Arsip Migo Berita

Lagu Banjar "Viral Lagi" berkat Anak Muda "Banua Banjar" : Gawi Manuntung dan Waja Sampai Kaputing

JEF - Gawi Manuntung (Album 2019)

Setelah merilis album lagu banjar perdana-nya di tahun 2017, JEF, yang beranggotakan Niluh (Vocal 1), Winda (Vocal 2), Jefry (Keyboard), dan Eben (Gitar) kembali mengeluarkan album keduanya yang bertajuk "Gawi Manuntung". Album ini berisikan 11 lagu banjar yang menggabungkan nuansa ethnik tradisional dengan musik modern. Tujuan dari rilisnya album ini adalah, untuk mengenalkan kembali lagu banjar kepada masyarakat luas.
Benang merah yang menjadi ciri dari lagu-lagu di album ini adalah kebudayaan lokal. Sebagian besar lagu-lagu terinspirasi dari kegelisahan para personil JEF mengenai lingkungan dan kebudayaan sekitar yang ada di Kalimantan Selatan.




Lagu yang menjadi single andalan pada album ini adalah lagu "Gawi Manuntung". Lagu tersebut terinspirasi dari ungkapan banjar "gawi sabumi, gawi manuntung", yang berarti gotong royong dan kerja hingga tuntas. Gagasan dari lagu ini adalah ajakan kepada masyarakat Kalimantan Selatan untuk "gawi sabumi, gawi manuntung" memajukan budaya Kalimantan Selatan. Di penghujung tahun 2018, lagu "Gawi Manuntung" menjadi juara 1 dalam Lomba Cipta Lagu Pop Daerah Nusantara (LCLPDN) mengalahkan ratusan lagu daerah lainnya se-Indonesia.
Album ini tersedia dalam 2 bentuk, yakni CD fisik seharga Rp. 50.000, dan Digital Download seharga Rp. 25.000, dimana hasil keuntungan penjualan 100% akan didonasikan ke Sekolah Bawang Banjarmasin (sekolah khusus anak-anak tidak mampu). Untuk pemesanan bisa menghubungi langsung via WA ke 0896-9201-5685 (Anwari).












JEF:
Niluh Putu Ratna Wedhani (Vocal)
Winda Aldina Kesumawati (Vocal)
Jefry Albari Tribowo (Keyboard & Sequencer)
Irwansyah Noor (Guitar)                       

All Songs Composed & Arranged by: Jefry Albari Tribowo & Irwansyah Noor
Recording, Mixing, Mastering: JEF Music Production

Manager: Anwari Firdaus (0896-9201-5685), Budi Rakyat


iTunes:
Spotify:
Youtube:
 
https://youtu.be/L9a6lKhxkK8?list=PLaW0Uf0EII28lt8fp5V_JKNsq1i6CKR1h 
 

'Gawi Manuntung', Album dari JEF di Tahun 2019

Setelah merilis album lagu banjar perdana-nya di tahun 2017, JEF, yang beranggotakan Niluh (Vocal 1), Winda (Vocal 2), Jefry (Keyboard), dan Eben (Gitar) kembali mengeluarkan album keduanya yang bertajuk "Gawi Manuntung".
Album ini berisikan 11 lagu banjar yang menggabungkan nuansa tradisional dengan musik modern. Tujuan dari rilisnya album ini adalah, untuk mengenalkan kembali lagu banjar kepada masyarakat luas.
Benang merah yang menjadi ciri dari lagu-lagu di album ini adalah kebudayaan lokal. Sebagian besar lagu-lagu terinspirasi dari kegelisahan para personil JEF mengenai lingkungan dan kebudayaan sekitar yang ada di Kalimantan Selatan.
Lagu yang menjadi single andalan pada album ini adalah lagu "Gawi Manuntung". Lagu tersebut terinspirasi dari ungkapan banjar "gawi sabumi, gawi manuntung", yang berarti gotong royong dan kerja hingga tuntas. Gagasan dari lagu ini adalah ajakan kepada masyarakat Kalimantan Selatan untuk "gawi sabumi, gawi manuntung" memajukan budaya Kalimantan Selatan. Di penghujung tahun 2018, lagu "Gawi Manuntung" menjadi juara 1 dalam Lomba Cipta Lagu Pop Daerah Nusantara (LCLPDN) mengalahkan ratusan lagu daerah lainnya se-Indonesia.
Album ini tersedia fisik seharga Rp. 50.000, dan juga tersedia di platform digital seperti Itunes, Spotify dan lainnya, semua hasil keuntungan dari penjualan album ini 100% akan didonasikan ke Sekolah Bawang Banjarmasin, sebuah sekolah khusus di daerah Banjarmasin yang diperuntukkan bagi anak-anak kurang mampu.

https://youtu.be/L9a6lKhxkK8
Info: WA ke 0896-9201-5685 (Anwari).
 
 
https://www.youtube.com/watch?v=-HMyTQ9AgEc&index=3&list=PLaW0Uf0EII28lt8fp5V_JKNsq1i6CKR1h

Gawi Manuntung, Album Terbaru Grup Musik JEF

BARU saja sukses lewat album ‘Waja Sampai Kaputing’ yang dirilis tahun 2017 silam, grup musik Jefry, Eben, and Friends (JEF) kembali menelurkan album terbaru berjudul Gawi Manuntung. Peluncuran album digelar di Jungle Coffee Banjarmasin, Jum’at (28/12) malam. 
ALBUM dengan sampul anak kecil mengenakan kambang goyang dan kain sasirangan ini berisikan 11 lagu berbahasa Banjar. Sebagian karya sebelumnya sudah diunggah lewat saluran Spotify dan Youtube. Ambil contoh karya berjudul Meapung Mancari Razaki, Nanang Galuh Banjar, dan Lastari Bakantan, dan Rumah Bubungan Tinggi.
Jika ditengok, warna yang diusung Jefry CS lewat album Gawi Manuntung tetap sama dengan album sebelumnya: mengenalkan muatan lokal dengan cara nge-pop. Meski begitu, JEF tetap berupaya mempertahankan nafas lagu yang penuh dengan cengkok dan chord yang khas.
BACA: Jefry‘JEF’ Tribowo: Bikin Lagu Banjar Jadi Ngepop
“Seluruh hasil penjualan dari album ini akan kami sumbangkan untuk sekolah bawang yang berada di Kota Banjarmasin,” kata Jefry Albari Tribowo, frontman grup JEF.
Walikota Ibnu Sina pun turut berhadir menyaksikan peluncuran. Dia memberikan apresiasi atas kreativitas yang telah diberikan seluruh anggota grup band JEF. Secara khusus Ibnu memesan 300 keping album.
“Rencanannya, album JEF yang telah dipesan itu akan dibagikan saat launching event Banjarmasin Sasirangan Festival yang akan dilaksanakan pada Bulan Maret 2019,” tandas Ibnu Sina.
Usai agenda peluncuran, Jefry sekaligus memberi tahu bahwa dirinya akan pindah ke Surabaya untuk melanjutkan program pendidikan dokter spesialis dengan durasi rata-rata 3,5 tahun. Itu artinya, dia tak bakal ikut terlibat dalam JEF selama kurun waktu tersebut.
“Tapi, semoga saja, setelah selesai pendidikan saya bisa kembali ke Banjarmasin untuk memajukan dunia kesehatan dan musik daerah,” ujar alumnus Fakultas Kedokteran Universitas Lambung Mangkurat (ULM) ini.
 
 
https://www.youtube.com/watch?v=_siLTbvsj4I&list=PLaW0Uf0EII28lt8fp5V_JKNsq1i6CKR1h&index=4

Jefry‘JEF’ Tribowo: Bikin Lagu Banjar Jadi Ngepop

SEMPAT mengemuka perdebatan bagaimana seharusnya lagu Banjar dikemas, Jef justru merespons itu dengan tenang. Ia menganggap sudah saatnya musik khas daerah dikenalkan secara ngepop. Usahanya terbukti: lagu-lagu ciptaannya seperti “Ayo ke Banjarmasin”, “Waja Sampai Kaputing,” atau “Kayuh Baimbai” laku keras.  
JEF sebenarnya cuma panggilan beken. Nama lengkapnya Jefry Albari Tribowo. Lahir 4 Juni 1992 lalu, sejak bocah lelaki 26 tahun ini sebenarnya tak terlalu kepincut mendalami musik.
“Dulu, diminta keluarga saja. Pernah berulang kali ikut kursus. Dua sampai tiga tahun lalu berhenti,” ujarnya terkekeh ketika ditemui jejakrekam.com, Selasa (16/10/2018).
Kami wawancara pada studio musik milik Jefri. Kamar rekaman kecil-kecilan itu menyatu dengan kediamannya di Kompleks Citra Garden, Ahmad Yani KM 7, Kertak Hanyar, Kabupaten Banjar. Isinya penuh sederet penghargaan musik yang menempel dinding, instrumen musik seperti gitar akustik dan synthesizer, serta buku-buku musik. Melihat seisi ruangannya, sulit rasanya percaya bahwa Jef musisi ‘kemarin sore’.
Rupanya, gairah bermusiknya memang telah berubah saat perjumpaan dengan dunia produksi lagu. Sempat dua kali ikut kursus sejak 2013, dia langsung jatuh hati. Dari sana, tercetuslah gagasan memproduksi lagu-lagu Banjar dan ikut beragam lomba. Bersama grup musik yang juga dinamainya dengan embel-embel JEF. Singkatan dari Jefri, Eben and Friends (JEF).
“Sejak 2012, bersama teman saya Eben (Irwansyah Noor) bikin grup musik kecil-kecilan. Sering gonta-ganti vokalis gara-gara kalau ikut lomba, kalah terus. Tahun 2013, ketemu Niluh Putu Wedha Ridhani sebagai vokalis tetap. Lalu keterusan sampai sekarang,” ceritanya sambil terkekeh.
Awalnya, trio musisi muda itu cuma membuat dua lagu. Diberi judul Ayo ke Banjarmasin dan Kayuh Baimbai. Lirik dan struktur lagunya digagas oleh Jefri dan Eben. Manggung dari pementasan menuju pentas lainnya, tidak disangka respons masyarakat positif. Bahkan, lagu Kayuh Baimbai sempat menyabet juara lima besar pada Lomba Cipta Daerah Nasional Tahun 2014 silam.

