BANJARMASINPOST.CO.ID, SURABAYA - Calon presiden nomor urut 1
Joko Widodo memperkenalkan simbol
kampanye baru kepada seluruh tim
kampanye nasional maupun daerah pada Rapat Kerja Nasional (Rakernas) di
Surabaya, Minggu (28/10/2018).
Simbol
kampanye baru pasangan Jokowi-Ma'ruf Amin tersebut adalah
ibu jari alias jempol.
Kepada lebih dari 1.000 tim sukses dalam pengarahan tertutup, Jokowi
mengatakan, ibu jari adalah simbol keunggulan. Ibu jari juga bermakna
kehebatan, tekad, kemauan sekaligus kegigihan.
Sekretaris
TKN Hasto Kristiyanto membenarkan hal tersebut. Ia mengatakan, posisi
tangan dengan jempol terangkat dan jari sisanya ditekuk akan menjadi
salam seluruh pendukung Jokowi-Ma'ruf.
"Itu salam yang diperkenalkan dalam Rakernas tadi, salam jempol," ujar Hasto kepada para wartawan di
Surabaya, Minggu siang.
Hasto menambahkan, posisi tangan jempol terangkat dan keempat jari
sisanya ditekuk ke dalam menunjukkan kecepatan dalam mengambil
keputusan. Dapat juga dimaknai sebagai angka satu bagi kemajuan
Indonesia.
Jokowi, lanjut Hasto, juga memperkenalkan 'tos' baru bagi sesama
pendukung Jokowi. Jadi, apabila sesama pendukung Jokowi-Ma'ruf bertemu,
salam yang digunakan adalah pertemuan antara tangan dengan posisi salam
jempol.
"Ini salam penuh sentuhan persaudaraan, bagaikan elemen utama untuk
memenangkan, di mana ada parpol dan relawan yang menyatu, semua berjuang
untuk kebaikan," ujar Hasto.
Hadir dalam pengarahan, antara lain Ketua Umum PDI Perjuangan Megawati Soekarnoputri,
Ketua Umum Partai Golkar Airlangga Hartarto, Ketua Umum Perindo Harry
Tanoesoedibyo, Ketua Umum PKPI Diaz Hendropriyono, Ketua PPP
Romahurmuziy dan Ketua Umum PSI Grace Natalie.
SETPRES/ AGUS SUPARTO
Presiden
Joko Widodo saat menghadiri Rakernas Tim Kampanye Nasional Jokowi-Maruf
di Hotel Empire Palace Surabaya, Jawa Timur, Minggu (28/10/2018).
Sumber Berita :
http://banjarmasin.tribunnews.com/2018/10/28/jokowi-perkenalkan-simbol-kampanye-barunya-ternyata-ini-maknanya
Ditunjuk Jadi Tuan Rumah Gerakan Revolusi Mental, Ini yang Bakal Dilakukan Kalsel
BANJARMASIN POST.CO.ID, MANADO - Kalimantan Selatan ditunjuk sebagai tuan rumah pekan kerja nyata gerakan revolusi mental pada 2019 mendatang.
Kabar itu, diketahui setelah tuan rumah
Manado di tahun 2018 ini yang kemudian melimpahkan ke Pemerintah Provinsi Kalsel untuk tahun selenjutnya.
Kalsel akan menjadi tuan rumah Ditandai dengan penerimaan pataka dari
Deputi V Kemenko PMK, Nyoman Shuida kepada Pemerintah Provinsi Kalsel,
yang diwakili oleh, Kepala Kesbangpol Kalsel, Taufik Sugiono, Disaksikan
Wali Kota
Manado Holly Dodon Kamby di Lapangan Koni
Manado, Minggu (28/10/2018).
Kepala
Kesbangpol Kalsel, Taufik Sugiono, membenarkan bahwa Kalsel pada tahun
2019 nanti menjadi tuan rumah penyelenggara Pekan kerja nyata gerakan
nasional revolusi mental ke III di kalimantan selatan tahun 2019.
"Berdasarkan semangat Pak Gubernur yang selalu memanfaatkan momentum nasional, untuk mendorong optimalisasi pencapaian visi
Gubernur Kalsel,
mewujudkan Kalimantan selatan yang mendiri terdepan lebih sejahtera dan
berkeadikan ,berdikari dan berdaya saing, ini perlu energi semangat
besar dr semua pihak.
Dijelaskan Taufik Sugino, Pekan Kerja Nyata Gerakan Nasional Revolusi
Mental adalah sebagai model pembangunan karakter bangsa, yang mampu
membentuk jatidiri bangsa indoenesia tumbuh berdasarkan nilai-nilai
luhur bangsa, perlu akselerasi, mengingat tantangan internal maupun
ekternal bangsa kian bertambah.
"Jadi, Pekan Kerja Nyata Gerakan Nasional
Revolusi Mental
memiliki 5 gugus penting, pertama Indonesia melayani. Kedua, Indonesia
bersih. Ketiga Indonesia tertib. Keempat, Indonesia mandiri, dan kelima
Indonesia bersatu. Nah ini menjadi energi kita smua bangsa indonesia,
untuk bisa melewati lebih cepat hambatan partisipasi masyarakat. Dalam
pembangunan,dan jiwa trisula,integritas,semangat dan gotong royong,
sehingga dapat memberikan pencapaian hasil yag lebih optimal, " papar
Taufik Sugiono.
Katena itulah, kata Taufik Sugiono, Pemprov Kalsel bertekad mengambil
momentun penyelenggaraan PKN REVMEN KE III di Kalsel pada 2019 nanti.
"Karena multi effecnya sangan bermanfaat bagi kemajuan Kalsel,"
lontar pria yang juga pernah kengabdi di tubuh Polri tersebut.
