiran Hizbut Tahrir.
Dalam media-media mereka, kerap mengusung slogan-slogan indah, sebagaimana dakwah Islam, khilafah Islamiyah, Kembali ke Syari’at Islam dan menerapkan Islam secara menyeluruh (Islam Kaffah). Dengan berbungkus slogan tersebut, ternyata mereka banyak menuai simpati, khususnya dari warga yang tidak teliti melihat gerakan ini. (SFA) / http://www.salafynews.com/gugatan-ditolak-di-mk-hti-hajar-negara-lewat-media-online.html

Pendapat Para Ulama Terkait Panji Rasulullah Tampar Para Fans HTI

SALAFYNEWS.COM, JAKARTA – Jagad maya Indonesia dipenuhi dengan komentar-komentar para fans HTI terkait acara ILC, dimana gembong HTI Felix Siauw dapat dengan bebas mempresentasikan ide Khilafahnya di depan para khalayak ramai seantero Indonesia, seperti yang kita ketahui bersama acara Reuni Akbar 212 di Monas banyak sekali bertebaran atribut bendera HTI bahkan ada bendera HTI dipasang diatas bendera Merah Putih.
Baca: Bendera Ormas Terlarang HTI Berkibar di Reuni 212
Sudah kita ketahui bersama bahwa Ormas HTI sudah dibubarkan oleh pemerintah lewat Perppu ormas, dan pemerintah melarangnya, bahkan polisi akan bertindak tegas terhadap kegiatan kelompok ini, namun hal itu tidak tejadi di Reuni Akbar 212 beberapa waktu lalu. Bahkan ormas HTI dengan mengkampanyekan bahwa bendera hitam dan putih yang berlafadzkan “La Ilaha Illallah” sebagai bendera Rasulullah SAW dan Islam. Berikut jawaban untuk penjelasan bendera itu:
Baca: Reuni Akbar 212 di Monas, Tampak Bendera HTI di atas Merah Putih
Bendera hitam atau putih bertuliskan kalimat tauhid selalu diidentikkan oleh sebagian kelompok sebagai bendera Islam atau bendera Rasulullah. Dengan anggapan ini, kalau ada bendera lain yang tidak serupa dengan bendera Rasulullah, dianggap bukan Islam dan tidak sesuai dengan tuntunan Rasulullah.
Kelompok yang mengindetikkan bendera hitam atau putih bertulis kalimat tauhid ini sebagai bendera Rasulullah merujuk pada hadits riwayat Ibnu Abbas yang terdapat dalam beberapa kitab hadits. Ibnu Abbas berkata.
كَانَتْ رَايَةُ رَسُوْلِ اللهِ سَوْدَاءَ وَلِوَاؤُهُ أَبْيَضُ مَكْتُوْبٌ عَلَيْهِ لَا إِلَهَ إِلَّا اللهُ مُحَمَّدٌ رَسُوْلُ اللهِ
Artinya, “Bendera (pasukan) Rasulullah itu hitam dan panjinya itu putih yang bertuliskan di atasnya ‘La Ilaha Illallah Muhammad Rasulullah”. (HR At-Thabarani).
Merujuk pada penelitian yang dilakukan tim el-Bukhari Institute dalam buku Meluruskan Pemahaman Hadits Kaum Jihadis, hadits tentang bendera Rasulullah di atas terdapat dalam beberapa kitab, di antaranya, Mu’jamul Awsath karya At-Thabarani dan Akhlaqun Nabi wa Adabuhu karya Abus Syekh Al-Ashbihani.
Secara umum, kualitas hadits bendera hitam bertulis “La Ilaha Illallah Muhammad Rasulullah” adalah dhaif (lemah), baik riwayat At-Thabarani ataupun Abu Syekh. Hadits bendera hitam juga dikategorikan dhaif oleh Ibn ‘Adi dan termasuk salah satu dari sekian banyak hadits dhaif yang terdapat dalam kitab Al-Kamil fi Dhu’afa’ir Rijal.
Riwayat At-Thabarani dihukumi lemah karena di dalam rangkaian sanadnya terdapat rawi bermasalah, yaitu Ahmad Ibn Risydin. Menurut An-Nasa’i, Ibn Risydin adalah seorang pembohong kadzdzab (pembohong). Adz-Dzahabi menyebut Ibn Risydin sebagai pemalsu hadits (muttaham bil wadh’i). Ibn ‘Adi mengakui bahwa Ibn Risydin salah satu orang yang paling banyak meriwayatkan hadits, namun sangat disayangkan kebanyakan periwayatannya munkar dan palsu. Sementara menurut Ibnu Yunus, Ibnu ‘Asakir, dan Ibnul Qaththan, dan Ibnul Qasim, Ibn Risydin diterima haditsnya karena dia kredibel (tsiqah) dan penghafal hadits (huffazhul hadits).