Berhasil membawa lagu daerah menuju level nasional, nafsu Jefri mengkomposisi serta menulis lagu Banjar makin meledak-ledak. Lahirlah lagu-lagu Banjar berikutnya seperti Indah Bararatik, Kakanak Sungai Martapura, dan Angin Manyaru.
“Puncaknya dituangkan dalam album mini (Extended Play/EP) berjudul Bungas tahun 2016. Sempat dimainkan saat acara Pemkot Banjarmasin. Rupanya, Walikota Ibnu Sina juga suka. Kami ditantang bikin lagu berjudul Banjarmasin Baiman,” ceritanya.
Satu tahun kemudian, tantangan walikota lantas dijabani Jefry. Banjarmasin Baiman dikemas dengan nada optimistis. Sesuai judulnya, mengajak untuk menjaga kota ini supaya barasih wan nyaman (Baiman).
Lagu Banjarmasin Bungas juga menjadi salah satu lagu yang tercantum dalam album terbaru mereka: Waja Sampai Kaputing (Wasaka). Dirilis tahun 2017 silam, komposisi karya-karya terbaru dari Jef boleh dibilang lebih kaya. Kalau album mini Bungas kelewat nge-pop, Wasaka dihiasi instrumen-instrumen lokal seperti Panting dan Gamelan Banjar.
“Malah, satu lagu dari album itu dijadikan soundtrack resmi film Perang Banjar. Judulnya Waja Sampai Kaputing juga. Karena dianggap tim produksi sesuai dengan filmnya itu maka kami bersedia kolaborasi,” bebernya.
Apakah perjuangan Jefry tuntas saat pamornya melejit dan mendapat apresiasi dari pemerintah? Jelas jawabannya tidak. Jef bukan tipikal seniman yang menjilat. Apalagi cari untung. Sebagai bocoran, dia malah jarang menerima fee ketika karya-karyanya dipakai untuk keperluan komersial. “Asal mencantumkan nama komposer, tidak masalah,” bebernya.

Belakangan waktu, album kedua dari Jefry dan kawan-kawan tengah digodok. Diberi nama Gawi Manuntung. Sebagian single sudah dirilis lewat saluran Youtube. Ambil contoh, lagu berjudul Nanang Galuh Banjar, Rumah Bubungan Tinggi, dan Lastari Bakantan. “Kenapa dirilis satu-satu dulu? Kepengen mengikuti zaman saja. Sekarang sudah eranya memanfaatkan teknologi untuk memasarkan musik,” ucapnya.
Lantas, apa yang mendorong Jef bertahan memproduksi lagu-lagu Banjar sampai sekarang? Ini memang bentuk keprihatinannya. Melihat cipta karya lagu-lagu daerah semakin seret peminat. Sementara gempuran lagu-lagu dari luar secara serampangan sudah mempengaruhi generasi muda.
“Kalau seniman yang melakukan aransemen dan membawakan lagu banjar tempo dulu memang banyak. Tapi, kalau mencipta lagu Banjar? Itu masih sedikit. Hanya bisa dihitung jari. Saya mengambil jalur pop,” imbuhnya.
Dibilang Kurang Banjar, Direspons Santai

Perjalanan Jefry sebagai komposer lokal lagu daerah jelas tak luput dari kritik. Lebih dominan unsur genre pop, karya-karyanya pernah dinilai sebagian seniman sedikit meleset. Dari kebiasaan komposisi yang digunakan untuk lagu Banjar. Alias kurang banjar banar.
Namun, Jef merespons dengan santai. Toh, karya-karyanya juga masih kaya instrumen musik khas daerah serta masih membawa cengkok meski sebagian masih didominasi warna pop. Sebagai contoh, lagu Waja Sampai Kaputing, Banjarmasin Baiman, Angin Manyaru masih menuruti kebiasaan lagu Banjar.
“Kalau bicara pakem, kita bisa melihat Jogja Hip-Hop Foundation. Grup musik asal Yogyakarta membawakan lagu berbahasa Jawa dengan dengan gaya hip-hop. Itu saja bisa berhasil mendapatkan banyak penghargaan,” kata dia. Yang terpenting baginya, berkaryalah dengan jujur alias sesuai passion sendiri tanpa melupakan kebudayaan sendiri.
Tak bisa dibantah, menurut sebagian seniman dan ahli bahasa memang lagu Banjar masih menjadi perdebatan. Contohnya, saat pelaksanaan Diskusi Terbuka Karakteristik Lagu Banjar dan Lagu Berbahasa Banjar di Taman Budaya Kalsel, tahun 2016 silam. Menghadirkan Sirajul Huda (alm), Sirajudin, dan Riswan Irfani sebagai pemantik forum diskusi.
Ambil contoh, menurut seniman lokal Sirajul Huda. Lagu-lagu Banjar kekinian mulai kehilangan ruhnya. Ketimbang lagu Banjar sekarang, Huda mengibaratkan melahap lagu daerah belasan tahun silam seperti mendengarkan alunan air sungai yang mengayun dan menenangkan.
Lain lagi menurut Dino Sirajudin. Mantan Kepala UPTD Taman Budaya Kalsel ini lebih spesifik menuturkan lagu Banjar mesti memiliki pola cengkok. Selain itu menggunakan tangga nada diatonik plus note F1.  Ia bersandar pada analisisnya lewat lagu Lalan Sisip dan Pucuk Pisang.
Sementara, menurut Guru Besar Emeritus Universitas Lambung Mangkurat (ULM) Prof MP Lambut, lagu-lagu Banjar mestilah edukatif. Plus sesuai dengan norma-norma yang dianut oleh masyarakat lokal. Ini terlepas dari segi teknis maupun kebahasaan. “Saya sangat mengapresasi pencipta-pencipta lagu Banjar, bagaimanapun itu,” ucap pengajar FKIP ULM ini.

Singkirkan Sembilan Pesaingnya, Lagu Gawi Manuntung Milik Jefry Sabet Gelar Juara Nasional

 
BANJARMASINPOST.CO.ID, BANJARMASIN -
Grandfinal final Lomba Cipta Lagu Pop Daerah Nusantara (CLPDN) 2018 menjadi ajang pembuktian bagi musisi Banua untuk unjuk kebolehan, di Auditorium Abdurrahman Saleh RRI dan disiarkan di RRI, Kamis (6/12) malam.
Lagu daerah asal Banua berjudul Gawi Manuntung yang diciptakan musisi muda, Jefry Albari Tribowo atau biasa disapa Jef menyabet gelar juara I di ajang nasional tersebut.
Lagu Gawi Manuntung menyingkirkan sembilan lagu daerah lainnya dari para musisi seluruh Indonesia yang ikut bersaing.
Di ajang ini sedikitnya ada 108 lagu dari sejumlah provinsi ikut mendaftar.
Dari 108 lagu, terpilih 33 lagu pop daerah di babak penyisihan dan 10 lagu untuk maju ke babak final termasuk Gawi Manuntung dan lagu Siring Sungai milik rekan Jef, Irwansyah Noor.
"Alhamdulillah ya ini berkat doa semuanya termasuk warga Kalsel yang ikut mendoakan," kata Jef dihubungi Jumat (7/12/2018) pagi.
Pemuda kelahiran 4 Juni 1992 lalu ini menceritakan di grandfinal lagunya dibawakan penyanyi Rita Tila.
Sementara dewan juri yang menilai pun cukup mumpuni di bidangnya.
Mereka yakni Tokoh Musisi (Komposer, Pengarang lagu, Penyanyi professional), Pakar Olah Vokal, Sastrawan, Antropolog dan Pakar Dokumenter, Pemerhati Musik, Produser Rekaman Musik Studio yang diwakili Dwiki Dharmawan, Nyak Ubiet, Bens Leo, Eros Djarot, Sundari Sukotjo, Risky.
"Lagu daerah para finalis akan dibuatkan album lagu daerah dan bakal direkam ulang oleh Dwiki Dharmawan," kata Jef.
Banjarmasin post.co.id/Khairil rahim
Singkirkan Sembilan Pesaingnya, Lagu Gawi Manuntung Milik Jefry Sabet Gelar Juara Nasional
Jefry Albari Tribowo
Sumber Berita : http://banjarmasin.tribunnews.com/2018/12/07/singkirkan-sembilan-pesaingnya-lagu-gawi-manuntung-milik-jefry-sabet-gelar-juara-nasional

Re-Post by MigoBerita / Sabut/23022019/10.02Wita/Bjm

Hadapi dengan Senyuman dan Kangen bikin Dul Jaelani "DEWA 19" Menangis (VIDEO)

Pesan Maia Estianty Pada Dul Jaelani Sebelum Gantikan Ahmad Dhani di Konser Dewa 19 di Malaysia

BANJARMASINPOS.CO.ID - Maia Estianty berikan pesan untuk putra bungsunya, Dul Jaelani sebelum gantikan Ahmad Dhani di konser Dewa 19 di Malaysia.
Pesan Maia Estianty pada Dul Jaelani bukan hanya tentang kakaknya, El Rumi dan Al Ghazali, juga pada mantan suaminya, Ahmad Dhani dan Mulan Jameela.
Meski diketahui tak berhubungan baik, Maia Estianty tetap mengingatkan akan sosok Mulan Jameela pada sosok putranya, Dul Jaelani.
Pasca penahanan sang ayah di LP Cipinang beberapa waktu lalu, Dul Jaelani sibuk menggantikan peran ayahnya di dunia musik Indonesia.


