Arsip Migo Berita

Bongkar Habis Aksi Demo yg mengatasnamakan mahasiswa & bilang Covid HOAX !!!


Migo Berita - Banjarmasin -
Bongkar Habis Aksi Demo yg mengatasnamakan mahasiswa & bilang Covid HOAX !!! Hampir tidak percaya, tapi harus percaya para simpatisan ormas terlarang HTI (Hizbut Tahrir Indonesia) dan FPI (Front Pembela Islam) yang telah resmi dibubarkan pemerintah Indonesia dan pembubaran tersebut didukung mayoritas masyarakat Indonesia yang mendukung pemerintah yang SAH Indonesia saat ini ternyata masih ada yang mempercayai ideologi khilafah versi mereka dan sudah akut BENCI kepada pemerintah yang sah, lebih khusus kepada Pak Presiden Jokowidodo. Kenapa? karena, setiap apapun tindakan yang mereka lakukan, yang penting Demo dan menginginkan Jokowi lengser sebelum selesai periode keduanya. Isu 3 periode yang dicanangkan oleh mereka yang memang benci Jokowi juga sudah ditanggapi serius oleh pak Presiden Jokowi. Namun, mereka seperti kehilangan akal sehatnya, sehingga menganggap semuanya salah Jokowi. Bahasa sederhananya, ketika mereka membuat meme di media sosial dengan menyebut Presiden Jokowi sebagai The King of Lip Service , kemudian di bela habis-habisan oleh Netizen 62 yang memang cinta NKRI dan pak Jokowi, malah disebut pengecut, beraninya hanya di media sosial, LOH, Anda SEHAT, memangnya hanya Anda dan kelompok anda yang boleh bermain media sosial?? Begitulah, mereka para simpatisan ormas terlarang tersebut, baik disadari maupun tidak disadari telah menjadikan mereka kaki tangan yang "GRATIS" bagi yang ANTI NKRI untuk menimbulkan suhu politik memanas dinegeri ini. INGAT, Cluster Demo bisa saja terbentuk dengan adanya kumpulan massa yang demo dan mengakibatkan orang yang kurang sehat bisa terpapar. Ada baiknya nanti aparat pemerintah yang mempunyai kewenangan untuk mengizinkan demo-demo tersebut mempersyaratkan yang demo harus mempunyai kartu vaksin atau harus di test swab dulu bagaimana @CCIPPOLRI

Supian HK Beberkan Dalih Tak Hadir Aksi KPK, Demonstran Layangkan Mosi Tidak Percaya

KETUA DPRD Provinsi Kalimantan Selatan, Supian HK, kembali memilih absen dalam aksi #SaveKPK jilid III di Kota Banjarmasin, Kamis (1/7/2021).

POLITISI Golkar tersebut beralasan, situasi Kota Banjarmasin masih dilanda pandemi Covid-19. Hal itu menjadi dalih dia enggan menemui massa aksi meski dirinya saat itu sedang berada di gedung dewan.

Supian lantas berargumen, penyampaian aspirasi lewat audiensi jauh lebih maksimal daripada melalui unjuk rasa yang menimbulkan kerumunan.

“Saya sudah masuk lansia (lanjut usia), tergolong rawan tertular. Apalagi beberapa orang terdekat saya baru-baru ini juga dinyatakan positif, karena itu saya lebih menjaga,” ujarnya.

Di samping itu, Supian menilai tidak semua aksi harus dihadiri oleh pimpinan DPRD. Sebab, sistem kerja di lembaga legislatif juga kolektif kolegial.

“Kalau saya terus yang turun tangan, seolah-olah saya arogan karena urusan kedewanan dilakukan sendiri,” tuturnya.

Pihaknya mengaku sudah sempat berdialog dengan perwakilan mahasiswa lewat video konferensi, tak lama setelah aspirasi pertama disampaikan.

Menurutnya, tuntutan mahasiswa di Kalsel terkait tindak lanjut dari dugaan pelemahan KPK, sudah disampaikan ke Kantor Staf Kepresidenan di Jakarta pada 22 Juni lalu.

“Kalau menyampaikan hal yang sama, sebelumnya juga sudah kita sampaikan. Tapi kalau mereka hanya ingin bertemu Ketua DPRD, saya kan tidak bekerja sendiri, tapi ada komisi yang membidangi masalah masing-masing,” ujarnya.

Mahasiswa Gaungkan Mosi Tidak Percaya

Sebelumnya, unjuk rasa Save KPK Jilid III di Banjarmasin sendiri berakhir dengan penyampaian mosi tidak percaya kepada Supian HK, pada Kamis (1/7/2021) malam.

“Kami tidak akan bertemu dengan ketua DPRD lagi. Kami juga tidak akan percaya lagi dengan bapak Supian HK. Kecuali beliau langsung yang berangkat ke Jakarta menyampaikan tuntutan mahasiswa ke Presiden Joko Widodo,” tegas Koorwil BEM se-Kalsel, Ahmad Rinaldi.

Dia juga berjanji bakal membawakan seluruh tuntutan BEM se-Kalsel ke tingkat nasional, melalui BEM Seluruh Indonesia (SI).

Sebelum ini, para demonstran memilih tetap bertahan di ruas jalan Lambung Mangkurat hingga malam. Massa tetap setia menunggu Ketua DPRD Kalsel untuk menemui mereka.

Bahkan terpantau jumlah demonstran yang mulanya ratusan berangsur berkurang hingga menjadi puluhan. Menariknya, jelang akhir aksi terlihat hanya puluhan mahasiswa dari UIN Antasari Banjarmasin yang masih bertahan.

“Kami sangat apresiasi kawan-kawan yang masih bertahan sampai malam. Meskipun kita tak digubris, tapi jalanan dan waktu itu menjadi saksi perjuangan kita,” kata Jendral Lapangan Aksi dari UIN Antasari, Arbani.

Sekitar pukul 21.38 Wita, massa akhirnya memutuskan untuk menyudahi aksi bela KPK jilid III. Satu per satu dari mereka berangsur meninggalkan pusat kota.

Seiring dengan itu, polisi membuka ruas jalan Lambung Mangkurat secara penuh. Aktivitas lalu lintas pengendara di kawasan itu pun sudah kembali lancar.


Sumber Utama : https://jejakrekam.com/2021/07/01/supian-hk-beberkan-dalih-tak-hadir-aksi-kpk-demonstran-layangkan-mosi-tidak-percaya/

Dema FEBI UIN Antasari Nyatakan Sikap atas Peristiwa Kritik King Of Lip Service

DEWAN Mahasiswa Fakultas Ekonomi dan Bisnis Islam (Dema Febi) UIN Antasari menyatakan sikap. Berawal atas peristiwa yang menimpa anggota BEM Universitas Indonesia (BEM UI), usai menyindir Presiden RI Joko Widodo.

KETUA DEMA FEBI UIN Antasari Muhammad Yogi Ilmawan angkat bicara menyatakan pihaknya berdiri di samping BEM Universitas Indonesia.

Yogi juga mengkritik Rektorat Universitas Indonesia yang bereaksi sangat berlebihan. Ketika memanggil pengurus BEM UI, pasca kritik King Of Lip Service yang ditujukan kepada presiden Jokowi.

“Adanya kejadian ini (pemanggilan), iklim demokrasi sudah mati di negeri ini. Kita sangat menolak segala pembungkaman dalam menyampaikan pendapat dalam bentuk apapun,” ujar Yogi saat dihubungi jejakrekam.com, Rabu (30/6/2021).

Dia menyebut kritik yang dikemukakan BEM UI punya argumentasi ilmiah yang berdasar, dan memang sesuai dengan realita.

Yogi menyayangkan pembungkaman gaya baru dalam kebebasan berpendapat dan bersuara, sebab upaya pembungkaman tidak hanya datang dari negara tapi juga berasal dari institusi perguruan tinggi.

Dia menilai upaya pembungkaman sebagai penghianatan UUD 1945 pasal 28 dan UU nomor 9 tahun 1998 tentang kemerdekaan menyampaikan pendapat di muka umum.

“Rezim ini sudah sangat menampakkan anti kritik, yang pastinya saat suara-suara kritis kita semakin dikerdilkan hanya ada satu kata yaitu lawan,” tegas Yogi.

Sementara itu, Jokowi bersuara atas kritikan BEM UI, melalui video berdurasi 2 menit 1 detik yang diunggah Sekretariat Presiden di Youtube.

Jokowi mengatakan universitas tidak perlu menghalangi mahasiswa untuk berekspresi. Mahasiswa, sambung Jokowi kemungkinan sedang belajar mengekspresikan pendapat. “Tapi juga ingat bahwa kita ini memiliki budaya tata krama, memiliki budaya kesopanansantunan,” imbuhnya.


Sumber Utama : https://jejakrekam.com/2021/06/30/dema-febi-uin-antasari-nyatakan-sikap-atas-peristiwa-kritik-king-of-lip-service/

Klik juga "ALHAMDULILLAH HUJAN" : Antara Penanganan Covid & Demo Mahasiswa "Yang Sepi Peminat" di Banjarmasin

Pemuja Khilafah di Sekitar Kita

Beredar di timeline saya, sebuah berita dengan judul "Rezim manfaatkan Covid-19 sebagai senjata pembunuh massal untuk kepentingan politik".

Dan dibawahnya ada foto seorang Guru Besar dari Universitas negeri di Surabaya ITS, Daniel M Rosyid. Ternyata dia yang menyatakannya. Ah, kayaknya saya tahu wajah dan nama orang ini.

Nama Daniel M Rosyid muncul ketika pemerintah Jokowi mengumumkan HTI sebagai organisasi terlarang di Indonesia tahun 2017. Ketika HTI digebuk itu, bermunculan lah pentolan-pentolannya yang ternyata adalah kaum intelektual di perguruan-perguruan tinggi negeri di Indonesia.

Daniel M Rosyid kala itu membela HTI dengan bilang kalau pembubaran organisasi itu adalah upaya utk membungkam kebebasan berkumpul dan menyatakan pendapat. Pernyataannya viral dan ITS didesak untuk memecat Daniel M Rosyid.

Daniel M Rosyid bersama 2 orang dosen lainnya, lalu dipanggil rektor untuk klarifikasi, "Apakah kalian bagian dari HTI??" Mereka kabarnya membantah dan akhirnya menandatangani pernyataan bahwa mereka bukan bagian dari HTI.

Tapi lucunya, meski tidak mengaku bahwa dirinya bagian dari HTI, di sebuah media Daniel M Rosyid -Guru Besar ITS itu- mengaku sebagai pendukung Khilafah.

Aneh, ya?

Jadi saya gak heran dengan pernyataan Daniel M Rosyid itu. Sejak lama dia memang terlihat anti dengan pemerintahan ini, meski juga cari duitnya di instansi pemerintah. Gak konsisten. Kalau gak suka, mending berhenti aja dan berbuat seperti para anti riba yang akhirnya keluar dari bank dan wirausaha.

Orang-orang seperti ini banyak banget di instansi pemerintahan, akibat dari pembiaran di pemerintahan masa lalu. Mereka adalah kaum intelektual, terpelajar dan sudah melalui proses pengkaderan sejak mahasiswa dan disebar ke banyak instansi pemerintah utk menjabat disana. Dan kampuslah tempat pengkaderan itu. Karena itu, jabatan seperti dosen, guru besar bahkan rektor di kampus adalah posisi strategis sebagai perekrutan.

Saya sih setuju, kalau misalnya tes Wawasan Kebangsaan seperti yang sudah dilakukan di KPK diberikan juga ke dosen-dosen di kampus negeri. Penting itu, untuk menjaga para mahasiswa di negeri ini supaya bersih dari paham radikal dan Khilafah. Jika mereka ada di pemerintahan, sejatinya mereka harus satu barisan dengan kebijakan pemerintah, bukan malah jadi penentang utama.

Itu seperti duri dalam daging..

Gak mudah memberantas paham Khilafah ini, karena yang terpapar bukan hanya masyarakat kelas bawah, bahkan sudah masuk ke posisi selevel Guru Besar di Universitas-universitas negeri kita. Mereka seperti ular, yang menunggu kapan saat yang tepat untuk mematuk dan menyebarkan bisa.. Seruput kopinya..

M. Rosyid, Dosen ITSPemuja Khilafah di Sekitar Kita

Sumber Utama : https://www.dennysiregar.id/2021/06/pemuja-khilafah-di-sekitar-kita.html

Leon: Kritik 'Hina' Pemerintah Itu Demokrasi, Bela Pemerintah Itu Buzzer

Saya kira masih cukup menarik untuk membahas soal BEM UI yang membuat gaduh dan bersembunyi di balik kampus tempat mereka menimba ilmu tapi sayang salah guru.

Sosok Leon Alvinda sebagai ketua BEM UI saya yakin hari ini kian besar kepala. Semakin dibicarakan orang makin jumawa. Kendati bahasa yang disampaikan tajam sekalipun buat dia tak jadi soal. Karena banyak para pengkhianat yang memberinya semangat.

Memang mau ambil jalur berbeda itu gampang bikin viral dan terkenal. Saya rasa dia sudah siap soal yang satu ini.

Rekam jejak Leon "diblejeti" nitizen yang gemas akan sikapnya. Bahkan saya melihat di seword saja sudah ada puluhan artikel yang membahas tentang Leon dengan BEM UI nya itu.

Tak sedikit pula yang membela dia. Kelompok yang membela juga orang-orangnya dari kelompok yang itu saja.

Tokoh oposisi, partai oposisi, pengamat oposisi, kelompok radikalis, simpatisan PKS, LSM, dan lain sebagainya.

Leon dipandang oleh mereka berani. Berani kritis terhadap pemerintah. Kendati sebetulnya itu bukan murni kritis tapi ada aroma penghinaan di dalamnya.

Gambar meme dan disertai kalimatnya yang menukik tapi ujung-ujungmya bias tanpa ada opsi solusi di dalamnya.

Maka tidak heran jika presiden Jokowi menjawab, ada kalimat penekanan 'sopan santun dan tata krama' dalam menyampaikan kritik.

Meski jawaban seperti apapun itu, oleh pengamat semacam Gerung akan diputar balikkan. Maklum sebab yang bersangkutan memang punya wilayah di sana. itulah salah satu kegiatan pengamat. Bikin makin mumet rakyat.

Saat Leon diserang nitizen dia beranggapan apa yang dia lakukan adalah hal yang lumrah di alam demokrasi. Sedang yang membuat kesal nitizen atau masyarakat lantas menuduh yang membela pemerintah disebutnya buzzer.

Orang-orang yang tidak menyukai pemerintah atau mungkin lebih tepatnya tidak suka Jokowi selalu berlindung di balik kata buzzer ketika dikritik balik. Bisa dibilang semuanya. Menyebut buzzer, buzzer dan buzzer.

Jadi analoginya sederhana, maunya hanya mencubit, giliran dicubit balik menghindar atau tidak mau. Dan menyebut yang mengkritik atau mengcounter balik sebagai buzzer. Sesederhana itu. Model seperti ini kalau di kampungku mulutnya dislepet karet.

Ini kan sebetulnya orang-prang yang sakit. Maunya menang sendiri. Secara kejiwaan sudah terganggu.

Saya yakin betdasarkan temuan-temuan rekam jejak si Leon dan kawan-kawannya ini bukan murni pemikirannya sebagai ketua BEM UI, tapi sudah disetting sedemikian rupa oleh para sutradara.

Kegaduhan yang diciptakan BEM UI terbukti memberi dampak, disambut di Kota Kendari, saat presiden Jokowi agenda kerja disambut spanduk "the king of lips service' bahkan tidak hanya sampai itu, terjadi penolakan kedatangan presiden disertai tindakan anarkis dan pembakaran bendera PDIP.

Artinya BEM UI dalam hal ini sukses memprovokasi. Apakah otak dan hati mereka cukup ada ruang, atas apa yang akan terjadi setelahnya?

Di saat kita semua sedang dibenturkan oleh urusan perut lantaran covid yang kian menggigit, anak-anak sok paling demokratis ini justru menimbulkan kekacauan di media juga di dunia nyata.

Ada beberapa kerusakan yang ditimbulkan meskipun tidak sampai membawa korban jiwa. Tapi itu sudah cukup memberi tamparan keras bagi kita semua.

Anak-anak muda ini belum tahu rasanya bagaimana susu anak sudah menipis, sedang uang di dompet habis. Belum tahu rasanya bagaimana persediaan beras terkuras tinggal seujung nafas.

Jadi mereka bebas-bebas saja kritik 'hina' pemerintah atas dasar demokrasi. Begitu mungkin pikirnya dan tak peduli akibatnya. Mumpung hidup masih numpang orang tuanya.

Tak sedikit saya atau Anda mungkin juga acap kritik pemerintah melalui tulisan artikel dan konteks serta arah jelas. Tidak hanya sepotong dan dapat menimbulkan bias.

Dan yang pasti mereka para BEM UI itu memiliki panggung skala besar. Sangat berbahaya jika dimanfaatkan sebagai alat propaganda pihak-pihak yang tidak bertanggung jawab.

Saya kira kita memang yang mayoritas harus bersuara jika tidak maka kelompok seupil yang acap membuat gaduh dan ricuh negeri kita ini akan merasa jumawa.

Kalau saya pribadi sih bodo amat dicap 'buzzer' selagi apa yang kita paparkan untuk menetralisir kondisi dari racun-racun pemikiran terbalik yang berusaha mereka lemparkan ke tengah publik. Ledakannya tidak main-,main, bisa mematikan akal sehat.

Rasanya sudah siap perang melalui udara, kendati jangkaunnya seuprit tak jadi soal. Sebab kalau kita diam makin diacak-acaklah pemikiran banyak orang.

Kebencian itu cepat menular, karena datang dari niat jahat dan pemikiran yang keruh lagi kotor. Harus kita lawan.

Demikian, salam

Leon: Kritik 'Hina' Pemerintah Itu Demokrasi, Bela Pemerintah Itu Buzzer

Sumber Utama : https://seword.com/politik/leon-kritik-hina-pemerintah-itu-demokrasi-bela-pNUrO3eSEQ

Daripada Wagub Riza “Bela” Anies, Lebih Baik Minta Anggaran Formula E

Blundernya Wakil Gubernur DKI Jakarta Riza Patria membela Anies. Apa dirinya “lupa atau melupakan”, seharusnya warga Jakartalah yang diperjuangkan. Lha…kok malah ikutan koplak duet dengan sang ahli tata kata.

Membahas atau membicarakan Anies Gubernur DKI Jakarta jelas unfaedah. Sebab keberadaannya di Jakarta selama ini sejak hari pertama saja sudah unfaedah. Terbukti mayoritas warga Jakarta tidak merasa ada gunanya, dan keberadaannya. Entahlah untuk pemujanya, tetapi jelas bagi Anies, menjadi Gubernur DKI Jakarta sebuah anugrah terindah. Buktinya berani bermimpi naik kelas menjadi RI 1. Padahal menjadi gubernur saja parah sekali kerjanya.

Mikir deh, bagaimana tidak kebangetan. Di saat pandemi semakin serius, justru lonjakan kasus di Jakarta tampil “unggul” dari provinsi lainnya. Ini ironis, sebab sebagai pusat pemerintahan, harusnya Jakarta menjadi contoh baik penanganan Covid. Tetapi selama ini, lonjakan kasus di Jakarta tidak bergeming dari angka horor.

Parahnya, Anies dengan “keacuhannya” kembali tanpa persiapan mengatasi lonjakan kasus di DKI Jakarta. Kasarnya, Anies ini cuek bebek! Mungkin dipikirnya pandemi cocok untuk jadi panggung politiknya? Lumayan bisa eksis tampil dengan pencitraan sekalipun ZONK kerja!

Letih jiwa dan raga, bukan sebuah kebetulan ketika Anies “ketahuan” meminta donasi untuk penanganan pandemi di Jakarta. Terlihat pada postingan akun media sosial Pemprov DKI. Surat tersebut ditandatangani oleh Kepala Biro Kerja Sama Pemprov DKI Jakarta Andhika Permata pada 28 Juni 2021. Parahnya surat berlogo Pemprov DKI Jakarta dan berbahasa Inggris ini ditujukan ke seluruh kedutaan besar di Jakarta. Prettt….mentalnya kok ngemis sih?