(banjarmasinpost.co.id /Nurholis Huda)
Istimewa
Penerimaan
pataka dari Deputi V. Kemenko PMK, Nyoman Shuida kepada Pemerintah Prov
Kalsel diwakili Kepala Kesbangpol Kalsel, Taufik Sugiono,Disaksikan
Gubernur Manado Holly Dodon Kamby di Lapangan Koni Manado, Minggu
(28/10/2018)
Sumber Berita :
http://banjarmasin.tribunnews.com/2018/10/28/ditunjuk-jadi-tuan-rumah-gerakan-revolusi-mental-ini-yang-bakal-dilakukan-kalsel
Aparat Gamang, Masa Depan Indonesia Jadi Taruhan
Oleh: Eko Kuntadhi*
Rasanya memang kursi
Presiden makin panas. Ketika gerombolan ekstrimis makin berulah, kita
tahu, kekuasaan seperti gamang. Bayangkan. Ada organisasi yang secara UU
dan hukum sudah dinyatakan terlarang. Tapi mereka seperti berdiri di
atas hukum. Mereka bisa bertindak semaunya.
Kita tahu, kelompok perusak itu pandai memainkan jargon agama. Semua hal yang sakral diplintir menjadi poliltis.
Pemberangusan
bendera HTI oleh Banser punya logika ganda. Di satu sisi bendera itu
adalah lambang sebuah organisasi terlarang. Jadi jika dibakar, tampaknya
sebagai tindakan wajar. Tapi karena bendera itu menggunakan kalimat
tauhid, usaha pemberangusan diplintir menjadi permusuhan pada kalimat
tauhid.
Sekarang masalahnya siapa yang paling kuat mempengaruhi
opini publik. Apakah publik menganggap bendera tersebut sebagai bendera HTI. Atau bendera agama? Itu titik persoalan terbesar.
Jika
publik bisa diyakinkan bendera tersebut adalah bendera HTI sebagai
organisasi terlarang, perbuatan apa pun pada bendera itu akan dimaklumi.
Tapi jika opini publik masih meyakini bahwa itu adalah bendera tauhid,
repot juga.
Agak lambatnya respon aparat saya rasa karena memasukkan pertimbangan persepsi publik tersebut.
Kesan
yang ditangkap, aparat kita serba salah. Jika tidak disikapi dengan
keras, isu ini akan menjadi bola salju yang mengecewakan para kaum
nasionalis dan minoritas. Bukan apa-apa. Tindakan gerombolan ekstrimis
itu sudah di luar batas. Seperti sengaja menantang . Demo di Jakarta
kemarin malah sempat mendatangi kantor PBNU.
Di Poso malah lebih
gila lagi. Sekelompok orang dari FPI menurunkan bendera merah putih lalu
mengerek bendera HTI. Kejadiannya di depan kantor DPRD kota Poso.
Tindakan seperti itu jelas mengarah kepada perbuatan makar.
Secara
politik lemahnya respon aparat bisa berdampak pada kehilangan
kepercayaan masyarakat pada penegakan hukum. Padahal ini menjadi salah
satu titik kritik pemerintahan Jokowi oleh para pendukungnya.
Penanganan
yang lemah pada gerombolan HTI, bisa menambah sakit hati kelompok
minoritas. Setelah kejadian Ahok dan belakangan Meiliana di Sumatera
Utara, sepertinya hukum memang tidak berpihak kepada semua. Bayangkan
ada seorang pemimpin sebaik Ahok dihukum hanya karena kepleset omongan.
Atau seorang ibu dihukum hanya karena protes pada speaker masjid yang
bikin pekak.
Masalahnya jika aparat keamanan menggunakan
pendekatan yang lebih keras, risiko justru lebih besar lagi. Karena
pendekatan seperti itu akan memberi ruang penggiringan opini pemerintah
memusuhi Islam. Sasaran tembaknya adalah Jokowi.
Bukan hanya itu,
dengan kondisi yang semakin panas sangat berisiko menimbulkan gesekan
horizontal. Banser punya masa militan. Gerombolan HTI dan FPI juga sama.
Masyarakat terbelah. Sekali dipantik api mudah membakar. Konflik
horizontal membayang.
Jika sampai terjadi kesan yang terbangun
adalah pemerintah tidak mampu menjamin keamanan. Sebuah persepsi yang
sangat sensitif bagi kelompok minoritas dan para pengusaha.
Ujung-ujungnya mereka kehilangan kepercayaan pada Jokowi.
Kelompok
oposisi pasti akan mati-matian mempertahankan isu terus beredar. Sebab
jika suasana adem, bisa dipastikan mereka akan keok melawan petahana.
Satu-satunya cara adalah mengail di air butek.
Suasana ini memungkinkan menggerus dukungan teman-teman minoritas kepada Jokowi. Jikapun
gak pindah dukungan kemungkinan terbesar apatis, lalu golput.
Tapi ada satu hal yang lebih besar. Kekerasan membawa konsekuensi masuknya gerombolan dari luar untuk ikut bermain.
Kasus
Suriah atau Libya menandakan pola serupa. Ketika konflik awal tercetus,
orang-orang dari seluruh dunia berdatangan untuk ikut bermain di sana.
Akibatnya konflik berkepanjangan dan jadi multi dimensi.
Apalagi
kita tahu di Timur Tengah gerombolan teroris sudah mulai terpojok.
Mereka sedang mencari sarang baru untuk tetap eksis. Nah, di Asia selain
Mindanao Filipina, Indonesia juga salah satu lokasi yang memungkinkan.
Artinya
kita bisa pahami kenapa aparat sangat hati-hati bertindak. Suasananya
serba salah. Secara politik pilihan apa pun bisa dimainkan kaum oposisi
untuk menggerus suara petahana.