Penahanan Ahmad Dhani yang telah dilakukan sejak Senin (28/1/2019) itu membuat konser Tribute to Dewa 19 harus ada tanpa sosok Ahmad Dhani.
Dikutip dari Grid.ID, anak bungsu Ahmad Dhani, Dul Jaelani yang akhirnya menggantikan sang ayah bersama band legendaris itu.
Baru-baru ini usai acara tersebut, Dul Jaelani yang ditemui oleh awak media bercerita tentang Mulan Jameela.
Dul mengatakan meski dia dulu dikecewakan oleh Mulan dahulu, kini ia mengaku ada perubahan positif pada Mulan.
Dul Jaelani mengaku ibu sambungnya itu kini berhijrah dan menjadi pribadi yang semakin baik.
Meski dulu sempat dikecewakan oleh Mulan lantaran menjadi orang ketiga dalam rumah tangga orangtuanya, kini tampaknya Dul sudah melupakan hal tersebut.

Ahmad Dhani diperiksa saat mengurus adminitrasi di rutan Cipinang, Jakarta Timur
Ahmad Dhani diperiksa saat mengurus adminitrasi di rutan Cipinang, Jakarta Timur (Dokumentasi Staf Rutan Cipinang)
"Mungkin dulu saya sempat kecewa sama Tante Mulan, tapi sekarang sudah enggak, ya," ucap Dul Jaelani saat ditemui usai mengisi acara Tribute to Dewa 19 di Gusto, Epicentrum Walk, Jakarta Selatan, Kamis (31/1/2019) dini hari, dikutip dari Grid.ID.
Dul mengatakan bahwa Mulan berubah menjadi pribadi yang lebih baik setelah memutuskan untuk berhijrah.
Anak bungsu Maia Estianty ini juga mengatakan kalau ibu sambungnya tersebut sudah tidak pernah lagi meninggalkan ibadah salat wajib.
"Tante Mulan sudah salat lima waktu. Saya kalau ke rumah ayah saya, selalu lihat Tante Mulan salat lima waktu," kata Dul Jaelani.
Seperti yang sudah kita tahu, Mulan Jameela sekarang memilih menutup rapat tubuhnya dalam balutan busana muslim syar'i.
Dul memandang hal tersebut sebagai perubahan Mulan Jameela menuju sesuatu yang lebih baik.

Mulan Jameela temani Ahmad Dhani saat divonis
Mulan Jameela temani Ahmad Dhani saat divonis (Tribunnews.com)
"Sekarang juga berhijab, semoga hatinya juga terhijab dan saya lihat Tante Mulan Jameela berdoa," kata Dul.
"Ya lihat Tante Mulan kembali ke jalan Allah," imbuhnya.
Meskipun begitu, perubahan diri Mulan Jameela sepertinya tidak membuat warganet berhenti menghujani perempuan 39 tahun ini dengan hujatan.
Akan tetapi, Dul memilih untuk tidak menghiraukannya.
"Positive thinking saya itu adalah jalan yang memang Allah kehendaki, bukan jalan netizen yang ngawur itu," ungkapnya.
Dul Jaelani juga sempat mengenang nasihat dan pesan Maia Estianty kepadanya beberapa waktu lalu.
Dul Jaelani diberi pesan ibunya, Maia Estianty untuk selalu mendoakan keluarga besar mereka.
"Bunda bilang untuk banyak doa untuk keselamatan keluarga, keselamatan Ayah, keselamatan Kakak Al dan Kakak El, Bunda juga nyuruh doain Tante Mulan juga, doain untuk adik-adik.
Saya juga minta keluarga saya dijadikan keluarga yang harmonis, yang dekat denganmu Ya Allah. Jangan jadikan keluarga kami golongan yang Engkau murkai," tandas Dul, seperti dikutip TribunJatim.com dari kanal YouTube ESGE Entertainment, (22/1/2019) lalu.

Maia Estianti bersama El dan Dul di Masjidil Haram
Maia Estianti bersama El dan Dul di Masjidil Haram (instagram/maiaestiantyreal)
Nasihat tersebut didapatkan Dul saat ia dan ibunya ke Tanah Suci bersama Al Ghazali untuk laksanakan ibadah umrah.
Seperti diketahui, Dul Jaelani, Maia Estianty dan Al Ghazali bertolak dari Indonesia menuju Tanah Suci pada 8 Januari 2019 lalu, tepat jauh sebelum momen Ahmad Dhani divonis hukuman.
Ketiganya melaksanakan ibadah umrah tanpa ditemani oleh Irwan Mussry dan anak kedua Maia, El Rumi.
Dikutip dari TribunJabar, Dul Jaelani memang memanjatkan dia di Tanah Suci berisi harapan untuk keluarganya tetap harmonis dan bahagia.
"Kalau kebahagiaan doa masing-masing tapi saya berdoa agar keluarga saya harmonis, yang bahagia," katanya.
Dul Jaelani juga sempat menangis di depan Kakbah saking terharunya.
"Al sempat nangis di depan Kakbah dan saya terharu, saya juga sempat nangis," ujarnya.
Momentum ke Tanah Suci juga dimanfaatkan Dul Jaelani untuk menghabiskan waktu bersama Maia Estianty.
Sebab hal tersebut susah dilakukan di Jakarta karena terhalang kesibukkan masing-masing.
"Jalan-jalan berdua kan di Arab harus sama yang mukhrim. Jadi kalau bunda mau belanja kurma untuk oleh-oleh, saya temani. Kan jarang terjadi di Jakarta," kata Dul Jaelani.
Adapun Dul Jaelani mengaku senang dapat diberi kesempatan beribadah bersama sang bunda.
"Saya alhamdulillah diberi kesempatan oleh Tuhan yang Maha Esa untuk tawaf sunnah bersama bunda saya," ucap Dul Jaelani.
Sumber Youtube : https://youtu.be/_yhPFUfFvAo

Sumber Youtube : https://youtu.be/XRiENauHkrE

Sumber Youtube : https://www.youtube.com/watch?v=_jmZRp_bh9Y
Pesan Maia Estianty Pada Dul Jaelani Sebelum Gantikan Ahmad Dhani di Konser Dewa 19 di Malaysia
Instagram/@duljaelani
Ahmad Dhani, Dul Jaelani dan Maia Estianty
Sumber Berita : http://banjarmasin.tribunnews.com/2019/02/03/pesan-maia-estianty-pada-dul-jaelani-sebelum-gantikan-ahmad-dhani-di-konser-dewa-19-di-malaysia?page=all

Re-post by MigoBerita / Senin/04022019/11.01Wita/Bjm

Inilah penyebab "Tidak Berhasilnya" model penataan trotoar di sepanjang jalan protokol Achmad Yani Banjarmasin

Menyorot Model Penataan Trotoar Kota Banjarmasin (1)

Oleh : Subhan Syarief

ERA Ibnu Sina, sang walikota termuda sepanjang sejarah kepemimpinan Kota Banjarmasin adalah era gemerlap atau semaraknya kota. Kota Banjarmasin dipoles dengan berbagai kebijakan penataan yang membuat kota ini tampil semarak dan bahkan berkesan glamor. Kota terlihat menjadi berseri, bercahaya dan dibuat ceria melalui gebrakan sosialisasi di media sosial alias dunia maya.
BERBAGAI gebrakan kerja kota walaupun hanya sekadar menjamu tamu, selalu dikemas tampilan semarak di media sosial. Era ini adalah zaman now, era di mana dunia maya menjadi pilihan utama dalam menyampaikan dan menyosialisasikan pesan dan peran walikota agar masyarakat atau publik menjadi terkesan.


