» » » » » » » » » HUJAN LEBAT GUYUR KALSEL !!! Kontroversi DEMO Mahasiswa hingga Anak Pelajar setingkat SMA.. ada apa??

HUJAN LEBAT GUYUR KALSEL !!! Kontroversi DEMO Mahasiswa hingga Anak Pelajar setingkat SMA.. ada apa??

Penulis By on Rabu, 25 September 2019 | No comments

Mengungkap Gerakan IM/PKS, Biang Kerusuhan dan Propaganda

Melihat serangkaian kerusuhan yang terjadi belakangan ini, demo yang massif digerakkan di beberapa wilayah, kita sudah tahu bahwa hal ini memang dikondisikan. Ada penggeraknya, ada donaturnya, ada eksekutor dan korban-korban doktrinnya. Tapi pertanyaannya, siapa? Dan bagaimana?
Bagaimana caranya mereka membangkitkan gelombang demo mahasiswa, yang selama beberapa tahun ini jarang sekali melakukan demo. Bahkan kita hampir dibuat lupa, karena demo sempat identik dengan 212. Bagaimana caranya kelompok ini menggerakkan anak-anak SMA dan STM yang tak tahu apa-apa? para pelajar yang tak paham politik dan tak paham apa RUU KUHP. Tapi berhasil didoktrin dengan satu kalimat kebencian, bahwa aturan tersebut mengatur aturan-aturan seksual antar suami istri.
Narasinya sama seperti para mahasiswa, selangkangan bukan milik negara, ngewe aja masa diatur dan sebagainya. Demonstrasi beda hari, tapi satu narasi. Siang agak tenang, malam beringas. Bukankah itu artinya ini satu komando?
Semalam salah seorang teman saya mengomentari video briefing orang-orang KPK dari dalam kantor lembaga negara tersebut.
“Coba jangan lihat KPK nya. Lihatlah oknum dan backgroundnya,” katanya.
“Tapi kan dia emang orang KPK, bahkan pegawainya ikut demo kok!”
“Iya, paham. Tapi KPK itu lembaga negara, harus kita selamatkan dari penjajahan organisasi titik-titik itu,” jawabnya.

Seketika saya langsung sadar, bahwa kita sedang dikecoh dengan narasi dan propaganda busuk Ikhwanul Muslimin. Pemilihan gedung KPK itu memang disengaja, agar kita terfokus menyerang KPK sebagai lembaga. Saya bahkan curiga video briefing tersebut disebarkan sesuai jadwal yang telah direncanakan dengan sangat matang. Agar publik terfokus pada KPK sebagai dalang, lalu melupakan organisasi internasional atau partai politik yang melatar belakanginya.
Tapi sebelum saya membahas lebih jauh, patut dicatat bahwa pada prinsipnya, tak semua orang PKS itu ikhwanul muslimin. Tapi, Ikhwanul Muslimin di Indonesia, secara partai, mayoritasnya berada PKS. Maka jangan heran kalau orang seperti Fahri Hamzah belakangan berkonflik dengan PKS, kemudian membelot ikut mendirikan partai baru, Garbi.
Mungkin teman-teman pembaca Seword masih ingat. Dulu ketika KPK menetapkan Lutfi Hasan Ishaq sebagai tersangka korupsi, Hidayat Nurwahid langsung mengatakan bahwa penangkapan tersebut adalah bagian dari konspirasi Zionis. Mardani Ali Sera juga mengamini hal tersebut. Tapi Fahri Hamzah, Anies Matta dan kelompoknya, tak pernah mengatakan hal serupa.
Bayangkan, kasus yang terjadi di dalam negeri, tapi yang dituduh adalah kelompok di luar negeri. Bukankah ini menunjukkan bahwa dalam alam bawah sadar mereka, sejatinya memang organisasi asing? Sehingga musuhnya juga kelompok asing.
Lebih dari itu, Yusuf Supendi sebagai pendiri PKS, secara terbuka mengatakan bahwa pendirian partai tersebut dibantu oleh banyak tokoh Ikhwanul Muslimin dari Mesir dan Timur Tengah. Pada pemilu 1999, 90 persen biaya kampanye PKS dibantu oleh Ikhwanul Muslimin.
Pergerakan Ikhwanul Muslimin di Indonesia terbilang sangat rapi. Tak seperti ISIS yang condong eksis, cuma hura-hura tanpa kaderisasi atau pergerakan. Modusnya, mereka merekrut anak-anak muda dengan tawaran beasiswa. Fasilitas penuh.
Angkatan pertama mereka adalah Helmi, PKS, yang berhasul masuk IPB. Kemudian Imanudin melakukan penetrasi di ITB melalui Masjid Salman. Lalu yang terakhir adalah Sengkuni, bertugas di UGM.
IM tak hanya menyediakan beasiswa, bahkan juga bocoran soal ujian masuk perguruan tinggi negeri. Karena mereka menggaet atau menempatkan orang-orangnya di jabatan strategis sebagai rektor, wakil, dekan, bagian rekrutmen dan keuangan. Sehingga para calon kader yang mereka rekrut dapat masuk ke perguruan tinggi negeri terbaik.
Setelah masuk dan menjadi mahasiswa, para kader yang dibiayai ini didorong untuk terlibat dalam organisasi kemahasiswaan. Kemudian mereka yang punya potensi, didorong untuk bisa menguasai Badan Eksekutif Mahasiswa atau BEM.
Menurut informan Seword, ada dana 100 juta rupiah untuk setiap kader yang diproyeksikan untuk maju sebagai ketua BEM di beberapa kampus terbaik. Tujuannya jelas, untuk menguasai kampus agar sejalan dengan visi misi Ikhwanul Muslimin. Umumnya mereka ini loyal dan provokatif, nilai bagus atau kecerdasan hanya bonus, buka faktor utama. Sementara kader-kader yang memiliki nilai bagus, diarahkan untuk menjadi asisten dosen dan nantinya dijamin mendapatkan beasiswa ke luar negeri. Setelah pulang, mereka akan diarahkan untuk menguasai lembaga pendidikan, baik itu membangun sendiri atau mengambil alih milik swasta dan negeri.
Ujungnya, antar sesama kader ini kemudian dijodohkan untuk melahirkan sel-sel baru. IM lewat acara-acara liqo’ juga sangat aktif memberikan bimbingan dan arahan. Sehingga program penjodohan sesama kader, juga terjadi di level orang tua.
Semua kader-kader yang sudah lulus, diarahkan untuk masuk menyusup ke berbagai instansi pemerintahan. Ada juga yang bertugas menguasai masjid-masjid, untuk melakukan doktrin pada masyarakat luas.
Jaringan mereka di dunia pendidikan sudah begitu kuat. Lihatlah betapa mahasiswa yang punya akses mudah ke internet dan media, dibuat tutup mata dengan fakta yang ada. Bahkan, ucapan Presiden yang meminta penundaan RKUHP pun, ketua BEM mereka tidak tahu. Kenapa bisa begitu? karena mereka punya media sendiri dan selalu didoktrin untuk tidak percaya pada media lain. sementara media mereka isinya propaganda dan hoax.
Bahkan sekarang, satu fakta terbaru menunjukkan bahwa mereka juga bisa menggerakkan anak-anak SMA dan STM. Anak-anak yang tak tahu apa-apa itu lahir dari sebuah lembaga pendidikan yang didirikan oleh IM, baik pendanaan maupun kadernya. Maka ketika pimpinan yayasan mereka bilang jihad, mereka akan jihad. Tak perlu alasan, tak perlu logika berpikir, yang penting ada perintah dari pimpinan.
Jelas bukan sebuah kebetulan kalau para BEM itu mendapat briefing dari Bachtiar Firdaus, yang juga merupakan kader PKS. Dan itu membuat kita sadar kenapa mereka tak mampu berargumen dengan data saat tampil di ILC bersama Pak Yasonna, karena mereka hanya mengikuti arahan dan briefing. Peduli apa sama data-data?
Bukan sebuah kebetulan kalau strategi demo dan kerusuhan memiliki pola yang sama. Kasus rasis mahasiswa Papua, dipicu oleh hoax bendera merah putih jatuh ke selokan. Aksi 22 Mei menolak Pilpres, dipicu oleh hoax real count BPN. Aksi RKHUP, dipicu oleh hoax dan opsus media.
Bukan sebuah kebetulan kalau Gejayan dipilih sebagai tempat aksi, selain karena ada sejarah pembunuhan mahasiswa, juga karena dekat dengan rumah Sengkuni. Sehingga lingkungan bisa mereka kuasai.
Bukan sebuah kebetulan kalau Papua yang sudah tenang dan berangsur pulih dari kasus rasis, dengan mudahnya diledakkan lagi berbarengan dengan aksi Gejayan. Ini semua karena satu komando.
Bukan sebuah kebetulan kalau satu-satunya partai yang menyesalkan dan berharap RUU KUHP disahkan, adalah PKS. Karena mereka, Ikhwanul Muslimin ini ingin memperpanjang situasi kerusuhan sampai terjadi chaos seperti di Mesir.
Agenda setting ini sudah diketahui oleh intelijen. Dan atas dasar itulah Presiden Jokowi menyampaikan penundaannya. Karena Presiden tahu, ini bukan wilayah perdebatan pro kontra terkait pasal-pasal, tapi tentang sebuah rencana yang disiapkan secara matang oleh kelompok IM. Tujuannya untuk memisahkan kelompok mahasiswa dari kalangan IM, dengan mahasiswa yang benar-benar menuntut revisi atau evaluasi RUU.
KPK, Gerindra, Prabowo dan Mahasiswa Papua, semuanya hanya target operasi mereka, memanfaatkan momentum dan emosi sesaat. Gerindra dan Prabowo kemudian sadar dan berdamai dengan Jokowi, tak perlu heran kenapa PKS paling getol menyerang pertemuan tersebut. KPK juga akhirnya punya pimpinan baru dan setuju dengan adanya badan pengawasan.
Pada akhirnya, ribut-ribut ini adalah bukti nyata, bahwa perang ideologi sedang terjadi di Indonesia. HTI dan sejenisnya itu hanyalah dayang-dayang pendukung, saudara sekandung. Tapi pada intinya sama, ideologi khilafah dan menetang Pancasila. Bisnis pelengseran, mengambil alih kekuasaan.
Dan wajar saja kalau Menkumham bilang sudah punya bukti terkait aktor biang keroknya. Bertanya pada mahasiswa yang masih melakukan aksi padahal tuntutannya sudah dikabulkan
"apa yang mau diambil di jalan sana? menjatuhkan pemerintah? thats the way you do it? main paksa? itu memang caranya. Kalau semua orang main paksa dengan caranya sendiri, thats the way you do it? to rule a nation?"
Mengungkap Gerakan IM/PKS, Biang Kerusuhan dan Propaganda
Sumber Opini : https://seword.com/politik/mengungkap-gerakan-impks-biang-kerusuhan-dan-NPEJnp36A4