Article

Article

Padahal, konon katanya Anies menambah tempat isolasi terkendali dari sebelum hanya ada 3 lokasi menjadi 29 lokasi. Perubahannya ini tertuang pada Keputusan Gubernur (Kepgub) Nomor 675 tahun 2021 tentang Perubahan Atas Kepgub Nomor 979 tahun 2020 tentang Lokasi Terkendali Milik Pemprov DKI Dalam Penanganan Covid-19. Ditandatanganinya sendiri pada 31 Mei 2021. Inipun sebelumnya karena desakan dari Kalpolri Jenderal Pol Listyo Sigit Prabowo yang meminta pemerintah provinsi DKI Jakarta segera merealisasikan tempat isolasi mandiri mengingat lonjakan kasus yang horor.

Kesimpulannya, apa lagi kalau bukan Anies tidak peka melihat kondisi warganya. Bahkan jujur bisa dikatakan tidak peduli, sebab untuk mengadakan tambahan tempat isolasi mandiri saja harus didesak. Parahnya, ternyata Anies belum melengkapi fasilitas mandiri tersebut. Memalukan, ternyata pengadaannya dengan meminta donasi dari kedutaan besar? Pertanyaannya sejak tanggal 31 Mei 2021 kemarin ngapain saja, hingga aib terbongkar “ngemis” ke kedutaan asing lewat surat per 28 Juni 2021.

Setali tiga uang, begitu pun sudah terbongkar aib memalukan mental ngemis ini. Riza Patria sang wakil ikutan jadi pengarang. Mengatakan akan mengechek kebenaran surat tersebut. Bahkan mengatakan surat tersebut bukan hanya untuk kedutaan saja, tetapi semua elemen?

"Itu bukan ke dubes, itu disampaikan ke seluruh elemen. Nanti dicek ke Pak Sekretaris Daerah persisnya," kata Riza di Balai Kota DKI Jakarta, Jl Medan Merdeka Selatan, Jakarta Pusat, Kamis (1/7/2021). Dikutip dari: detik.com

Hahahha… lucu sekali. Sekarang tidak hanya gubernur, tetapi wakil gubernur pun mencoba melawak. Tetapi maaf, ini bukan saat yang tepat bermain-main dengan susunan kata yang diubah jadi kalimat. Lalu kalimat diubah menjadi silat lidah yang berkelit licin seperti belut.

Mikir deh, apa iya Gubernur DKI Jakarta sesempit itu cara berpikirnya hingga “merendahkan” Indonesia ngemis ke negara orang. Kedutaan asing jelas simbol perwakilan negara. Ini namanya mempermalukan Indonesia! Bayangkan untuk urusan sapu, ember, kipas, handuk, kursi lipat, dan printilan lainnya harus diurusi negara lain? Parahnya tindakan koplak ini disebut kolaborasi?

Serupa tapi tak sama, Riza mengatakan juga ini maksudnya mengajak elemen masyarakat kolaborasi di masa sulit? Seolah berkelit, asumsi penulis Riza ingin mengatakan surat sejenis bukan hanya untuk kedutaan. Serius, ini tetap saja konyol!

Ngakak so hard! Bukankah seharusnya gubernur sebagai pemimpin daerah melayani warganya, dan bukan kebalik seperti di Jakarta ini!

Begini deh, rasanya jauh lebih baik dan mudah jika Riza Patria menanyakan kepada Anies kemana anggaran Formula E. Kemudian bubarkan TGUPP, pasukan horay yang hanya menghabiskan uang warga Jakarta.

Menolak lupa juga, siapa yang selama ini menghamburkan uang untuk trotoar, jalur sepeda, cat pelangi di genteng, berbagai monument aneh, termasuk salah satunya tugu peti mati untuk menakuti Covid. Ketimbang memperhatikan kesejahteraan warga Jakarta. Bahkan urusan banjir saja tidak jelas kabarnya, kecuali solusi aneh membangun rumah panggung? Kebangetan!

Dodol, sekarang untuk kelengkapan tempat isolasi ngemis ke kedutaan pula? Lalu kenapa juga warga Jakarta yang selama ini sudah diperas, masih lanjut diperas di saat Covid. Mbok yah temui Kemensos atau BUMN, itu jauh lebih cerdas.

Saran untuk Wagub Riza, tolong dong jangan blunder. Biarkan soal tata kata tetap dipegang juara bertahan Anies. Sedang urusan kantong kempes DKI, tolong titip tanya anggaran Formula E. Kenapa harus ngotot sih? Apakah demi pilres 2024, Formula E lebih berarti daripada nyawa warga Jakarta? Ngeriiii…banget tumbalnya.

Daripada Wagub Riza “Bela” Anies, Lebih Baik Minta Anggaran Formula E

Sumber Utama : https://seword.com/umum/daripada-wagub-riza-bela-anies-lebih-baik-minta-Ij6Mm5izBZ

Ketahuan Melanggar Aturan Wajib Karantina, Anggota Fraksi PAN Ini Kudu Disanksi

Anggota Fraksi PAN di DPR RI, Guspardi Gaus, diketahui melakukan pelanggaran aturan karantina, dengan langsung mengikuti rapat Komisi I padahal baru saja datang dari luar negeri, tepatnya dari negara Kirgistan.

Padahal, seharusnya setiap orang yang baru kembali dari luar negeri, siapapun manusianya, harus menjalani karantina dan tes swab PCR. Aturan yang sangat jelas ini tertuang dalam SE Kasatgas nomor 8 tahun 2021 tentang Protokol Kesehatan Perjalanan Internasional pada Masa Pandemi (COVID).

Ketua Bidang Komunikasi Publik Satgas COVID-19, Hery Trianto, pada Kamis (1/6/2021) seperti dilansir dari Detik.com juga dengan jelas berkata:

"Iya aturan dalam SE Kasatgas soal pelaku perjalanan internasional memang begitu. Ada kewajiban melakukan karantina dan dua kali tes PCR."


Anehnya lagi, Guspardi Gaus disebut menolak isolasi setelah pulang dari luar negeri. Jadi, bukannya tidak tahu aturan wajib karantina tersebut, tetapi dia menolak menaatinya.

Respons dari PAN pun sudah muncul, yakni meminta maaf atas nama partai dan mengaku bahwa yang bersangkutan sudah menerima teguran dari fraksi PAN.

"Apapun ceritanya, tentu seluruh aturan yang diberlakukan oleh pemerintah siapa pun orangnya harus ditaati. Aturan itu kan sebetulnya pun untuk menjamin kenyamanan dan ketertiban. Saya kira Pak Guspardi Gaus tentu harus mengikuti aturan itu juga," kata Ketua Fraksi PAN DPR RI, Saleh Partonan Daulay, saat dihubungi, Kamis (1/7/2021).


Terlalu lembut dan prosedural nggak sih pernyataan Ketua Fraksi tadi? Saya kira ... saya kira ... kan sudah jelas melanggar dan membahayakan jiwa orang lain, bahkan sengaja tidak mau menaat aturan sebagai pejabat negara. Kok pakai dikira-kira begitu komentarnya?

Lantas, bagaimana dengan tanggapan dari Majelis Kehormatan Dewan (MKD) DPR RI mengenai pelanggaran aturan dari anggota Fraksi PAN ini?

Melalui Wakil Ketua MKD, Habiburokhman, disebutkan bahwa kritikan dari sebagian anggota pansus kepada Guspardi Gaus cukup beralasan.

Namun, Habiburokhman yang lantas menolak hadir secara fisik dalam rapat itu, bagi saya masih terlalu lembut dalam merespons tindakan nekat dan membahayakan dari koleganya itu.

"Di sisi lain saya bisa memahami niat baik Pak Guspardi untuk hadir sebagai bentuk kecintaannya terhadap tugas-tugas kedewanan, sementara aturan yang ada saat ini rapat DPR masih hybrid, artinya belum bisa sepenuhnya virtual. Mungkin Pak Guspardi tetap mau hadir karena memenuhi ketentuan 25% anggota yang hadir fisik,"* ujar Habiburokhman

Waoow..salut banget nih dan bikin bangga kalau ternyata beneran ada anggota dewan yang begitu mencintai tugas-tugas kedewanan, sampai nekat melanggar bahaya dan bisa berisiko tinggi bagi dirinya dan orang lain yang kebetulan ikut rapat bersama dirinya.

Alasan 25% kehadiran anggota pun bagi saya terdengar hanya seperti lip service, sekaligus menggelitik saya buat bertanya:

"Sehebat apa sih Guspardi Gaus sampai harus hadir, bahkan diizinkan oleh pimpinan rapat, dengan potensi membahayakan orang lain karena menolak aturan karantina mandiri?"


Namun yang jelas, perilaku semacam ini tidak bisa ditolerir lagi. Nanti biar tidak menjadi kebiasaan atau ditiru oleh anggota dewan lainnya.

Kalau misalnya Guspardi membawa virus Covid-19 sebagai oleh-oleh dari luar negeri, meskipun misalnya beliau merasa sehat tetapi ternyata menjadi OTG, apakah dia mau bertanggung jawab kalau ada yang tertular?

Ini misalnya saja loh, karena sekarang kan kasus Covid-19 varian delta sedang tinggi-tingginya di negeri ini, yang bermula dari penularan kasus yang terjadi di India juga.

Apakah kalau sudah anggota dewan, dari Fraksi PAN, maka seratus persen tidak bisa tertular atau berpotensi menularkan Covid-19 gitu? Sakti bener kalau memang begitu!

Terlepas dari lembeknya respons dari MKD DPR RI tadi (kalau respons dari orang PAN, ya wajar begitu karena sesama kader PAN) ... saya sangat setuju kalau Guspardi ini langsung dikenai sanksi, biar menjadi pelajaran sekaligus peringatan bagi anggota dewan lainnya.

Saya harap nggak ada pihak yang takut, sungkan, atau nggak enak hati. Apalagi di PAN sudah tak ada Mbah Amien Rais, sosok sepuh yang mungkin akan "menyerang balik" jika sampai kadernya diusik seandainya masih ada di partai tersebut.

Bagaimana menurut Anda?

Ketahuan Melanggar Aturan Wajib Karantina, Anggota Fraksi PAN Ini Kudu Disanksi

Sumber Utama : https://seword.com/politik/ketahuan-melanggar-aturan-wajib-karantina-anggota-sc00zi69fi

Salut! Alibaba Hingga Google Ikuti Johnny Plate Untuk Majukan Literasi Digital!

Ternyata langkah senyap Jokowi membangun negeri juga sukses diikuti anak buahnya di kabinet. Mulai dari Sri Mulyani, Basuki, Retno Marsudi, Nadiem Makarim hingga Johnny Plate. Diam-diam mereka membuatkan jalan agar generasi kita kelak bisa hidup di calon negara maju. Kalau beberapa kementrian telah kita ketahui gebrakan positifnya, lantas bagaimana dengan Johnny Plate di kominfo? Gagasannya mengenai literasi digital di luar dugaan mendapat dukungan dari beberapa perusahaan ternama.

Ini semua tentu tak lepas dari kerja keras dan tanggung jawab moral. Kita bisa salah paham di awal yang menyangka komunikasi pemerintah ke publik jelek lantaran kominfo tak bekerja maksimal. Tapi, bukankah setiap lembaga punya tanggung jawab komunikasi masing-masing? Program pajak misalnya, tentu sebaiknya tim kemenkue yang harus mengkomunikasikan. Atau masalah kesehatan yang harusnya dikomunikasikan oleh menkes. Tak semua kesalahan konumikasi lantas dilempar jadi kesalaham kominfo. Lantas tugas kominfo di bawah Johnny Plate sendiri apa?

Salah satunya adalah menumbuhkan literasi digital demi memajuan bangsa. Seperti dilansir tempo.com, Menteri Komunikasi dan Informatika Johnny Plate mengajak media massa atau pers untuk melakukan literasi digital di tingkat paling dasar.

Joni mengatakan, hal itu penting karena kementeriannya selama ini dikenal sebagai kementerian blokir lantaran sering take down sejumlah konten yang melanggar kekayaan intelektual.

"Kominfo lebih banyak dikenal kementerian blokir jadinya. Blokir konten, take down konten. Ini pentingnya media bersama Kominfo melakukan literasi digital di tingkat yang sangat basic," kata Johnny dalam diskusi seputar hari pers nasional, Senin, 8 Februari 2021.

Selang beberapa bulan pemberitaan mengenai gagasan kominfo, kini dua perusahaan raksasa telah berhasil digandeng untuk melakukan literasi digital tersebut.

Seperti dilansir sindonews.com, Alibaba Cloud dari Alibaba Group, mengumumkan partisipasinya dalam Program Digital Talent Scholarship yang diprakarsai oleh Kementerian Komunikasi dan Informatika (Kominfo).

Ini adalah sebuah program pelatihan yang bertujuan untuk meningkatkan kompetensi digital anak muda Indonesia, dan mendukung ekonomi digital yang berkembang pesat di Tanah Air.

"Kami sangat antusias untuk bergabung dengan Kominfo dan berkontribusi dalam memberikan pelatihan komputasi awan bagi tenaga kerja muda Indonesia, masyarakat umum, dan aparatur sipil negara," ungkap kata Leon Chen, General Manager of Alibaba Cloud Indonesia, dalam keterangannya, Rabu (30/6).

Alibaba Cloud pertama-tama akan meluncurkan program pelatihan dan sertifikasi untuk 1.000 peserta selama dua bulan, yang dimulai dari bulan September tahun ini.

Kursus pelatihan bebas biaya ini akan berfokus pada pengetahuan dasar komputasi awan, seperti dasar-dasar layanan komputasi elastis, manajemen server, penskalaan otomatis, dan layanan jaringan. Peserta yang lulus tes praktik juga akan diberikan sertifikat.

Gebrakan Alibaba ini juga langsung disusul Google sebagai situa pencarian nomer satu di sunia. Seperti diberitakan medcom.com, Google mengajak berbagai perusahaan media di seluruh dunia, tidak terkecuali di Indonesia untuk bekerja sama menghadirkan konten dan ekosistem digital sehat, juga bertujuan untuk membantu Pemerintah dalam mewujudkan percepatan transformasi digital bagi masyarakat.

Salah satu bentuk kolaborasi ini adalah dengan menghadirkan program untuk membantu jurnalis dan insan pers lain dalam mengembangkan jurnalisme berkualitas. Hal ini mendapatkan apresiasi dan dukungan dari Pemerintah, yang diwakili oleh Kementerian Komunikasi dan Informatika (Kominfo).

Pastinya semakin banyak pihak yang terlibat semakin pesat pula pertumbuhan literasi digital. Tentunya sebagai calon negara besar, kita harus menunjukkan kualitas kita lewat konten yang ditunjukkan. Ini makanya banyak netizen marah atas kelakuan BEM UI menghina kepala negara dengan meme layaknya orang terbelakang. Padahal identitas dari kampus ternama harusnya dicerminkan dari konten yang dihasilkan. Jangankan data, grafik atau statistika yang lain, gambar meme saja sudah seperti ABG putus sekolah. Ini makanya tak salah kalau pihak rektorat memanggil mereka.

Lebih jauh lagi kita harapkan gerakan literasi digital ini juga bisa mendorong ke arah social impact yang luas. Seperti UK di mana 1 dari 3 start up yang ada merupakan bentuk kontribusi sosial. Kita yakin Indonesia juga bisa menghadirkan talenta muda yang akan mengangkat harkat bangsa. Salah satunya lewat gebrakan mutakhir dari Johnny Plate, yakni literasi digital.

Salut! Alibaba Hingga Google Ikuti Johnny Plate Untuk Majukan Literasi Digital!

Sumber Utama : https://seword.com/politik/salut-alibaba-hingga-google-ikuti-johnny-plate-a5LQK2qNZX

Dik Leon, Sejak Novel Baswedan-mu Dibuang, KPK Makin Garang Sama Anies Lho

Leon, Delpe-D.O dan kawan SJW ini koar-koar kalau KPK dilemahkan, Jokowi melemahkan KPK. Joko Widodo dianggap king of lip service. Padahal justru Jokowi adalah King of Service. Rajanya pelayanan publik. KPK diperkuat dengan cara UU baru yang dijalankan Firli, ketua KPK.

Novel Baswedan dibuang oleh KPK bukan karena Novel matanya nggak bagus lagi. Tapi Novel Baswedan dibuang oleh KPK murni karena gagal tes wawasan kebangsaan. TWK ini adalah syarat yang digunakan secara standar untuk menyaring para pegawai sipil alias ASN.

Dan benar, TWK ini membawa hasil baik kepada Indonesia. Ketika Novel dan 50an kadrun lain yang nggak bisa diselamatkan lagi karena taraf radikalismenya semakin sadis, kinerja KPK mulai kelihatan. KPK mulai garang sama Anies Baswedan, membuat dia diam berdiri gemetar. Bagaimana kisahnya?

Jadi begini. Awalnya, kita tahu kasus dugaan korupsi Anies Baswedan ini sudah terdengar bertahun-tahun. Sejak awal dia menjabat sebagai gubernur DKI Jakarta, Anies ini diduga kuat melakukan banyak sekali mark up anggaran, dan anggaran janggal.

Beberapa anggaran dikeluarkan untuk hal-hal yang tidak penting seperti anggaran bongkar JPO, bikin pelican crossing, bikin bambu yang saya lihat kayak orang lagi eue di tengah jalan, lalu dimakan lumut, hancur, ganti jadi batu yang bisa dipakai buat demo hancurkan lokasi sekitar, aibon, dan lain-lain.

Banyak sekali hal-hal yang nggak masuk akal dianggarkan oleh Anies. Selain PSI, PDIP juga membongkar anggaran-anggaran yang sifatnya nggak jelas itu. Banyak anggota DPRD yang terinspirasi oleh Ahok dan berpolitik untuk meneruskan rekam jejak Ahok, mengangkat kasus ini.

Tapi selama hanya di ranah DPRD, ya nggak akan kemana-mana. Selama hanya koar-koar di media tanpa melaporkan ke pihak terkait, tidak ada gunanya. Tapi saya yakin, ada orang-orang yang melaporkan dugaan korupsi Anies Baswedan ke KPK.

Tapi kenapa KPK diam saja? Kenapa Febri Diansyah dan Novel Baswedan pada saat aktif di KPK, diam dan bungkam? Setahu saya dulu Febri kan sering di hadapan publik mewakili KPK bicara kasus OTT murah meriah receh-receh sambil centil di depan media?

Kenapa tidak untuk kasus Anies? Maka dari itu, kepercayaan publik soal KPK menurun. Menurun bukan karena TWK, tapi menurun karena kasus Anies Baswedan didiamkan. Novel bungkam. Febri juga bungkam, hanya centil di Twitter.

Nah dari sini lah, TWK diadakan, untuk apa? Untuk menyaring orang-orang bermasalah dari sisi wawasan kebangsaannya. Sebut saja mereka kadal gurun. Nggak apa-apa kok. Kemudian juga kita tahu kan, dengan adanya dewan pengawas KPK, banyak bau bangkai yang akhirnya terbongkar.

Lembaga superbody ternyata super busuk. Busuk ada penyusup. Ada pencuri 2 kilogram emas. Ada juga pencuri rampasan negara. Ada juga penipu. Ada juga penerima suap yang gampang menutup kasus korupsi besar. Makanya nggak heran kalau kasus korupsi di DKI Jakarta selama ada kubu Baswedan, aman-aman dan tenteram.

Akhirnya, TWK berhasil membuang mereka, dan membuat KPK semakin tegak lurus mengusut kasus Anies Baswedan. Saya berharap, KPK ini yang tersisa 900an orang di dalamnya,

KPK saat ini sedang melakukan rapat koordinasi dan supervisi denga Pemprov DKI Jakarta. Rapat yang diadakan pada tanggal 29 Juni ini, menuntut Pemprov DKI Jakarta menjelaskan pengleuarand ana bansos penanganan bencana copet di Jakarta.

"Kami harapkan ada keterbukaan sharing fakta lapangan dari rekan-rekan Pemprov DKI untuk bersama-sama kita cari solusinya… Monitoring evaluasi program bansos ini sebenarnya juga sudah dilakukan sejak tahun lalu dan kita temukan banyak kendala seperti cleansing data karena perbedaan data dengan Kementerian Sosial…" kata Ketua Satuan Tugas (Kasatgas) Koordinasi dan Supervisi Wilayah II KPK Dwi Aprillia Linda Astuti melalui keterangan tertulis, Kamis (1/7).

Mereka ingin smeua data dibuka sebagai pertanggungjawaban pemprov DKI mengeluarkan dana rakyat untuk program bantuan sosial. Permintaan ini sudah dilakukan beberapa kali. Namun TGUPP-nya sibuk main Twitter dan ngebelain Anies Baswedan mungkin, sehingga mereka hanya planga-plongo.