Memang. Jika orang
gak punya prestasi, bawaannya mau rusuh melulu. []
*Eko Kuntadhi Pegiat Media Sosial
Kepolisian RI membenarkan adanya
peristiwa pengibaran bendera hitam di halaman gedung Dewan Perwakilan
Rakyat Daerah (DPRD) di Kabupaten Poso, Sulawesi Tengah dan Lapangan
Sintuwu Maroso dalam aksi bela bendera tauhid. Peristiwa itu terjadi
pada 26 Oktober sekitar pukul 13.30 WITA. (Foto: Screenshot video viral)
Sumber Berita :
https://www.tagar.id/aparat-gamang-masa-depan-indonesia-jadi-taruhan
HTI Menginjak-injak Hukum
Oleh: Eko Kuntadhi*
Sepertinya hukum tunduk
diinjak-injak kelompok ekstrim. UU dan pengadilan telah secara sah
membubarkan HTI sebagai ormas. Demi hukum, seharusnya apa pun yang
menjadi atribut dan aktivitas organisasi terlarang ini adalah
pelanggaran.
Begitulah logika formal hukumnya.
Apalagi
Hizbut Tahrir (HT) sebagai organisasi induk HTI adalah organisasi yang
punya jejak berdarah di berbagai negara dunia. Rakyat Libya jelas
merasakan bagaimana jaringan HT mengompori kekacauan yang pada akhirnya
menjatuhkan rezim Khadafi.
Negara Afrika yang tadinya terhitung
paling makmur, kini menjadi negara paling beringas dan kacau. Pengganti
Khadafi adalah boneka. Rakyat sengsara dan sumber daya Libya dikeruk
habis oleh korporasi raksasa AS.
Di banyak negara Hizbut Tahrir
juga meninggalkan jejak melakukan kudeta. Wajar saja jika keberadaan
organisasi sempalan Ikhwanul Muslimin ini diharamkan. Saudi Arabia dan
Turki mengkategorikan HT sebagai organisasi teroris. Malaysia dan
Singapura juga melarang mereka berdiri.
Baca juga: Insiden Pembakaran Bendera, JK Ajak Seluruh Masyarakat Menahan Diri
Sayangnya
selama 10 tahun pemerintahan SBY, organisasi penyuplai teroris ini
dibiarkan bebas bergerak. Mereka membesar di berbagai kota. Kota-kota
yang sejak dulu akrab dengan ideologi DI/TII adalah basis HTI. Perubahan
Barat merupakan salah satu tempat subur kelompok ini.
Kenapa HTI
dilarang UU? Karena tujuan mereka mau menghancurkan Indonesia. Mau
meluluhlantakan bangsa ini, dan mengubahnya hanya menjadi lingkungan
sekelas kelurahan. Sebab tujuan mereka mengangkat seorang pemimpin
(Khalifah) dan Indonesia harus tunduk patuh di dalamnya.
Siapa Khalifahnya?
Gak jelas. Di mana dia berada?
Gak tahu. Apa kreterianya,
mbuh!
Jadi
negeri yang telah diperjuangkan oleh darah para pahlawan, oleh mereka
ingin dirusak begitu saja. Dirobohkan. Dipaksa tunduk pada kekuasaan
Khalifah yang belum diketahui siapa.
Orang waras manapun pasti menolak konsep amburadul tersebut.
Mereka
berlindung di balik nama agama untuk menyorongkan niat busuknya.
Padahal sampai sekarang tidak ada satu negara pun yang bisa menjadi
bukti Hizbut Tahrir sukses membangun kesejahteraan masyarakat. Masa'
sih, kita mau diajak ke sebuah sistem yang belum pernah ada bukti
keberhasilannya sama sekali.
Tidak ada negara yang secara sadar
mau mengikuti arah Hizbut Tahrir. Itu sama saja bunuh diri. Mana ada
negara yang rela eksistensinya dihilangkan begitu saja dari peta dunia.
Indonesia
juga negara rasional. Mana mau mengikuti seruan berbungkus agama
padahal cuma mimpi siang bolong. Jadi secara hukum sangat wajar jika
Indonesia melarang oraganisasi yang tujuannya mau menghancurkan bangsa
ini. Sama seperti Anda yang pasti menghalau perampok yang mau merampok
rumah Anda.
Harusnya ketika palu hakim sudah diketuk dan UU sudah
disahkan, semua sepak terjang HTI diharamkan. Diberangus. Dihancurkan.
Itulah cara menegakkan hukum.
Tapi apa yang terjadi. Di Garut,
anggota Banser sedang melaksanakan perayaan hari santri. Seorang
simpatisan HTI mengibarkan bendera itu. Tentu ini mengundang kemarahan.
Banser merampas bendera itu lalu dibakar.
Kenapa bendera itu
diberangus? Sebab semua warga negara tidak ada yang rela perampok
mengibarkan bendera kelompok rampok di rumahnya.
Tapi isu soal itu
digoreng. Kebetulan bendera HTI mirip dengan bendera ISIS dan Alqaedah,
semuanya menggunakan kalimat tauhid sebagai simbol. Nah, dengan itulah
kelompok ini membodohi rakyat untuk memprotes Banser.
Tapi Indonesia saat ini menjelang Pilpres. Akhirnya suasana politik itu juga yang menghangatkan suasana.
Kita tahu, jika berpikir sehat, Pemilu semestinya menjadi ajang setiap calon untuk menjajakan ide dan gagasan. Untuk menawarkan
track record
dan kemampuan. Untuk menampilkan visi misinya. Rakyat yang waras akan
memilih pemimpin berdasarkan pertimbangan siapa di antara mereka yang
paling mampu dan kapabel.
Tapi sialnya, ada satu Capres yang memang
gak punya prestasi untuk ditonjolkan.
Gak punya
track record yang baik. Lahir dari seorang bapak yang pernah mengkhianati NKRI dengan pemberontakan PRRI/Permesta.
Jika saja dia bertarung dalam suasana normal, pasti rakyat akan malas dipimpin oleh orang yang
gak punya
prestasi untuk ditawarkan. Karena itu jalan satu-satunya untuk menang
adalah dengan menunggangi kekacauan. Semakin besar kekacauan akan
semakin bagus. Semakin besar peluangnya untuk menang.