Usung 10 Tuntutan, Aksi Mahasiswa Kalsel Diikuti Sejumlah Pelajar SMA/SMK

MASSA mahasiswa lintas kampus terus berdatangan memenuhi ruang Jalan Lambung Mangkurat, depan Kantor DPRD Kalsel di Banjarmasin, Kamis (26/9/2019).  Dengan mengenakan jaket almamater dari perguruan tinggi masing-masing, ribuan mahasiswa dan pelajar ini menggelar aksi unjuk rasa.
BERKUMPUL di depan halaman Masjid Raya Banjarmasin, Jalan Jenderal Sudirman, mahasiswa dengan mengusung berbagai poster dan spanduk berisi tuntutan dan kecaman. Menariknya, dalam aksi kali ini, sejumlah pelajar SMA/SMK turut bergabung dalam orasi jalanan ini.
Massa kemudian berjalan menuju gedung parlemen daerah. Setibanya di jalan depan Gedung DPRD Kalsel, mahasiswa sempat saling dorong dengan aparat gabungan dari Polda Kalsel, Polresta Banjarmasin dan Brimobda Kalsel bersenjata lengkap.
Muaranya ketika mahasiswa diadang aparat yang berjaga ketika ingin masuk ke Rumah Banjar. Mahasiswa meneriakkan yel-yel yang membakar semangat dan menyanyikan lagu perjuangan.
“Satu komando, masuk, masuk, masuk,” teriak salah satu pentolan aksi mahasiswa lintas kampus yang ada di Banjarmasin dan Banjarbaru, terus merangsek. Namun, lagi-lagi mereka dihalangi barikade aparat kepolisian, TNI dan gabungan yang sangat ketat.
Tensi sempat mereda saat perwakilan anggota DPRD Kalsel seperti Wakil Ketua DPRD Kalsel sementara, Syaripuddin, anggota Fraksi Gerindra HM Lutfi Saifuddin, Troy Satria (Fraksi Golkar) dan lainnya mau menemui para mahasiswa.
Dalam gerakan aksi yang lebih besar ini, mahasiswa mengusung 10 tuntuntan yang disampaikan ke DPRD Kalsel. Salah satu koordinator aksi, Rizal Nagara mengungkapkan semua pasal karet yang ada dalam rancangan Undang-Undang bermasalah seperti RUU KUHP, RUU KPK, Minerba, Pertanahan, Pemasyarakatan dan RUU PKS harus segera dihapus.
“Membujuk pemerintah untuk menghentikan tindakan represif terhadap kawan-kawan mahasiswa maupun rakyat yang hari ini menyampaikan aspirasi,” kata Rizal Nagara.
Ketua BEM UIN Antasari ini mengatakan massa mendesak adanya  penundaan pembahasan ulang terhadap pasal-pasal yang bermasalah dalam RKUHP. “Kami menuntut kepada negara untuk mengusut dan mengadili elite-elite yang bertanggung jawab atas kerusakan lingkungan di beberapa wilayah di Indonesia,” kata Sekretaris Umum HMI Banjarmasin ini.
Rizal menjelaskan mahasiswa juga mendesak pemerintah mencabut pasal-pasal bermasalah dalam RUU Ketenagakerjaan yang tidak berpihak kepada buruh. “Kami menolak pasal-pasal problematis dalam RUU Pertanahan yang merupakan bentuk pengkhianatan terhadap semangat reforma agraria,” tegas Rizal.
Aktivis HMI ini menyebut massa mendorong proses demokrasi di Indonesia dan menghentikan penangkapam aktivis di berbagai sektor. “Kami mengecam pemerintah Indonesia terkait segala tindakan kekerasan dan penindasan terhadap warga/masyarakat Papua, dan mengajak DPRD Kalsel menolak segala RUU yang dianggap bermasalah,” pungkas Rizal.

Sumber Berita : http://jejakrekam.com/2019/09/26/usung-10-tuntutan-aksi-mahasiswa-kalsel-diikuti-sejumlah-pelajar-sma-smk/

Demo Sempat Ricuh, Mahasiswa-Polisi Terlibat Aksi Saling Dorong

AKSI besar-besaran untuk turun ke jalan dilakoni ribuan mahasiswa dari berbagai perguruan tinggi di Banjarmasin dan Banjarbaru, juga diikuti para pelajar SMA/SMK di depan Gedung DPRD Kalsel, Jalan Lambung Mangkurat, Banjarmasin, Kamis (26/9/2019).
MASSA pendemo yang dikoordinir Ghulam Reza dari Uniska Banjarmasin, Rizal Nagara (UIN Antasari) dan Sandi (Universitas Lambung Mangkurat), mulai merangsek masuk ke Gedung DPRD Kalsel.
Namun, aksi mereka diadang barikade ketat aparat kepolisian dengan tameng. Sempat ricuh, barisan mahasiswa dan polisi sempat terlibat aksi saling dorong. Bahkan, blokade polisi sempat jebol ditembus mahasiswa, yang terus mendorong untuk segera dipertemukan dengan wakil rakyat di Rumah Banjar.
Pengamanan ini pun langsung dipantau Kapolda Kalsel Irjen Pol Yazid Fanani dan Wakil Kapolda Kalsel Brigjen Aneka Pristafuddin dari depan Gedung BCA. Skema pengamanan dengan pagar betis ditambah dua unit mobil watercannon disiagakan, jika nanti aksi berujung anarkis.
Bahkan, polisi sempat mengamankan dua mahasiswa yang dianggap memprovokasi rekannya. Namun, sebelum usai aksi, mahasiswa itu kembali dilepaskan. Menariknya, dalam aksi kali ini, ratusan siswa SMK se- Banjarmasin juga ikut para senior dalam mengusung tuntutan penolakan terhadap RKUHP, revisi UU KPK, serta UU lainnya yang tak berpihak kepada publik.
Kericuhan ini pun mereda ketika Wakil Ketua DPRD Kalsel Syaripuddin dan beberapa anggota dewan lainnya datang, dan mau duduk lesehan di aspal untuk berdialog.

Sumber Berita : http://jejakrekam.com/2019/09/26/demo-sempat-ricuh-mahasiswa-polisi-terlibat-aksi-saling-dorong/

Korlap Demo Mahasiswa Kena Pukul, Dialog Terpaksa di Jalan Lambung Mangkurat

AKSI unjuk rasa massa mahasiswa lintas kampus di Banjarmasin dan Banjarbaru hingga diikuti para pelajar SMA/SMK nyaris saja berakhir ricuh dengan petugas keamanan gabungan di Jalan Lambung Mangkurat, depan Gedung DPRD Kalsel, Kamis (26/9/2019).
MEREKA secara berkelompok saling dorong saat mencoba masuk ke dalam gedung DPRD Kalsel untuk menemui anggota parlemen daerah. Namun, aksi ini diadang barikade polisi dengan tameng.
Adu mulut antara mahasiswa dengan petugas kepolisian tak terelakkan. Dalam pantauan jejakrekam.com, setidaknya ada dua pendemo yang diamankan petugas. Namun, tak beberapa lama, dilepaskan kembali bergabung ke barisan mahasiswa dan pelajar. Bahkan, Koordinator Wilayah (Korwil) BEM se-Kalimantan Selatan Muhammad Ghulam Reza, sempat terkena pukulan oknum aparat.
“Walau kami terkena pukul, kami tetap memaafkatn polisi. Kami berharap bapak-bapak DPRD mencontoh jiwa besar mahasiswa,” kata Ghulam.
Setelah sempat bersitegang, situasi sedikit mereda, saat sejumlah anggota DPRD Kalsel menemui massa. Mahasiswa meminta polisi yang berjaga untuk duduk bersila dan menanggalkan atribut keamanan.

Namun petugas bergeming menuruti permintaan mahasiswa. Wakil Ketua DPRD Kalsel sementara, Syaripuddin menjelaskan kepada para mahasiswa hanya mengizinkan sekitar 100 perwakilan bisa masuk ke gedung dewan. Namun, lagi-lagi aparat kepolisian melarang dengan alasan demi keamanan gedung parlemen.
“Kami ingin saja kalian masuk tapi setelah kami berdiskui dengan polisi, prosedur keamanan tidak memungkinkan itu,” kata Syaripuddin dari FPDIP, didampingi sejumlah anggota DPRD Kalsel.
Namun penjelasan Sekretaris DPD PDIP Kalsel ini tidak membuat mahasiswa puas, mereka tetap ingin masuk. Bahkan mahasiswa menyampaikan mosi tidak percaya kepada kepolisian dan DPR RI. “Hari ini, DPR sudah menjadi Dewan Pengkhianat Rakyat, Dewan Pemerkosa Reformasi,” teriak mahasiswa.
Massa pun menyerahkan nisan simbol kematian demokrasi. Hingga berita ini diturunkan massa masih berorasi dengan pelantang suara di depan Gedung DPRD Kalsel. Dialog antara para pendemo dengan wakil rakyat ini terpaksa digelar di Jalan Lambung Mangkurat, dengan pengawalan ketat aparat kepolisian.

Sumber Berita : http://jejakrekam.com/2019/09/26/korlap-demo-mahasiswa-kena-pukul-dialog-terpaksa-di-jalan-lambung-mangkurat/

Aksi Mahasiswa Makin Ngampret, Makin Menjijikkan!

Awalnya masih ada rasa simpati saya terhadap aksi mahasiswa. Saya akui bahwa apa yang mereka suarakan mungkin benar-benar dari kegelisahan mereka atas keadaan bangsa ini. Kalau itu yang disuarakan, maka saya apresiasi.
Tetapi lama kelamaan, aksi mahasiswa ini makin tidak jelas. Tuntutannya makin beragam dan makin absurd. Rasa tuntutan mahasiswa seperti nano-nano yang menjijikkan. Hanya ada satu tuntutan yang bertahan, yaitu penolakan RUU KPK. Kenapa?
Mungkin karena Presiden sudah mengabulkan tuntutan lainnya. Mungkin juga karena tuntutan yang lain itu tidak mereka pahami atau katakanlah tuntutan lain itu hanya berdasarkan hoaks yang disebarkan di media sosial untuk memprovokasi mereka. Maka ketika isu itu ternyata hoaks, maka mereka tidak menuntutnya lagi. Atau bisa jadi, tuntutan RUU KPK tersebut sudah mereka kuasai sedemikian rupa sehingga mereka tetap mempertahankannya. Ya percuma dong dibriefing KPK kalau mereka tidak paham soal tuntutan RUU KPK.
Tetapi justru di situlah kelemahan mereka. Ketika tuntutan mereka sudah dikabulkan Jokowi dan mereka tetap melakukan aksi, saat itulah ketahuan bahwa sebenarnya agenda mereka hanya RUU KPK demi KPK. Tujuan akhirnya adalah memaksa presiden antara mengeluarkan Perppu atau mundur. Selesai.
Sayangnya mereka tidak sadar bahwa memang mereka dikondisikan demikian agar aksi mereka dapat digunakan pihak tertentu. Mereka dikondisikan agar tetap menyuarakan penolakan terhadap RUU KPK sementara itu agenda lain dijalankan yaitu menciptakan kerusuhan di mana-mana agar keadaan semakin kacau.
Tetapi sebagian mahasiswa masih bisa dikontrol. Sebagian lagi sudah masuk perangkap atau memang bagian dari skenario untuk bertindak sebagai pemancing keributan dan memprovokasi mahasiswa yang menyuarakan aspirasinya. Itulah sebabnya daya hancurnya kurang efektif, tidak mampu menciptakan batas minimum kericuhan seperti yang diinginkan.
Mereka sudah mengerahkan mahasiswa yang disusupkan. Mereka juga sudah memanfaatkan ibu-ibu kecentilan sebagai provokator. Serangan dan provokasi di media sosial pun sudah digencarkan. Eh malah daya gedornya masih tetap sama saja, tidak mencapai batas minimum kekacauan.
Untuk menambah daya hancur dan efek kacaunya, anak-anak ingusan (SMP/SMA/SMK) mulai diprovokasi. Anak-anak ingusan yang tidak tahu apa-apa diajak ikut berdemo. Meskipun anak-anak ini tidak tahu apa-apa, mereka tetap ikut karena diiming-imingi bayaran Rp 40 ribu dan diberi nasi bungkus. Di lapangan mereka hanya teriak seadanya saja, yang penting ribut dan rame.
Terbukti ketika anak-anak itu ditanyai, mereka tidak tahu apa yang mereka suarakan. Mereka tidak paham aksi itu sebenarnya aksi apaan. Mereka hanya ikut saja karena diajak dan diprovokasi melalui media sosial. Sebagian lagi ada yang termakan hoaks melalui TVOne – menurut pengakuan pedemo SMA.
Apa yang terjadi kemudian? Anarkisme. Mereka menghantam saja apa yang ada. Merusak apa yang bisa mereka rusak. Melempar apa yang bisa mereka lempar. Dan meneriakkan apa saja yang penting teriak. Sampai ada yang protes pemindahan ibu kota – isu ini berusaha menyerang Jokowi.
Apa yang dibangun di sini sebenarnya hanya kekacauan. Kekacauan akan melahirkan kekecewaan dari masyarakat. Kekecewaan masyarakat akan mungkin bentrokan dengan aksi massa. Bentrokan antara aksi massa dengan masyarakat umum akan melahirkan kekacauan yang jauh lebih besar. Kekacauan yang lebih besar pasti akan melahirkan suatu kesepakatan bahwa pemerintah tidak mampu mengatasi pergolakan di tengah masyarakat.
Itu masih demo di Jakarta. Di daerah lain bagaimana? Di daerah di mana Jokowi keok, tuntutannya bukan hanya soal RUU KPK. Polanya tetap sama bahwa demo penolakan terhadap RUU. Tetapi di daerah itu pasti akan berujung meminta Jokowi turun dan melakukan penghinaan terhadap simbol negara. Kalau yang ini memang kampret benaran karena mereka beraksi dilandasi kebencian – pembalasan atas kekalahan di Pilpres.
Dari semua aksi, bola panas akan mengarah pada satu titik, yaitu Jokowi dan pemerintahannya. Tidak ada yang lain. Tidak perlu mahasiswa bilang tidak ada niatan untuk menurunkan Jokowi, sudah pasti arahnya akan ke sana. Karena mereka tahu bahwa pemerintah tidak mungkin mengakomodir tuntutan mahasiswa saat ini juga.
Sebab dikabulkan atau tidak semua tuntutan mahasiswa itu, keadaan tidak akan berubah. Karena polarisasi dukungan sekarang sudah terjadi. Presiden Jokowi berada pada posisi yang sulit, serba salah dan pasti akan disalahkan.
Pokoknya, apa pun keputusannya, Jokowilah yang salah dan dipersalahkan! Itulah kampret.
Aksi Mahasiswa Makin Ngampret, Makin Menjijikkan!
Sumber Opini : https://seword.com/politik/aksi-mahasiswa-makin-ngampret-makin-menjijikkan-MdmRtfuTiJ

Dana Demo Kog Gak Habis-Habis Yah? Berapa Kira-Kira?

