Arsip Migo Berita

KRITIK terhadap OJK (Otoritas Jasa Keuangan) mengawasi ASURANSI BUMN (Badan Usaha Milik Negara)

Otoritas Jasa Keuangan (OJK) Layak Disebut Tirani

Apa yang dimaksud dengan tirani? Sekarang kata ini dikaitkan dengan penguasa tunggal yang memerintah secara brutal dan menempatkan diri dan golongannya di atas kepentingan rakyat banyak. Tiran adalah seseorang yang memegang suatu bentuk pemerintahan dengan kepentingan pribadi yang disebut dengan sistem pemerintahan Tirani.
Ironis. Tugas OJK melaksanakan pengaturan dan pengawasan terhadap: Kegiatan jasa keuangan di sektor Perbankan, Kegiatan jasa keuangan di sektor Pasar Modal, Kegiatan jasa keuangan di sektor Asuransi, Dana Pensiun, Lembaga Pembiayaan, Penggadaian, dan Lembaga Jasa Keuangan Lainnya.
Asuransi Jiwasraya sudah banyak yang membahas. Tetapi di artikel ini saya mau membahas peran OJK yang mirip tirani. OJK diberi kewenangan dan menggunakan kewenangan nya dengan sangat otoriter.
Memang belum ada bukti secara jelas bahwa OJK mendapatkan keuntungan secara tidak wajar di media nasional. Tetapi tugas OJK bertahun - tahun dianggap auto pilot saja.
Lembaga asuransi seperti Jiwasraya telah bertahun-tahun diawasi OJK. Memasarkan produk yang jelas tidak benar. Dimana produk bancassurance saham dijual dengan kepastian imbal hasil tinggi.
Padahal Saham bukan deposito, saham tidak dijamin Lembaga Penjamin Simpanan (LPS). Saham bukan produk yang menghasilkan imbal atau return yang pasti. Tidak seperti obligasi pemerintah.
Tidak ada teguran, malahan diberikan penghargaan. Bahwa inovasi Jiwasraya membuat BUMN ini melesat aset dan penjualannya. Yang akhirnya saat borok kepalsuannya dibuka, asetnya ternyata minus.

Uang rakyat dirampok BUMN! OJK pun berdiam diri bertahun - tahun. Pelanggaran sudah ada di depan mata. Jika benar diawasi, maka sudah seharusnya Jiwasraya dibubarkan dari sejak penawaran produk JS Saving Plan.
Pimpinan dan karyawan Jiwasraya seharusnya dipenjara dan dimiskinkan karena melanggar hukum. Menipu, merampok uang rakyat. Tapi polisi Jasa Keuangan = OJK diam seribu bahasa terhadap BUMN.
Mina padi menyerah. Pimpinan dihukum, mundur dari jabatan. Rakyat tidak dapat mengambil uangnya, dicegah lagi - lagi oleh tirani OJK.
OJK pada akhirnya seperti tirani. Segala tindakannya benar. Jika salah, jika tidak bekerja dengan benar. Baca lagi kalimat kedua. Tidak ada yang mengawasi OJK, tidak ada yang menegur OJK jika salah.
Apakah tugas OJK seharusnya? 1. Membuat industri keuangan pada jalur yang benar.
Ukurannya tentu transparansi dan kebenaran dalam penyajian data. Jalur industri keuangan yang benar bukan berdasarkan keuntungan yang diraih dengan sekejap seperti Jiwasraya.
Bukan pula pembohongan publik dengan beragam penghargaan seperti yang diterima Jiwasraya padahal investasinya bisa dikategorikan bodong.
Transparansi juga harus diterapkan pada OJK. Apakah OJK benar- benar mengawasi Jasa keuangan? Apa buktinya?
Apakah OJK memberikan rasa aman atau malah ketakutan bagi rakyat Indonesia? Dengan kasus Jiwasraya dan Mina padi yang dihentikan. Sehingga rakyat tidak dapat mengambil uangnya. Jujur, saat ini lebih banyak ketakutan dibanding rasa aman yang ditebar OJK.
  1. Tantangan OJK adalah kepercayaan masyarakat Apa tujuan pembentukan OJK?
Pasal 4 UU Nomor 21 Tahun 2011 tentang OJK menyebutkan bahwa OJK dibentuk dengan tujuan agar keseluruhan kegiatan di dalam sektor jasa keuangan terselenggara secara teratur, adil, transparan, akuntabel dan mampu mewujudkan sistem keuangan yang tumbuh secara berkelanjutan dan stabil, serta mampu melindungi kepentingan konsumen maupun masyarakat.
Dengan pembentukan OJK, maka lembaga ini diharapkan dapat mendukung kepentingan sektor jasa keuangan secara menyeluruh sehingga meningkatkan daya saing perekonomian. Selain itu, OJK harus mampu menjaga kepentingan nasional. Antara lain meliputi sumber daya manusia, pengelolaan, pengendalian, dan kepemilikan di sektor jasa keuangan dengan tetap mempertimbangkan aspek positif globalisasi. OJK dibentuk dan dilandasi dengan prinsip-prinsip tata kelola yang baik, yang meliputi independensi, akuntabilitas, pertanggungjawaban, transparansi, dan kewajaran (fairness).
Yang mana hal ini tidak dilakukan OJK dengan meledaknya kasus Minna Padi dan Jiwasraya. Padahal kasus ini dapat diredam sehingga tidak terjadi. Jika sejak awal pembentukan produk mereka, produk ini tidak boleh ditawarkan ke masyarakat. setiap produk yang ditawarkan selayaknya mendapat pengawasan dari OJK. Sehingga jika produk jasa keuangan tersebut melanggar ketentuan seharusnya tidak dipasarkan.
Sehingga dengan ini OJK tidak layak mendapatkan kepercayaan masyarakat.
  1. Kebutuhan lembaga penjamin polis yang desainnya mirip lembaga penjamin simpanan di perbankan. Harus direalisasikan. Uang tidak hanya ada di bank. Nasabah bukan hanya nasabah bank. Nasabah pemegang polis asuransi pun adalah orang yang memiliki hak untuk dilindungi.
Bagaimana pemerintah Jokowi? Apakah OJK layak diganti dan dibentuk lembaga lain yang benar - benar mengawasi jasa keuangan dan melindungi masyarakat ?
Otoritas Jasa Keuangan (OJK) Layak Disebut Tirani
Sumber Opini :  https://seword.com/ekonomi/otoritas-jasa-keuangan-ojk-layak-disebut-tirani-aBAIoBzxEI

Re-post by MigoBerita / Selasa/31122019/16.24Wita/Bjm

Selamat Datang Tahun 2020 : Selamat Tinggal Koran Offline METRO Banjar

Metro Banjar Tetap Eksis di Usia 20 Tahun, HG P Rusdi Effendi AR Berharap Metro Terus Bertahan

BANJARMASIN POST.CO.ID, BANJARMASIN - Tak terasa usia Metro Banjar sudah mencapai 20 tahun. Perayaan HUT Metro Banjar pun berlangsung cukup sederhana, dimana seluruh pimpinan dan karyawan duduk lesehan di depan halaman Banjarmasin Post Group, Senin (9/9/2019).
Pemotongan pertama dilakukan Pangerangan HG Rusdi Effendi AR yang diserahkan kepada Pimpinan Regional Timur, H Ciptyantoro.
Selanjutnya pemotongan tumpeng kedua oleh Pemimpin Redaksi Banjarmasin Post, Musyafi' dan Pemimpin Umum Banjarmasin Post A Wahyu Indriyanta.
Pemimpin Redaksi Banjarmasin Post, Musyafi' mengungkapkan di usia Metro Banjar yang ke-20, merupakan suatu prestasi luar.
"Di tengah ketidakpastian seperti sekarang ini, ternyara Metro Banjar mampu bertahan selama 20 tahun," ungkapnya.



Musyafi' juga menepis isue yang berkembang di luaran, Metro Banjar akan tutup. "Hingga saat ini tidak ada rencana dari pihak manajemen menutup Metro Banjar," tegasnya.
Senada diungkapkan Pemimpin Perusahaan Wahyu Indriyanta maupun Pemimpin Umum.Banjarmasin Post, Pangeran HG Rusdi Effendi AR.
"Mudah-mudahan usia Metro Banjar tidak hanya sampai 20 tahun, tapi terus bertahan. Imeg warga Kalsel terhadap Metro Banjar tidak pernah hilang," ucap Rusdi.
Dia menambahkan, selama ini lewat Banjarmasin Post, Metro Banjarmasin Post selalu menggaungkan pembangunan di daerah ini.
Sementara H Ciptyantoro, Pimpinan Regional Timur, mengharapkan Metro Banjar ke depannya makin sukses.
"Di usian 20 tahun bukan berarti memakai marketing lama 2.0, melainkan marketing sekarang, 4.0," ucapnya.
Jadi, lanjut Cipto, harus bisa menyesuai diri marketing di era digital.
Usai sambutan dilanjutkan dengan makan bersama dari beraneka macam makanan mulai daging guling, ikan, buah-buahan dan lain-lain.
(banjarmasin post.co.id/syaiful anwar/Senin, 9 September 2019 21:58)
Metro Banjar Tetap Eksis di Usia 20 Tahun, HG P Rusdi Effendi AR Berharap Metro Terus Bertahan
banjarmasinpost.co.id/syaiful anwar
Pemimpin Umum Banjarmasin Post, Pangeran HG Rusdi Effendi memotong tumpeng HUT ke-20 Metro Banjar.
Sumber Berita : https://banjarmasin.tribunnews.com/2019/09/09/metro-banjar-tetap-eksis-di-usia-20-tahun-hg-p-rusdi-effendi-ar-berharap-metro-terus-bertahan

Cukup Satu Koran; Banjarmasin Post
BANJARMASINPOST.CO.ID, BANJARMASIN - Setelah menemani warga Kalimantan Selatan (Kalsel) lebih dari 3.700 edisi, dengan berat hati kami harus menyampaikan keputusan berat.
Edisi 31 Desember 2019 yang ada di hadapan para pembaca ini merupakan edisi terakhir.
Mulai 1 Januari 2020, koran Metro Banjar berhenti terbit.
Bagi kami, keputusan ini menjadi sangat berat, karena ribuan pembaca Metro Banjar tidak lagi ditemani informasi melalui media ini.
edisi terakhir metro banjar Selasa (31/12/2019)
edisi terakhir metro banjar Selasa (31/12/2019) (metro banjar)
Sebagaimana 3.763 hari sebelumnya (sejak 9 September 1999) kami hadir menemani hari-hari para pembaca.
Demikian juga para mitra, relasi, sahabat dan klien.
Mulai besok, tak lagi bisa menggunakan Metro Banjar untuk mengomunikasikan produk, kegiatan dan informasi penting lainnya kepada ribuan pembaca koran ini.
Sebagaimana telah dilakukan secara efektif sejak 20 tahun talu.
Namun kami tahu, di era ini warga Kalsel semakin punya banyak alternatif cara mengakses informasi dan mengomunikasikan segala kepentingan.
Tidak sebagaimana ketika kami terbit pada 1999, saat arus utama informasi masih bergantung pada media massa, termasuk koran.
Saat ini, selain media cetak (koran), warga Kalsel sudah terbiasa mengaskes informasi dan mengomunikasikan segala kepentingannya secara digital.
Baik melalui media online maupun sosial media.
Dan Banjarmasin Post Grup, meski tanpa Metro Banjar, siap menemani hari-hari warga Kalsel dengan beragam informasi.
Termasuk tetap menyajikan kabar peristiwa kriminal dan olahraga terkini serta mengomunikasikan kegiatan dan produk para mitra, melalui platform digital.
Informasi yang cepat, akurat, menarik dan penting itu itu bisa diperoleh secara gratis melalui website www.banjarmasinpost.co.id atau akun resmi sosial media kami (Instagram, Facebook, Twitter dan Youtube).
Bahkan, melalui platform digital, kabar peristiwa kriminal dan olahraga terkini serta informasi produk dan kegiatan, bisa dinikmati dalam beragam bentuk.
Tidak hanya berupa tulisan dan foto, pembaca Metro Banjar bisa menikmati grafis dan video peristiwa di akun-akun sosial media kami.
Karena itulah, kebijakan penghentian penerbitan Metro Banjar tidak akan mengurangi sedikitpun akses informasi yang selama ini dinikmati warga Kalsel.
Demikian juga bagi para pembaca yang akrab dengan koran.
Serta tetap ingin menikmati informasi lengkap dan dalam melalui koran, tidak akan kehilangan informasi peristiwa (kriminal) dan olahraga.
Sebagaimana biasa dinikmati melalui koran Metro Banjar.
Sebab, penghentian penerbitan Metro Banjar akan dibarengi pelebaran tema dan jenis informasi yang didistribusikan melalui koran Banjarmasin Post, kakak Metro Banjar.
Bila selama ini koran Banjarmasin Post sangat sedikit menyajikan peristiwa kriminal, mulai 1 Januari 2020, pembaca Metro Banjar bisa menikmati informasi tersebut melalui rubrik Metro Crime di koran terbesar dan tersebar di Kalsel itu.
Sedangkan berita-berita olahraga lokal, utamanya kabar Barito Putra dan Martapura FC, yang selama ini biasa dinikmati setiap edisi di Metro Banjar, akan tersaji di Banjarmasin Post pada rubrik Local Soccer.
Berita sepakbola nasional dan mancanegara, bisa dinikmati di halaman Superball dan Soccer Hot News.
Dan kabar olahraga lainnya (lokal, nasional maupun internasional) akan disajikan di rubrik Sport Hot News.
Pelebaran tema Banjarmasin Post itu, bukan semata-mata karena Metro Banjar berhenti terbit.
Tetapi, karena kami meyakini pembaca media cetak tidak lagi perlu banyak media.
Di era banjir informasi, pembaca media (termasuk warga Kalsel) hanya perlu satu media massa cetak yang menyajikan beragam informasi.
Sebagai alternatif, pembaca cenderung tidak menikmati koran lain, tapi memilih media online dan sosial media.
Karena itu, keputusan menghentikan penerbitan Metro Banjar tidak mengubah cara kerja kami.
Wartawan, marketing iklan, sirkulasi dan manajemen Banjarmasin Post Group tetap bekerja secara profesional dalam sebuah industri media terbesar dan tersehat di Kalsel.
Walhasil, penghentian penerbitan Metro Banjar tidak mengurangi sedikitpun jenis, jumlah, tema dan ragam informasi yang bisa diakses warga Kalsel.
Yang berubah hanyalah, bila biasanya warga Kalsel mengakses banyak informasi melalui dua koran.
Mulai 1 Januari 2020, cukup satu koran; Banjarmasin Post.
Terima kasih pembaca Metro Banjar.
Terima kasih mitra, relasi, sahabat dan klien Metro Banjar. (*)
Cukup Satu Koran; Banjarmasin Post
istimewa
edisi terakhir metro banjar Selasa (31/12/2019)
Sumber Berita : https://banjarmasin.tribunnews.com/2019/12/31/cukup-satu-koran-banjarmasin-post?page=all

Apakah Masih Zaman Baca Koran?