Di sinilah
dua kepentingan bertemu. HTI memang berharap Indonesia hancur. Sementara
pendukung Capres minim prestasi juga berharap terjadi kekacauan.
Wajar
saja jika demo membela bendera HTI juga diselingi oleh teriakan ganti
Presiden. Para pengacau bertemu di sini untuk kerusuhan Indonesia.
Ketika
organisasi terlarang sekelas PKI terang-terangan menunjukkan kekuatan,
sementara aparat hukum diam saja. Ini adalah kecelakaan. Bagaimana
mungkin aparat yang di tangannya diserahkan penegakkan hukum tunduk pada
HTI. Bagaimana mungkin di depan hidung aparat mereka memamerkan
kekuatan dengan mengibarkan bendera ormas terlarang itu.
Kita
tahu. Bahwa isu agama memang masih sensitif di Indonesia. Jika salah
penanganan akan membahayakan masa depan bangsa ini. Tetapi mendiamkan
saja organisasi itu berbuat semau-maunya sama saja dengan membiarkan
hukum diinjak-injak.
Polisi, TNI dan seluruh perangkat hukum
semestinya adalah lembaga yang paling depan menegakkan hukum. Kalau palu
pelarangan sudah diketuk, jangan lagi membiarkan mereka berbuat
semaunya.
Tanpa hukum yang tegas, bangsa ini tidak akan beranjak
maju. Para pengacau akan terus memanfaatkan kelemahan kita. Apalagi
dengan membawa-bawa agama.
Sebagai komponen bangsa yang mencintai
tanah airnya tindakan anggota Banser yang memberangus bendera organisasi
terlarang rasanya sudah pas. Jika tidak ada yang mencegah kelompok HTI
berulah, masa depan negeri ini akan jadi taruhannya.
Jika aparat diam, rakyat akan terus menghalau setiap gerakan yang ingin menghancurkan NKRI.
Tidak ada tempat buat para perusuh. []
Atribut Hizbut Tahrir Indonesia (HTI). (Foto: Detik/Mindra Purnomo)
Sumber Berita :
https://www.tagar.id/hti-menginjakinjak-hukum
Empat Tuduhan Palsu yang Terus-menerus Dihantamkan pada Jokowi
Surabaya, (Tagar 29/10/2018) - Calon presiden nomor urut 01 Joko
Widodo (Jokowi) meminta kader NasDem agar dapat menjelaskan berbagai
pertanyaan rakyat jelang Pemilu 2019.
"Saya ingin menyampaikan
isu-isu ini untuk menjawab pertanyaan-pertanyaan di masyarakat. Sering
sekali masyarakat banyak yang bingung ada isu-isu, adanya perang isu.
Tapi, kalau kita bisa menjelaskan secara baik dan benar dan bisa
diterima masyarakat, akan sangat gampang kita masuk dan berkomunikasi
dengan rakyat," kata Jokowi di Surabaya, Minggu (28/10) mengutip kantor
berita
Antara.
Jokowi menyampaikan hal tersebut dalam
acara apel siaga pemenangan Partai NasDem Jatim di JX International
Convention and Exhibition Surabaya.
Baca juga: Unggul di Survei, Jokowi Minta Tim Suksesnya Jangan Terlena
Berikut
ini empat tuduhan palsu yang terus-menerus dihantamkan pada Jokowi.
Tuduhan yang salah yang terus diulang oleh lawan politiknya dalam
kampanye hitam.
1. Antek Asing
"Pertama berkaitan dengan antek asing, Presiden Jokowi antek asing, benar
ndak? Ada (yang bicara begitu),
ndak
perlu saya sampaikan. Jadi, ada blok besar namanya blok Mahakam yang
dikelola Perancis dan Jepang, sekarang 100 persen di Pertamina. Kedua,
blok besar blok Rokan juga diserahkan 100 persen ke Pertamina. Ada
Freeport sudah
head agreement bahwa kita akan mendapatkan 51,2
persen yang sebelumnya 9,3 persen. Pertanyaannya adalah, antek asingnya
di mana? Ini harus bisa dijelaskan oleh bapak ibu saudara sekalian,"
jelas Presiden.
2. Jutaan Tenaga Kerja Tiongkok
Isu
kedua adalah mengenai ada lebih dari 10 juta tenaga kerja Tiongkok di
Indonesia. Menurut Jokowi hal itu adalah berita bohong alias hoaks.
"Kita
sampaikan bahwa 10 juta itu adalah tanda tangan kita dengan Tiongkok
untuk turis. Turis bukan tenaga kerja asing, karena ada 180 juta turis
dari Tiongkok yang menjadi rebutan negara di seluruh dunia, kita tanda
tangan komitmennya minimal 10 juta turis akan datang ke Indonesia,"
ungkap Jokowi.
Tenaga kerja dari Tiongkok di Indonesia menurut
Jokowi berjumalh 24 ribu orang, justru Tenaga Kerja Indonesia yang di
Tiongkok ada 80 ribu.
"Artinya di sana antek Indonesia, jangan
dibalik, ini harus dijawab dengan jelas. Jangan bohongi rakyat dengan
data yang ngawur, itulah makanya kemarin saya bilang politikus sontoloyo
yah yang seperti itu," tambah Jokowi.
3. Anggota PKI
Isu
ketiga terkait dengan isu bahwa dirinya adalah anggota Partai Komunis
Indonesia (PKI). Jokowi kembali menegaskan bahwa ia lahir pada 1961, dan
pada 1965 PKI sudah dibubarkan. Sehingga gambar yang menunjukkan
pemimpin PKI pada 1955 yaitu DN Aidit berpidato dan ada juga gambar
Jokowi adalah hoaks.