Saya serius bertanya. Berapa kira-kira biaya demo. Katakanlah yang demo 100 orang, harus berapa jumlah uang yang saya keluarkan agar mereka yang demo itu tetap kuat berteriak, tidak serak karena kehausan, tidak lemas karena kelaparan, tidak menyerah ketika disiram water canon, dan masih sanggup membakar ini itu serta menghadapi petugas?
Kalau dihitung Rp 100 ribu per orang, apakah sudah cukup? Tapi merekakan juga tidak mungkin hanya mau sakitnya saja dan harus ada jaminan kalau setelah demo terjadi sesuatu. Katakanlah luka memar. Baiklah kita genapkan maksimal Rp 300 ribu per orang. Maka jika dihitung, totalnya adalah Rp 30 juta. Wow….. Itu kalau 100 orang, bagaimana kalau seribu? Rp 300 juta cuy….
Kalau uang transportasi dan uang saku saja yang diuangkan dan logistik disediakan di lapangan, karena hanya sebagai uang lelah, berapa biayanya? Katakanlah uang lelahnya Rp 200 ribu – itu pun kecil untuk ukuran korlap dari daerah dekat Jakarta, tapi kita samakan sajalah. Biaya logistik untuk 100 orang dengan estimasi nasi bungkus Rp 25 ribu, maka totalnya adalah Rp 2,5 juta. Ditambah biaya transportasi dan uang saku, maka totalnya adalah Rp 22.5 juta. Kalau pesertanya 1000 orang, ya Rp 225 juta.
Hitung-hitungan di atas adalah demo yang dibiayai. Saya tidak menyebut demo-demo belakangan ini dibiayai semua. Ada memang yang tulus mau menyuarakan aspirasinya karena kegelisahan keadaan bangsa. Ada yang tulus menyampaikan aspirasinya karena terprovokasi hoaks. Tetapi ada juga yang karena dibayar. Minimal, peserta demo itu ditanggung logistiknya.
Apakah saya asal tuduh? Tidak juga. Ada bukti-bukti tak terbantahkan. Ada komunitas yang mendukung demo dengan menyediakan logistik berupa air mineral, kue dan nasi kotak – tujuannya untuk menambah kegaduhan. Ada juga yang mendukung berupa logistik atas dasar solidaritas. Tetapi ada juga yang sengaja membayar pedemo dengan harga beragam – Rp 40-50 ribu per orang.
Buktinya, coba saksikan video berikut ini:

Demo berbayar Rp 40 ribu per anak

Demo paling gokil, logistik tersedia 2 truk menyusul.

Demo ter-elite, makanannya roti bermerk OK OCE

Saya tidak sedang memfitnah mahasiswa loh yah. Saya di atas sudah mengapresiasi bahwa ada mahasiswa yang memang tulus menyampaikan aspirasinya. Tetapi ternyata ada juga peserta demo yang dibayar. Ada juga logistik yang disediakan untuk para mahasiswa.
Coba jelaskan siapa yang dengan tulus menyediakan logistik untuk para mahasiswa karena kepeduliannya terhadap KPK? Silakan mahasiswa jawab kalau bisa. Lah kalau ada yang seperti itu kog ya mahasiswanya dengan santai saja minum dari logistik yang sudah disediakan seolah sudah tahu akan ada air minum yang tersedia?
Kalau mau membantah saya, silakan bantah video di atas. Mau bilang itu bukan mahasiswa? Bagaimana mungkin saya percaya mahasiswa tidak dibayar kalau mereka sampai mau rela luka-luka padahal mereka tidak tahu apa yang mereka sedang perjuangkan? Jawab saja!
Hanya ada satu cara untuk membuktikan bahwa mahasiswa tidak dibayar dan tidak dibiayai, yaitu cari tahu siapa yang menyediakan logistik sampai dua truk itu dan apa alasannya, siapa yang bayar anak-anak demo. Jika tidak bisa membuktikan itu, maka bukti saya tidak terbantahkan.
Tapi kalau mahasiswa merasa tidak dibayar, ya sudahlah. Biarlah hanya kamu dan Tuhan yang tahu. Toh dosa tanggung masing-masing. Saya mau bahas yang terbukti didanai sajalah.
Kalau per anak dibayar Rp 40 ribu, maka dengan estimasi 300 anak-anak SMP/SMA/SMK yang ikut, bohir demo akan mengeluarkan dana sekitar Rp 12 juta. Logistiknya dua truk nasi kotak (plastik) kira-kira seharga Rp 15 ribu per kotak. Maka biaya logistik sebanyak Rp 4,5 juta. Maka hanya untuk anak-anak penambah kekacauan saja harus keluarkan biaya Rp 16,5 juta. Waduh…. Satu sepeda motor itu.
Katakanlah anak-anak itu kita kategorikan sebagai penyusup atau pedemo yang berbayar karena mereka memang masih di bawah umur. Kira-kira berapa penyusup yang ada di antara mahasiswa di demo Jakarta saja? Berapa daerah mereka tempatkan penyusup? Anggaplah setiap daerah mereka menyusupkan 100 orang dengan pendanaan seperti di atas – bukan yang untuk anak-anak. Berapa biaya yang harus dikeluarkan bohir? Estimasi saya, mereka pasti menghabiskan lebih dari Rp 1 M-an setiap hari demo. Kali tiga hari. Anda hitung saja sendiri.
Siapa yang akan sanggup membiayai demo seperti itu? Siapa lagi kalau bukan orang kaya yang punya kepentingan politik. Siapa lagi kalau bukan orang kaya yang mendapat keuntungan dari kacaunya Indonesia. Bejatkan?
Makanya mahasiswa itu, kalau tidak mau disusupi, kalau tidak mau dituduh sebagai pedemo bayaran, maka gunakanlah hak konstitusionalmu itu secara konstitusional. Jangan malah dengan cara-cara jalanan. Toh tuntutanmu sudah dikabulkan, kamu sudah menang. Ya kalau tidak mau dituduh lagi sebagai demo mahasiswa bayaran, ya sudahi saja. Silakan berjuang di jalur yang sudah disediakan dan jauh lebih elegan dari pada di jalanan.
Dana Demo Kog Gak Habis-Habis Yah? Berapa Kira-Kira?
Sumber Opini : https://seword.com/politik/dana-demo-kog-gak-habishabis-yah-berapa-kira-GTNr3g8tfg

Anies Siapkan Biaya Pengobatan, Ambulan Pemprov DKI Siapkan Batu & Molotovnya.

Gokil, gokil sekali Gubernur seiman yang maha kuasa itu.
Maha kuasa menggunakan jabatannya sebagai Gubernur pilihan 52% warga Jakarta, untuk kucing-kucingan, berani menyakiti Polisi dengan amunisi batu hingga bom molotov.
Tapi kita harus percaya, percaya bahwa dari semua tata kata yang bakal dia lontarkan hari ini, dia tidak ada sangkut pautnya. Kita wajib meyakini perkataannya yang mutlak itu didalam hati, bahwa Anies tak terlibat dalam mobil-mobilan ini. Tapi kita harus mengimani Anies karena telah menjadi juru selamat bagi para demonstran yang terluka. Karena ada fotonya, juga ada selebaran deklarasi pengobatannya.
Anies, sang ahli menata kata itu benar-benar pahlawan. Pahlawan bagi mereka, Gerindra, PKS, dan siapapun yang menunggangi APBN Jakarta untuk digunakan dalam kepentingannya saja.
Demo parah ini terulang lagi, 22 Mei lalu pernah terjadi. Polanya pun mirip seperti ini, dahulu kala, Anies pun juga selalu mensupply pengobatan gratis. Tak ada yang berubah, yang berubah hanya mobilnya saja. Dahulu, yang mengantar batu saat 22 mei itu adalah Ambulan milik Gerindra, sedangkan kini dari Pemprov DKI punya.
Oh Anies, diriku sangat penasaran dengan klarifikasi apa yang akan kau lontarkan pagi ini. Beberapa kalimat mungkin sudah saya siapkan sebagai tebak-tebakan. Bukan kami, bukan pemprov DKI, ambulannya dicuri. Mungkin kalimat itu bisa anda pakai pak.
Saya tau, kamu benci rencanamu gagal. Sepupumu, Novel Baswedan, kini tak punya kuasa lagi di KPK. Tak ada kuasa sadap menyadap lagi, tak ada kuasa lagi membidik parpol khusus yang menjadi lawanmu.
Saya tau kamu memang bercita-cita menjadi R1, Jika memang parpol tak terlibat menunggangi anda dibalik ambulan ini, maka perlu kami percaya bahwa KPK kerabatmu itulah yang kau dukung penuh.
Yang sabar ya Anies.
Banyak cara ke negeri cina, apalagi sebentar lagi memasuki akhir september, bulannya komunis di Indonesia.
Dimulai dari mahasiswa, turun ke anak SMA, kau dukung pula dengan mengucap terserah kepala sekolah. Aku tau rencanamu belum usai.
Sudah terlihat, pendukung kadal gurun sudah bersiap. Poster bibib Rizieq mengajak revolusi sudah tersaji. Sekarang langkah apa yang akan kau tempuh nanti? Memang masih misteri.
Jika mahasiswa dan STM berdemo soal RUU, maka dengan tujuan apa kadal gurun bakal turun nanti? Saya tidak tau, tapi saya yakin, Anies sudah paham.
Karena Mahasiswa dan pelajar sifatnya sementara, sedangkan kadal gurun adalah prajurit yang setia. Anies memang masih punya kartu AS.
Sampai waktu demo mereka itu tiba, percantik lah lagi kucing-kucinganmu itu. Sudah cukup minuman berlogo ok oce terpampang. Sudah cukup banyak kadal gurun nyamar jadi mahasiswa, sudah cukup mobil ambulan pemprov DKI dipakai menyupplai amunisi. Sudahi kebodohan penyelenggara acara yang tak rapi ini. Rapikan propagandanya, ciptakan rekor pemujaan demi R1 di 2024 nanti. Teruntuk Anies yang maha benar.
Anies Siapkan Biaya Pengobatan, Ambulan Pemprov DKI Siapkan Batu & Molotovnya.