Baca: Yusuf Muhammad: PKI dan HTI Pengkhianat NKRI
Ketika dihadapkan pada dua simpulan yang bertolak-belakang ini, maka penilaian negatif (jarh) lebih diprioritaskan daripada penilaian positif (ta’dil). Simpulan ini merujuk pada kaidah umum dalam jarh wa al-ta’dil, “Apabila bertentangan antara jarh dan ta’dil, maka jarh lebih didahulukan bila dijelaskan argumentasinya secara spesifik.” Dengan demikian, riwayat Ibn Risydin tidak dapat diterima karena pembohong (muttaham bil kidzbi) dan dianggap pemalsu hadits (muttaham bil wadh’i) meskipun riwayat dan haditsnya banyak didokumentasikan.
Adapun riwayat Abu Syekh berasal ari dua jalur, yaitu Abu Hurairah dan Ibnu Abbas. Riwayat yang bersumber dari Abu Hurairah dihukumi lemah karena ada Muhammad Ibn Abu Humaid dalam silsilah sanadnya. Sebagian besar kritikus hadits berpendapat bahwa Abu Humaid adalah dhaif dan termasuk munkarul hadits. Sedangkan riwayat Abu Syekh yang bersumber dari Ibnu ‘Abbas dihukumi hasan dan tidak sampai pada tingkatan shahih.
Berdasarkan penjelasan di atas, dapat dipahami bahwa kualitas hadits bendera hitam yang diriwayatkan oleh At-Thabarani dan riwayat Abu Syekh yang bersumber dari Abu Hurairah adalah lemah atau dapat disebut juga hadits munkar. Sementara riwayat Abu Syekh yang berasal dari Ibnu Abbas termasuk hadits hasan dan tidak mencapai derajat shahih.
Baca: Nadirsyah Hosen: Memproteksi NKRI dari Penyelundup Demokrasi “HTI”
Bagaimana Pengamalannya?
Setelah mengetahui kualitas hadits, pertanyaan berikutnya adalah bagaimana pengamalannya, apakah hadits tersebut wajib diamalkan atau tidak. Dalam bahasa lain, apakah hadits bendera Rasulullah itu bermuatan syariat atau tidak. Kalau dipahami sebagai bagian dari syariat berarti wajib diamalkan. Sementara kalau bukan bagian dari syariat, tidak wajib diamalkan.
Menurut KH Ali Mustafa Yaqub, ada dua indikator yang dapat digunakan untuk membedakan syariat dan bukan syariat, atau budaya, di dalam memahami hadits Nabi. Pertama, apabila amalan tersebut hanya dilakukan oleh umat Islam dan tidak dilakukan agama lain berarti amalan itu bagian dari syariat. Kedua, jika sebuah perbuatan dikerjakan oleh semua orang, baik Muslim maupun non-Muslim, dan sudah ada sejak sebelum kedatangan Islam, maka perbuatan tersebut bukan syariat dan termasuk budaya.
Berdasarkan dua indikator ini dan sekaligus merujuk pada fakta sejarah, bendera bukanlah bagian dari syariat karena sudah ada sebelum kedatangan Islam dan digunakan oleh semua pasukan perang baik Muslim ataupun non-Muslim. Bahkan dalam pandangan Ibnu Khaldun, memperbanyak bendera, memberi warna dan memanjangkannya, hanya semata-mata untuk menakuti musuh dan kepentingan politik suatu pemerintahan.
Baca: Kesaksian Mantan Pengikut Khilafah, HTI Anti Pancasila
Kendati Rasulullah menggunakan warna dan bentuk bendera tertentu, bukan berati model bendera Rasulullah ini mesti diikuti oleh setiap umat Islam sehingga negara yang tidak sesuai warna benderanya dengan bendera Rasulullah dianggap tidak mengikuti sunah Nabi. Karena pada hakikatnya, persoalan warna dan bentuk bendera bukan bagian dari agama yang bersifat ibadah (ta’abbudi), seperti halnya shalat, puasa, dan ibadah mahdhah lainnya, tetapi termasuk urusan muamalah yang identik dengan perubahan dan perkembangan. Wallahu a’lam. (SFA)
Sumber: NU Online / http://www.salafynews.com/pendapat-para-ulama-terkait-panji-rasulullah-tampar-para-fans-hti.html

