Arsip Migo Berita

Tampilkan postingan dengan label Islam. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Islam. Tampilkan semua postingan

TERIAK PAJAK SEMBAKO !!! Zionis Sawo Matang (ZSM) & Wahabi Salafi Takfiri

Migo Berita - Banjarmasin - TERIAK PAJAK SEMBAKO !!! Zionis Sawo Matang (ZSM) & Wahabi Salafi Takfiri. Siapa sih sebenarnya Zionis Sawo Matang yang Sok Cinta NKRI tetapi sebenarnya pemuja Khilafah dan mengapa mereka sejalan dengan pemikiran Wahabi Salafi Takfiri yang suka mengkafir-kafirkan orang yang berbeda dengan golongan atau kaumnya hingga menghalalkan segala cara sampai menyebar Hoax. Biar tidak gagal paham, minimal setengah paham, silahkan dibaca hingga tuntas kumpulan artikel yang sudah disajikan. Selamat Membaca. (Image source from Google image and a little bit edit in the write)

Heboh PPN Sembako, Eko Kuntadhi: Yang Kena Pajak Sekolah dan Makanan Elit

Jakarta, ARRAHMAHNEWS.COM – Lagi-lagi masyarakat disibukkan dengan isu sembako dikenakan PPN/pajak, isu ini lantas digoreng oleh pihak oposisi untuk membuat keributan di masyarakat, saat ini kita sudah capek dengan semua isu yang digaungkan oleh para pemilik kepentingan hanya untuk melenggankan mereka meraih jabatan saja.

Nah, makanan jenis kaum jet set inilah yang rencananya akan kena pajak. Kalau makanan kita, yang terdiri dari tumis pare, sambel kecap sama ikan jambal goreng. Gak akan kena pajak

Berikut penjelasan yang cukup menarik disajikan oleh pegiat medsos Eko Kuntadi menjawab isu itu.Sembako mau dipajakin! Saya yang lagi makan lontong tersedak. Aku pandangi lontong yang ukurannya pas buat perut itu. Menatap oncom di dalamnya yang imut-imut. Harganya Rp5 ribu tiga. Ohh, lontong. Apakah ukurannya akan makin mengecil karena kena pajak? Sementara pedagang gak akan berani menaikan harga jual. Daya beli ibu-ibu terhadap lontong masih belum stabil.

Ibu-ibu suka lontong yang keras dan besar. Juga lembut saat digigit. Kalau gegara mau kena pajak nanti ukurannya jadi menciut, kasian mereka. Tidak ada lagi kemewahan sarapan lontong bumbu kacang.

Saya membayangkan wajah ibu-ibu yang makin gelisah akibat berita itu. Ukuran lontong jadi gak normal. Mengurangi kepuasan.

Apakah mereka juga harus membayar lebih untuk sekepal bawang bombai, cabe merah keriting dan kol gepeng?. Gimana dengan beras? Kena pajak juga?.

“Ini sudah keterlaluan, ” ujar Abu Kumkum. Masa lontong dipajakin?.

Bukan hanya itu. Sekolah juga akan kena pajak. Gimana ini?.

Saya terpaksa mencari-cari informasi soal lontong. Sambil mengais-ngais sedikit keterangan mengenai rencana RUU Pajak.

Oalah…

Rupanya ini memang baru rencana. Dalam draft rencana, memang ada klausul pajak terhadap bahan makanan. Tapi bukan lontong bumbu yang Rp5 ribu tiga.

Juga bukan buat beras standar yang biasa kita makan. Yang harga 5 kilo paling Rp 75 ribuan. Apalagi daging dan cabe kriting.


Lalu apa yang rencananya mau dipajaki?

Kamu pernah makan steak wagyu? Rasanya empuk. Maknyus. Asal dagingnya dari Jepang. Saya pernah ditraktir teman makan steak jenis ini. Seporsinya Rp1,2 juta.

Padahal daging biasa di pasar sekilo hanya Rp90 ribuan.

Atau makan nasi yang klomot-klomot di restoran mewah. Rasa nasinya enak banget. Kalau beras jenis itu dibuat lontong, mungkin akan dijual dengan harga Rp10 ribu satunya.

Beras-beras makanan orang kaya ini harga sekilonya bisa mencapai Rp50 ribu. Berasnya doang. Gak ada kutu atau batu.

Jadi gak perlu disiapkan serit.

Nah, makanan jenis kaum jet set inilah yang rencananya akan kena pajak. Kalau makanan kita, yang terdiri dari tumis pare, sambel kecap sama ikan jambal goreng. Gak akan kena pajak.


Itu juga biasanya bahan makanan  impor yang hanya cocok di mulutnya AHY atau Nia Ramadhani. Kalau kita yang makan, insyallah mules. Bukan karena makanannya. Tapi karena harganya yang ngeselin.

Lalu gimana dengan pajak sekolah? Apakah bayaran sekolah adikmu di SD Tumben Lestari otomatis akan naik. Selama ini kamu bayar Rp500 ribu sebulan. Apakah akan jadi Rp550 ribu?.

Ohh, gak. Kalau bayaran sekolah masih segitu, gak kena pajak. Apalagi kalau bayarnya cuma dengan seliter beras. Atau sebungkus rokok kretek buat Pak Guru.

Yang rencananya akan dikenakan pajak itu sekolah yang menarik SPP Rp7 juta sebulan. Sekolah-sekolah anak orang kaya yang kalau pulang, bikin macet jalan karena mobil jemputannya berjejer.


Anak-anak ini, mungkin saat di rumah makan nasih dengan beras Rp50 ribu sekilo. Makan rendang dari daging wagyu. Makan lontong yang berisi kupon Disneyland.

Jadi, jangan geer. Kita-kita yang beli pulsanya ketengan. Makannya teratur, sehari makan dua hari bengong. Gak akan dibebani dengan pajak sembako.

Tapi sekali lagi. Pajak-pajak makanan orang kaya itu juga baru rencana. Baru draft. Belm tentu juga disetujui DPR.

Demikian juga pajak SPP yang siswanya bawa Ferarri ke sekolah. Itu juga baru rencana.


Buat ente yang nunggu nasi bungkus saat demo. Gak usah khawatir. Lauknya gak akan berkurang.

“Tetap telur dicabein sama tempe orek ya, mas?,” ujar Abu Kumkum.

“Tambah sayur buncis… “. (ARN)

Heboh PPN Sembako, Eko Kuntadhi: Yang Kena Pajak Sekolah dan Makanan Elit

Sumber Utama : https://arrahmahnews.com/2021/06/12/heboh-ppn-sembako-eko-kuntadhi-yang-kena-pajak-sekolah-dan-makanan-elit/

Giliran Jaksa Serang Balik Rizieq yang Gemar Hujat Orang Lain, Rizieq Bakal Makin Kejepit

Drazieq (Drama Rizieq) melebihi drama serial korea ataupun drama pada sinetron-sinetron Indonesia yang tidak berbobot itu kembali berlanjut. Drama sidang panjang harus dilakoni Rizieq Shihab dalam membela dirinya mati-matian dari segala tuduhan yang telah dipersidangkan kepadanya.

Saya kembali teringat dengan diri Ahok yang juga harus menerima persidangan pahit dan memutuskan dengan ikhlas menerima keputusan pahit itu dengan kata-kata mutiara yang sampai sekarang kembali kayak tendangan penalty, tendangan dan kekuatan dari kata-kata Ahok diakhir persidangan itu meluncur deras kepada orang-orang yang menyakiti dan menjerumuskan Ahok kepada tuduhan yang tidak pernah dia perbuat sebenarnya.

Settingan dan kebencian mereka sekarang buahnya manis menimpa diri mereka satu persatu. Mereka ditelanjangi oleh perbuatannya sendiri dan Ahok jadi pemenangnya. Walau Ahok harus menangis di persidangan, itu bukanlah drama, tetapi memang tangisan menyayat hati itu datangnya murni dari hati, mengalir karena tuduhan keji kepadanya.

Sementara Rizieq? Wow, semua adegan drama sudah dipertontonkannya selama persidangan Drazieq itu. Drama walk-out dari persidangan yang digelar secara daring atau online. Rizieq marah-marah, bentak-bentak majelis hakim, walau hakim sudah peringatkan bahwa sikap Rizieq ini bisa merugikan dia dan berpotensi mengubah lamanya hukuman? Rizieq tetap bandel dan tidak perduli. Si singa gurun itu tetap mengaum, bentak-bentak siapapun di persidangan negara yang terhormat itu, sehingga membuat hakim marah.

Lalu ada drama marahi petugas operator penyiaran sebelum sidang online. Rizieq tampak makin beringas dan menangkap seorang operator penyiaran yang kedapatan dia sedang merekam momen-momen persidangan secara online.

Drama tidak senonoh ditunjukkan Rizieq saat menunjuk-nunjuk jaksa yang sedang memotong tanya jawab antara Rizieq yang memang brisik ini dengan salah satu saksi. Rizieq kesal dan berdiri sambil menunjuk jari telunjuknya kepada jaksa penuntut umum.

Memang Rizieq soal keributan? Dia ini biangnya. Kemampuannya memainkan opini sesat adalah alasan mengapa sejak dulu dia bisa diterima oleh sekelompok orang yang ingin berkuasa dengan memanfaatkan Rizieq dan komplotannya yang tergabung dalam ormas yang kini jadi ormas terlarang, seperti FPI dan HTI.

Usai kelakuan dan drama-drama kekasaran dan kerasnya otaknya serta kemampuannya memainkan opini sesat tidak mempan?

Kini Rizieq yang brisik ini kembali memainkan Drazieq-nya yang lain, yang tidak sempat kita pikirkan sebelumnya. Apa itu drama yang dipertontonkan orang yang katanya imam jumbo ini? Drama Menangis! Ya, kini Rizieq mencoba memainkan drama menangis ketika membaca pledoinya atas tuntutan jaksa terkait kasus kerumunan di Petamburan, Jakarta Pusat; dan Megamendung, Kabupaten Bogor yang menjeratnya.

Awalnya, Rizieq menyebut bahwa Indonesia sebagai medan juangnya.

"Karena Indonesia adalah Tanah Air kami dan negeri kami tercinta, serta medan juang kami untuk membela agama, bangsa, dan negara. Apa pun risikonya," kata Rizieq.

Setelah itu, kata-katanya terputus. Pantauan Kompas.com, Rizieq melepas kacamatanya, lalu mengelapnya dengan kain. Hal itu berlangsung sekitar 10 detik. Kemudian, Rizieq kembali melanjutkan kata-katanya.

"Dan selama pengasingan di Kota Suci Mekkah, majelis hakim Yang Mulia, kami sekeluarga juga terus diteror oleh operasi intelijen hitam," sebut Rizieq.

Anda percaya dengan kata-kata operasi intelijen hitam? Kalau saya tidak percaya. Tuduhan itu nol besar yang diciptakan oleh Rizieq sebagai pembelaan diri, buat cerita ngawur yang mencoba mencari simpati hakim dan membuat hakim buyar konsentrasinya.

Untuk diketahui, dalam kasus kerumunan di Petamburan, jaksa menuntut Rizieq dengan pidana penjara selama dua tahun.

Jaksa meyakini Rizieq telah melakukan penghasutan terkait pelanggaran protokol kesehatan, karena dengan sengaja mengajak orang datang ke acara tersebut.

Sementara dalam kasus kerumunan di Megamendung, jaksa menuntut Rizieq dengan pidana penjara 10 bulan dan denda Rp 50.000.000.

Dalam dakwaannya, jaksa menyatakan Rizieq melanggar Pasal 14 ayat (1) dan ayat (2) UU Nomor 4 Tahun 1984 Tentang Wabah Penyakit Menular dan/atau Pasal 93 UU Nomor 6 Tahun 2018 tentang Kekarantinaan Kesehatan dan/atau Pasal 216 KUHP.

Jaksa mengatakan, sesuai Pasal 9 UU Nomor 6 Tahun 2018 tentang Kekarantinaan Kesehatan, tiap orang wajib mematuhi penyelenggaraan kekarantinaan kesehatan.

Selain tuntutan pidana penjara, jaksa meminta majelis hakim menjatuhkan pidana tambahan terhadap Rizieq berupa pencabutan hak memegang jabatan pada umumnya atau jabatan tertentu.

Dan setuju dengan pidana tambahan yang diberikan kepada Rizieq yang brisik yang memang berpotensi merusak tatanan Negara Kesatuan Republik Indonesia yang telah diperjuangkan sejak eranya Soekarno dan telah diperbaiki oleh Presiden Jokowi.

Dan kini, kembali Rizieq mendapatkan buah karma dari perbuatannya selama ini, karena sekarang giliran jaksa menyerang Rizieq yang brisik dengan mengatakan Rizieq memang punya masalah dalam hal karakter dan perangai yang mudah mencela orang lain.

"Seharusnya terdakwa menguraikan kekesalannya bukan di sini tempatnya. Jangan berkoar-koar tanpa dalil yang kuat. Kemudian ada kata-kata hujatan, mudah sekali menghujat orang lain," ucap jaksa saat membacakan replik atau tanggapan atas pleidoi dalam sidang di Pengadilan Negeri Jakarta Timur (PN Jaktim), Senin (14/6/2021).

Dalam perkara ini Rizieq didakwa membuat keonaran berkaitan dengan penyebaran hoaks tes swab di RS Ummi Bogor. Rizieq dituntut 6 tahun penjara.

Serangan balik jaksa itu sebagai tanggapan atas nota pembelaan Rizieq sebelumnya yang dibacakan dalam sidang pada Kamis, 10 Juni 2021.

Jaksa menyebut emosi Rizieq tak terkontrol karena sembarangan menuding berbagai pihak.

"Emosi tanpa kontrol dan mengaitkan orang lain dalam pembelaan yang tidak ada hubungannya sama sekali, di antaranya perkara Ahok, juga menghubungkan dengan Abu Janda, Ade Armando, Denny Siregar, selain dari pada itu, menghubungkan dengan Diaz Hendropriyono yang semuanya tidak ada nyambungnya," ucap Jaksa penuntut umum.

Intinya semoga Drazieq ini cepat selesai agar Indonesia tetap aman dan damai..

Giliran Jaksa Serang Balik Rizieq yang Gemar Hujat Orang Lain, Rizieq Bakal Makin Kejepit

Sumber Utama : https://seword.com/umum/giliran-jaksa-serang-balik-rizieq-yang-gemar-hujat-q3mbdTk5xU

Telak “Dikuliti” Jaksa, Rizieq Panik!

Sebelumnya, untuk kasus kerumunan Petamburan dan Megamendung, Majelis Hakim sudah memberikan vonis yang cukup ringan buat Rizieq. Yakni kurungan penjara 8 bulan dan denda Rp 20 juta. Sementara tuntutan Jaksa adalah 2 tahun penjara (Petamburan) dan 10 bulan penjara (Megamendung), serta pencabutan hak berorganisasi Sumber.