Terima kasih Pak Firli Bahuri, meski Anda kontroversial, upaya penyelamatan KPK dari kadal gurun pembela Anies Baswedan rasanya sangat baik dan sangat perlu diapresiasi. Jangan sampai orang-orang macam Novel Baswedan yang didukung oleh Veronica Koman dan Anies Baswedan tetap di KPK.

Sampai sekarang, Anies kelihatannya masih diam-diam soal dibuangnya Novel. Diam mau main aman, atau diam karena ketakutan?

Dik Leon, Sejak Novel Baswedan-mu Dibuang, KPK Makin Garang Sama Anies Lho

Sumber Utama : https://seword.com/politik/dik-leon-sejak-novel-baswedan-mu-dibuang-kpk-0kEWB0IpYm

Anies yang Suka Obral Janji Manies, Presiden Jokowi Kena Getahnya

Ketika dalam kampanye? Maka adalah suatu kelumrahan ketika para calon berkampanye dengan membuat progam-program kerja dengan tujuan untuk mensejahterakan warga ataupun masyarakat ataupun rakyat di suatu daerah dalam lingkup Pilkada atau di seluruh rakyat Indonesia dalam ruang lingkup paling besar bertajuk Pemilu atau Pemilihan Presiden.

Tugas para calon kepala daerah ataupun Presiden memang sangat berat saat kampanye, bagaimanalah caranya agar rakyat itu percaya dan memilih mereka saat pesta demokrasi dilangsungkan nanti. Sehingga berbagai carapun dilakukan, ada yang bermain politik uang, ada tim sukses yang benar-benar menggunakan segala sumber daya yang ada untuk memenangkan pasangannya, bahkan ada pasangan yang bermain diluar kewajaran dengan menjual ayat dan mayat seperti yang dipertontonkan oleh pasangan Anies – Sandi di Pilkada DKI 2017 lalu.

Mereka berdua sepakat untuk menggunakan segala daya upaya, tidak peduli mau itu bersih atau mainnya jorok, yang penting mereka menang dengan menggoda pemilih warga DKI. Mereka menggunakan semua obral janji.

Kata-kata manies dilontarkan, tidak hanya memoles diri mereka semanis mungkin, bahkan Sandiaga Uno pernah dibeberapa kesempatan menonjolkan bentuk-bentuk fisiknya ke muka umum, menandakan bahwa dia adalah pria sejati dengan harapan tonjolan itu bisa membuat kaum hawa terpikat untuk rela dicoblos, eh rela mencoblos wajahnya di Pilkada DKI nanti.

Benar saja, 58% warga DKI terpikat dengan tonjolan-tonjolan fisik kedua orang tersebut. Sandiaga Uno bertugas menonjolkan bagian fisiknya? Anies lebih banyak berselfi ria di tempat pembuangan sampah, kala banjir datang, Anies menonjolkan dirinya seakan-akan peduli akan rakyat. Menggunakan momen banjir untuk berfoto dengan warga DKI.

Anies bersafari politik di rumah-rumah ibadah, berkampanye di rumah-rumah ibadah dengan trik, “Jakarta salah memilih pemimpin, karena tidak seiman, sehingga Jakarta sering banjir, sering terkena bencana”.

Yang paling menyakitkan, pendukung Ahok tidak boleh disaladkan di Masjid. Begitu keji dan jahatnya politik Anies sehingga para pendukungnya bisa berbuat diluar nalar kemanusiaan dengan menolak jenazah pendukung Ahok.

Kembali ke apa yang ditanam oleh Anies dan pendukungnya yang pastinya kaum konglomerat atau bohir yang tidak henti-hentinya adalah tujuan utama mereka menyerang Presiden Jokowi.

Baru-baru ini muncul di media sosial Instagram akun @bemui-official tentang “Jokowi the King of Lip Service”. Membaca unggahan tersebut, saya menjadi lucu dan sedih. Bercampur aduk menjadi sebuah fakta dan realita betapa sedihnya melihat kualitas mahasiswa Indonesia yang asalnya dari perguruan tinggi negeri favorit yang banyak digandrungi oleh pelajar-pelajar dari sekolah negeri maupun swasta di seluruh tanah air ini.

Kualitas rendah dan tak mutu dipertontonkan oleh Ketua BEM UI Leon Alvindo Putra yang membuat alasan kenapa Presiden Jokowi dikatakan tukang obral janji manis hanya melihat dari segi kata-kata, bukan tindakan Presiden selama memimpin dengan hasil-hasil yang dia buat.

Tampak sekali BEM UI ini dibayar untuk berpolitik dengan memojokkan Presiden Jokowi, padahal jelas kita tau bahwa Presiden sudah begitu banyak membuat prestasi-prestasi bahkan kinerja memuaskan selama menjadi pemimpin.

Membandingkan janji-janji manis Presiden Jokowi yang dikritik oleh bem ui itu dengan apa yang telah diperjanjikan oleh Anies Baswedan, gaberner DKI Jakarta selama kampanye dan sampai sekarang tidak terealisasi sama sekali? Maka bem ui ini melakukan sebuah kesalahan besar dan fatal bukan?

Anies yang berjanji manis-manis, kok Presiden Jokowi yang kena getahnya? Begitulah kalau yang membuat unggahan itu bukan melihat secara proporsional dan tepat, tapi melihat dari kacamata pesanan para bohir ataupun konglomerat yang terpasung di era Presiden Jokowi.

Anies malah lebih parah dengan janji-janji manisnya. Masih ingat Rumah DP 0 Persen atau Rumah apalah itu? Sampai sekarang apakah sudah terealisasi? Mari kita tanyakan ini kepada bem ui, si Leon Alvindo Putra itu?

Sampai sekarang sudah hampir habis masa jabatannya? Anies masih mencla-mencle dalam program DP Rumah 0 Persen itu. Mana suara bem ui maupun universitas lainnya?

Sementara Presiden Jokowi berjaya dengan program Sejuta Rumah yang telah terealisasi 777.708 unit dari target 900.000 unit rumah yang dicanangkan sejak tahun 2015.

Realisasi tersebut tercatat hingga awal Desember 2020.

Direktur Jenderal Perumahan Kementerian PUPR Khalawi Abdul Hamid mengatakan pihaknya optimistis bahwa dapat memenuhi target.

"Kami (Kementerian PUPR-red) tetap optimis Program Sejuta Rumah diperkirakan dapat mencapai angka 900.000 unit," jelasnya seperti dikutip dari situs Kementerian PUPR, Senin (14/12/2020).

Lantas nikmat mana yang kau dustakan Alvian? Masa matamu tidak bisa membedakan mana yang suka obral janji manis dan mana yang benar-benar bekerja untuk rakyat?

Cobalah anda itu sedikit merenung, pejamkan mata dan rasakan dengan baik yang mana yang suka obral janji manis? Apakah Presiden Jokowi atau si Anies Baswedan?

Lah kalau Anies yang suka janji manis? Kenapa yang lu serang itu Presiden Jokowi? Kepala Negara kita bray.....

Sungguh lancang anda itu..

Anies yang Suka Obral Janji Manies, Presiden Jokowi Kena Getahnya

Sumber Utama : https://seword.com/umum/anies-yang-suka-obral-janji-manies-presiden-aJbbnPW8dI

Terkuak, Jejak Digital Lengkap Leon Alvinda Putra, Ketua BEM UI 2021

Sebelumnya, penulis minta maaf jika telat mengangkat tulisan ini. Rencananya semalam udah naik, malah ketiduran! Wkwkwkw

Dalam tulisan ini, penulis tidak akan membahas detail tentang Leon Alvinda Putra yang merasa lucu saat SMP, merasa kece pakai kaos bertuliskan NJIR saat SMA, sekolahnya dan alamat lengkap rumahnya di Sektor Solo 3, nomor WA-nya 08777272621x dan 0878312177x karena nanti katanya serang personal. Xixixi

Penulis akan membahas jejak digital secara lengkap dari postingannya sendiri sehingga rakyat Indonesia bisa menilai sendiri apa dan siapa dia sebenarnya.

Mari kita bahas secara perlahan seiring dengan perjalanan waktu…

Kalau kita perhatikan dengan seksama, pihak oposisi sebenarnya sangat merindukan momen yang bisa dipakai untuk menyerang pemerintahan Jokowi saat ini

Pada tahun 2016, kita masih ingat bagaimana politikus Gerindra bernama HR Muhammad Syafi’i (Romo Syafi’i) yang memanfaatkan momen rapat paripurna pembukaan masa persidangan I DPR RI tahun sidang 2016-2017 silam dengan doa politiknya.

Pada tahun 2017, pihak oposisi juga memanfaatkan momen sidang bersama MPR, DPR, dan DPD dengan melalui doa politik yang dibacakan (lagi) oleh elit PKS bernama Tifatul Sembiring yang penulis balas dengan beberapa tulisan penulis sehingga diblokir oleh Tifatul Sembiring.

Pada tahun 2018, Ketua BEM UI bernama Zaadit Taqwa juga sempat heboh setelah memberikan kartu kuning terkait kasus gizi buruk di Papua. Momen tersebut juga dimanfaatkan oleh pihak oposisi untuk menyerang pemerintahan yang sah di bawah kepemimpinan Presiden Jokowi.

Banyak yang memuji setinggi langit tindakan Zaadit saat itu, bahkan ada sebuah yayasan yang ingin memberikan umrah kepada Zaadit atas tindakannya. Ternyata pendiri yayasan tersebut adalah orang PKS bernama Azzam M Izzulhaq yang sudah beberapa kali terbukti sebar hoaks! WKwkwkwkw

Setelah heboh di media nasional, si Zaadit Taqwa “simpatisan” PKS ini malah tidak mau ikut pergi ke Papua!

Article

Pada tahun 2019, media kembali dihebohkan oleh aksi Ketua BEM UI bernama Manik Margana Mahendra yang bukan orang hukum tapi sok bahas tentang hukum dalam sebuah acara live yang disaksikan oleh seluruh rakyat Indonesia. Ngakak!

"Yang jurusan hukum siapa?," tanya Karni Ilyas.

"Enggak ada, tapi kita sama-sama belajar," ungkap Manik. Sumber

Article

Bahkan Menkum HAM sampai malu mendegar ocehan Ketua BEM UI dan beberapa Ketu BEM lainnya yang sok koar-koar tentang hukum taopi tidak membaca naskah draft hukumnya.

Article

"Kalau ini jujur sebagai dosen saya malu apa yang saudara sampaikan, malu lah enggak baca kasih komentar didengar orang di ILC saya sampai tutup mata tadi," ujar Yasonna Laoly. Sumber

Dan sekarang Ketua BEM UI 2021 Leon Alvinda Putra (tidak kesampaian ingin kuliah di UGM), malah bangga nyinyir Presiden dengan sebuah meme?

Ngapain kuliah di UI sampai jadi Ketua BEM UI kalau hanya mampu “buat” meme???

Jadi makin kelihatan bagaimana kualitas Ketua BEM UI tahun 2018, 2019, dan tahun 2021 saat ini!

Article

Ketua BEM UI tahun 2018, Zaaid Taqwa tidak mau ikut ke Papua setelah memberikan kartu kuning kepada terkait gizi buruk di Papua kepada Presiden Jokowi.

Ketua BEM UI tahun 2019, Manik Margana Mahendra bukan orang hukum koar-koar tolak RUU tapi tidak membaca naskah hukumnya.

Ketua BEM UI tahun 2021, Leon Alvinda Putra, hanya mampu “buat” meme the king of lip service padahal negara Indonesia adalah negara Republik bukan kerajaan!

Pasti ada yang bertanya, mana Ketua BEM UI tahun 2020?

Ssstttt, Ketua BEM UI tahun 2020 bernama Fajar Adi Nugroho gak di up dan dihebohkan oleh media karena pernah melakukan aksi demo “ngemis” subsidi pulsa tahun 2020 lalu. Wkwkwkwkwk

Article

Sekarang, mari kita lihat lebih dalam tentang Leon Alvinda Putra ini…

Leon Alvinda Putra adalah mahasiswa Manajemen di Fakultas Ekonomi dan Bisnis (FEB) UI tapi tolak Omnibus Law?

Article

Dia juga pernah membuat diskusi tentang bahaya Omnibus Law sambil mengatakan tidak termakan hasutan buzzer pemerintah yang salah satu pembicaranya adalah si Asfinawati (Ketua YLBHI).

Article

Article

Masih ingat tulisan penulis tentang si Asinawati, Ketua YLBHI ini?

Si Asfinawati ini pernah nyinyir dan mengatakan Presiden tidak mau menertibkan buzzer dan pendukung beliau, tapi kita tidak akan pernah mendengar si Asfinawati ini nyinyir Anies Baswedan yang sudah banyak terbukti membual setelah menjabat sebagai Gubernur DKI Jakarta.

Tanya kenapa?

Apakah karena Anies Baswedan pernah melakukan pertemuan tertutup dengan para pimpinan YLBHI, dan salah satu pembicaraannya adalah tentang hibah anggaran dari Pemprov DKI ke YLBHI pada tahun 2018 lalu?

Article

Si Asfinawati ini pernah menjabat sebagai Direktur LBH Jakarta periode 2006-2009. Dan LBH Jakarta terima dana hibah sebanyak Rp 2 miliar dari Pemprov DKI Jakarta di bawah kepemimpinan Anies Baswedan pada awal Januari 2020 lalu. Kebetulan? Wkwkwkwk

Article

Leon like berita tentang Novel Baswedan yang mempersiapkan perlawanan dan mengatakan Ketua KPK bertindak sewenang-wenang.

Article

Ya elah, Leon mau saja membela Novel Baswedan yang tidak lolos Tes Wawasan Kebangsaan (TWK). Yang ikut tes Novel Baswedan dkk, yang tidak lolos mereka yang salah Presiden? Ha ha ha

Leon juga pernah membuat diskusi tentang Papua bersama Veronica Koman (VK) dll?

Article

Bahkan si Veronica Koman menyebut dirinya ibu kepada Leon dan cuitan (VK) tersebut juga di like oleh Leon.

Article

Leon juga berterima kasih kepada si VK yang sudah “menularkan” keberanian kepada dirinya.

Article

Si Veronica Koman seorang DPO yang sudah kabur ke luar negeri lo banggain?

Ente pikir si Veronica Koman itu hebat?

Dia orang hukum tapi dia tidak berani menghadapi kasus hukumnya setelah ditetapkan sebagai tersangka kasus provokasi dan hoaks dalam kerusuhan Papua, eh malah kabur ke Australia!

Asal tahu aja, si Veronica Koman ini pernah kirim email ke Seword agar tulisan gue tentang dirinya diturunkan dan Seword minta maaf kepadanya. Emang dia siapa???

Sampaikan ke Veronica Koman, jangan “menjual” isu HAM Papua demi “kepentingan pribadi” agar bisa jalan-jalan ke luar negeri. Ngaku peduli rakyat Papua tapi malah bangga pakai simbol pemberontak Papua di tangannya.

Article

Ngaku peduli rakyat Papua tapi malah bangga foto dengan pihak asing sambil pamer bendera separatis Papua.

Article

Presiden Amerika dan Presiden Soekarno saja digulingkan oleh CIA demi emas di Papua. Apalagi setelah Presiden Jokowi menguasai 51% saham Freeport setelah dikuasai asing selama 51 tahun?

Article

Jadi sudah paham kenapa mereka koar-koar HAM di Papua…

Please Leon, jangan katakan ente tidak punya kuota sehingga tidak tahu jika pendiri OPM sendiri lho yang mengatakan jika Veronica Koman adalah seorang provokator!

Article

Oh iya, Leon Alvinda Putra ini juga pernah berdoa supaya partai oposisi (PKS dan PAN) tetap teguh dan berjuang sebagai oposisi pemerintahan. Jadi makin kelihatan jika dia memang “anti” terhadap pemerintahan Indonesia yang sah saat ini.

Article

Akhir kata, setelah mengetahui jejak digital lengkap Leon Alvinda Putra yang menjabat sebagai Ketua BEM UI 2021, silahkan rakyat Indonesia untuk menilai sendiri apa dan siapa dia sebenarnya

Wassalam,

Nafys Seword

Salah satu mantan asisten dosen dengan IPK tinggi juga (ops, wkwkwk)

Terkuak, Jejak Digital Lengkap  Leon Alvinda Putra, Ketua BEM UI 2021

Sumber Utama : https://seword.com/politik/terkuak-jejak-digital-lengkap-leon-alvinda-putra-TqQMtOVJ3x

Hina Jokowi, Tanda Kualitas Politikus Ini Rendah

Tak terbilang banyaknya kalimat merendahkan yang kerap diucapkan oleh para politikus di negara kita tercinta ini. Akibatnya masyarakat pun meniru habit mereka dengan suka cita.

Hanya terkesan kurang elok jika hal itu dilakukan oleh orang-orang yang memiliki kapasitas lebih sebagai publik figure dan kebetulan seorang politikus dari Partai Demokrat.

Politisi Partai Demokrat Rachland Nashidik tiba-tiba membuat pernyataan kontroversial. Katanya kenapa masyarakat mesti mempertanyakan penjual jam imitasi bisa jadi komisaris BUMN. Sementara seorang tukang mebel saja bisa dipilih jadi presiden RI.

“Indonesia: Kenapa heran sales jam imitasi bisa jadi komisaris BUMN, kalau tukang mebel bisa dipilih jadi Presiden?” cuit Rachland di akun Twitternya @RachlandNashidik, Kamis (1/7/2021).

Lantas siapa yang ia maksud sebagai tukang meubel? Sudah barang tentu sentilan itu ia tujukan untuk Presiden Joko Widodo dimana sebelum menjadi Wali Kota Solo, ia berprofesi sebagai pengusaha meubel di kampung halamannya.

Tentu yang menjadi pertanyaan besar kita lalu masalahnya apa dengan latar belakang itu?

Selagi pekerjaan halal dan tidak merugikan orang lain kenapa dipersoalkan?

Soal merendahkan pihak lain, menghina, menuduh dan kalimat yang sepadan dengan itu nampaknya memang sudah terbiasa dilakukan oleh Rachland Nashidik.

Untuk mengingatkan salah satunya contohnya yang bersangkutan sempat terkencing-kencing dan minta maaf saat ditegur oleh Ketua Umum DPP Barikade Gus Dur, Priyo Sambadha. Gara-gara cuitannya yang mengunggah dan menuduh makam Gus Dur dibiayai negara. Tangkapan layar terjadi (20/02/2021). sumber

Atas dasar itulah, Barikade Gus Dur mengirimkan surat somasi kepada Rachland. Rachland dan didesak meminta maaf.

"Maka berdasarkan hal-hal tersebut di atas kami mendesak dengan tegas agar Saudara mencabut pernyataan tersebut dan menyampaikan permohonan maaf, sebelum kami melakukan tindakan hukum," ujar Priyo.

Bahkan atas ucapan Rachland Nashidik tersebut Barikade Gus Dur sempat geruduk kantor DPC Partai Demokrat di Malang, Jawa Timur.

Tak sedikit politikus menempuh cara-cara yang tidak memiliki tata krama dan kesopnan untuk menaikkan popularitas. Padahal berdasarkan sejarah sangat jarang tokoh yang mengambil jalur kontroversi yang merendahkan pihak lain kemudian naik menjadi seorang pemimpin.

Biasanya masyarakat akan mencatatnya. Kita bisa lihat contohnya banyak, Fadli Zon, Fahri Hamzah, Amien Raiz, Mardani, Said Didu dan lain sebagainya.

Sekarang kalau mau blak-blakan dan saling merendahkan apakah Rachlan Nashidik buta mata buta hati?

Ketua Umum Partai Demokrat Agus Harimurti Yudhoyono hanyalah seorang Mayor? Ada ribuan Jendral di negara kita buat apa memilih seorang Mayor untuk menjadi seorang presiden republik indonesia.

Terlebih ketua umum PD ini kering pengalaman di birokrasi. Seluruh rakyat indonesia dan seluruh lelembut yang bersemayam di alam juga tahu, kalau Agus Yudho ini naik jadi ketum karena faktor dinasti. Bukan kemampuan pribadi. Instan dan karbitan.

Agus tidak mau merangkak dari bawah untuk belajar dulu. Tidak mau atau oleh bapaknya dipandang tidak berkelas jika hanya jadi Bupati atau Wali Kota? Sehingga sasarannya langsung Gubernur.