Era revolusi sistem informasi atau revolusi 4.0 ini telah menjadi konsumsi utama bagi pegiat dan pengguna medsos dalam aktivitas kehidupan sosialnya sehari-hari.
Di dunia maya, berbagai program dari Kota Banjarmasin memang paling banyak informasi yang disampaikan, terkesan selalu dikemas  penuh dengan keindahan , tepat sasaran dan bahkan juga selalu dikatakan telah berhasil.
BACA :  Dana 12 M Dikucurkan, Lanjutan Proyek Penataan Trotoar A Yani Tunggu Pemenang Lelang
Semisal saja bagaimana penataan trotoar sepanjang Jalan Achmad Yani menjadi salah satu kebanggaan atau keberhasilan kota ini. Utamanya, memberi kemudahan dan kenyamanan bagi masyarakat kota , termasuk penyandang disabilitas saat melakukan aktivitas berjalan di trotoar tersebut.
Padahal, bukan begitu fakta di lapangan. Coba saja untuk dicermati, maka gambaran keberhasilan yang diungkapkan tersebut tidak lagi terlihat jelas , bahkan condong menjadi sumir.
Dengan biaya hampir Rp 10 miliar , di pertengahan tahun 2018 mulai trotoar kawasan Jalan Achma Yani dibenahi.  Hanya saja, pembenahan tidak selancar seperti yang diangankan. Bahkan, jauh beda dari model yang direncanakan. Kesulitan di tahap pelaksanaan dipastikan menjadi penyebab utama mengapa cita-cita untuk membuat trotoar jalan yang asri, ramah bagi pejalan kaki terutama penyandang disabilitas, terkesan tak sesuai harapan.
BACA JUGA :  Demi Trotoar A Yani, Pohon Palem Ditebang, Sungai Dijamin Tak Dikorbankan
Sebaliknya, terlihat terkesan dikerjakan asal jadi saja. Banyak lebar trotoar terpasang tidak seperti yang direncanakan. Lebarnya sangat minim, hanya ada di kisaran satu meteran. Bahkan ada yang lebarnya di bawah satu meter. Tentu dengan kondisi itu hampir dipastikan tidak akan bisa memberikan keamanan dan kenyamanan para pejalan kaki. Belum lagi, bila digunakan sebagai jalur bagi penyandang disabilitas.
Bayangkan saja dengan hanya lebar satu meter, mesti dilalui para penyandang disabiltas misalnya tunanetra ataupun mungkin yang mengunakan kursi roda. Bagaimana cara mereka berjalan, bila ternyata ada yang saling berpapasan. Bukankah ini tidak memberikan jaminan kenyamanan serta keamanan?
BACA JUGA :  Kaum Difabel Tak Dilibatkan, Trotoar di Banjarmasin Harus Dievaluasi Ulang
Apalagi, bila di samping kiri kanan trotoar ada sungai dan jalan yang lalu lintas kendaraan bermotor lewat. Tentu dengan kondisi ini bisa membahayakan para penyandang disabilitas dan juga pejalan kaki.
Dalam kondisi ini, tidak bisa kita salahkan yang melaksanakan pekerjaan tersebut. Kesalahan adalah terletak pada ketidakakuratan dalam proses perencanaan, terutama dari para pengambil kebijakan awal untuk melaksanakan kegiatan tersebut.
BACA LAGI :  Trotoar Sepanjang 2 Kilometer di Jalan Achmad Yani Ditata, Ini Rencananya!
Jelas sekali,  mereka tidak melakukan identifikasi atau survei yang teliti terhadap kondisi eksisting lokasi trotoar yang akan dibenahi. Semua seolah dibuat tipikal atau sama. Ujungnya dengan kondisi ketidakmatangan dalam membuat rencana ini, berdampak memunculkan kerugian bagi pelaksana pekerjaan.
Bisa jadi, optimalisasi pengunaan manfaat dari kegiatan tersebut tidak tercapai dengan baik . Bandingkan dana yang dikeluarkan sudah puluhan miliar, bisa saja menjadi mubazir karena target yang diinginkan tidak maksimal tercapai.



Penulis adalah Ketua LPJK Provinsi Kalsel
Arsitek di Ikatan Arsitek Indonesia (IAI) Provinsi Kalsel
Sumber Berita : http://jejakrekam.com/2019/02/01/menyorot-model-penataan-trotoar-kota-banjarmasin-1/

Menyorot Model Penataan Trotoar Kota Banjarmasin (2-Habis)

Oleh : Subhan Syarief

JIKA dicermati lebih mendalam sebenarnya mudah didapat apa yang menjadi penyebab tidak berhasilnya model penataan trotoar di sepanjang jalan protokol, Achmad Yani, Banjarmasin.  Ada beberapa aspek penting yang justru terabaikan, bahkan tidak diperhatikan sebagai komponen akses pejalan kaki itu ramah.
ADAPUN aspek yang terlupakan adalah sebagai berikut.  Yakni, aspek pertama berupa tahap perencanaan survei identifikasi terhadap kondisi eksisting tidak dilakukan secara tepat. Ini terlihat dengan adanya kesulitan saat pelaksanaan pekerjaan. Banyak zona trotoar yang akan dipasang, ternyata berbenturan dengan area parkir atau area masuk pemilik bangunan untuk menuju ke halaman gedungnya.
Belum lagi, tidak meratanya lebar trotoar di sepanjang jalan tersebut dengan tinggi permukaan yang juga berbeda. Ada lebar trotoar yang lebih dari satu meter dan ada juga yang berada di bawah satu meter.
BACA :  Menyorot Model Penataan Trotoar Kota Banjarmasin (1)
Semestinya berbagai kondisi eksisting ini, saat proses studi kelayakan atau tahap perencanaan sudah bisa teridentifikasi dan ada konsep jalan keluarnya. Jadi, tidak mempengaruhi proses kelancaran saat pelaksanaan pembangunan trotoar tersebut.
Kemudian, aspek kedua adalah semestinya untuk penataan trotoar yang langsung bersentuhan dengan berbagai kepentingan masyarakat. Terutama, bagi penghuni bangunan di sekitar lokasi  dan juga pengguna trotoar, seharusnya sebelum tahap perencanaan sudah mulai dilakukan sosialiasi tentang rencana tersebut. Puncaknya saat pelaksanaan kegiatan pembangunan.
Tapi bila melihat fakta bahwa ternyata pelaksanaan terhambat atau terlambat untuk penyelesaian memasang dan membenahi trotoar ini, maka tentu hal sosialiasi dan kesepakatan dengan para penghuni bangunan dekat area tersebut belum berjalan dengan baik. Ini belum lagi, bila melihat dari hal karakteristik pengguna trotoar tersebut.
BACA JUGA :  Dana 12 M Dikucurkan, Lanjutan Proyek Penataan Trotoar A Yani Tunggu Pemenang Lelang
Apalagi juga menampung kepentingan penyandang disabilitas. Hal seperti ini terkesan tidak diperhatikan. Terbukti, dari tidak adanya pengunaan standar lebar area untuk mereka para penyandang disabilitas agar nyaman dan aman.
Selanjutnya, aspek ketiga menyangkut model desain trotoar yang dibuat terlihat juga kurang memperhatikan kondisi lingkungan sekitar. Bahkan ternyata dampaknya cukup banyak mengorbankan aset lingkungan seperti pohon pohon yang ditebang.
Ini belum lagi, model konstruksi masif yang dipilih sehingga mempersulit alur sirkulasi air, ketika hujan turun. Walaupun dibuatkan saluran air dari pipa kecil yang diharapkan bisa membuang air limpahan, namun hal itu tidak bisa maksimal dapat mengalir ke sungai di tepi Jalan Achmad Yani tersebut.
BACA LAGI :  Goresan Indah Pelukis Internasional Sulistyono di Trotoar Van Der Pijl Banjarbaru
Ini belum lagi ditambah dengan konstruksi jalan di bagian bahu yang mengunakan cor beton padat, sehingga sulit untuk menyerap air limpahan hujan untuk meneruskannya ke sungai di tepi jalan.
Bisa dibayangkan, bila suatu saat hujan lebat berjam- jam menerpa kawasan tersebut, maka bisa dipastikan air akan tergenang dan lambat untuk mengalir ke sungai. Alhasil, bisa saja jalan akan tengelam oleh air hujan dan baru bisa mengering setelah berjam-jam kemudian.
Dengan melihat ketiga aspek ini, bila dikaitkan dengan kenyamanan dan keamanan akibat dari pembangunan trotoar tersebut, tentu jawabannya sangat jelas yakni pembangunan trotoar ini belum memberikan kenyamanan dan keamanan bagi pemakai. Baik bagi kaum disabilitas ataupun pengguna lainnya.
Yang didapat baru niat untuk mempercantik tampilan permukaan trotoar tersebut. Meminjam istilah sekarang adalah hanya sekadar tampilan chasing saja yang dibuat menarik, tapi dari sisi makna mewujudkan kenyamanan dan keamanan pengguna trotoar tersebut masih belum jelas.
BACA LAGI :  Trotoar Sepanjang 2 Kilometer di Jalan Achmad Yani Ditata, Ini Rencananya!
Bagaimana bisa nyaman dan aman, kalau kondisi trotoar tersebut ada yang lebarnya kurang dari satu meter . Padahal, hanya satu meter pun ternyata harus menampung aktivitas para pejalan kaki serta para penyandang disabilitas.
Coba saja bayangkan, ketika yang pengguna memakai kursi roda melalui trotoar yang hanya lebar satu meter dan kemudian berpapasan dengan pengguna lainnya, apakah nyaman dan amankah. Belum lagi, keramik yang digunakan ternyata licin usai diguyur hujan, bisa mengancam para pejalan kaki yang ingin memakai haknya. Inilah yang patut dievaluasi para pengambil kebijakan notabene ‘empunya’ kota.



Penulis adalah Ketua LPJK Provinsi Kalsel
Arsitek di Ikatan Arsitek Indonesia (IAI) Kalsel
Sumber Berita : http://jejakrekam.com/2019/02/03/menyorot-model-penataan-trotoar-kota-banjarmasin-2-habis/

Re-post by MigoBerita / Senin/04022019/10.43Wita/Bjm

Jauh-Dekat Hanya Rp.3.500,- ..!!! Bus Rapid Transit (BRT) Banjarbakula beroperasi 2019

Uji Coba Lima Bus Biru BRT Banjarbakula Mengaspal di Koridor Satu

LIMA unit Bus Rapid Transit (BRT) Banjarbakula telah mengaspal di koridor pertama. Hal ini ditandai dengan pembangunan halte yang berada di Jalan Jenderal Sudirman untuk pengoperasian bus biru bantuan dari Ditjen Perhubungan Kementerian Perhubungan.
UNTUK koridor pertama adalah Kantor Gubernur Kalsel, Jalan Sudirman, Jalan Piere Tendean, Jalan Achmad Yani (Banjarmasin), Gambut dan Terminal Gambut Barakat Km 17.
Sedangkan, untuk koridor kedua, rutenya Bandara Syamsudin Noor-Jalan A Yani-Terminal Km 17. Pengoperasian BRT juga diberlakukan untuk koridor tiga dari Terminal Km 17, Jalan A Yani-Landasan Ulin-Jalan Palam, Jalan Trikora, Jalan Mistar Cokrokusumo-Terminal C Banjarbaru dan Terminal Martapura Kota.