Prabowo Naik Alphard ISIS, Makanya Keok

Kemarin sore pulang kerja saya pangkas rambut saya dengan model terbaru yaitu tipis setengah cm di kiri dan kanan, serta belakang kepala.
Yang diatas kepala sengaja saya minta tidak dipangkas supaya terlihat agak tebal sedikit dengan model milenial jaman now. Ya dong kita harus menyesuaikan dengan kondisi jaman terkini supaya tidak ketinggalan jaman.
Sembari rambut saya dipangkas, saya menonton TV yang disediakan tukang pangkas rambut yang menayangkan berita tentang rusuh di Wamena, serta demo-demo mahasiswa, baik itu di Jakarta, Bandung, dan Jogja.
Kok bisa ya sangat kebetulan sekali aksi-aksi ganjen memanggil, eh salah, apa namanya lupa saya, aksi mahasiswa tolak revisi UU KPK dan RUU KUHP, dan chaos di Wamena, timingnya bertepatan dengan menjelang pelantikan pak Jokowi menjadi Presiden RI periode kedua pada tanggal 20 Oktober 2019 bulan depan.
Saya pun senyum-senyum sendiri, sembari bersin karena ada rambut yang masuk ke hidung saya, melihat kepanikan kubu sebelah yang masih belum legowo dan move on juga menerima kekalahan junjungan mereka pada pilpres 2019 ini.
Ada saja ulah busuk mereka untuk menjegal pelantikan pak Jokowi. Padahal kita semua tahu bahwa Prabowo dan kroni-kroninya adalah dapur Hoax yang paling produktif dan pendukung khilafah sepanjang masa, now and forever.
Mereka juga lupa bahwa salah satu faktor tumbangnya Prabowo Subianto pada perhelatan pilpres 2019 ini, yaitu gegara junjungan mereka yang sok-sokkan naik mobil Alphard dimana pemilik mobil Alphard tersebut berafiliasi ke ISIS.
Mobil mewah Alphard yang digunakan Prabowo untuk kampanyenya itu milik Chep Hermawan, dedengkotnya Gerakan Reformis Islam/GARIS Cianjur yang merupakan donatur 156 anggota ISIS di wilayah Irak dan sekitarnya.
Tidak tanggung-tanggung Prabowo dijamu, diberi sarana dan keistimewaan dari seorang yang punya potensi menjadi musuh negara yang akan meremukkan Pancasila jika misi terselubung mereka berhasil.
Serem, bukan? Tapi itulah fakta. Stigma miring dan phobia terhadap gerakan khilafahisme sudah melekat kuat dalam hati sanubari mayoritas rakyat Indonesia. Makanya Prabowo tumbang tanpa ampun.
Demi meraih mimpinya menjadi Presiden yang tak kunjung diraihnya itu, Prabowo nekat berafiliasi dengan kaum penyokong gerakan terorisme dunia sekaliber ISIS. Ini yang bikin saya mau tertawa ngakak nyaris salto jumpalitan, tapi takut kualat.
Mantan Jenderal kok bisa pikiran sesatnya itu mengalahkan kewarasan dalam kehidupan berbangsa dan bernegara sebagai negarawan yang sejatinya harus punya spirit nasionalisme yang mumpuni.
Prabowo Subianto terlalu berani mempertaruhkan ambisinya dan masa depan NKRI, hanya lantaran nafsu ingin menang jadi Presiden RI, sementara rakyat yang jumlahnya 267 juta ini mayoritas menginginkan negarawan yang nasionalisme dan Pancasilais.
Prabowo mungkin saat itu berpikir dengan memanfaatkan kelompok kadal gurun model begini ini maka dia akan mendulang suara dan menang Pemilu.
Prabowo pun terlena dan terbuai dengan nafsu akan potensi jumlah suara yang akan diraupnya. Hadirnya Prabowo bersama dedengkot ISIS Indonesia Chep Hermawan itu membuat mayoritas rakyat menjadi was-was, mau dibawa kemana negara yang besar ini.
Bagaimana mungkin seorang capres berakrab ria dan dijamu oleh tokoh teroris yang afiliasinya menghancurkan negara besar sekaliber Suriah sampai hancur berkeping-keping. Tentunya ada deal-deal politik khusus agar gerakan khilafah bisa bebas lepas kelayapan di negara ini.
Fakta kehadiran Prabowo dirumah Chep Hermawan dan sekaligus menaiki mobil mewah Alphard milik yang bersangkutan adalah bukti sahih yang tak terelakkan bahwa mayoritas rakyat waras menolak mentah-mentah gerakan khilafahisme dan terorisme di NKRI tercinta ini.
Sejarah mencatat bahwa bangsa kita sejak para pendahulu bangsa sudah final dan tidak bisa ditawar-tawar lagi memilih Pancasila sebagai nafas dan ideologi bangsa.
Negara dengan berbagai ragam suku, bahasa, dan agama ini sudah semestinya denyut nadi, detak jantung, dan aliran darah bangsa harus Pancasilais. Karena Pancasila adalah takdir bangsa, maka wahai para kadal gurun berhentilah berhalusinasi untuk mengggantinya.
Saya berharap agar para tim hore yang belum legowo dan move on dengan kekalahan Prabowo agar tidak menunjukkan kedunguan mereka lagi kepada masyarakat dengan menciptakan intrik-intrik busuk dengan tujuan untuk menjegal pelantikan Presiden Jokowi pada tanggal 20 Oktober 2019 ini.
Yang perlu mereka catat baik-baik, yaitu kemenangan Jokowi-Ma'ruf Amin itu karena kehendak Allah dan kehendak mayoritas rakyat waras yang cinta NKRI. Jadi jangan ngaco.
Pun juga, suka tidak suka, fakta dan sejarah mencatat bahwa pak Jokowi adalah ahli strategi, sehingga dari masa ke masa para lawannya selalu gigit jari. Mau intimidasi seperti Pilkada DKI, yang mereka hadapi adalah pak Jokowi, sang ahli strategi. Makanya tumbang.
Kalau kita bicara soal sholat, silahkan bandingkan cara sholat pak Jokowi dan Prabowo. Kalau bicara soal prestasi, bandingkan prestasi pak Jokowi dan Prabowo. Kalau bicara soal pengalaman dalam memimpin, bandingkan pengalaman memimpin pak Jokowi dan Prabowo. Jadi sudah jelas, bukan?
Intinya kami mayoritas rakyat waras memilih Jokowi karena kami cinta pemimpin yang pekerja keras dan tanpa pamrih. Mayoritas rakyat waras memilih Jokowi karena optimis akan masa depan bangsa, bukan calon pemimpin yang pesimis bahwa Indonesia akan bubar pada tahun 2030.
Idealnya pemimpin yang baik adalah pemimpin yang memiliki kemampuan intelektual yang tinggi, bermartabat, punya kharisma yang kuat dan membius, punya gaya bicara yang to the point tanpa tedeng aling-aling dan tanpa inflasi kata-kata bersayap.
Bagi kami yang waras ini, pak Jokowi adalah pemimpin yang memiliki visi dan misi yang jelas, pekerja keras, dan punya kapabilitas manajerial serta tingkat kepercayaan diri yang tinggi. Masih belum paham juga ente?
Prabowo Naik Alphard ISIS, Makanya Keok
Sumber Opini : https://seword.com/politik/prabowo-naik-alphard-isis-makanya-keok-BWr8VL2jPK

Demonstran Panas, Jokowi Tetap Dingin

Indonesia rame lagi! Demo maning. Kali ini yang demo para mahasiswa. Yang bila nanti mereka kelar sekolahnya, dipastikan jelas alumni dari mana.
Bukan seperti pendemo-pendemo yang 3 tahun belakangan begitu mendominasi khasanah perdemoan di Indonesia. Yang begitu selesai rame-rame, langsung menjadi alumni berdasarkan angka kalender.
Namun sepertinya kelompok ini tidak benar-benar in ansentia dari hajatan demo ini. Mereka tetap hadir. Walaupun tidak begitu nampak. Menjadi penumpang gelap. Atau setidaknya tersamarkan oleh jas almamater non-emblem yang dipakainya. Namun penampakan muka dan perawakan pasti tidak bisa bohong.
Keikutsertaan mereka ini agaknya mengikuti arahan sang Imam Besar sang sedang bermukim di Saudi Arabia sono. Begini bunyi himbauannya yang didapat dari meme yang bersliwar dan bersliwer di dunia maya!
SERUAN IB-HRS:
AYO RAKYAT INDONESIA TURUN SEMUA BERSAMA MAHASISWA…. !
AYO SELAMATKAN NKRI…. !!
AYO TURUNKAN JOKOWI…. !! !!
AYO REVOLUSI…. !! !! !!
Ada juga pesan berantai yang lebih bercanda. Begini,
Jokowi pasti turun.khabar nya masa 212 akan masuk jakarta semua tambah Mahasiswa Mahasiswa seluruh Indomesia akan berkumpul di Jakarta
*dan semua Buruh se indonesia.👍👍👍🇮🇩
Save indonesia sebelum dikuasai Gerombolan China Taipan dan Pejabat pribumi yg disuap Aseng hingga menjilat pantat China dan kepentingan China menguasai bangsa mu..pejabat kotor dan penghianat yg jadi kacung China via kekuasaan Jokowi yg jelas juga ber etnis China ngaku orang Solo*.
Lebih baik terlambat drpd negeri musnah dihabisi China komunis !!!
Yang lebih 'serius', ajakan-ajakan tersebut dibarengi juga dengan himbauan demi keselamatan mereka. Begini,
Mohon perhatian, jika ingin ikut demo, jgn ada yg menggunakan atribut lain selain atribut mahasiswa.
Krn begitu muncul atribut lain, maka akan dikambinghitamkan.
Hindari penggunaan atribut FPI, 212, 02, ormas islam dan gambar prabowo sandi...
Info dr rekan intelijen yg pro rakyat
Lalu, sebenarnya apa tuntutan demo kali ini?
Pendemo mengajukan penolakan terhadap revisi UU KPK yang telah disahkan. Juga menolak rencana pengesahan RUU KUHP, RUU Pertanahan, RUU Minerba, dan RUU Pemasyarakatan.
Nah Senin malam (23/9/2019), suasana demo sempat memanas. Para mahasiswa memaksa masuk ke Gedung DPR dengan memanjat pagar depan yang terbuat dari besi.
Presiden Joko Widodo (Jokowi) merespons enteng tuntutan mahasiswa aksi demo di depan Gedung DPR serta berbagai kelompok masyarakat yang menolak UU KPK hasil revisi itu. Presiden Jokowi juga memastikan tidak akan menerbitkan peraturan pemerintah pengganti undang-undang (perppu) untuk mencabut Undang-Undang tentang Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK).
Sementara itu, untuk tuntutan mahasiswa terhadap beberapa RUU yang isinya ditengarai bermasalah, Presiden Jokowi telah meminta DPR menunda pengesahan RUU tersebut.
Pak Jokowi meminta pengesahan RUU KUHP, RUU Pertanahan, RUU Minerba, dan RUU Pemasyarakatan tak dilakukan oleh DPR periode ini.
"Untuk kita bisa mendapatkan masukan-masukan, mendapatkan substansi-substansi yang lebih baik, sesuai dengan keinginan masyarakat. Sehingga rancangan UU tersebut saya sampaikan, agar sebaiknya masuk ke nanti, DPR RI (periode) berikutnya," kata Pak Jokowi.
Dinginnya respon Pak Jokowi ya memang seharusnya seperti itu. Pak Jokowi telah menentukan kepastiannya soal UU KPK. Tidak ada negosiasi. Pun seandainya ada pasal yang dipermasalahkan, telah ada jalur resminya, yaitu MK.
Bukan di jalanan, bukan pula di tangan Presiden.
Kepastian yang selanjutnya adalah, Presiden Jokowi telah memastikan bahwa pengesahan RUU KUHP, RUU Pertanahan, RUU Minerba, dan RUU Pemasyarakatan ditunda. Ini artinya Pak Jokowi memang mendengarkan aspirasi dari para masyarakat dan mahasiswa. Juga karena kesemua rancangan UU itu inisiatifnya dari pemerintah.
Kepastian selanjutnya, sepertinya telah terjadi salah paham. Salah paham nasional yang berhasil membuat aksi besar.
Kepastian yang terakhir, bahwa sebenarnya ada 'agenda lain' dari demo-demo ini. Ini ditunjukkan dari masih adanya kegiatan pasca adanya kepastian yang diberikan oleh Pak Jokowi sebelumnya.
Atas adanya "agenda lain" tersebut, pantas saja kalau respon Pak Jokowi atas adanya demo mahasiswa kali ini, dingin-dingin saja.
Lalu, kalau Pak Jokowi yang didemo saja anteng dan dingin-dingin saja, siapa dong yang kepanasan???
Ada beberapa. Pertama tentu saja "sang penyeru" tadi. Selain karena cuaca di sono yang dekat gurun pasir, "gagal maning gagal maning" juga semakin membuat dada penuh sesak panas membara.
Kedua tentu saja "sang pendana". Menyediakan dana untuk ongkos jahit jas almamater aneka warna, nasi bungkus, dan uang lelah tentu perlu rupiah yang tidak sedikit. Belum lagi untuk ongkos bikin hestek. Mayan tekor, lah!
Yang terakhir tentu saja obyek penderita paling setia se-Indonesia saat ini. Para pembenci Pak Jokowi. Kaum salawi. Gembar-gembor *bikin meme dan begadang demi #turunkanJokowi jadi sia-sia berulang.
Akhirnya, dari apa yang terjadi ini, satu kata yang penting untuk pendemo dan pembenci Pak Jokowi adalah: BELAJAR LAGI!!!....
Demonstran Panas, Jokowi Tetap Dingin