Kalah saat pilkada bukannya tahu diri malah sekarang memantas-mantaskan diri, mematut-matutkan diri incar posisi RI 1.

Soal didikan anak terkait dunia politik bahkan sisi entrepreneurship, SBY kalah kelas sama Jokowi yang direndahkan oleh Rachland Nashidik hanya tukang meubel tersebut.

Jokowi terbilang tidak mengistimewakan anak. Anak-anaknya sukses jadi seorang penguasaha sejak belia. Kenudia Gibran Rakabuming Raka mau mengabdi jadi Wali Kota Solo. Jika Gibran mau tak hanya Wali Kita, bahkan jabatan Gubernur pun memiliki kesempatan.

Tapi dia sadar dan tahu diri belum punya kemampuan dan pengalaman dalam birokrasi sekelas gubeenur, maka Wali Kota adalah posisi pas sekaligus untuk tempatnya mengasah diri.

Jadi sekali lagi buat para politikus otak dan hatinya semestinya dipakai jika sedang digunakan. Jangan asal bernyanyi setelah sadar baru buru-buru minta maaf lalu hapus cuitan.

Oleh karenanya sekali lagi kami masyarakat juga berhak bertanya.

"Jika ada ribuan jendral di indonesia dengan segala pengalamannya, mengapa kami harus memilih mayor yang minim pengalaman memimpin?."

"Jika ada gubernur yang sudah pasti paham birokrasi dan menjadi pelayan rakyat, mengapa kami harus pilih ketum Anda yang belum pernah sama sekali punya bukti jadi pemimpin di daerah?."

Demikian, salam

Hina Jokowi, Tanda Kualitas Politikus Ini Rendah

Sumber Utama : https://seword.com/politik/hina-jokowi-tanda-kualitas-politikus-ini-rendah-JvSwWWAcEs

Dzulfian Puji Leon, Keduanya Disleding Denny, Amien Rais Kena Getahnya!

Masih tentang Ketua BEM UI, Leon Alvinda Putra. Bocah yang tiba-tiba terkenal karena rangkaian meme dari BEM UI yang menyebut Presiden Jokowi sebagai The King of Lip Service. Ya terkenal lah. “Menyerang” presiden yang dipilih oleh mayoritas rakyat. Yang dalam berbagai survei kepuasan atas kinerjanya, selalu mendapatkan persentase tinggi, di atas 50 persen. Bahkan ada yang mencapai 80-an persen.

Awalnya nama Leon pun melejit, jadi berita di mana-mana. Seolah jadi contoh keberanian mahasiswa. Berbagai pihak pun mempolitisasi kritik BEM UI, ikut membonceng. Seperti Partai Demokrat, PKS dan HMI. Leon mungkin sudah bersiap diri, siap diwawancara media, siap diundang debat (dengan catatan katanya tidak mau kalau lawan debatnya adalah Ade Armando hehehe), siap diajak selfie mungkin? Tidak sedikit pula pihak yang membela dan memuji Leon. Mengelu-elukan Leon. Rasanya membuncah ya. Kayak baru menang Indonesian Idol gitu.

Kenyataannya, bukannya mengundang simpati dan dukungan publik, keterkenalan Leon ini malah jadi “bencana”. Pasalnya, para netizen pun tidak diam. Lho, memangnya warga negara Indonesia tidak boleh membela Presiden RI? Justru harus kan? Nah, para netizen pun menguliti segala sisi dari seorang Leon. Namanya kan sudah terkenal bak selebriti. Harusnya siap dong untuk dibongkar jejak-jejaknya. Dari postingan medsos Leon yang lama-lama, hingga kehidupan pribadinya. Juga melawan mereka yang memuji dan membela Leon. Di sinilah terjadi “konflik” yang berujung memalukan, bagi kubu Leon tentunya.

Salah satu yang membela Leon adalah seorang ekonom yang bekerja di INDEF (Institute National Development dan Financial), Dzuldian Syafrian. Dia membela Leon sambil ikutan “menyerang” Presiden Jokowi, bahkan secara frontal, dengan menyebut akun Twitter Presiden Jokowi. Pujiannya selangit buat Leon. “Ketua BEM UI sekarang, Leon, setahu saya IPK-nya hamdallah cum laude, di atas 3,5, asdos (asisten dosen) pula. Jurusannya juga salah satu yang paling susah masuknya. Sebelum jadi KaBem (Ketua BEM), doi juga sudah ketua sana-sini. Doi juga tetangganya Pak @jokowi di Solo loh. Bukan kaleng kaleng. Kalau IPK Pak Presiden berapa dulu?,” cuit Dzulfian sambil memasang emoticon ketawa dengan satu mata berkedip.

Article

Wuihhhh… Leon dijunjung sampai langit ke berapa itu? Sampai berani mempertanyakan IPK Presiden Jokowi, buat dibandingkan dengan IPK Leon? Kita yang baca malah ketawa. Karena justru cuitan ini memperlihatkan kedangkalan berpikir orang ini. Memang ada gitu jaminan bahwa IPK tinggi berbanding lurus dengan keberhasilan seseorang dalam kehidupannya. Ya memang, ketika mencari kerja, IPK tinggi kadang jadi salah satu prasyarat. Kadang-kadang ya, dan biasanya di tingkat entry level. Kalau sudah masuk ke level manajerial, apalagi direksi, sudah jarang ditanyakan IPK-nya berapa. Yang ditanya adalah bisanya apa. Leon apakah sudah bisa membangun infrastruktur dengan efektif seperti Presiden Jokowi? Gini deh, jadi pengusaha mebel yang bisa mengekspor produknya, sudah bisa belum? Kan jadi balik menohok ke Dzulfian dan Leon lagi hehehe…

Seorang mahasiswa, yang pernah jadi ketua di sana sini, dibandingkan head to head dengan seorang Jokowi? Yang punya rekor tidak pernah kalah dalam 5 kali pemilu, dan jadi presiden selama 2 periode. Dibandingkan dengan lawannya Jokowi di pemilu saja pasti belum sampai kan? Dangkal kan? Saya kira Dzulfian pun akhirnya menyadari bahwa kedangkalan argumennya itu jadi senjata makan tuan ke dirinya dan ke Leon. Mungkin karena membaca banyaknya hujatan dan cemoohan dari para netizen. Termasuk komentar dari Bang Denny Siregar, penulis dan pegiat media sosial.

Komentar Denny Siregar memang sangat menohok. Membuyarkan puji-pujian Dzulfian dan membanting Leon sampai ke dasar sumur. “Kecerdasan itu seringkali ga bisa diukur sama IPK.. Ada tukang kayu yang bisa jadi Presiden. Ada juga Profesor yang gak bisa bedain mana nenek-nenek yang wajahnya dioplas (operasi plastik) dan yang digebukin,” tulis Denny link twitter.

Sebuah contoh yang tak terbantahkan. Sekaligus menyindir bahwa pernyataan Dzulfian itu tak ubahnya seperti sebuah pernyataan politis beragenda tertentu. Ya serupa lah dengan pernyataan berbagai pihak yang meyakini peristiwa penganiayaan dialami oleh Ratna Sarumpaet. Dari Fadli Zon, Fahri Hamzah, anaknya Amien Rais, dan banyak lagi. Siapa lagi profesor yang dimaksud Denny itu kalau bukan Amien Rais? Atau Rizal Ramli? Saya cenderung ke Amien Rais. Tapi boleh juga lah kalau buat Rizal Ramli, sama aja makjlebnya hehehe…

Article

Article

Dzulfian mungkin jadi merasa ambyar? Sehingga akhirnya menghapus cuitannya itu dan mengunci akun Twitter-nya? Menanggung malu sendiri, tanpa diganggu lagi oleh para netizen +62? Siapa yang sombong duluan? Siapa yang duluan menjunjung tinggi Leon hanya berdasarkan IPK dan jadi Ketua di sana sini? Kok sekarang malah ngumpet? Hapus cuitan pulak. Ingat, jejak digital hampir 100 persen tidak bakal hilang. Kecuali bisa menemukan sarung tangannya Thanos ya. 

Dzulfian Puji Leon, Keduanya Disleding Denny, Amien Rais Kena Getahnya!

Sumber Utama : https://seword.com/politik/dzulfian-puji-leon-keduanya-disleding-denny-fPgZxNx3fU

Mengejutkan Ternyata Bukan Anies, Ini Jago PKS di 2024

Anies Baswedan, gubernur DKI Jakarta saat ini dipandang publik yang bakal diusung PKS, dengan catatan jika partai yang diajak koalisi bersedia. Jika tidak Anies Baswedan auto nganggur. Meski elektabilitas di level I bersaing dengan Ganjar Pranowo dan Prabowo Subianto.

Ternyata secara mengejutkan PKS justru mendorong kadernya sendiri untuk diusung sebagai calon presiden 2024. Meskipun nama kader PKS ini tidak masuk radar bursa capres dari berbagai survei.

Banyak elit PKS yang sampai gemes sama tokoh yang satu ini, mereka para elit PKS minta yang bersangkutan mau tampil ke publik.

Memang tokoh yang satu ini tidak begitu dikenal masyarakat. Padahal tokoh yang satu ini dulu pernah menduduki jabatan sebagai menteri juga duta besar.

Siapa dia? Salim Segaf Al Jufri, dalam struktural Partai Keadilan Sejahtera (PKS) yang bersangkutan adalah Ketua Syuro PKS. Ada yang kenal?

Article

Dr. H. Habib Salim Segaf Al-Jufri, Lc., M.A. (lahir di Surakarta, Jawa Tengah, 17 Juli 1954; umur 66 tahun) pernah menjabat sebagai Menteri Sosial Indonesia sejak 22 Oktober 2009 hingga 20 Oktober 2014 di Kabinet Indonesia Bersatu II pemerintahan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono dan Wakil Presiden Boediono. Sebelumnya, ia menjabat sebagai Duta Besar Indonesia untuk Arab Saudi dan Oman sejak Desember 2005 hingga 2009 menggantikan Muhammad Maftuh Basyuni.

Para anggota Majelis Syuro Partai Keadilan Sejahtera (PKS) sampai meminta agar Ketua Majelis Syuro PKS Salim Segaf Al Jufri tampil memberikan keteladanan nyata di hadapan publik.

Para kader PKS beharap, Salim mesti dikenal publik secara luas agar masyarakat merasakan kehadiran PKS sebagai partai oposisi.

Wakil Sekretaris Jenderal PKS Ahmad Fathul dalam siaran pers mengatakan, "Masyarakat perlu tahu bahwa PKS sebagai partai oposisi hadir di tengah penderitaan rakyat. Saatnya tokoh kunci PKS dikenal publik secara luas."

Mabruri mengatakan, hal itu merupakan rekomendasi Musyawarah Majelis Syuro IV pada Rabu yang dihadiri 80 anggota Majelis Syuro PKS.

Salim Segaf memang politikus dari PKS yang banyak diamnya. Tidak seperti Mardani atau Hidayat Nur Wahid yang sering cari sensasi recehan agar eksis di media. Wira-wiri macam setelikaan.

Selain Salim konon Partai Keadilan Sejahtera (PKS) juga siapkan calon presiden lainnya dari kader sendiri

  • Salim Segaf
  • Ahmad Syaikhu
  • Hidayat Nur Wahid

Ahmad Syaikhu sendiri adalah presiden Partai Keadilan Sejahtera (PKS) atau ketua umum. Sedang Hidayat Nur Wahid bagi Anda mungkin sudah tidak asing, mantan ketua MPR dan sosok ini salah satu deklarator berdirinya partai ini dan juga mantan presiden ke-2 PKS.

Selain Mardani dan Tifatul Sembiring. Hidayat Nur Wahid (HNW) salah satu sosok yang dikenal suka kontroversi atau melempar nyinyiran ke media.

Tapi kalau menurut saya PKS selamanya tidak akan ada kader atau tokoh diintern mereka yang bisa menjadi presiden republik indonesia, sebab mereka sudah memiliki sebutan 'presiden' (ketua umum) untuk kalangan sendiri.

Lalu bagaimana dengan Anies Baswedan? Selama ini secara umum publik melihat PKS dekat dengan Anies. Begitupun sebaliknya Anies. Keduanya bagaikan sepasang kekasih.

Saya meyakini Anies Baswedan oleh PKS bakal tetap didorong jadi salah satu jago mereka. Kendati mereka punya harapan Salim Segaf akan tetapi tokoh ini rasanya tidak laku untuk dijual bahkan untuk calon wakil presiden sekalipun

Nama yang bersangkutan sama sekali tidak masuk radar bursa capres maupun cawapres dari berbagai lembaga survei yang sudah rilis. Salim Segaf sudah pasti tahu diri. Ogah ditonjol-tonjolkan, konstituen sebagian besar tidak mengenalnya.

Partai Keadilan Sejahtera sejak Era HNW tidak ada lagi tokoh yang dikenal publik. Sempat muncul nama Ahmad Heryawan gubernur Jabar selama 2 periode tapi setelah itu meredup. Bisa kita bayangkan provinsi Jab kurun satu dasawarsa dalam cengkraman PKS.

PKS = Ihkwanul Muslimin

Yusuf Supendi, salah satu pendiri Partai Keadilan--cikal bakal Partai Keadilan Sejahtera--memastikan awal pendirian partai itu pada Juli 1998 dibantu oleh banyak tokoh Ikhwanul Muslimin di Mesir dan Timur Tengah.

Tokoh-tokoh di awal pendirian PKS, kata Yusuf, merupakan aktivis Ikhwanul Muslimin di Indonesia. Gerakan ini sendiri awalnya digagas sejumlah mahasiswa Indonesia yang berkuliah di Madinah, Arab Saudi, termasuk Yusuf sendiri dan KH Hilmi Aminuddin.

Ikhwanul Muslimin (bahasa Arab: الاخوان المسلمون al-ikhwān al-muslimūn‎, bahasa Inggris: Muslim Brotherhood) sering hanya disebut (Arab الإخوان Al-Ikhwan) adalah salah satu jamaah dari umat Islam, mengajak dan menuntut ditegakkannya syariat Allah. Organisasi IM ini menyebar diberbagai belahan dunia.

Di Arab Saudi sendiri Ikhwanul Muslimin dilarang.

DEWAN Ulama Senior Kerajaan Arab Saudi menetapkan Ikhwanul Muslimin sebagai kelompok teroris dan tidak mewakili nilai-nilai Islam yang sebenarnya. Dewan tersebut menggambarkan organisasi yang berpusat di Mesir tersebut sebagai kelompok sesat yang merusak hidup berdampingan di dalam negara dan membuat hasutan, kekerasan, dan terorisme. sumber.

Jadi Anda paham kan? Mengapa parrai ini lebih digandrungi oleh kelompok-kelompok semacam FPI, PA 212, HTI, Salafi Wahabi, pendukung Anies dan kelompok lainnya yang berafiliasi. Tidak main-main suara mereka di tingkat nasional pada tahun 2019 meroket.

  • Pada tahun 2014, suara PKS 8.480.204 (6,79%)

  • Pada tahun 2019, suara PKS 11.493.663 (8,21%)

So, becareful ...

Demikian, salam

Mengejutkan Ternyata Bukan Anies, Ini Jago PKS di 2024

Sumber Utama : https://seword.com/politik/mengejutkan-ternyata-bukan-anies-ini-jago-pks-di-NfnNzFgVJL

Kedok Ketua BEM UI Dibongkar Ade Armando, Dalang Ketar Ketir?

Awalnya saya tidak ingin terlalu banyak menulis soal Ketua BEM UI, Leon Alvinda Putra. Toh sudah banyak yang menulis. Kalau kebanyakan malah memberi panggung buat dia. Namun, perkembangan terakhir menunjukkan makin terbongkarnya kedok Leon ini. Terutama afiliasinya. Sehingga lama-lama jadi seperti senjata makan tuan. Seru dong! Oke, dia memang makin terkenal seantero medsos, tapi makin banyak pula rahasia-rahasia yang dibongkar oleh berbagai pihak, terutama oleh para netizen.

Misal yang terakhir ini tersebar cuitan Leon berterima kasih pada Veronica Koman Sumber. Lalu dibongkarnya siapa orang tua angkat Leon di Sukoharjo yang ternyata aktif di partai politik oleh akun legend twit El Diablo. Dengan kata lain, Leon ini ternyata nggak lugu-lugu amat dan dia tahu politik Sumber. Dan banyaknya buzzer kadrun yang dikerahkan membela BEM UI Sumber. Kalau pembaca ingin tahu lebih lanjut silakan saja buka link sumber, cukup menarik dan menohok buat Leon.

Saya kira yang paling relevan untuk bicara soal Leon adalah Ade Armando, karena beliau kan dosen di UI. Sehingga tulisan ini pun fokus ke bagaimana terbongkarnya kedok Leon oleh Ade Armando. Lucunya, yang jadi sumber terbongkarnya kedok Leon adalah orang yang memuji-muji Leon secara terang-terangan di medsos. Hehehe… Niat hati pongah, menyombongkan bahwa Leon ini mahasiswa pintar yang lebih pintar dari Presiden Jokowi dan mahasiswa kuat yang lebih kuat dari Jokowi. Ternyata malah mengungkap kedok Leon. Ini terjadi di Twitter ya. Setelah sadar akan keblunderannya, orang ini kemudian mengunci akunnya agar tidak bisa dilihat semua orang. Saya seperti menyaksikan kroco yang menantang seorang pakar.

Adalah seseorang yang disebut media pikiran-rakyat.com sebagai pakar ekonomi dari INDEF (Institute National Development dan Financial), bernama Dzulfian Syafrian, yang ikut mengomentari soal Leon. Dia mengarahkan komentarnya ke Ade Armando.

“Sedikit Bang Ade tahu kalau Leon ini mentornya buanyak. Minimal para eks-aktivis UI, bil khusus FEB UI dan KAHMI UI ada di belakang Leon. Leon ini simbol yg membangkitkan euforia anak-anak FEUI dan HMI yang sudah lama absen jadi presiden mahasiswa UI,” cuit Dzulfian. Dia menutup cuitan itu dengan pongah, “ Istana salah cari lawan” Sumber. Dalam cuitan satu lagi, Dzulfian membanggakan prestasi akademik Leon, dengan IPK di atas 3,5. Bahkan menanyakan IPK Presiden Jokowi berapa? Sombong kaleee…

Kedua cuitan ini sudah tidak bisa saya baca, karena Dzulfian sudah mengunci akunnya dan cuitan soal IPK sudah dia hapus. Tapi ya percuma, karena sudah ada di media hehehe… Tinggal menyimpan rasa malu saja ya.

Article (sumber: bekasi.pikiran-rakyat.com)

Article 

(keterangan : cuitan sudah tidak bisa dibaca)

Article  

(keterangan : akun sudah dikunci)

Article  

(keterangan : cuitan sudah dihapus)

Article  

(keterangan : bukti cuitan sudah dihapus)

Kehebohan yang ditimbulkan oleh BEM UI di bawah komando Leon ini pun jadi perhatian media televisi. Nampaknya ada beberapa stasiun televisi yang ingin mengangkat isu ini dalam sebuah diskusi, dengan mempertemukan Leon dan Ade Armando. Ternyata, Leon tidak mau berhadapan dengan Ade. “Menurut redaksi dua stasiun televisi yang mengangkat isu keramaian di UI, Ketua BEM UI Leon Alvinda Putra tidak mau muncul sebagai pembicara di acara diskusi yang menghadirkan saya sebagai pembicara. Kata redaksi TV, "Leon sudah diminta hadir, tapi menolak selama ada Bang Ade,” tulis Ade Armando, mengungkap perilaku Leon link twitter.

Aneh ya? Katanya pinter dengan IPK di atas 3,5. Bahkan sampai mau dibandingkan dengan IPK Presiden Jokowi. Kok dipertemukan dengan Ade Armando saja tidak mau? Cemen kah? Akhirnya Ade pun menyampaikan dugaan bahwa Leon ini tidak sehebat meme yang mengkritik Jokowi. "Buat saya penjelasan paling masuk akal adalah karena dia tahu dia sebenarnya tak memiliki argumen cukup kuat untuk membela seri Tweet BEM yang bermasalah itu… Dia mungkin takut itu terbongkar di depan publik,” papar Ade Armando dilansir wow.tribunnews.com.