Kronologi Sebenarnya Penolakan Ustad Somad di Bali

SALAFYNEWS.COM, DENPASAR – Masifnya berita warga Bali penolakan Abdul Somad, hingga dibentuknya framing Bali Anti Islam dan sebagaianya, inilah berbahayanya kelompok radikal yang sering kali bawa agama dan adu domba antar umat beragama dalam kampanyenya, berikut kronologi penolakan Abdul Somad di Bali, yang ditulis di akun Facebook Jemima Mulyandari, berikut tulisannya:
Baca: NU Rapatkan Barisan Hadapi Radikalisme Berkedok Agama yang Semakin Marak
Awalnya Ustad Abdul Somad Menolak Mencium Sang Saka Merah Putih. Sejak kemarin banyak beredar pemberitaan “Bali Menolak Ustad Abdul Somad Berceramah Di Bali”. Itu semua adalah pemberitaan yang salah dan menyesatkan. Beginilah kronologis cerita yang sebenarnya:
  1. Ustad Abdul Somad datang ke Bali untuk berceramah pada hari Jumat, 7 Desember 2017.
  2. Bali menyambut baik siapapun juga yang datang ke Bali termasuk Ustad Abdul Somad. Mau berceramah juga silakan, karena Islam adalah salah satu agama yang diakui secara sah di NKRI.
  3. Namun dikarenakan sepak terjang dan ceramah Ustad Abdul Somad di masa lalu dan sampai kini yang seperti itu (tak perlu diterangkan lagi kita pasti sudah tahu sama tahu.
Ada banyak videonya sudah beredar dimana-mana. Silakan dicek sendiri di youtube), maka Bali merasa sangat perlu untuk menyatukan komitmen, visi dan misi dengan Ustad Abdul Somad. Visi dan misi tersebut adalah komitmen bahwa kita semua termasuk Ustad Abdul Somad adalah anak bangsa yang cinta NKRI, Pancasila, UUD 45, Bhinneka Tunggal Ika dan Sang Saka Merah Putih.
Baca: Dr Zakir Naik Sebarkan Wajah ‘Islam’ Ala Wahabi
  1. Ternyata Ustad Abdul Somad menolak mencium Sang Saka Merah Putih. Kenapa beliau menolak? Silakan menanyakan alasannya kepada Ustad Abdul Somad sendiri. Bukan kapasitas saya untuk menjawabnya.
Yang jelas, bukanlah hal yang sulit dan berlebihan bagi setiap anak bangsa untuk mencium bendera negaranya sendiri. Para atlet yang akan berlaga, anggota Paskibraka dan banyak moment lainnya sudah lazim melakukan prosesi mencium Sang Saka Merah Putih. Tak ada yang aneh dan tak ada yang sulit dengan itu semua.
Justru Ustad Abdul Somadlah yang mempersulit dirinya sendiri dengan menolak permintaan yang semudah itu. Itupun sudah melalui proses negosiasi panjang yang melelahkan sampai berjam-jam di dalam ruangan tertutup di Hotel Aston, Gatsu Barat, Denpasar, Bali. Hal mudah dibuat jadi sulit. Itulah yang terjadi saat itu.
Baca: Eko Kuntadhi: Pakde Jokowi Saatnya Bersih-bersih Benalu dan Parasit NKRI
  1. Bali tidak berhak memaksa. Jika Ustad Abdul Somad memang tidak bisa menyamakan komitmen, visi dan misi sebagai anak bangsa yang cinta NKRI, ya berarti silakan pulang. Keputusan ada di tangan Ustad Abdul Somad sendiri mau pulang atau tidak.
  2. Ustad Abdul Somad tetap menolak mencium Sang Saka Merah Putih. Itu artinya Ustad Abdul Somad sendirilah yang memilih untuk pulang dan tidak melanjutkan acara ceramahnya di Bali.
  3. Saat berita nomer 6 diketahui masyarakat Bali yang berkumpul di depan Hotel Aston, suasana menjadi ramai meminta Ustad Abdul Somad agar segera pulang. Point nomer 7 inilah yang diberitakan sana sini bahwa Ustad Abdul Somad diusir dari Bali. Padahal Ustad Abdul Somad sendiri yang sudah memilih untuk pulang.
  4. Akhirnya Ustad Abdul Somad berubah pikiran. Ustad Abdul Somad mau menyanyikan lagu Indonesia Raya, mau mengakui NKRI, Pancasila, UUD 45 dan Bhineka Tungga Ika sebagai 4 pilar kebangsaan Indonesia yang sudah final dan tidak dapat diubah dan tidak dapat diganggu gugat, sekaligus mau mencium Sang Saka Merah Putih sebagai tanda kecintaannya kepada NKRI. Semua prosesi ini dilakukan di depan Hotel Aston, dihadapan semua masyarakat Bali yang berkumpul di sana.
  5. Karena komitmen, visi dan misi sudah sama, Bali mempersilakan Ustad Abdul Somad melanjutkan tujuannya datang ke Bali untuk berceramah. Ustad Abdul Somad malah dikawal dengan baik oleh perwakilan masyarakat Bali dan anggota keamanan, sehingga acara ceramahnya bisa berjalan dengan baik dan lancar. (SFA) / http://www.salafynews.com/kronologi-sebenarnya-penolakan-ustad-somad-di-bali.html
 Sumber Berita : https://hakunnay.blogspot.com/2017/12/video-bukti-ustadz-abdul-somad.html?view=classic