     
Pagi itu hampir 10 tahun jadi hari yang sibuk, itu karena semalam ada laga sepak bola akbar mempertemukan klub unggulan. Semua tidak bisa menonton karena tim tersebut bermain terlalu larut malam. Belum lagi hidup di asrama, pengalaman yang saya apalagi yang bermain tersebut adalah klub kebanggaan saya.
Akses TV hanya bisa dinikmati di pos penjagaan atau ruang guru, sesekali melihat informasi berjalan yang ada di berita. Itu pun kalau beruntung. Semua anak asrama hanya mengandalkan informasi dari luar yang berasal dari koran. Ia sudah terpampang di mading berbingkai kaca yang sudah dikunci rapi oleh petugas penjaganya.
Inisiatif ingin cepat dapat informasi tersebut, mau tak mau harus rela pergi ke pos jaga. Sambil bergantian antre membaca bolak-balik koran yang sudah terpencar ke mana arahnya. Halaman depan mulai terlihat kumal, kadang ada rasa kecewa saat melihat bagian halaman belakang yang hilang entah ke mana rimbanya. Bisa saja dia sudah dibawa guru Pembina ke dalam ruangan, sial hari ini ketinggalan berita ketus di dalam jiwa.
Saat itu koran masih sangat melekat ke semua orang, lemparan koran pagi di halaman rumah atau abang loper koran di persimpangan jalan sembari menampilkan halaman muka koran ke pengendara. Membolak-balik lembaran koran sembari segelas kopi begitu syahdu, ciri khas yang tergambar. Kini nyaris tak tersisa, sadar bahkan koran bukan sebuah informasi vital saat ini. Semua bisa mendapatkan informasi yang ia inginkan dengan cepat dari sosial media atau website yang khusus mengulas topik yang kita sukai.
Di era modern terjadi fleksibilitas, bukan hanya di koran, tapi pada radio atau bahkan TV. Semua itu produk lama yang kena disrupsi. Sifatnya yang tidak up to date serta pembaca yang ketinggalan informasi andai tidak sempat membaca berita hari tersebut. Sifatnya off demand service seakan tidak bisa baca di mana saja serta tak praktis.
Belum lagi bacaannya yang terlalu dan sulit dicerna. Sangat minim gambar dan membuat pembaca tidak pernah tamat membacanya. Hanya para tetua yang tertarik dengan koran saat ini, jumlah kadang makin sulit ditemukan bahkan di kedai kopi. Melihat halaman pertama dan kemudian meninggalkan begitu saja. Bagi generasi sekarang, koran sudah mulai padam tergerus digital news. 
Sudah pasti ada banyak pihak yang menjadi korban, para penulis kolomnus kenamaan koran yang punya nama besar seakan harus dirumahkan, mereka tidak bisa berbuat banyak lagi. Usianya yang beranjak menua sembari menunggu masa pensiun, sama halnya dengan koran yang mulai terdisrupsi.
Saya masih ingat saat ada rubik khusus pertanyaan pembaca, balasannya butuh beberapa minggu. Saat dulu informasi yang datang hanya dari para pandit. Wikipedia masih sebuah nama yang masih sangat awam. Nantinya akan dijawab oleh pemilih redaksi beberapa minggu kemudian di sebuah rubik tanya jawab.
Saya pun berlangganan berbagai jenis majalah olahraga dan ponsel kala itu, ada kesenangan tersendiri saat melihat pose pemain idola menjadi poster edisi minggu ini. Hasrat melihat dan membaca koran, meskipun si pemilik mulai gerah dan memberi kode untuk membelinya.
Mungkin dahulu ada yang banyak berlangganan koran, salah satunya saya yang berlangganan pada salah satu tabloid olahraga. Beritanya begitu nendang dengan banyak rubik dan ulasan yang kekinian. Akan tetapi makin ke sini ulasannya makin ketinggalan tanpa perubahan yang berarti.
Kemunculan digital news yang lebih cepat dan lebih mudah diakses seakan membuat saya berpaling. Tidak perlu lagi berlangganan koran yang sudah memenuhi kamar. Mengabaikan informasi fisik yang memakan tempat dan ruang ke informasi digital.
Saat itulah saya tidak lagi mengandalkan berita olahraga yang punya ulasan sangat ketinggalan zaman. Konten yang harus mengikuti cara lama, beralih ke cara tak bisa. Di digital news saya seakan bisa melihat ulasannya lebih detail dengan infografik dan statistik yang sulit ditemui di media cetak.
Belum lagi ulasan yang up to date bahkan saat pertandingan berlangsung, tanpa perlu harus menunggu koran yang esok harinya tayang. Bahkan ulasan taktikal kenamaan yang dahulunya hasil terjemahan tak utuh dan separuh-paruh dengan mudah bisa ditemukan. Nikmat mana yang tidak bisa didustakan oleh digital news.
 Image result for kindle
Bukan hanya itu saja, saya pun mulai beralih ke berbagai hal digital, termasuk di dalam membaca buku. Bila dahulunya masih mengandalkan buku cetak dengan harga mahal, kini beralih ke kindle yang praktis. Meskipun awalnya butuh biaya besar untuk investasi, namun seiring dengan berjalannya waktu biaya itu akan lebih murah saat membeli e-book. Harganya bisa kurang dari separuh dibandingkan harga buku fisik, sekaligus kita bisa mengurangi jumlah penggunaan kertas dan membangun konsep go-green. 
Koran, TV, dan Radio, para korban disrupsi digital
Media seperti Koran, TV, dan Radio mungkin saja menyelamatkan sekaligus membunuh bosan. Namun kini masih mereka sudah ada di masa senja. Tergerus karena disrupsi karena lahirnya berbagai layanan baru dengan inovasi baru.  Semuanya berawal dari disrupsi dan persoalan lainnya, mulai dari mutu yang menurun hingga tidak fleksibel. Sesuatu yang sangat sulit buat era digital saat ini,
Hadirnya media digital yang fleksibel dan bisa diakses di mana saja seakan jadi pesaing serius. Itu terlihat jelas seperti acara televisi lokal selain mutunya menurun dan  melambat, segmennya mulai tergerus sebagai yang paling terdepan dalam memberikan informasi. Itu terlihat semenjak internet dan sosial media berkembang sangat pesat beberapa tahun terakhir. Beda dengan koran yang terus melambat dan seakan tidak ada inovasi.
Kini pangsa pasar televisi hanya menyisakan 36% saja, artinya hanya sepertiga yang masih memperhatikan TV. Bukan tidak mungkin televisi hanya sebagai barang elektronik pajangan di rumah kita. Hanya waktu yang bisa menjawab bahwa TV jadi barang antik salah satu ruangan rumah.
Radio mengalami hal serupa, dia seakan terlalu banyak iklan dan playlist musik. Acara dengan mengundang pemateri khusus jumlahnya terbatas, sedikit silap  karena pindah ke siaran sebelah. Siap-siap saja kehilangan topik. Seakan on demand service adalah jawabannya, segudang channel yang berbasis digital khas Podcast mampu menggantikan Radio yang seakan ia sudah layak di museum. 
Di dukung kemajuan smartphone dalam memudahkan segala hal dan terkoneksi secara langsung dengan internet, membuat penggunanya bisa mengakses sesuai keinginannya. Selain irit waktu, pengguna smartphone atau laptop lebih mudah dibandingkan televisi yang tidak bisa di bawa ke mana-mana.
Mengakses segala berita secara online jadi lebih gampang melalui gawai seperti smartphone dan laptop. Bermodal kouta internet, Anda bisa menonton atau tahu berita yang dimau tanpa harus menunggu lama iklan atau menonton acara yang tak disuka terlebih dahulu.
Faktor lain khususnya acara di TV lokal begitu monoton hingga mereka kalah bersaing. Sejumlah tayangan menarik mengharuskan pemilik banyak pindah ke televisi berbayar. Hasilnya televisi lokal hanya menyisakan acara yang kurang menarik dan bermutu. Saya pribadi menganalogikan dalam bentuk daerah akan jumlah menonton TV. Daerah itu terbagi tiga yaitu A, B dan C sesuai dengan menghabiskan waktu di depan televisi.
Pertama adalah daerah A, ialah daerah yang mulai meninggalkan waktu menonton televisi, menggantinya dengan sosial media sebagai sumber informasi. Daerah tersebut umumnya daerah urban perkotaan yang memiliki akses internet cepat. Masyarakat hanya ingin mengakses informasi tanpa harus menonton televisi cukup dari gawai pribadi mereka.
Masyarakat di daerah A hanya memilih apa yang mereka tonton dan tidak, bukan sebagai sebuah skala prioritas. Misalnya pertandingan sepak bola atau acara lain seperti sulit diabaikan seperti Headline News, selebihnya cukup diakses melalui gawai masing-masing.
Kedua ialah daerah B, segmen daerah yang berada di tengah-tengah antara televisi dan internet lumayan berimbang. Masyarakat masih menganggap peran televisi bisa tergantikan namun tidak menyeluruh dan sebahagian masyarakat sudah menjajaki internet serta aktif di sosial media.
Daerah kota kecil menganut konsep ini, karena masih begitu terbatas sehingga mereka menggabungkan keduanya. Kalangan anak muda di daerah tersebut mulai melirik internet sebagai akses informasi sedangkan kaum tua yang masih mendewakan televisi.
Ketiga ialah daerah C, pada daerah ini masih menganggap televisi sumber informasi segalanya. Apa saja yang ditonton langsung mudah ditelan mentah-mentah, mulai dari bangun tidur hingga tidur lagi. Tak heran anak-anak kecil dan ibu-ibu mendewakan semua idola yang mereka tonton di layar kaca setiap hari.
Bukan hal aneh saat anak-anak di daerah tersebut hafal percakapan sinetron yang tonton semalam, atau gaya tokoh idamannya untuk ditiru di sekolah. Sejumlah jargon iklan yang berseliweran yang diputarkan saat jeda, secara tak langsung itu membekas di otak khususnya anak-anak.
Urusan koneksi internet jangan pernah diharap banyak. Kadang hilang, namun tak tahu kapan muncul lagi. Berbagai program pemerintah seperti internet masuk desa seakan membuat masyarakat yang di daerah C mulai melirik tontonan selain di TV di masa akan datang. Andai pihak televisi lokal khususnya harus tidak berbenah, bisa saja televisi harus kehilangan pelanggan setia mereka.
Memang bukan berarti acara di televisi buruk semua atau yang ada di internet semuanya bagus. Itu lebih bagaimana konsep yang dirancang, bukan hanya mementingkan rating dan hiburan semata. Namun menanamkan nilai-nilai edukasi di dalamnya setiap acara.
Sama halnya dengan koran, penikmat koran memang maki n menipis oleh anak muda, mereka yang terlahir di generasi milenial dan generasi Z sudah menganggap koran buat sebuah opsi terbaik dalam bacaan. Bacaan yang memenuhi lini masa di sosial media atau web andalan mereka menjadi jawaban rasa dahaga mereka. Dengan bahasa yang lebih dipahami dan ngena jadi alasan mereka mengabaikan media sebelumnya yang hanya di baca bapak di kursi depan teras.
Media cetak yang tersisih oleh para milenial
Meskipun saat ini ada beragam cara mencerna informasi, Mungkin dahulu media hanya tiga macam, koran berupa media tulis, radio media audio, dan TV sebagai media visual. Di era digital kita bisa mendapatkan satu paket dalam sebuah postingan.
Kayak akan informasi jurnalisme di dalamnya, punya kemampuan visual yang membius hingga video dengan resolusi yang baik. Semuanya dikemas jadi satu sesuai link informasi yang ingin dicerna. Sesuatu yang mungkin dulunya mustahil dilakukan ketiga media terdahulu.
Harus diingat bahwa informasi dan literasi bukan hanya sebatas tulisan saja, kemampuan media digital bisa melihat pangsa anak muda yang suka dengan visual dan gabungan kata yang ngena buat mereka. Siap-siap saja media seperti itu akan kebanjiran trafik setiap harinya.
Image result for good content
Strategi yang harus diterapkan
Mungkin saat ini sering ada stigma yang datang misalnya saja, mendapatkan informasi hanya dari koran saja atau dari media tulisan. Nyata kini semua informasi yang didapatkan asalkan dipahami dengan jelas dan sampai ke pengunjung itu artinya si pembuat konten berhasil. 
Hanya saja kelemahan media online adalah beritanya yang kadang mengejar kata up to date. Kadang harus membuat pembaca simpang-siur. Bisa saja apa yang ditulis kembali diralat hingga akhirnya menjadi kepingan utuh. Masyarakat digital pun dipenuhi ketergesa-gesaan informasi yang belum menjadi sebuah berita utuh. Jangan heran ada banyak berita hoaks atau bohong yang menyebar atas dasar ketergesa-gesaan.
Semua itu berdasarkan pada kode etik jurnalistik yang dipegang teguh. Sebuah media cetak mengulas sebuah berita dengan sangat detail dan terperinci. Kualitas sebuah tulisan harus melalui proses ketat orang-orang yang sudah makan asam garam dalam jurnalistik. Mulai dari wartawan, penulis, editor, pimpinan hingga direksi. Sebelum akhirnya terbit dan dibaca oleh pembaca setianya.
Kecepatan jadi kunci keberhasilan media online, masyarakat pun merasa tergesa-gesa terhadap suatu topik tanpa mencernanya dengan jelas. Akibatnya sering terjadi miskonsepsi atau salah kaprah, selain itu ada banyak informasi yang dicerna dalam waktu singkat. Mau tak mau kemampuan membaca skinning atau melihat sekilas cara cepat mendapatkan berita. Kemampuan daya cerna jelas berkurang dibandingkan dengan membaca koran.
Para milenial memperlakukan koran seperti anak tiri, mereka paling rela dibiarkan atau mengabaikan koran. Bagi mereka itu sungguh tidak praktis dan beritanya terlalu berat. Mungkin berita koran mungkin hanya terpakai saat pengumuman kelulusan yang mungkin saat ini mengandalkan koran. Selebihnya acuh pada itu semua.
Pihak percetakan pun mulai banyak beralih dan bahkan sudah sepenuhnya tutup buku di percetakan koran. Mengembara ke dunia digital yang jelas jauh berbeda. Tapi saya pribadi malah menganggap media cetak yang turun ke pangsa digital seakan kehilangan jati dirinya. Dari awalnya menulis dengan bahasa yang teratur dan mengikuti kaidah jurnalistik, kini mengejar pundi-pundi adsense dari judul clickbait.
Ini seakan membuat para anak muda punya media tersendiri menjadi andalannya. Ia pun sekarang bisa memilih beragam informasi khusus yang benar mereka butuh. Beda jauh dengan era sebelumnya yang masih mengandalkan keragaman informasi. Pengguna harus mencari rubik berita yang sesuai dengan bidangnya. Saling berbagi halaman buat membaca, sedangkan berita yang tidak menarik siapa peduli itu semua.
Hingga akhirnya berbagai pemain baru muncul, sangat hijau di dunia jurnalistik tapi mampu menjual dibandingkan dengan para pemain lamanya yang kenyang asam garam. Konsep yang ditawarkan khas anak muda dan mudah dicerna.
Infografis yang baik dan gambar yang berhubungan seakan memberikan warna baru. Bukan hanya bermodalkan judul bombastis saja, tapi gambar yang mendukung serta faktor lainnya mampu mengalihkan para milenial kembali melirik nama tenar koran yang kini hanya pemain baru di internet.
Kelemahan dan stigma yang melekat dari media digital
Tidak bisa dipungkiri bahwa media digital dianggap setengah bercanda. Berbagai stigma melekat olehnya seperti kekurangan seperti sumber daya listrik, namun kini banyak perangkat yang punya daya tahan seharian. Tidak perlu kesulitan terhadap daya yang habis saat diakses atau tidak ada colokan. Akses internet jadi salah satu hal yang mendasar dalam mendapatkan informasi, akan tetapi bisa diakali dengan membaca secara offline atau diunduh kemudian dibaca.
 Image result for digital news
Permasalahan lainnya yang sering datang ada rusaknya memori penyimpanan yang bertugas menyimpan data. Tapi tak perlu takut karena penyimpanan sudah sangat beragam, salah satunya dengan cara cloud. Faktor lainnya media digital sering dianggap dapat mengganggu kesehatan mata karena pancarannya.
Inovasi dilakukan seperti yang dilakukan oleh Kindle dengan layar e-ink yang tidak memantulkan cahaya, karena katoda yang ia gunakan. Serta pada perangkat teknologi kini sudah ada fitur bluelight filter yang melindungi mata saat membaca di dalam gelap.
Permasalahan lain yang skeptis mengenai media digital adalah kemampuan fokus terhadap gangguan dan notice mengganggu. Semua itu bisa dihilangkan atau menggunakan perangkat khusus bebas gangguan notice dengan Kindle, membaca jadi fokus tanpa sedikit pun distorsi.
Terakhir adalah segala sesuatu yang ada di internet sangat tidak lengkap, hanya sebagian atau bagian kecil yang dipilah-pilah menjadi halaman. Nyatanya tidak, banyak penulis atau website yang memberikan tulisan yang sama lengkapnya. Bahkan sejumlah website memberikan akses berlangganan untuk pembaca premium dalam tulisan yang ia buat.
Blogger tidak mau kalah, gebrakan pada media tidak membuat ia gentar, dengan gaya Bahasa dan informasi yang ia berikan seakan mampu menarik pembaca setiap. Ini membuat media cetak yang tidak persiapan matang di dunia digital harus ketar-ketir.
Apakah media pilihan generasi masa kini?
Saat ini informasi bisa datang di masa saja, era digital melahirkan sejumlah platform yang mampu menjawab rasa penasaran, menghubungkan persahabatan, eksistensi hingga ilmu pengetahuan. TV, koran, dan radio seakan tidak memilikinya secara utuh. Kesannya yang jadul sudah sering dijauhi oleh para milenial dan generasi Z. 
Sebagai gambaran, saat ini 28,8% generasi Z yang ada di tanah air, mereka adalah generasi yang lahir setelah generasi milenial. Mereka tumbuh dan berkembang dan memanfaatkan media pilihan mereka dalam mendapatkan informasi. Akses mereka dapatkan bukan lahir dari media seperti koran, TV, dan radio tetapi dari sosial media yang mereka punya. Para masa mereka, media tadi seakan sedang menunggu hari senjanya.
Mereka tidak kenal lagi artis yang sering berseliweran di TV, penyiar radio terkenal di kotanya hingga penulis kenamaan di kotanya. Di kepala mereka yang tergambar hanya para Youtuber, Podcaster, Blogger hingga Instagramer andal. Mereka selalu menghadirkan konten segar setiap pagi hari menyalakan ponsel. Tinggal memilih melahapnya sekarang atau selepas pulang sekolah atau kuliah.
Image result for influencer
Peran para influencer di era saat ini lebih besar pengaruhnya
Rasa ingin tahunya sudah bisa diarahkan sesuai dengan aplikasi yang mereka sukai. Misalnya saja segala info yang hangat bisa dilihat pada trending Twitter, berita dari Line. Kemudian yang tergila-gila mengenai komik sudah ada Mind blow, menyukai tontonan sudah ada Netflix hingga situs bertanya segala hal yang ada di Quora.
Alasan utama mereka memilih menginstal atau berselancar di platform tersebut karena sifatnya yang praktis. Mengonsumsi konten tidak harus repot-repot datang ke tempat penjualan koran, duduk di depan TV sampai memencet dan memukul punggung remote. Atau mengatur frekuensi radio yang kadang tidak sesuai dengan kesukaannya.
Semua itu karena fleksibilitas yang ditawarkan, itulah yang melahirkan beragam platform. Artinya setiap segmen dipegang penuh oleh sebuah platform yang fokus. Sehingga pengguna tinggal datang ke platform tersebut dan menikmati konten, tanpa harus mencari segmen atau informasi yang tidak ia perlukan.
Serta pastinya mereka makin protektif dalam menyaring informasi. Jumlah para generasi Z yang termakan informasi hoaks lebih kecil dibandingkan dengan generasi sebelumnya. Mereka yang tidak mengonsumsi sebuah informasi dari satu info saja.
Berita yang clickbait dan serba tanggung sangat diabaikan oleh mereka, ibarat gelembung angin di dalam bungkus ciki. Kemampuan mengolah informasi datang dari banyak sumber, ibarat mengumpulkan kepingan puzzle yang akhirnya jadi sebuah gambar. Rasa lega ada di pikiran mereka, setelah rasa penasaran terjawab.
So… apa pun medianya, tidak ada yang salah. Tapi semua bagaimana pasar melihat perubahan dan disrupsi besar tersebut. Andai saja telat dan salah langkah, siap-siap saja pemain baru datang dan menghipnotis generasi saat itu sebagai pengunjung setianya.
Semoga saja postingan ini menginspirasi, dan have a nice days
 