Ade Armando juga menganalisa agenda tersembunyi di balik Leon, berdasarkan cuitan Dzulfian di atas. Cuitan Dzulfian soal banyaknya mentor yang dimiliki Leon, bagi Ade menjadi semacam peringatan bahwa “Leon bukan tokoh mahasiswa yang independen”. Ade menyebut Leon sebagai bagian dari sebuah kekuatan lebih besar. BEM UI diduga bekerja atas arahan mentor mereka. Salah satu dasar dugaan ini mengacu pada rangkaian meme Jokowi oleh BEM UI yang disebut Ade “tidak bisa dilihat sebagai upaya mengajak publik berdiskusi secara ilmiah”. Oleh sebab itu, kemunculan rangkaian meme yang menyebut Jokowi The King of Lip Service disebut Ade merupakan “bagian dari upaya menghancurkan legitimasi Jokowi”. Sumber Sumber.

Dugaan Ade ini terdengar sangat logis dan wajar. Apalagi melihat siapa-siapa saja yang membonceng Leon dan BEM UI. Seperti Partai Demokrat, PKS, hingga HMI MPO. Yang sudah saya tulis sebelumnya : https://seword.com/politik/gebrak-pakai-senyum-jokowi-rontokkan-kubu-bem-ui-bxsWpEQfYh Lucu ya, mereka bikin masalah, lalu menggorengnya. Berharap Presiden Jokowi terpancing untuk bertindak represif. Agar nanti para mahasiswa ini bisa playing victim, mengklaim terzolimi. Untuk mengundang simpati publik. Tapi baru beberapa hari sudah terbongkar jeroan dan kedoknya. Jadi penasaran, siapa sih dalangnya? Berapa sih IPK dalangnya ini? Ehh hehehe… Bikin strategi kok gampang letoy dan dikuliti netizen.

Sekarang kondisi malah berbalik, senjata makan tuan. Leon jadi bahan bully-an para netizen. Hati-hati terhadap netizen +62. Jeroan sampai yang terdalam pun bisa terbongkar. Itu jadi rekam jejak yang memalukan. Ingat kan apa yang terjadi sama yang kasih kartu kuning ke Presiden Jokowi? Sok berani, tapi begitu difasilitasi buat berkunjung ke Papua, malah nggak mau. Ujung-ujungnya memalukan diri sendiri saja. Tidak ada yang bisa diglorifikasi dari blunder seperti ini. Jangan-jangan dalang pun sudah ketar ketir deg-degan nih!

Kedok Ketua BEM UI Dibongkar Ade Armando, Dalang Ketar Ketir?

Sumber Utama : https://seword.com/politik/kedok-ketua-bem-ui-dibongkar-ade-armando-dalang-nTZarUhEvv

Re-post by MigoBerita / Jum'at/02072021/10.50Wita/Bjm

"ALHAMDULILLAH HUJAN" : Antara Penanganan Covid & Demo Mahasiswa "Yang Sepi Peminat" di Banjarmasin

Migo Berita - Banjarmasin - "CLUSTER DEMO" : Antara Penanganan Covid & Demo Mahasiswa "Yang Sepi Peminat" dan selalu Hujan di Banjarmasin. Siapa yang tidak merasa menjadi Heroik atau Pejuang ketika demo menumbangkan Rezim Soeharto yang menjadi Presiden hingga 32 tahun oleh para mahasiswa saat itu.Namun saat ini, para mahasiswa seperti di "Setir", entah siapa yang menyetir ketika berdemo, ini terbukti di Banjarmasin yang notabene masyarakatnya adem ayem, apalagi dimusim pandemi yang masih belum usai ditengah kekhawatiran peningkatan Kasus Covid 19. Bukankah seharusnya berdemo tentang penanganan Covid 19, berapa anggaran yang sudah digelontorkan pemerintah pusat kepada daerah dan bagaimana optimalisasi pemerintah daerah dalam penyerapan anggaran Covid tersebut? Atau tentang Demo masalah Bansos yang semestinya didata ulang untuk mengetahui lebih detail keberadaan penerima bansos sebenernya di Kalimantan Selatan? Atau tentang Pengajuan PERDA agar usia diatas 50 tahun keatas tanpa dibedakan kaya atau miskin, ketika mereka mengajukan Bansos dan Akses Kesehatan bisa melakunnya GRATIS??? Ide-ide brillian seperti ini seharusnya dicetuskan oleh para pemuda.

Ini artinya bukan tidak peduli atau tidak pernah mengkritik kebijakan pemerintah, namun kritik dengan santun disertai dengan contoh-contoh penyelesaiannya. Kalau memang tentang pegawai KPK yang 50 an orang tidak diterima menjadi ASN, seharusnya mahasiswa bersyukur bahwa ada ribuan pegawai KPK yang diterima menjadi ASN, yang 50 an itu berarti belum beruntung!!! Kalau ternyata ada aturan perundang-undangan yang tidak beres atau bermasalah ajukan gugatan sesuai koridor hukum, bukan aksi jalanan atau demo berjilid-jilid yang hanya menghabiskan anggaran pengamanan yang seandainya dirupiahkan tentu bisa dianggarkan untuk kegiatan lainnya, seperti dalam aksi pengamanan untuk vaksin Covid massal???

Jangan hanya membuat meme Presiden dengan sebutan The King of Lip service , namun ketika diserang netizen NKRI pecinta Pak @jokowi malah bilang pengecut, berani hanya didunia maya.

Saatnya buktikan para Pemuda atau Mahasiswa/i Kalimantan Selatan berdaya guna dengan menciptakan inovasi dalam penanganan Covid 19 yang lebih nyata untuk kepentingan masyarakat banyak dan bukan hanya untuk segelintir orang atau kelompok saja.

Agar tidak gagal paham, baca tuntas kumpulan artikel yang telah kita himpun, Selamat Membaca.

Pembatasan Mobilitas di Kalsel, Pemprov Gerak Cepat Petakan 13 Titik
apahabar.com, BANJARBARU – Markas Besar Polri mengeluarkan instruksi pembatasan dan pengendalian mobilitas. Di Kalimantan Selatan, totalnya ada 13 titik.

Lantas, bagaimana respons Pemprov Kalsel? Kepala Dinas Kesehatan Kalsel, M Muslim menyatakan pihaknya siap mengantisipasi segala kemungkinan yang terjadi.

“Kita selalu siap mengantisipasi semua kemungkinan untuk mencegah dan menangani Covid-19 ini,” ujar Muslim dihubungi apahabar.com, Kamis (1/7).

Di penjuru Indonesia, Mabes Polri memberlakukan pembatasan mobilitas di 316 titik. Mayoritas di antaranya telah memberlakukan, bahkan memperluas cakupannya.

Seperti Polda Metro Jaya. Mereka menambah lokasi pembatasan mobilitas menjadi 35 titik. Sebelumnya, polisi memberlakukan penutupan 10 ruas jalan di Jakarta saja. Sekarang meliputi Jakarta, Bekasi kota dan kabupaten, Depok dan Tangerang.

Pembatasan mobilitas adalah metode yang sudah dilaksanakan di 10 ruas jalan di ibu kota. Di Jakarta, polisi menutup akses keluar masuk jalan kecuali untuk warga setempat, mobil layanan kesehatan atau darurat. Penutupan dilakukan mulai pukul 21.00-04.00.

Sementara untuk pengendalian mobilitas, masyarakat masih bisa melintas, tapi jalan itu akan dikendalikan secara ketat. Umumnya polisi akan memberlakukan patroli bolak-balik menyasar titik rawan kerumunan.

Lantas, bagaimana dengan Kalsel? Muslim mengaku belum tahu teknisnya.

Yang pasti, dari 13 itu, 4 titik di antaranya sudah diketahui. Yakni 2 di perbatasan provinsi Kalsel-Kaltim.

Terkait anggaran yang bakal dikucurkan, Muslim pun masih akan menunggu petunjuk teknisnya dari kementerian.
Disinggung adakah sanksi bagi pelanggar jika nantinya pembatasan mobilitas ini diberlakukan? Muslim menjawab pasti.

“Tentu, setiap aturan yang dilanggar pasti ada konsekuensinya,” ujarnya lagi.

Lantas jika benar diterapkan, sampai kapan pembatasan tersebut dilakukan?

“Sesuai ketentuan aturan PPKM yang nanti dikeluarkan pusat, kami menyesuaikan,” pungkasnya.

Diwartakan sebelumnya, Polda Kalsel merasa perlu keterlibatan banyak pihak untuk menerapkan pembatasan mobilitas.

“Kalau Polda selalu siap, tapi enggak bisa berdiri sendiri,” ujar Karo Ops Polda Kalsel, Kombes Pol Moch Noor Subchan kepada apahabar.com, Rabu malam/

Lantas di mana saja titik pembatasan mobilitas?

Subchan mengatakan pihaknya masih perlu koordinasi.

“Perbatasan provinsi prinsipnya ada empat titik. Kalsel – Kalteng dua titik dan Kalsel Kaltim dua titik, apalagi di sana sedang tinggi,” ujar Subchan, Rabu (30/6).

Subchan bilang untuk sembilan titik lainya masih belum ditentukan. Pasalnya, perlu pertimbangan dan pemantauan situasi di masing-masing wilayah.

“Sementara yang sembilan belum. Melihat dari situasi Covid di masing-masing kota dan kabupaten. Menunggu perkembangan dan harus rapat koordinasi dulu,” imbuhnya.

Pun, waktu pelaksanaan masih belum ditentukan. Perlu koordinasi dengan semua pihak pemangku kepentingan.

Sedikit bocoran, bahwa untuk pembatasan dan pengendalian mobilitas itu tak jauh beda dengan pembatasan saat penyekatan Lebaran Idul Fitri lalu.

Di mana saat penyekatan saat lebaran lalu, pembatasan mobilitas dilakukan dengan syarat-syarat. Di antaranya harus mengantongi surat izin keluar masuk, hingga surat bebas Covid-19.

“Teknis persis seperti pembatasan waktu lebaran,” pungkasnya.

Pembatasan Mobilitas di Kalsel, Pemprov Gerak Cepat Petakan 13 Titik

Sumber Utama : https://apahabar.com/2021/07/pembatasan-mobilitas-di-kalsel-pemprov-gerak-cepat-petakan-13-titik/2/

Kronologi Terbakarnya Markas Satreskrim Polresta Banjarmasin

apahabar.com, BANJARMASIN – Kamis dini hari, sejumlah petugas jaga dibuat panik dengan kemunculan si jago merah.

Sejumlah saksi mata melihat api muncul pada bagian atap bangunan di bagian belakang Markas Polresta Banjarmasin.

Tak selang lama, pemadam kebakaran dari penjuru kota Banjarmasin mendatangi lokasi untuk membantu memadamkan api.

Kebakaran baru bisa dipadamkan kurang lebih 40 menit kemudian.

Kapolresta Banjarmasin, Kombes Pol Rachmat Hendrawan bilang untuk sementara api diduga muncul akibat arus pendek listrik.

“Yang terbakar awal di ruang PPA [Perlindungan perempuan dan anak]. Diduga karena korsleting listrik, jadi bukan kelalaian anggota,” jelas Kapolresta Banjarmasin.

Sebagian besar berkas di ruang PPA dan barang elektronik ludes terbakar.

“Kemungkinan 75 persen berkas ikut terbakar,” imbuhnya.

Agar hal serupa tak terjadi lagi, kapolresta berencana melakukan perombakan jaringan listrik Mapolresta.

Kronologi Terbakarnya Markas Satreskrim Polresta Banjarmasin

Selama ini diakuinya jaringan listrik pada beberapa titik lokasi kurang tertata rapi.

Untuk pelayanan sementara pelayanan akan dipindahkan ke bagian depan Mapolresta atau ke ruang baru yang berlokasi di atas ruang tahanan Mapolresta Banjarmasin.

“Pelayanan akan tetap berjalan. Untuk ruangannya bisa di depan atau di ruangan baru di atas ruang tahanan,” pungkasnya.

Sumber Utama : https://apahabar.com/2021/07/kronologi-terbakarnya-markas-satreskrim-polresta-banjarmasin/

Mahasiswa Banjarmasin Berencana Gelar Aksi Susulan #SaveKPK, Minta Ketua DPRD Kalsel Hadir

GELOMBANG perlawanan terhadap dugaan upaya pelemahan Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) belum usai. Pada Kamis (1/7/2021) besok, mahasiswa yang tergabung dalam BEM se-Kalsel bakal kembali gelar aksi #SaveKPK jilid III.

AKSI masih dipusatkan ke Gedung DPRD Provinsi Kalsel. Kendati pada dua aksi sebelumnya, Senin (21/06) dan Kamis (24/06) lalu demonstran selalu tertahan di ruas jalan Lambung Mangkurat Banjarmasin.

Aksi kali ini merupakan buntut dari tak hadirnya Ketua DPRD Kalsel Supian HK di tengah massa pada aksi sebelumnya.

Koordinator Wilayah BEM se-Kalsel, Ahmad Rinaldi berkata pihaknya tetap menuntut DPRD untuk segera mengeluarkan pernyataan sikap, soal pelemahan lembaga antirasuah. Yang ditujukan ke Presiden Joko Widodo.

“Bukan hanya di mulut saja bilang sepakat-sepakat, apalagi cuman ke media,” singgung Ahmad Rinaldi, Rabu (30/6/2021).

Tentunya, mahasiswa di Kalsel menuntut Supian HK menemui mereka saat aksi besok. Mengingat, pada dua aksi sebelumnya politisi asal Partai Golkar itu selalu absen.

“Tentunya kita akan memoblisasi massa sebanyak-banyaknya, sangat mungkin massa lebih banyak dari sebelumnya,” pungkasnya.

Sebelumnya, demonstran meminta DPRD Kalsel membuat surat tuntutan dan desakan yang ditujukan kepada Presiden Joko Widodo.

Isinya; DPRD Kalsel menuntut dan mendesak Presiden Jokowi untuk angkat suara perihal tuntutan mahasiswa sebelumnya. Ini juga wajib dengan bukti dokumentasi video dan rilis tertulis.

Kemudian isi surat tuntutan, DPRD Kalsel menuntut dan mendesak Presiden Jokowi untuk menerima dan menyetujui tuntutan mahasiswa di Banua seperti yang terlampir pada tuntutan sebelumnya.


Sumber Utama : https://jejakrekam.com/2021/06/30/mahasiswa-banjarmasin-berencana-gelar-aksi-susulan-savekpk-minta-supian-hk-hadir/

Save KPK Jilid III, Mahasiswa Kalsel Mulai Banjiri Taman Kamboja

apahabar.com, BANJARMASIN – Massa aksi mulai membanjiri Taman Kamboja, titik kumpul demonstrasi #SaveKPK jilid III di Kota Banjarmasin.

Pantauan apahabar.com di lokasi, sejak pukul 14.00, sejumlah peserta demo mulai memadati taman di Jalan Anang Adenansi itu sejak Kamis (1/7) sekitar pukul 14.00 lewat.

Para peserta tampak datang secara perorangan serta berkelompok dari berbagai macam latar kampus.

Mereka mengenakan almameter kebanggaan kampus, lengkap beserta bendera.

Usai itu, mereka melakukan long march atau jalan jauh ke Kantor DPRD Kalsel, Jalan Lambung Mangkurat.

Di sisi lain, para aparat kepolisian tampak berjaga menunggu kedatangan peserta aksi. Mulai dari mobil hingga ratusan personel dikerahkan untuk mengantisipasi hal yang tidak diinginkan.

Arus lalu lintas di Jalan Lambung Mangkurat pun dialihkan untuk sementara waktu karena akan ada massa aksi yang memenuhi jalan.

Koordinator Wilayah BEM se-Kalsel, Ahmad Rinaldi berkata pihaknya tetap menuntut DPRD untuk segera mengeluarkan pernyataan sikap, soal pelemahan lembaga antirasuah. Yang ditujukan ke Presiden Joko Widodo.

“Bukan hanya di mulut saja bilang sepakat-sepakat, apalagi cuman ke media,” singgung Ahmad Rinaldi.

Tentunya, mahasiswa di Kalsel menuntut Supian HK menemui mereka saat aksi besok. Mengingat, pada dua aksi sebelumnya politisi asal Partai Golkar itu selalu absen.

Buntut absennya Supian HK pada aksi #SaveKPK jilid II berakibat bentrokan antara demonstran dengan aparat kepolisian. Bahkan sampai menimbulkan korban luka dari kedua kubu.

“Tentunya kita akan memobilisasi massa sebanyak-banyaknya, sangat mungkin massa lebih banyak dari sebelumnya,” pungkasnya.

Sebelumnya, demonstran meminta DPRD Kalsel membuat surat tuntutan dan desakan yang ditujukan kepada Presiden Joko Widodo.

Isinya; DPRD Kalsel menuntut dan mendesak Presiden Jokowi untuk angkat suara perihal tuntutan mahasiswa sebelumnya. Ini juga wajib dengan bukti dokumentasi video dan rilis tertulis.

Kemudian isi surat tuntutan, DPRD Kalsel menuntut dan mendesak Presiden Jokowi untuk menerima dan menyetujui tuntutan mahasiswa di Banua seperti yang terlampir pada tuntutan sebelumnya.

Save KPK Jilid III, Mahasiswa Kalsel Mulai Banjiri Taman Kamboja

Sumber Utama : https://apahabar.com/2021/07/save-kpk-jilid-iii-mahasiswa-kalsel-mulai-banjiri-taman-kamboja/

Ketua DPRD Kalsel Kekeh Tak Mau Temui Aksi #SaveKPK Jilid III

apahabar.com, BANJARMASIN – Ketua DPRD Kalsel, H Supian HK tak mau menemui peserta aksi demo mahasiswa #SaveKPK Jilid III.

Hal itu dia ungkapkan setelah rapat Badan Anggaran (Banggar) DPRD Kalsel dengan SKPD Pemprov Kalsel, Kamis (1/7).

“Kalau menyampaikan hal yang sama, (sebelumnya) sudah kita sampaikan. Kalau mereka hanya ingin ketemu ketua, ketua ini kan bukan hanya satu tujuan tapi ada bidangnya masing-masing,” kata Supian.

Ia mengatakan sebelumnya dewan sudah pernah menerima aspirasi yang sama. Aspirasi itu langsung dikirim ke Sekretariat Presiden oleh tiga anggota DPRD Kalsel.

Bahkan kata Supian, dia sudah pernah menyempatkan berdialog dengan mahasiswa melalui aplikasi.

Di sana, dia menyampaikan jika setiap anggota dewan punya bidang masing-masing untuk menyerap aspirasi masyarakat.

Ketua DPRD Kalsel Kekeh Tak Mau Temui Aksi #SaveKPK Jilid III

Sumber Utama : https://apahabar.com/2021/07/ketua-dprd-kalsel-kekeh-tak-mau-temui-aksi-savekpk-jilid-iii/

Kunjungi juga Fokus Penanganan Covid atau Ladeni "Mahasiswa" !!??!!

Juga klik link Siapa sebenarnya The King of Lips service, BEM or Mr.President ?!?

Kala Bangsa Butuh Generasi Pekerja Keras? BEM UI Malah Buat Kegaduhan

Sungguh sebuah kegagalan jikalau bangsa ini hanya menghasilkan sejumlah mahasiswa yang tidak punya etika dan moral dan malah ditunggangi oleh para bohir haus kekuasaan untuk mengganggu konsentrasi Presiden Jokowi dalam upaya membangun negeri ini plus meredam keganasan pandemi global covid-19.

Entah apa dasar kuatnya? Tiba-tiba seorang anak kemarin sore, masih bau kencur dan masih status mahasiswa UI mengatas namakan BEM-UI memposting di media sosial dengan akun @bemui_official dengan kata-kata seperti ini :

“JOKOWI: THE KING OF LIP SERVICE. Halo, UI dan Indonesia! Jokowi kerap kali mengobral janji manisnya, tetapi realitanya sering kali juga tak selaras. Katanya begini, faktanya begitu. Mulai dari rindu didemo, revisi UU ITE, penguatan KPK, dan rentetan janji lainnya. Semua mengindikasikan bahwa perkataan yang dilontarkan tidak lebih dari sekadar bentuk "lip service" semata. Berhenti membual, rakyat sudah mual!”.

Secara pribadi saya tidak simpatik dengan postingan ini dan terkesan dipaksakan serta ditunggangi oleh pihak-pihak tertentu untuk menyerang konsentrasi Presiden Jokowi. Apakah memang benar-benar buta si pemilik akun @bemui_official ini?