Namun dalam kasus swab RS Ummi Bogor, tuntutan jaksa tidak tanggung-tanggung, 6 tahun penjara. Saya kira, dari segi tuntutan ini pun sebenarnya sudah bikin Rizieq panik luar biasa. Saya duga di kubu Rizieq dan siapa pun yang ada di belakangnya, sudah ada berbagai prediksi bahwa tuntutan dan vonis buat Rizieq nanti akan ringan-ringan saja. Paling juga dalam hitungan bulan. Karena partisipasi Rizieq “memeriahkan” Pilpres 2024 memang sudah dinanti, gitu kan? Kalau sekarang kan, mau teriak gimana juga, Rizieq masih di balik jeruji. Publik pun adem adem aja, tidak bereaksi, bahkan menikmati “kedamaian” ini. Yang rame paling juga para pendukung Rizieq yang jumlahnya tidak seberapa.

Saya juga masih ingat bahwa Fadli Zon sempat mencuit soal harapannya agar Rizieq segera bebas sebelum Bulan Puasa 2021 Sumber. Ini bisa dianggap sebagai salah satu indikasi dari dugaan saya di atas. Bahwa kubu Rizieq memprediksi vonis yang ringan. Tapi itu sebelum Fadli Zon kena Covid ya, nggak tahu deh sekarang, sudah “tobat” apa belum hehehe… Becanda ya.

Eeh ternyata jaksa malah menuntut 6 tahun penjara. Dalam sidang pada hari Kamis lalu (3/6), jaksa pun “menguliti” semua tindakan Rizieq yang dianggap memberatkan dan melanggar hukum. Antara lain membuat video bohong yang tidak sesuai dengan fakta. Faktanya, pada tanggal 25 November 2020, hasil tes swab yang ditangani tim MER-C menghasilkan Rizieq terpapar Covid. Namun, baik menantu Rizieq, Hanif Alatas maupun Dirut RS Ummi dr. Andi Tatat membantahnya. Bahkan Hanif menyebarkannya di grup WA.

Rizieq dan Hanif bekerja sama untuk menutupi kondisi kesehatan Rizieq yang terpapar Covid dengan membuat video dan di-publish di berbagai media massa. “Terdakwa Muhammad Rizeq Shihab memberi izin saksi Hanif Alatas membuat rekaman video agar dipublikasikan yang menyatakan kondisi Terdakwa yang disebut kritis tidak benar. Bahwa disebut kondisi Terdakwa baik-baik saja merupakan pemberitaan bohong atau tidak benar, padahal nyatanya saksi Hanif dan Andi Tatat mengetahui terdakwa terpapar COVID-19 namun tidak disampaikan,” ujar jaksa Sumber.

Jaksa juga mengungkap bahwa ketika datang di RS Ummi Bogor, dalam mengisi formulir pasien, Rizieq meminta agar kondisinya tidak diberitahukan kepada orang lain kecuali keluarganya. Bahkan Rizieq sempat membuat surat pernyataan pakai materai. "Terdakwa membuat surat pernyataan tertanda di Tanah Abang, Jakarta Pusat. 'Dengan ini saya tidak izinkan kepada siapapun untuk membuka hasil pemeriksaan diri saya dan asisten. Demikian surat pernyataan dibuat dalam keadaan sehat. Muhammad Rizieq Shihab', ditandatangani di atas meterai," papar jaksa Sumber.

Itu kan bukti-bukti yang susah buat dibantah. Ada surat, ada formulir, ada video. Tentu saja bikin Rizieq panik. Gimana cara ngeles dari bukti tertulis dan bukti video? Saya kira, opsi politis lah yang diambil oleh Rizieq. Apalagi kan? Dia pun gelagapan, menyerang berbagai pihak. Dari membandingkan kasusnya dengan Djoko Tjandra, Ahok dan Novel Baswedan. Lalu menyerang Wali Kota Bogor Bima Arya (lagi), dengan tudingan “10 kebohongan dan kelicikan Bima Arya”. Menyeret nama Ahok dan Airlangga Hartarto yang merahasiakan pernah terkena Covid. Bahkan sampai sok membongkar kesepakatan tertulis antara Rizieq dan Komandan Operasional BIN Mayjen TNI (Pur) Agus Soeharto di hadapan Kepala BIN Budi Gunawan pada 2017, yang intinya menyetop semua kasus hukumnya. Lalu ada pula kesepakatan dengan Tito Karnavian pada tahun 2018 dan 2019, yakni Rizieq menyatakan siap tidak terlibat dalam urusan politik Pilpres 2019, dengan syarat tertentu. Salah satu syaratnya adalah memproses hukum Abu Janda, Ade Armandi dan Denny Siregar. Lengkapnya bisa dibaca di detik.com Sumber Sumber

Eh, belum selesai. Rizieq juga membawa-bawa nama DIaz Hendropriyono, staf khusus Presiden Jokowi. Rizieq menuduh Diaz terlibat dalam insiden tewasnya 6 laskar FPI di Cikampek. Bermodalkan postingan Diaz di akun medsosnya. Ya dibalas Diaz dengan becandaan, dan mungkin dengan senyuman. "Ngomong kok ngalor-ngidul. Bisa aja Rizieq buat berita. Orang nggak jelas" ujar Diaz Sumber. Sementara soal Budi Gunawan pernah bertemu Rizieq serta adanya kesepakatan itu pun sudah dibantah oleh BIN Sumber.

Betul kata Diaz, Rizieq jadi terlihat dan terdengar nggak jelas. Dia sedang gelagapan. Berusaha mengaburkan tuntutan jaksa. Berusaha mempengaruhi publik. Mengaburkan kesalahannya dan bukti-bukti yang menohok itu. Masih aja ngarep ada 7 juta umat bakal demo di Monas buat minta Rizieq dibebaskan? Yang mendatangi sidang Rizieq saja orangnya dikit. Fadli Zon aja nggak ngefek membela Rizieq. Sekedar diiyakan oleh para buzzer di medsos, tapi di dunia nyata? Adakah dari mereka ini berani berdemo menuntut pembebasan Rizieq? Kagak ade, Bambaaaaaang….! Dan Rizieq pun panik…

Telak “Dikuliti” Jaksa, Rizieq Panik!

Sumber Utama : https://seword.com/politik/telak-dikuliti-jaksa-rizieq-panik-Q3n19iiYwi

Rizieq Panik, Anies Juga Panik!

Kolaborasi antara Rizieq Shihab dan Anies Baswedan memang tidak terbantahkan. Walaupun Rizieq ini mantan napi, dan pernah terjerat kasus chat porno, juga tidak mengakui pemerintahan sah hasil Pilpres 2019, tetap saja, Anies sowan ke rumah Rizieq. Menyambut kepulangan Rizieq dari Arab Saudi. Ketika Rizieq masih di Arab Saudi saja, Anies terus setia menghadiri acara perayaan milad FPI. Jadi boleh dibilang bahwa hubungan keduanya memang akrab kan.

Boleh dibilang pula bahwa Rizieq dan FPI memang punya peran besar dalam terpilihnya Anies jadi Gubernur DKI Jakarta waktu itu. Bahkan ada analis politik menyebut bahwa Anies terpilih bukan karena kemampuannya atau kepinterannya. Ya sekarang terbukti kan. Tentunya Anies tidak berharap karir politiknya mentok sampai di Jakarta saja. Sejak dulu publik sudah tahu bahwa ambisi Anies adalah sampai ke puncak kursi RI1. Dan karena dari segi kemampuan bekerja, Anies tidak bisa melebihi Presiden Jokowi, dia pun masih berharap ada peran Rizieq dan gerombolannya dalam memuluskan ambisinya.

Eeeeh, tahu-tahu Rizieq kesandung kasus kerumunan dan tes swab RS Ummi. Salah Anies sendiri, mengapa membiarkan sampai Rizieq bikin kerumunan. Coba dari awal dibikin strategi yang tidak bakal kena proses hukum. Kita tidak pernah tahu apa yang mereka bicarakan di balik layar. Mungkin mentang-mentang sohibnya, Rizieq merasa seperti Ratna Sarumpaet dulu tuh. Yang ketika mobilnya diderek terus telepon Anies. Jadi sembarangan saja. Dikira Anies bisa pasang badan, ternyata akhirnya Rizieq dijadikan tersangka.

Tulisan saya terakhir soal Rizieq sudah memaparkan betapa paniknya Rizieq, karena dituntut 6 tahun penjara oleh jaksa : https://seword.com/politik/telak-dikuliti-jaksa-rizieq-panik-Q3n19iiYwi Nah, bukan hanya Rizieq yang panik, sohibnya sebenarnya sudah panik duluan sih. Tambah panik lagi ketika Rizieq jadi panik. Kepanikan yang menular dan membesar. Mungkin tiba-tiba terbayang oleh Anies, bagaimana cara dia bisa nyapres dan menang, tanpa bantuan Rizieq? Oleh sebab itu, kita pun menyaksikan berbagai upaya diambil Anies, yang tampaknya untuk mencari opsi lain selain Rizieq dan gerombolannya.

Anies pun berkunjung ke Jateng dan Jatim. Ikut panen padi di sana, berkunjung ke makam dan menginap di rumah ulama, serta bertemu dengan beberapa kepala daerah, khususnya yang diusung oleh Partai Demokrat. Lalu disusul dengan pertemuannya dengan AHY, Ketum Demokrat. Tentu saja AHY mau diajak ketemuan sama Anies, karena AHY punya kepentingan politik sendiri, dan sekalian mendongkrak namanya. Agar terus disebut dalam jajaran capres 2024.

Padahal, situasi pandemi Covid di Jakarta sedang memerlukan perhatian besar. Seperti yang sudah diinstruksikan oleh Presiden Jokowi ke semua kepala daerah. Agar menangani pademi dengan sebaik-baiknya di masing-masing daerah. Waktu itu klaster kantor sedang naik, dan menjelang Lebaran. Akhirnya Anies pun “tertampar” sendiri dengan keramaian di Tanah Abang yang bikin heboh itu. Malu? Enggak lah, udah kebal kayaknya hehehe…

Anies pun terus “berjuang”, mencari opsi lain selain Rizieq. Saking paniknya, dia sudah tidak peduli jika kegiatannya akan bertentangan dengan apa yang dia serukan sebagai Gubernur DKI Jakarta. Yup, pada tanggal 10 Mei 2021, Anies mengeluarkan seruan agar warga Jakarta tidak menggelar open house dan halal bihalal saat Lebaran. "Seperti kegiatan silahturahmi, mendatangi tokoh masyarakat, tokoh agama, teman, dan saudara tetap dianjurkan menggunakan media virtual sampai dengan akhir bulan Syawal. Sehingga, ketika dimulainya perkantoran selepas lebaran, juga diharapkan tidak dimulai dengan halal bi halal untuk memutus mata rantai," kata Anies Sumber. Eeh, pada tanggal 13 Mei, hari pertama Lebaran, dianya malah berkunjung ke rumah Ketum PAN, Zulkifli Hasan (Zulhas) Sumber. Jadi seruan Anies tidak dia taati sendiri! Panik kan?

Hal tidak konsisten serupa juga dilakukan Anies di tempat lain. Menghadiri peringatan 100 tahun kelahiran Soeharto, Anies mengeluarkan pujian setinggi langit. Menyebut Soeharto sebagai pemimpin yang matang, berjasa dan jadi teladan Sumber. Padahal jejak digital menunjukkan bahwa Anies pernah berkoar soal dirinya bikin demo menurunkan Soeharto ketika dia masih kuliah di Amerika Serikat pada tahun 1998 Sumber. Jedeerrr…!

Terakhir adalah kunjungan Anies ke Sumedang, Jawa Barat. Di mana dia sempat mengadakan pertemuan dengan Ridwan Kamil, Gubernur Jabar. Sebuah pertemuan yang dianggap berbau politis oleh berbagai media Sumber. Kegiatan Anies dilanjutkan dengan ikut panen raya padi dengan alasan adanya kerja sama antara BUMD Jakarta dan BUMD Sumedang soal pasokan beras buat DKI Jakarta Sumber. Lalu dilanjut dengan Anies berziarah ke makam Cut Nyak Dien di Sumedang Selatan Sumber. Sementara angka Covid DKI Jakarta sedang meningkat hingga 300% dalam beberapa hari terakhir Sumber. Bahkan keterisian Rumah Sakit Darurat Wisma Atlet Kemayoran sudah mencapai 80% Sumber. Gubernurnya mana? Lagi pose mengangkat padi di depan awak media, disertai seruan “gubernur rasa presiden” yang kembali bergema di medsos.

Pertemuan antara Anies dan Ridwan Kamil (RK) itu serupa polanya dengan pertemuan Anies dan AHY. Hanya beda partai politik. RK juga sama-sama mencoba peruntungannya untuk tetap berada dalam jajaran capres 2024. Sama lah dengan AHY, cuma AHY kan sudah punya partai sendiri. Dan kesemua pola kegiatan Anies ini serupa dengan pola kepanikan Rizieq. Seperti yang sudah saya bahas di tulisan sebelumnya. Rizieq menyerang banyak pihak, yang entah apa relevansinya dengan kasus hukumnya itu. Nama Ahok, Djoko Tjandra, Airlangga Hartarto hingga Diaz Hendropriyono pun disebut. Gelagapan, kayak orang mau tenggelam. Pola serupa juga dilakukan Anies, semua digapai, Demokrat, AHY, PAN, Zulhas, RK, petani, pengendara sepeda elit, makam ulama di Ponorogo, makam Cut Nyak Dien di Sumedang, dan sebagainya. Namun kerjaan utamanya sebagai gubernur nampak dilupakan begitu saja. Panik?

Rizieq Panik, Anies Juga Panik!

Sumber Utama : https://seword.com/politik/rizieq-panik-anies-juga-panik-4i4T50gnG7

Duet Jokowi-Prabowo demi Bangun Sistem Pertahanan yang Kuat

Penunjukkan Prabowo sebagai Menteri Pertahanan, pada waktu itu begitu mengejutkan. Yang tak kalah mengejutkan juga, kesediaan Prabowo untuk menerima penunjukkan itu.

Pasti terjadi tarik ulur yang menarik baik di internal pihak Pak Jokowi, internal pihak Prabowo, dan pastinya di kedua pihak masing-masing pendukungnya. Ya wajar bila menengok ke belakang bagaimana alotnya perseteruan kedua pihak tersebut di dua pilpres terakhir. Bahkan yang residunya masih bisa dirasakan hingga saat ini.

Menurunkan ego jelas menjadi langkah pertama bagi kedua belah pihak, baki Pak Jokowi maupun Pak Prabowo. Pak Jokowi harus menurunkan ego untuk memulai merangkul, sementara Pak Prabowo harus menerima kenyataan menjadi pembantu bagi mantan orang yang pernah diusungnya sekaligus kemudian menjadi mantan rival politiknya.

Hitung-hitungan politik pasti dianggap sebagai faktor utama bersedianya Prabowo untuk bergandengan tangan dengan Pak Jokowi. Gampangnya, demi 2024.

Tapi kesampingkan dulu faktor tersebut. Pak Jokowi (dan Pak Prabowo) agaknya punya agenda penting yang harus dilakukan untuk Indonesia ke depan, bukan semata urusan menang-kalah per lima tahunan. Urusan yang begitu penting yang menyangkut kepercayaan diri sebagai sebuah negara. Urusan yang begitu urgen karena terkait erat dengan kemampuan untuk melindungi seluruh wilayah beserta semua yang ada di dalamnya.

Betul, ada hal penting yang perlu mendapat perhatian segera, yakni terkait bidang pertahanan dan segala peralatannya yang perlu pembenahan.