Ustaz Abdul Somad dan Isu Khilafah

Rabu 03 Jan 2018 11:46 WIB
REPUBLIKA.CO.ID,  Oleh: Imam Shmasi Ali *)
Setelah Ustaz Abdul Somad dicekal di Hongkong, ada suara-suara yang kemudian berseliwerang, termasuk di sosial media bahkan di kalangan tokoh-tokoh masyarakat, seolah membenarkan pencekalan itu. Pembenaran itu dibangun di atas asumsi atau tepatnya kecurigaan  jika Ustaz Abdul Somad terkait HTI (Hizbut Tahrir Indonesia) yang baru saja dibekukan dan dinyatakan sebagai organisasi terlarang di Indonesia.
Pembenaran atau kecurigaan itu dibangun di atas beberapa alasan atau kesimpulan oleh sebagian berdasarkan beberapa ceramah Ustaz yang ada di media sosial, termasuk youtube. Untuk mengetahui lebih jauh tuduhan itu, saya kembali menelusuri sebagian besar ceramah-ceramah Ustaz Abdul Somad, lalu mencoba menghubungkan antara satu ceramah atau pendapat dengan ceramah dan pendapat yang lain.
Dari penelusuran itu saya mendapati dua ceramah yang mungkin menimbulkan kecurigaan itu. Atau tepatnya satu ceramah yang memang disampaikan di sebuah hajatan HTI di Riau 4 tahun lalu dan satu lagi jawaban singkat beliau terhadap sebuah pertanyaan tentang arti khilafah dalam sebuah sesi tanya jawab sekitar setahun yang lalu.
Setelah mendengarkan berbagai ceramah yang pernah beliau sampaikan di masa lalu, saya berkesimpulan sebagai berikut:
1. Seperti yang beliau sendiri sering sampaikan, Ustaz Abdul Somad bukanlah anggota, apalagi pengurus HTi. Kehadiran beliau di acara HTI Riau 4 tahun silam itu sebagai undangan dalam kapasitasnya sebagai seorang ustaz dan ulama.
2. Selain itu, sebagaimana di masa lalu banyak ulama dan ustaz yang pernah diundang di acara HTI, kehadiran beliau di acara HTI itu juga tidak melanggar apa-apa. Karena saat itu (4 tahun lalu) HTI adalah sebuah organisasi massa yang diakui di negara Indonesia. Artinya, beliau diundang oleh sebuah organisasi yang resmi terdaftar dan legal beroperasi di negara Indonesia.
3. Perihal pendapat beliau mengenai khilafah, itu harusnya ditempatkan pada posisi “scholarly discourse” atau perdebatan di kalangan para ulama. Bahwa isu khilafah adalah isu yang diperdebatkan dan diperselisihkan di kalangan para ulama. Dan itu diakui oleh semua orang Islam yang tahu ajaran agamanya dengan baik. Pendapat mengenai khilafah ini ada di kalangan ulama-ulama nasional dan internasional. Tapi sekali lagi, itu adalah opini keulamaan yang memperkaya khazanah keilmuan dalam Islam.
4. Lalu apakah dengan pendangan tentang khilafah seperti itu dianggap bertentangan atau mengancam eksistensi NKRI? Sama sekali tidak. Beliau dalam berbagai ceramah yang jauh lebih banyak dan jelas menegaskan kecintaan dan loyalitasnya ke NKRI. Bahwa hiruk pikuk opini para ulama perihal khilafah tidak akan mengusik eksistensi NKRI yang sudah final, dengan Pancasila dan UUD 45 sebagai pijakan kehidupan nasioanalnya.
5. Komitmen Ustaz Abdul Somad terhadap NKRI, Pancasila dan UUD, serta sistim politik pemerintahan yang dianut oleh negeri ini, tidak diragukan lagi. Kita tahu bahwa mereka yang murni dalam ideologi khilafah alamiyah (global caliphate) ini “mengharamkan” partisipasi politik (pemilu), bahkan menganggapnya sistim kafir. Tapi, Ustaz Abdul Somad justeru menganjurkan umat ini mengambil bahagian dalam proses demokrasi dan politik. Bahkan beliau menyerukan agar umat ini menjadi pemimpin bagi bangsa dan negaranya.
6. Saya menilai Ustaz Abdul Somad hanyalah orang jujur, apa adanya, pantang dipengaruhi dan dibentuk oleh pihak luar. Beliau orang kampung yang mendalami agama, dan insya Allah berhati bersih serta lapang dada. Dan karenanya dalam menyampaikan pendapat tidak berbasa basi, apalagi menutup-nutupi adanya opini yang berbeda tentang sebuah isu, bahkan walau tidak populer. Termasuk di dalamnya perdebatan sistim kenegaraan dalam Islam.
7. Lalu bagaimana dengan isu Syariah? Indonesia itu sangat banyak menjalankan Syariah Islam. Bahkan boleh jadi lebih syar’i dari banyak negara Muslim lainnya. Ketuhanan Yang Maha Esa itu adalah akidah tauhid dalam penafsiran Islam. Dan karenanya, sila pertama itu adalah bagian syariah dalam keyakinan.