Ternyata dari hasil pencarian saya di Linkedin, Leon Alvinda Putra merupakan salah satu mahasiswa Manajemen di Fakultas Ekonomi dan Bisnis (FEB) Univeritas Indonesia. Leon tercatat sebagai mahasiswa angkatan 2017 di FEB UI. Dia juga aktif dalam berorganisasi, baik di kampus maupun di luar kampus.

Dalam hati saya berkata oh pantasan, anak ekonomi. Dan jujur, saya tidak respek samasekali dengan ini anak. Saya teringat ketika di era saya, menjadi mahasiswa itu juga harus mampu menjadi seorang pekerja yang bisa menghasilkan uang saku alias uang tambahan agar jatah dari kampung cukup untuk digunakan selama kuliah, namun bukan menjadi seorang pecundang sejati dengan menerima orderan dari bohir-bohir yang tidak suka dengan kebijakan Presiden Jokowi.

Memang lain dulu lain sekarang, dulu mahasiswa berjuang murni untuk membela hak-hak rakyat kecil yang memang dilindas oleh penguasa. Sebut saja di era Soeharto yang banyak melakukan pelanggaran HAM dan mengekang hak-hak kita sebagai warga negara.

Ataupun di era SBY yang banyak mengobral janji dan banyak melakukan korupsi nyata, diantaranya yang sampai sekarang tidak jelas juntrungannya adalah korupsi hambalang dan wisma atlet, plus proyek-proyek lainnya yang menjadi tanggung jawab Presiden Jokowi dan merampungkannya selama hampir dua periode.

Mata batin dan kedua bola matanya si bem-ui ini memang sudah buta, dibutakan oleh sejumlah uang ataupun bayaran untuk membuat unggahan Presiden Joko Widodo the king of lip service tanpa melihat kebenaran dari unggahan-unggahannya tersebut. Si Leon Alvinda Putra ini saya lihat adalah tipe manusia yang ngomong dulu baru dipikir, bukan berpikir dulu baru ngomong.

Jika anda memang posisinya tidak diperalat? Coba bandingkan dengan baik dan matang, pikirkan dengan baik, renungkan, era mana yang lebih enak? SBY atau Pemerintahan Pak Jokowi?

Serangan anda tidak berdasar, substansi yang anda kritik juga nga ada yang benar. Seharusnya anda mengkritik itu kinerjanya, bukan kata-kata Presiden Jokowi. Lihatlah bagaimana kinerja beliau dalam mengelola negeri ini, tapi anda hanya mengkritik demo dan demo.

Tampak kali anda memang doyan demo. Mahasiswa itu apakah hanya pengen demo dan demo saja? Lagian yang anda demo itu undang-undang cipta kerja, apa hubungannya? Apakah anda merasakan dampak dari undang-undang tersebut? Secara anda masih mahasiswa, masih berburu ilmu, bukan pekerja atau buruh bukan?

Bicara tentang undang-undang ITE, anda tau nga undang-undang itu disahkan di era siapa? SBY, adalah presiden yang mengesahkan undang-undang tersebut dan dibuat untuk mengatur lalu lintas Teknologi Informasi dan Komunikasi yang semakin berkembang pesat di Indonesia plus untuk mengatur jalannya perdagangan elektronik alias e-commerce.

Pastinya undang-undang itu harus direvisi sesuai dengan perkembangan zaman, jadi tidak salah ketika Presiden Jokowi membuka wacana untuk merevisi kembali regulasi tersebut. Presiden Jokowi menangkap kegelisahan publik yang menilai UU ITE tak memberikan rasa keadilan, sehingga perlu dibahas kembali dengan DPR.

Jadi sekali lagi anda off-side atau salah besar ketika hanya menyalahkan Presiden Jokowi seorang ketika ada revisi Undang-Undang ITE yang tentunya lebih membuka rasa keadilan dengan menghilangkan pasal-pasal tak berguna atau menambah pasal-pasal yang dapat mengatur dan memberikan rasa keadilan.

Yang salah anda sendiri, kebanyakan membaca berita hoaks daripada mencari kebenaran dari revisi undang-undang ITE atau bahkan undang-undang cipta kerja yang anda baca itu banyakan hoaks kali yah?

Begitu juga dengan poin 3, darimana pulak itu anda baca Presiden Jokowi meminta MK menolak seluruh gugatan tentang UU Cipta Kerja? Saya sarankan anda baca bagus-bagus dulu baru anda bicara atau buat status di media sosial.

Poin 4 juga seperti itu, terungkap sekarang bobroknya KPK, bagaimana talibannya sarang anti rasuah itu, plus anda harus banyak-banyak mendengar penjelasan dari Fariz Hamzah tuh untuk menambah wawasan anda dengan masalah yang terjadi di tubuh KPK, sehingga anda mengerti kenapa KPK harus diperkuat dengan revisi Undang-Undangnya yang intinya untuk menguatkan bukan untuk melemahkan.

Si ketua bem-ui ini nampak masih bau kencur tapi mau diperalat oleh orang yang sudah banyak makan asam garam....

Terserah kaulah bem-ui..

Namun saya paling salut dengan apa tanggapan Presiden Joko Widodo atau Jokowi yang menanggapi kritikan Badan Eksekutif Mahasiswa Universitas Indonesia (BEM UI) yang menyebut dirinya sebagai ‘King of Lip Service’.

Seperti biasa, Ia santai menanggapai semua kritikan yang datang kepadanya. Walau dia Kepala Negara, Presiden Jokowi tidak marah, apalagi sampai mukul-mukul meja. Tidak ada raut kemarahan, malah dengan santai dia mengatakan bahwa perbuatan tersebut diperbolehkan karena merupakan bentuk ekspresi.

“Saya kira ini bentuk ekspresi mahasiswa dan ini negara demokrasi ya boleh-boleh saja, dan universitas tidak perlu menghalangi mahasiswa untuk berekspresi,” kata Presiden Jokowi di Istana Negara dikutip kanal YouTube Sekretariat Presiden, Selasa (29/6/2021).

Ya, sudah anggap aja dia lagi cari mainan dan belajar mengekspresikan diri, walau saya pribadi tidak terima? Namun membaca apa yang Presiden Jokowi bilang dan lakukan? Maka, kita anggap aja memang dia lagi belajar, tapi jangan sampai keblabasan bukan?

Maju terus Pak Jokowi...

Kala Bangsa Butuh Generasi Pekerja Keras? BEM UI Malah Buat Kegaduhan

Sumber Utama : https://seword.com/umum/kala-bangsa-butuh-generasi-pekerja-keras-bem-ui-wVkWE9HNv8

Setelah Perjuangan 1998, Susah Percaya dengan Kemurnian Aksi Mahasiswa di Negeri Ini

Selepas masa perjuangan para mahasiswa 1998, dimana kakak saya ikut menjadi saksi sekaligus pelaku sejarah bersama barisan mahasiswa di Yogyakarta dengan tujuan "mengakhiri" kekuasaan Presiden Soeharto dengan Orde Barunya, yang akhirnya berhasil saat Presiden Soeharto mengundurkan diri ... saya sukar percaya ada gerakan mahasiwa yang murni berjuang demi kepentingan dan kebaikan negeri ini.

Kalau pada era tersebut ... yes ... para mahasiswa ini punya kekuatan kelompok dan nyali besar buat berjuang dengan segala risikonya, agar misi mereka berhasil. Tahu sendiri seperti apa kondisi pada masa itu, dimana sikap kritis kepada pemerintah dan segala kebijakannya bisa berbalik mendatangkan petaka.

Belum lagi jika dinilai membahayakan atau memberontak, lewat cara yang paling halus sekalipun, bisa-bisa besoknya hilang tanpa jejak, atau kalaupun pulang hanya tinggal nama.

Pada masa itu, pemerintahan Soeharto bahkan tak segan melenyapkan nyawa kawanan preman atau manusia-manusia yang dianggap tidak berguna dan hanya bikin masalah di masyarakat lewat penembak misterius ... meski saya tidak suka sebutannya: Petrus!


Sejak masa itu berlalu, dengan Orde Reformasi yang rasanya juga masih belum menampakkan hasil signifikan sampai pemerintahan SBY ... setiap kali ada gerakan mahasiswa, apa pun sebutan atau namanya, saya tidak melihat ada tujuan mulia di balik setiap aksi mereka.

Aksi "Gejayan Memanggil" sekalipun, yang kuat dugaan ingin mendompleng keberhasilan masa lalu dimana jalan ini menjadi saksi bisu perjuangan mahasiswa pada 1998 ... kini tak ubahnya hanya aksi politis, dengan cara-cara yang terkadang (atau malah sering?) kurang elegan, juga tujuan yang tidak jelas.

Aksi massa yang digelar belakangan ini tak ubahnya seperti upaya untuk membuat masyarakat marah, lalu ujungnya menyalahkan pemerintahan, dan menuntut Jokowi mundur sebagai Presiden RI.


Substansi kritikan yang tidak jelas, berbeda dengan yang diharapkan sebagai kalangan akademisi atau bisa dibilang "mbahnya para siswa" karena ada kata "maha" yang disematkan itulah yang kerap bikin geram, eneg, atau mau muntah!

Tak heran jika lantas para pegiat media sosial bersuara keras mengecam, mem-bully, dan melawan aksi-aksi mahasiswa semacam itu. Kalau di Yogyakarta bahkan sempat ada perlawanan dari warga kampung karena sudah jengah bin eneg dengan aksi massa yang digerakkan oleh para mahasiswa.

Duo Ade Armando dan Denny Siregar pun sudah "keluar sarang" untuk mengritisi aksi cuitan di media sosial yang lantas berlanjut dengan perdebatan yang disiarkan lewat kanal YouTube.

Apakah lantas debat itu berlangsung seimbang, dengan beradu substansi masalah dan mencari pemecahan masalah alias solusinya?

Hahahaha .. Hahahaha ... Hahahaha ...

Izinkan saya tertawa dulu, karena memang lucu saat melihat bantahan dari "perwakilan mahasiswa" yang tak terlihat ada isinya sama sekali. Coba cek saja kilasan debatnya di unggahan Facebook Ade Armando.

Munculnya meme yang tidak menghargai Presiden Jokowi saja, tak usah lihat isi kritikan dan penjelasannya, sudah lebih dari cukup bagi saya untuk berkata: "Pretlah sama kritikan mereka. Nggak ada isinya, kayak orang miskin literasi dan kemampuan memahami masalah yang sangat dangkal!"

Jangan lantas suruh saya percaya dengan model perjuangan semacam itu, karena isinya hanya sentimen dan ingin membuat citra pemerintahan serta Presiden Jokowi menjadi buruk.

Mereka pun seharusnya paham bahwa aksi mereka takkan mampu menurunkan Jokowi, apalagi mengharapkan RI-1 meniru jejak Soeharto pada masa lalu, dengan pidato "Ora dadi Presiden, ora patheken" yang terkenal itu.

Melihat aksi mereka yang dadakan dan terbilang cukup sistematis, dengan bukti aliansi mahasiswa yang mengatasnamakan dirinya dari UGM ... rasanya mustahil kalau tidak ada aktor intelektualnya.

Dugaan adanya para bohir yang dengan liciknya memanfaatkan ketidakpintaran sebagian oknum mahasiswa ini juga tidak bisa dielakkan.

Cuma pertanyaannya, ke mana para mahasiswa lain, para akademisi, dosen, dekan, hingga rektor yang menjadi tempat bernaung adek-adek mahasiswa itu? Mengapa kalian seolah tidak ada yang bersuar megecam setiap kali ada aksi semacam ini?


Oalah Gustiiii ... kok begini amat kualitas sebagian SDM muda kami, yang diharapkan menjadi generasi penerus bangsa ini ke depan.

Kalau menghargai pemimpin negara saja tidak mampu, juga ketika ada masalah malah bikin keributan yang tidak jelas begini ... pretlah kalau suatu saat nama kalian mendadak nampang di jalan-jalan untuk berkampanye sebagai calon anggota legislatif, lalu masyarakat disuruh percaya dan memilih kalian ...?

Setelah Perjuangan 1998, Susah Percaya dengan Kemurnian Aksi Mahasiswa di Negeri Ini

Sumber Utama : https://seword.com/politik/setelah-perjuangan-1998-susah-percaya-dengan-nplqvYLrsE

Mantab! Sri Mulyani Bakal Kenakan Pajak Karbon 2022 Nanti, Begini Penjelasannya!

Pajak karbon yang sebentar lagi digagas Sri Mulyani bukanlah sembarang pajak. Justru inilah bentuk tanggung jawab kita bersama dalam menjaga keseimbangan alam. Karena selain pandemi corona, isu perubahan iklim yang memberi dampak mengerikan di masa depan perlu dicermati. Sejak 2014 silam, pemerintah telah koar-kaor bakal mengenakan tarif 10 persen terhadap emisi karbon yang dikeluarkan. Namun, hingga saat ini belum berani merealisasikan. Memang bukan salah kebijakannya, tapi cara mengkomunikasikan juga penting agar tak diplintir sebagai hoaks atau jadi bulan-bulanan oposisi.

Menurut saya pribadi, Indonesia bisa meniru China atau India yang mulai pajak dari angka 3 dollar per ton karbon dioksida. Angka ini mungkin terlihat kecil, tapi menjadi landasan di suatu hari untuk mengenakan pajak dengan angka yang pas. Pemerintah juga harus mempelajari teknis komunikasi penerapan pajak agar jangan sampai mentah di tengah jalan. Sebagai contoh negara Perancis dan Australia di awal penerapan pajak ini butuh tiga tahun hingga diterima masyarakat. Ini karena mereka tak memperhatikan komunikasi pajak ke masyarakat. Akibatnya demo besar di Perancis membuat kebijakan ini tersendat. Sama halnya di Australia yang oleh pihak oposisi dibelokkan sebagai pajak untuk semua barang.

Semoga artikel ini bisa sampai ke pemerintah agar lebih berhati-hati dalam mengkomunikasikan ke masyarakat. Bahkan kalau perlu ke media masintream yang belakangan memberi judul mengerikan seolah-olah pemerintah mengenai pajak kartu perdana, pulsa hingga sembako. Padahal sasaran pemerintah jauh dari yang diberitakan. Tapi, karena medianya menulis judul provokatif, tak pelak jadi isu yang menyambar kementrian keuangan sendiri. Belajar dari sejarah, harusnya ada strategi komunikasi beberapa langkah ke depan. Bisa dengan melakukan survei lapangan, melibatkan media pro pemerintah atau melibatkan para praktisi, akademisi, pengusaha dan masyarakat luas. Kita optimis Indonesia bisa menjadi negara yang berkontribusi untuk solusi perubahan iklim global.

Sebelumnya seperti dilansir dari kompas.com, Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati berencana menerapkan pajak karbon pada tahun 2022.

Pajak karbon menjadi salah satu rencana yang tertuang dalam Revisi UU Ketentuan Umum dan Tata Cara Perpajakan (RUU KUP) yang dibahas bersama DPR.

Bendahara negara ini mengungkapkan, tarif pajak karbon masih didiskusikan hingga ke ranah internasional.

Sri Mulyani bersama koalisi Menteri Keuangan dari berbagai negara masih mendiskusikan praktek penerapan harga yang lebih seragam.

"Ini sebagai salah satu pembahasan kami, pimpinan dari koalisi Menteri Keuangan untuk perubahan iklim, bersama Finlandia membahas mengenai bagaimana praktek dari penerapan harga karbon yang lebih seragam sehingga menimbulkan kepastian," kata Sri Mulyani dalam Rapat Kerja bersama Komisi XI DPR RI, Senin (29/6/2021).

Memang, tarif pajak karbon di dunia saat ini sangat tidak seragam karena berada pada rentang yang lebih luas.

Di Jepang, pajak karbon dikenakan sebesar 3 dollar AS/ton CO2e. Sedangkan di Perancis tarifnya mencapai 49 dollar AS/ton CO2e.

Sementara di Spanyol, tarif pajak karbon yang dikenakan mencapai 17,48 dollar AS/ton CO2e untuk semua sektor emisi gas rumah kaca (GRK) dari gas HFCs, PFCs, dan SF6.

Di Kolombia, tarifnya sebesar 4,45 dollar AS/ton CO2e untuk semua sektor.

"Menurut hitungan para ahli perubahan iklim, harga dari CO2 itu seharusnya mencapai 120 dollar AS per ton pada tahun 2030, ini sebagai salah satu pembahasan kami," beber Sri Mulyani.

Sri Mulyani menyebut, penerapan pajak karbon di Indonesia menjadi sangat krusial lantaran merupakan negara kepulauan yang rentan terhadap perubahan iklim.

Perubahan iklim ini mengakibatkan kenaikan air laut dan mengancam penenggelaman pulau.

Di sisi lain, belanja negara untuk mengurangi GRK sangat mahal. Kebutuhan pembiayaan mitigasi perubahan iklim rata-rata memerlukan dana hingga Rp 266,2 triliun per tahun, sesuai Second Biennial Update Report.

Sedangkan selama 5 tahun terakhir pada periode 2016-2019, rata-rata alokasi anggaran perubahan iklim di APBN mencapai 4,1 persen per tahun.

APBN berkontribusi sekitar 32,6 persen per tahun dari total kebutuhan biaya mitigasi, dengan realisasinya rata-rata mencapai Rp 86,7 triliun.

"Maka dalam hal ini Indonesia perlu meningkatkan kemampuan membiayai perubahan iklim baik mitigasi dan adaptasi melalui sumber yang berasal dari salah satu penyebab perubahan iklim, yaitu karbon," jelas Sri Mulyani.

Indonesia mengikuti perjanjian internasional dengan komitmen menurunkan 26 persen emisi GRK pada tahun 2020, dan 29 persen pada tahun 2030.

Bahkan angkanya bisa lebih tinggi bila mendapat dukungan internasional.

"Oleh karena itu, saat ini kita belum memiliki landasan regulasi pengenaan pungutan atas emisi karbon sebagai salah satu instrumen mengurangi GRK, sehingga dalam hal ini pengenaan pajak karbon jadi penting," pungkas Sri Mulyani.

Harga yang dibayar untuk mitigasi pengurangan karbon menurut berita tersebut memang mahal. Tapi, menurut penelitian dalam jangka panjang justru lebih menguntungkan ketimbang uang yang dikeluarkan untuk menangani kerusakan alam atau subsidi kesehatan akibat perubahan iklim. Bahkan di Indonesia diprediksi dari 1,3 juta lapangan kerja yang hilang di sektor perminyakan akan tergantikan dengan 3,5 pekerjaan baru di sektor energi terbarukan. Sekali lagi kuncinya adalah strategi komunikasi kita. Kita doakan periode kedua Jokowi tak hanya menang melawan musuh negara dan para pro khalifah, tapi menang melawan ketertinggalan dibidang ilmu pengetahuan dan energi untuk masa depan.

Mantab! Sri Mulyani Bakal Kenakan Pajak Karbon 2022 Nanti, Begini Penjelasannya!

Sumber Utama : https://seword.com/politik/mantab-sri-mulyani-bakal-kenakan-pajak-karbon-rLfSfi1bbJ

Nyali Tipis, Sok Ajak Revolusi, Giliran Dibalas Balik Langsung Teriak HAM dan Otoriter

Gosok terus. Makin digosok makin panas, mungkin bakal berasap, lalu terbakar. Inilah yang sedang diupayakan oleh beberapa kelompok. Mungkin ini adalah orkestrasi rencana baru untuk membuat keributan. Sejak Jokowi menjabat, tak terhitung lagi banyaknya isu (baik isu spontan maupun isu sinting) yang dimainkan agar masyarakat terpancing dan ikut berkontribusi dalam keributan. Tapi sampai sekarang, mereka selalu gagal.

BEM UI adalah pemicunya. Tidak lama kemudian, muncul isu peretasan WA dan akun sosial media sejumlah pengurus BEM UI.

Kemudian seolah ingin membesarkan isu ini, muncul seruan untuk mengusut peretasan tersebut. Ini datang dari partai prihatin, yang meminta DPR gunakan hak interpelasi kepada pemerintah.

Kemudian digosok lagi oleh Himpunan Mahasiswa Islam (HMI) yang juga tidak mau ketinggalan cari panggung. Mereka menyuarakan seruan kepada masyarakat Indonesia untuk melakukan revolusi dan membentuk pemerintahan sementara. Seruan tersebut sudah viral di media sosial.