“Untuk lima unit bus yang dioperasikan masih dalam tahap uji coba di koridor satu. Bus yang dikirim Ditjen Perhubungan Darat Kemenhub itu sudah dioperasionalkan,” kata Kepala Dinas Perhubungan Kalsel, Rusdiansyah kepada jejakrekam.com, Minggu (3/2/2019).
BACA :  Program BRT Banjarbakula Dikeluhkan Minim Koordinasi
Ia mengakui dengan keterbatasan anggaran di Kemenhub, baru lima unit bus yang dibantu untuk program BRT Banjarbakula. Menurut Rusdiansyah, jika pengoperasian BRT Banjarbakula ini terbilang sukses, akan dilanjutkan untuk pengoperasian serupa di koridor dua dan koridor tiga.
Sementara itu, halte Km 0 Jalan Jenderal Sudirman dekat Markas Korem 101/Antasari telah dibangun dengan dana CSR dari PT Pelindo III Banjarmasin. Sesuai rencana, tarif jauh dekat untuk menikmati pelayanan bus itu dipatok Rp 3.500.
Sebelumnya, Wakil Gubernur Kalsel Rudy Resnawan memastikan operasional BRT Banjarbakula dimulai pada awal 2019. Sementara, pembangunan halte menggandeng pihak ketiga lewat skema dana CSR.
Menurut Rudy, sebenarnya ada enam koridor yang akan dibangun untuk kelancaran BRT Banjarbakula, sehingga sedikitnya dibutuhkan 112 halte, baik ukuran kecil (portable), sedang dan besar untuk memenuhi antar jemput penumpang.
Dikutip dari media komunitas Banjarise di SCC Banjarmasin, bus biru diminta harus melayani rute seksi seperti Jalan Lambung Mangkurat, Jalan Hasanuddin HM dan Jalan Achmad Yani hingga ke Simpang Empat Banjarbaru.
BACA JUGA :  Dukung Program BRT Kalsel, Kemenhub Pastikan Kirim 5 Unit Bus
Dengan begitu, otomatis rute bus melewati titik-titik strategis seperti RSUD Ulin, Duta Mall, UIN Antasari, Terminal Km 6, Kertak Hanyar, Gambut, Landasan Ulin, Loktabat, Lapangan Murjani hingga Martapura. Hal ini bisa dimanfaatkan para mahasiswa yang kuliah di Banjarmasin dan Banjarbaru, untuk keperluan angkota pagi dan sore hari.
Mereka pun mendukung agar BRT Banjarbakula ini menggantikan moda transportasi lawas L300 yang sudah lama mengaspal. “Masya kita masih berkutat pada moda transportasi tahun 1990-an, sementara kota-kota lain sudah punya armada seperti Trans Jakarta, kereta LRT, commuter line dan lainnya,” tulis Banjarise.



Sumber Berita : http://jejakrekam.com/2019/02/03/uji-coba-lima-bus-biru-brt-banjarbakula-mengaspal-di-koridor-satu/

Re-post by MigoBerita / Senin/04022019/10.29Wita/Bjm

CCTV akan dipasang setelah peristiwa "Bom" di SMPN-6 Banjarmasin

Pascapelemparan Bom Molotov, Polisi Serius Mengumpulkan Data, Orangtua Siswa Merasa Tenang

BANJARMASINPOST.CO.ID, BANJARMASIN - Pelemparan bom molotov yang dilakukan orang tak dikenal di SMPN 6 Banjarmasin, Rabu (30/1) lalu, mendapat perhatian serius pihak kepolisian.
Setidaknya tiga kali polisi ke SMPN 6 untuk mengumpulkan data.



Informasi didapat di lapangan, pada Kamis (31/1), polisi dua kali ke SMPN 6, yakni pada pagi dan sore.
Kemudian Jumat (½) pagi polisi kembali ke SMPN 6.
“Kedatangan mereka (polisi) guna mengumpulkan sejumlah keterangan atas peristiwa percobaan pembakaran,” kata Humas SMPN 6 Banjarmasin, Drs Bakhrian Alkaf, Jumat (½).
Bakhrian mengatakan ada beberapa keterangan dan data yang diminta polisi.
Satu di antaranya terkait siswa yang pernah dikeluarkan di SMPN 6 Banjarmasin.
"Memang ada (siswa) yang pernah dikeluarkan. Tapi terkait apa masalahnya, itu ranah ke guru BP. Tapi tadi (Jumat) pagi sudah kami kirimkan," ujar Bakhrian.
Selain itu, yang juga menjadi perhatian polisi adalah keberadaan CCTV di kediaman salah satu warga.
Sayangnya CCTV tersebut bisa merekam pelaku pelemparan bom molotov. Karena CCTV ternyata tidak berfungsi alias rusak.
"Kata pemilik CCTV, benda tersebut sengaja dipasang hanya untuk menakut-nakuti orang asing di depan rumah mereka saja. Makanya pas ditanya, CCTV tersebut tidak begitu banyak membantu," ujarnya.
Meski belum terungkap pelakunya, Bakhrian sangat mengapresiasi kesigapan polisi dalam menindaklanjuti percobaan pembakaran sekolah.
Keseriusan polisi dalam menangani kasus ini sudah memberikan rasa tenang kepada siswa dan orangtuanya.
"Awalnya sejumlah orangtua siswa memang sempat resah. Mereka menelepon kami dan menanyakan kejadian tersebut. Setelah saya jelaskan situasi sudah kondusif, mereka jadi tenang," ujarnya.
Pascapelemparan Bom Molotov, Polisi Serius Mengumpulkan Data, Orangtua Siswa Merasa Tenang
BPost Cetak
BPost edisi cetak sabtu (2/2/2019)
Sumber Berita : http://banjarmasin.tribunnews.com/2019/02/02/pascapelemparan-bom-molotov-polisi-serius-mengumpulkan-data-orangtua-siswa-merasa-tenang

Meningkatkan Keamanan Sekolah, SMPN 6 Banjarmasin akan Melakukan ini

BANJARMASINPOST.CO.ID, BANJARMASIN - Pascainsiden pelemparan bom molotov, kata Bakhrian, pihak sekolah langsung mengambil beberapa sikap.
Di antaranya akan memasang CCTV sebanyak tiga unit di sejumlah titik dan memajukan jam operasi penjaga malam, yang semula pukul 24.00 Wita menjadi 22.00 Wita.
“Kami juga membahas surat edaran wali kota tentang bahaya penculikan anak sekolah. Terkait penculikan ini, kami sebetulnya sudah melakukan langkah pencegahan. Di antaranya mengadakan dua petugas keamanan dan menutup rapat pagar sekolah pada jam pelajaran,” ujarnya.
Tak hanya polisi, Ical, seorang warga Jalan Veteran Gang Simpati RT 13 Nomor Kelurahan Melayu Kecamatan Banjarmasin, juga meningkatkan kesiagaannya.
“Seperti tadi malam saja saya tidur sekitar jam 2-an. Ya, kalau saja pelaku pelemparan bom molotov itu balik lagi," ujarnya.
Ical menceritakan, dirinya sempat turut tangan melakukan pemadaman saat api dari bom molotov mulai berkobar.
“Saat itu, saya mau mengunci pagar rumah. Tanpa sengaja saya melihat cahaya terang dari dalam SMPN 6 Banjarmasin,” ujarnya.
Ical meyakini cahaya terang tersebut merupakan kobaran api.
Dia langsung bergegas menuju pagar sekolah.
“Saya sempat mengambil ember berisikan air untuk menyiram api. Tapi belum sempat siraman kedua, api sudah dipadamkan Askaf, salah satu penjaga kantin SMPN 6 Banjarmasin,” ujarnya.
Apakah melihat seseorang yang mencurigakan pada pukul 20.00 Wita? Ical mengaku tidak melihatnya.
"Kalau kendaraan melintas, ya ada. Tapi itu tidak bisa dipastikan, karena situasi jalan saat itu masih terpantau ramai," ujarnya.
Ical mengaku sudah memberikan keterangan kepada polisi di Mapolsek Banjarmasin Tengah.
“Kemarin saya dimintai keterangan di polsek. Saya ceritakan saja apa-apa yang saya ketahui," ujar Ical.
Meningkatkan Keamanan Sekolah, SMPN 6 Banjarmasin akan Melakukan ini
BPost Cetak
BPost edisi cetak sabtu (2/2/2019)
Sumber Berita : http://banjarmasin.tribunnews.com/2019/02/02/meningkatkan-keamanan-sekolah-smpn-6-banjarmasin-akan-melakukan-ini

Re-Post by MigoBerita / Sabtu/02022019/11.46Wita/Bjm

Mau Tumbler GRATIS, datang ke Siring dan ini syaratnya !!!