Re-post by MigoBerita /Selasa/31122019/15.32Wita/Bjm 

SELAMAT NATAL HARAM hingga AMERIKA cs UNTUNG..!!! Benarkah Isu "UIGHUR" diciptakan para pendukung ormas Terlarang "HTI" dan Ormas Radikal

Galang Dana Bagi Muslim Uighur, Ratusan Massa Bakal Turun Ke Jalan

SEBAGAI bentuk kepedulian terhadap muslim Uighur yang mengalami penindasan di Cina maka organisasi kemasyarakatan yang ada di Kalsel bersama dengan Aksi Cepat Tanggap (ACT) mengadakan berbagai rangkaian aksi.
HAL ini bertujuan agar masyarakat dunia tak tinggal diam atas nasib muslim Uighur. Adapun aksi yang akan dilaksanakan  yakni penggalangan dana dan orasi kemanusiaan  pada Jumat, (28/12/2018) dengan tajuk “Seruan Aksi Solidaritas Bebaskan Uighur Berislam”.
Senior Marketing ACT Kalsel, Zainal Arifin menyatakan, rencananya aksi ini akan diikuti 500 orang yang terdiri dari KAMMI, IMM, masyarakat umum serta organisasi kemasyarakatan lainnya.
“Kita akan berkumpul di halaman Masjid Raya Sabilal Muhtadin selepas salat Jumat.  Selanjutnya dilanjutkan dengan aksi jalan kaki menuju Perempatan Jalan Lambung Mangkurat dimana massa akan melakukan penggalangan dana,” jelasnya.
Ia menambahkan, aksi tersebut nantinya tak hanya sekedar penggalangan dana.  Sebagian massa juga akan menyambangi DPRD Kalsel untuk melakukan orasi serta menyampaikan pernyataan sikap terkait tragedi muslim Uighur di Cina.
Terkait target dana dari aksi ini, Zainal mengatakan tidak ada target jumlah secara spesifik. Pihaknya hanya berikhtiar secara maksimal dan hasilnya akan dikirimkan kepada muslim Uighur. “Ini adalah langkah awal. Intinya ACT ingin memberikan kontribusi terbaik yang bisa dilakukan,” pungkas Zainal

Muslim Kalsel Protes Perlakuan Pemerintah China Kepada Muslim Uighur

RATUSAN orang dari berbagai organisasi kemasyarakatan long march dari Masjid Sabilal Muhtadin ke gedung DPRD Kalsel guna menyampaikan tuntutan kepada pemerintah Indonesia untuk menghentikan persekusi terhadap muslim Uighur oleh pemerintah China, Jumat (28/12/2018) siang.
AKSI ini diikuti anggota-anggota organisasi massa, seperti IMM, KAMMI, ACT, dan organisasi keislaman lainnya.
Massa mengusung bendera hitam bertuliskan kalimat tauhid dalam bahasa Arab serta poster berisi dukungan kepada kelompok Uighur. Selain itu, gema takbir bersautan dan kecaman kepada komunis China yang telah melakukan tindakan kejahatan kemanusiaan.
Orator massa aksi Alfiansyah menyebut tindakan pemerintah China sudah melakukan pelanggaran HAM berat kepada suku Uighur karena pemerintah China melarang memberi nama bayi dengan nama-nama Islam, dan adanya larangan melakukan ibadah sesuai dengan ajaran Islam.
“Atas nama aliansi umat Islam Kalimantan Selatan, kami menyatakan sikap mengutuk semua tindakan represif kepada suku Uighur, dan menyerukan seluruh elemen masyarakat untuk terlibat membantu memperjuangkan keadilan dan kedamaian bagi muslim Uighur di Provinsi Xianjing China,” tegas Alfi.
Pihaknya meminta pemerintah Indonesia untuk terlibat aktif untuk memberikan perhatian serius bagi masyarakat Muslim Uighur sesuai dengan amanat UUD 1945.
“Pemerintah Indonesia harus membawa kasus Uighur ke mahkamah internasional atas kasus kejahatan kemanusiaan karena telah terpenuhi syarat materil sesuai dengan statuta Roma dalam pasal 7,” tegas Alfi.
Massa aksi mengajak untuk memboikot semua produk asal negeri tirai bambu sebagai bentuk dukungan kemanusiaan.
Koordinator aksi Haris Maulidi Nur mengungkapkan aksi ini dilakukan sebagai bentuk dukungan moral dari umat Islam Kalimantan Selatan kepada muslim Uighur yang ditindas pemerintah China.
“Kalau tidak ada aksi nyata dari pemerintah Indonesia, kami akan melakukan aksi lebih besar pada Jumat berikutnya,” kata Maulidi

Bela Muslim Uighur, Massa Muslim Banua Berorasi Di Tengah Guyuran Hujan

DI BAWAH guyuran hujan dan tak ada satu pun wakil rakyat di DPRD Kalimatnan Selatan yang menemui mereka, namun massa yang tergabung dalam Muslim Banua tetap menggelar aksi unjuk rasa di ruas Jalan Lambung Mangkurat, Banjarmasin, Senin (23/12/2019),
MEREKA menyuarakan aksi Save Uighur yang ditindak pemerintah Tiongkok selama ini. Aksi keprihatinan ini mendapat pengawalan cukup ketat dari aparat kepolisian.
Di bawah panji-panji hitam bertuliskan kalimatan tauhid dan guyuran hujan, massa berbaris rapi di tepi jalan sejak pukul 17.20 Wita. Mereka pun menggelar orasi sembari memekikkan takbir.
Koordinator Aksi Save Uighur,  Mustafa Habibi menyuarakan keprihatinannya atas musibah dan penindasan yang dialami umat muslim di negeri tirai bambu itu. Ia meminta agar semua warga khususnya mendengar suara mereka agar turut peduli dan membantu saudara muslim Uighur yang sedang mengalami penderitaan.
“Mari kita bantu saudara kita umat muslim Uighur agar terbebas dari penderitaan,” teriak Mustafa Habibi.
Dalam aksi yang dikawal ketat aparat kepolisian, massa menyampikan sedikitnya 9 tuntutan agar diperjuangkan para wakil rakyat di DPRD Kalsel untuk disampaikan ke pemerintah pusat.
Di antaranya, tuntutan yang diusung, soal larangan nama Islam untuk bayi yang baru lahir di kalangan muslim Uighur di Republik Rakyat China. Bahkan pemilik nama berbau Arab atau Islam diancam tidak mendapat pekerjaan.
Memprotes penyitaan kitab suci Alquran, sajadah, dan atribut yang menyimbolkan Islam. Kemudian, menutut dicabutnya pelarangan anak-anak mengikuti pelajaran agama Islam dan belajar Quran.
Massa juga mengutarakan adanya tindakan represif dari pemerintah Tiongkok dengan memotong gaun panjang muslimah di tengah jalan, meski sebagian muslimah memakai untuk alasan kenyamanan. Hingga dilarang berkerudung, apalagi mengenakan cadar bagi muslimah Uighur.
Tak cukup hanya itu, Tiongkok juga menikahkan paksa muslimah Uighur dengan lelaki kafir suku Han, dengan dalih asimilasi budaya, untuk menghapuskan ras Uighur di saat para lelakinya dijebloskan ke kamp konsentrasi.
Di akhir tuntutan yang akan diusung, juga dituliskan kalimat: “Wahai penguasa, bilakah datang panggilan hati kalian? Wahai panglima, tidakkah tertanya untuk apa panser dan pesawat tempur di landasannya? Wahai tentara, untuk apa senjata yang kalian panggul.
Sayang, karena aksi mereka terlampau sore, hingga tak satu pun ada anggota dewan yang hadir. Massa pun usai berorasi, langsung membubarkan diri dengan tertib.

DAN NABI PUN MENANGIS

Jakarta - Pada tahun 628M, seorang utusan datang kepada Nabi Muhammad Saw di Najran.
Utusan ini membawa surat minta perlindungan kepada Nabi terhadap gereja mereka, St Catherine Monastery dan semua biarawan didalamnya. Alkisah, gereja itu selalu diganggu oleh mereka yang beragama muslim disana.
Dan dengan tegas, Nabi Muhammad Saw menulis maklumat kepada seluruh masyarakat disana, bahwa umat Kristen yang berada diwilayahnya, mendapat perlindungan khusus dari beliau.
Nabi juga secara khusus menyatakan melindungi kegiatan dan tempat ibadah umat Kristen. Dan menjadi tameng terhadap siapapun yang melakukan perbuatan tidak menyenangkan kepada mereka. Jelas dan tegas, dan tidak ada seorangpun penduduk disana yang berani melawan keputusan Nabi.
Umat Kristen pun melaksanakan semua kegiatan rohani mereka dengan tenang dan terjalin persaudaraan antar agama tanpa paksaan.
Surat perintah Nabi Muhammad Saw itu sekarang ada di Museum Topkapi, Istanbul Turki. Disimpan sebagai sebuah bukti dan seharusnya menjadi hukum yang ditaati pengikutnya.
Tapi pada masa sekarang, khususnya di Indonesia, sebagian umat Muhammad Saw malah sibuk mempersekusi mereka yang berbeda keyakinan. Mirip dengan penduduk Najran yang mengganggu biara St Catherine sebelum ada perintah Nabi.
Bahkan di Dharmasraya Sumbar, dengan alasan sudah ada perjanjian, umat Kristen disana dilarang melakukan perayaan Natal bersama-sama. Dan Menteri Agama, Bupati, bahkan kepolisian mengaminkan perjanjian itu tanpa ada usaha keras supaya umat Kristen disana bisa melakukan perayaan dihari besar mereka.
Seharusnya Menteri Agama, Bupati dan pihak Kepolisian mengikuti apa yang sudah dilakukan Nabi Muhammad Saw. Bahwa semua orang berhak menjalankan ibadahnya tanpa tekanan dan intimidasi, meski itu berbentuk surat perjanjian.
Kalau bukan pemerintah yang melindungi, terus siapa lagi? Disini terlihat lemahnya aparat terhadap situasi yang terjadi. Padahal umat Kristen disana sudah mengirimkan pemberitahuan bahwa mereka terintimidasi meski sudah ada perjanjian.
Saya membayangkan Nabi Muhammad Saw menangis, melihat umatnya yang satu bangga sudah berhasil mengintimidasi umat lain, dan satunya lagi lemah memberi perlindungan pada umat lain.
Padahal kedua-duanya sibuk bicara "sunnah", mengikuti apa yang dikatakan dan dilakukan Nabi. Sunnah mana yang sudah mereka lakukan? Tidak satupun. Mereka hanya mengatasnamakan Nabi, tapi perbuatan mereka menyelisihi.
Mau sembunyi rasanya karena rasa malu. Ternyata konsep "mayoritas" hanya ada di mulut saja, tapi sama sekali tak ada gunanya. Pemerintah dan aparat terlalu memberi angin dan tak berdaya menghadapi kelompok yang merasa benar sendiri.
Kelak umat Kristen yang tertindas akan menghadap Nabi dan mengadukan perlakuan umatnya terhadap mereka.
"Sesungguhnya saya membela mereka karena orang-orang Kristen adalah penduduk saya, dan karena ALLAH ! Jika ada yang mengganggu mereka, maka dia merusak perjanjian Allah dengan tidak menaati RasulNya.." Begitu sebagian isi surat Nabi Muhammad Saw.
Ah, berat rasanya mengaku "muslim" jika harus sesuai dengan definisinya. Karena muslim berarti pasrah kepada Tuhan dengan menaati RasulNya, bukan aksesoris belaka.
Tanyakan pada diri kalian sendiri, benarkah kalian sesungguhnya muslim atau hanya klaim dimulut saja?
Mari merenung sambil seruput kopinya.
Natal
Berita Larangan Natal