Terkuak bahwa Presiden Jokowi meminta secara langsung kepada Menteri Pertahanan Prabowo Subianto untuk mendesain sistem pertahanan Indonesia agar lebih kuat. Dan yang penting, bukan hanya jangka pendek tapi setidaknya untuk 25 tahun ke depan.

Luar biasa!

Jelas sebuah visi besar dari Presiden Jokowi dalam hal penguatan pertahanan negara, dan ternyata orang yang dipercaya adalah seorang Prabowo.

Pak Jokowi jelas tidak asal-asalan. Pak Jokowi jelas sudah mempertimbangkan sedemikian rupa atas keputusan tersebut. Sederhananya, hal-hal besar akan lebih mudah dilakukan oleh orang besar. Dan jelas keduanya orang besar. Pak Jokowi orang besar, demikian juga Pak Prabowo. Rekam jejak Pak Prabowo di bidang kemiliteran jelas tidak bisa diabaikan begitu saja.

Sebenarnya sungguh sangat wajar bila bidang pertahanan perlu mendapat perhatian lebih mengingat begitu luasnya wilayah Indonesia. Laut yang menjadi bagian terbesar Indonesia pada kenyataannya juga tidak terjaga dengan baik karena keterbatasan peralatan yang dimiliki. Sehingga tidak heran kalau justru orang asing yang mendapat manfaat berlebih secara ilegal dari sumber daya yang seharusnya dapat memperbaiki kehidupan Indonesia.

Tentu kita masih ingat bagaimana beberapa waktu yang lalu kapal selam Indonesia yang tenggelam karena sudah ketuaan. Bahkan untuk mengangkatnya pun Indonesia kesulitan. Belum lagi soal jumlah armada kapal selam yang dimiliki oleh Indonesia. Silahkan googling, dan yakin, rasa mirislah yang ada begitu melihat kenyataannya. Pertahanan Indonesia sedemikian rapuhnya.

Semakin miris begitu ada gelaran donasi, yang tentu saja seharusnya sudah mengaduk-aduk harga diri negara, karena terkesan negara sebegitu lemah, miskin, dan sebegitu tidak mampunya?

Belum lagi bila dibandingkan dengan negara lain, berapa yang dikeluarkan Tiongkok dan USA pertahun untuk membiayai pertahanan negaranya?

Bandingkan juga dengan negara-negara di sekeliling Indonesia, Singapura misalnya! Berapa dan jenis apa pesawat tempur, kapal selam, kapal perang, sistem radar, rudal, dan alutsista yang dimilikinya?

Belum dengan Malaysia? Belum dengan Australia? Belum dengan negara lainnya. Yakin, Indonesia begitu tertinggal. Indonesia pasti inferior.

Maka agaknya sangat tepat apa yang dilakukan Presiden Jokowi dengan menggandeng Pak Prabowo. Indonesia memang perlu mendesain sistem pertahanannya agar lebih baru dan kuat. Bukan jamannya lagi asal bonek. Modal nekat, apalagi modal bambu runcing.

Suara sumbang pasti ada. Tapi, kan ada KPK, BPK, Bappenas, Kepolisian, TNI, dan Kejaksaan yang dapat dilibatkan agar apa yang di desain Pak Prabowo menjadi tepat sasaran, tepat waktu, dan tepat anggaran. Agar tidak menjadi proyek bancaan yang hanya menguntungkan satu pihak tertentu, yang kemudian kembali membuat Indonesia rugi besar.

Dan o ya, Rp 1700 T itu baru rencana. Itupun dipersiapkan untuk 25 tahun. Fyi, di ASEAN anggaran pertahanan tahunan Indonesia nomor dua, tapi sayangnya di bawah..., Singapura!

Pada 2021, anggaran militer AS mencapai Rp 10,71 kuadriliun. China?

Eh, Indonesia hanya di bawah China lho soal….., sampah plastik!

Duet Jokowi-Prabowo demi Bangun Sistem Pertahanan yang Kuat

Sumber Utama : https://seword.com/umum/duet-jokowi-prabowo-demi-bangun-sistem-pertahanan-cLFiAgaXaO

Mayjen Dudung Jadi Target Pembunuhan Karakter Media Pro-FPI? Jahatnya!

Mayjen Dudung Abdurachman, mantan Pangdam Jaya, pada Selasa lalu (8/6) diangkat secara resmi menjadi Panglima Komando Cadangan Strategis Angkatan Darat (Pangkostrad). Sebelumnya, nama Dudung jadi populer di kalangan publik dan trending di media sosial pasca pencopotan dan penurunan baliho Rizieq Shihab. Karena memang baru pertama kali TNI ikut membantu menertibkan baliho-baliho raksasa itu. Kalau kita menoleh ke belakang, kok kita ini seperti dijajah oleh baliho Rizieq ya. Padahal baliho itu tidak mewakili rakyat secara keseluruhan. Baliho itu semacam alat propaganda untuk terus “menjual” dan memelihara predikat “Imam Besar” umat Islam, padahal Rizieq hanyalah imam besar buat FPI dan para simpatisannya. Bukan bagi seluruh rakyat Indonesia.

Sosok Dudung pun makin populer dan makin mendapatkan dukungan publik, ketika dia berani menyuarakan pembubaran FPI. "Kalau perlu FPI bubarkan saja itu. Bubarkan saja. Kalau coba-coba dengan TNI, mari. Sekarang kok mereka ini seperti yang ngatur, suka-sukanya sendiri… Jangan coba-coba ganggu persatuan dan kesatuan di Jakarta. Saya panglimanya. Kalau coba-coba, akan saya hajar nanti," ujar Dudung waktu itu Sumber.

Kubu Rizieq dan pendukungnya pun mungkin terkaget-kaget. Tidak pernah mereka digertak keras semacam ini. Mau ngadu ke siapa? Telepon Anies? Anies saja senyap suaranya. Mana berani berurusan sama TNI. Dudung menjadikan sulit bagi gerombolan dan bohir di balik Rizieq untuk melawan. Bisanya kan sekedar demo, teriak-teriak takbir. Menyaksikan baliho Rizieq diturunkan hingga robek-robek, mereka pun terdiam, melongo. Tidak berdaya.

Kondisi ini menjadikan Dudung sebagai sosok yang berbahaya bagi mereka. Nama Dudung pun bahkan sempat disebut Rizieq dalam persidangannya pada Kamis (20/5) lalu. Rizieq berusaha menyindir pencopotan baliho oleh Dudung. Menyebut Dudung tidak punya nyali menghadapi para teroris separatis di Papua, dengan membandingkannya dengan FPI. "Namun, mungkin Pangdam Jaya tidak punya nyali, sehingga kelasnya memang hanya setingkat memerangi baliho saja. Wallaahu a'lam," kata Rizieq Sumber.

Ternyata, upaya memusuhi Dudung ini tidak hanya sekedar dari mulut Rizieq, dengan memanfaatkan momen persidangannya. Saya pun menduga ada upaya yang dikerahkan untuk melakukan pembunuhan karakter terhadap Dudung. Semacam kampanye hitam. Namun, tidak secara masif. Atau mungkin tidak bisa secara masif karena tidak didukung oleh modal yang gede? Karena yang saya temukan hanya dilakukan oleh satu media saja, yakni jpnn.com.

Kejadiannya bertepatan dengan beredarnya keputusan mutasi dan rotasi di kalangan TNI seperti diputuskan oleh Panglima TNI. Mayjen Dudung mendapatkan promosi menjadi Pangkostrad. Dia pun secara otomatis naik pangkat menjadi Letnan Jendral Sumber. Di judul, saya masih memakai pangkat beliau yang lama, karena kejadian ini berlangsung sebelum pengangkatannya.

Waktu itu, soal mutasi dan rotasi di kalangan TNI jadi berita berbagai media. Khususnya Dudung yang mendapat porsi pemberitaan lebih banyak. Berikut berbagai berita dari media tersebut.

Article

Semua bernada positif. Baik menggunakan kata promosi maupun mutasi. Nah, bandingkan dengan judul berita yang dirilis oleh jpnn.com Sumber

Article

Nada dan nuansanya sungguh berbeda. Penyebutan “kena mutasi” itu seakan apa yang terjadi pada Dudung merupakan sebuah hukuman. Gara-gara dia pernah galak terhadap FPI. Nada serupa juga diterapkan jpnn.com dalam membagikan artikel beritanya di Twitter link twitter.

Article

Cuitan jpnn.com di Twitter ini pun mendapat banyak protes dari netizen. Reaksi mereka sama dengan yang saya rasakan. Seakan proses mutasi yang dialami oleh Mayjen Dudung merupakan sebuah hukuman, atau semacam demosi. Padahal yang terjadi kan promosi, naik pangkat.

Jpnn.com tidak berhenti di sana. Mereka juga menurunkan berita berikutnya, bertajuk “Komentar Pedas Novel Sindir Promosi Jabatan untuk Letjen Dudung” Sumber. Di dalam artikel itu, dikutip komentar Wasekjen PA 212, Novel Bamukmin, terkait promosi Dudung. Tentu saja Novel menyebut promosi itu salah orang. “Oknum-oknum itulah menjadi pemecah belah anak bangsa, karena sejatinya ulamalah perumus Pancasila dan mewariskan kepada anak bangsa untuk dijaga dan diamalkan. Justru saat ini ulama menjadi pesakitan sampai-sampai balihonya diturunkan oleh oknum-oknum TNI. TNI tupoksinya bukan seperti itu karena turun derajat. Seharusnya diturunkan juga jabatannya bukan malah diangkat, tetapi ini rezim aneh luar biasa para tokoh pelaku yang diduga penista agama malah dapat posisi penting,” ujar Novel.

Pernyataan yang khas kadrun. Kenyataan dibolak-balik seenak udelnya. Wong mayoritas rakyat malah mengapresiasi tindakan Mayjen Dudung dan anak buahnya kok. Buktinya, begitu banyak karangan bunga yang dikirimkan ke Markas Pangdam Jaya waktu itu. Bandingkan dengan suasana di Petamburan, apakah ada kiriman bunga dari rakyat? Mayjen Dudung pun disebut penista agama. Ini siapa yang percaya? Kalau banyak yang percaya, pasti sudah terjadi demo oleh berjuta-juta umat kan? Sampai sekarang adem-adem saja tuh.

Nah, saya cek di google secara singkat, nampaknya hanya jpnn.com yang langsung meminta komentar Novel. Sementara media lain, seperti terkini.id, suara.com, dan wartaekonomi.co.id, mereka mengutip dari jpnn.com. Apakah jpnn.com memang pro-FPI? Apakah memang ada kerja sama antara jpnn.com dengan kubu Rizieq/FPI untuk berupaya melakukan pembunuhan karakter terhadap Dudung? Bahkan ketika Rizieq membacakan pleidoi dalam sidangnya pada Kamis lalu (10/6), nama Dudung disebut lagi. Rizieq berusaha menyindir, menyebut promosi Dudung itu karena “sukses dalam operasi penurunan baliho” Sumber.

Yang pasti, upaya itu sia-sia belaka. Malah berbalik lagi ke arah mereka, ke arah jpnn.com, Rizieq dan FPI. Justru jadi terlihat sekali, siapa yang suka membolak-balikkan fakta, siapa yang sebenarnya bertindak zholim dan cenderung fitnah. Yang pasti bukan Mayjen Dudung, bukan kita. Kita sedang menikmati kedamaian tanpa Rizieq dan FPI. Ada peran serta Mayjen Dudung di sana. Memberikan rasa aman dan damai pada rakyat. Terima kasih Pak Dudung, dan selamat atas promosinya. Sukses selalu!
Mayjen Dudung Jadi Target Pembunuhan Karakter Media Pro-FPI? Jahatnya!

Saat Fadli Zon Sebut Amerika Lebih Pancasilais Soal Pulitzer Pada Remaja Perekam Floyd

Anggota DPR dari Partai Gerindra, Fadli Zon mengomentari pemberian penghargaan terhadap remaja yang merekam detik-detik George Flyod dengan telepon selulernya.

Darnella Frazier menjadi perbincangan baru-baru ini karena mendapatkan penghargaan dari Pulitzer Prize atas videonya yang merekam detik-detik tewasnya George Floyd , seorang pria kulit hitam warga AS yang meninggal karena ditindih dengan lutut oleh seorang polisi. Pulitzer Prize sendiri adalah penghargaan bergengsi dalam jurnalisme Amerika Serikat.

Seperti kita ketahui, tewasnya George Floyd telah memicu kemarahan publik di AS hingga menyebabkan terjadinya unjuk rasa massal di beberapa kota, bahkan sampai terjadi kerusuhan dan penjarahan di beberapa tempat. Situasi saat itu sangat kacau dan mencekam.

Polisi yang menyebabkan kematian Floyd, akhirnya dinyatakan bersalah atas tiga dakwaan: pembunuhan tingkat dua, pembunuhan tingkat tiga, dan pembunuhan. Ancaman hukuman dapat mencapai hingga 40 tahun.

Akan tetapi, Fadli Zon turut mengomentari soal penghargaan Pulitzer tersebut.

Fadli Zon menilai penghargaan itu menunjukkan Amerika Serikat menerapkan prinsip kemanusiaan yang adil dan beradab. "Ternyata Amerika lebih Pancasilais menerapkan prinsip kemanusiaan yang adil dan beradab," kata Fadli.

Entah apa maksud dia mengatakan itu. Dan yang paling lucu, entah apa maksudnya dia mengaitkan dengan Pancasilais.

"Amerika di sini maksudnya pemerintahnya, warga negaranya, aparatnya atau apa bang? Apakah sebuah penghargaan bisa menggambarkan prinsip kemanusiaan? Bagaimana kasus diskrimanasi rasial di USA yang masih terjadi saat ini?" tanya seorang netizen yang saya setuju.

Apakah hanya karena satu penghargaan itu lantas pantas mengatakan AS lebih Pancasilais? Menurut saya ini komentar yang sangat tidak nyambung dan asal-asalan.

Kalau mau bicara soal Kemanusiaan Yang Adil dan Beradab, saya malah teringat dengan sentimen anti Asia yang sempat merebak beberapa bulan lalu? Kita semua tahu, betapa mengerikannya hal itu. Warga keturunan Asia di sana menjadi sasaran kemarahan beberapa warga AS. Warga Jepang, Korea, Cina, Thailand, Vietnam dan Indonesia jadi sasaran kebencian.

Fadli Zon layaknya kurang update berita.

Biasanya yang jadi korban adalah lansia dan orang tua. Ada yang saat berjalan, tiba-tiba didorong oleh orang tak dikenal hingga tersungkur. Ada yang tewas malah. Ada juga enam orang yang ditembak di tiga spa dan tewas. Ada juga yang dianiaya dan dituding membawa virus dan memintanya agar kembali ke China.

Dua WNI juga tak luput menjadi korban penyerangan di stasiun kereta di Philadelphia, Pennsylvania pada Maret 2021 lalu. Korbannya adalah dua orang remaja. Mereka mendapat serangan fisik berupa tamparan dan pukulan.

Sentimen anti Asia ini diduga kuat, salah satu biang keroknya adalah karena sikap Donald Trump yang menyebut virus Covid-19 dengan sebutan virus China, sehingga meningkatkan kasus rasisme di sana. Berkali-kali Trump mengobarkan tuduhan yang memojokkan China terkait Covid-19.