“HMI bersama rakyat memanggil revolusi Indonesia 2021. Jokowi harus turun. Rakyat berdaulat bentuk pemerintahan sementara. Selamatkan demokrasi Indonesia untuk Indonesia menang,” demikian bunyi tulisan dalam poster itu. Seruan revolusi itu untuk menyelamatkan NKRI dari penjajahan oligarki politik konglomerasi asing dan aseng demi kesejahteraan rakyat Indonesia.

Sebelum itu, ada info menarik. Ketua Umum PB HMI MPO mendukung sikap BEM UI yang menyebut Presiden Jokowi The King Of Lip Service. Jadi bisa disimpulkan, satu kelompok.

“Soal label Jokowi sebagai King of Lips Service saya kira itu bisa dibenarkan dengan melihat dan merasakan banyaknya janji-janji politik Jokowi yang sampai saat belum mampu direalisasikan oleh Jokowi, padahal saat ini adalah periode ke dua Jokowi menjadi presiden RI,” katanya.

Mereka diketahui juga mengkritik sikap rektorat UI dan pihak yang mencemooh BEM UI. "Sebagai Ketua Umum PB HMI MPO, tentunya saya sangat mengapresiasi dan mendukung penuh sikap kritis yang diperlihatkan oleh BEM UI khususnya saudara Ketua BEM UI. Sebagai sesama kader HMI, saya merasa sangat bangga dengan Ketua BEM UI, saudara Leon Alvinda Putra," katanya.

Info tambahan: Ketua BEM UI, Leon Alvinda Putra adalah kader HMI Dipo. Mungkin karena sebagai sesama kader HMI, dia mendukung Leon, meskipun beda organisasi.

Di media sosial juga sudah ribut-ribut soal isu HMI adalah binaan partai sebelah. Saya tak bisa sebut itu, karena ada orang yang menuding begitu, langsung orangnya ngamuk dan meminta aparat menindak tegas orang menyebarkan tudingan tersebut.

Hahaha, lucu sekali yah. HMI dengan seenak jidatnya teriak revolusi. Revolusi ini, adalah sikap serius yang harusnya ditindak tegas karena ini menyangkut kedaulatan negara. Di negara lain, orang ini teriak revolusi, besoknya entah jadi apa (tergantung tipe negaranya). Di sini mulut ugal-ugalan menebar narasi basi, lalu berlindung di balik tameng kebebasan berpendapat, dan ketika terjepit malah berlindung di balik HAM, lalu menuding rezim otoriter pembungkam kebebasan berpendapat. Pengecut memanglah pengecut.

Mereka sendiri yang memulai teriak revolusi, bahkan teriak bentuk pemerintahan sementara. Tapi begitu dituding sedikit saja, langsung kebakaran jenggot dan merengek pada aparat. Model gini tidak layak teriak ajak revolusi. Palingan mereka cuma sembunyi di belakang dan yang di depan (yang cukup bodoh untuk dikibuli) jadi korban. Kok jadi mirip banget kayak mental dan nyali imam besar itu?

Tahu apa ciri orang yang niatnya bikin gaduh? Di saat negara lagi berjuang mengatasi sebuah masalah, mereka bikin masalah baru. Pemerintah sedang memadamkan kebakaran di satu titik, mereka membuat kebakaran di titik lain. Negara sedang sibuk atasi Covid-19, mereka teriak revolusi, mau lengserkan presiden. Ini sudahlah tidak membantu, malah bikin keributan.

Tak usah jual lagu lama kalian yang sudah basi. Mau dikemas pakai album terbaru pun, isinya sama. Rakyat sudah cerdas, takkan mau lagi dibodohi kalian. Mau turunkan presiden yang terpilih secara sah? Ini hal yang sangat serius, dan kalau nanti ditindak serius, please jangan sampai nangis mirip bocil jatuh ke selokan.

Kalian tidak ada bedanya dengan tukang demo yang berlindung di balik tameng agama. Bedanya cuma satu, kalian berlindung di balik hak berpendapat. Dua-duanya kebablasan. Kalau kebablasan, wajib disikat, kan?

Nyali Tipis, Sok Ajak Revolusi, Giliran Dibalas Balik Langsung Teriak HAM dan Otoriter

Sumber Utama : https://seword.com/politik/nyali-tipis-sok-ajak-revolusi-giliran-dibalas-fGzm809EFi

Memalukan! Anies Minta-Minta Ember-Sapu-Pel Ke Dubes Asing?

Sebelumnya saya sudah menulis tentang terbukanya “aib” Gubernur Anies gara-gara anak buahnya membuat postingan di akun medsos resmi Pemprov DKI Jakarta. Bagi kita sih aib namanya. Entah bagi Anies ya. Apakah itu juga dia anggap sebagai panggung politik? Bisa jadi. Ini tentang permintaan peralatan buat memenuhi Rusun Nagrak di Cilincing, Jakarta Utara, yang sekarang jadi tempat tambahan isolasi pasien Covid. Ini sesuai dengan Keputusan Gubernur (Kepgub) Anies Nomor Nomor 675 tahun 2021 tentang Perubahan Atas Kepgub Nomor 979 tahun 2020 tentang Lokasi Terkendali Milik Pemprov DKI Dalam Penanganan Covid-19.

Kepgub itu sendiri sudah ditandatangani Anies sejak tanggal 31 Mei 2021. Dan sudah sempat ditagih oleh pihak Kapolri tanggal 21 Juni 2021, artinya belum dikerjakan dong? Sumber Sumber Dan postingan di akun medsos Pemprov DKI itu dibuat pada sekitar tanggal 24 Juni 2021 link instagram.

Dari timeline saja sudah jadi aib ya. Karena kita jadi menyaksikan betapa leletnya Anies bekerja. Sampai-sampai sempat ditagih sama Kapolri. Itu pun tidak juga diselesaikan. Karena postingan anak buahnya di akun medsos itu isinya meminta bantuan warga masyarakat untuk ikut melengkapi peralatan di Rusun Nagrak.

“Pemprov DKI Jakarta membuka kesempatan berkolaborasi bagi pihak-pihak yang ingin membantu untuk beberapa kebutuhan logistik dasar untuk kamar isolasi dan sarana poliklinik”. Disertai rincian peralatan yang diperlukan, antara lain : 5.000 set tempat tidur, 5.000 buah gayung, 5.000 buah ember ukuran sedang, 5.000 buah kipas angin berdiri, 5.000 buah meja kecil lipat, 5.000 buah kursi lipat, 5.000 buah larutan disinfektan 5L, 5.000 buah kanebo, 5.000 buah sapu lantai, 5.000 buah alat pel lantai, 5.000 buah jemuran handuk, 500 unit dispenser, 520 unit tempat sampah 20 L dengan tutup, 2 unit freezer box, 8 unit komputer, 5 unit printer dan 2 unit laptop Sumber. Postingan ini diberi judul besar “Jakarta Memanggil”. Mirip dengan panggilan demo yang pernah terjadi beberapa waktu lalu kan? Kayaknya yang bikin ngadrun ini…

Permintaan peralatan ini tentunya sangat blunder dan memalukan. Sementara Anies buang-buang duit rakyat lewat Formula E, dan berbagai pendirian patung serta tugu. Terus pake ngecat-ngecat atap dan juga sempat-sempatnya menghabiskan sekitar Rp 30 miliar membuat jalur sepeda permanen yang hanya difungsikan dalam beberapa jam sehari. Itu pun yang menikmati tidak 100 persen semua warga kan? Lah ini sekarang kok minta-minta peralatan, macam ember dan gayung. Duhh, kita yang melihat saja malu. Ternyata aib memalukan ini tidak berhenti terbongkar di sana saja.

Pagi ini ada teman yang membagikan sebuah surat lewat grup WA. Surat itu berkop Pemprov DKI Jakarta, bagian Sekretariat Daerah (Sekda), di bawah Biro Kerja Sama Daerah, tertanggal 28 Juni 2021. Surat itu berbahasa Inggris dan ditandatangani oleh Andhika Permata. Dilansir wartakota.tribunnews.com, Andhika Permata adalah Kepala Biro Kerja Sama Daerah (KSD) Sekda DKI, yang dilantik Anies pada bulan Agustus 2020 silam Sumber. Berarti nama pejabatnya sudah benar ya. Nah sekarang isinya.

Isi surat ini sama persis dengan permintaan Pemprov di akun medsosnya. Yakni meminta (baca : minta-minta) peralatan untuk melengkapi Rusun Nagrak Cilincing sebagai tempat isolasi pasien Covid. Bahkan ada tambahannya, katanya untuk melengkapi rumah sakit umum di Jakarta. Antara lain yang diminta adalah 20 tenda serba guna untuk keperluan emergency, 300 vellbed, 30 ventilator, dan seterusnya hingga 12 item.

Surat ini ditujukan bukan ke warga Jakarta. Melainkan kepada para duta besar negara asing yang ada di Jakarta. Tanpa menyebut secara spesifik nama-nama duta besar tersebut. Artinya surat ini dicopy saja, lalu disebarkan. Kayak surat-surat minta sumbangan dari kelurahan/RT/RW. Lengkapnya surat itu di bawah ini.

Article

Article

Surat ini sudah beredar luas di media sosial, khususnya yang saya sempat cek di Twitter. Juga sudah diangkat jadi berita oleh suara.com Sumber. Mengenai validitasnya, silakan saja Pemprov DKI mengklarifikasi ya. Karena yang mempertanyakan bukan hanya saya dan suara.com. Juga para netizen. Opini yang saya tulis di sini berdasarkan asumsi bahwa surat itu benar. Karena isinya sama dengan postingan Pemprov DKI sebelumnya di akun resmi mereka dan yang tanda tangan juga benar pejabatnya.

Tanpa ditebak terlalu rumit, sudah pasti surat ini mendapat reaksi keras dari para netizen. Ada yang menyebut bikin malu, karena pemprov sampai minta-minta sapu dan ember ke kedutaan asing. Kayak nggak punya dana sama sekali. Padahal Anies selalu diglorifikasi dengan sebutan gubernur rasa presiden, dengan rencana balapan level internasional Formula E. Ada pula yang menyebut kelakuan ini macam preman yang melakukan pemalakan. Ada pula yang mengecam tindakan ini mempermalukan negara. Itu semua logis ya.

Kok kayak buodoh bener, sampai minta-minta ke kedubes asing. Seperti yang disebut oleh seorang netizen, minta ke BUMN seperti Pertamina kan bisa. Kalau memang perlu sumbangan ya. Apa karena ada BTP di sana sehingga Anies gengsi minta ke Pertamina? Atau ke Kemensos, atau ke Menteri Erick Thohir langsung. Tinggal diomongin lah. Ini kan begitu bocor suratnya, langsung terbongkar lagi aib Anies. Rame lagi kritik bermunculan. Dituduh lagi para netizen yang mengkritik sebagai “BuzzerRp”. Padahal memang nyatanya bodoh dan memalukan!

Memalukan! Anies Minta-Minta Ember-Sapu-Pel Ke Dubes Asing?

Sumber Utama : https://seword.com/politik/memalukan-anies-minta-minta-ember-sapu-pel-ke-1u9jSdnp6x

PPKM Darurat dan Bali yang Sekarat

Setelah setahun lebih hidup bersama virus, hari ini pemerintah mengumumkan kembali kebijakan pembatasan sosial atau aktifitas masyarakat. Hanya beda nama, dulu namanya PSBB, sekarang PPKM darurat.

Ini jelas keputusan yang sangat berat bagi banyak orang. Kita belum sepenuhnya bangkit, tapi harus dihancurkan lagi.

Beberapa hari lalu, ketika ada kesempatan bertemu Presiden, saya sudah sampaikan secara langsung terkait permasalahan yang dihadapi oleh masyarakat Bali.

Ekonomi benar-benar mengkhawatirkan. Jauh lebih mengkhawatirkan dibanding penyebaran virus itu sendiri, yang sebenarnya 95 persen penderitanya bisa sembuh dengan makan dan tidur.

Pengusaha restoran, hotel dan aneka toko yang berpusat di Bali, praktis harus susah payah membiayai operasional pekerja dan bangunan selama setahun terakhir.

Saya juga menyampaikan kondisi di banyak daerah, selain kota besar seperti Surabaya dan Jakarta, aktifitas masyarakat sebenarnya sudah berjalan normal. Sekolah yang ditutup itupun sebenarnya formalitas saja, di daerah-daerah, sekolah tetap buka, hanya saja siswanya diminta memakai pakaian biasa, bukan seragam.

Ada dua pertanyaan yang saya ajukan. Namun hanya satu jawaban yang mungkin bisa saya tuliskan di sini. Soal kapan Bali bisa dibuka? Bukankah secara tekhnis kita sangat siap sekali untuk membuka?

Jawaban Presiden, fokus kita ada pada kesiapan rumah sakit. Agar jangan sampai ambruk. Kalau misalkan saya mengumumkan pembukaan Bali, secara politik bisa berdampak seperti India. Itu semua harus kita perhitungkan.

Presiden juga mengaku tahu kondisi masyarakat Bali. Tahu kondisi pengusaha dan UMKM kita. Tapi pilihan yang terbaik sekarang adalah, tunggu.

Saya tak melanjutkan pertanyaan. Pun tak membantah lagi dengan sebuah pendapat yang sebenarnya sangat ingin saya sampaikan. Bebannya teralu berat. Apapun keputusan yang diambil akan mendapat konsekuensi.

Saya memilih mendengarkan soal rencana tahun depan. Soal optimisme dan titik terang ekonomi yang sebenarnya sudah terlihat di bulan Juni kemarin. Dan saya juga mendengarkan dengan jelas terkait jalan keluar dari situasi pandemi seperti sekarang. Itu sudah ada. Tapi untuk sekarang, tunggu.

Hari ini saya tiba-tiba tersadar dengan keputusan berat yang harus diambil Presiden. Penerapan PPKM darurat itu diwarnai dengan aksi penolakan terahadap kunjungan Presiden, label king of lip service dari BEM UI, seruan revolusi dari HMI, dan peran serta Demokrat dalam membakar semangat anak-anak mahasiswa dengan provokasi dan tuduhan yang belum terjadi. Menyebutnya dengan pembungkaman, dan menuduh peretasan terhadap akun WA adalah tindakan pemerintah.

Semua itu adalah upaya provokasi untuk menciptakan pergerakan dan pemberontakan. Memanfaatkan kejenuhan masyarakat dan kebijakan pemerintah yang memberatkan lewat PPKM darurat.

Di masa-masa kritis seperti sekarang, sebuah kritik tidak bisa berdiri sendiri. Itu selalu bisa ditunggangi oleh orang lain dengan seribu satu kepentingan. Dan itu yang membuat kritik saya hanya sampai di pintu Suramadu. Yang penting Suramadu tidak dites lagi, tidak macet lagi. Selebihnya, terkait PPKM darurat ini, saya tidak punya keberanian untuk menolak dan menyatakan keberatan, atau mendukung gerakan demo dan penolakan. Karena sekali lagi, itu terlalu mudah ditunggangi.

Usaha saya untuk mengimbangi berita di media nampaknya hari ini mendapatkan hasil yang kurang memuaskan. Berita virus bisa menyebar hanya lewat papasan, bahkan bisa bertahan melayang-layang di udara dan membuat penyebarannya cepat sekali, nampaknya lebih bisa diterima masyarakat Indonesia hari ini.

Para pakar membenarkan, penelitian serius dilakukan. Dokter dan tenaga kesehatan juga membenarkan bahwa berita virus bisa menular lewat papasan dan dalam 5 detik saja adalah sebuah kesimpulan ilmiah. Hampir tidak ada yang berani melabeli berita tersebut dengan hoax.

Sehingga ketika PPKM darurat diberlakukan, maka masyarakat terpaksa harus menerimanya. Ya gimana? Bisa menyebar lewat papasan.

Padahal PPKM mikro sudah digagas dan disosialisasikan. Sekolah harus dibuka selama tidak ada PPKM di daerahnya.

Tapi sekarang, dengan diberlakukan PPKM darurat untuk Jawa dan Bali, maka praktis sekolah di dua pulau ini tak bisa dibuka bulan ini. Dengan begitu, ijin keramaian Liga Sepak bola Indonesia juga ditunda sampai waktu yang belum ditentukan.

Di satu sisi, masyarakat sudah jenuh dan stress. Tapi di sisi lain kita juga perlu hati-hati agar tidak dimanfaatkan oleh pihak-pihak yang ingin membuat onar dan melengserkan Presiden.

Semoga semua masyarakat diberikan kekuatan. Semoga Nadiem tetap teguh pada keputusan membuka sekolah di daerah yang tidak menerapkan PPKM. Dengan begitu, selangkah demi selangkah, kita menuju ke arah jalan keluar yang sama.

PPKM Darurat dan Bali yang Sekarat

Sumber Utama : https://seword.com/umum/ppkm-darurat-dan-bali-yang-sekarat-JyZ3l212xO

Sejak Masuk PSI, Faldo Maldini Hancurkan Fadli Zon Semudah Balikkan Tangan

Faldo Maldini adalah sosok yang dulunya menjadi kader PAN yang pernah beroposisi kepada Presiden Joko Widodo. Waktu dia jadi tim sukses Prabowo, dia adalah orang yang sering muncul di TV. Ngaku sebagai mantan anak UI yang lanjut sekolah di Inggris. Ya bukan ngaku sih. Tapi betulan sih.

Faldo ini setidaknya masih jujur. Dia nggak kayak Pedro ngaku anak Untar, tapi ternyata pernah di DO dari kampus terdahulunya. Nggak kayak orang yang bilang si Leon itu pintar, padahal dari postingan BEM UI, ya pandir. Wkwk.

Banyak yang heran termasuk penulis, bahwa orang sepintar Faldo ini kok bisa-bisanya membela Prabowo yang bermasalah dan abu-abu soal masa lalunya? Tapi bisa jadi, PSI menjadi partai yang sabar terhadap Faldo, mengembalikan Faldo ke arah yang benar. Salah satunya lewat Sis Tsamara dan Sis Dini.

Selain PSI, PDI-P juga pernah melakukan sekakmat kepada orang pintar yang salah arah seperti Faldo Maldini. Ketika ditantang debat soal Ratna Sarumpaet oleh Adian Napitupulu, Faldo sangat terjepit dan ia hanya bisa menjerit-jerit “ITU BUKAN KAMI!” Jeritan itu nyata.

Kemungkinan sekali, Faldo Maldini adalah sosok pembela Prabowo yang saat itu hanya terbuai dengan awan warna pink, awan Cherrybelle yang dikumandangkan lewat mulut Prabowo, tanpa tahu masa lalunya. Wajar. Tahun 1998 Faldo masih nggak tahu apa-apa soal kerusuhan Mei 1998.

Apa yang saat itu Faldo Maldini temukan dari sosok Prabowo, mungkin adalah sosok bijaksana, penuh wibawa dan karisma. Menenangkan dan tidak banyak bicara di publik. Padahal dia harus tahu sebelumnya, bahwa minimnya bicara Prabowo di publik, karena takut ditanya-tanya Mei 1998 kali ya?

Namun yang paling membekas di jiwa Faldo Maldini adalah ketika dia dibuat berdiri tidak bisa duduk oleh Sis Dini Purwono, mantan caleg DPR-RI dari PSI yang sekarang menjadi staf khusus Presiden Joko Widodo di bidang hukum. Saat itu saat yang paling mencengangkan.

Sis Dini Purwono bersama dengan Bang Budiman Sudjatmiko, duet PSI PDIP menjadi sosok yang menghajar habis dua laki-laki bernama Faldo Maldini dan Andre Rosiade. PSI dan PDIP mengangkangi Gerindra dan PAN. Gerindra dan PAN menganggap perempuan tidak terlalu intelek, tapi akhirnya salah.

Salah orang. Dini Purwono menjadi sosok yang paling bersinar saat itu. Faldo Maldini dan Andre Rosiade dikhotbahi sampai terdiam tidak bisa berbicara sama sekali. Dibuat berdiri. Untung tidak kencing. Faldo Maldini orang yang terbuka, nggak seperti Andre Rosiade yang insecure.

Faldo Maldini akhirnya mengakui kekalahannya terhadap Dini dan Budiman. Faldo Maldini hanya berdiri. Mulutnya sulit terbuka. Dan saya yakin itu adalah titik balik bagaimana dia harus mendukung Joko Widodo, lewat jalur PSI. Kita tahu bahwa PSI ini bukan partai kaleng-kaleng.