Memanggul Salib Minoritas

Jakarta - Sebenarnya tidak ada negara yang bebas dari kelompok intoleran. Dimanapun ada, termasuk di negara yang katanya mbahnya hak asasi manusia. Disana, yang katanya bebas melakukan apa saja, berpendapat apa saja, ternyata juga sama dengan di Indonesia.
Poinnya, dimanapun disebuah wilayah ada kelompok mayoritas, selalu ada kelompok minoritas yang teraniaya. Meskipun tidak banyak, pasti ada kejadian.
Tahun 2013, pada era pemerintahan SBY, situasi intoleransi di Indonesia adalah masa paling mengerikan buat saya. Tahun itu pernah ada kejadian beberapa warga Ahmadiyah dipersekusi sampai mati oleh warga yang mengaku mereka "penghuni surga". Dan polisi diam saja, hanya bisa menonton tanpa sedikitpun mampu mencegah.
Di era Jokowi ini, intoleransi memang masih ada. Tetapi sudah jauh berkurang. Jokowi sudah melakukan banyak hal, termasuk membersihkan kampus-kampus negeri dari kelompok radikal. Meski belum masuk ke kampus swasta.
Penanganan terhadap kelompok radikal juga lebih keras dengan penangkapan para teroris lewat revisi UU anti terorisme yang disahkan tahun 2018. Dengan UU itu Densus 88 bisa bergerak bebas untuk menangkal potensi terorisme.
Tapi apakah mungkin penanganan intoleransi itu berjalan sempurna?
Tentu tidak. Apalagi dengan konsep otonomi daerah di Indonesia, dimana pemimpin daerah menjadi raja di wilayahnya. Bahkan ada indikasi beberapa pemimpin daerah memelihara kelompok radikal untuk menjaga suara mereka.
Jadi saya senyum saja ketika seorang teman yang menasbihkan dirinya dari kelompok minoritas, selalu menyalahkan Jokowi kalau ada masalah intoleransi, meski itu ada di ujung negeri seperti Dharmasraya.
Jokowi harus salah, meski disana ada Bupatinya. Seolah selain jadi Presiden, Jokowi juga harus jadi bupati, jadi polisi, jadi lurah sampe jadi ketua RT.
Mereka berharap ada tindakan keras dari Jokowi untuk menghadapi intoleransi dimana saja. Keras? Contoh saja China. Mereka keras sekali menghadapi etnis Uighur yang radikal di Xinjiang, tapi apa yang di dapat pemerintah? Protes, sampe Amerika campur tangan..
Penanganan intoleransi di Indonesia yang sudah berakar tidak semudah membalikkan serbet diatas meja. Perlu penanganan khusus karena ini berkaitan dengan masalah ideologi dan budaya.
Jokowi tidak selalu benar, dia juga manusia biasa. Tapi selalu menyalahkannya untuk semua kesalahan di negeri ini juga salah.
Intoleransi hanya 1% PRnya diluar korupsi, mafia, kemiskinan, kebodohan dan ekonomi negara. Dalam arti, jadi Presiden itu tidak mudah. Kalau mudah, Prabowo aja pasti bisa.
Adil melihat sesuatu itu penting. Menjelaskan sesuatu itu juga penting, meski selalu dituding selalu membela Jokowi. Padahal saya hanya mencoba memberikan gambaran lebih luas dari masalah yang ada.
Jangan selalu bergantung pada pemerintah, kita juga harus terus berjuang untuk meneriakkan situasi yang ada. Kita tahu masalahnya tidak sederhana, jadi jangan berharap penyelesaian masalahnya juga sederhana.
So, lawan terus intoleransi dengan apa yang kita punya dan kita bisa. Meski suara serak, perlawanan itu membuktikan kita ada.
Selamat menyambut Natal untuk teman-teman Kristen. Memanggul salib itu tidak semudah yang diucapkan, tetapi disanalah nilai sebenarnya, yaitu perjuangan.
Salam dari saya dan teman-teman muslim lainnya yang juga berjuang supaya tidak ada lagi muslim yang bodoh dan radikal.
Entah kapan itu bisa terlaksana, biarlah Tuhan yang menentukan. Urusan kita hanya berusaha. Di kafir-kafirkan oleh mereka adalah resikonya.. Seruput kopinya.
Kebersamaan
Kebersamaan

Hati-hati, Hoax Uighur di Indonesia

Jakarta - Seperti yang sudah-sudah model menggunakan isu agama, masih menjadi tren global.
Sesudah perang Suriah, Amerika masih merasa butuh narasi agama sebagai bagian dari perangnya. Terutama sekarang menghadapi musuh besarnya China, saingan ekonominya dalam perang dagang.
Isu penindasan etnis Uighur dipropagandakan Amerika ke seluruh dunia. Media-media besar mereka menggunakan kata "muslim" untuk etnis Uighur supaya tekanan terhadap narasi agama semakin kuat. Persis seperti "muslim" Cechnya waktu Amerika ingin menekan Rusia.
Gambar hoax bertebaran dimana-mana, persis seperti di Suriah. Kelompok radikal garis keras yang di Indonesia populer dengan julukan "kadal gurun", memang mangsa utama gambar hoax. Mereka kaum sumbu pendek yang mudah dibakar demi kepentingan.
Indonesia sebentar lagi bisa mengalami situasi yang sama..
Sekarang ini, Indonesia sedang menghadapi "perang" dengan Uni Eropa. Sebelumnya, Uni Eropa sudah melarang ekspor biofuel dari Indonesia dan Malaysia dengan alasan lingkungan hidup.
Indonesia berang. Negeri ini pengekspor minyak sawit terbesar di dunia. Dan larangan dari Uni Eropa itu mempengaruhi ekonomi Indonesia.
Jokowi sendiri langsung membalas dengan melarang ekspor biji nikel ke Eropa. Perintah Jokowi ini membuat Uni Eropa panik. Pabrik-pabrik baja mereka yang butuh biji nikel sebagai bahan dasar, bisa bangkrut dan ekonomi mereka runtuh.
Amerika dan Uni Eropa mempunyai persekutuan bersama dalam menghadapi ancaman global. Persekutuan yang sangat jelas, terlihat saat mereka bersama-sama mengorganisasi kelompok teror bernama ISIS di Suriah.
Tujuannya adalah merebut jalur pipa minyak dan gas yang sudah dikerjasamakan antara Suriah dan Rusia. Mereka memakai isu agama dengan menciptakan ISIS sebagai boneka. Dari perang Suriah, Amerika juga mendapat keuntungan dari penjualan senjata kepada kelompok teroris.
Dan isu agama ini masih efektif untuk dipakai di Indonesia. Disini banyak kelompok radikal berbaju agama yang bisa di remote dari jauh.
Uni Eropa bisa berbuat hal yang sama dengan bantuan Amerika untuk menguasai Indonesia. Apa yang mereka lakukan terhadap China dengan isu Uyghur bisa dijadikan sebuah contoh, jika mereka ingin melakukan hal yang sama.
Caranya ??
Buat isu yang berkaitan dengan agama. Kemudian bangun demo besar-besaran. Lalu muncul korban jiwa. Dan kemudian propagandakan ke seluruh dunia, bahwa rejim Indonesia menindas "muslim" di Indonesia.
Pola yang sama waktu Pilgub 2017 dan pasca Pilpres 2019. Masih efektif, karena kelompok garis keras itu masih ada yang memelihara.
Karena itu, lawan hoax isu Uighur. Jangan biarkan berkembang disini seolah-olah itu kebenaran. Karena jika kita diam saja, satu waktu, isu itu akan dipakai di Indonesia.. Seruput kopinya.
#Uyghur
Demo Bela Uighur


Tujuh Sikap Muhammadiyah atas Persoalan Uyghur

islamindonesia.id – Tujuh Sikap Muhammadiyah atas Persoalan Uyghur
Mencermati permasalahan hak asasi manusia (HAM) di Xinjiang dan pemberitaan media massa asing, nasional, dan media sosial Pimpinan Pusat Muhammadiyah menyampaikan pandangan dan sikap.
Pernyataan tersebut tertuang dalam Pernyataan Pers Pimpinan Pusat Muhammadiyah Nomor: 507/PER/I.0/I/2019 tentang Permasalahan di Xinjiang. Berikut tujuh poin pernyataan PP Muhammadiyah yang diunggah di laman muhammadiyah.or.id, Senin (16/12):
1. Menyesalkan pemberitaan Wallstreet Journal yang menyebutkan adanya fasilitas dan lobi-lobi Pemerintah Tiongkok terhadap PP. Muhammadiyah, Pengurus Besar Nahdlatul Ulama, dan Majelis Ulama Indonesia  sebagai upaya mempengaruhi sikap politik Muhammadiyah, NU, dan MUI atas permasalahan HAM di Xinjiang. Pemberitaan tersebut sangat tidak berdasar dan fitnah yang merusak nama baik Muhammadiyah, NU, dan MUI. Pimpinan Pusat Muhammadiyah mendesak agar Wallstreet Journal meralat berita tersebut dan meminta maaf kepada warga Muhammadiyah. Apabila hal tersebut tidak dipenuhi, Muhammadiyah akan mengambil langkah hukum sebagaimana mestinya.
2. Mendesak kepada Pemerintah Tiongkok untuk lebih terbuka dalam memberikan informasi dan akses masyarakat internasional mengenai kebijakan di Xinjiang dan Masyakarat Uyghur. Pemerintah Tiongkok agar menghentikan segala bentuk pelanggaran HAM, khususnya kepada masyarakat Uyghur atas dalih apapun.  Pemerintah Tiongkok hendaknya menyelesaikan masalah Uyghur dengan damai melalui dialog dengan tokoh-tokoh Uyghur dan memberikan kebebasan kepada Muslim untuk melaksanakan ibadah dan memelihara identitas.
3. Mendesak kepada Perserikatan Bangsa-bangsa untuk mengeluarkan resolusi terkait pelanggaran HAM atas Masyarakat Uyghur, Rohingnya, Palestina, Suriah, Yaman, India, dan sebagainya.
4. Mendesak Organisasi Kerjasama Islam (OKI) untuk mengadakan Sidang khusus dan mengambil langkah-langkah konkrit untuk menghentikan segala bentuk pelanggaran HAM yang dialami umat Islam, khususnya di Xinjiang.
5. Mendesak Pemerintah Indonesia agar menindaklanjuti arus aspirasi umat Islam dan bersikap lebih tegas untuk menghentikan segala bentuk pelanggaran HAM di Xinjiang sesuai dengan amanat UUD 1945 dan politik luar negeri yang bebas aktif. Pemerintah Indonesia hendaknya lebih aktif menggunakan peran sebagai anggota OKI dan anggota tidak tetap Dewan Keamanan PBB untuk menggalang diplomasi bagi dihentikannya pelanggaran HAM di Xinjiang dan  beberapa negara lainnya.
6. Menghimbau umat Islam agar menyikapi masalah pelanggaran HAM di Xinjiang dengan penuh kearifan, rasional, damai, dan tetap memelihara ukhuwah islamiyah dan persatuan bangsa. Hendaknya tidak ada pihak-pihak yang sengaja menjadikan masalah Uyghur sebagai komoditas politik kelompok dan partai tertentu serta mengadu domba masyarakat dengan menyebarkan berita yang menyesatkan dan memecah belah umat dan bangsa melalui media sosial, media massa, dan berbagai bentuk provokasi lainnya.
7. Menghimbau kepada warga Persyarikatan Muhammadiyah untuk konsisten menyikapi persoalan dengan cerdas, berpegang teguh pada khittah dan kepribadian Muhammadiyah, tidak terpengaruh berita media sosial yang menghasut dan tidak dapat dipertanggungjawabkan.
Pernyataan Sikap dan pandangan  Muhammadiyah disampaikan dengan penuh tanggung jawab dan semangat dakwah amar makruf nahi munkar untuk perdamaian dunia, perlindungan atas kemanusiaan, dan keselamatan semesta.
Rekomendasi Persoalan Uyghur
Peneliti senior LIPI, Ahmad Najib Burhani, juga memuat sebuah pernyataan senada dengan PP Muhammadiyah sebagai sebuah rekomendasi tentang persoalan uyghur.
Najib Burhani secara pribadi mengunggah pernyataan yang dia beri judul “Rekomendasi Persoalan Uyghur” dalam akun twitternya, Senin (16/12).
Berikut isi pernyataannya:
1. Pemerintah Tiongkok harus terbuka terkait kasus ini & membolehkan wartawan serta peneliti asing untuk mengakses dan meneliti persoalan uyghur.
2. Memperkenankan aktivis HAM untuk datang ke “camp-camp” itu dan melakukan penelitian secara bebas.
3. Kepada beberapa pihak yang melakukan politisasi terhadap isu ini agar segera berhenti.
4. Kepada mereka yang menggunakan isu uyghur untuk menyulut kebencian kepada etnis Tionghoa di Indonesia, itu adalah tindakan jahat dan memecah belah kesatuan bangsa.
5. Solidaritas kepada mereka yang tertindas semestinya tidak memandang agama atau  atau golongan, serta mereka yang mengangkat isu ini perlu juga menunjukkan kepedulian terhadap mereka yang tertindas di tanah air.
6. Kepada pemerintah Indonesia agar menunjukkan solidaritas kepada kelompok Uyghur namun pada saat bersamaan mewaspadai kelompok yang menjual segala isu ketertindasan umat untuk memupuk kebencian.
Malik/IslamIndonesia/Foto Utama: Screen Shot KJ Vid on YouTube

Menengok Kamp Pelatihan Muslim Uighur di Xinjiang, Kesaksian Delegasi Muhammadiyah

islamindonesia.id – Menengok Kamp Pelatihan Muslim Uighur di Xinjiang, Kesaksian Delegasi Muhammadiyah
Jauh hari sebelum isu tentang Muslim Uighur di Xinjiang kembali mencuat di tanah air, Muhammadiyah melalui delegasinya ternyata pernah mengunjungi kamp pelatihan Muslim Uighur di Urumqi, Ibu Kota Provinsi Xinjiang, Tiongkok, pada Februari lalu.
Selain Pimpinan Pusat (PP) Muhammadiyah, Majelis Ulama Indonesia (MUI) dan Nahdlatul Ulama (NU) juga merupakan organisasi dari Indonesia yang diundang langsung oleh pemerintah China untuk melihat langsung kondisi Muslim Uighur di sana.
Sekretaris PP Muhammadiyah, Agung Danarto, mengungkapkan bahwa PP Muhammadiyah memang mengusulkan ke pemerintah China untuk membuka akses untuk melihat orang-orang Uighur.
“Di samping ini kan juga usulan PP Muhammadiyah, jadi setelah kunjungan ke Tiongkok kemudian mereka datang ke kantor PP Muhammadiyah, untuk membuka akses, dan kita diundang untuk datang ke sana dan menyaksikan langsung,” kata Agung di Graha Suara Muhammadiyah, Senin (4/3), sebagaimana dilansir dari Suara Muhammadiyah.
Selain Agung, Delegasi Muhammadiyah lainnya yang berangkat yaitu Ketua Majelis Hukum dan HAM PP Muhammadiyah Trisno Raharjo, Lembaga Hubungan Luar Negeri Sudibyo Markus, dan Ketua Lembaga Dakwah Khusus PP Muhammadiyah M Ziyad.
Selain mereka, turut berangkat juga Syafiq A Mughni, Utusan Khusus Presiden untuk Dialog dan Kerjasama Antaragama dan Peradaban (UKP-DKAAP).
Delegasi Muhammadiyah di Kamp pelatihan Uighhur, Xinjiang, China. Foto: Suara Muhammadiyah
Menurut Agung, Uighur merupakan etnis di Provinsi Xinjiang yang memang penduduknya mayoritas Muslim, dengan total penduduknya sekitar 16 juta jiwa. Namun tidak semua Uighur adalah Muslim, misalnya di kota Hotan yang penduduknya 2 juta orang, etnis Uighurnya mencapai 98% populasi, sementara itu Muslimnya hanya 72 %.
Dan di kota Kashgar, penduduknya 4,5 juta orang, etnis Uighurnya ada 97%, sementara Muslimnya hanya sekitar 52 %.
Agung menyampaikan, kunjungan pada pertengahan Februari tersebut berlangsung selama sepekan. Xinjiang Terletak di ujung barat Tiongkok, sekitar 3.308 km dari Ibu Kota Beijing. Berbatasan dengan Mongolia, Rusia, Tajikistan, Afghanistan, Pakistan, dan India. Para delegasi dipersilahkan mengunjungi kamp yang oleh pemerintah China disebut sekolah vokasi pembinaan untuk deradikalisasi.
“Kalo di kampnya bagus, di kampnya itu pertama mereka diberi keterampilan life skill, macam-macam di situ, ada perternakan, ada pertanian, ada perhotelan, ada restoran, ada masak–memasak, ada otomotif. Ada macam-macam, dilatih seperti itu. Bahkan musik, nyanyi dan lain sebagainya diajarkan di situ,” ungkap Agung.
Xinjiang, lanjutnya, kebetulan merupakan provinsi paling miskin di Tiongkok. Maka dengan adanya kamp tersebut, selain sebagai tempat untuk deradikalisasi, juga sebagai upaya untuk menaikkan kualitas SDM dan daya saingnya.
Para delegasi mengunjugi dua kamp dari tujuh kamp yang ada. “Kira-kira ada 3 ribu orang setiap kamp,” imbuhnya.
Menurutnya, dari segi tempat, kamp, asrama, dan ruang kelasnya, nyaman dan sangat layak sekali, tidak seperti penjara. Para peserta sekolah vokasi tinggal di kamp dari Senin sampai Jumat, dan pada Sabtu dan Minggu mereka boleh pulang. Lamanya mengikuti sekolah vokasi ada yang enam bulan, satu tahun, dan ada yang sampai 1,5 tahun.
Agung mengatakan, dalam konstitusi China warga negara diberi kebebasan untuk beragama atau tidak beragama. “Mau beragama apa saja boleh, mau tidak beragama juga gak apa-apa, tapi fasilitas milik negara tidak boleh digunakan untuk kegiatan keagamaan termasuk beribadah,” kata Agung.
Sementara itu, katanya, di Xinjiang konon terdapat 23.000 masjid. Delegasi sempat melaksanakan salat Jumat di Hotan, di sebuah masjid yang kira-kira jamaahnya ada 500 orang.
Delegasi juga bertemu dengan Asosiasi Muslim Tiongkok, baik ketika di Beijing, Urumqi, Hotan dan Kashgar. Mereka menyampaikan, di Xinjiang ada 27.000 imam yang digaji negara dan bersertifikasi.
“Sebenarnya perhatian pemerintah itu sebenarnya ada, dan kalau kita lihat sikap terhadap Muslim Uighur ini berbeda dengan Tiongkok Timur seperti Guangzhou, Shenzhen, dan lainnya. Kelihatannya Tiongkok di bagian timur situ tidak ada masalah, mahasiswa-mahasiswa kita yang di sana mengatakan ‘kita salat di kampus, kita salat Ashar di kampus tidak ada masalah,’,” urai dosen UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta tersebut.
Selain itu, delegasi diajak ke museum deradikalisme yang menampilkan foto-foto peristiwa terorisme, radikalisme serta artefak-artefak seperti granat, senapan, termasuk tabung gas yang diledakkan untuk teror.
“Jadi sejak tahun 2000 sampai 2015 itu puluhan kali terjadi terorisme, entah itu meledakkan bom di bis, di pasar, di jalan, dan lain sebagainya,” kata Agung, “sehingga tampaknya Tiongkok itu memiliki trauma tersendiri terhadap terorisme dan separatis itu.”
Agung mengungkapkan radikalisme dan terorisme merugikan dakwah Islam secara keseluruhan, tak terkecuali di beberapa tempat yang Muslimnya minoritas, yang mana membuat mereka menjadi berat dan susah.
Sehingga pendekatan yang dilakukan pemerintah Tiongkok merupakan pendekatan keamanan. “Tiongkok ini kan ada dua daerah otonom yang bermasalah, Xinjiang dan Tibet,” pungkasnya.
PH/IslamIndonesia/Foto utama: Antara/M. Irfan Ilmie