Mau Tukar Botol Minum Sekali Pakai dengan Tumbler? Datang Kesini dan Lengkapi Syaratnya

BANJARMASINPOST.CO.ID, BANJARMASIN - Tukar botol minum kemasan sekali pakai dengan tumbler? Ya, Pemko Banjarmasin pada Minggu (3/2/2019) akan menggelar kegiatan 1000 Sungai, 1000 tumbler.
Nah meLalui kegiatan itu, peserta bisa menukarkan botol minum kemasan mereka dengan satu tumbler.
Bahkan melalui akun instagram, Wali Kota Banjarmasin, Ibnu Sina @ibnusina juga telah mengunggah gambar yang isinya mengajak masyarakat membawa tumbler setiap hari.
Pengumuman acara 1000 sungai 1000 tumbler telah diedarkan pada akun instagram @humpro_banjarmasin.
Melalui akun itu pula, dibeberkan persyaratan untuk tukar botol minum sekali pakai atau gelas minum sekali pakai dengan tumbler.


Pada acara nanti, masyarakat bisa mendapatkan tumbler apabila menukarkan 10 botol minum sekali pakai atau 25 gelas minum sekali pakai.
Mereka akan diberikan satu kupon untuk penukaran yang hanya bisa dimiliki oleh satu orang.
Dalam artian, satu orang hanya bisa menurkarkan satu kupon maupun hanya dapat menukarkan satu tumbler.
Syarat lainnya dilarang membawa botol minum atau gelas minum sekali pakai menggunakan kantong plastik.
Disarankan menggunakan bakul atau tas kain.
Acara itu akan di gelar di Taman Maskot Bekantan pada pukul 06.30 sampai 07.15 wita.
Kemudian berlanjut di Manara Pandang, Siring Pierre Tendean sejak pukul 09.00 sampai pukul 12.00 wita.
1000 Sungai 1000 tumbler juga sebagai rangkaian dari Kick Off Hari Peduli Sampah Nasional 2019 Banjarmasin bertajuk satu tumbler untuk kebaikan masa depan.
Mau Tukar Botol Minum Sekali Pakai dengan Tumbler? Datang Kesini dan Lengkapi Syaratnya
istimewa
Pengumuman acara 1000 sungai 1000 tumbler telah diedarkan pada akun instagram @humpro_banjarmasin.
Sumber Berita : http://banjarmasin.tribunnews.com/2019/02/02/mau-tukar-botol-minum-sekali-pakai-dengan-tumbler-datang-kesini-dan-lengkapi-syaratnya

Re-Post by MigoBerita / Sabtu/02022019/11.38Wita/Bjm

Disebut "Partai Setan", Partai Solidaritas Indonesia (PSI) "Melawan" hingga Tabloid Obor Rakyat dan Tabloid Indonesia Barokah

Beredar Meme ‘PSI Partai Setan’, Kader Lapor ke Ditkrimsus Polda Kalsel

ROMBONGAN kader Partai Solidaritas Indonesia (PSI) Kalsel dan Kota Banjarmasin menyambangi kantor Direktorat Kriminal Khusus (Ditrkimsus) Polda Kalsel, Kamis (31/1/2019). Kader melapor ada meme yang menyebut PSI Partai Jahannam dan PSI Partai Setan. Mereka menuding gambar tersebut disebar oleh orang-orang tak bertanggung jawab di media sosial.
DALAM gambar yang mendompleng sosok Habib Rizieq Shihab tersebut, juga disebutkan PSI merupakan partai pendukung Jokowi yang menyebar spanduk dukung adanya Lesbian, Gay, Bisexual, dan Transgender (LGBT).


Kader PSI Kota Banjarmasin, M. Noor Rifa’i menyebut pihaknya jelas tidak terima dengan tersebarnya konten ini. “Maka saya datang ke Ditkrimsus Polda Kalsel ini agar masalah siapa yang mengedarkan (gambar) bisa terungkap. Kami ini partai peserta pemilu dan mempunyai harga diri,” ujar Rifa’i kepada jejakrekam.com.
Diakui Rifa’i, masalah tersebarnya gambar ini memang ditengarai bermula dari beredarnya spanduk di daerah Jakarta yang menyebut PSI mendukung LGBT.
“Padahal, itu (spanduk) tidak benar sama sekali. Sekjen PSI pun sudah memberikan keterangan bahwa itu palsu dan bukan dari partai. Nah, masalah itu sudah clear, tetapi ada lagi muncul gambar yang menghujat,” kata dia.
Dia meyakini, sang pembuat spanduk dan pengedar gambar ini hanya merasa takut dengan PSI. Sebab, diklaimnya, partai yang mereka geluti ini tanpa kompromi memberantas korupsi. “Sehingga, ini cara mereka melecehkan partai kami,” tandasnya.
Dari informasi yang didapatkan jejakrekam.com, laporan kader PSI sendiri sudah diterima oleh penyidik kepolisian Ditrikmsus Polda Kalsel. Namun, karena kurang berkas, mereka diminta melengkapi lagi dokumen laporan.

Sumber Berita : http://jejakrekam.com/2019/01/31/beredar-meme-psi-partai-setan-kader-lapor-ke-ditkrimsus-polda-kalsel/

Beredarnya Tabloid Indonesia Barokah Mengulang Kasus Obor Rakyat di Pilpres 2014

AMPLOP cokelat dibungkus dalam puluhan koli berisi setumpuk tabloid berjudul Indonesia Barokah edisi pertama ini, berhasil digagalkan jajaran Bawaslu Kalsel bersama Sentra Gakkumdu Kalsel dan Bawaslu Banjarbaru beredar di tiga provinsi Kalimantan Selatan, Kalimantan Tengah dan Kalimantan Timur.
BAWASLU Kalsel pun langsung mengadang di Mail Post Center (MPC) PT Pos Indonesia Cabang Banjarmasin di Jalan Achmad Yani Km 23, Landasan Ulin, Banjarbaru, sejak Senin (28/1/2019) hingga Selasa (29/1/2019).
Heboh, Tabloid Indonesia Barokah mengingatkan publik pada kasus serupa ketika Tabloid Obor Rakyat dirilis jelang Pilpres 2014 silam. Nyaris semua berita yang disajikan terkesan tendensius.
Nah, sebagai berita utama dipasang dengan judul besar; “Reuni 212: Kepentingan Umat atau Kepentingan Politik?” dengan semua huruf kapital. Gambar di halaman depan menampilkan karikatur orang memakai sorban dan memainkan dua wayang.
BACA :  16 Halaman Berita Tabloid Indonesia Barokah yang Bikin Heboh
Tabloid berisi 16 halaman ini menampilkan 13 macam rubrik berita, mulai dari mukadimah hingga galeri. Nah, dari sekian banyak tulisan itu, yang paling menarik disorot adalah Laporan Utama (halaman 5) dan Liputan Khusus (halaman 6). Laporan Utama menurunkan berita berjudul “Prabowo Marah, Media Dibelah.” Kalimat pertamanya lumayan menghantam: “Prabowo Subianto kembali berulah dengan marah-marah dan melontarkan pernyataan kontroversial.”
Isi laporan itu berisi soal tuduhan bahwa Prabowo terlibat, atau minimal punya kepentingan besar di balik Reuni 212. Ini ditunjukkan ketika Prabowo marah-marah ke media yang dianggap mengecilkan jumlah massa yang mengikuti acara.
BACA JUGA :  Tiga Koli Tabloid Indonesia Barokah Rencananya Diedarkan ke Kalteng
Pada rubrik Liputan Khusus, Indonesia Barokah menurunkan artikel berjudul “Membohongi Publik untuk Kemenangan Politik?: Membongkar Strategi Semprotan Kebohongan.” Naskah ini bercerita soal kasus-kasus hoaks yang melibatkan tim sukses Prabowo, dari mulai Ratna Sarumpaet hingga Neno Warisma.
Koordinator Divisi Pencegahan dan Hubungan Antar Lembaga Bawaslu Kalsel, Erna Kaspiyah mengakui untuk sementara ribuan eksemplar Tabloid Indonesia Barokah ini diamankan di kantor Panwascam Landasan Ulin.
“Lokasi kantor Panwascam Landasan Ulin sangat memungkinkan. Kami juga minta pengaman dari Polres Banjarbaru,” ucap Erna Kasypiah kepada jejakrekam.com, Kamis (31/1/2019).
Ia menyebut  surat resmi tertanggal 29 Januari 2019 dari Ketua Dewan Pers Yosep Adi Prasetyo bernomor 01/PP-DP/I/2019, memutuskan Tabloid Indonesia Barokah ini bukan produk jurnalistik, sehingga tidak bisa diselesaikan dengan UU Pers Nomor 40 Tahun 1999.
“ Apalagi tabloid tersebut saat ini tidak terdaftar di Dewan Pers. Jadi, Dewan Pers mempersilakan bagi yang keberatan untuk melapor ke instansi terkait,” kata mantan Ketua  Lembaga Kajian Keislaman dan Kemasyarakatan (LK3) Banjarmasin ini.
BACA LAGI :  Tak Hanya Pulau Jawa, Tabloid Indonesia Barokah Juga Rambah Kalsel
Atas temuan dan surat dari Dewan Pers itu, Erna Kasypiah mengatakan Bawaslu Kalsel masih menunggu tindak lanjut dan arahan Bawaslu RI melalui kajiannya.
Ia menambahkan, selama ini Bawaslu sedang mencoba menggali informasi apakah ada selain dari PT Pos Indonesia yang mendistribusikan Tabloid Indonesia Barokah tersebut.
“Untuk sementara belum ditemukan peredaran Tabloid Indonesia Barokah atau sejenisnya di Kalsel. Kami hanya dapatkan dari PT Pos Indonesia. Makanya, kami minta agar PT Pos Indonesia ketika ada lagi pendistribusian tabloid itu segera konfirmasi ke Bawaslu Kalsel,” pungkas Erna.