"Saya lahir saja belum, inilah yang saya smpaikan cara seperti ini politik sontoloyo," ungkap Jokowi.
4. Kriminalisasi Ulama
Isu keempat terkait dengan kriminalisasi ulama.
"Ulamanya
mana yang dikriminalisasi? Suruh sebutkan yang dikriminalisasi itu yang
mana? Tiap hari saya bareng ulama, tiap minggu saya ke pesantren,
sekarang cawapres kita topnya ulama Indonesia, Ketua MUI," jelas Jokowi.
[]
Presiden Joko Widodo (kanan) menerima
kunjungan Menteri Luar Negeri Arab Saudi Adel al-Jubeir (ketiga kiri) di
Istana Bogor, Jawa Barat, Senin (22/10/2018). Menlu Arab Saudi
mengunjungi Indonesia untuk melakukan pertemuan empat mata dengan Menlu
Retno Marsudi membahas isu terorisme, politik, keamanan, ekonomi,
energi, pariwisata dan perhubungan. (Foto: Antara/Puspa Perwitasari)
Sumber Berita :
https://www.tagar.id/empat-tuduhan-palsu-yang-terusmenerus-dihantamkan-pada-jokowi
Bagaimana Hizbut Tahrir (HTI) Menipu dan Memecah Belah Umat Islam?
Hizbut Tahrir (HTI) adalah partai politik (hizbun siyasiyyun). Hizbut
Tahrir (HTI) adalah gerakan kekuasaan. Mereka punya tujuan, mendirikan
Negara Khilafah versi mereka. Membangun Negara Islam yang sesuai selera
mereka.
Hizbut Tahrir Tidak Peduli Pengabdian pada Umat Islam
Hizbur Tahrir (HTI) tidak pernah peduli akan dakwah Islam dan
tegaknya agama Islam, yang mereka pedulikan hanyalah tegaknya sistem
kekuasan mereka.
Hizbut Tahrir (HTI) tidak peduli mengabdi kepada umat Islam, makanya
mereka tidak pernah membangun madrasah, pesantren, universitas, masola,
masjid, yayasan sosial dan kegiatan amal lainnya.
Islam bagi Hizbut Tahrir (HTI) bukan ladang pengabdian tapi sekadar alat kekuasaan.
Ini fakta yang tidak bisa mereka bantah.
Modus Penipuan Hizbut Tahrir
Lantas bagaimana mungkin tujuan mereka berhasil tanpa mengabdi terlebih dahulu kepada umat Islam?
Mereka menggunakan strategi penipuan. Modus penipuan adalah melakukan
kebohongan untuk memperoleh keuntungan pribadi tapi dengan merugikan
kelompok lain.
Siapa yang dirugikan di sini oleh Hizbut Tahrir? Islam dan umat Islam.
Islam dirugikan karena Hizbut Tahrir menjalankan strategi penipuan menggunakan ajaran dan simbol Islam sebagai modus penipuan.
Hizbut Tahrir menggunakan istilah: khilafah, negara Islam, syariat
Islam, bendera Rasulullah, Kalimat Tauhid namun tujuan mereka yang
sesungguhnya adalah meraih keuntungan dengan tegaknya sistem kekuasaan
yang mereka inginkan, yakni: sistem khilafah versi mereka yang
direncanakan oleh Taqiyuddin An-Nabhani, sejak tahun 1953, bukan sistem
khilafah yang dikenal dalam sejarah Islam.
Kita harus membedakan antara Sistem Khilafah yang dikenal dalam
sejarah Islam dengan sistem khilafah yang dirancang oleh Taqiyuddin
An-Nabhani tahun 1953. Nama bisa disama-samakan, tapi sistem dan isi
jelas berbeda. Nah menyamakan sistem khilafah yang dirancang oleh
Taqiyuddin tahun 1953 tapi disamakan dengan khilafah dalam sejarah Islam
adalah salah satu modus penipuan yang dilakukan oleh Hizbut Tahrir
(HTI).
Umat Islam dirugikan oleh Hizbut Tahrir karena ajaran dan simbol
Islam dipakai sebagai alat menipu untuk kepentingan kekuasaan mereka.
Hizbut Tahrir juga membuat kekacauan (fitnah), perpecahan dan adu
domba antar umat Islam. Saat mereka membajak kalimat tauhid untuk
bendera politik mereka, yang tujuan mereka melakukan politik makar,
kemudian ada reaksi pelarangan, Hizbut Tahrir pun menyebar kebohongan
dan fitnah: Islam telah dilarang, kalimat tauhid telah dilarang.
Padahal yang menolak Hizbut Tahrir justeru mayoritas umat Islam.
Mayoritas umat Islam bukan menolak Islam dan Tauhidnya yang dibajak oleh
Hizbut Tahrir tapi menolak politik makar mereka.
Tetapi kalangan umat Islam yang awam dan lugu yang terpancing dan
menelan fitnah dan kebohongan Hizbut Tahrir (HTI) bereaksi berdasarkan
kebohongan dan fitnah Hizbut Tahrir (HTI): Islam dilarang, Tauhid
dilarang, padahal sekali lagi, yang dilarang adalah politik makar Hizbut
Tahrir (HTI) dan pembajakan mereka atas ajaran dan simbol Islam untuk
tujuan politik makar.
Akhirnya, Hizbut Tahrir (HTI) pun berhasil memantik perselisihan dan
perpecahan di kalangan umat Islam, berdasarkan kebohongan dan fitnah
yang mereka sebarkan. Persis kelakuan kaum Munafiq di zaman Rasulullah
Saw yang mempengaruhi dan membuat perselisihan di kalangan umat Islam.
Di zaman Rasulullah Saw saja strategi kaum Munafiq ini bisa berhasil
(meskipun selanjutnya terbongkar dan gagal), apalagi di zaman kita ini.