Acara Bedah Buku Haidar Bagir di Surakarta Didemo Ormas Intoleran

islamindonesia.id – Acara Bedah Buku Haidar Bagir di Surakarta Didemo Ormas Intoleran
Acara bedah buku karya Haidar Bagir yang berjudul Memulihkan Sekolah Memulihkan Manusia yang berlangsung pada hari ini di Surakarta harus dihentikan lebih awal karena kehadiran pendemo yang mengatasnamakan sebagai organisasi Aliansi Nasional Anti Syiah (ANNAS).
Informasi ini sebelumnya didapat dari akun Twitter Abdillah Toha, seorang pemerhati sosial, politik, dan keagamaan, yang mengatakan, “Acara bedah buku ‘Memulihkan Sekolah Memulihkan Manusia’ pagi tadi dengan pembicara Haidar Bagir dan pejabat Diknas dikacau oleh gerombolan wahabi ANNAS sehingga harus dihentikan sebelum tuntas. Polisi yang seringkali tidak tegas membuat para pengacau merasa menang.”
Menanggapi cuitan Abdillah Toha, Haidar Bagir menjawab, “Setuju, polisi tidak tegas. Tapi Alhamdulillah sesi saya selesai tuntas sampai tanya jawab selesai. Mereka juga tak sampai masuk ruangan. Hadirin pun sama sekali tak terpengaruh. Alhamdulillah. Hanya saja acara memang berlangsung lebih cepat dan waktu untuk pembicara (dari) Diknas jadi lebih terbatas.”
Haidar Bagir juga sebelumnya menyatakan, “Acara diskusi buku saya, ‘Memulihkan Sekolah, Memulihkan Manusia’ di Solo. Alhamdulillah berjalan lancar dan tuntas meski ada segelintir pendemo, yang datang setelah itu, memeriahkan suasana.”
Suasana di dalam gedung ketika acara bedah buku berlansung. Foto: Haidar Bagir/Twitter
Acara bedah buku tersebut dijadwalkan berlangsung dari pukul 08.00-12.00 WIB di Graha Solo Raya, Surakarta dengan pembicaranya adalah Haidar Bagir dan Hasto Daryanto, Kepala Pusat Pelayanan Disabilitas dan Pendidikan Inklusif, Disdik Solo. Penyelenggaranya adalah Penerbit Noura dan Lazuardi Kamila.
Tidak dijelaskan seberapa banyak pendemo yang hadir, namun sehari sebelumnya (20/12), ANNAS Jateng memang mengirimkan surat untuk Kapolsek Pasar Kliwon, Surakarta, yang menyatakan penolakan terhadap acara bedah buku tersebut.
Berikut ini beberapa kutipan dari surat tersebut: “…. atas nama umat Islam Ahlus Sunah Wal Jamaah, kami ANNAS Jateng menyatakan Penolakan terhadap terselenggaranya acara tersebut…. ANNAS menolak karena menurut kami acara tersebut bagian dari penyebaran paham Syiah….”
Berdasarkan website ANNAS, organisasi ini didirikan di Bandung pada tahun 2012 dan salah satu misinya adalah: “Meningkatkan kewaspadaan dan antisipasi terhadap berbagai pola gerakan penyesatan Syiah di Indonesia, serta menyadarkan ummat Islam yang telah terpengaruh oleh ajaran sesat Syiah agar kembali ke ajaran Islam yang benar sesuai Al Qur’an dan As Sunah.”
Beberapa netizen mengomentari cuitan dari Abdillah Toha, misalnya akun Marlinajar mengatakan, “Hayo pak Polisi lebih tegas terhadap gerombolan pengacau itu, rakyat pembela NKRI dan Pancasila mendukungmu.”
Netizen lainnya, akun HaidarYahya3 mengatakan, “Sudah rahasia umum, Polri ‘takut’ kelompok intoleran. Bagaimana bisa tegas tegakkan hukum, kalau penegak hukumnya tidak tegak. Mendesak jadi perhatian Kapolri Baru. Agar peristiwa serupa tidak menjadi budaya buruk dari bangsa Indonesia yang beradab.”
Pada kesempatan lain, dalam sebuah sesi wawancara bersama Ismail Fahmi, terkait dengan tuduhan Syiah, Haidar pernah mengatakan, “Kalau saya mau gampang, saya bilang saja, ‘Saya itu Suni, Syiah itu sesat,’ hidup saya enak…. Tapi hidup ini kan bukan begitu, kalau ada sesuatu yang disesatkan dan saya tahu bahwa itu tidak betul, kewajiban saya membela….
“Saya ini lahir sebagai Suni, dididik oleh ayah saya sebagai Suni…. Di rumah saya salat dan melakukan segala sesuatu dengan cara Suni…. Tapi kalau saya ditanya, ‘Anda Syiah apa Suni?’ Engga, la Sunah wa la Syiah (bukan Suni bukan pula Syiah-red), Muslim Insya Allah.”
PH/IslamIndonesia

Sikap NU dan Muhammadiyah soal Pengusiran Haddad Alwi

islamindonesia.id – Sikap NU dan Muhammadiyah soal Pengusiran Haddad Alwi
Video viral pengusiran terhadap penyanyi religi, Haddad Alwi menuai sorotan dari berbagai kalangan. Dua Ormas Islam terbesar di Indonesia yakni NU dan Muhammadiyah turut bersikap atas insiden itu.
Sekjen PBNU Helmy Faishal Zaini mengutuk keras para pelaku. Tidak berhenti di situ, pihaknya juga akan memberikan pembelaan advokasi kepada Haddad Alwi serta melaporkan kejadian ini ke polisi.
“Kita (akan) melaporkan ke polisi. Tentunya bisa melalui Polres Sukabumi. (Pelaporan) sedang diurus, saya sudah komunikasi dengan Haddad Alwi,” kata Helmy, seperi dilansir Detik, Jum’at (20/12).
Di sisi lain, Sekretaris Umum PP Muhammadiyah Abdul Mu’ti mempertanyakan keberadaan aparat keamanan saat peristiwa terjadi. Dia menyebut aparat keamanan seharusnya turun tangan ketika massa memaksa Haddad Alwi turun panggung. “Praktik-praktik main hakim sendiri seharusnya dihentikan oleh aparatur keamanan.” Tutur Abdul Mu’ti, Sabtu (21/12).
Insiden pengusiran bermula saat Haddad Alwi menghadiri undangan untuk mengisi acara haul ke-8 Habib Abdullah bin Zein Alatas di Sukabumi, Jawa Barat, Senin malam, (16/12). Tiba-tiba sekelompok massa memaksa Haddad Alwi turun panggung dan tidak mengizinkannya melanjutkan selawatan bersama warga Sukabumi. Kejadian itu sempat terekam dan videonya viral di media sosial.
Sementara itu, pengacara Haddad Alwi, Muannas Alaidid menyebut, sekelompok massa mengusir Haddad Alwi setelah menudingnya sebagai Syiah. Muannas juga menjelaskan saat itu kliennya diundang untuk membacakan shalawat. “Tiba-tiba diturunkan paksa dalam acara itu,” kata Muannas.
Ketua Umum Cyber Indonesia ini pun meminta polisi turun tangan. “Kalau persekusi ini berlanjut bisa mengancam kerukunan umat beragama dan memecah belah kesatuan dan persatuan. Bayangkan saja, ini satu agama, apalagi mereka yang beda agama,” tuturnya.
Malik/IslamIndonesia.id /Foto Utama: FB Haddad Alwi 

Klarifikasi Haidar Bagir Terkait Insiden di Surakarta

islamindonesia.id – Klarifikasi Haidar Bagir Terkait Insiden di Surakarta
Menyambung pemberitaan kemarin (21/12) Acara Bedah Buku Haidar Bagir di Surakarta Didemo Ormas Intoleran, redaksi menghimpun kembali beberapa pernyataan Haidar Bagir terkait insiden tersebut.
Dikutip dari akun Twitter Haidar Bagir, beliau menyatakan, “Menurut saya, ketaktegasan polisi dalam menangani ulah kelompok intoleran justru memberikan kontribusi terhadap makin berani dan maraknya aksi-aksi intoleran belakangan ini. Menerapkan pendekatan pemeliharaan harmoni sosial dalam semua situasi konflik adalah kesalahan. Perlu evaluasi serius.”
Dalam pernyataan tersebut, Haidar juga me-mention akun DivHumas_Polri, akun resmi Divisi Humas Polri. Sampai berita ini diturunkan, tidak ada respon dari akun resmi tersebut.
Dalam cuitan lainnya, Haidar menyatakan, “Beragama kok marah-marah. Marah-marah kok beragama? Bukannya agama ajarkan kesabaran dan kelembutan. Bukannya, saat Nabi ditanya apa itu agama, beliau SAW bilang ‘Agama itu tidak marah.’ Lha kok malah ada yang merasa membela agama dengan marah-marah? Parahnya, bahkan marahnya kepada apa, pun mereka tak paham.”
Meskipun Haidar tidak menyatakan secara langsung bahwa cuitan tersebut berkaitan dengan insiden yang menimpanya, namun kemungkinan besar pernyataannya ini masih terkait.
Sebab dalam cuitan selanjutnya, ketika Prof. Iwan Pranoto, Guru Besar ITB dan pengamat pendidikan, menyatakan simpatinya terhadap Haidar, berkata, “Turut sedih Pak Haidar Bagir,” Haidar menjawabnya.
Berikut ini jawaban Haidar, “Terima kasih, Pak. Alhamdulillah, saya baik-baik saja. Tadi saya konfrontir mereka langsung. Mereka kebingungan waktu saya persoalkan apa yang mereka protes. Bahkan isi buku yang didiskusikan saja mereka tak tahu. Ya, gitulah, lama-lama saya kasihan sama mereka.”
Dan memang, buku karya Haidar Bagir Memulihkan Sekolah Memulihkan Manusia isinya secara umum membicarakan tentang dunia pendidikan, bukan tentang agama seperti yang dituduhkan oleh Ormas Aliansi Nasional Anti Syiah (ANNAS). Bagi Anda yang tertarik, ulasan menarik tentang buku tersebut dapat disimak di dalam link ini.
Surat dari Ormas ANNAS untuk Kapolsek Pasar Kliwon, Surakarta.
Dalam cuitan lainnya, sebelumnya Haidar juga sempat berkata, “Dulu Khawarij memberontak terhadap pemerintahan yang sah dan membunuhi ribuan Muslim. Mereka lebih keras kepada sesama Muslim yang tak sepaham ketimbang kepada yang lain.
“Sekarang ada gejala kemunculan neo-Khawarij. Kalau tak tegas terhadap mereka, jangan sampai menyesal jika jatuh korban besar akibat ulah mereka,” kata Haidar.
Salah satu peserta yang hadir dalam acara bedah buku tersebut, memberikan testimoninya, “Meski tadi sempet sedih, sebab ada perusuh. Tapi Alhamdulillah sesi beliau, full. Perusuh masuk saat narasumber kedua (Hasto Daryanto, Kepala Pusat Pelayanan Disabilitas dan Pendidikan Inklusif, Disdik Solo-red). Baru naik, dipaksa usai, akhirnya narasumber kedua hanya sampai prakata,” ujar akun Kamadahayu.
Beberapa netizen juga turut memberikan komentar, akun dhenandar0770 misalnya berkata, “Ini yang secara pribadi yang membuat saya ikut ‘bereaksi’. Saya pikir diam itu emas, tapi cara mereka terus-terusan seperti itu justru merusak Islam itu sendiri. Saya nilai menunjukkan sikap tegas jauh lebih baik. Kita tak harus beringas seperti mereka. Maaf Bib (panggilan singkat untuk Habib-red) ini pandangan saya. Semoga sehat selalu.”
Akun lainnya, memberikan dukungan simpatik untuk Haidar, DanielPrasetyo berkata, “Semoga Anda diberikan perlindungan dan berkat berlimpah oleh Allah SWT ya Bib, jangan mundur sedikit pun dalam menyebarkan kebajikan. Saya penikmat karya-karya Anda, hanya dapat mendoakan dari jauh.”
Catatan Redaksi: Berhubung sumber utama berita ini berasal dari linimasa Twitter yang penuh dengan singkatan dan typo, demi kepentingan penyajian, redaksi mengedit beberapa kata di dalamnya tanpa mengubah sedikitpun maknanya.
PH/IslamIndonesia/Foto Utama: Kamadahayu/Twitter

Buya Syafii: Ucapan Selamat Natal dan Tahun Baru Tidak Merusak Akidah

islamindonesia.id – Buya Syafii: Ucapan Selamat Natal dan Tahun Baru Tidak Merusak Akidah
Mantan Ketua Umum Pengurus Pusat Muhammadiyah Syafii Maarif alias Buya Syafii mengatakan bahwa orang yang melarang mengucapkan selamat Natal dan Tahun Baru Masehi adalah orang yang berpandangan sempit.
Menurut Syafii, ucapan itu sah-sah saja dilihat dari sisi agama. Sebab tak akan merusak akidah seorang Muslim yang telah benar-benar memahami ajaran agama Islam.
“Itu (larangan ucapan Natal) pandangan sempit, kalau istilah medsos itu kelompok sumbu pendek. Apa keberatannya mengucapkannya? Selamat Natal, Idul Fitri, apa keberatannya? Di sisi apa? Tidak akan salah itu,” kata Syafii usai jumpa pers Maarif Award 2020 di Kantor Maarif Institute, Jakarta, Rabu (18/12), sebagaimana dilansir dari CNN.
Bagi Buya, mengucapkan selamat Natal dan Tahun Baru kepada pemeluk agama lain merupakan bagian dari sikap menghormati dalam pergaulan antar umat beragama. Ucapan Selamat Natal dan Tahun Baru, kembali ditegaskan Buya, tidak merusak akidah.
Dia mengakui ada sebagian kelompok pemeluk agama Islam yang keras melarang. Syafii menilai orang-orang itu kurang mendalami Islam sehingga menghakimi suatu hal dengan pikiran negatif.
Anggota Dewan Pengarah Badan Pembinaan Ideologi Pancasila (BPIP) itu berkata telah menghubungi tokoh-tokoh agama untuk menjaga hubungan jelang Natal. Dia juga berpesan agar masyarakat menjaga persaudaraan antar umat beragama.
“Saya sering katakan, berbeda dalam persaudaraan, bersaudara dalam perbedaan sangat mungkin dan itu harus. Dunia yang akan datang tergantung mau tidak pegang prinsip itu. Kalau tidak, kan perang melulu,” tuturnya.
Terkait isu pelarangan Natal di dua daerah Sumatera Barat, Syafii berusaha berpikir positif. Dia juga mengapresiasi pemda yang bersangkutan telah mengklarifikasi kabar tersebut.
Dia mendukung pemerintah turun tangan mencegah kabar-kabar intoleransi seperti itu. Jika ada oknum pemerintah yang melakukan larangan terhadap agama apapun, dia minta aparat penegak hukum turun tangan.
“Tidak boleh dibiarkan, panggil orang itu. Kalau perlu proses secara hukum,” tegasnya.
PH/IslamIndonesia/Sumber: CNN/Foto Utama: ICMI