Gagal Jebak Jokowi, Penunggang Mahasiswa Tercerai Berai

Jokowi saat ini sedang dipojokkan dengan berbagai cara. Entah mengapa, mereka seolah baru terpikir untuk memanfaatkan, menunggangi dan menyusupi gerakan mahasiswa untuk agenda mereka. Agenda Mahasiswa sebenarnya hanya satu, yakni tunda pengesahan RKUHP dan kinerja sampah DPR.
Akan tetapi, para radikalis pengusung gerakan anti Pancasila dan kaum separatis itu memperbanyak agenda mereka. Kriminalisasi Papua, pelemahan KPK, kebakaran hutan dan lain-lain sebagainya itu, adalah add ons alias tambahan dianggap mengada-ada untuk memperkeruh suasana.
Untung saja Jokowi dan para tangan kanannya bergerak secara cepat. Sehingga upaya mengguncang Jokowi terancam gagal, lagi-dan lagi.
Kerusuhan Papua.
Jokowi melalui Moeldoko mengatakan bahwa untuk urusan kerusuhan Papua, mereka sudah menangkap beberapa provokator yang ternyata didanai oleh asing.
Nama Benny Wenda disebutkan dengan jelas oleh Moeldoko. Ia mengatakan bahwa ada pihak asing yang ingin bermain-main dengan kedaulatan Indonesia.
Polisi pun juga mengungkap peranan Veronica Koman dalam menghasut orang Papua. Mereka menjalankan tugas secara terstruktur, sistematis dan masif.
Mereka yang koar-koar cinta Papua, malah terlihat begitu gembira dengan pertumpahan darah yang ada di Papua itu. Mereka ingin separasi dari Indonesia, demi apa? Agar asing bisa melakukan intervensi.
Bahkan lebih jauh lagi, Moeldoko mengatakan bahwa ada orang yang ingin Papua rusuh, untuk menjegal pelantikan Jokowi di bulan Oktober. Jokowi akan dicap sebagai orang yang gagal menjaga kedaulatan negara. Jokowi diguncang di Papua. Akankah berhasil?
Rasanya, Moeldoko sudah menjawab itu. Dalam hal ini, BIN harus kerja keras untuk terus memantau Veronica dan Benny.
UU KPK
Jokowi, lagi-lagi melalui Moeldoko mengatakan bahwa KPK dan kebijakan yang selama ini tidak jelas, menghambat investasi perusahaan. Saya cukup yakin bahwa UU KPK ini memang perlu, untuk mengawasi iklim investasi di Indonesia. Mengapa?
Karena jika KPK bisa sewenang-wenang, takutnya polisi Taliban hanya akan memantau pengusaha yang agamanya berbeda. Kalau agamanya sama, nanti takutnya malah diberikan ruang dan tutup mata sebelah.
Nah ini yang dimaksudkan oleh Moeldoko dalam peranan KPK dalam menghambat iklim investasi. Tapi banyak kaum kucing garong menganggap bahwa Moeldoko sedang mendukung Korupsi. Dungu. Dengar yang lengkap. Maka UU KPK sebenarnya bukan agenda demo mahasiswa.
Kebakaran hutan
Lagi-lagi mau salahkan Jokowi untuk kebakaran hutan? Goblok kalian. Kebakaran hutan itu pada hakekatnya adalah tanggung jawab pemerintah daerah.
Dosa lama yang ditanggung Jokowi, adalah dosa dari si Sinterklas pemberi konsesi lahan terbanyak. Siapa orang yang memberikan konsesi lahan terbanyak di Indonesia?
Jangan bodoh. Kalau bodoh pun jangan berjamaah. Lagipula, Jokowi sudah turun ke Riau dan Kalimantan, meminta para aparat bergerak untuk menyiram dan memadamkan api.
Bahkan Jokowi melakukan doa untuk meminta hujan dan hujan turun. Sedangkan si Somad disuruh doa pun tidak mau. Loh kok tidak mau doa minta hujan? Mau jebak mahasiswa untuk dompleng Jokowi? Gagal.

DPR yang tidak becus.
Nah ini yang paling absurd dan yang paling tidak jelas dalam sejarah demonstrasi Indonesia. Kalau DPR yang tidak becus membuat UU yang ada, kenapa salahkan Jokowi? Apa salahnya? Secara struktur bernegara dan struktur pemerintah, DPR itu adalah bagian dari legislatif.
Presiden adalah bagian dari eksekutif. Maka dengan demikian, DPR yang salah, Jokowi gak ada hubungannya. Kalau mau salahkan, jangan salahkan Jokowi. Salahkan saja si Fadli Zon, Fahri Hamzah dan sebagainya untuk ketidakbecusan mereka.
DPR mah memang tidak becus. Mereka tidak bisa bekerja. DPR-RI yang sekarang ada apa? Tapi kalau DPR buruk, tidak mungkin dong kalian salahkan Jokowi. Memangnya dengan salahkan Jokowi, DPR-RI menjadi lebih bagus? Ya mustahil. Kalau kata bos, itu adalah hil yang mustahil.
Bagi saya, agenda-agenda ini sudah tidak murni lagi gerakan mahasiswa. Gerakan mahasiswa adalah murni, sedangkan orang-orang ini sangatlah politis. Gerakan politis semacam ini tidak memiliki basis dan akar yang kuat.
Jangan sampai Indonesia rusak hanya karena penyusup. Mahasiswa harus bersih dari susupan. Mengapa? Karena jika mahasiswa disusupi, akan menjadi seperti Saadit.
Begitulah sadis-sadis.
Gagal Jebak Jokowi, Penunggang Mahasiswa Tercerai Berai
Sumber Opini : https://seword.com/politik/gagal-jebak-jokowi-penunggang-mahasiswa-tercerai-berai-VVndFsrfu8

Diamnya Jokowi Merespons “Anak-Anaknya” yang Nakal

Bagi saya, Pakde Jokowi tak hanya memimpin negeri ini seperti seorang presiden dengan segala otoritas dan wewenangnya. Seorang Jokowi yang berasal dari keluarga yang harmonis, dengan hasil didikan yang terbilang bagus dan bisa menjadi model bagi negeri ini, sedang memimpin negeri ini dengan berusaha menjadi “Bapak” bagi semuanya.
Lihat saja bagaimana Pakde Jokowi berusaha menjadi “Bapak” yang baik bagi masyarakat Papua, yang selama puluhan tahun seolah menjadi anak tiri di negeri sendiri. Berbagai daya upaya, juga pembangunan infrastruktur dan kunjungan berkali-kali di pulau paling timur dari Indonesia itu, adalah wujud kesungguhan hati Pakde Jokowi untuk “lebih hadir” di sana selayaknya seorang Ayah terhadap keluarga besarnya.
Lantas, mengapa Pakde Jokowi terkesan diam dan cuek terhadap maraknya aksi demonstrasi yang seperti biasa berlangsung ricuh dan cenderung liar tak terkendali tersebut? Bagi saya, Beliau bukannya sedang diam atau cuek, tetapi sedang mencari cara yang pas untuk mengatasi kenakalan anak-anaknya yang masih muda, labil, dan lebih mengedepankan amarah daripada proses berpikir itu!
Jokowi seperti seorang ayah yang tentunya, saya amat yakin, sangat sedih dan kecewa dengan generasi muda di Indonesia yang sebagian ternyata masih belum mengalami “revolusi mental” di dalam diri mereka.
Demonstrasi yang berujung ricuh, dengan melakukan pelemparan benda membahayakan ke aparat keamanan, merusak fasilitas umum, dan menumpahkan amarah yang tidak jelas ... bukankah menunjukkan bahwa mereka masih perlu direvolusi mentalnya?
Menguji suatu produk Rancangan Undang-Undang (RUU), yang jika sudah menjadi Undang-Undang bisa dibawa ke Mahkamah Konstitusi sebagai jalur yang resmi dan konstitusional terasa seperti “makhluk alien” bagi mereka, para demonstran, yang saya yakin sebagian besar dari mereka tak paham mengenai hal ini.
Terlebih bagi para pelajar yang Rabu kemarin (25/9) mengadakan aksi demonstrasi yang terkesan liar, dimana pagi ini (Kamis) saya lihat sebagian wajah mereka saat disorot kamera lebih terlihat seperti orang yang kesurupan dan terbakar amarah daripada pelajar yang terdidik dan diajar untuk menjadi warga negara yang baik.
Coba tanyakan kepada orangtua masing-masing dari para pelajar yang berdemonstrasi itu. Mungkin mereka juga pusing bagaimana mencegah anak-anak mereka yang terkesan liar, nakal, brutal, dan membuat semua orang menjadi gempar itu. Lho kok malah lagunya Kera Sakti? Hahaha...!
Eh, ada kaitannya ding, dengan bagian akhir artikel ini. Rasanya pas juga kalau Pakde Jokowi kita ibaratkan tokoh Tong Sam Chong yang ada di serial Kera Sakti. Sebagai biksu dan pemimpin dari Sun Go Kong, Pat Kai, dan Wu Ching ... ketiga murid utamanya ... Biksu Tong memiliki cara yang spesial untuk mengendalikan kenakalan dan keliaran Sun Go Kong.
Semacam lingkaran emas yang melingkar di kepala Sun Go Kong menjadi senjata yang ampuh karena ketika Biksu Tong merapal kalimat doa (semacam mantera) maka lingkaran emas itu akan menyempit dan membuat Sun Go Kong mengerang kesakitan dan menghentikan kenakalannya.
Tentu saja tidak berkata bahwa Pakde Jokowi sedang mempersiapkan jurus apa saja supaya para demonstran muda di negeri ini mengalami “hajaran” supaya jera dan tak lagi berani turun ke jalan. Meskipun dengan otoritasnya, Beliau dapat melakukan dengan mudah, seperti memerintahkan semua kepala sekolah untuk langsung “memecat” siswanya yang kedapatan melakukan aksi massa pada hari sekolah.
Saya yakin tidak seperti itu. Hati Pakde Jokowi terlalu baik untuk mereka. Percayalah, beliau sedang memikirkan cara terbaik, sekaligus untuk mengajarkan kepada bangsa ini bagaimana menyampaikan aspirasi dengan lebih tertib, elegan, dan tanpa aksi-aksi anarkis yang dapat merugikan pihak lain, juga diri mereka sendiri.
Kalau Anies Baswedan sebagai “bapaknya warga Jakarta” sih tidak usah ditanya, karena tak bisa banyak diharapkan. Namun, kita berharap agar kali ini, seperti yang sudah-sudah, Pakde Jokowi juga bisa menemukan resep yang pas untuk menangani kenakalan anak-anaknya, supaya tidak lagi menjadi liar, nakal, brutal, dan menggemparkan negeri ini lewat aksi-aksi yang sama sekali tak menunjukkan bahwa (sebagian dari) mereka adalah generasi yang terpelajar.
Bagaimanapun, mereka adalah bagian dari generasi penerus di bangsa ini. Kalau sejak masa remaja dan mudanya saja begini, mau jadi apa kelak negeri ini? Jangan-jangan nanti mereka menjadi para pemimpin, pejabat negara, bahkan menjadi anggota DPR/MPR atau pimpinan partai dengan slogan "Senggol, Bacok!" tanpa bisa memikirkan solusi lain yang lebih elegan dan jauh dari kekerasan dan aksi layaknya koboi jalanan. Kan gawat jadinya?
Eh, yang sabar ya Pakde Jokowi. Anak-anakmu ini memang masih banyak yang nakal!
Diamnya Jokowi Merespons “Anak-Anaknya” yang Nakal
Sumber Opini : https://seword.com/politik/diamnya-jokowi-merespons-anakanaknya-yang-nakal-yPjMlR2k3E