Apakah Fadli Zon mau komentar soal ini?

Tak usah lihat terlalu jauh. Kalau begitu membanggakan soal ini, kenapa dia tidak merekam pelaku penganiayaan terhadap Ratna Sarumpaet, sehingga, who knows dia juga bisa mendapatkan Pulitzer Prize dan menjadi sorotan internasional? Keren, lho.

Saya juga penasaran, bagaimana kalau Fadli Zon mengatakan ini saat isu polemik Palestina dan Israel sedang memanas waktu itu, di mana AS juga jadi sasaran amarah. Saya yakin, dia bakal dicaci dan dihujat entah sampai kapan, hehehe.

Menurut saya, Fadli Zon ini terlalu tak tahu malu dalam memberikan kritikan, eh maksudnya nyinyiran. Kalau ada yang tidak disukai atau bahkan dibenci, tak usah bikin cocoklogi yang memalukan kayak begini.

Memang dari cuitannya, tidak menyebut nama Indonesia. Tapi kita tahu maksudnya apa. Tidak mungkinlah menyebut Amerika lebih Pancasilais dari Nigeria. Atau Amerika lebih Pancasilais dari Sunda Empire. Makin ngawur dong. Sejak kapan Amerika dan Nigeria punya Pancasila?

Dan juga dia tidak menjelaskan negara yang disindir itu masalahnya di mana? Tapi yang jelas ada nada sindiran dari cuitan tersebut, sesuai dengan gayanya yang memang kerap menyindir dan nyinyir. Kecuali menyindir Prabowo. Penasaran apakah orang ini berani melakukannya. Kalau berani, mungkin pantas dapat penghargaan juga.

Bagaimana menurut Anda?

Saat Fadli Zon Sebut Amerika Lebih Pancasilais Soal Pulitzer Pada Remaja Perekam Floyd

Sumber Utama : https://seword.com/politik/saat-fadli-zon-sebut-amerika-lebih-pancasilais-EoaI240Ras

Islah Bahrawi: Politisi dan Pendakwah “Goreng” Isu Haji untuk Menghasut Umat

Jakarta, ARRAHMAHNEWS.COM Entah apa yang ada dalam batinnya, orang-orang yang konon berilmu agama tinggi, tiada henti mengumbar fitnah atau setidaknya turut serta menyebarkan berita tanpa “Tabayyun” kepada umat.

Ahmed Fananee, pengamat politik Nigeria. Dia menambahkan, “Pendakwah agama tidak ubahnya seperti artis yang glamor; dikelilingi oleh uang, tergoda oleh tahta dan wanita”

Ilmu yang diserap ternyata sebatas hafalan, bukan amalan. Pada akhirnya ilmu yang dimiliki seolah terjebak pada rumus-rumus pertunjukan dan gemuruh tepuk tangan.

“Tapi dakwah agama telah lama jadi industri, karena sanggup menarik banyak umat, kepentingan politik pada akhirnya menjadi halaman tambahan dalam frasa ayat-ayat”, kata Ahmed Fananee, pengamat politik Nigeria. Dia menambahkan, “Pendakwah agama tidak ubahnya seperti artis yang glamor; dikelilingi oleh uang, tergoda oleh tahta dan wanita”.

Di negara-negara Islam dengan sistim kebebasan demokrasi, banyak oposisi dan mereka yang dikalahkan oleh kontestasi, cenderung menggunakan isu agama sebagai alat agitasi.

Pendakwah agama berusaha menjaga “Harga dirinya” dengan terus menggunakan kemampuannya menyerukan perlawanan kepada pihak pemenang. Ini banyak terjadi.

Di Senegal, Abdoulaye Wade menggunakan Cheikh Bethio Thioune -Pendakwah agama yang beranggotakan jutaan orang- sebagai basis kekuatan politik pada Pilpres 2012. Tapi ternyata Wade kalah.

Sejak itu umat Islam di Senegal terbelah. Kekalahan politik membuat Thioune harus menjaga “Marwahnya” dengan fitnah berjubah ayat-ayat untuk menyerang pemerintah.

Tidak semua pendakwah agama bersikap demikian, namun bagaimanapun, mereka adalah manusia biasa dengan segala nafsu dan ambisinya. Banyak yang terbius oleh jumlah umat yang besar, lalu menjadikannya komoditi kepentingan.

Dalam konteks Indonesia, ini juga terjadi. Ketika pemerintah memutuskan menunda keberangkatan haji, berbagai isu dimunculkan oleh para politisi dan pendakwah agama.

Terasa sulit saat ini, terutama dari pihak “Oposisi” yang bisa menjadi “ular menelan linggis” – lurus dan jujur atas situasi faktual.

Semua isu agama seolah menjadi senjata untuk menyerang pemenang. Saya teringat ucapan Allah Yarham Zainuddin MZ “Telur dan kotoran ayam keluar dari lobang yang sama. Tapi tidak mungkin kita mencampur kotoran ayam dengan telur dadar”. (ARN)

Islah Bahrawi: Politisi dan Pendakwah "Goreng" Isu Haji untuk Menghasut Umat
Islah Bahrawi: Politisi dan Pendakwah "Goreng" Isu Haji untuk Menghasut Umat

Sumber Utama : https://arrahmahnews.com/2021/06/09/islah-bahrawi-politisi-dan-pendakwah-goreng-isu-haji-untuk-menghasut-umat/

Islah Bahrawi: Politisasi Agama “Mesin Perang” Politik Para Politisi dan Tokoh Agama

Jakarta, ARRAHMAHNEWS.COM – Politisi dan tokoh agama merawat fanatisme politik dengan hasutan dan fitnah. Agar umat selalu terbelah dan tetap jadi mesin “Perang politik”. Inilah jahatnya politisasi agama.

Islah Bahrawi dalam akun Instagramnya menjelaskan bagaimana politisasi agama bisa menghancurkan sebuah negara, politisasi agama dijadikan “Mesin perang” politik oleh politisi dan tokoh agama.

Racun bernama fitnah itu disuarakan, lalu bergulir dari mulut ke mulut dan dianggap sebuah kebenaran. Kebencian terus dibangun dalam fabrikasi politik dengan jubah-jubah ketuhanan. Ini bukan hanya terjadi hari ini, inilah pola yang telah terjadi selama berabad-abad. Sejarah selalu berulang.

Politisi dan tokoh agama merawat fanatisme politik dengan hasutan dan fitnah. Agar umat selalu terbelah dan tetap jadi mesin “Perang politik”. Inilah jahatnya politisasi agama

Dan dalam politisasi agama, para penjahat adalah figur-figur yang tampil suci secara kosmetis tapi batinnya penuh dendam dan kecewa. Selanjutnya hasutan dilumur ayat-ayat, caci maki dibalur kalimat artifisial berkesan bijak.

Dalam politisasi agama, saudara sebangsa bisa berperang dan seagama saling tikam. Manusia tidak lagi menjadi manusia; ia menjadi penghukum sekaligus penghakim – menuhankan manusia dan memanusiakan Tuhan.

Manusia-manusia artifisial dalam politisasi agama selalu menjauh dari cermin. Berkali-kali alam mempermalukannya tapi justru semakin enggan melihat wajahnya sendiri. Mereka melakukan hasutan dan fitnah sekali lagi, lagi dan lagi, karena mereka memang lihai menaklukkan isi kepala orang lain tapi tak pernah bisa mengalahkan isi dadanya sendiri.

Dari mulut para pendakwah yang berkelindan dengan kepentingan politik, membuat agama semakin berkesan tidak menarik. Umat hanya menjadi alat bentur, menjadi mesin perang.

Ajaran agama seolah menghalalkan segala cara demi ambisi segelintir manusia yang berusaha menolak takdirnya. Merekalah bagian dari kelompok yang tak pernah berhenti melahirkan reproduksi “Abdurrahman bin Muljam”, abad demi abad, dan terjaga hingga kini.

Pendakwah agama itu bukan jubah, bukan sorban; bukan busana. Seorang pendakwah tidak pernah diperkenankan memindahkan kemarahannya kepada umat, apalagi menularkan niat jahatnya kepada umat – ia penenang ruang batin dan pembawa kabar gembira bagi orang lain.

Namun pendakwah agama dengan seorang penghasut hari ini semakin sulit untuk dibedakan, keduanya menggunakan bahasa dan busana yang sama.

Mungkin satu saja bedanya; para penghasut merasa punya jutaan umat, tapi dua kali Pilpres tak berdaya. Mereka tertipu karena ambisi buta telah menjajahnya. Untuk menutupi rasa malunya mereka memilih jadi “Ampas Pilpres” – menghasut dan memfitnah sana-sini. (ARN)

Islah Bahrawi: Politisasi Agama "Mesin Perang" Politik Para Politisi dan Tokoh Agama
Islah Bahrawi: Politisasi Agama "Mesin Perang" Politik Para Politisi dan Tokoh Agama

Sumber Utama : https://arrahmahnews.com/2021/06/09/islah-bahrawi-politisasi-agama-mesin-perang-politik-para-politisi-dan-tokoh-agama/

Beli Sembako Dikenai Pajak, Beli Mobil Diskon, Sri Mulyani: Teknik Hoax yang Bagus

Suara.com - Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati angkat suara terkait kekisruhan di publik soal wacana pemerintah yang ingin memajaki produk bahan pokok atau sembako.

Dalam rapat kerja dengan Komisi XI DPR RI, ia mengakui bahwa ada niatan pemerintah untuk memperbaiki struktur penerimaan negara dalam rancangan draft RUU Perubahan Kelima Atas Undang-undang Nomor 6 Tahun 1983 tentang Ketentuan Umum dan Tata Cara Perpajakan (KUP).

Salah satu yang diatur adalah soal perubahan tarif Pajak Pertambahan Nilai atau PPN untuk sembako dan sekolah, tapi yang disayangkannya, dokumen draft tersebut bocor ke publik dan langsung menjadi polemik ditengah masyarakat.

"Ini memang situasinya menjadi agak kikuk karena ternyata dokumennya keluar karena memang sudah dikirimkan kepada DPR juga sehingga kami tidak dalam posisi untuk bisa menjelaskan keseluruhan arsitektur dari perpajakan kita," kata Sri Mulyani.

Yang lebih disayangkan olehnya adalah dokumen yang bocor tersebut tidak seutuhnya alias sepotong-potong.

"Yang kemudian di-blow up dan seolah-olah menjadi sesuatu yang tidak bahkan mempertimbangkan situasi hari ini," sesalnya.

Alhasil, Sri Mulyani menyatakan, ada misintrepretasi di tengah masyarakat terkait masalah ini dan jadi bahan untuk menyebarkan informasi yang salah alias hoax.

"Seolah-olah PPnBM untuk mobil diberikan, sembako dipajaki itu kan teknik hoax yang bagus banget memang," katanya.

Sebelumnya dalam rapat tersebut Sri Mulyani berkali-kali kena semprot anggota Komisi XI DPR RI soal wacana pemerintah yang ingin memajaki produk kebutuhan pokok atau sembako menjadi objek pajak penghasilan atau PPN.

Di sela rapat kerja terkait Pagu Indikatif Kementerian Keuangan Tahun 2022 tersebut Kamis (10/6/2021), Sri Mulyani tak bisa mengelak dicecar habis soal wacana tersebut.

Pertama oleh Anggota Komisi XI DPR RI dari Fraksi PDI Perjuangan, Andreas Eddy Susetyo, dia mengatakan akibat adanya rencana PPN untuk sembako membuat dirinya ditelpon berkali-kali oleh para pedagang pasar.

"Pedagang pasar di Malang nelepon saya berkali-kali, bilang masa DPR nggak tahu, saya merasa terpojok karena kita memang betul-betul belum membahas ini," kata Andreas Eddy Susetyo, dalam rapat tersebut.

Andreas Eddy Susetyo pun menjelaskan kepada para pedagang pasar tersebut, bahwa DPR sebetulnya tidak mengetahui adanya wacana memajaki produk sembako, karena draft permohonan aturan tersebut belum sampai ke meja DPR.

"Saya katakan bahwa sampai saat ini kami belum menerima draf resmi dari pemerintah. Mereka nggak percaya 'lho terus kamu kerjanya apa?' mereka mempertanyakan," tutur Andreas Eddy Susetyo.

Tak hanya Andreas Eddy Susetyo yang mengkritisi kebijakan tersebut, politisi lain dari Partai Golkar Puteri Anetta Komarudin mengatakan seharusnya pemerintah mencoba alternatif penerimaan pajak yang lain, bukan dari bahan-bahan kebutuhan pokok, apalagi kata dia saat ini pandemi Covid-19 belum juga usai.

"Mestinya ketika dampak ekonomi pandemi Covid-19 ini dirasakan oleh berbagai level masyarakat, kita mengoptimalisasi penerimaan negara bukan dari barang-barang yang menjadi kebutuhan pokok mereka," katanya.

Beli Sembako Dikenai Pajak, Beli Mobil Diskon, Sri Mulyani: Teknik Hoax yang Bagus
Menkeu Sri Mulyani dalam rapat kerja dengan Komisi XI DPR RI [screenshot YouTube].

Sumber Utama : https://www.suara.com/bisnis/2021/06/11/055129/beli-sembako-dikenai-pajak-beli-mobil-diskon-sri-mulyani-teknik-hoax-yang-bagus

Timbulkan Kegaduhan, YLKI Minta Pemerintah Usut Penyebar Draf Rancangan PPN Sembako

Merdeka.com - Ketua Harian Yayasan Lembaga Konsumen Indonesia (YLKI) mendesak pemerintah untuk mengusut pihak-pihak yang sengaja membocorkan dokumen soal rencana pengenaan Pajak Pertambahan Nilai (PPN) untuk sembako hingga sekolah. Mengingat, terjadinya kegaduhan atas isu sembako yang akan dikenai PPN itu.

"Saya kira soal bocornya ini harus diusut dulu lah," ungkapnya dalam diskusi virtual Polemik Trijaya, Sabtu (12/6).

Bahkan, Bos YLKI tersebut juga meminta adanya pemberian sanksi tegas terhadap pihak-pihak yang terlibat di dalamnya. Hal ini sebagai bentuk keadilan di tengah gencarnya kampanye pemerintah dalam memerangi hoax.


"Kalau pemerintah suka keras kepada masyarakat yang menyebar hoax, siapa yang menyebarkan ini harus kemudian di sanksi juga. Karena tadi itu diklaim sebagai sebuah kebocoran yang kemudian banyak pemotongan (dokumen) yang tidak perlu. jangan sampai kalau masyarakat yang melakukan ini ditindak tapi kalau oknum pejabat atau politisi dibiarkan. Ini tidak fair," protesnya.

Sebelumnya, Menteri Keuangan, Sri Mulyani Indrawati menegaskan pemerintah saat ini masih tetap fokus untuk memulihkan ekonomi. Sehingga, dia sangat menyayangkan adanya kegaduhan di tengah masyarakat mengenai isu sembako akan dikenakan Pajak Pertambahan Nilai (PPN).

"Di-blow up seolah-olah tidak memerhatikan situasi sekarang. Kita betul-betul menggunakan instrumen APBN karena memang tujuan kita pemulihan ekonomi dari sisi demand side dan supply side," katanya dalam Raker bersama Komisi XI DPR RI dikutip dari Antara di Jakarta, Kamis (10/6).