UUD menjamin setiap pemeluk agama untuk meyakini dan menjalankan agamanya. Itu juga adalah syariah Islam. Maka, umat Islam Indonesia shalat, puasa, zakat, haji, bahkan dalam urusan mu’amalat di mana-mana tumbuh bank-bank syariah. Lalu kenapa takut ketika orang Islam bersyariah, termasuk ketika Ustaz Abdul Somad mengajarkannya?
8. Oleh karenanya, ketika orang ingin mengambil kesimpulan tentang ustaz Abdul Somad hendaknya jangan hanya melalui satu atau dua dari ribuan ceramahnya. Sebagaimana beliau kerap kali sampaikan secara bercanda: “cukupkan pulsa sebelum dengarkan ceramahnya agar tidak sepotong-sepotong”.
Kasus Ustaz Abdul Somad ini mirip ketika sebagian orang mendengar wawancara saya di sebuah media tentang sebuah isu, apalagi secara parsial. Lalu mengambil kesimpulan tanpa mengimbangi dengan mendengarkan ceramah atau wawancara saya di tempat yang lain. Betapa sering saya divonis liberal, karena pendapat saya agar dalam memahami teks-teks agama diperlukan rasionalitas yang solid. Sebaliknya seringkali pula saya dituduh ekstrim karena pembelaan saya kepada idealisme keagamaan yang saya yakini.
Kesalah pahaman itu kerap terjadi karena mendengarkan ceramah atau wawancara secara sepotong-sepotong. Apalagi jika memang “mind-set” yang mendengarkan itu sudah penuh kecurigaan dan kebencian. Kesimpulannya pasti akan mengikut kepada warna otak yang telah terbentuk duluan.
9. Mengenai silap kata, menyinggung dengan kata-kata, tentu pertama beliau adalah manusia biasa dan pasti ada khilaf dan salah. Tapi jangan pula lupa bahwa dalam diri beliau ada sisi komedi yang sebagaimana komedian lainnya biasa menyinggung untuk tujuan yang baik. Tapi kalau itu dianggap menyinggung, kurang sensitif, ambil hikmah dan pelajaran darinya. Intinya adalah “who the hell is perfect”? Emangnya siapa yang sempurna?
Akhirnya, saya memang khawatir jangan-jangan yang sedang terjadi adalah bahwa sikap jujur dan istiqamah dalam beragama saat ini dianggap ancaman. Saya bahkan curiga, jangan-jangan yang diinginkan oleh sebagian pihak dari para ustaz dan ulama agar menyampaikan Islam berdasarkan kecenderungan hawa nafsu mereka.
Sekali lagi, saya justeru melihat ustaz Abdul Somad ini menjaga karakter “wasathiyah”. Yaitu karakter imbang yang merangkul semua pihak. Beliau mencoba merangkul kembali bahagian-bahagian keumatan yang sedang berserakan. Di Muhammadiyah beliau menyampaikan pendapat NU. Di NU beliau menyampaikan pendapat Muhammadiyah.
Dalam berbagai ceramahnya beliau hanya membahas masalah agama dan keumatan, serta bagaimana umat ini “get empowered” (menjadi kuat). Sebab jika umat kuat di Indonesia, dengan sendirinya bangsa dan negara ini menjadi bangsa dan negara yang kuat, mandiri dan disegani.
Tapi kenapa ada yang kurang senang, bahkan boleh jadi merasa terancam? Ustaz Abdul Somad memangnya sangar dan menakutkan? Punyakah kekuatan massa yang ditakutkan?
Entahlah. Tapi memang salah satu penyakit berbahaya dalam dunia kita yang semakin egoistik ini adalah “al-khauf wal-hazan”. Penyakit “takut dan sedih”. Takut tersaingi, terkalahkan, terpinggirkan, dan bahkan takut orang lain mendapatkan apa yang dimilikinya. Dan kalau itu terjadi akan tumbuh rasa sedih yang boleh jadi berujung kepada sikap destruktif dan prustrasi.
Akhirnya saya menghimbau semua pihak kiranya ulama-ulama seperti beliau  yang rendah hati, santun, namun jujur dengan keilmuannya dijaga dan dirangkul. Beliau adalah aset umat, bangsa dan negara. Dengan keilmuan yang luas, dada yang lapang, insya Allah tidak memiliki intrik-intrik politik, beliau bisa menjadi pilar kebangkitan umat dan bangsa.
Jika diperlakukan tidak sebagaimana mestinya maka beliau boleh saja dirangkul oleh pihak-pihak yang memang memilki kepentingan sempit dan sesaat. Dengan magnet dan daya tarik yang beliau miliki saat ini boleh jadi justeru disalah gunakan oleh pihak-pihak tertentu untuk tujuan tertentu pula. Entahlah!
* Presiden Nusantara Foundation
Imam Masjid Al Hikmah New York, Imam Shamsi Ali.
Imam Masjid Al Hikmah New York, Imam Shamsi Ali.
Foto: Republika/Tahta Aidilla
Sumber Berita : https://republika.co.id/berita/jurnalisme-warga/wacana/18/01/03/p1yqlm396-ustaz-abdul-somad-dan-isu-khilafah

Ustadz Abdul Somad Dituding Anti NKRI & Pancasila Hingga Batalkan Ceramah, Sekjen MUI: Di Sisi Mana?