Sumber Berita : http://jejakrekam.com/2019/01/31/beredarnya-tabloid-indonesia-barokah-mengulang-kasus-obor-rakyat-di-pilpres-2014/

Re-Post by MigoBerita / Sabtu/02022019/11.25Wita/Bjm

Handil Bakti ditutup total terhitung sejak 25 Februari 2019 hingga dua tahun lamanya

Kemacetan di Kayutangi Makin Parah Hingga Malam Hari

AKTIVITAS penutupan akses menuju Jembatan Sungai Alalak II yang terkoneksi antara kawasan Terminal Handil Bakti-Jalan Tembus Perumnas, Kayutangi Ujung, benar-benar memicu kemacetan parah, Jumat (1/2/2019) malam.
ANTREAN panjang mengular di sepanjang Jalan Brigjen H Hasan Basry dari arah Jembatan Sungai Alalak yang segera dibongkar hingga ke Bundaran Kayutangi, depan Masjid Hasanuddin Majedi, Jumat (1/2/2019) malam, dimulai pukul 19.41 Wita.


Volume kendaraan pun menumpuk di kawasan Kayutangi. Bergerak pun seperti merayap. Emosi para pengguna jalan pun terdengar, dari beberapa bunyi klakson bersahutan.
Kemacetan ini sudah terjadi sejak Jumat (1/2/2019) pagi, usai kawasan Terminal Handil Bakti ‘diblokade’, dengan memasang portal.  Penutupan ini untuk keperluan perbaikan penguatan baut rangka baja jembatan, hingga peninggian oprit Jembatan Sungai Alalak yang menurun tajam, serta pemasangan pagar pembatas.
BACA :  Jembatan Sungai Alalak II Ditutup, Macet Mengular Terjadi di Handil Bakti
Rencananya, Jembatan Sungai Alalak II akan digunakan sebagai akses alternatif, ketika nanti Jembatan Sungai Alalak sebagai jalur penghubung Jalan Brigjen Hasan Basry-Jalan Trans Kalimantan, Handil Bakti ditutup total terhitung sejak 25 Februari 2019 hingga dua tahun lamanya.
Pengamat tata kota dan wilayah asal Fakultas Teknik Uniska Muhammad Arsyad Al-Banjary, Adhi Surya Said mengungkapkan di kawasan Kayutangi Ujung wajib dibuatkan jembatan darurat, tidak lagi bisa berharap pada kemampuan daya tampung Jembatan Sungai Alalak II.
BACA JUGA :  Picu Stress Tinggi, Fenomena Leher Botol Bakal Terjadi di Kayutangi Ujung
“Jadi, selama dua tahun itu bisa dimuat jembatan kayu untuk akses sepeda motor, jika perlu bisa menahan beban mobil.  Jembatan darurat ini sangat penting, karena Jembatan Sungai Alalak II yang berbentuk single bridge difungsikan, tak akan mampu menahan volume kendaraan yang tinggi di kawasan Kayutangi dan Handil Bakti,” ucap Adhi Surya Said kepada jejakrekam.com, Jumat (1/2/2019) malam.
Menurut dia, akses dari kawasan Terminal Handil Bakti, bisa dihubungkan dengan jembatan darurat menuju kawasan Jalan Tembus Perumnas.
“Sedangkan, untuk angkutan barang besar, memang harus diarahkan ke Jalan Gubernur Syarkawi (Lingkar Utara) yang tembus ke Jalan Achmad Yani Km 17, Gambut. Semua angkutan besar dilarang masuk ke Jalan Trans Kalimantan, Handil Bakti,”  tutur magister teknik jebolan Institut Teknologi Bandung (ITB) ini.
BACA LAGI :  Penutupan Jembatan Sungai Alalak Bakal Pengaruhi Distribusi Barang
Menurut dia, rekayasa lalu lintas yang diberlakukan juga tak bisa mengurai kemacetan, malah menambah volume kendaraan bermotor makin menumpuk. “Inilah hasilnya, kemacetan parah terjadi di kawasan Kayutangi. Bisa dibayangkan nanti, ketika Jembatan Sungai Alalak dibongkar dan dibangun jembatan baru dalam waktu dua tahun,” ucap dosen muda ini.
Untuk itu, Adhi Surya Said menyarankan agar semua pihak terkait baik Dishub Kalsel, Dishub Banjarmasin, Dishub Batola yang dibackup aparat Polda Kalsel, Polresta Banjarmasin dan Polres Batola, harus bertindak tegas di lapangan.
“Terutama, bagi armada angkutan berbadan besar, harus dilarang melintas di kawasan Kayutangi. Semua harus diarahkan ke Jalan Lingkar Utara,” imbuhnya.


Sumber Berita : http://jejakrekam.com/2019/02/01/kemacetan-di-kayutangi-makin-parah-hingga-malam-hari/

Re-post by MigoBerita / Sabtu/02022019/11.16Wita/Bjm

Yaman, Suriah (White Helmets), Khilafah hingga Kitab Suci adalah "Fiksi"...??!!

UNICEF: Kita Kehilangan Sebuah Generasi Anak-anak di Yaman

SANA’A – Dana Darurat Anak Internasional PBB (UNICEF) menyatakan keprihatinan tentang kondisi kemanusiaan anak-anak Yaman, memperingatkan tentang pembentukan sebuah “generasi yang hilang”.
“Lebih dari setengah juta anak-anak terpaksa meninggalkan rumah mereka dalam enam bulan terakhir, sebagian besar dari mereka telah melarikan diri dari serangan militer besar-besaran koalisi pimpinan Saudi di kota pelabuhan Hodeidah Yaman selama bulan Juli dan Agustus,” kata direktur Yaman UNICEF, Meritxell Relano, pada hari Kamis (31/01).
Tidak memiliki akses ke pendidikan dan menghadapi peningkatan risiko penyakit dan kelaparan, Relano menyoroti beberapa dampak jangka panjang konflik terhadap anak-anak.
“Tanpa pendidikan mereka tidak akan dapat menemukan pekerjaan … generasi yang tidak berpendidikan memiliki masa depan yang sangat suram,” kata direktur UNICEF.
“Kita kehilangan satu generasi, banyak anak yang kehilangan pendidikan, dan pengungsian membuatnya semakin buruk.”
Sumber Foto : Google Image ( Muhammadiyah dan N.U dalam bingkai NKRI Harga Mati )

Badan amal Save the Children melaporkan bahwa meskipun gencatan senjata sedang berlangsung di Hodeidah, ribuan keluarga masih melarikan diri dari kota tersebut karena takut akan blokade Saudi yang baru. Banyak yang masih harus berjuang mati-matian untuk sekedar membeli barang-barang pokok seperti makanan, bahan bakar dan obat-obatan.
“Anak-anak yang terpaksa mengungsi dari rumah mereka seringkali harus hidup dalam kondisi yang tidak bersih dan sempit di kamp-kamp atau penampungan masyarakat, dengan sedikit akses ke air minum bersih atau makanan bergizi,” kata juru bicara Save the Children, Bhanu Bhatnagar.
Bhatnagar menambahkan bahwa anak-anak secara khusus rentan terhadap kekurangan gizi, diare, kolera, dan difteri, infeksi bakteri serius yang menyebar semudah flu biasa. Sebanyak 89 persen kematian difteri Yaman terkait dengan anak-anak di bawah 14 tahun.
Arab Saudi dan sekutunya melepaskan agresi militer yang mematikan terhadap Yaman pada Maret 2015 dalam upaya untuk menginstal kembali bekas rezim sekutu Riyadh di negara itu.
Gerakan Yaman Houthi Ansarullah, yang menjalankan urusan negara di Sanaa dengan tidak adanya pemerintahan yang efektif, telah membela negara melawan agresi Saudi. (ARN)

Rusia: White Helmets Syuting Adegan Serangan Kimia Palsu di Idlib

MOSKOW – Rusia telah memperingatkan bahwa White Helmets sedang mempersiapkan syuting adegan serangan kimia di provinsi barat laut Suriah, Idlib, dalam upaya untuk menuduh pasukan pemerintah dan menciptakan dalih agresi terhadap Suriah.
Berbicara dalam jumpa pers di ibukota Rusia, Moskow, pada hari Kamis, juru bicara Kementerian Luar Negeri Rusia, Maria Zakharova mengatakan ada laporan bahwa kelompok yang didukung Barat, yang telah berulang kali dituduh bekerja sama dengan teroris Takfiri dan melakukan serangan bendera palsu, telah memasang kamera dan peralatan terkait di beberapa rumah sakit di Idlib untuk memfilmkan para korban serangan kimia palsu.
“Ketegangan di sekitar zona de-eskalasi Idlib tidak menurun,” Zakharova menyatakan, dan menambahkan, “militan Hayat Tahrir al-Sham, yang menjalankan pertunjukan di sana, tidak hanya menyerang pemukiman di sekitar setiap hari, tetapi juga juga secara aktif meningkatkan kehadiran mereka di dekat jalur kontak dengan pasukan pemerintah Suriah.”
BacaRusia: Barat Ingkar, White Helmets Belum Ditarik dari Yordania ke Eropa.
Diplomat itu juga menyatakan keprihatinan mendalam atas laporan yang masuk bahwa para teroris “tidak meninggalkan upaya untuk melakukan serangan kimia terhadap warga sipil.”
Zakharova menyimpulkan bahwa Moskow telah mendesak Washington untuk menarik pasukannya dari Suriah sesegera mungkin, dan menyerukan kembalinya semua wilayah Suriah ke pemerintah Damaskus.
Kementerian Pertahanan Rusia mengatakan pada 11 September 2018 bahwa teroris yang disponsori asing telah mulai merekam adegan serangan kimia yang dilakukan di provinsi Idlib.
Pusat Rekonsiliasi Suriah Rusia mengatakan dalam sebuah pernyataan bahwa juru kamera dari beberapa jaringan televisi Timur Tengah dan saluran berita Amerika telah tiba di kota Jisr al-Shughur untuk memproduksi rekaman yang diperlukan untuk provokasi.
Pernyataan itu menambahkan bahwa pakaian militan Takfiri telah dilengkapi dengan dua tabung “bahan kimia berbasis klorin” untuk tujuan operasi.
Lebih lanjut menegaskan bahwa rekaman itu akan mencakup adegan-adegan anggota kelompok yang disebut White Helmets membantu dan merawat penduduk Jisr al-Shughur setelah serangan bom kimia yang dituduhkan pada tentara Suriah.
BacaAtwan: Perang Terbuka Iran-Israel di Dataran Tinggi Golan.
“Semua rekaman provokasi bertahap akan dikirim ke saluran TV, yang akan disiarkan setelah publikasi di media sosial,” pernyataan itu menunjukkan.
Amerika Serikat telah memperingatkan akan menanggapi kemungkinan serangan senjata kimia oleh pasukan pemerintah Suriah dengan serangan balasan, dan menekankan bahwa serangan itu akan lebih kuat daripada yang dilakukan oleh pasukan Amerika, Inggris dan Prancis pada tahun lalu. [ARN]