Terlebih lagi, menurut Sri Mulyani draf RUU KUP tersebut bocor dan tersebar ke publik dengan aspek-aspek yang terpotong dan tidak secara utuh sehingga menyebabkan kondisi menjadi kikuk. "Situasinya menjadi agak kikuk karena ternyata kemudian dokumennya keluar karena memang sudah dikirimkan kepada DPR juga. Yang keluar sepotong-sepotong," ujarnya.

Meski demikian, dia menuturkan pemerintah masih belum bisa menjelaskan secara detail mengenai isu ini karena dari sisi etika politik memang belum ada pembahasan dengan DPR RI. "Dari sisi etika politik, kami belum bisa menjelaskan sebelum ini dibahas. Karena ini adalah dokumen publik yang kami sampaikan kepada DPR melalui surat Presiden," tegasnya.

Dia menjelaskan RUU KUP dibacakan terlebih dahulu dalam sidang paripurna yang kemudian akan dibahas bersama Komisi XI DPR RI terkait seluruh aspeknya mulai dari waktu hingga target pengenaan pajak.

"Itu semua kita bawakan dan akan kita presentasikan secara lengkap by sector, by pelaku ekonomi, kenapa kita menurunkan pasal itu, backrgound-nya seperti apa. Itu semua nanti kami ingin membahas secara penuh dengan Komisi XI," jelasnya. [did]

Timbulkan Kegaduhan, YLKI Minta Pemerintah Usut Penyebar Draf Rancangan PPN Sembako  
pajak. ©2020 Merdeka.com

Sumber Utama : https://www.merdeka.com/uang/timbulkan-kegaduhan-ylki-minta-pemerintah-usut-penyebar-draf-rancangan-ppn-sembako.html

 Re-post by MigoBerita / Senin/14062021/16.21Wita/Bjm

Ada apa dibalik Bulan Muharram, mengapa Syi'ah & Sebagian Sunni Berduka ?

 

Migo Berita - Banjarmasin - Ada apa dibalik Bulan Muharram, mengapa Syi'ah & Sebagian Sunni Berduka ? Bagi yang percaya tanggal 1 Muharram adalah Tahun Baru Islam, maka kami Ucapkan Selamat Tahun Baru Islam, akan tetapi bagi yang menganggap bulan Muharram adalah Bulan Duka Cita Keluarga Nabi dan Dunia islam, maka Kamipun mengucapkan Takziah dan Bela Sungkawa atas Tragedi Kemanusiaan tersebut. Agar tidak berpikir kesana kemari, maka kami ingatkan lagi bahwa Islam itu ternyata mempunya pemikir dan aliran yang sangat banyak, namun :  

Republik Indonesia, yang memang terbiasa berbeda, baik aliran atau mazhab didalam islam hingga berbeda agama, suku dan ras. Dan Ciri Khas masyarakat Indonesia yang berbudaya, mereka menerima dengan lapang dada, yang terpenting tidak melanggar peraturan dan taat kepada UUD 45, PANCASILA dan NKRI Harga Mati.

Semoga perbedaan tidak menjadikan kita berpecah-belah, karena didunia Islam kita tahu bersama, Islam itu sekarang terbagi dalam 3 (Tiga) pemikiran besar, yaitu : 

1. Islam Wahabi Salafi yang dianut mayoritas pemerintah Kerajaan Arab Saudi.

2. Islam Syi'ah Istna As ariyah / 12 Imam yang dianut mayoritas pemerintah dan penduduk Republik Islam Iran, serta

3. Islam Sunni Syafe'i ala Indonesia yang dianut mayoritas pemerintah dan penduduk Republik Indonesia.

Mereka menjalankan aliran atau mazhabnya sesuai dengan kultur / budaya bangsa mereka sendiri, sesauai dengan Tafsir mereka sendiri masing-masing, ketika aliran mereka selalu menebarkan Cinta Kasih dan Sayang kepada sesama ummat manusia dan ummat Islam, maka mereka layak dikatakan Islam yang Kaffah atau menyeluruh, akan tetapi apabila mereka atau golongannya atau mazhabnya yang jadi rujukan mereka terus menerus menebarkan Kebencian sesama ummat manusia dan ummat Islam, maka sudah selayaknya kita tidak mengikutinya.

Kebenaran Hanya Milik ALLAH SWT, dan dengan Fasilitas berupa Akal untuk membedakan mana yang baik dan benar, serta Fasilitas berupa Kenabian, maka diharapkan kita tidak tersesat didunia yang hanya sementara ini.

Tebarkanlah Kasih Sayang sesama ummat manusia dan ummat Islam , InsyaAllah kita akan selalu berdampingan dengan DAMAI didunia hingga akherat..InsyaAllah. 


Damainya Dunia, khususnya Indonesia tanpa TAKFIRI. Karena makna Takfiri adalah sekelompok atau orang dan golongannya yang selalu menganggap orang lain KAFIR atau SALAH dan hanya dia dan golongannya saja yang paling BENAR. Dimanapun itu didunia ini kita harus memahami, bahwa terlepas dari berbagai aliran didalam Islam, maka sebenarnya ketika mereka beralirkan TAKFIRI atau bahasa rincinya Merasa Paling Benar sendiri dan orang lain PASTI SALAH sudah dapat dipastikan untuk kita segera menjauhinya atau Tidak mengikutinya, walau kita tahu bersama Islam saat ini mempunyai 3 Pemikiran Besar dan bisa saja masing-masing disusupi TAKFIRI, yaitu 1. Islam Wahabi Salafi yang mayoritas dianut oleh Pemerintah Kerajaan Arab Saudi, 2. Islam Sunni Syafe'i ala Indonesia yang dianut mayoritas penduduk dan pemerintah Republik Indonesia serta 3.Islam Syi'ah Istna Asy ariyah (12 Imam) yang dianut oleh mayoritas penduduk dan Pemerintah Republik Islam Iran.

Jadi, teruslah waspada untuk Agenda Pemecah-belah Persatuan Ummat Islam dan Ummat Manusia, STOP TAKFIRI.. !!!!!

Tokoh Muda NU Apresiasi Buku Syiah Menurut Syiah yang Ditulis Tim Penulis Ormas ABI

Semarang – Zuhairi Misrawi, tokoh muda NU yang juga seorang pengamat Timur Tengah baru-baru ini menulis dalam akun Instagramnya (@zuhairimisrawi) tentang apresiasinya atas diterbitkannya buku Syiah Menurut Syiah yang ditulis oleh Tim Penulis Ahlulbait Indonesia sebagai bantahan atas buku yang mengatasnamakan MUI dengan judul Mengenal dan Mewaspadai Kesesatan Syiah.

Buku Syiah Menurut Syiah sebenarnya sudah lama diluncurkan oleh ABI pada tahun 2014 silam, banyak kalangan mengapresiasi kehadiran buku ini, di antaranya oleh Menteri Agama Republik Indonesia, Lukman Hakim Saifuddin. Bahkan, Lukman Hakim bersedia menyempatkan diri untuk memberikan pandangannya mengenai buku ini, yang kemudian tertuang menjadi sambutan atau pengantar dalam buku tersebut. Menag menilai, perbedaan pandangan di kalangan umat Islam adalah suatu hal yang wajar dan harus disikapi secara adil, bukan saling menyalahkan namun justru saling melengkapi khazanah pengetahuan tentang Islam dan keindonesiaan yang mengusung Bhinneka Tunggal Ika, sekaligus menguatkan tali persatuan dan persaudaraan melalui perbedaan-perbedaan itu.

Zuhairi menulis, “Pertama-tama, saya mengucapkan terima kasih kepada Tim Ahlulbait Indonesia yang telah menulis dan menerbitkan buku yang sangat baik ini. Buku ini sebagai jawaban atas buku MENGENAL DAN MEWASPADAI KESESATAN SYIAH DI INDONESIA, yang diterbitkan oleh Tim MUI, karena ada logo MUI, yang konon dibedah di berbagai daerah, bahkan di berbagai instansi pemerintah daerah. Saya secara pribadi sudah tidak simpati pada buku yang ditulis oleh Tim MUI tersebut karena isinya lebih pada narasi politik daripada narasi akademis, karena di dalamnya tidak menggunakan perspektif akademis yang komparatif dengan argumen yang kokoh.”

Baca Zuhairi Misrawi: Kesamaan Tradisi Satukan NU dan Syiah

Buku SYIAH MENURUT SYIAH ini menjawab berbagai tuduhan sesat terhadap Syiah dengan argumen yang kuat. Secara garis besar, Syiah selalu berpegang pada Alquran sebagai sumber primer dalam menentukan kebenaran dan  kebajikan. Jika terdapat pertentangan antara riwayat hadis dengan Alquran, maka Syiah merujuk pada Alquran sebagai sumber utama, tambahnya.

Syiah, menurut alumni al-Azhar Kairo, adalah salah satu golongan atau mazhab yang dalam sejarah Islam yang paling mendapatkan fltnah dan hoaks. Contoh hoaks yang paling tragis dalam sejarah dan khazanah Islam adalah hoaks tentang Syiah. Karenanya, Tim Ahlulbait Indonesia menulis jawaban dalam bentuk buku. Seluruh tuduhan, fitnah dan hoaks yang ditujukan kepada Syiah dijawab dengan tuntas dan mendalam. Saya belajar pada kesabaran dan kearifan teman-teman Syiah yang kerap disesatkan dan dikafirkan, tapi mereka masih menggunakan akal sehat dan hati nurani untuk memberikan penjelasan yang mendalam.

Baca Resensi Buku: Syiah Menurut Syiah

Penulis geopolitik Timur Tengah mingguan di detik.com ini mengakhiri tulisannya dengan harapan terjadinya dialog antara MUI dan komunitas Muslim Syiah untuk menemukan  titik temu denga dialog yang sifatnya akademis. “Setahu saya, hingga saat ini belum ada respons dan jawaban dari Tim MUI terhadap buku SYIAH MENURUT SYIAH ini. Saya menunggu-nunggu respons mereka. Jika tidak ada jawaban, maka sebaiknya Tim MUI harus memulai dialog akademis yang terbuka sebagai jalan mencari titik-temu antar mazhab. Negeri ini mempunyai kesempatan sebagai teladan bagi dunia, bahwa Sunni-Syiah pada hakikatnya bersaudara. Seperti ungkapan Grand Syaikh al-Azhar, Prof. Ahmed Tayyib, bahwa Sunni dan Syiah ibarat dua sayap yang harus beriringan.”

Baca Grand Syekh Al-Azhar Minta Jangan Memperuncing Perbedaan Mazhab

Sumber Utama : https://www.ahlulbaitindonesia.or.id/berita/index.php/s13-berita/tokoh-muda-nu-apresiasi-buku-syiah-menurut-syiah-yang-ditulis-tim-penulis-ormas-abi/

Resensi Buku: Syiah Menurut Syiah

Judul Buku   : Syiah Menurut Syiah
Penulis           : Tim Ahlulbait Indonesia (ABI)
Penerbit         : Dewan Pengurus Pusat Ahlulbait Indonesia
Ukuran Buku: 23×15 cm, 411 halaman
Harga       : Rp. 75.000,-
Cetakan   : Cetakan 1, Agustus 2014

Buku Syiah Menurut Syiah (SMS) ini diterbitkan oleh Ahlulbait Indonesia (ABI) sebagai salah satu ormas Islam di Indonesia. Berbeda dengan ormas Islam NU dan Muhammadiyah yang berpaham Islam Ahlusunnah (Sunni), ABI merupakan ormas Islam bermazhab Syiah. Walau hakikatnya, sama-sama lahir dari tubuh utama Islam, perbedaan-perbedaan penafsiran dalam beragama di kalangan Sunni dan Syiah ini kerap dimanfaatkan sebagian orang untuk mengadu-domba keduanya.

Berbagai fitnah pun bermunculan; mulai dari media sosial yang gencar mengkafirkan dan mensesatkan Muslim Syiah, membenturkan keyakinannya dengan Muslim Sunni, bahkan buku-buku tentang kesesatan Syiah banyak beredar, dari yang dijual, hingga disebar gratis. Tak hanya individu, bahkan lembaga sekelas MUI pun dicatut namanya sebagi legitimasi atas usaha menyingkirkan Muslim Syiah dari Nusantara ini. Mulai dari fatwa sesat terhadap Muslim Syiah di Jawa Timur, hingga terbitnya buku “Mengenal dan Mewaspadai Penyimpangan Syiah di Indonesia” yang diedarkan secara luas oleh beberapa oknum intoleran dengan mengatas namakan MUI.

Di tengah maraknya aksi pengkafiran dan penyesatan yang dialamatkan kepada Muslim Syiah tersebut, ABI merumuskan dan menerbitkan buku ini, sebagai upaya mengenalkan kepada masyarakat bahwa Muslim Syiah yang telah hadir sejak Islam pertama kali masuk ke Indonesia ini, tak seperti apa yang mereka tuduhkan secara sepihak, dengan beragam informasi yang tidak berimbang. Buku ini tidak serta merta ditujukan untuk membantah buku berlogo MUI yang telah disebar ke penjuru Nusantara dengan jumlah yang tidak sedikit tentunya. Sebab, di dalam prolog buku SMS ini disebutkan beberapa hal yang menerangkan bahwa buku berlogo MUI itu terlalu lemah bobotnya untuk ditanggapi.

Upaya ABI menerbitkan buku ini disambut baik oleh Menteri Agama Republik Indonesia, Lukman Hakim Saifuddin. Bahkan, Lukman Hakim bersedia menyempatkan diri untuk memberikan pandangannya mengenai buku ini, yang kemudian tertuang menjadi sambutan atau pengantar dalam buku SMS tersebut. Menag menilai, perbedaan pandangan di kalangan umat Islam adalah suatu hal yang wajar dan harus disikapi secara adil, bukan saling menyalahkan namun justru saling melengkapi khazanah pengetahuan tentang Islam dan keindonesiaan yang mengusung Bhinneka Tunggal Ika, sekaligus menguatkan tali persatuan dan persaudaraan melalui perbedaan-perbedaan itu.

Buku ini menjelaskan beragam jawaban atas isu-isu yang ditujukan kepada Muslim Syiah secara lengkap, mulai dari yang bersifat pokok, hingga cabang-cabangnya. Selain menampilkan sumber-sumber dalil dari kalangan Syiah, buku ini juga menampilkan berbagai sumber dalil yang ada di kalangan Sunni.

Di bagian tertentu, pada sub judul “Budaya Syiah di Indonesia” (hal: 333), juga dijelaskan beberapa sumber fakta yang menyebutkan Syiah sebagai salah satu mazhab Islam yang pertama kali masuk ke Indonesia. Selain itu, kesamaan tradisi Islam Syiah dan NU seperti tahlilan, peringatan meninggalnya seseorang, haul, serta maulid dan sebagainya, juga dijelaskan di bab ini.

Buku ini ditulis dengan gaya bahasa yang mudah dipahami, dengan berbagai analogi dan contoh, untuk memudahkan pembaca memahaminya. Di Bab Pertama (hal: 7) misalnya, sebelum masuk ke pembahasan inti, buku ini mengajak pembaca untuk menata konsep berfikir secara logis dan rasional sebelum menilai sesuatu.