Semestinya kalau kita sadar akan hakikat dan tujuan Hizbut Tahrir ini
yang menurut pengakuan mereka sendiri sebagai organisasi/partai politik
(hizbun siyasiyyun) yang bertujuan kekuasaan, dan tidak pernah
melakukan kerja-kerja pengabdian pada umat Islam (tidak bangun madrasah,
pesantren, sekolah dll), harusnya kita sudah mengeluarkan Hizbut Tahrir
dari kategori organisasi kemasyarakatan Islam.
Kerja-kerja Hizbut Tahrir pada umat Islam bukan pengabdian, pelayanan
dan khidmah (mereka tidak pernah mengajari mengaji, tidak peduli pada
pendidikan, pelayanan sosial dll) tapi kerja Hizbut Tahrir adalah
memprovokasi umat Islam untuk demo, membentuk opini dan propaganda,
indoktrinasi politik dan ideologi mereka.
Bangsa Arab Tidak Bisa Ditipu oleh Hizbut Tahrir
Di tanah Arab dan di bangsa Arab serta di semua negara-negara Arab,
Hizbut Tahrir sudah dilarang, karena mereka tidak bisa menipu bangsa
Arab, yang mengerti bahasa Arab, mengerti Islam, baik ajaran dan
sejarahnya, sehingga tidak termakan kebohongan, fitnah dan penipuan
Hizbut Tahrir (HTI).
Hizbut Tahrir gagal mengasong dagangan kekuasan mereka yang dibungkus
istilah-istilah Arab dan klaim-klaim keislaman di bangsa Arab. Hizbut
Tahrir adalah organisasi politik yang bertujuan politik makar, tapi
menggunakan penipuan atasnama Islam sebagai modus operandinya. Bangsa
Arab tidak tertipu. Mereka marah atas kebohongan dan penipuan Hizbut
Tahrir dan melarang keras.
Kaum Santri Tidak Bisa Ditipu oleh Hizbut Tahrir (HTI)
Di negeri kita yang tercinta ini, Hizbut Tahrir (HTI) tidak bisa
menipu kaum santri khususnya yang memiliki pengetahuan keislaman dan
bahasa Arab yang mendalam. Ibaratnya mereka buka kursus berenang untuk
ikan, atau buka kursus terbang untuk burung.
Para santri tidak terkecoh dan bisa ditipu oleh Hizbut Tahrir (HTI)
yang sudah mengaku sebagai partai politik (hizbun siyasiyyun) yang
bertujuan kekuasaan meskipun menggunakan ajaran dan simbol sebagai
kedok. Justeru kaum santri pula yang membongkar kedok dan kebohongan
propaganda Hizbut Tahrir (HTI). Ibaratnya Hizbut Tahrir (HTI) mau
menjual sirup gula yang diberi cap “madu asli” kepada petani dan ahli
madu. Kebohongan dan penipuan pun terbongkar!
Bagaimana mungkin Hizbut Tahrir (HTI) bisa mengaku paling cinta
tauhid hanya dengan menjadikan kalimat tauhid sebagai bendera yang cuma
ditenteng-tenteng, dipajang dan diarak waktu demo pada kalangan santri
yang menegakkan kalimat tauhid di pesantren, madrasah, masjid, musola,
majelis zikir, majelis sholawat, pengajian, tahlilan dan lain-lain
sebagainya. Ibarat anak yang mengaku paling mengabdi pada orang tua tapi
cuma memegang fotonya saja.
Semoga Allah Swt melindungi negeri kita dan umat Islam dari tipu daya dan kebohongan Hizbut Tahrir (HTI). Amin
Mohamad Guntur Romli
Sumber Opini :
http://www.gunromli.com/2018/10/bagaimana-hizbut-tahrir-hti-menipu-dan-memecah-belah-umat-islam/
Bakar Bendera HTI, Banser Punya Dalil, Kalau Kalian Nginjak “Bendera
Tauhid”, Masukin Got dan Keleleran di Kaki, Apa Dalil Kalian?
Bendera HTI memang ada kalimat Tauhidnya. Ini tak usah dibantah.
Kenapa dibakar oleh Banser? Karena kalimat tauhid itu sudah dirusak oleh
kepentingan politik makar, sehingga untuk menyelamatkan dan memuliakan
kalimat Tauhidnya dengan dibakar, agar tidak disalahgunakan.
Apa dalilnya?
Banyak.
Diqiyaskan ke Nabi Muhammad Saw yg menghancurkan “masjid Dhirar”.
Apakah Nabi tidak mau memuliakan masjid itu? Apakah Nabi tidak sayang2
pada masjid itu? Bukan ini alasannya. Karena masjid itu dibuat untuk
tujuan rusak. Maka, dihancurkan.
Dari Sayyidina Utsman juga yg membakar mushhaf2 Quran yg tdk seusai
standar & rusak, padahal di situ jelas2 ada ayat-ayat Al-Quran.
Apakah Sayyidina Utsman tidak mau memuliakan ayat-ayat Qur’an yg ada di
Mushhaf2 itu? Bukan itu alasannya, agar tidak disalahgunakan dan bisa
merusak kalau dipakai Mushhaf2 yg tidak sesuai standar.
Dan lain-lain dalilnya.
Sekarang aku mau tanya: lantas kalian yang menginjak bendera yang ada
kalimat Tauhidnya, dibiarkan keleleran di tanah dekat dgn kaki dan
masuk got, apa dalilnya?
Begitu kah kalian memuliakan kalimat tauhid?
Saya lebih setuju cara Banser yang membakar bendera HTI meski di situ
ada kalimat Tauhidnya agar bendera ini tidak lagi disalahgunakan untuk
politik makar dan direndahkan seperti itu. Dan Banser punya dalil.
Kalian menginjak-injak kalimat tauhid selain tidak punya dalil jelas-jelas merendahkan!