BANJARMASINPOST.CO.ID - Sekretaris Jenderal Majelis Ulama Indonesia (Sekjen MUI), Anwar Abbas memberikan tanggapan atas alasan dibatalkannya ceramah Ustaz Abdul Somad di sejumlah daerah di Pulau Jawa.
Diberitakan sebelumnya, Pimpinan wilayah GP Ansor Jawa Tengah, Mujibburohman memaparkan alasan mengapa Ustadz Abdul Somad tidak diperbolehkan untuk melakukan ceramah di Jepara.
Dilansir dari tayangan TV One, Mujibburohman mengungkap hal tersebut dilakukan guna menyampaikan pesan dari GP Anshor yang sesungguhnya yakni menjaga NU, para Kiai dan NKRI.
Selain itu, Mujibburohman juga beralasan bahwa penolakan ceramah UAS itu berhubungan dengan adanya jamaah HTI yang kerap hadir dalam kegiatan tersebut.
Hal itu diketahui dari beberapa cuplikan yang dilihat oleh Mujibburohman, bahwa para kru atau panitia yang hadir dalam ceramah UAS membawa atribut terkait HTI.
Hizbut Tahrir Indonesia (HTI) sendiri memang terbukti menurut majelis Hakim PTUN ingin mendirikan negara khilafah di wilayah NKRI.
Karenanya cap sebagai kelompok anti NKRI seolah melekat kuat pada HTI.
Menanggapi soal alasan dari GP Ansor wilayah Jawa Tengah mengenai penolakan ceramah UAS, Sekjen MUI, Anwar Abbas pun memberikan tanggapan.
Menurutnya, setiap warga negara berhak menyampaikan pendapatnya masing-masing.
Pun dengan yang dilakukan oleh UAS.
Karenanya, Anwar Abbas merasa heran jika kemudian UAS menghadapi gangguan berupa pelarangan untuk berceramah.
"Negara ini adalah negara demokrasi. Oleh karena itu semua orang berhak menyampaikan sikap dan menyampaikan pandangannya. Dan Kiai Abdul Somad sudah melakukan itu tetapi mengapa dia diusik, dia diganggu?" ujar Anwar Abbas.
Mendengar pernyataan tersebut, sang pewarta pun mengajukan pertanyaan untuk Anwar Abbas.
Yakni apakah ada kegelisahan yang sama dari MUI perihal isi ceramah UAS.
"Tapi kalau MUI melihat apakah ada kegelisahan atas isi ceramah UAS ?" tanya sang pewarta.
Pertanyaan yang diajukan itu pun segera dijawab oleh Anwar Abbas.
Anwar Abbas mengaku bahwa dirinya adalah pengagum UAS.
Menurutnya, tidak ada sedikitpun tanda yang menyatakan bahwa UAS adalah seseorang yang anti NKRI.
Anwar Abbas justru menyebut UAS adalah penceramah yang ingin menanamkan rasa cinta NKRI kepada pengikutnya.
"Saya pengagum UAS, tidak nampak oleh saya sedikitpun pemikiran beliau yang anti NKRI, anti pancasila dan anti kebhineka-an. Tidak terlihat oleh saya.
Bahkan yang terlihat oleh saya, beliau ingin menanamkan pandangan kebhineka-an, cinta pancasila dan cinta NKRI," pungkasnya.
Lebih lanjut lagi, Anwar Abbas merasa heran apabila ada oknum yang justru takut dengan isi ceramah UAS.
Tak hanya soal isi ceramah, ketakutan soal kehadiran UAS yang belakangan menjadi sorotan juga turut diperhatikan oleh Anwar Abbas.
Anwar Abbas pun lantas mengajukan pertanyaan retoris yang ditujukkan untuk penentang ceramah UAS.
"Lalu kalau ada yang menuduh beliau anti NKRI, anti pancasila dan anti kebhinekaan. Saya rasa di sisi mana ? pada poin mana ? pada ceramah beliau yang mana ?" ucapnya.
Mengenai alasan yang dikemukakan GP Ansor wilayah Jawa Tengah yang semapt disinggung, Anwar Abbas pun memberikan pendapatnya.
Yakni mengenai atribut dari para jamaah yang diyakini sebagai atribut HTI.
"Lalu kenapa UAS nya yang dilarang ? kenapa tidak peserta yang membawa simbol-simbol itu yang dilarang ?" tanya Anwar Abbas.