Kenang Jasa Kiai NU, Ketum PBNU Sindir Pedas Pengusung Khilafah “Gak Ikut Berjuang Kok Serukan Khilafah”

Arrahmahnews.com, JAKARTA – Komentar pedas Ketua Umum Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) KH Said Aqil Siradj menyindir kelompok yang tiba-tiba menyampaikan konsep khilafah di Indonesia. Padahal, kata Said mereka yang meneriakkan khilafah tak ikut berjuang merebut kemerdekaan Indonesia.
Hal tersebut disampaikan Kiai Said saat memberikan pidato dalam peringatan hari lahir (Harlah) ke-93 NU, di JCC, Senayan, Jakarta, Kamis (31/1). Kiai Said mengaku heran dengan mereka yang terus mengampanyekan khilafah.
“Eh tiba-tiba ada orang enggak ikut berjuang, enggak berkeringat, tiba-tiba muncul khilafah, ini piye. Enggak ikut berjuang, enggak ikut keringat, (serukan) khilafah,” kata Kiai Said.
Baca: Pilpres 2019, Pertarungan antara Khilafah dan Islam Nusantara
Kiai Said sebelumnya sempat menyinggung peran sejumlah kiai NU yang terlibat langsung dalam memperjuangkan kemerdekaan. Dia menyebut keteguhan pendiri NU, Hasyim Asy’ari saat diminta bersujud ke arah timur oleh Jepang.
Menurut Said, kakek Presiden ke-4 RI Abdurrahman Wahid alias Gus Dur itu menolak dan akhirnya ditahan di sebuah penjara di Mojokerto. Di dalam penjara, kata Said, kiai yang kerap disebut sebagai hadratussyekh itu mendapat siksaan dari tentara Jepang.
“Satu bulan di penjara di Mojokerto, keluar dari penjara Kiai Hasyim Asy’ari tangan kananya tidak bsia bergerak,” ujarnya.
Selain itu, Said menyebut beberapa kiai NU lainnya yang menolak tunduk terhadap penjajah, mereka di antaranya Kiai Mahfud Sidiq, Kiai Jan Mustofa dari Tasikmalaya, Kiai Hamid Rusdi dari Malang, hingga Kiai Ilyas dari Lumajang.
Menurutnya para kiai itu mendapat siksaan dari penjajah, hingga berujung kematian. “Itulah pengorbanan para ulama Nahdlatul Ulama dalam memertahankan kemerdekaan Indonesia,” ujarnya.
Baca: Kritikan Pedas Mantan Katib Syuriah PBNU Tentang Konsep Khilafah Ala HTI
Lebih lanjut, Kiai Said mengajak seluruh warga Nahdliyin sebagai pewaris para kiai-kiai tersebut tetap menjaga amanah untuk tidak tunduk kepada pihak-pihak yang ingin memecah belah. Kiai Said pun mencontohkan keteguhan Gus Dur yang menolak tunduk kepada pemerintah Orde Baru.
“Dia tetap memegang prinsip ketika benar beliau katakan iya. Ketika salah beliau katakan tidak. Itulah Gus Dur. Kita sekarang membutuhkan Gus Dur yang lain,” kata dia.
NU dan Muhammadiyah
Di sisi lain, Kiai Said yang telah menjadi Ketum PBNU dua periode itu juga merasa bersyukur karena Indonesia memiliki kelompok sosial keagamaan seperti NU dan Muhammadiyah. Said lantas membandingkan dengan negara lain di Timur Tengah maupun Afrika yang dilanda konflik karena tak memiliki kelompok sosial tersebut.
Baca: HTI dan PKI Bukan Agama, Sama-sama Organisasi Terlarang
“Alhamdulillah kita mempunyai struktur sosial yang jelas yang andil sangat besar dalam membangun kekuatan civil society atau sarekat,” ujarnya.
Kiai Said menegaskan NU akan ikut menyukseskan pemilihan umum, baik itu pemilihan legislatif maupun pemilihan presiden pada 17 April 2019, dengan damai, aman serta nyaman. Said pun sempat mendoakan Presiden Joko Widodo yang maju sebagai petahana bisa kembali menang.
“Mari NU menyukseskan pemilu itu dengan damai, aman, nyaman, santai”, kata dia. (ARN)
#HarlahNu93 #HarlahNu93

Rocky Gerung Muliakan Demokrasi dan Hinakan Agama

Arrahmahnews.com, JAKARTA – Rocky Gerung yang beberapa waktu lalu mengeluarkan pernyataan kontroverisal di ILC, bahwa kitab suci adalah fiksi. Pernyataan Rocky di ILC itu berbuntut ‘kegaduhan’ laporan Jack Lapian ke polisi soal penistaan agama yang dilakukan Rocky.
Belum lagi selesai kasus itu, sekelompok muslim garis keras di Madura justru memberi ia panggung di Masjid untuk berceramah yang diikuti pekikkan Takbir para jamaah. Padahal Rocky adalah seorang Katolik, bahkan mungkin dia adalah kelompok yang tidak mempedulikan agama lagi.
Di saat yang sama, sekolompok muslim pada waktu pilkada Jakarta, justru mengusir seorang Jarot (cawagub) dari Masjid, bahkan memakinya dengan kata-kata tak pantas.
BacaNetizen ‘Semprot’ Rocky Gerung dan Wahabi.
Ketika elit-elit politik sudah kehabisan stok ustad yang mendukung paslon yang diusungnya, maka tak ada cara lain Rocky Gerung diterjunkan ke mesjid atau mushala dalam rangka menjejali otak pendengarnya dengan pemahaman agama yang salah dan mengarah pada atheis.
Baru-baru ini Rocky kembali berulah dengan mengatakan bahwa “Atheisme itu diizinkan oleh Pancasila. Oleh sila pertama? Tentu bukan. Oleh sila kedua diizinkan, namanya Kemanusiaan yang Adil dan Beradab,” ujar Rocky dalam video tersebut.
Yang benar, lima sila dalam Pancasila itu harus difaham secara keseluruhan. Tidak boleh dipisah antara satu dan lainnya.
Tentang pemahamannya membolehkan atheisme di Indonesia, Rocky ini sepertinya kurang, atau ga ngerti maksud KETUHANAN YANG MAHA ESA.

Gerung Sebut Agama Irasional
Dan yang paling menghinakan Agama dari pernyataan Rocky Gerung, adalah ketika dia mengatakan, “bagi saya, demokrasi adalah permainan untuk orang-orang yang rasional, sementara agama adalah aturan untuk orang yang irasional”.
Menolak agama dengan dalih irrasional. Yang anti agama perlu tahu bahwa agama tak selalu anti logika. Yang anti logika perlu sadar bahwa logika tak selalu empiris/anti metafisika.
Logika empiris tidak bisa memborsevasi agama krn ia entitas intelektual, bukan material. Logika peripatetik dapat mempelajari dan memvalidasi agama.
Sains ekstrem menolak agama karena membatasi pengertian realitas pada materi. Agama ekstrem menolak logika karena mengagamakan dogma irasional.
Yang divalidasi oleh logika peripatetik bukan agama sebagai wahyu, karena ia supprasional, tapi agama sebagai konsep-konsep yang jadi dasar keyakinan.
BacaRocky Gerung Tak Paham Pancasila.
Agama adalah (mestinya jadi) premis yang dihasilkan premis “kemestian logis beragama”. Bila tidak didasarkan pada prinsip ini, ia tampak tidak logis.
Para pencari kuasa yang tak pernah sedetikpun percaya kepada ajaran agama itu berhasil menempati posisi puncak sebagai agamawan sepanjang sejarah karena selalu memgeksploitssi simbol agama demi mengelabuhi awam yang naif.
Kini ajaran-ajaran rasional dari agama itu nyaris tak tersisa di tengah para penganutnya.
Sungguh kasihan dia yang berjuang dan mengorbankan diri serta keluarganya dalam memperkenalkan agama suci ini.
Kalau agama memang mengajarkan prilaku negatif, maka meninggalkannya adalah keputusan positif.
Cara mudah menyudutkan sebuah agama dan penganutnya adalah menampilkannya sebagai ajaran yang menganjurkan intoleransi. [ARN]

Re-post by MigoBerita / Sabtu / 02022019/10.10Wita/Bjm