Mohamad Guntur Romli
Sumber Opini :
http://www.gunromli.com/2018/10/banser-bakar-bendera-hti-punya-dalil-kalian-nginjak-bendera-tauhid-apa-dalilnya/
Banser Membakar Bendera HTI bukan Bendera Tauhid!
Pembakaran Banser di Garut terhadap bendera HTI memantik
kontroversi. Hari ini sedang didengungkan (buzzing) khususnya di Twitter
soal pembubaran Banser. Bagi saya, mereka yang membenci Banser dan
ingin membubarkan Banser cuma ada 2 kelompok. Pertama, PKI dan
antek-anteknya. Kedua, Teroris dan antek-anteknya. Nah kalau melihat
para pendengung (buzzer) di medsos yang kini ramai ingin membiarkan
Banser terafiliasi ke jaringan terorisme atau antek-antek terorisme.
Banser membakar bendera HTI sudah cara yang tepat. Benar
bendera HTI ada kalimat tauhidnya, tapi bendera yang ada kalimat
Tauhidnya tidak bisa disebut bendera tauhid. Bendera Saudi, bendera
Afghanistan, juga bendera-bendera jaringan teroris ada kalimat
Tauhidnya, seperti Al-Qaidah dan ISIS. Tapi bendera itu tidak bisa
disebut bendera Tauhid haruslah disebut dengan afiliasi politiknya.
Bendera Saudi, Bendera Afghanistan, Bendera ISIS, Bendera Al-Qaidah,
Bendera Hizbut Tahrir. Bagaimana cara membedakan bendera-bendera itu? Ya
harus belajar, agar kita tidak dibohongi oleh Hizbut Tahrir pakai
kalimat tauhid. Mereka yang menyalahgunakan kalimat tauhid untuk bendera
mereka yang ingin menggantikan Merah Putih dan mendirikan negara
Khilafah ala Hizbut Tahrir.
Mengapa pembakaran bendera HTI adalah cara yang tepat?
Karena ini sesuai dengan tradisi santri. Banser adalah santri, yang
menganalogikan pembakaran bendera HTI dengan pembakaran terhadap kitab
suci Al-Quran yang rusak dengan membakarnya. Tujuannya untuk memuliakan,
agar tidak disalahgunakan dan diinjak-injak. Ini menurut madzhab
Syafi’i, yang diikuti oleh Banser dan NU.
Imam As-Suyuthi, tokoh Syafi’iyah dalam kitabnya Al-Itqan fi Ulumil Quran
memberikan opsi dibakar ini, seperti halnya yang dilakukan oleh
Sayyidina Utsman terhadap beberapa kitab suci Quran yang rusak dan tidak
sesuai dengan standar dengan dibakar.
Ada opsi lain, menguburkannya. Ini pendapat mahzab Hambali,
dan tokohnya Ibn Taimiyah. Sementara Lembaga Fatwa Saudi Arabia yang
fatwanya diikuti oleh kalangan yang saat ini mendramatisir pembakaran
bendera HTI oleh Banser memperbolehkan dua opsi ini, baik dibakar dan
dikubur.
Kalau Banser sebelum membakar bendera HTI dengan
menginjak-injak ini kita patut marah, saya juga akan marah. Tapi dengan
Banser membakarnya seperti tradisi membakar Kitab Suci Al-Quran yang
rusak untuk memuliakan kalimat tauhid itu, maka ini sudah sesuai dengan
akhlak santri.
Penyalahgunaan simbol agama untuk tujuan kejahatan memang
harus dilawan, bahkan dihancurkan. Zaman Nabi Muhammad Saw, ada masjid
yang dihancurkan, karena tujuannya untuk merusak dan memecah belah umat.
Masjid ini disebut “Masjid Dhirar”. Nah, apa yang dilakukan oleh Hizbur
Tahrir dan Jaringan Teroris yang memakai simbol-simbol agama untuk
memecah belah dan merusak, persis kelakuan orang-orang munafik zaman
Nabi yang membangun “masjid Dhirar” dengan tujuan jahat, memecah belah
dan mencelakakan Nabi Muhammad Saw.
Maka jangan sebut bendera HTI, bendera ISIS, bendera
Al-Qaidah sebagai bendera tauhid. Sebutlah “bendera Dhirar”, bendera
yang merusak dengan menyalahgunakan simbol-simbol agama yang mulia untuk
tujuan jahat.
Untuk membendung dan melawan radikalisme yang
mengatasnamakan agama memang Banser sebagai benteng terakhir. Kalau
ormas-ormas lain, bahkan polisi atau tentara yang merampas bendera HTI,
pastilah akan diserang anti Islam, anti Tauhid.
Tuduhan itu tidak akan mempan ke Banser, santri-santri yang
sejak tahun 1930 sudah ditanamkan doktrin Hubbul wathan minal iman
(cinta tanah air bagian dari iman), sejak 22 Oktober 1945 sudah
ditanamkan doktrin, membela Kemerdekaan Republik Indonesia (meskipun
bukan negara Islam, bukan negara Khilafah) adalah kewajiban jihad setiap
muslim, dan yang mati membelanya disebut syahid.
Jadi kelompok apapun yang mau membubarkan NKRI dengan
memakai simbol apapun, mau palu arit (PKI), mau menyalahgunakan kalimat
tauhid yang mulia seperti yang dilakukan DI/TII, kelompok-kelompok
teroris dan Hizbut Tahrir, pastilah Banser yang ada terdepan melawannya.
Karena Banser dan NU, tidak menjadikan kalimat tauhid
sebagai bendera politik, apalagi politik makar, tapi tauhid yang
ditegakkan di pesantren-pesantren, di masjid-masjid, di musola-musola,
di pengajian-pengajian, di shalawat-shalawat, di tahlilan-tahlilan dll
nya.