UAS Batal Ceramah di Pulau Jawa
Diberitakan sebelumnya, Ustaz Abdul Somad mengaku mendapat beberapa ancaman dan intimidasi yang dialaminya saat hendak ceramah di beberapa daerah.
Untuk itu, Ustaz Abdul Somad memutuskan untuk membatalkan sejumlah ceramahnya di beberapa daerah, yakni Jawa Timur, Jawa Tengah dan Yogyakarta.
Hal itu disampaikan sendiri oleh Ustaz Abdul Somad di akun Instagramnya yang terverifikasi, @ustadzabdulsomad, Minggu (3/9/2018).
Dalam akun Instagramnya itu, Ustaz Abdul Somad menyatakan beberapa alasannya membatalkan ceramah tersebut.
Di antaranya yakni dengan adanya ancaman, intimidasi dan pembatalan itu, beban panitia penyelenggara akan semakin berat.
Pun kata dia, kondisi psikologis jemaah dan dirinya sendiri juga jadi pertimbangan.
Begini keterangan lengkap yang ditulisnya :
Beberapa ancaman, intimidasi, pembatalan, dan lain-lain terhadap tausyiah di beberapa daerah seperti di Grobogan, Kudus, Jepada dan Semarang.
Beban panitia yang semakin berat
Kondisi psikologis jamaah dan saya sendiri
Maka, saya membatalkan beberapa janji di daerah Jawa Timur, Jawa Tengah, Yogyakarta :
1. September di Malang, Solo, Boyolali, Jombang, Kediri
2. Oktober di Yogyakarta
3. Desember janji dengan Ustadz Zulfikar di daerah Jawa Timur
Mohon maaf atas keadaan ini, harap maklumi, dan mohon doakan selalu.
Wassalamu'alaikum warahmatullah wabarakatuh.
Al-Faqiir Ilaa Rabbih, Abdul Somad.
Ustadz Abdul Somad Dituding Anti NKRI & Pancasila Hingga Batalkan Ceramah, Sekjen MUI: Di Sisi Mana?
instagram
Ustadz Abdul Somad
Sumber Berita : http://banjarmasin.tribunnews.com/2018/09/07/ustadz-abdul-somad-dituding-anti-nkri-pancasila-hingga-batalkan-ceramah-sekjen-mui-di-sisi-mana?page=all

Forum Pecinta Ahok: Sponsori ke Chile, Polisi Harus Periksa Anies Baswedan
Aparat kepolisian harus memeriksa Gubernur DKI Jakarta Anies Baswedan yang telah mensponsori Ratna Sarumpaet ke Chile. “Uang rakyat diberikan Ratna Sarumpaet untuk pergi ke Chile. Polisi harus memeriksa Anies Baswedan,” Koordinator Forum Pecinta Ahok, Kurniawan Wijaya dalam pernyataan kepada suaranasional, Jumat (5/10). Kata Kurniawan, Anies Baswedan diduga melanggar dengan sengaja memberikan sponsor Ratna Sarumpaet untuk Chile. “Ke Chile pun tidak jelas dan tidak punya kontribusi buat Jakarta dan Bangsa Indonesia,” jelas Kurniawan.
Selain itu, ia mendesak DPRD DKI Jakarta segera memanggil dan perlu memperhentikan Anies Baswedan dari jabatan Gubernur Jakarta.
 “Anies sudah melanggar konstitusi. DPRD DKI harus memecat Anies Baswedan,” pungkas Kurniawan. Dinas Pariwisata dan Kebudayaan (Disparbud) DKI kini memastikan pihaknya mensponsori Ratna Sarumpaet untuk mengikuti kegiatan di Chile. Dasarnya, Gubernur Anies Baswedan meminta Disparbud memfasilitasi Ratna. “Disposisi Bapak Gubernur ke Dinas Pariwisata dan Kebudayaan adalah difasilitasi dan didukung serta TL (tindak lanjut) sesuai ketentuan,” kata Plt Kepala Disparbud, Asiantoro, dalam keterangan pers tertulisnya, Jumat (5/10/2018).