Ngeri, Anies Seolah “Mendukung” Pelajar Berdemo dan Anarkis

Ngeri! Tidak habis pikir melihat sikap Anies Baswedan terhadap aksi pelajar yang ikut-ikutan berdemo. Benar-benar tidak habis pikir karena Anies yang juga mantan rektor, penggagas Indonesia mengajar, dan terakhir sebagai Menteri Pendidikan dan Kebudayaan (Mendikbud), meskipun akhirnya dipecat oleh Jokowi. Tetapi, diluar itu semua ada satu peran penting Anies, orangtua atau bapak dari ke empat anaknya.
Diketahui pada Rabu 25 September sejumlah pelajar STM dan SMK dengan berseragam pramuka berbondong-bondong membikin kegaduhan di depan Gedung DPR. Aksi yang menurut mereka ingin seperti kakak mahasiswa sehari sebelumnya, menyerukan penolakan terhadap RUU KUHP dan revisi UU KPK. Faktanya, mereka ini datang karena seruan atau ajakan Pergerakan STM Se-Jabodetabek di media sosial dan ataupun pesan dari Whatsapp. Artinya, mereka ini tidak sepenuhnya mengerti apa yang disuarakan atau diperjuangkan. Jauh berbeda jika kita bandingkan dengan mahasiswa yang lebih matang, dan umur pun diatas anak-anak pelajar rentang umur 14-18 tahun ini.
Tetapi persoalannya bukan itu. Persoalannya adalah sikap Anies Baswedan Gubernur DKI yang kok terlihat justru memberikan dukungan lewat ketidak tegasan pernyataannya. Ngambang nggak jelas, kumat seperti biasanya cari kambing hitam alias cari aman dengan pernyataannya bahwa setiap Kepala Sekolah khusunya STM negeri di Jakarta harus bisa menentukan kegiatan apa saja yang baik atau tidak bagi para peserta didiknya.
"Kepala sekolah adalah pemimpin di sekolah. Kepala sekolah bisa menentukan apakah sebuah sekolah anak-anaknya mengikuti kegiatan apa," kata Anies di Balai Kota Jakarta, Rabu (25/9/2019). Dikutip dari: liputan6.com
Hahah…tertawa sinis penulis melihat sikap anda Bung Anies! Sebagai gubernur, anda bisa begitu ribut dan ngototnya mengenai trotoar, daun lidah mertua, Formula E dan bahkan memperjuangkan pedagang kaki lima (PKL). Tetapi, pelajar yang notabene masih butuh bimbingan justru anda abaikan dan dibiarkan tumbuh menjadi monster?
Kebangetan adalah kata yang terlalu sopan untuk sikap Anies ini. Jika kita kembali ke belakang sekitar tahun 2014 saat Ahok masih menjabat sebagai Pelaksana Tugas (Plt) Gubernur DKI Jakarta. Ketika itu tegas Ahok pernah mengeluarkan instruksi kepada Dinas Pendidikan DKI Jakarta untuk melarang aktivitas beberapa kelompok anak muda di Jakarta. Instruksi yang diterbitkan Ahok menyingkapi maraknya tawuran dan kasus bullying di sekolah-sekolah. Tercatat ada 15 geng waktu itu yang dibubarkan dan dilarang keras beraktivitas di Jakarta.
"Kita sudah bubarin gangster-gangster. Kita sudah tahu sekolah ini nama gangsternya apa. Sudah macem-macem," ucap Ahok di Balaikota Jakarta, Jumat (14/11/2014). Dikutip dari: liputan6.com
Bayangkan kontradiksi sekali dengan sikap Anies yang justru secara tidak langsung mendukung para pelajar berdemo, dan bahkan terburuknya sengaja membiarkan tumbuh subur generasi anarkis.
Aksi anarkis, dengan menyerang aparat, pengerusakan, dan intimidasi bagaimana mungkin hanya direspon Anies datar, dan tidak terdengar sama sekali nada mengecam entah itu jujur atau bahkan pura-pura saja sekalipun seperti biasanya.
Para pelajar ini memang bukan proyek yang mendatangkan pundi-pundi, tetapi paling tidak sebagai mantan Mendikbud apa tidak bisa Anies mengeluarkan pernyataan yang sedikit berbobot, mendidik atau waras?
Mereka itu masih anak-anak! Apa tidak ada sedikit saja kekhawatiran Anies mau kemana bangsa ini jika generasi mudanya bersikap anarkis akibat ikut-ikutan demo. Kok lucu justru komentar Anies, mengembalikan semuanya kepada pihak sekolah dan anak itu sendiri. Ngelawak atau bagaimana Nies? Mana cukup hanya dengan mengingatkan pelajar yang menggelar unjuk rasa di DPR agar menghindari tindakan yang memiliki konsekuensi pidana. Mereka itu bukan anak kecil lagi! Larangan kepada mereka tidak cukup dengan susunan kata bro!
"Jangan lakukan pelanggaran hukum, tindakan-tindakan yang memiliki konsekuensi hukum," ujar Anies di Gedung DPR RI, usai rapat kerja di Komisi II soal pemindahan ibu kota, Rabu 25 September 2019.
Hahah….sedang ngapain anda ini Bung Anies? Ooo…mungkin karena keasyikan ngurusi “proyek” lalu lupa cara jadi orangtua? Buka dong mata anda bung! Aksi pelajar yang terjadi sudah jauh dari kata bisa ditolerir! Bandingkan dengan sikap Ahok tahun 2014 bahkan gangster saja dibubarkan karena identik dengan kekerasan dan kejahatan. Jauh Ahok bersikap, menyadari kemungkinan gangster akan melahirkan manusia-manusia pembangkang yang anarkis karena bibit itu sudah terlihat.
Ngeri, karena justru kini yang dilakukan Anies membiarkan bibit itu tumbuh subur dengan dalil kebebasan berpendapat. Padahal aksi yang baru saja terjadi itu mengganggu stabilitas nasional bung! Jangan terlalu naif anda. Sebagai orangtua dari keempat anak anda, apakah begitu cara anda membesarkan? Membiarkan anak-anak anda pada pilihannya tanpa campur tangan anda sebagai orangtua? Membiarkan sekolah tempat anak anda sesuka hati saja terhadap aksi peserta didiknya? Tentunya tidak, penulis yakin itu, karena penulis juga orangtua.
Maaf tetapi bagi penulis anda mengerikan. Kenapa anda biarkan anak-anak itu salah jalan? Kenapa anda tidak tegas, dan mengambil peran mendidik dan mencerdaskan mereka. Anda ini khan kepala daerah di DKI Jakarta. Ada langkah yang jauh lebih waras bisa diambil bung! Anggap saja penulis kasih pendapat, misalnya:
  1. Memberikan sanksi kepada sekolah yang terbukti muridnya terlibat
  2. Memberikan sanksi kepada murid bersangkutan
  3. Melarang keras jauh hari lewat instruksi gubernur
Mengakhiri artikel ini dengan kenyataan mengerikan, apa yang lebih keji dari orangtua yang tega mengorbankan anaknya. Bahkan harimau saja tidak akan memakan anaknya sendiri. Hal yang sama, pelajar yang ikutan demo itu memang bukan anak kandung kita, tetapi mereka anak-anak kita yang nantinya akan memimpin negeri ini. Tanggungjawab kita membimbing dan mendidik mereka menjadi manusia, dan bukan menjadikan mereka monster!
Ngeri faktanya sikap anda bung, sudah menjawab ketidakpedulian terhadap mereka.
Artikel mpok lainnya bisa dinikmati di @mpokdesy
Sumber:
Ilustrasi: cnnindonesia.com
Ngeri, Anies Seolah “Mendukung” Pelajar Berdemo dan Anarkis

Pak Tito, Apalagi Yang Sedang Kau Tunggu? Tolong Segera Tangkap Dalangnya Pak!

Maafkan jika artikel saya kali ini terbaca lebih emosional dari biasanya. Saya memang sedang emosi melihat Ibu Pertiwi diperlakukan seperti ini. Saya tak terima melihat tanah kelahiran saya didera pertikaian, keributan dan kerusuhan terus menerus seperti ini.
Yang membuat hati saya makin perih adalah saat pertikaian yang terjadi bukan karena menghadapi penjajah yang menyerang negeri ini dari luar. Hati saya menangis saat melihat NKRI yang sudah lama merdeka ini sesama anak bangsanya justru saling serang menyakiti satu sama lain. Dan inilah yang sedang terjadi saat ini di negara kita.
Mau di adu domba asing aseng atau siapapun juga di luar sana, yang jelas fakta saat ini sesama warga negara Indonesia sedang bentrok gontok-gontokan sendiri. Kerusakan, luka cidera bahkan korban jiwa tak terelakkan lagi. Dan ini semua menimbulkan luka hati yang tak tertahankan.
Karena yang namanya kehilangan takkan pernah bisa digantikan oleh apapun juga, apalagi jika kehilangan orang-orang yang kita cintai. Menangis darahpun takkan bisa mengembalikan apa-apa dan siapa-siapa yang sudah hilang pergi tak kembali.
Secara pribadi saya tidak anti dengan yang namanya demonstrasi alias unjuk rasa. Saya menyadari jika saat ini demo sudah dianggap sebagai cara yang efektif untuk menyampaikan gerakan protes yang dilakukan sekumpulan orang di hadapan umum agar kelompok tersebut bisa menyatakan pendapatnya, menentang kebijakan yang dilaksanakan suatu pihak, atau dapat pula dilakukan sebagai sebuah upaya penekanan secara politik oleh kepentingan kelompok. Ini memang fakta yang tak bisa dipungkiri siapapun juga.
Namun jangan pernah dilupakan, unjuk rasa juga sering menyebabkan terjadinya pengerusakan terhadap benda-benda di sekitar lokasi demo. Menyakiti sesama bahkan membunuh juga berpotensi besar terjadi saat ada aksi unjuk rasa akibat keinginan menunjukkan pendapat para pengunjuk rasa yang berlebihan. Bentrokanpun tak bisa dielakkan lagi. Ujung-ujungnya saling menyakiti.
Sekali lagi saya tidak anti demo. Tapi demo yang seperti apa juga harus kita perhatikan. Jika apa yang kita tuntut sudah ditampung, diperhatikan dan diproses oleh pemerintah, lalu untuk apa kalian terus berdemo pagi, siang malam sampai berhari-hari seperti ini??? Tulisan ini langsung saya tujukan untuk adik-adikku para mahasiswa di Indonesia. Silakan kalian jawab pertanyaan saya barusan.
Jangan lupa baca juga artikel saya yang berjudul “Mahasiswa, Kasihanilah Orang Tuamu! Sebab Suatu Saat Kalian Juga Akan Jadi Orang Tua” ( https://seword.com/politik/mahasiswa-kasihanilah-orang-tuamu-sebab-suatu-saat-kalian-juga-akan-jadi-orang-tua-Tu6lcuzKdO ). Ini adalah curahan isi hati yang saya tujukan pada kalian adik-adikku mahasiswa yang terkasih.
Lucunya lagi, saya benar-benar malu dengan sebuah kalimat yang ditujukan kepada para mahasiswa yang sedang berdemo dengan penuh percaya diri karena menolak RKUHP dan pembatalan UU KPK yang baru disahkan. Kalimat tersebut adalah “Sebelum berpendapat baca dulu isinya!”
Prof. Harkristuti Harkrisnowo (Tenaga Ahli Pemerintahan/Tim RUU KUHP) dan Prof. Yasonna Laoly (Menkumham RI) sendiri yang mengatakan hal tersebut disertai penjelasan yang sangat mudah dimengerti orang awam semacam kita. Berikut ini saya sertakan videonya.
Ngablak koar-koar sampai bergerak pagi, siang, malam berhari-hari tapi tak membaca secara lengkap terlebih dulu apa yang sedang kalian perjuangkan jelas malunya di mana-mana adikku sayangku cintaku.
Dan celakanya, kegiatan demo para kakak-kakak mahasiswa yang sedang “salah paham” ini sekarang sudah mulai diikuti adik-adik pelajar yang memakai seragam putih abu-abu dan putih biru. Adik-adik pelajar seusia anak saya saat ini sedang turun ke jalan-jalan meneriakkan sesuatu yang dia sendiri tak mengerti itu apa. Lalu kita semua disuruh bilang wow gitu???
Dan tragisnya lagi, kemarin, Rabu, 25 September 2019, Polisi mengamankan 10 pelajar SMP berseragam pramuka yang membawa celurit di depan Istana, Jalan Medan Merdeka Utara, Jakarta Pusat.
"Gerombolan anak sekolah yang kami curigai akan menuju ke gedung DPR/MPR. Kami periksa, kami geledah, kami temukan satu arit yang dibawa salah satu pelajar," kata Wakasat Lantas Wilayah Jakarta Pusat Kompol Agung Wuryanto.
Sampai di titik ini akhirnya saya sadar dan merasa sangat perlu secepatnya mengalihkan pandangan mata saya yang semula tertuju pada mahasiswa yang berdemo di depan gedung DPR, jadi beralih pada jajaran Polri dalam hal ini pada Pak Tito selaku Kepala Kepolisian Negara Republik Indonesia.
Tanpa mengurangi rasa hormat saya pada Pak Tito dan seluruh jajaran Polri, ijinkan saya menyampaikan isi hati saya yang paling dalam dengan posisi saya sebagai warga negara Indonesia yang sah sekaligus ibu dari dua anak yang sedang beranjak remaja.
Urusan saya sebagai ibu rumah tangga memang banyak di dapur Pak. Saya juga tak mengerti perhitungan politik macam apa yang sedang petinggi-petinggi negara kalkulasikan saat ini.
Yang saya tahu Pak Tito dan seluruh jajaran Polri mengemban tugas mulia memelihara keamanan dan ketertiban masyarakat; menegakkan hukum; dan memberikan perlindungan, pengayoman, dan pelayanan kepada seluruh rakyat Indonesia tanpa kecuali.
Sebab di sisi lain saya yakin Polri sudah tahu siapa dalang di balik semua kejadian ini. Lantas harus menunggu apa lagi untuk membereskan kejadian demi kejadian menyesakkan yang terus terulang merusak ketentraman NKRI???
Haruskah menunggu anak-anak berseragam merah putih dan anak-anak TK berdemo, baru tindakan tegas terhadap dalang dari semua kekacauan ini diambil???
Sumber referensi:
Silakan klik link berikut untuk bisa mendapatkan artikel-artikel saya yang lainnya.
Thank you so much guys. Peace on earth as in Heaven. Amen.
Pak Tito, Apalagi Yang Sedang Kau Tunggu? Tolong Segera Tangkap Dalangnya Pak!