PSI ini kader-kadernya orang yang memiliki latar belakang pendidikan yang sangat baik. Banyak yang lulusan S1, sebagian S2 dan dituntut untuk S3. Pengkaderan PSI pun juga lewat panelis-panelis yang luar biasa. Akhirnya, Faldo Maldini mengakui kekalahan Prabowo. Dia cabut dari PAN dan digodok oleh PSI.

Tidak sampai 2 tahun Faldo Maldini diajar, duduk di bangku kuliah PSI, dan dipopor oleh pendidikan politik yang luar biasa oleh kader-kader PSI dengan segala rasa cinta tanah airnya, Faldo berubah. Pemahaman logikanya jadi sangat tajam. Bahkan melampaui orang Gerindra yang sudah menahun.

Orang asal Padang ini akhirnya menjadi sosok yang cukup menjanjikan. Kader PSI yang berasal dari oposisi, dan sangat pintar. Bahkan sekarang, ia bisa beradu argumen dengan Fadli, dan menghancurkan logika Fadli Zon. Bagaimana kisahnya?

Jadi di dialog TV One, Faldo dan Fadli sempat berdebat. Faldo membuat Fadli diam tak berkutik dan bungkam. Faldo mengatakan dengan jelas begini.

“BEM UI berikan kritik ke Jokowi, sangat wajar kalau pendukung pemerintah seperti saya mengcounter hal itu ke BEM UI. BEM UI boleh kritik Jokowi, tapi kenapa ketika saya counter, mereka marah-marah? Kan diskusi, kalau mereka kritik, saya kritik juga boleh dong?”

Kemudian Fadli Zon masih mencoba mendebat.

“Ini pembungkaman demokrasi. Disuruh cuitannya di take down oleh rektor!”

Faldo pun melihat Fadli Zon sudah terjebak dan tidak bisa berbuat apa-apa karena mimiknya berubah. Faldo Maldini pun langsung memberikan jab keras ke arah Fadli Zon sampai logikanya hancur berkeping-keping dengan kalimat ini.

“Gak di take down juga nggak apa-apa. Nggak ada yang bungkam. Tidak ada sanksi juga kalau tidak di take down. Kalau ada sanksi, itu baru pembungkaman.”

Fadli Zon pun diam. Menjerit-jerit dalam hati mungkin sambil berkata…

“KENAPA YA ALLAH, FALDO MASUK PSI! JADI PINTER GINI KANNN!”

Tapi ya nggak terekam karena dijeritkannya dalam hati saja…

Lagipula, bungkam itu bukan selalu karena dibungkam. Bungkam itu kemungkinan besar karena malu-maluin.^p

Sejak Masuk PSI, Faldo Maldini Hancurkan Fadli Zon Semudah Balikkan Tangan

Sumber Utama : https://seword.com/politik/sejak-masuk-psi-faldo-maldini-hancurkan-fadli-zon-5PR8seRYuY

Masih SD Ngerusak Makam Udah Gede Ngerusak Negara, Bubarkan Sekolah yang Membuat Tuololl !

Tindak intoleransi dan teror bisa dilandasi dengan berbagai dasar, agama, suku hingga warna kulit. Semua agama dan suku punya potensi yang sama untuk melakukan tindak intoleransi tersebut. Oleh sebab itu, semuanya harus memahami akar permasalahan mengapa hal tersebut bisa terjadi.

Pemikiran yang salah adalah penyebab utamanya. Pemikiran yang dilandaskan dengan penafsiran-penafsiran yang melenceng dari nilai-nilai kemanusian sehingga melupakan empati dan hak asasi setiap orang untuk hidup serta memeluk keyakinannya masing-masing . Tentu saja dengan catatan, setiap hak yang dituntut tidak melanggar hak orang lain, sebab jika tidak ada catatan tersebut, itu akan membuat lingkaran setan.

Pemikiran adalah awal sebuah tindakan. Jika pemikirannya sudah salah, maka tindakannya sudah jelas salah. Semua tinggal menunggu peluang untuk bisa mengimplementasikan pemikiran salah tersebut dalam sebuah tindakan.

Dalam hal beragama atau memeluk sebuah keyakinan, sah-sah saja menganggap agamanya yang paling benar. Namun dalam hidup bermasyarakat dan bernegara, nilai-nilai kemanusian universal harus menjadi pedoman hidup yang harus diyakini bersama agar tatanan kehidupan terjaga.

Perang terjadi di dunia ini karena ego manusia yang menganggap pandangannya paling benar. Perang dalam bentuk apapun itu mengkesampingkan nilai-nilai kemanusian. Padahal nilai-nilai kemanusiaan adalah nilai yang membedakan manusia dengan hewan.

Intoleransi sangat melenceng dari nilai-nilai kemanusiaan. Sebab intoleransi terjadi karena tidak adanya empati dan tidak menghargai hak sesamanya. Tindak intoleransi adalah tindakan binatang yang ogah berbagai tempat sehingga menggunakan hukum rimba untuk menyingkirkan kelompok lain. Saling memangsa dan cara picik lainnya.

Pemikiran berasal dari segala pengetahuan yang masuk. Baik itu pengetahuan salah maupun benar. Pengetahuan tersebut yang pada akhirnya turut mempengaruhi sudut pandang setiap manusia. Pada akhirnya terbentuklah watak. Oleh sebab itu, guru yang menyebarkan pemikiran salah adalah orang yang bertanggung jawab terhadap berbagai pemikiran salah yang sudah masuk ke dalam otak murid-muridnya.

Menyebarkan pemikiran salah pada anak-ank SD adalah tindakan yang sangat jahat dan berbahaya bagi tatanan kehidupan. Oleh sebab itu, guru di Solo yang menanamkan benih intoleransi sejak dini pada muridnya tidak bisa dibiarkan begitu saja. Bukan guru yang di Solo, tetapi semua guru dan dosen serta sekolah yang mengamodirkan mereka harus dievalusi dan di benahi. Rombak semua bila perlu.

Kalau anak-anak sudah dipenuhi kebencian, sudah gede sudah jelas gampang diprovokasi dan diadu domba. Bahkan bisa jadi teroris, karena benih terorisme berawal dari intoleransi. Otaknya minim akal sehat. Kalau sudah begitu, negara ini mudah hancur karena gampang diadu domba sehingga potensi perang saudara bisa terjadi. Ditambah lagi otak yang penuh benci mana mungkin berfikir untuk melakukan inovasi agar negara kita siap bersaing mengikuti relevansi zaman.

Orang tua yang waras harusnya pilih-pilih untuk menyekolahkan anaknya. Ke depannya, persaingan hidup semakin ketat. Jangan sampai nanti anaknya bodoh karena salah didikan terus yang disalahkan pemerintahnya atau bahkan negara lain. Nanti negaranya hancur dibilang ulah konspirasi zionis, China hingga amerika. Padahal kalau orang kita pintar, tidak mungkin termakan hasutan dan tipu daya dari kelompok manapun.

Mencari guru yang tepat adalah penting. Jangan mau dibodohi oleh penipu yang jualan kebencian untuk menarik perhatian. Tidak perduli guru apapun itu. Termasuk guru agama. Jangan sampai mudah ditipu karena euphoria mualaf atau murtadin yang memberi kesaksian diiringi ujaran kebencian terhadap agama yang pernah dianutnya. Sebenar apapun orang itu terlihat, sisi salahnya adalah menebarkan kebencian terhadap sesamanya.

Sudah banyak contohnya. Misalnya orang yang ngaku anak Kardinal, padahal itu jelas berbohong, karena gak ada kardinal yang menikah dan punya anak. Atau ngaku mantan pendeta dan rektor, padahal sudah jelas bohong dia gak pernah jadi rektor tapi tetap saja dibiarkan kelompok-kelompok itu berceramah di mana-mana.

Saya berkeyakinan, tokoh-tokoh agama yang diam membiarkan orang-orang menebarkan kebencian atas nama agama suatu saat akan diminta pertanggung jawabannya oleh Yang Kuasa. Sebab mereka bisa mengetahui yang benar dan salah, tetapi hanya diam saja. Diam yang berpotensi membawa kehancuran bagi tatanan kehidupan karena mendegradasi nilai-nilai kemanusiaan yang harusnya dibawa setiap agama yang ada di dunia ini tanpa terkecuali.

Mengajak diskusi orang tua yang sudah sejak kecil dijejali kebencian dan pemikiran yang jauh dari norma-norma kemanusiaan tidaklah menghasilkan apa-apa. Perbadingannya 1000 banding 1. Namun menjaga anak-anak agar tidak menjadi generasi penerus mereka adalah hal yang bisa dilakukan. Oleh sebab itu, evaluasi sekolah-sekolah yang berpotensi menghancurkan negara dengan kebencian dan membuat bodoh. Dan jangan lupa singkirkan guru yang mengajarkan kebencian dan benih irasional yang mendegradasi pendidikan serta moral.

Masih SD Ngerusak Makam Udah Gede Ngerusak Negara, Bubarkan Sekolah yang Membuat Tuololl !

Sumber Utama : https://seword.com/umum/masih-sd-ngerusak-makam-udah-gede-ngerusak-negara-IqvrQa6s0r

BEM UI Efek, Rusuh Massa Tolak Jokowi dan Bakar Bendera PDIP

Akhirnya usaha provokasi yang dilakukan oleh BEM UI terbilang sukses bikin rusuh. Apa yang dapat kita harapkan dari anak-anak ini? Punya panggung tapi sayang digunakan untuk sulut emosi. Kipas-kipas di atas penderitaan rakyat.

Terbukti upaya provokasi mereka disambar oleh masyarakat Kendari, Sulawesi Tenggara, dengan suka cita. Sebelumnya saya sudah tuliskan peran bohir dan bocil serang Jokowi. Di Sini

Dan inilah yang diinginkan oleh bohir dan oposisi. Kali ini jempol terbalik buat pihak keamanan setempat. Semestinya sejak awal sudah mendeteksi pergerakan mereka, sehingga dapat meminimalis dan tidak sampai menyulut tindakan anarkhis tersebut.

Dapat sebagai bahan evaluasi Kapolri untuk jajarannya yang berada di Sultra. Kecolongan di tengah covid-19 yang melanda. Pendekatan dan tindakan persuasif perlu dikaji ulang. Jika tidak ingin menyulut di banyak tempat.

Dan jumlah keamanan yang sedikit sehingga massa leluasa melancarkan aksi-aksinya. Sulawesi Tenggara hanyalah test ombaknya

Seperti yang dikutip dari liputan6. Presiden Jokowi disambut aksi demonstrasi besar di Kendari, Sulawesi Tenggara. Ada spanduk "Selamat Datang King of Lip Service" hingga pembakaran bendera PDI Perjuangan, partai Jokowi.

Jokowi ke sana untuk menghadiri Musyawarah Nasional Kamar Dagang dan Industri (Kadin) di Kendari, Sulawesi Tenggara hati ini.

Namun, menjelang kedatangan Presiden Jokowi, sebuah spanduk cukup besar "Selamat Datang The King of Lip Service" di gerbang Batas Kota Kendari – Konawe Selatan (Konsel).

Spanduk bertuliskan "Selamat Datang The King of Lip Service" tersebut merupakan inisiatif Konsorsium Gerakan Menolak Munas Kadin.

Awalnya, massa berdemonstrasi saat Jokowi masih di lokasi Kantor Gubernur. Presiden bersama panglima TNI, menghadiri rangkaian kegiatan peninjauan vaksinasi massal dan pertemuan dengan Forkompinda. Sumber

Kemudian, massa berdemonstrasi di lokasi perempatan Pasar Baru Kendari. Selama sekitar satu jam lebih, mereka menyatakan penolakan kedatangan Jokowi di Kendari.

Di sana, mereka kemudian membakar bendera Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan (PDIP). Massa mengumpulkan sekitar 10 bendera, yang berasal dari pinggir jalan sekitar lokasi demonstrasi.

Bendera kemudian diarak ke tengah perempatan. Beberapa massa aksi mengeluarkan korek api, kemudian menumpuk dan mulai membakar bendera.

Saat itu, ada beberapa orang anggota kepolisian Polda Sulawesi Tenggara berseragam, tetapi tidak sempat mencegah dan mengamankan lokasi. Penyebabnya, massa berjumlah banyak dan mulai bertindak anarkis.

Selanjutnya, massa meninggalkan lokasi dan beriringan menuju Hotel Claro Kendari. Massa mengira, Jokowi akan ke lokasi hotel.

Saat melintas di depan Bypass Kendari, ada warga yang memancing emosi demonstran. Massa kemudian melempar ke arah rumah warga. Selanjutnya, terjadi aksi lemparan dari massa ke arah rumah warga.

Mereka kemudian merusak motor dan mobil. Akibatnya, satu unit mobil Honda CRV yang terparkir didepan rumah, kaca bagian belakangnya pecah dan empat unit motor dibanting massa.

Selanjutnya, saat massa beriringan ke Hotel Claro Kendari, massa bertemu kelompok massa lainnya di pertigaan Warung Kopi Daeng. Kemudian, mereka terlibat aksi saling kejar dan pukul.

Saat kejadian, terjadi aksi kejar-kejaran. Saat itu, tidak diketahui dari kelompok mana, tetapi massa kembali merusak satu unit mobil.

Sangat disesalkan dalam kondisi seperti ini massa dapat dengan mudah berkumpul kemudian melakukan tindakan anarkis.

Aksi-aksi serupa sangat memungkinkan terjadi di daerah lainnya, jika pihak keamanan tidak mensikapinya dengan tegas.

Pernyataan BEM UI dalam cuitannya itu tidaklah main-main. Jika tidak ada muatan pesan politis tidak mungkin presiden Jokowi menjawabnya secara khusus.

Apa yang terjadi di Kendari adalah hasil design dari Jakarta yang sumbernya dari provokasi BEM UI.

Pembakaran bendera PDIP adalah pesan kuat. PDIP sedang menjadi salah satu sasaran tembak, partai yang mengusai parlemen dan pemenang suara nasional dan menuju 2024.

Stigma partai PDIP oleh mereka dibuat buruk Jargon-jargon PDIP yang memihak pada rakyat menengah ke bawah sebagai partai wong cilik bisa jadi tidak dirasakan oleh masyarakat setempat.

Di Sultra partai yang mungkin paling menonjol adalah PAN, termasuk PKS dan Golkar di wilayah ini terbilang cukup bagus. Sedang partai-partai yang secara skup nasional mendominasi rupanya tidak dapat hati di wilayah ini.

Sementara Ali Mazi gubernur Sulawesi Tenggara berasal dari partai Nasdem. Sudah jadi rahasia umum hubungan Surya Paloh (Nasdem) dan pemerintah sudah tidak seintim dulu lagi. Sudah tidak seperti nasi dan teh botol sosro.

Terkait peta partai di wilayah yang menolak Jokowi dan berani membakar bendera PDIP ini kiranya cukup penting diketahui agar dapat menangkap benang merahnya.

Demikian, salam

BEM UI Efek,  Rusuh Massa Tolak Jokowi dan Bakar Bendera PDIP

Sumber Utama : https://seword.com/politik/bem-ui-efek-rusuh-massa-tolak-jokowi-dan-bakar-j7MSniLuPp

Lekas Sembuh Mbak Annisa-nya Mas AHY, Besok Kalau Semua Sudah Sehat Kita Ramaikan Lagi

Ketum Partai Demokrat Agus Harimurti Yudhoyono (AHY) memberi kabar mengejutkan setelah lewat keterangan tertulisnya, seperti dilansir laman Detik.com mengabarkan bahwa istrinya, Annisa Pohan, terpapar virus Covid-19.

AHY pun menyebutkan bahwa Anissa Pohan kini sedang menjalani observasi, sedangkan dirinya sedang menjalani isolasi mandiri.

"Saya sendiri harus menjalani isolasi mandiri, karena istri saya, Annisa, kemarin juga dinyatakan positif setelah menjalani Test PCR. Saat ini ia terus diobservasi oleh Dokter Gobind."

Dilaporkan pula bahwa kondisi sang istri stabil, tetapi AHY tetap meminta doa kepada khalayak agar istrinya cepat pulih sehingga bisa beraktivitas seperti sedia kala

"Mari kita saling mendoakan, saling menguatkan, dan saling membantu. Semoga kita semua, termasuk keluarga tercinta dimanapun berada, diberikan kesehatan dan kekuatan. Aamiin."

Para kader Demokrat juga minta didoakan

Masih menurut keterangan tertulis yang sama, AHY juga meminta doa atas kesembuhan seluruh kader PD yang sedang berjuang melawan Covid-19 termasuk.di antaranya mantan artis Jane Shalimar, yang saat ini disebut AHY sedang dalam kondisi kritis.


Serbuan Covid-19 dengan segala jenis variannya kok tampaknya semakin ngeri saja ya. Pertambahan jumlah kasus harian setiap daerah, bahkan yang setingkat kecamatan saja kini sudah mencapai puluhan jiwa. Semakin besar dan luas cakupan daerahnya, terutama di daerah Pulau Jawa yang padat penduduknya dan penuh aktivitas, jumlah harian kasus terkonfirmasi juga nggak main-main ... bisa ratusan per harinya!

Hari ini pun di kampung saya kasus terkofirmasi positif dari yang semula 0-2 kasus dalam rentang waktu nyaris setahunan terakhir, eh dalam waktu satu bulan ini saja sudah ada belasan orang kena.

Kemarin Selasa dini hari (29/6/2021) saya bahkan menyaksikan langsung pemakaman dengan protokol Covid-19 yang pertama kali di pemakaman umum desa kami, sejak awal Maret 2020 silam.

Sekali rombongan petugas pemakaman datang bahkan langsung membawa dua jasad yang terpapar Covid-19, hanya berbeda desa tetapi jaraknya tidak terlalu jauh.

Kondisi dan suasana yang berbeda, dengan aura sedikit mencekam yang tergambar saat pemakaman berlangsung seperti membunyikan alarm siaga dalam diri saya ... agar saya lebih waspada, berhati-hati, dan tetap menjalankan protokol kesehatan dengan ketat.

Saya pun baru saja menjalani salah satu tes untuk memastikan agar diri saya baik-baik saja, karena dianggap berisiko karena salah satu kasus yang saya ceritakan tadi, berlokasi tidak jauh dari tempat tinggal kami.

Untunglah hasilnya negatif, sehingga saya tetap bisa beraktivitas seperti biasa tanpa harus menjalani tes lanjutan atau isolasi mandiri, seperti dialami Mas AHY yang sedang "isoman" berkaitan dengan kondisi sang istri.


Kalau sudah begini, tak elok rasanya mengucapkan sesuatu yang tidak patut, terlepas dari aktivitas media sosial dari Annisa Pohan yang kerap memicu keseruan tersendiri untuk dibahas dan tentunya memberi bahan tulisan yang menarik bagi saya untuk dituangkan dalam satu atau beberapa tulisan.

Namun, kondisinya baru berbeda. Kalau kata Bang Karni Ilyas, "Kita rehat sejenak, bahkan kalau perlu ambil waktu mendoakan kesehatan keluarga AHY secara umum, termasuk Bapak SBY tentunya.

Nanti kalau kondisi sudah membaik, silakan saja kalau mau beradu opini hingga menyindir halus atau agak kasar terhadap kiprah AHY di dunia politik, asalkan tetap menjaga adat ketimuran dan kesopanan. Catat betul-betul empat kata yang terakhir ya.

Kayak nasihat Pak Jokowi buat mahasiswa, khususnya BEM UI kemarin itu loh. Mau kritik boleh sebagai bagian dari demokrasi, tapi jangan kebablasan juga, seolah bukan orang yang terdidik dengan baik.


Jadi, menutup rangkaian tulisan saya bulan ini ... izinkan dengan setulus hati saya mengharapkan dan mendoakan kesembuhan bagi Mbak Annisa, juga agar Mas AHY dan Pak SBY sehat selalu serta dalam perlindungan-Nya.

T'rus bagi kader Partai Demokrat yang terpapar Covid-19 agar segera sembuh juga. Terus terang saja, nggak ada kalian rasanya pentas perpolitikan di Indonesia kayak kurang seru. Jadi besok kalau sudah sehat semua, kita bisa ramaikan suasana lagi, termasuk dengan "kelucuan" yang kadang diperlihatkan oleh Mas AHY.

Lekas Sembuh Mbak Annisa-nya Mas AHY, Besok Kalau Semua Sudah Sehat Kita Ramaikan Lagi

Sumber Utama : https://seword.com/politik/lekas-sembuh-mbak-annisa-nya-mas-ahy-besok-kalau-kfqojDyspA

Re-post by MigoBerita / Kamis/01072021/16.23Wita/Bjm