Buku ini menarik dibaca, tidak hanya bagi kalangan Muslim Syiah saja, melainkan umat Islam seluruhnya. Sebab, penting memahami satu sama lain untuk dapat menemukan kesepahaman demi tercipta perdamaian. Terlebih bagi anda yang getol membenci Syiah hanya karena mendapat informasi sepihak tentang Syiah. Buku ini hadir untuk mengimbangi cara berfikir anda dalam menilai Muslim Syiah di Indonesia bahkan di  dunia. Selain itu, buku ini juga menampilkan sudut pandang lain dalam memahami lebih dalam tentang Islam, yang mungkin dapat memuaskan anda yang haus akan pengetahuan. (Malik/Yudhi)

Sumber Utama : https://www.ahlulbaitindonesia.or.id/berita/index.php/s13-berita/resensi-buku-syiah-menurut-syiah/ 


Benarkah ANNAS, Proyek Kebencian Berbalut Agama Didanai Arab Saudi?

LiputanIslam.com – Aliansi Nasional Anti Syiah (ANNAS) kian menjamur, bermunculan cabang demi cabang di kota-kota Indonesia. Liputan Islam berkesempatan meliput acara deklarasi ANNAS, misalnya yang diadakan di Masjid Al-Fajr, Bandung. Salah satu pembicara, Abu Jibril, menyatakan bahwa mengkafirkan Syiah adalah wajib. Membunuh Syiah adalah wajib, dan ia mengklaim bahwa perintah itu datangnya dari Nabi Muhammad Saw, rekaman orasinya bisa dilihat di tautan ini.

Di tempat yang sama, beberapa bulan kemudian digelar acara Diklat ANNAS, yang mengajak ummat Islam untuk siap mengorbankan nyawa demi memerangi Syiah. Di akhir acara para peserta yang hadir diajak untuk turut berpartisipasi membendung Syiah yang dimulai dari lingkungan masing-masing, membina kader-kader dan menggelar pengajian anti-Syiah secara berkelanjutan. Para peserta dibekali makalah dan buku merah ‘MUI’.

Tampaknya, pengkaderan tersebut membuahkan hasil. Setelah Bandung, deklarasi demi deklarasi ANNAS digelar di Garut, Subang, Jakarta, Tasikmalaya, dll. Tibalah giliran Bogor.

Rencananya, ANNAS akan menggelar acara Pelantikan dan Pengukuhan Pengurus ANNAS Bogor, yang menurut selebaran yang beredar, akan dihadiri oleh Walikota Bogor, Bima Arya.

Sayangnya, kali ini ANNAS harus menelan pil pahit lantaran Bima Arya menolak digelarnya acara tersebut yang sedianya akan digelar di KONI Gelanggang Olahraga Bogor pada Minggu, 22 November 2015.

“Tidak benar isi selebaran itu, saya tidak pernah memberikan konfirmasi akan hadir. Surat undangan itu memang dikirimkan oleh pengurus ANNAS beberapa hari yang lalu tetapi tidak saya respon. Saya juga tidak memberikan izin,” jelasnya, seperti dilansir Tempo, 20 November 2015.

Selain itu, Bima juga menyayangkan acara tersebut dan selebaran yang memuat nama dan fotonya. Menurutnya, dalam situasi seperti sekarang ini yang sangat penting adalah emnjaga kebersamaan dan menguatkan silaturahmi demi kesejukan kota Bogor. Apalagi, kota Bogor, oleh Setara Institute telah dinobatkan sebagai kota paling intoleran se-Indonesia.

Sumber foto: Twitter

Sumber foto: Twitter

Tak puas hanya memasang nama Walikota Bogor, ANNAS juga mencatut nama Nahdlatul Ulama (NU). Padahal, Ketua PCNU Bogor Ifan Haryanto mengatakan sangat keberatan dengan aksi pencantuman logo NU itu.

“Jika organisasi tersebut tidak merevisi undangan yang mencatut logo NU itu, PCNU Kota Bogor mempertimbangkan untuk melaporkan organisasi tersebut ke pihak yang berwajib,” katanya kepada NU Online, Kamis, 19 November 2015 malam.

Dalam aksinya di berbagai daerah, dilaporkan ANNAS kerap mencatut NU secara organisasi terlibat dalam sejumlah aksi intoleransi. Dalam aksi deklarasi anti Syiah di Masjid Agung At-Taqwa Balikpapan pada Maret 2015 lalu, organisasi dipimpin oleh KH Athian Ali Da’i ini juga melakukan hal yang sama. PCNU setempat menegaskan menolak kegiatan tersebut.

Sebagai ormas berhaluan Ahlussunnah wal Jamaah, dalam berbagai forum, NU berulang kali menyatakan tak sepaham dengan Syiah. Hanya saja, menurut NU, perbedaan pendapat tersebut tak mesti diekspresikan dengan jalan memusuhi.

**

Kemarin, ada kicauan menarik dari Akhmad Shahal, Pengurus Cabang Istimewa Nahdlatul Ulama Amerika Serikat.

“Ketua MUI Pusat bilang ke saya, ANNAS adalah proyek Saudi untuk bawa perang konyolnya dengan Iran ke Indonesia,” kicaunya.

“Dulu musuh kebangsaan dan kebhinnekaan RI adalah kaum penjajah. Kini musuhnya adalah kaum intoleran kek ANNAS (Aliansi Nasional Anti Syiah),” kicaunya lagi.

Sahal juga me-retweet gambar yang menampilkan tokoh-tokoh seperti Cholil Ridwan, Farid Okbah, Abu Jibril, Athian Ali Dai, yang disebut-sebut sebagai tokoh provokator Wahabi. Masyarakat diminta meneliti apakah ada acara yang bertajuk anti-Syiah, Bumi Syam (peduli Suriah-red) dan sejenisnya di lingkungan masing-masing — karena tidak diragukan lagi, acara-acara tersebut diadakan oleh Wahabi yang memiliki agenda di tengah ummat Islam.

Mengalirnya dana Arab Saudi ke Indonesia, sebelumnya pernah diungkapkan oleh KH. Alawi Nurul Alam Al Bantani. Berikut wawancaranya:

Menyikapi fenomena meningkatnya gerakan takfiri (kelompok pengkafir; gemar mengkafirkan kelompok lain) akhir-akhir ini, ABI Press mewawancarai seorang tokoh NU, KH. Alawi Nurul Alam Al Bantani. Dia adalah salah seorang pengurus Tim Aswaja Center Lembaga Takmir Masjid Pimpinan Besar Nahdlatul Ulama (LTM) PBNU. Dari informasi yang kami dapat, tokoh muda NU yang satu ini memang mendapat mandat khusus dari PBNU untuk mengurusi hal-hal terkait permasalahan aktual Islam di Indonesia. Sebab itu ABI Press merasa tepat meminta pandangannya soal maraknya gerakan radikal dan aksi-aksi intoleransi di negeri kita.

“PBNU merupakan ormas Islam terbesar di Indonesia, bahkan dunia,” tuturnya mengawali perbincangan dengan kami.

Kami tanyakan, apakah terkait meningkatnya gerakan kelompok radikal ini, memang ada peran dari luar?

“Ya, jelas,” tegas KH. Alawi lalu menambahkan, bahwa ajaran suka memecah-belah ini sebenarnya berasal dari Yahudi. “Karena Islam tidak mengajarkan itu. Ajaran Yahudi itulah yang kemudian diaplikasikan oleh Arab Saudi.”

Apa buktinya kalau Saudi justru lebih mementingkan agenda Yahudi daripada menjalankan apa yang diajarkan Islam?

“Makanya, coba lihat apakah Arab Saudi secara serius terus membantu perjuangan kaum muslimin di Palestina? Ya, nggak pernah! Tapi apakah Saudi memberikan bantuan kepada Yahudi atau Israel? Banyak bener bantuan yang telah diberikan!” tegasnya.

KH. Alawi juga menjelaskan bahwa para alumni dari luar yang pernah kuliah di universitas-universitas yang berada di Mekah dan Madinah juga mendapat banyak sumbangan saat mereka kembali ke negara masing-masing. Hal itu dilakukan demi melancarkan upaya penyebaran paham Wahabi yang dimotori negara minyak itu.

Tak hanya itu, lebih memprihatinkan lagi, menurut KH. Alawi, dana Saudi juga masuk ke Indonesia dalam jumlah besar untuk menghadapi pemilu dan mewahabikan Indonesia.

“Tiga bulan kemarin, saat rapat di PBNU, saya ketahui bahwa jumlah untuk menghadapi pemilu dan mewahabikan Indonesia itu mencapai angka 500 Miliar. Tapi berselang dua minggu kemudian, ternyata sudah berubah menjadi 1,2 atau 1,3 Triliun untuk satu Provinsi,” ungkapnya.

Apakah benar-benar ada data valid tentang itu?

“Semua datanya ada di PBNU dan PWNU, tapi saya nggak bisa kasih. Data penting itu mahal harganya,” seloroh KH. Alawi lalu menjelaskan bahwa dana-dana Saudi yang masuk ke Indonesia itu digunakan untuk membangun masjid-masjid, travel umrah, rumah zakat dan sebagainya.

“Bahkan di PBNU, kita juga punya data tentang salah seorang pejabat di Jawa Barat yang menggunakan 5 Miliar dana Zakat untuk kampanye,” tambahnya.

Terkait data yang disampaikannya, bagaimana seandainya ada pihak yang tidak terima dan ingin menuntut? KH. Alawi menanggapinya dengan enteng.

“Kalau mau jatuh tahun ini ya silakan saja menuntut. Kita tinggal undang wartawan, diumumkan dan baca datanya,” pungkas KH. Alawi mantap.

Sumber gambar: https://pbs.twimg.com/media/CTsGnLhW4AEMB-A.jpg

Sumber gambar: https://pbs.twimg.com/media/CTsGnLhW4AEMB-A.jpg

Masifnya kaum Wahabi menyesatkan menyerukan kebencian dan penyesatan terhadap Syiah, ditenggarai hanyalah kedok belaka. Target Wahabi sesungguhnya adalah NU. Indonesia tanpa NU akan mudah sekali mereka kuasai, maka dari itu warga NU sengaja dibuat agar tidak percaya bahkan memusuhi NU itu sendiri.

KH Abdurrahman Wahid (Gus Dur), berkata,”Kunci menghancurkan NKRI adalah dengan menghancurkan NU. Dan cara menghancurkan NU adalah dengan melakukan adu domba Sunni-Syiah.”

Dan bukankah ulama-ulama moderat yang menyerukan toleransi dan perdamaian dituduh Syiah, sesat, liberal dst? Termasuk Gus Dur. Beliau telah lama berpulang tetapi pemikirannya masih hidup dan menginspirasi. Maka, media Wahabi pendukung ISIS, Voa-Islam.com, akhirnya merilis artikel yang menjelek-jelekkan Gus Dur hingga memancing kemarahan warga NU. (Baca: Cemarkan Nama Gus Dur, Situs Voa-Islam.com Dilaporkan ke Bareskrim).

Namun setelah mereka dilaporkan ke pihak berwajib, situs Voa-Islam langsung lenyap tak berbekas. Artinya, mereka hanya besar mulut saja. Ketika benar-benar berhadapan dengan NU, mereka kabur! (ba)

Bonus foto:

Maaruf Amin 1 Maaruf Amin 2

 

Keterangan foto: KH. Ma’ruf Amin bersalaman dan duduk semeja dengan seorang ulama asal Iran di Jakarta.

Ahmad Sahal-oke

Sumber Utama : https://liputanislam.com/tabayun/benarkah-annas-proyek-kebencian-berbalut-agama-didanai-arab-saudi/

Diklat ANNAS: Korbankan Nyawa untuk Perangi Syiah !

Bandung, LiputanIslam.com — Suasana masjid sudah dipenuhi jama’ah, saat Liputan Islam memasuki lokasi acara untuk mengikuti Diklat Aliansi Nasional Anti Syiah (ANNAS), yang diselenggarakan di Masjid Al-Fajr Jalan Cigara Bandung, pada 20-21 September 2014. Dari mulut jalan menuju masjid, beberapa pria berjenggot dan bercelana gantung sudah berjaga-jaga.

Diklat hari pertama, berlangsung dari pukul delapan hingga Ashar. Sedangkan diklat di hari kedua, berlangsung dari pukul delapan hingga menjelang Dhuhur.

Atip Latifatul Hayat: Syiah dan Ahmadiyah Seharusnya Buat Agama Sendiri

Dr. Atip Latifatul Hayat, yang saat ini bertindak sebagai Ketua Dewan Pakar ANNAS, dosen Fakultas Hukum Universitas Padjajaran, mengungkapkan berbagai persoalan bangsa Indonesia seperti kasus korupsi, pernikahan beda agama hingga aliran-aliran sesat di Indonesia.

Ia memaknai kebebasan beragama menjadi dua bagian, yaitu forum internum dan forum eksternum. Forum internum, adalah kebebasan beragama dan berkeyakinan mencakup ranah internal dimana kebebasan berpikir, berkeyakinan dan beragama berkuasa secara absolut. Namun tidak demikian halnya dengan forum eksternum.

“Adalah hak Syiah dan Ahmadiyah untuk meyakini apa yang mereka anut. Itu sah-sah saja jika untuk diri mereka sendiri. Namun ketika keyakinan mereka dimanifestasikan dalam bentuk sosialisasi kepada masyarakat, sedangkan keyakinan mereka jauh berbeda  dari Islam, maka mereka telah melakukan penodaan terhadap agama. Dan pemerintah, harus memberikan batasan-batasan,” jelasnya.

Atip juga menegaskan, bahwa jika saja Syiah dan Ahmadiyah bersedia menjadi agama baru, maka persoalan akan selesai.

“Seharusnya Ahmadiyah pakai saja nama Agama Ahmadiyah, begitu juga dengan Syiah, pakai nama Agama Syiah, maka persoalannya beres. Tapi masalahnya mereka kan tetap ngotot mengaku sebagai agama Islam. Sedangkan kita Ahulussunah juga keras menolak penodaan yang mereka lakukan,” ujarnya.

Meski Atip dan kelompok Takfiri menyebut Syiah bukan bagian dari Islam, namun tidak demikian halnya dengan Risalah Amman. Risalah Amman adalah adalah sebuah deklarasi yang diterbitkan pada 9 November 2004 (27 Ramadan 1425 H) oleh Raja Abdullah II bin Al-Hussein dari Yordania yang menyerukan toleransi dan persatuan dalam umat Islam. Risalah ini ditandatangani juga oleh wakil-wakil resmi dari Indonesia, KH. Hasyim Muzadi (PBNU), Prof. Dr. Dien Syamsuddin (Muhammadiyah) dan Maftuh Basyuni (wakil pemerintah). Saat itu, ada sekitar 200 ulama berbagai mazhab dari lebih 50 negara yang tanda tangan dan hingga kini proses penandatanganan masih berlanjut. Saat ini sudah lebih dari 500 ulama dunia yang tanda tangan.