Sumber Berita : https://suaranasional.com/2018/10/05/forum-pecinta-ahok-sponsori-ke-chile-polisi-harus-periksa-anies-baswedan/

Barisan Pembela Jokowi: Sebarkan Hoax, Polisi tak Perlu Takut Tetapkan Tersangka Amien Rais

Aparat kepolisian tidak perlu takut menetapkan tersangka Amien Rais yang telah menyebarkan hoax terkait Ratna Sarumpaet. Demikian dikatakan Ketua Barisan Pembela Jokowi Ronald Sitanggang dalam pernyataan kepada suaranasional, Jumat (5/10). Kata Ronald, penetapan tersangka kepada Amien tak perlu dikaitkan polisi memusuhi Muhammadiyah. “Hubungan polisi, pemerintah Jokowi dengan Muhammadiyah sangat baik,” jelas Ronald. Ronald mengatakan, Amien juga harus dimasukkan penjara agar tidak kabur ke luar negeri. “Bisa jadi Amien kabur ke luar negeri. Ini untuk antisipasi saja,” jelas Ronald. Kata Ronald, selama ini Amien Rais banyak memfitnah dan melakukan ujaran kebencian. “Dari mulutnya Amien Rais sangat berbahaya untuk persatuan Bangsa Indonesia,” papar Ronald.
Penyidik Ditkrimum Polda Metro Jaya mengagendakan pemeriksaan terhadap Amien Rais. Mantan Ketua MPR itu akan dimintai keterangan terkait hoax penganiayaan Ratna Sarumpaet. “Iya agendanya seperti itu (pemeriksaan),” kata Kabid Humas Polda Metro Jaya Kombes Argo Yuwono saat dimintai konfirmasi, Jumat (5/10/2018).

Sumber Berita : https://suaranasional.com/2018/10/05/barisan-pembela-jokowi-sebarkan-hoax-polisi-tak-perlu-takut-tetapkan-tersangka-amien-rais/

Forum Muhammadiyah Garis Lurus: Amien Rais & Keluarga Merusak Muhammadiyah dan Islam

Amien Rais dan keluarga telah merusak Muhammadiyah serta Islam dengan sikapnya yang mendukung hoax Ratna Sarumpaet. Demikian dikatakan Ketua Forum Muhammadiyah Garis Lurus Immawan Ahmad Ridho dalam pernyataan kepada suaranasional, Jumat (5/10). “Walaupun Pak Amien Rais dan Hanum Rais sudah minta maaf tetapi kelakuannya yang mendukung hoax menciderai Muhammadiyah,” ungkapnya. Kata Immawan Ahmad Ridho, sekelas Amien Rais yang pernah menjadi Ketua Umum PP Muhammadiyah mudah percaya dengan berita hoax. “Harusnya Amien Rais dan keluarga memegang sikap bermuhammadiyah secara benar. Jika ada berita harus tabayyun terlebih dulu. Apalagi Pak Amien ini seorang profesor dan tokoh agama Islam,” jelas Immawan Ahmad Ridho.
Immawan Ridho mengatakan, peristiwa Ratna Sarumpaet menjadi hikmah yang sangat besar buat Amien Rais dan keluarga. “Lebih baik Pak Amien mengurusi Muhammadiyah dan meninggalkan politik praktis. Pak Amien harus balik pada pemikiran era 80-90 an yang lebih mengedepankan akademisi dan intelektual,” jelas Immawan Ahmad Ridho. Immawan Ahmad Ridhp mengatakan, kritik kepada Amien Rais merupakan sikap sayang terhadap mantan Ketua Umum PP Muhammadiyah itu. “Di Muhammadiyah kritik itu biasa. Berbeda sikap dalam politik, tetapi kalau untuk Muhammadiyah, Islam dan bangsa Indonesia harus bersatu,” pungkas Immawan Ahmad Ridho.

Sumber Berita : https://suaranasional.com/2018/10/05/forum-muhammadiyah-garis-lurus-amien-rais-keluarga-merusak-muhammadiyah-dan-islam/

Gardu Banteng Marhaen: Kubu Prabowo Penyebar Hoax Sejati

Kubu Prabowo Subianto penyebar berita bohong (hoax) sejati dengan adanya pengakuan dari Ratna Sarumpaet. Demikian dikatakan Koordinator Gardu Banteng Marhaen Sulaksono Wibowo dalam pernyataan kepada suaranasional, Jumat (5/10). “Fadli Zon, Fahri Hamzah ikut menyebarkan berita hoax juga,” paparnya. Kata Sulaksono, pengakuan Ratna Sarumpaet membuktikan Tuhan sayang kepada Presiden Jokowi. “Selama ini Presiden Jokowi selalu difitnah kelompok oposisi seperti Fadli Zon, namun Gusti Allah mbuten sare (Tuhan Tidak Tidur). Faktanya penyebar hoax juga dari oposisi,” jelas Sulaksono. Sulaksono mengatakan, pasca pengakuan Ratna Sarumpaet, rakyat Indonesia tetap memilih Jokowi dua periode.
 
Prabowo Subianto, Sandiaga Uno dan Dahnil Anzar Simanjuntak (Dok Dahnil)
Sumber Berita : https://suaranasional.com/2018/10/05/gardu-banteng-marhaen-kubu-prabowo-penyebar-hoax-sejati/

Re-Post by MigoBerita / Sabtu/06102018/11.12Wita/Bjm
Baca Juga Artikel Terkait Lainnya