Sayup-sayup saya mendengar sahabat-sahabat Banser yang dengan penuh keberanian dan keikhlasannya melantunkan Mars Banser
Izinkan ayah Izinkan ibu
Izinkan kami pergi berjuang
Dibawah kibaran bendera NU
Majulah ayo maju serba serbu (serbu)
Tidak kembali pulang
Sebelum kita yang menang
Walau darah menetes di medan perang
Demi agama ku rela berkorban
Maju ayo maju ayo terus maju
Singkirkanlah dia dia dia
Kikis habislah mereka
Musuh agama dan ulama
Wahai barisan Ansor serbaguna
Dimana engkau berada (disini)
Teruskanlah perjuangan
Demi agama ku rela berkorban
Mohamad Guntur Romli
Sumber Opini :
http://www.gunromli.com/2018/10/banser-membakar-bendera-hti-bukan-bendera-tauhid/
Bibi Aisha
SURAT UNTUK ADEKKU YANG CANTIK PENDUKUNG HTI
Adekku yang cantik pendukung
HTI..
Dek, apa kabar? Senang melihatmu
begitu atraktif mendukung Hizbut Tahrir. Adek pasti sama dengan sekian ratus
pendukung Hizbut Tahrir di seluruh dunia, bermimpi tentang indahnya negeri ini
ketika berada di bawah naungan khilafah.
Tapi coba abang ingatkan dulu
sebuah peristiwa...
Adek kenal wanita yang bernama
Bibi Aisha?
Bibi Aisha adalah gadis muda
cerdas yang tinggal di Afghanistan. Ia sebelumnya baik-baik saja sebelum
ayahnya berhutang pada organisasi Taliban. Taliban ini adalah pendukung
khilafah, sama seperti yang Hizbut Tahrir lakukan. Mereka punya keyakinan yang
sama.
Akhirnya Bibi Aisha dikawinkan
paksa pada usia 14 tahun, justru saat dia sedang menikmati masa remajanya. Dan
adek tahu apa yang terjadi pada Bibi Aisha? Dia dihajar habis oleh suaminya,
karena konsep khilafah yang mereka yakini tidak mengenal wanita sebagai
pendamping, hanya aksesori.
Bibi Aisha kabur dari suaminya
tetapi ia tertangkap. Dan tahu apa yang dialami Bibi Aisha, dek? Hidungnya yang
mancung dipotong oleh suaminya dan Bibi Aisha ditinggal dalam kondisi koma
karena kekurangan darah. Untunglah ia ditemukan oleh orang baik dan dilarikan
ke rumah sakit.
Wajah Bibi Aisha dengan hidungnya
yang hilang kemudian menjadi cover majalah Time tahun 2010 dan ia bercerita
tentang kehidupan di Afghanistan pasca penguasaan kelompok Taliban yang
meyakini negara Islam.
Penderitaan Bibi Aisha juga yang
diderita para wanita di Nigeria yang diculik oleh kelompok Boko Haram yang
meyakini konsep khilafah yang sama. Jangan tanya apa yang dilakukan ISIS kepada
wanita dan para gadis yang bahkan belum matang di Irak dan Suriah. Mereka
habis-habisan diperkosa..
Adekku yang cantik..
Adek harusnya bersyukur tinggal
di negeri tercinta ini. Negeri indah yang memuliakan wanita. Mendorong wanita
supaya bisa setara dengan pria. Memberikan pendidikan yang sama tanpa
membedakan siapa dia.
Banyak pahlawan wanita disini,
yang terkenal salah satunya adalah RA Kartini, yang berjuang untuk mendapatkan
sisi yang sama dengan para lelaki.
Adek bisa masih cantik dan bebas
bersuara karena konsep dan sistem Pancasila di negeri ini. Jika Indonesia
menjadi negeri Islam seperti yang adek dambakan, adek sudah pasti tidak bisa
turun ke jalan apalagi bersuara keras seperti sekarang yang adek lakukan. Adek
bisa-bisa sudah dikawinkan sejak dini dan harus patuh pada suami untuk tidak
boleh kemana-mana, bahkan untuk shopping keluar saja. Belum lagi mengalami
kekerasan..
Adekku yang cantik boleh-boleh
saja bermimpi tentang negara Islam, tetapi manakah di dunia ini yang sudah
menerapkan sistemnya? Belum ada, dek, karena mengerikan.
Bahkan negara sekelas Arab Saudi
saja masih monarkhi, dan dari penerapan syariat mereka wanita berada di kelas
dua. Mereka baru boleh menyetir mobil sendiri baru-baru saja. Bukan karena
Saudi menghormati wanita, tapi karena ekonomi mereka sedang berada pada titik
terendah dan penerapan supir untuk wanita membebani kas negara.
Jadi adek seharusnya cukup
bersyukur saja bahwa adek ada di tempat yang memuliakan wanita. Negeri
Indonesia adalah surganya. Tidak perlu ribut menggantinya dengan sistem yang
bahkan adek tidak mengerti dampaknya.
Mungkin Bibi Aisha dan banyak
wanita lain di dunia yang ditindas dengan sistem khilafah yang salah akan
berseru, "Hai cantik. Nikmat Tuhan manakah yang kau ingkari dengan hidup di
negeri seperti Indonesia ini? Lihatlah kami, diri kami ditindas setiap hari
karena kearoganan sebuah sistem yang menjadikan wanita sebagai aksesori.
Bersyukurlah, apakah tidak cukup bagimu semua ini?".
Adekku yang cantik, belajarlah
dengan baik. Jadilah wanita yang bisa mengangkat derajat dan harkat sesamamu
nanti. Tidak usah meributkan hal yang tidak kau mengerti. Biar kami yang
menjaga negeri ini dan cukuplah dirimu mendukung perjuangan kami menjaga
dirimu, kaum wanita sepertimu dan ibu pertiwi.
Salam dari abang Pendukung Secangkir Kopi
Ilustrasi
Re-Post by
MigoBerita / Senin/29102018/09.58Wita/Bjm