Makalah untuk para peserta diklat, foto: Liputan Islam

Makalah untuk para peserta diklat, foto: Liputan Islam

Dalam Risalah Amman, ada fatwa dengan 3 pasal yang mengangkat masalah: kriteria Muslim; takfir(pengafiran) dalam Islam, dan dasar-dasar yang berkaitan dengan pengeluaran fatwa. Risalah Amman juga berisi pengakuan atas 8 (delapan) mazhab dan ajaran Islam yaitu: Sunni Hanafi, Sunni Hambali, Sunni Maliki, Sunni Syafi’i, Syiah Ja`fari, Syiah Zaydi, Ibadiyah, Zahiri.

Salah seorang peserta bertanya soal ‘apakah benar orang Syiah tidak sholat Jumat’? Atip terlihat menghindar dengan menjawab, “Benar, tapi nanti pembicara yang lain yang akan menjelaskan lebih detil.”

LI mengontak seorang jurnalis Indonesia yang sedang bekerja di Iran, Purkon Hidayat, untuk mengonfirmasi hal ini. Menurutnya, sholat Jumat selalu diadakan di seluruh penjuru Iran. Bahkan sholat Jumat dimanfaatkan oleh pemerintah Iran untuk konsolidasi dan menyampaikan pesan-pesan penting ulama kepada seluruh rakyat Iran.

Herman Ibrahim: Bendung Syiah, Bila Perlu Dengan Operasi Militer

Kolonel Purn TNI Herman Ibrahim, seorang pengamat intelejen yang saat ini menjabat sebagai Ketua II Dewan Pakar ANNAS, memulai pemaparannya dengan menghadirkan sebuah video singkat terkait pertumpahan darah yang terjadi di Irak dan Afghanistan. Dalam video itu, Iran, Israel dan Amerika Serikat dituduh sebagai penyebab.

Peserta tampaknya sangat antusias. Apalagi, Herman langsung mengajak peserta untuk berdiskusi. Beberapa peserta mulai mengajukan pertanyaan-pertanyaan.

“Langkah apa yang harus dilakukan untuk membendung Syiah, dan konspirasi apa yang hendak dilakukan Syiah?”

Herman menjelaskan, bahwa pemerintah harus melarang ajaran Syiah. Jangan sampai jumlah penganut Syiah sama dengan jumlah penganut Sunni.

“Syiah di Indonesia ini jumlahnya ada lima juta orang. Kita harus membendung agar jangan sampai jumlah mereka bertambah, karena jika sampai jumlah Syiah setara dengan Sunni, maka perang akan terjadi seperti di Irak, Suriah dan Afghanistan. Dan jika terjadi perang, maka Yahudi pasti akan dukung Syiah, karena Syiah buatan orang Yahudi, Abdullah bin Saba,” jawab Herman.

Herman agaknya lupa bahwa perang di Irak, Suriah, dan Afghanistan justru dipicu oleh teroris Al Qaida dan variannya, kelompok Wahabi yang mengaku Sunni.

Para peserta diklat, foto: Liputan Islam

Para peserta diklat, foto: Liputan Islam

“Lalu mengapa MUI tidak mengeluarkan fatwa sesat pada Syiah, Pak?” tanya peserta.

“Kami pernah mendatangi MUI dengan membawa rombongan sebanyak satu bus untuk mendesak MUI mengeluarkan fatwa sesat pada Syiah, tapi tetap saja sulit karena di MUI Pusat sendiri ada orang Syiah. Salah satu Ketua MUI, Umar Shihab adalah Syiah. Saudaranya, Quraish Shihab juga Syiah. Namun diam-diam MUI telah menyusun sebuah buku yang memaparkan kesesatan Syiah untuk membentengi masyarakat,” jelasnya.

Buku yang dimaksud Herman adalah  buku yang mengatasnamakan MUI, namun ternyata ditolak oleh sebagian tokoh MUI. (Baca: Tokoh MUI Sulsel HM Natsir Siok: Persatuan Lebih Penting)

Belakangan ini muncul trend di kalangan Takfiri yaitu menuding Syiah kepada kelompok lain yang memiliki pemahaman berbeda. Banyak ulama dan tokoh yang menyuarakan persatuan,  atau mengkritik perilaku kaum takfiri, di antaranya Prof Umar Shihab dan Prof Quraish Shihab, segera diberi predikat Syiah. Semakin maraknya upaya menuduh pihak lain yang berseberangan sebagai pihak sesat, terjadi seiring dengan konflik Suriah dan munculnya organisasi-organisasi teror, antara lain ISIS. Dalam upaya merekrut dana dan pasukan, mereka menggunakan isu-isu kebencian terhadap Syiah. Tapi di medan perang, yang menjadi korban kelompok takfiri ini tidak hanya Syiah, melainkan juga warga Sunni, Kristen, Yazidi, dll. (Baca: MER-C Dalam Tikaman Abdillah Onim)

Herman mengklaim bahwa Syiah sudah masuk dalam jajaran TNI dan karenanya mengusulkan aksi makar terhadap NKRI dengan mengobarkan perang saudara, yaitu dengan memerangi umat Syiah dilawan dengan militer.

“Saya sendiri punya mantan anak buah, yang ternyata dia penganut Syiah. Artinya Syiah sudah menyusup ke jajaran militer tanah air. Namun kita tidak boleh berkecil hati. Mereka akan kita lawan dan kita bendung, kita harus memprovokasi masyarakat, bila perlu, dengan kekuatan militer,” tegas Herman berapi-api.

para peserta Risalah Amman

para peserta Risalah Amman

KH Athian Ali: Syiah Adalah Musuh Allah, Harus Dilawan Walau Dengan Nyawa

Sesekali, teriakan takbir bergema di seluruh area masjid. Para peserta begitu bersemangat, siap ‘tempur’ untuk memerangi Syiah, walau harus dengan mengorbankan nyawa.

“Allahu Akbar,” teriak Athian Ali, yang disambut peserta dengan mengepalkan tangan ke atas.

“Siapkah Anda semua, para pemuda untuk menjaga aqidah kita, meski harus mengorbankan nyawa? Allahu Akbar” seru Athian, yang kembali disambut dengan teriakan takbir peserta diklat berkali-kali.

“Syiah adalah paham sesat diluar Islam, yang keberadaannya mengancam kaum Muslimin. Syiah sangat kuat. Mereka melakukan makar dengan terstruktur dan terorganisir, serta memiliki dana yang tak terbatas. Bahkan untuk memuluskan rencananya, Menteri Pertahanan Iran pernah secara khusus datang ke Bandung,” terang Athian.

LI berusaha menghubungi beberapa pihak yang diduga mengetahui informasi apakah benar ada Menhan Iran datang ke Bandung, semuanya menyatakan tidak pernah.

“Sudah 28 tahun Syiah ada di Indonesia, dan kita harus membentuk halaqoh untuk membendung Syiah. ANNAS terbentuk semata-mata untuk memerangi musuh Allah, untuk menggapai ridho Allah,” jelas Athian.

ANNAS membentuk 30 kelompok halaqoh yang tersebar di berbagai wilayah, seperti Cirebon, DKI Jakarta, Bekasi, Bogor dll, yang secara konsisten akan melakukan sosialisasi guna ‘memerangi’ Syiah. Di penghujung acara, panitia membagikan sertifikat dan buku merah MUI.

Aparat Memfasilitasi Kelompok Intoleran?

Penyebaran kebencian kepada kelompok minoritas, juga dibahas dalam dialog yang diselenggarakan oleh Kementrian Agama di Jakarta. Diduga, ada aparatur pemeritah yang ikut menfasilitasi penyebaran kebencian kelompok intoleran terhadap Syiah dan Ahmadiyah. Hingga saat ini tidak ada keseragaman sikap aparat dalam penggunaan wewenang dan fungsi mereka terhadap konflik keagamaan.

Persepsi tentang gangguan dan ancaman terhadap stabilitas dan keamanan dianggap masih mendominasi berbagai kebijakan atas persoalan yang dialami oleh penganut Syiah dan Ahmadiyah. Sejauh ini, pemerintah dianggap tidak memberikan sanksi tegas yang memberikan efek jera terhadap pelaku kekerasan terhadap Syiah dan Ahmadiyah serta kelompok minoritas keagamaan lainnya. (Rizky A/LiputanIslam.com)

Spanduk Diklat ANNAS di Jalan Cigara, foto: Liputan Islam

Spanduk Diklat ANNAS di Jalan Cigara, foto: Liputan Islam

Sumber Utama : https://liputanislam.com/liputan/diklat-annas-korbankan-nyawa-untuk-perangi-syiah/

Isu Bakal Dibubarkan, Annas: Itu Bukan dari Pemerintah

Jumat 21 Jul 2017 12:59 WIB


REPUBLIKA.CO.ID, SOLO -- Aliansi Nasional Anti Syiah Indonesia (Annas) menemukan sejumlah pemberitaan yang mengisukan beberapa ormas Islam termasuk Annas akan dibubarkan pemerintah setelah Hizbut Tahrir Indonesia (HTI). Annas menduga, pemberitaan tersebut dibuat oleh kelompok-kelompok yang berusaha memanfaatkan keadaan tersebut untuk memecah belah persatuan.

“Kami ormas yang diisukan, tidak resah. Karena itu berasal bukan dari pemerintah, tapi berasal dari pihak-pihak yang berusaha memecah belah,” tutur Ketua Annas Solo Raya, Tengku Azhar kepada Republika.co.id, Jumat (21/7) pagi.

Annas menduga pemberitaan tersebut dimunculkan oleh Syiah yang mengisukan Annas menjadi ormas yang akan dibubarkan pasca HTI. Terlebih selama ini, Annas menjadi ormas paling getol menyebarkan pemahaman anti-syiah yang telah ditolak keberadaannya di Indonesia.

“Beritanya berasal dari link yang tidak jelas asal usulnya. Setelah dicek, bisa dimungkinkan itu dari Syiah dan sekarang link-nya sudah dihapus. Selama kami benar dan berjalan sesuai koridornya kami tidak pernah takut,” kata Azhar.

Dilain hal, Tengku mengatakan, Annas menolak Perppu no 22 tahun 2017 tentang ormas. Menurutnya Perppu tersebut terkesan ditujukan pada ormas-ormas Islam yang dianggap kritis terhadap jalannya pemerintahan. Padahal, menurutnya, kegiatan-kegiatan ormas Islam bertujuan untuk menjaga Pancasila, Undang-Undang Dasar dan Bhineka Tunggal Ika. 

Massa yang tergabung dalam Aliansi Nasional Anti Syiah (ANNAS) membentangkan spanduk saat aksi menolak keberadaan paham Syiah (Ilustrasi)

Massa yang tergabung dalam Aliansi Nasional Anti Syiah (ANNAS) membentangkan spanduk saat aksi menolak keberadaan paham Syiah (Ilustrasi)

Sumber Utama : https://www.republika.co.id/berita/dunia-islam/islam-nusantara/17/07/21/otfbn1-isu-bakal-dibubarkan-annas-itu-bukan-dari-pemerintah

Jihad Islam Palestina: Persatuan Sunni dan Syiah, Garis Sejati Islam

Gerakan Jihad Islam Palestina menilai persatuan antara Sunni dan Syiah sebagai garis sejati Islam.

Pernyataan tersebut disampaikan Wakil Jihad Islam Palestina di Iran, Naser Abu Sharif dalam seminar "Rasul Rahmat" yang digelar di Khorasan Selatan hari Kamis (12/4).

"Garis pijakan Muslim adalah persatuan Sunni dan Syiah dalam menghadapi musuh, terutama AS dan Israel. Inilah garis sejati Islam," ujar Abu Sharif.

Di bagian lain pernyatannya, wakil Jihad Islam Palestina di Iran ini menyebut Israel sebagai musuh utama umat Islam.

"Rezim Zionis simbol imperialisme dan kerusakan di muka bumi," tegasnya.

Seminar Rasul Rahmat berlangsung hari Kamis (12/4) di Birjan, ibu kota provinsi Khorasan Selatan dengan dihadiri 450 ulama Sunni dan Syiah.

Persatuan Sunni dan Syiah

Seminar mengusung persatuan Islam ini digelar untuk memperingati hari Bi'tsah atau hari pengangkatan Muhammad bin Abdullah sebagai Nabi dan Rasul Allah swt yang jatuh pada tanggal 27 Rajab atau bertepatan dengan 14 April 2018.

Di negara lain seperti Indonesia, peringatan hari Bi'tsah juga dirayakan oleh umat Islam negara ini dengan nama lain, Isra Mikraj, yang masuk hari libur nasional.(PH) 

  • Jihad Islam Palestina
    Jihad Islam Palestina

Sumber Utama : https://parstoday.com/id/news/middle_east-i54942-jihad_islam_palestina_persatuan_sunni_dan_syiah_garis_sejati_islam

Bedah Buku Mengkritisi MUI, Narasumber MUI dan DEPAG Enggan Hadir

Bertempat di Husainiyah Yayasan Kharisma Usada Mustika (KUM), Jakarta Barat Jum’at, 21 Maret 2014, buku karya  Emilia Renita Az tersebut dibedah dan didiskusikan. Hadir sekitar empat ratus peserta dalam acara yang dimulai pukul 20.00 WIB tersebut.

 

Hadir dalam acara bedah buku yang bertajuk “Inilah Jalanku yang Lurus” tersebut, Zuhairi Misrawi dan Kiai Alawi al-Bantani dari Nahdhlatul Ulama (NU), Dr. Zuhdi dari Muhammadiyah, dan Dr. Jalaluddin Rahmat dari Ikatan Jamaah Ahlulbait Indonesia (IJABI). Dua narasumber kunci dari Depag, Dr. Muhammad Zain dan Dr. Amirsyah dari Majelis Ulama Indonesia (MUI) yang juga diundang oleh panitia sampai acara berakhir tidak menghadirkan diri.

 

Acara bedah buku dimulai dengan pembacaan ayat suci al-Qur’an yang dilanjutkan dengan pembacaan Press Release Tanggapan penulis buku, Emilia Renita Az dalam kritiknya, “Apakah MUI Sesat Berdasarkan 10 Kriteria Aliran Sesat yang ditetapkan MUI sendiri?”

 

Ketika diwawancarai oleh kru Berita Protes, Emilia Renita Az, yang lebih dikenal dengan panggilan Bu Nike tersebut, menyebutkan bahwa buku yang ditulisnya diterbitkan atas nama pribadinya sebagai seorang penganut Syiah yang merasa terusik dengan banyaknya fitnah dan tekanan yang diterima penganut Ahlulbait Indonesia karena fatwa MUI. Dr. Jalaludin Rakhmat, atau yang lebih dikenal dengan panggilan Kang Jalal sendiri, selaku Ketua Dewan Syura IJABI mengiyakan hal tersebut. Buku karya istrinya itu adalah buku pribadi, bukan atas nama IJABI. Meski demikian, Kang Jalal mengaku ia sedikit banyak bersumbangsih menulis di beberapa bagian, juga menghilangkan beberapa tulisan yang dianggapnya terlalu keras di buku ini.

 

Bu Nike dalam lanjutan wawancaranya mengatakan, memang Kang Jalal sangat besar andilnya dalam melembutkan, dan bahkan meniadakan banyak tulisannya yang bernada keras dan emosional. Dan menggantinya dengan tulisan yang lebih kalem. “Iya. Memang banyak yang diubah sama kang Jalal,” akunya.