Disebut Syiah, Begini Tanggapan Haddad Alwi

islamindonesia.id – Disebut Syiah, Begini Tanggapan Haddad Alwi
Menyambung pemberitaan kemarin (21/12) Sikap NU dan Muhammadiyah Soal Pengusiran Haddad Alwidua ormas Islam terbesar di Indonesia itu secara tegas telah menyatakan sikapnya.
Sebagaimana pada pemberitaan itu, dijelaskan bahwa persekusi terhadap Haddad Alwi bermula saat dirinya dituding sebagai Syiah. Tudingan tersebut nampaknya membuat orang bertanya-tanya, benarkah Haddad Alwi bermazhab Syiah? Lantas bagaimana tanggapan Haddad Alwi sendiri?
Percakapan berawal dari pertanyaan netizen di instagram luzamzu21, “Maaf sebelumnya, bang @abihaddadalwi (Haddad Alwi) ini Syiah bukan toh?”
Sumber: Instagram Story Haddad Alwi
Haddad Alwi enggan mengaitkan dirinya dengan aliran atau mazhab tertentu, entah itu AhluSunah, Syiah, atau mazhab lainnya. Pelantun shalawat ini lebih memilih menempatkan Islam di atas mazhab-mazhab yang ada. Baginya yang penting adalah Islam dan menjalankan ajaran Islam dengan sebaik-baiknya, dan dia tidak keberatan dibilang beraliran apapun.
Berikut pernyataan Haddad Alwi di Instagram Story miliknya:
Memang beberapa waktu belakangan ini ada banyak tuduhan dan fitnahan yang terus diulang-ulang tentang abi….
Abi tidak keberatan dibilang beraliran apa pun. Karena bagi Abi mazhab Ahlus Sunah, mazhab Ahlul Bayt (Syiah), Wahhabi, maupun NU dan Muhammadiyah adalah sesama Muslim. Betapapun memiliki perbedaan-perbedaan pandangan dalam furu’ (cabang) satu sama lain.
Bagi Abi, yang terpenting adalah Abi Muslim yang berusaha menjalankan ajaran Islam dengan sebaik-baiknya, dan insyaAllah Abi akan mempertanggungjawabkan apa yang Abi lakukan dalam hidup ini di hadapan Allah Swt.
Namun Abi sedih ketika Abi dituduh membenci istri-istri Nabi juga para sahabat Nabi…. Demi Allah Abi mengutuk siapapun yang melaknat atau bahkan mengatakan bahwa para sahabat Nabi dan istri Nabi, adalah kafir.
Boleh saja jika ada orang menuduh Abi sedang bertaqiyah (berpura-pura). Tapi Allah lebih tahu tentang apa yang ada di dalam hati Abi. Dan Abi berdoa agar Allah memaafkan orang-orang yang berprasangka buruk kepada Abi.
Dan demi Allah, bagi Abi, Antum semua adalah saudara-saudara Abi. Dan hanya keridhaan serta pertolongan Allah Swt saja yang kita harapkan.
Sumber: Instagram Story Haddad Alwi
Malik/IslamIndonesia/Foto Utama: Haddad Alwi/Instagram


Dutaislam.com - Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) ikut berkomentar terkait insiden pengusiran Haddad Alwi saat mengisi acara haul ke-8 Habib Abdullah bin Zein Alatas di Sukabumi, Jawa Barat.

"(NU) memberikan pembelaan advokasi kepada Haddad Alwi. Kami mengutuk keras (tindakan pengusiran Haddad Alwi)," kata Sekjen PBNU Helmy Faishal Zaini ketika dihubungi detikcom, Jumat (20/12/2019) malam, dikutip dari Detikcom.

Pengacara Haddad Alwi, Muannas Aidid mengatakan insiden itu terjadi karena sejumlah pihak menunduh kliennya sebagai Syiah seperti diungkapkan oleh Selamet Ma'arif, Pengurus DPP Forum Pembela Islam (FPI).
"Ini yang saya sampaikan masyarakat di sana mayoritas berkeyakinan Sunni, ustaz Haddad Alwi memperlihatkan simbol Syiah dalam selawatnya dengan mengangkat satu tangan. Oleh masyarakat dianggap mengajak untuk mengikuti Syiah," kata Slamet Ma'arif, Sabtu (21/12/2019), seperti dilansir dari Detikcom.

Menurut Helmy, tuduhan itu tidak dapat dibenarkan dan telah masuk ke ranah hukum. Helmy menegaskan pihaknya akan melaporkan kejadian ini ke polisi.

"Kita (akan) melaporkan kepada polisi. Tentunya bisa melalui Polres Sukabumi. (Pelaporan) sedang diurus saya sudah komunikasi dengan Haddad Alwi barusan," tutur Helmy.

Selain tuduhan Syiah, terdapat versi lain soal penyebab pengusiran Haddad Alwi. Penyanyi religi itu diduga membela ulama NU, KH Ahmad Muwafiq atau Gus Muwafiq yang dinilai telah melecehkan agama.

"Itu belum, belum (ceramah membela Gus Muwafiq). Baru sampaikan 1 selawat langsung disuruh turun. Kita mengutuk keras tindakan seperti itu. Menurut saya ini sudah masuk ke dalam ranah hukum dan polisi harus mengusut ini," ucap Helmy. [dutaislam.com/ab]
pbnu bela haddad alwi setelah dipersekusi
Haddad Alwi Dituduh Syiah oleh FPI.

Isu Genosida Muslim Uyghur adalah Hoax :Video

Isu Genosida Muslim Uyghur adalah Hoax :Video Muslim Uyghur
Jakarta – Inilah kamp yang katanya berisi “genosida” dan “penganiayaan” terhadap Muslim Uyghur, yang sangat kejam dan mengerika
“Wartawan Turki akhirnya berhasil memperlihatkan rekaman” kamp konsentrasi “#Uyghur yang besar dimana puluhan ribu warga Uyghur katanya disiksa di Xinjiang, Cina”.

Begitu berada di dalam “kamp penyiksaan”, mereka terlihat shalat lima kali sehari! Bahkan sepatu mereka diletakkan secara rapi diluar!.
Ada sekitar 39.000 orang di  pusat deradikalisasi di seluruh China. Isu Genosida Muslim Uyghur adalah hoax, Muslim hidup damai disana, tidak ada penindasan, penyiksaan dan pembantaian. China memerangi separatis Uyghur yang memberontak melawan pemerintah, dan melakukan terorisme.
Lebih dari 15.000 Muslim Uyghur bergabung dengan kelompok-kelompok teroris di Suriah. Kelompok-kelompok yang mengangkat isu Uyghur di Indonesia, juga pendukung teroris di Suriah. (ARN)

Dina Sulaeman: Kupas Tuntas Propaganda Berita Miring Uighur

Jakarta – Pengamat Timur Tengah dan Radikalisme, Dina Sulaeman di akun facebooknya membuat sebuah tulisan menarik bagaimana berita miring tentang Uighur, propaganda warga Muslim terdholimi oleh pemerintah China adalah sebuah siasat membahayakan bagi negeri ini yang disuarakan oleh kelompok-kelompok pembenci pemerintah RI, inilah cara mereka mencari simpati masyarakat dengan menampilkan info-info sesat tentang Uighur, bahkan tagar #WeStandWithUyghur menjadi trending topik di twitter.
Menurut Pengamat, diantara sedemikian derasnya informasi soal Uighur, memang bagi sebagian orang sulit untuk percaya pada informasi bantahan “kaum Muslim di Uighur baik-baik saja”. Informasi yang tersebar terlihat sangat meyakinkan. Saya tidak punya info apapun yang bisa membantah berbagai foto dan video yang tersebar, karena saya tidak melakukan riset soal ini.
Kondisinya berbeda dengan kasus Suriah, dimana hoax sangat mudah terbongkar: tidak ada satupun foto berdarah-darah yang diklaim sebagai “korban pembantaian Assad” terbukti benar. Hanya dengan cara mudah: masukkan foto itu ke google image, akan segera ditemukan bahwa foto itu adalah korban kejahatan Israel di Gaza, korban kejahatan tentara AS di Irak, korban tabrakan di Turki, korban gempa bumi di Azerbaijan, atau foto kursi kuno di museum [diklaim sebagai kursi listrik dimana orang Sunni dibunuh Assad], dll.
Kondisinya beda dengan kasus Suriah, dulu itu para netizen anti-perang dari berbagai negara gotong-royong memverifikasi foto dan video tersebut. Apa saja hoax yang disebar White Helmets, segera muncul tanggapannya disertai bukti/argumen tak terbantahkan untuk menunjukkan bahwa itu foto/video hoax. Tapi yang sudah banyak dibongkar pun, sebagian orang tetap saja tak mau terima.
Entah mengapa kini para netizen pro China tak banyak bersuara. Minimalnya, kalau betul ini hoax, kalian seharusnya menerjemahkan video-video yang memberi klarifikasi. Ini sama seperti dulu, awalnya, mahasiswa-mahasiswa Indonesia (padahal Aswaja) di Suriah juga cenderung diam. Awalnya, kami para netizen antiperang yang babak belur jadi ‘minoritas’ melawan suara mainstream dan biasanya sering diserang dengan ejekan: emang kalian pernah ke Suriah??
Sekarang, kemana mahasiswa-mahasiswa Muslim Indonesia di China? Suara kalian tentu lebih kuat memberikan testimoni seperti apa kondisi disana. Toh situasi di Indonesia sudah berubah dibanding sebelumnya. Jadi, speak up lah, ga usah takut dibully.
Bagaimana dengan saya? Yang jelas, saya tidak bisa memastikan: apakah kamp konsentrasi dimana 1 juta Muslim direpresi itu benar adanya atau tidak. Tapi, saya cenderung skeptis, karena semua media yang agresif menyuarakan soal Uighur adalah media yang sama, yang selama 8 tahun perang Suriah berbohong, berbohong, dan berbohong.
Media yang sama yang dulu juga berbohong soal “senjata kimia di Irak” yang menjadi alasan untuk invasi militer AS ke Irak tahun 2003 dan memorakporandakan negeri itu, sampai hari ini.
Lembaga-lembaga pro HAM yang melaporkan soal kamp itu (HRW, Amnesty Intl) adalah lembaga yang membuat berbagai laporan dengan data yang tidak terverifikasi, menuduh Assad membantai rakyatnya sendiri (Baca buku Salju di Aleppo).
Jadi, mengapa saya harus langsung percaya pada semua media dan lembaga HAM yang terbukti bertahun-tahun berbohong itu? Sekarang media AS (WSJ) dengan liciknya menyeret NU dan Muhammadiyah ke dalam konflik ini; mereka tuduh NU dan Muhammadiyah menerima dana dari China sehingga diam soal Uighur.
Saya pernah menulis 2 tulisan soal Uighur, di situ saya memberikan “petunjuk metodologis” bagaimana cara menganalisis dan mengkritisi kasus ini, termasuk mengkritisi sumber berita, yang ternyata terkait dengan NED (ingat cerita saya soal NED?). (Tentang China dan Uyghur (12))
Saran saya, sebaiknya kita tetap mendengar dari kedua pihak. Kesalahan publik pada masa perang Suriah adalah menolak mendengar bantahan dari pihak pemerintah Suriah. Narasi yang tersebarluas hanya dari 1 pihak (pro oposisi/pemberontak). Baru beberapa tahun terakhir ini saja pada melek dan mendukung tagar #JanganSuriahkanIndonesia.
Untuk Uighur, Anda semua pasti sudah kenyang membaca dan menonton berbagai video soal “kejahatan” China. Beberapa hari yll, media China merilis film dokumenter untuk membantah narasi itu. Silahkan tonton, Anda akan mendapatkan perspektif yang berbeda.

Simak juga tulisan seorang mantan pejabat KBRI yang pernah berkunjung ke keluarga Uighur di Xinjiang. (ARN)
Dina Sulaeman: Kupas Tuntas Propaganda Berita Miring Uighur Muslim Uighur

Yusuf Muhammad: Waspada! Kelompok Khilafah Tunggangi Isu Uighur

Surabaya – Pegiat medsos Yusuf Muhammad menjelaskan dalam akun fanpage facebooknya bagaimana kelompok Khilafah dan Kadrun Indonesia memanfaatkan Isu Uyghur untuk mencari simpati umat muslim Indonesia, Yusuf mewanti-wanti rakyat untuk tak tertipu seruan mereka.
Gerombolan “kadrun” mulai memprovokasi umat muslim di Indonesia terkait Uighur. Mereka memaksa umat muslim di Indonesia agar mau bela muslim Uighur untuk kepentingan mereka. Padahal, ketika penduduk muslim Yaman dihujani bom dan digempur oleh pasukan koalisi Saudi hingga ribuan yang meninggal, mereka bungkam tak peduli.
Jika benar mereka menyuarakan soal pembelaan terhadap sesama muslim, maka pertanyaannya:
Apakah penduduk Yaman yang dibunuh itu bukan muslim? kenapa mereka tak pernah bersuara keras soal penindasan Saudi dan koalisinya terhadap penduduk Yaman?
Jawabannya cukup simpel. Semua itu karena tak ada value dan keuntungan bagi kelompok mereka. Jadi, kalau di Indonesia ada gerakan save Palestine, Save Rohingya, save Suriah dan save Uighur, semua itu dilakukan karena ada kepentingan, bukan murni bela islam.
Jadi, meskipun ada sesama muslim yang jadi korban, seperti di Yaman, tapi jika tak ada value atau keuntungan bagi kelompok mereka ya cuek aja. Siapa lu!
Kelompok mereka ini memang spesialis penunggang gelap.
Mereka melakukan propaganda dan menunggangi kasus etnis Uighur yang kemudian dikaitkan dengan sentimen agama. Hal ini membuat kita semakin mudah untuk menerka ke mana afiliasi mereka.
Dan jawabannya tentu khilafah solusinya.
Jadi, saya ingin sampaikan maaf, ya. Propaganda mereka yang dibantu pihak asing itu tidak akan mempan pengaruhi nalar kami yang masih waras!
Buat netizen yang masih awam soal Uighur, waspada jangan terpengaruh gombalan mereka. Jangan mau diprovokasi oleh mereka karena adanya sentimen agama. Ingat, saudara sebangsa kita masih banyak yang harus dipedulikan. Bahkan saudara seiman kita juga masih banyak yang harus kita bantu di negeri ini.
Coba cek akun-akun yang mengglorifikasi soal Uighur ini. Mereka rata-rata adalah kelompok intoleran, tapi suka menuntut keadilan dan anti terhadap pemerintah. Mereka memprovokasi mengajak umat muslim di sini untuk melihat masalah di China, tapi soal intoleransi di negeri sendiri mereka tak pernah peduli.
Jadi, mari bijak dalam berfikir dan bersikap. Jangan nyandak yang jauh di luar sana yang mungkin kita sendiri belum jelas dan paham duduk perkaranya. Mending kita urus yang di sekitar kita saja.
Kalau peduli dengan muslim uighur, mending langsung berangkat ke China saja, kan Dubes China sudah mengajak rakyat Indonesia untuk melihat langsung kondisi muslim Uighur di sana.
Jadi, jangan cuma bisa memprovokasi umat muslim di Indonesia, tapi giliran diajak ke China menolak dengan berbagai alasan. Ayo, drun. Saatnya buktikan! Minggat sana ke China. Jangan balik lagi ke Indonesia. (ARN)
Yusuf Muhammad: Waspada! Kelompok Khilafah Tunggangi Isu Uighur Waspada Propaganda Khilafah