Kami Tetap Bersama Jokowi

Kami segenap rakyat Indonesia melakukan semua ini dengan hati, tanpa harus turun ke jalan. Sebab kami sangat memahami betapa beratnya mengurus negara sebesar Indonesia yang telah lama tertinggal karena ulah para tikus - tikur politik yang serakah dan haus kekuasaan. Kami akan mengawal hingga pelantikkan, bahkan hingga masa baktinya selesai tahun 2024 mendatang. Jadi, kami akan terus mendukung Jokowi ngebut seperti Marc Marquez untuk membangun negerinya.
Dimohon juga agar lini projo yang ada di seluruh wilayah khususnya yang saat ini sedang ada berlangsung aksi mahasiswa agar senantiasa mampu menanggapi poin - poin yang dikritisi. Sehingga dengan sendirinya upaya - upaya penunggangan oleh pihak yang berniat menunggangi aksi yang tengah berlangsung dapat sedini mungkin dikenali dan dicegah meluas. Ini bukan urusan siapa yang besar atau kecil dalam jumlah. Tapi urusan yang lebih besar dari itu semua adalah menjaga persatuan.
Kaum kampret dan umat 212 memang sengaja menyusup dan berupaya memprovokasi adik - adik mahasiswa untuk mengikuti kepentingan kelompok mereka yaitu "turunkan Jokowi!". Di media sosial, buzzer mereka sengaja mulai menggiring opini seakan - akan aksi turun jalan mahasiswa untuk melengserkan presiden, yang paling brutal lagi dibikin narasi mahasiswa ingin merubah ke system khilafah. Memalukan...!!!
Tentu kita ingat, bahwa 5 Tahun yang lalu menjelang akhir masa jabatan SBY - Boediono, mahasiswa, LSM, aktifis demokrasi dan semua elemen masyarakat bersatu menolak UU pilkada. Saat itu fraksi pendukung Prabowo - Hatta di DPR RI ingin pilkada dipilih DPRD. Alhamdulillah rakyat bersatu menolaknya.
Kini, diakhir jabatan Jokowi - JK, DPR RI kembali didatangi ribuan massa mahasiswa yg menolak beberapa RUU yg dianggap bermasalah. Sayangnya, aksi ini mulai dikotori oleh ulah penumpang gelap dan para provokator utk bikin rusuh diberbagai daerah.
Pada dasarnya para Mahasiswa ini tidak ada urusan dengan pak Jokowi atau pak Pabowo. Urusan mahasiswa itu tentang RUU KUHP, RUU Pemasyarakatan, RUU Pertanahan, RUU KPK yg dianggap tdk berpihak kpd rakyat. Siapapun presidennya, mau pak Jokowi ataupun pak Prabowo kalau ada ketidakberpihakan ya harus dilawan. Jadi, stop mengotori aksi mahasiswa dengan narasi - narasi murahan. Para penumpang gelap, hentikan provokasimu.
Gunakan otakmu sedikit saja, jika pak Jokowi mundur, akankah negara ini akan tentram? Jika pak Jokowi mundur akankah segalanya akan baik - baik saja? Kemiskinan akan sirna? Kematian dapat ditunda? Kejahatan akan hilang?? Jawabannya TIDAK!!!
Karena apa?? Yang menentukan hidup mati seseorang bukan presiden!! Yang menentukan nasib seseorang bukan presiden!! Yang menentukan maraknya kejahatan dan bencana alam bukan presiden!!
Berhentilah menyalahkan orang lain, jangan anggap Tuhan itu kecil yang tidak bisa berkutik sama pak Jokowi. Apakah anda yakin jika orang lain yang memimpin Indonesia akan lebih indah damai dan tentram??
Ingat!!! Segala sesuatu itu Tuhan yang mengatur bukan presiden, yang menentukan umur manusia bukan pak Jokowi, bahkan takdir kaya dan miskin seseorang juga bukan ditangan presiden! Ujian dan cobaan pasti selalu ada, kesusahan kemiskinan, kejahatan pasti selalu ada bahkan pada jaman nabi sebelumnya, itu gimana tergantung kita menyikapi semuanya, bahwa ada campur tangan Tuhan yang mengatur segalanya, semuanya sudah ada porsinya masing - masing, bahkan sebelum manusia diciptakan sudah ada Malaikat dan Iblis.
Harusnya kita menyikapinya dengan jernih, mengapa Tuhan menciptakan seluruh ciptaan-Nya dengan begitu sempurna, ada Setan, Iblis, Manusia, Jin, Api, Tanah, Angin, dan segalanya sudah mempunyai porsinya masing - masing, Hanya satu yang membedakan semua ciptaan-Nya yaitu manusia yang maha sempurna, yang mempunyai akal dan fikiran untuk meresapi menyikapi dan berfikir, bahwa segala sesuatunya itu hanya ujian. Sudah menjadi ketentua-NYa. Tuhan menciptakan api dan air, siang dan malam, kebaikan dan kejahatan, miskin dan kaya, kemudahan.
Anda demo sampai mati pun silahkan, tapi kalau tujuannya mau menurunkan pak Jokowi, tak semudah itu Ferguso, Beliau telah terpilih secara konstitusional, kami pendukung NKRI menghormati konstitusi, kalian jangan seenaknya, mau main anarkis menurunkan beliau. Buat apa ada pemilu kalau hasilnya siapa yang jadi presiden terserah siapa yang kenceng demonya. Kami tak akan pernah lelah untuk mendukung beliau.
Akhir kata saya cuma mau bilang bahwa pak Jokowi Sudah di hati, meski apapun yang terjadi, meski hoax yang mereka lancarkan sangat keji, terus menerus menyerang presiden kami, pak Jokowi tetap di hati. Tuhan selalu membela yang benar, yang punya Niat buruk, pada akhirnya justru akan berbalik pada dirinya sendiri.
#SayaBersamaJokowi
#KamiBersamaJokowi
Kami Tetap Bersama Jokowi
Sumber Opini : https://seword.com/politik/kami-tetap-bersama-jokowi-Cw7UCxAbbK

Bahaya Sengkuni Dibalik Narasi Demonstrasi

Sengkuni merupakan salah satu sosok dalam dunia cerita wayang dan cerita mahabarata, baik dunia wayang maupun dalam dunia mahabarata dia merupakan mahapatih sekaligus merangkap penasehat raja di kerajaan Astina yang dikuasai oleh keluarga kurawa.
Patih Sengkuni terkenal dengan prinsip hidupnya yang ekstrem “biarlah orang lain menderita yang penting hidupnya bahagia”.
Dengan prinsip hidup seperti itulah Sengkuni menjalani karirnya: munafik, licin, licik, culas, hasut, penuh tipu muslihat.
Jika kita mengingat kembali akan filosofi diciptakannya wayang, dimana cerita wayang adalah sebuah filsafat kehidupan yang dikemas dalam kesenian, maka sosok sengkuni hanyalah suatu potret (gambaran) karakter manusia yang akan ada sepanjang masa.
Dia (sengkuni) adalah simbol kemunafikan, keserakahan, arogansi, dan keangkaramurkaan. Kapan pun dan dimana pun di dunia ini, manusia-manusia berkarakter sengkuni akan selalu ada, bahkan di sekitar kita kini dan di sini.
Di masa pemerintahan Presiden Jokowi sekarang ini, sosok asli sengkuni juga sudah muncul terbuka lebar ke permukaan. Sosok tersebut bisa kita artikan luas sebagai suatu entitas (partai, ormas, perkumpumpulan, persekutuan, dll) atau bisa juga kita artikan secara sempit sebagai suatu pribadi (orang). Dan parahnya lagi, sosok sengkuni yang sedang bermain-main di NKRI sekarang ini merupakan gabungan sengkuni dalam arti luas dan sengkuni dalam arti sempit.
Seorang individu yang juga merupakan tokoh penting suatu organisasi yang dalam sejarah karir politiknya pernah memporak-porandakan Indonesia dengan kelicikannya menjatuhkan suatu rezim tertentu kemudian menggantinya dengan rezim baru, dan itu diulang sampai dua kali, layak untuk kita nobatkan sebagai sengkuni di era reformasi ini.
Sejarah membuktikan bahwa dialah sosok paling bertanggung jawab yang hampir membawa Indonesia pada perang saudara ketika Presiden Abdurrahman Wahid kala itu diberhentikan dari jabatannya secara sepihak, untung saja Presiden Abdurrahman Wahid memiliki pemikiran yang visioner dan sangat bijaksana dalam menyikapi hal tersebut, beliau membentengi semua elemen agar tidak terjadi keos, dan beliau merelakan dirinya diberhentikan secara sepihak dari jabatannya hanya semata-mata agar tidak terjadi perang saudara di atas NKRI tercinta ini, karena beliau sadar betul bahwa jabatan hanyalah sebuah amanah dan beliau percaya jika sejarah akan membuktikan siapa sengkuni sebenarnya yang sangat licik, licin dan culas tersebut.
Kita tidak boleh melupakan setiap sejarah yang terjadi di Indonesia ini, karena dari situlah kita akan belajar untuk menjadi bangsa dan negara yang besar dan maju, serta kita juga tidak boleh lupa jika di Indonesia ini juga memiliki sosok sengkuni yang setiap saat bisa melancarkan fitnah keji, perilaku licik, dan propaganda hitam hanya demi untuk menyelamatkan dirinya dan golongannya sendiri ketika dia dan golongannya sedang berada di mulut suatu kasus hukum tertentu.
Dia tak segan melacurkan kata-katanya hanya agar dia terselamatkan dari suatu kasus hukum tertentu, dia tak segan mengadu domba antar sesama anak bangsa hanya demi sebuah keselamatan dirinya sendiri atas kasus hukum yang mungkin akan mulai mejerat dirinya, dia juga tak segan melancarkan fitnah terhadap Presiden Jokowi hanya karena dia iri tidak bisa menjadi presiden di Indonesia padahal dia sendiri adalah pelaku sejarah terjadinya reformasi di Indonesia, dan dia juga tak segan menebar janji bohong kesana kemari hanya demi tujuan pribadinya tercapai.
Prinsip hidup sengkuni yang sangat ekstrem membuat saya harus mengernyitkan dahi ketika saya memikirkan sosok sengkuni tersebut di era reformasi sekarang ini, bagaimana saya tidak mengernyitkan dahi jika sengkuni tersebut ternyata selama ini hidup aman, tenteram, damai dan sentosa diatas penderitaan rakyat yang ada disekelilingnya, punya banyak patok sawah disekitar tempat tinggalnya.
Dalam setiap ceramah keagamaan yang dia lakukan pun pastilah terselip adu domba, fitnah dan propaganda hitam, padahal dia lupa jika dulu dia pernah berjanji akan jalan kaki melintasi separuh pulau jawa dari tengah ke barat.
Sengkuni memang pintar dan cerdik, tapi dia merupakan sosok yang kolot dan jadul, dia lupa jika di masa sekarang ini adalah masa dimana segala transaksi akan tercatat dan bisa ditelusuri dengan mudah oleh para penegak hukum. Jadi kalau ingin berkilah silahkan saja, tapi kalau ini memang benar, maka sengkuni harus siap mendapat balasan atas semua perilaku licik, munafik, culas dan adu dombanya selama ini, karena seperti kata teman saya, semua akan terbongkar, tersebar, dan terkuak pada waktunya, tinggal menunggu jadwal giliran saja sambil bertaubat jika masih diberi kesempatan oleh Tuhan.
Sengkuni akan semakin gencar melancarkan fitnah dan adu domba karena dirinya sudah mulai menjadi sasaran tembak para pemberantas maling duit rakyat, pintu awal penyelidikan sudah terbuka lebar bagi para pemberantas maling duit rakyat untuk mulai membidik sengkuni agar masuk dalam jarak tembak mereka, tinggal menjejakkan kaki melangkahi pintu tersebut serta akuratkan teropong, lalu lepas pelatuk, dan terseok-seoklah sengkuni tersebut jika masa tuanya harus dihabiskan dibalik penjara bersama para kompatriotnya sesama maling duit rakyat.
Tapi kembali lagi, sengkuni ini hanyalah gambaran watak busuk manusia yang akan selalu ada di sepanjang masa, watak busuk tersebut sekarang juga sudah menghinggapi kelompok dimana sengkuni bercokol dan mempunyai posisi penting di dalamnya.
Kelompok tersebut sangat lihai dan licik dalam permainan politik selama ini, mereka berdiri diatas tiga kaki dan masing-masing memiliki tujuan yang sama, yaitu ingin berkuasa. Mereka seakan plin plan dalam mengambil suatu keputusan, akan tetapi jika dipahami lebih dalam, memang seperti itulah watak asli mereka, watak sengkuni yang busuk.
Sengkuni secara organisasi jaman sekarang identik dengan kelompok IM atau ikhwanul Muslimin, kelompok yang berusaha mengganti ideologi Pancasila dengan ideologi khilafah yang mereka bawa. Tentu kita semua sudah tahu siapa saja atau organisasi apa saja yang ber-idelogikan khilafah. Kelompok-kelompok itulah yang disinyalir membekingi demonstrasi belakangan ini, beking tentu saja dari keseluruhan, mulai dari beking ideologi atau doktrin, beking narasi, beking provokasi sampai dengan beking dana.
Kita harus sangat berhati-hati terhadap sengkuni ini, jangan pernah mau untuk diadu domba, karena tujuan utama mereka sebenarnya adalah mengganti ideologi Pancasila dengan ideologi khilafah dan tentunya itu mengancam kedaulatan NKRI.
Terakhir, Ketika cita-cita kemerdekaan kita sedang dan sudah dalam proses diwujudkan oleh Presiden Jokowi, maka sudah sepantasnya kita turut membantu Presiden Jokowi terhindar dari bahaya sengkuni yang nyata kemunculannya. Karena sebaik-baiknya kemunculan sengkuni adalah lebih baik jika sengkuni itu dipenjara.
Jayalah Indonesia.
Salam damai Indonesiaku.
Bahaya Sengkuni Dibalik Narasi Demonstrasi