 

Zuhairi Misrawi, cendikiawan muda dari NU memberikan apresiasi positif atas terselenggaranya acara bedah buku tersebut. Menurutnya perbedaan pendapat dan perdebatan akademis itu adalah sesuatu yang niscaya. “Terbitnya buku sanggahan terhadap buku MUI itu menurut saya adalah tradisi yang sehat dalam perkembangan Islam”, ujar Zuhairi. “Munculnya dialog akademis buku dijawab buku ini menurut saya akan mencari titik temu. Memang ada perbedaan dalam doktrin keagamaan, tetapi persamaan jauh lebih besar, kan?”

 

Dr. Zuhdi, salah seorang pembicara dari Muhammadiyah dalam kesempatan tersebut juga menyebutkan bahwa buku kritik terhadap buku yang mengatasnamakan MUI ini jangan dianggap sebagai sikap memusuhi MUI. Karena pada dasarnya, yang dikritik bukanlah MUI sebagai lembaga, tetapi keburukan dan fitnah yang diatasnamakan MUI. “Buku ini hakikatnya tidak mengkritik MUI sebagai lembaga, tapi mengkritik kesalahan yang memang harus dikoreksi,” ujarnya.

 

Kang Jalal, selaku pihak yang juga ikut andil dalam pembuatan buku tersebut juga mengiyakan pernyataan Dr. Zuhdi. Dr. Zuhdi dalam kesempatan itu sekaligus menyampaikan sikap resmi DPP Muhammadiyah yang tidak mensesatkan Syiah. Bahwa Dewan Tabligh Muhammadiyah tak pernah menyesatkan Syiah dan bahwa Syiah adalah bagian tak terpisahkan dari Islam. “Saya tegaskan, bahwa secara resmi DPP Muhammadiyah tak pernah menyesatkan Syiah,” terang Dr. Zuhdi.

 

Meski beredar buku panduan MUI yang menuduh Syiah sesat, Ketua Umum DPP Muhammadiyah, Din Syamsudin yang sekaligus mejabat sebagai Ketua Umum MUI yang baru dalam sebuah wawancara di JakTV menyebutkan bahwa tuduhan Syiah sesat dengan mengatasnamakan buku panduan MUI merupakan fitnah besar. Saat dikonfirmasi, inilah jawaban Dr. Zuhdi, “Begini, Pak Din kan baru jadi Ketua. Kedua, saya melihat, itu bukan hasil kesepakatan (resmi) MUI. Tapi segelintir orang menulis buku lalu mengatsnamakan MUI menyesatkan Syiah. MUI secara kelembagaan tidak pernah menyesatkan Syiah. Dia (Syiah) bagian umat Islam.”

 

Dr. Zuhdi juga menyayangkan kenapa perwakilan Depag dan MUI yang semestinya bertanggungjawab menjelaskan hal ini tidak datang di acara ini meski sudah diundang. “Mestinya pihak MUI datang. Kan bisa diwakilkan kalau mereka bertanggungjawab,” ujar Dr. Zuhdi. Dari Departemen Agama, yang diundang adalah Dr. Muhammad Zain. Sedang dari pihak MUI adalah Dr. Amirsyah. Tetapi sampai acara berakhir keduanya tak menunjukkan batang hidungnya. Para pengunjung sendiri merasa sangat kecewa dengan ketidakhadiran mereka.

 

Menurut Zuhairi Misrawi, MUI mestinya juga bertanggungjawab. Karena jika mereka lepas tangan, fitnah ini akan menjadi bola liar yang menyebar di masyarakat. “Masyarakat awam hanya tahu ini MUI sebagai lembaga yang punya otoritas. Lalu pandangan (yang mengatasnamakan) MUI dipandang sebagai pandangan absolut. Ini sangat disayangkan,” keluh Zuhairi. “Kalau kita tahu sejarah, kita tak bisa mengabaikan sumbangsih besar Syiah dalam peradaban Islam. Terutama Syiah Itsna Atsariyah. Yang jadi masalah adalah orang tidak membaca khazanah Syiah. Yang mereka baca hanya literatur yang berpandangan negatif kepada Syiah. Jadi akhirnya kesimpulan yang diambil sangat subjektif. Dengan adanya kritik balik ini akan memberi pendewasaan pada masyarakat, aparat dan akademisi bahwa apa yang disampaikan MUI ini berkaitan tentang Syiah tidak sepenuhnya benar.”

 

Diluncurkannya buku Inilah Jalanku Yang Lurus, Menanggapi Buku Panduan Majelis Ulama Indonesia “Apakah MUI Sesat? Berdasarkan 10 Kriteria Aliran Sesat?” ini menurut Zuhairi Misrawi merupakan hal yang positif. Karena akan membangun dialog dan tradisi debat akademis yang pada gilirannya akan mencerdaskan dan memajukan umat Islam.

 

Tentu, dialog akademis ini akan lebih bernas dan bermanfaat bagi umat Islam jika pihak (yang mengklaim dari) MUI berani hadir mempertanggunjawabkan tulisannya.

Menurut Kantor Berita ABNA, buku "Mengenal dan Mewaspadai Penyimpangan Syiah di Indonesia" (MMPSI), yang sejak November 2013 tahun lalu disebarkan dengan gencar secara gratis di berbagai masjid diseluruh Indonesia seraya ditopang publikasi lewat jejaring sosial adalah buku kontroversial yang diklaim diterbitkan oleh MUI Pusat. Sebagian dari tokoh MUI Pusat sendiri mengaku tidak tahu menahu mengenai proses penerbitan buku tersebut dan menyebut MUI tidak punya dana untuk mendanai buku dalam jumlah yang besar dan dibagian secara gratis. Buku tersebut menimbulkan polemik dan melahirkan tanggapan khususnya dari komunitas Syiah Indonesia yang dimaksud dalam buku panduan tersebut. Diantaranya, Emilia Renita Az, aktivis IJABI yang menulis buku, “Apakah MUI Sesat? Berdasarkan 10 Kriteria Aliran Sesat (yang dibuat MUI sendiri)?” yang disebutnya sebagai tanggapan dari buku yang diklaim diterbitkan oleh MUI Pusat.
Bedah Buku Mengkritisi MUI, Narasumber MUI dan DEPAG Enggan Hadir

“Buku ini hakikatnya tidak mengkritik MUI sebagai lembaga, tapi mengkritik kesalahan yang memang harus dikoreksi,”

Sumber Utama : https://id.abna24.com/service/important/archive/2014/03/23/514579/story.html

Kajian Ilmiah Atas Buku Panduan MUI (1)

Konflik horizontal Sunni-Syiah akhir-akhir ini semakin merebak di Indonesia. Fitnah-fitnah bertebaran, mengancam ukhuwah dan persatuan NKRI. Bahkan secara sistematis, sekelompok pihak merilis buku Buku Panduan MUI: Mengenal dan Mewaspadai Penyimpangan Syiah di Indonesia (MMPSI), membagi-bagikannya secara gratis di berbagai kota se-Indonesia. Padahal, secara informal, beberapa tokoh MUI menyatakan bahwa buku ini bukan terbitan resmi MUI. Ada baiknya, dalam rangka ukhuwah, kita mencoba mengkritisi apa saja kesalahan yang dimuat di buku MMPSI ini. Berikut ini kami sajikan artikel yang mengkritisi buku MMPSI, ditulis oleh cendekiawan muslim dari Sumatera Utara, Candiki Repantu.Tulisan akan dimuat dalam beberapa bagian.

—————–

MUI

Bismillahirrahmanirrahim

Allahumma shalli ‘ala Muhammad wa aali Muhammad

PEMBUKA

Tulisan ini dibuat untuk menanggapi “Buku Panduan MUI” yang berjudul Mengenal dan Mewaspadai Penyimpangan Syiah di Indonesia” (selanjutnya disebut MMPSI) yang diterbitkan oleh penerbit Alqalam yang dieditori oleh Prof. Dr. Hasan Baharun. Tanggapan ini sebagai niat baik untuk konfirmasi dan informasi karena terdapat penyimpangan-penyimpangan yang fatal dalam buku tersebut. Perlu diketahui, syiah yang dimaksud dalam tulisan ini adalah syiah imamiyah itsna asyariyah, yaitu syiah yang meyakini ada 12 imam setelah Rasul saaw yakni Imam Ali as hingga Imam Mahdi afs. Terkadang disebut juga Mazhab Ja’fari atau Mazhab Ahlul Bait. Saya tidak mengulas syiah lainnya, karena pada dasarnya “Buku Panduan MUI”—meskipun masih diragukan benarkah diterbitkan oleh MUI secara resmi—mengarahkan tulisannya kepada syiah imamiyah ini, hal ini dibuktikan dengan membawa-bawa negara Iran sebagai “pengekspor” syiah tersebut, dan semua orang tahu Iran adalah satu-satunya negara yang menjadikan syiah imamiyah itsna asyariyah sebagai landasan negaranya. Selain itu, di Indonesia juga yang umumnya berkembang adalah syiah imamiyah ini.

Sekitar sepuluh tahunan yang lalu, juga pernah terbit sebuah buku karya seseorang yang mengaku bernama Husain al-Musawi dengan judul “Mengapa Aku Keluar dari Syiah”. Saat itu saya juga diminta dalam suatu diskusi untuk membedah buku yang menghujat syiah terebut. Saya menyebut beberapa hal penting kehadiran buku tersebut, dan tampaknya, poin-poin itu masih relevan dengan terbitnya buku MMPSI saat ini. Saya menyebutkan Kehadiran buku seperti ini memberikan beberapa hal penting.

Pertama, Pada tahap tertentu buku ini menjelaskan pemikiran-pemikiran mazhab syiah, bahkan iklan gratis bagi mazhab syiah. Hanya saja —daripada membahas secara ilmiah—, buku ini secara sengaja mengumpulkan sisi-sisi negatif mazhab syiah yang belum tentu benar. Hal ini sudah terlihat sejak dari judulnya “Mengenal dan Mewaspadai Penyimpangan Mazhab Syiah”. Tapi, secara positif, kita bisa berbaik sangka, bahwa buku ini ingin menjelaskan adanya mazhab syiah yang menyimpang dan ada yang tidak menyimpang, dan kita mewaspadai yang menyimpang tersebut. (Tapi nanti kita akan melihat ternyata buku ini juga berisi penyimpangan-peyimpangan).

Kedua, Buku ini pada tahap tertentu telah menciptakan sentimen kemazhaban dari kedua belah pihak (sunni dan syiah) yang dapat merusak persatuan kaum muslimin dalam bingkai berbeda-beda tetapi tetap satu juga. Semoga tidak terjadi konflik sektarian yang meluas di Indonesia. Karena itu, buku ini mengingatkan orang syiah –dan pada tahap tertentu juga orang-orang sunni— untuk lebih waspada karena bisa saja buku ini digunakan oleh pihak-pihak tertentu untuk menghalangi bagi terjadinya pendekatan antar mazhab dan persatuan kekuatan kaum muslimin.

Ketiga, buku ini meningkatkan ketegangan hubungan antar umat seagama yang seharusnya dipupuk terlebih disaat Islam dipojokkan dengan beragam isu konflik yang berdampak internasional seperti perang Suriah dan isu terorisme.

Keempat, buku ini dalam tataran tertentu semakin memperkuat “perjuangan” kelompok takfirisme transnasional (kelompok yang suka mengkafirkan dan menyesatkan kelompok lain) yang mulai banyak merebak di Indonesia, bahkan tidak jarang disertai dengan kekerasan dan anarkisme. Kelompok inilah yang sebenarnya harus diwaspadai.

Kelima, buku ini hadir mendekati pesta politik Indonesia yakni pemilu, yang tentu saja umat Islam akan turut andil besar dalam mensukseskannya. Tak pelak isu sentimen keagamaan, juga merebak di tengah-tengah komoditas politik, karena boleh saja banyak juga para penganut mazhab yg berbeda maju menjadi calon-calon politikus papan atas. Dan biasanya konflik muncul lebih cenderung karena politisasi ini. Saya yakin MUI tidak berniat untuk  memecah belah umat, tetapi siapa yang bisa menjamin bahwa karya ini tidak digunakan oleh sekelompok orang untuk kepentingan golongannya, partainya, atau kelompoknya.

Dengan memperhatikan kelima poin itu, maka saya berusaha semaksimal mungkin mengulas dan memahaminya untuk memberikan informasi dan tanggapan yang memadai. Namun, tentu saja tanggapan saya ini bukanlah tanggapan resmi mazhab syiah. Ini hanya tanggapan dan bedah buku yang saya susun sepintas lalu, untuk diskusi dan bedah buku tersebut. Dan hanya sebagai wujud partisipasi dalam munazharah intelektual dan sumbangsih informasi dalam bentuk tulisan. Untuk mempermudah bacaan, maka tulisan ini di susun secara berseri sesuai tema yang saya pandang layak untuk di bedah dan mungkin tidak mencakup semua temanya, sesuai dengan format diskusi dan bedah buku. Semoga bermanfaat bagi kawan-kawan ahlussunnah dan juga syiah dalam mengukuhkan persaudaraannya dengan saling memahami melalui informasi yang memadai.

IDENTITAS BUKU

MUIBuku yang dibedah saat ini berjudul Mengenal dan Mewaspadai Penyimpangan Syiah di Indonesia” (MMPSI). Buku ini diterbitkan sekitar bulan oktober tahun 2013, oleh penerbit Al-Qalam, suatu penerbit di bawah kelompok Gema Insani Jakarta. Buku kecil yang hanya setebal 120 halaman ini (sudah termasuk pengantar penerbit, pengantar penulis, daftar isi dan daftar pustaka), cukup bergengsi karena di tulis oleh Tim Penulis yang terdiri para ulama dan intelektual serta akademisi yang berkiprah di MUI Pusat, yaitu : DR (H.C) K.H. Ma’ruf Amin; Prof. Dr. Yunahar Ilyas, MA; Drs. H. Ichwan Syam; dan Dr. Amirsyah T, MA. Dan untuk menambah dayanya, buku ini di editori oleh Prof. DR. Hasan Baharun, yang dianggap sebagai editor ahli tentang syiah karena pernah menulis buku kecil saku yang berjudul “201 Tanya Jawab Syiah”, (maaf! saya menyebutnya buku kecil karena sebelum Prof. Baharun menerbitkan bukunya, seorang ulama syiah Prof. Ali Kurani pernah menulis berjilid-jilid buku tentang ribuan soal dan bantahan tentang syiah, yang berjudul Alfu as-Sual wa al-Isykal ‘ala Mukhalifin li Ahli al-Bait at-Thahirin).  

Selain Daftar Isi, Pengantar Penerbit, Pengantar Penulis, dan sambutan Dewan Pimpinan MUI, buku ini terdiri dari lima bab, sebagai berikut : Bab I : Pendahuluan; Bab II : Sejarah Syiah; Bab III : Penyimpangan Ajaran Syiah; Bab IV : Pergerakan Syiah di Indonesia; dan Bab V : Sikap dan Respon Majelis Ulama Indonesia. Bagian akhir ditutup dengan lampiran “Fatwa dan Pernyataan Ulama Indonesia Tentang Hakikat dan Bahaya Syiah” dan Daftar Pustaka…(bersambung)

Sumber Utama : https://liputanislam.com/kajian-islam/kajian-ilmiah-atas-buku-panduan-mui/ 

Re-post by Migo Berita / Kamis /20082020/13.39Wita/Bjm