Rekam Jejak Jaringan Teroris Uyghur di Indonesia

Jakarta – Inilah rekam jejak suku Uyghur China dalam jaringan teroris di Indonesia yang dikumpukan dari beberapa media:
Pertama, Bersama Teroris Santoso di Poso
Berdasarkan catatan teroris tanah air, yang dimuat di Tribunnews.com mendapati jejak keterlibatan suku Uyghur dari Provinsi Xinjiang, Tiongkok ke Poso untuk bergabung dengan kelompok teroris Santoso. Saat itu, Kapolda Sulawesi Tengah Inspektur Jenderal Rudi Sufhariadi mengatakan pada kelompok teroris pimpinan Santoso terdapat warga negara asing dari etnis Uyghur.
Suku bangsa yang mayoritas berada di Provinsi Xinjiang, Tiongkok, bahkan memiliki peran khusus pada kelompok Mujahidin Indonesia Timur dalam gerilya di pegunungan kawasan Poso, Sulawesi Tengah.
“Karena kemampuan fisiknya lebih tangguh, mereka (Uyghur) diberi tugas membawa logistik,” kata Rudi dalam konferensi pers di Mabes Polri, Jakarta, Rabu (25/5/2016).
Rudi menyebut tugas dari etnis Uyghur pada kelompok Santoso diketahui dari empat yang sudah ditangkap dari sejumlah daftar pencarian orang operasi Tinombala. Kekuatan fisik etnis Uyghur pada kelompok Santoso, diibaratkan Rudi pada kekuatan mereka mengangkat karung beras bekal makanan.
“Kalau orang kita angkat satu karung berdua, mereka (Uyghur) angkat satu karung beras sendiri,” kata Rudi.
Dalam bergerilya menghindari kejaran aparat gabungan operasi Tinombala, WNA itu lebih lincah dalam pergerakannya. Dari pengakuan anak buah Santoso yang tertangkap, tutur Rudi, ada enam orang Uyghur pada kelompok MIT. Namun, lima di antaranya sudah tewas selama rangkaian operasi perburuan Santoso berlangsung dan satu tertangkap.
“Sekarang masih sisa satu,” katanya.
Meski ada yang tertangkap, Rudi mengakui pihaknya sulit memeriksanya, perbedaan bahasa menjadi sebab. “Masih terkendala di bahasa, dia tidak bisa berbahasa Inggris. Kami belum tahu, pura-pura tidak bisa atau memang tidak bisa,” kata Rudi.
Kini Kapolri Jenderal Tito Karnavian pastikan jejak suku Uyghur di Poso sudah habis. Hal itu ketika ‎Polisi berhasil menembak mati satu orang suku Uyghur di Poso yang diduga kuat jaringan Santoso. Satu orang suku Uyghur yang tertembak tersebut diklaim polisi merupakan orang terakhir yang berada di Indonesia.
“Itu (orang Uyghur yang tertembak) yang terakhir. Itu yang terakhir,” kata Kapolri Jenderal Tito Karnavian di Kompleks Istana Kepresidenan, Jakarta, Kamis (18/8/2016).
Tito menjamin bahwa sudah tidak ada lagi suku Uyghur yang berideologi garis keras di Indonesia. Menurutnya, polisi sudah melakukan penyisiran terhadap kelompok Uyghur garis keras di Indonesia. “Kita deteksi sudah tidak ada lagi orang Uyghur. Kalau ada (lagi) kita tangkap,” tegasnya.‎
Kedua, Di Luar Jaringan Teroris Poso
Selain bergabung dengan jaringan Santoso di Poso, jaringan teroris dari bangsa Uyghur juga bergerilya bersama jaringan teroris lainnya di luar Poso.
Saat menjabat Kepadla BNPT Tito Karnavian pernah menjelaskan bahwa setelah bergabung dengan jaringan teroris di tanah air, jaringan Uyghur memanfaatkan jaringan-jaringan yang ada di Indonesia untuk bersembunyi, berlatih, maupun berjihad.
“Sehingga tak heran tokoh-tokoh ISIS di Suriah baik dari Indonesia maupun dari Uyghur dapat gabung di sana,” tutur Kepala BNPT, Irjen Pol Tito Karnavian, Senin (21/3/2016).
Jaringan Uyghur mengambil keuntungan dari perubahan situasi global dari kelompok-kelompok jaringan ISIS. Kelompok Uyghur memanfaatkan itu secara separatisme, kemerdekaan, atau ekonomi dengan membentuk khalifah lokal.
“Mereka berkomunikasi dan berinteraksi membentuk jaringan global. Mereka bisa menggerakan jaringan di negara masing-masing untuk berkoneksi,” kata dia.
Dia menambahkan, enam orang diduga dari Uyghur telah diketahui keberadaan.
Empat orang tertangkap dan sudah divonis pada 2015, satu orang tertangkap di Bekasi, dan dua tertembak di Bekasi. Namun bukan berarti keberadaan dan sepak terjang jaringan internasional teroris dari Uyghur belum tutup buku di tanah air. Paling tidak menyergapan empat teroris di Tangsel menjadi buktinya. Juga sebelumnya kejadian seorang terduga teroris dari suku Uyghur, Tiongkok diperiksa Densus 88 Mabes Polri.
Pemeriksaan ini buntut dari salah mendaratnya pesawat Lion Air yang harusnya di penerbangan luar negeri namun di domestik. Hingga akhirnya terduga teroris itu lolos dari pemeriksaan imigrasi di Bandara Soekarno-Hatta, Cengkareng, Minggu (10/5/2016) lalu.
Kapolri Jenderal Badrodin Haiti membenarkan informasi tersebut. Diutarakan Badrodin, pihak Imigrasi lah yang memberikan informasi pada polisi adanya suku Uyghur yang lolos dalam insiden itu.
“Dua hari yang lalu tertangkap Imigrasi, lalu Imigrasi meneruskan ke kami. Dia sudah menggunakan identitas Indonesia”, tegas Badrodin, Senin (16/5/2016) di Mabes Polri.
Begitu juga Menko Polhukam Wiranto mengungkapkan hasil pertemuannya dengan Duta Besar Republik Rakyat Tiongkok, Xie Feng yaitu kesepakatan bersama untuk menahan etnis Uyghur yang tergabung dalam kelompok ISIS masuk ke dalam wilayah kedua negara maupun Malaysia.
“Kami sepakat untuk tidak memberi ruang untuk mereka beraktivitas baik di Indonesia, Malaysia maupun di Tiongkok,” ujar Wiranto di Kemenko Polhukam, Jakarta, Kamis (15/12/2016).
Diketahui, Malaysia menjadi pintu masuk warga dari etnis Uyghur yang berafiliasi dengan kelompok ISIS ke Poso, Sulawesi Tengah.
Dari hasil pertemuannya dengan Dubes Xie Feng, Wiranto mengungkapkan, etnis Uyghur kini banyak yang berangkat ke Suriah untuk bergabung dan berlatih dengan kelompok ISIS dan dikhawatirkan akan kembali ke Tiongkok atau ke Indonesia.
“Masalah Uyghur itu sudah sedemikian cepatnya berkembang sehingga banyak masyarakat Uyghur yang kemudian dilatih di ISIS ya di Suriah disana dan sangat, boleh jadi kemudian tatkala mereka kembali akan lewat Malaysia atau Indonesia kembali ke daerah mereka dan ini kita sepakat untuk tidak memberi ruang untuk mereka,” ucap Wiranto.
“Kami berpendapat kalau terorisme itu tidak kita beri ruang dan koridor untuk aktivitas bahkan kita langsung memotong jalur-jalur distrik mereka maka mereka tidak akan hidup, kita sepakat untuk memperdalam masalah itu,” kata Wiranto. (ARN)
Rekam Jejak Jaringan Teroris Uyghur di Indonesia Tiga teroris Uighur, Ahmet Mahmud, Altinci Bayyram, dan Abdul Basit Tuzer, di Pengadilan Negeri Jakarta Utara, 13 Juli 2015 @Tribun

Dina Sulaeman: Kenapa Pemerintah RI Tak Dukung Uighur Tapi Dukung Rohingya-Palestina?

Jakarta – Pengamat Timur Tengah dan yang intens mengamatai masalah radikalisme dan terorisme Dina Sulaeman dalam akun fanpage facebooknya mengungkap sebuah fakta yang cukup mengejutkan tentang kenapa pemerintah Indonesia tidak mendukung Uighur tapi intens mendukung Rohingya dan Palestina, ini penjelasannya:
Sebuah “iklan” berbayar (sponsored) lembaga pengepul donasi untuk Uighur melintas di beranda. Berbeda dari sebelumnya, kini lembaga itu menyebutkan dengan jelas, bahwa bantuan selimut dan pangan akan diberikan kepada pengungsi Uighur di Kayseri, Turki.
Nah, gitu dong, terus-terang saja, bahwa bantuan itu akan diantar ke Turki. Saya baru dengar nama Kayseri, dan dengan sedikit google ketemulah foto ini.
Apartemen Warga Uighur di Turki
Apartemen Warga Uighur di Turki
Foto ini adalah kompleks apartemen yang disediakan pemerintah Turki untuk menampung para pengungsi Uighur, lokasinya di Kayseri, sekitar 11 jam naik bis dari Istanbul.
Dari foto ini ada beberapa hal yang bisa kita cermati:
  1. Judul: “Anggota minoritas Muslim terbesar di Cina membuat rumah baru di Turki”. Faktanya, ada 10 etnis di China yang beragama Islam, saya urutkan dari yang populasinya paling banyak: suku Hui, Uighur, Kazakh, Dongxiang, Kyrgyz, Salar, Tajik, Uzbek, Bonan dan Tatar. Jumlah total mereka 22 juta orang, atau sekitar 1,6% dari total populasi China.
  2. Ini adalah foto tahun 2015, saat ISIS masih “jaya”. ISIS membutuhkan pasukan dan ‘warga negara’ lebih banyak di “Islamic State”-nya. Di saat yang sama, Erdogan sangat ingin Assad terguling. Saat itu, kebijakan Turki adalah membuka pintu untuk kaum Uighur. Itulah sebabnya, mereka dengan mudah dapat visa dan secara legal masuk Turki, diberi tempat tinggal pula.
  3. Menurut reportase AP tahun 2017 (tapi menceritakan kejadian tahun 2015), begitu orang-orang Uighur itu sampai bandara Istanbul, sudah ada aktivis Uighur menanti dengan 3 bis kosong, untuk membawa mereka ke Kayseri. Namun di saat yang sama, juga ada 20 Uighur perekrut ISIS yang menunggu, mereka menjanjikan uang, pekerjaan, dan tempat tinggal, di Suriah. Sebagian besar mau menerima bujukan perekrut ISIS itu. Sumber: (Eksklusif AP: Uighur Tiongkok bekerja untuk menangkis jihad)
Saya menduga, derasnya arus Uighur keluar dari Xinjiang pada masa itu ada kaitannya dengan rekrutmen milisi ini. Tahun-tahun tersebut, propaganda ISIS sangat luar biasa: menjanjikan “negeri Islami” yang sangat nyaman buat kaum Muslim. Di laporan lain diceritakan bahwa orang-orang Uighur itu membayar mahal makelar yang berjanji akan membawa mereka ke Turki. Ada makelar yang benar-benar mengantar mereka ke Turki, ada yang nyasar dulu ke berbagai negara, termasuk tewas di perjalanan.
Ada sebuah keluarga (terdiri 20 orang) Indonesia yang juga termakan propaganda jenis ini. Mereka hidup nyaman di Indonesia, tapi kemudian menjual segala harta bendanya untuk bisa berangkat ke kekhalifahan ISIS di Raqqa Suriah. Ujungnya, menyesal, dan minta bantuan pemerintah untuk pulang. (17 Pengikut ISIS asal Indonesia Dipulangkan dari Suriah)
  1. Tahun 2019, sudah mulai ada upaya deportasi pengungsi Uighur dari Turki. (Pengungsi Uighur di Turki khawatir mereka akan dikirim kembali ke Cina) Mengapa? Kemungkinan besar, karena Turki lebih mementingkan hubungan ekonominya dengan China. Selain itu, perang Suriah sudah hampir usai. Yang tersisa adalah masalah besar: ada 18.000 milisi “jihad” asal Uighur tertahan di Idlib. Mereka tidak mau pulang ke China. (18.000 al-Qaeda Uighur di Suriah)
“Pulang” ke Turki? Erdogan tidak cukup gila untuk mau menampung 18.000 eks Al Qaida/ISIS. Siapa yang mau kasih makan dan pekerjaan untuk mereka di Turki? Jelas ini adalah efek perang yang tidak diduga oleh Erdogan. Dia dulu mengira, Assad akan terguling dengan cepat, sehingga sebanyak apapun Al Qaida/ISIS yang ia bantu rekrut dan ia biarkan lalu-lalang di perbatasan Turki-Suriah, mereka akan tetap di Suriah, tidak akan muncul masalah “pulangnya kemana?”
  1. Bagaimana kondisi para pengungsi Uighur di Turki? Seperti dilaporkan AP [2], meskipun Turki menerima pengungsi Uighur dan memberi tempat tinggal, mereka tetap kesulitan bekerja atau sekolah. Jika paspor China mereka habis, otomatis mereka tidak punya kewarganegaraan (stateless) dan Turki juga tidak mau kasih kewarganegaraan.
Jadi, ya, dari sisi ini memang mereka menderita, di TURKI. Yang jelas, status resmi mereka adalah warga China dan sebenarnya China mau menerima mereka kembali asal masuk ke kamp deradikalisasi dulu (sebagaimana eks-ISIS yang pulang ke Indonesia pun menjalani program deradikalisasi).
  1. Apakah pemerintah Indonesia bisa membantu mereka? Di foto terlihat 2 bendera. Yang merah adalah bendera Turki. Yang biru adalah bendera East Turkestan. Artinya, ini adalah sebuah gerakan separatisme (pemisahan diri dari sebuah negara berdaulat). Pemerintah Indonesia jelas tidak bisa ikut campur membantu sebuah gerakan separatis. Analoginya, seperti gerakan Papua Merdeka, Indonesia juga melawan (secara diplomatik) saat ada negara-negara lain membiayai dan mendukung gerakan separatisme tersebut.
Kasus ini berbeda dari Rohingya. Justru orang Rohingya ingin diakui sebagai warga Myanmar (dan mendapatkan hak-hak sebagai warga negara), tapi pemerintah Myanmar menolak. Jadi Rohingya bukan gerakan separatis dan Indonesia berperan sangat aktif membantu penyelesaian kasus ini. Juga berbeda dengan kasus Palestina, yang jelas dijajah oleh Israel. (ARN)
Dina Sulaeman: Kenapa Pemerintah RI Tak Dukung Uighur Tapi Dukung Rohingya-Palestina? Apartemen Warga Uighur di Turki

Mahasiswi Indonesia di China Ungkap Fakta Sebenarnya Soai Uighur

Jakarta – Sebuah kesaksian dari mahasiswi Indonesia yang berada di China. Melihat situasi yang terjadi di Indonesia berkaitan dengan isu Muslim Uighur, Laila Fakhriyatus Zakiyah, juga turut memberika komentar tentang apa yang sebenarnya yang terjadi disana.
Sosok mahasiswi kedokteran di Hubei Polytechnic University China asal Kecamatan Randuagung Lumajang ini juga turut prihatin dengan isu Uighur di Indonesia.
Berikut, Komentar Laila yang ditulis dari Asrama tempat tinggalnya di Kota Wuhan Provinsi Hubei China seperti dilansir NU.Lumajang.co.id:
Banyak media lokal Indonesia yang memakan mentah-mentah berita tentang Muslim Uighur yang disebarkan oleh media-media barat yang lalu menimbulkan banyak kisruh, protes dan demo oleh masyarakat di beberapa titik wilayah Indonesia.
Padahal andaikan mereka benar-benar tahu kondisi muslim Uighur sendiri di Cina, akankah mereka menertawakan aksi tidak berasaskan fakta di lapangan yang mereka elu-elukan sebagai patriotisme HAM tersebut?
Mari simak lebih lanjut bukti-bukti di lapangan..
Pusat re-edukasi yang diberitakan dengan incommunicado detention (penahanan tanpa akses dunia luar) dan komunikasi dengan keluarga terputus jelas hanya “Perception without stimulus” atau dalam bahasa psikologi berarti halusinasi.
Mengapa? Karena sudah jelas pengimplementasian salah satu peraturan kamp tersebut di lapangan yang merujuk pada asasnya mereka diperbolehkan untuk melakukan komunikasi melalui telpon atau video call satu kali dalam seminggu melakukan setiap bulannya. Mereka bahkan boleh dijenguk, melakukan pertemuan dan makan bersama keluarga.
Bagaimana bisa di Xinjiang, tempat muslim Uighur tinggal terdapat sebanyak lebih dari 20.000 masjid, 29.000 fakultas islam dan 103 asosiasi islam jika Islam benar-benar di bombardir keberadaanya?
Bahkan kepergiaan haji dan asuransinya pun dijamin dengan sangat baik oleh pemerintah Cina. Ini semua menandakan bahwa kebebasan beragama benar-benar terimplementasi dengan sempurna.
Lalu siapa yang di hukum? Mereka yang dihukum adalah mereka yang memiliki pemikiran radikal, yang memberontak dan yang berasakan terorisme.
Bisakah anda fikirkan, bagaimana bisa orang luar yang bahkan tidak pernah menginjakkan kakinya di Urumqi membuat informasi layaknya mereka sudah melakukan penelitian dan kajian lapangan berkali-kali?
Apakah anda yakin bahwa keyakinan anda bukan hasil dari pemikiran yang tidak kritis tanpa menelaah informasi berdasarkan fakta?
Sebagai Penutup tulisan saya, tiba-tiba saya teringat ucapan mas menteri Nadiem Makariem dalam salah satu pidatonya “Kita perlu critical thinking agar anak-anak kita mampu melihat dari dua sudut pandang masalah, bukan hanya menelannya mentah-mentah”. (ARN)
Mahasiswi Indonesia di China Ungkap Fakta Sebenarnya Soai Uighur Fakta Uighur
Jakarta – Menteri Dalam Negeri (Mendagri) sekaligus Pembina Dharma Wanita Persatuan Tito Karnavian menolak jika perayaan Hari Ibu setiap tanggal 22 Desember dicap sebagai budaya kafir dan haram dilakukan. Pernyataan Tito merespons sebuah ceramah yang viral di media sosial.