DennySiregar.id, Jakarta - Mungkin inilah demo terbingung yang pernah ada.. Agenda demo ini begitu banyak. Mulai dari tolak revisi UU KPK, tolak RKUHP, sahkan RUU Penghapusan Kekerasan Seksual sampai Jokowi harus mundur.
Saya termasuk yang setuju bahwa RKUHP harus ditolak, karena pasal-pasalnya enggak banget.
Didalam pasal itu negara seperti kurang kerjaan ngurusin pribadi seseorang sampe sedetil-detilnya sehingga susah bernapas. Dan saya mendukung mahasiswa demo besar-besaran menekan DPR.
Jokowi pun setuju dan menyerukan DPR menunda mensahkan RUU. DPR sepertinya mengalah dan mau tidak mau akan menunda RUU yang buatnya males2an gitu.
Tetapi untuk revisi UU KPK, saya termasuk mendukung. Karena dengan adanya penguatan dalam KPK, maka lembaga ini tidak bisa lagi disetir oleh sekelompok orang dengan agenda politik, bukan agenda pemberantasan korupsi.
Jadi di dalam demo ada kelompok mahasiswa yg mendukung revisi UU KPK tapi menolak RKUHP dan ada yang menolak dua-duanya. Semua oke saja, karena aspirasi harus disampaikan meski memblokir jalan dan merusak pagar, tetap bukan sikap yang benar.
Nah, agenda jadi rancu ketika ada kelompok mahasiswa yang menuntut Jokowi mundur.
Ini apalagi?? Ternyata ada penumpang gelap dengan agenda Pilpres yang masih belum move on sampai sekarang.
Tuntutan acakadut ini berbaur jadi satu dan semua memakai jaket almamater. Sudah bingung mahasiswa mana menuntut apa dan bagaimana.
Malah saking bingungnya, seorang mahasiswi akhirnya merasa mending jualan saja. Dia pasanglah iklan di punggungnya, "Menerima pengetikan skripsi". Mungkin dia sangat tahu, yang demo ini kebanyakan mahasiswa kurang prestasi dan butuh bantuan untuk kerjakan tugas yang belum selesai.
Demo tambah kacau karena emak-emak pun ikut masuk dalam barisan.
Bukan. Ini bukan emak dari mahasiswa yang demo. Mereka punya agenda sendiri yaitu "Pulangkan Rizieq Shihab!"
Loh, kok malah pulangkan Rizieq? Apa hubungannya ma tolak semua RUU itu?
Ga ada. Pokoknya ada iklan yang dititipkan dari Saudi yang sudah rindu kampung halaman untuk makan soto betawi. Dan mumpung ada yang demo, doi titip pesan, "Ingat daku, ya. Tolong jangan lupakan. Siapa tau mahasiswa itu mau mengerti, kalau disini kontrakan mahal sekali.."
Pesan itu diakhiri dengan emoticon 😭😭😭😭😭.
Jadi bayangkan, demo yang berlangsung tadi bisa dibilang demo nano nano. Ada yang mahasiswa beneran, ada SJW yang dulu golput, ada FPI dan HTI, dan ada emak-emak.
Bahkan ada yang gak tahu ini demo apa, wong mereka datang dibayar 35 rebu rupiah. Sampe ditempat demo, mereka cengar cengir dengan wajah lugu tanpa akhir
Bahkan ada bapak tua kepala botak dengan jenggot seperti semak ikutan demo dengan jaket almamater warna kuning seperti jaket UI.
Pas ditanya, "Bapak sudah tua. Hebat masih demo. Dari Universitas apa, pak?"
"Dari UNB, nak.. "
"Universitas Nusa Bangsa, pak?"
"Bukan, nak. Universitas Nasi Bungkus. Pokoknya dimana ada demo, disitu saya pasti giat belajar.."
Tepok jidat pake cangkir kopi.
Demo 
Demo Emak-emak

DEMO KEREN INSTAGRAM

DennySiregar.id, Jakarta - Melihat gambar demo adek mahasiswa yang lucu-lucu, saya jadi tidak khawatir demo akan rusuh..
Akhirnya saya paham, bahwa adek-adek mahasiswa ini memang pengen ambil momen untuk demo sekali seumur hidup mereka. Supaya masuk instastory. Mereka kreatif, menyenangkan, layaknya anak seusia mereka.
Beda dengan mahasiswa tahun 98 yang mukanya garang, lelah karena tirani dan represi 32 tahun lamanya..
Pantas saja mahasiswa milenial ini muak ketika tahu saat demo ceria mereka ditunggangi kadal gurun. Lha, itu menghina intelektualitas dan kreatifitas mereka. Apalagi ketika ada yang memanfaatkan demo ini supaya mendukung Prabowo. Mereka bingung, "Prabowo itu siapa?"
Lihat foto-foto ini, bukan seperti demo tapi malah tampak seperti karnaval dengan kreativitas mengagumkan dan mengundang tawa. Ya, mereka masih remaja jadi pesan yang dibawa juga harus dengan gaya remaja..
Mahasiswa yang rusuh-rusuh itu pasti bukan bagian dari mereka. Itu mahasiswa bayaran, ada agenda, bahkan ada yang pake jaket almamater tapi jenggotnya bergumpal bak sarang lebah..
Adek-adek mahasiswa, selamat berdemo nak penuh semangat. Rajinlah berdemo tentu kau dapat. Hormati polisi, sayangi polwan..
Itulah tandanya mahasiswa budiman!!!
Seruput..
Demo Poster Demo

SURAT UNTUK MAHASISWA YANG SUKA DEMO

DennySiregar.id, Jakarta - “Lewat sono macet, bang.. ada demo mahasiswa, jalan ditutup."
Begitu kata driver ojol kepadaku. "Ya, sudahlah. Lewat mana aja terserah yang penting nyampe.." Kataku. Dan kamipun meluncur membelah jalan Jakarta menuju sebuah tempat.
"Adek-adek mahasiswa itu gak tau susahnya nyari kerja.." Kata driver ojol itu membuka pembicaraan. Ah, menarik nih. Daripada bengong sendirian, lebih baik dengar cerita sang driver.
"Gua juga dulu kayak mereka, bang. Ada demo, kita jalan. Ya maklumlah anak muda. Kuliah cuman buat hura hura doang. Pokoknya demo itu bikin senang. Bisa seru-seruan. Lagian gagah, kan ? Bisa pamer foto ma cewe..." Dia ketawa sendiri.
Saya jadi senyum. Mendengar cerita tentang kehidupan seseorang itu menyenangkan. Seakan bisa menyelami apa yang dia rasakan.
"Kuliah sih lulus. Gampang sih lulusnya. Cuman habis lulus ngelamar kemana-mana gak dapet kerja. Gua gak punya skill, nyesel juga dulu gak sibuk kerja sambil kuliah.
Kalau dulu gua kerja nyambi kuliah kan seenggaknya gua ada yang bisa ditawarkan. Lah, modal cuman ijazah doang kemampuan gak ada, mana mau perusahaan nerima?" Dia ketawa.
Saya paling kagum sama orang yang bisa menertawakan pahitnya kehidupan. Orang seperti ini tipikal orang yang survive di kerasnya jalanan.
"Makanya pas gua liat mahasiswa itu pada demo, apalagi sampe bakar-bakaran, gua ketawa. Gua bilang, bentar lagi lu lulus baru kerasa kerasnya hidup. Sekarang aja apa-apa dari orangtua. Gak kerasa.
Daripada mikir negara kejauhan, mending deh mikir masa depan lu entar gimana. Kalo yang ketua-ketua mahasiswa itu sih enak, nanti dapet banyak. Nah elu, mahasiswa setengah aja, sok belagu pake nuntut segala.." Dia mulai merepet dengan gayanya yang lucu.
Saya ketawa, "Kayaknya nyeritain diri sendiri ya, bang ?" Tanyaku.
Dia langsung ngakak. "Iye, bang. Gua nyesel juga. Coba gua bisa puter waktu kebelakang, asli gua pengen ngubah hidup gua.." Kamipun ketawa bersama dan tidak terasa sudah sampai.
"Gak ngisi Gopay, bang ?" Matanya berharap."Oke. Tolong isiin sekian.." Kulihat wajahnya berbinar karena poinnya nambah. Ada sesuatu yang bisa dia bawa ke rumah, untuk anak istrinya.
Kamipun berpisah dan satu pelajaran lagi kudapat.
Waktunya seruput kopi. Kutulis apa yang kudapat tadi supaya pesannya bisa sampai, siapa tahu berguna buat sebagian orang..
Ojol Driver Online
Re-post by MigoBerita / Kamis/26092019/14.37Wita/Bjm





Baca Juga Artikel Terkait Lainnya