Peringati Hari Ibu Kafir, Mendagri “Semprot” UAS

 Ucapkan Selamat Hari Ibu
Jakarta – Menteri Dalam Negeri (Mendagri) sekaligus Pembina Dharma Wanita Persatuan Tito Karnavian menolak jika perayaan Hari Ibu setiap tanggal 22 Desember dicap sebagai budaya kafir dan haram dilakukan. Pernyataan Tito merespons sebuah ceramah yang viral di media sosial.
“Saya lihat ada viral di media sosial yang mengatakan peringatan hari ibu, mother’s day, itu berdosa untuk diperingati karena itu dibuat oleh orang kafir maka harus bertaubat. Betul enggak? Ada yang nonton?” Tito dalam Peringatan HUT Dharma Wanita Persatuan di Kantor Kemendagri, Jakarta, Senin (23/12).
Tito mengatakan perlu memahami sejarah sebelum menyebut bahwa Hari Ibu merupakan budaya kafir.
“Saya sampaikan kita harus berpikir, memahami sejarah, saya khawatir yang menyampaikan itu enggak memahami sejarah”, kata ucapnya.
Tito menerangkan perayaan Hari Ibu di Indonesia berbeda dengan di negara lain. Di dunia internasional, perayaan Hari Ibu di inspirasi oleh kisah Anna Jarvis yang hendak mengenang ibu kandungnya, Anna Reeves Jarvis.
Anna hendak mengenang jasa ibunya yang menjadi aktivis perawat para tentara dari dua kubu pada perang saudara AS. Perayaan Hari Ibu internasional dilakukan di pertengahan tahun, tergantung negara penyelenggara.
Sementara, kata Tito, perayaan Hari Ibu di Indonesia terinspirasi oleh Kongres Perempuan pertama yang digelar pada 22-25 Desember 1928. Kemudian setelah kemerdekaan, Presiden Sukarno menetapkan tanggal 22 Desember sebagai Hari Ibu.
“Faktor kita adalah lebih banyak faktor historis mengenang itu dalam rangka memperkuat spirit peran wanita, baik dalam rumah tangga maupun bangsa dan negara. Kita sekarang lihat hasilnya gemanya luar biasa, Indonesia salah satu negara yang menurut saya peran wanita cukup dominan, meski masih perlu ditingkatkan,” tuturnya.
Saat mencoba mengecek video viral yang disampaikan Tito, video itu merupakan potongan ceramah Ustaz Abdul Somad (UAS). Video itu telah diunggah di media sosial Youtube sejak tahun 2017.

Setiap menjelang perayaan Hari Ibu tanggal 22 Desember, video itu dibagikan ulang dan kembali memicu perdebatan. Dalam video itu, UAS menjawab pertanyaan salah seorang jemaat tentang hukum merayakan Hari Ibu. Ia pun menegaskan perayaan hari itu berhukum haram dan yang merayakannya adalah kafir.
“Bagaimana hukum merayakannya? Orang yang ikut merayakan Hari Ibu, man tasyabbaha bi qaumin, siapa yang ikut tradisi orang kafir, maka kafirlah dia,” kata UAS dalam video tersebut.
Menurutnya, cara memuliakan ibu bukan dengan merayakan Hari Ibu lalu mengacuhkannya pada hari lainnya. Dia menyebut memuliakan ibu harus dilakukan setiap hari. (ARN/CnnIndonesia)

Ekslusif: Uyghur ‘Senjata’ AS Hancurkan China

Washington – Uighur dan Proyek Jahat Barat. Dalam beberapa bulan terakhir, media Barat dan Pemerintahan Washington telah mulai mengumbar tuduhan dan kecaman mengenai dugaan kamp-kamp konsentrasi massa di barat laut China, Xinjiang, tempat yang dihuni oleh satu juta etnis Uyghur dikumpulkan dan di re-edukasi. Beberapa hal tentang dakwaan-dakwaan tersebut yang harus dicatat adalah, bahwa hampir semua tuduhan itu berasal dari media Barat atau LSM “demokrasi”  seperti Human Rights Watch yang rekam jejak mereka dalam menyampaikan laporan masih perlu dipertanyakan.

Sejak 2013 tentara Uyghur telah bergabung bersama teroris al-Qaeda di Suriah dan kembali ke Xinjiang China dimana mereka kemudian melakukan berbagai aksi teroris. Ini adalah ujung dari proyek jahat yang terkait dengan NATO, yaitu untuk menanam benih teror dan kerusuhan di China. Xinjiang adalah pasak dari Inisiatif Belt Road China, persimpangan jalur pipa minyak dan gas strategis dari Kazakhstan, Rusia dan target utama intrik CIA sejak beberapa dekade

Pada bulan Agustus Reuters menerbitkan sebuah artikel di bawah tajuk utama, “PBB mengatakan jika mereka memiliki laporan yang kredibel bahwa China menahan jutaan warga Uighur di kamp-kamp rahasia”. Namun setelah dilihat, ternyata artikel itu tidak mengungkap pernyataan kebijakan resmi PBB, melainkan kutipan dari seorang anggota Amerika dari sebuah komite independen yang tidak berbicara atas nama PBB. Seorang anggota yang tidak pernah punya pengalaman ke China.
Sumber klaim itu sendiri ternyata adalah sebuah LSM penasehat independen PBB yang disebut Komite Penghapusan Diskriminasi Rasial. Satu-satunya orang yang membuat dakwaan itu, anggota komite dari AS, Gay McDougall, menyatakan bahwa ia “sangat prihatin” tentang “laporan yang kredibel” itu, tanpa bisa mengutip sumber langsung untuk tuduhan dramatis ini.
Reuters dalam artikel itu berusaha menguatkan klaimnya dengan mengutip LSM yang berbasis di Washington DC, Pembela Hak Asasi Manusia (HAM) Tiongkok (CHRD).
Namun, dalam sebuah penyelidikan yang sangat baik, para peneliti di Proyek Grayzone menemukan bahwa CHRD ternyata telah mendapat kucuran dana ratusan ribu dolar dari beberapa pemerintahan yang tidak disebutkan namanya. LSM pemerintah AS yang terkenal buruk, National Endowment for Democracy, adalah termasuk dalam daftar tersangka utamanya. Terlebih, CHRD adalah bagian dari Human Rights Watch yang mendapat dana juga dari yayasan Soros.
“Masalah Uyghur”
Keadaan sebenarnya dari urusan di Provinsi Xinjiang China mengenai Uyghur tidak mungkin untuk diverifikasi secara independen, apakah ada kamp semacam itu dan jika demikian siapa yang ada disana dan dalam kondisi apa.
Apa yang diketahui, bagaimanapun, adalah fakta bahwa badan intelijen NATO, termasuk Turki dan AS, bersama dengan Arab Saudi, telah terlibat dalam merekrut dan mengerahkan ribuan Muslim Uyghur China untuk bergabung dengan Al-Qaeda dan kelompok teror lain di Suriah dalam beberapa tahun terakhir. Sisi persamaan ini membutuhkan perhatian yang lebih dekat, sisi yang dihilangkan oleh Reuters atau Duta Besar PBB Haley.
Menurut media Suriah yang dikutip di Voltaire.net, saat ini diperkirakan ada 18.000 etnis Uyghur di Suriah yang terkonsentrasi paling banyak di sebuah desa di perbatasan Turki dan Suriah.
Sejak 2013 tentara Uyghur telah bergabung bersama teroris al-Qaeda di Suriah dan kembali ke Xinjiang China dimana mereka kemudian melakukan berbagai aksi teroris. Ini adalah ujung dari proyek jahat yang terkait dengan NATO, yaitu untuk menanam benih teror dan kerusuhan di China. Xinjiang adalah pasak dari Inisiatif Belt Road China, persimpangan jalur pipa minyak dan gas strategis dari Kazakhstan, Rusia dan target utama intrik CIA sejak beberapa dekade.
Sejak setidaknya 2011 pada awal perang NATO melawan Suriah Bashar Assad, Turki telah memainkan peran penting dalam memfasilitasi aliran orang-orang Uyghur China untuk menjadi Jihadis di Suriah. Bagaimanapun juga, tampaknya ribuan orang-orang Uyghur ini masih bersembunyi di Suriah, sebagian besar di sekitar Idlib, pos terdepan teroris anti-rezim yang tersisa.
Washington dan ETIM
Dalam sebuah analisis yang sangat baik tentang sejarah teror Uyghur China, Steven Sahiounie, seorang jurnalis Suriah di 21st Century Wire, mencatat bahwa organisasi kunci di balik radikalisasi pemuda Uyghur Tiongkok adalah Gerakan Islam Turkestan Timur (ETIM) dan front politiknya, Partai Islam Turkestan (TIP), yang juga dikenal sebagai “Katibat Turkistani”.
Sahiounie mengutip pidato Erdogan di Istanbul pada tahun 1995 yang waktu itu masih menjabat sebagai Walikota, yang menyatakan, “Turkestan Timur bukan hanya rumah orang-orang Turki tetapi juga tempat lahir orang Turki.” Sejarah, peradaban, dan budaya Turki … ” dan Turkistan Timur itu adalah Xinjiang.
ETIM hari ini dipimpin oleh Anwar Yusuf Turani, yang menyatakan dirinya adalah Perdana Menteri dari sebuah pemerintahan di pengasingan yang terutama berbasis di Washington DC. ETIM memindahkan basis di Washington pada waktu yang sama saat Departemen Luar Negeri AS memasukkannya ke dalam daftar organisasi teroris, cukup aneh.
Menurut sebuah laporan di majalah investigasi Turki, Turk Pulse, “kegiatan organisasi Turani di pengasingan didasarkan pada laporan berjudul ‘The Xinjiang Project’. Itu ditulis oleh mantan perwira senior CIA Graham E. Fuller pada 1998 untuk Rand Corporation dan direvisi pada tahun 2003 dengan judul ‘The Xinjiang Problem”.
Saya (penulis) telah banyak menulis dalam buku saya, The Lost Hegemon, tentang karier senior CIA, Graham Fuller itu. Mantan kepala stasiun CIA Istanbul, Fuller adalah salah satu arsitek dari urusan kontra-Iran Reagan-Bush, dan senior CIA pertama yang menjadi induk semang Gülen dan memfasilitasi pengasingan Gülen di AS.
Dia juga dengan pengakuannya sendiri, berada di Istanbul saat peristiwa kudeta 2016 yang gagal. Pada tahun 1999 selama akhir era Yelstin Rusia, Fuller menyatakan, “Kebijakan memandu evolusi Islam dan membantu mereka melawan musuh kita bekerja sangat baik di Afghanistan melawan Rusia. Doktrin yang sama masih dapat digunakan untuk mengacaukan sisa-sisa kekuatan Rusia, dan terutama untuk melawan pengaruh China di Asia Tengah.”
Inilah tujuan mengapa AS memfasilitasi ETIM. Seperti kebanyakan kelompok Jihadis lainnya, ETIM Turani mendapatkan pendanaan sebagai kelompok Jihadis (Wahabi) paling radikal dari Arab Saudi.
Pada akhir 1990-an, Hasan Mahsum, yang juga dikenal sebagai Abu-Muhammad al-Turkestani, pendiri Gerakan Islam Turkestan Timur, memindahkan markas ETIM ke Kabul, berlindung di bawah Afghanistan yang dikuasai Taliban.
Di Afghanistan, para pemimpin ETIM bertemu dengan Osama bin Laden dan para pemimpin lain dari Al-Qaeda yang dilatih CIA yaitu Taliban dan Gerakan Islam Uzbekistan, untuk mengoordinasikan aksi-aksi di seluruh Asia Tengah. Ketika militer Pakistan membunuh al-Turkestani pada tahun 2003, Turani menjadi kepala ETIM, dan membawa roadshownya ke Washington.
Dalam penelitiannya sendiri tentang Xinjiang, Graham E. Fuller mencatat bahwa kelompok-kelompok Arab Saudi telah menyebarluaskan doktrin ekstremis Wahabi dan mungkin senjata kecil melalui simpatisan di Xinjiang, dan bahwa Muslim muda Turki telah direkrut untuk belajar di madrasah-madrasah (Wahabi) di Pakistan, Afghanistan, dan Arab Saudi. Ia menambahkan bahwa Uyghur dari Xinjiang juga berperang bersama Al-Qaeda dibawah Osama bin Laden di Afghanistan pada 1980-an.
Fuller mencatat, “Uyghur memang berhubungan dengan kelompok-kelompok Muslim di luar Xinjiang, beberapa dari mereka telah deradikalisasi ke dalam politik jihad yang lebih luas dalam proses tersebut, beberapa sebelumnya terlibat dalam pelatihan gerilya atau teroris di Afghanistan, dan beberapa berhubungan dengan mujahidin Muslim internasional yang berjuang untuk tujuan “kemerdekaan” Muslim di seluruh dunia”.
Dokumen kebijakan Strategi Pertahanan Nasional Pentagon Januari 2018 secara eksplisit menyebut bahwa China bersama dengan Rusia adalah “ancaman” strategis utama bagi kelanjutan supremasi AS.
Disebutkan, “Persaingan strategis antar negara, bukan terorisme, sekarang menjadi perhatian utama dalam keamanan nasional AS.” Secara eksplisit, dan ini baru, Pentagon tidak mengutip hal ini sebgai ancaman militer tetapi ancaman ekonomi.
Disebutkan dalam dokumen itu “Tiongkok dan Rusia sekarang merusak tatanan internasional dari dalam sistem dengan mengeksploitasi keuntungan,  sementara secara bersamaan meremehkan prinsip-prinsip dan ‘aturan jalannya’ “.
Perang dagang yang semakin meningkat melawan China, ancaman sanksi atas tuduhan kamp-kamp penahanan Uyghur di Xinjiang, ancaman sanksi jika China membeli peralatan pertahanan Rusia, semua ditujukan untuk mengganggu satu-satunya ancaman yang muncul terhadap tatanan global Washington, yang tidak didasarkan pada kebebasan atau keadilan tetapi lebih pada ketakutan dan tirani.
Bagaimana otoritas China berusaha menangani serangan penuh ini, adalah masalah lain. Namun konteks peristiwa di Xinjiang perlu diperjelas. Barat dan terutama Washington terlibat dalam perang luar biasa skala penuh melawan stabilitas China. (ARN)

Penulis: William Engdahl adalah seorang dosen dan konsultan risiko strategis, ia memegang gelar dalam bidang politik dari Princeton University dan merupakan penulis terlaris di bidang minyak dan geopolitik, dan menulis untuk majalah online “New Eastern Outlook”. Artikel ini awalnya diterbitkan di WilliamEngdahl.co
Ekslusif: Uyghur 'Senjata' AS Hancurkan China Tentara Uyghur
Re-post by MigoBerita / Selasa/24122019/18.13Wita/Bjm